Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Media Video dalam Peningkatan Perilaku Pemberian Makanan Bayi Dan Anak Risya Ahriyasna*. Erina Masri. Rahmita Yanti Fakultas Ilmu Kesehatan. Univeristas Perintis Indonesia. Sumatera Barat. Indonesia Article Information : Received 30 March 2025 . Accepted 27 June 2025. Published 30 June 2025 *Corresponding author: risya. ahriyasna16@gmail. ABSTRAK Pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) sangat penting dalam masa 1000 hari pertama Keberhasilan pemberian makan bayi dan anak berkaitan dengan pengetahuan, sikap dan praktik ibu baduta sehingga perlu pemberian edukasi untuk meningkatkannya. Media edukasi sangat mempengaruhi efektifita dalam penerimaan informasi, dimana media audio visual biasanya lebih menarik jika dibandingkan dengan media audia ataupun visual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai perbedaan pengaruh edukasi gizi dengan media video dan leaflet terhadap pengethauan, sikap dan praktik pemberian makanan bayi dan anak di desa Gunung Labu Kabupaten Kerinci. Penelitian menggunakan quasi eksperiment dengan rancangan pretest-posttest two group design. Jumlah sampel sebanyak 60 orang, 30 orang intervensi dengan media video dan 30 intervensi media leaflet dengan kriteria. Penelitian dilakukan dengan wawancara dan observasi. Analisis data untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan uji Wilcoxon dan untuk melihat perbedaan kedua media menggunkan uji Mann and Whitney. Hasil penelitian menunjukan intervensi mengunakan media video rerata pengetahuan sebelum 5,3 dan sesudah 8, rerata sikap sebelum 30,1 dan sesudah 40,1, rerata praktik sebelum 2,17 dan sesudah 4,43. Intervensi dengan media leaflet rerata pengetahuan sebelum 4,9 dan sesudah 5, rerata sikap sebelum 29 dan sesudah 40,37, rerata praktik sebelum 1,8 dan sesudah 4,07. Media video memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan dan sikap dibanding media leaflet . =0,. dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan media video dan leafket terhadap parktik ibu baduta . =0,. Kesimpulannya adalah media video memiliki pengaruh lebih baik dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu baduta dibanding dengan media leaflet. Kata Kunci : PMBA, video, leaflet ABSTRACT Infant and Young Child Feeding (IYCF) is crucial during the first 1,000 days of life. The success of feeding infants and young children is related to the knowledge, attitude, and practice of mothers of child under two years old, hence it is required to provide education to improve it. This study aims to determine the difference in the effect of nutrition education using video and leaflets media on the knowledge, attitude, and practice of feeding infant and young child in Gunung Labu Village. Kerinci District. The study used a quasi-experimental design with a two50 A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 group pretest-posttest design. The number of samples was 60 people of which 30 people were intervened using video media and the other 30 using leaflet media. The research was conducted by employing interview and observation. Data analysis to determine the difference between before and after the intervention was undertaken using parametric paired t-test or Wilcoxon test. Meanwhile, to see the difference between the two media was done using the Mann and Whitney test. The results showed that the average knowledge before intervention using video media was 5. 3 and after was 8, the average attitude before intervention was 30. and after was 40. 1, the average practice before intervention was 2. 17 and after was 4. 43 The average knowledge before intervention using leaflet media was 4. 9 and after was 5, the average attitude before intervention was 29 and after was 40. 37, the average practice before intervention was 1. 8 and after was 4. Thus, video media had a significant effect on knowledge and attitude compared to leaflet media . = 0. and there was no significant difference between video and leaflet media on the practice of mothers with child under two years old . = 0,. The conclusion is video media has a better influence in increasing the knowledge and attitude of mothers with children under two years old than that using leaflet Keywords : IYCF, video, leaflet PENDAHULUAN Salah satu kebijakan nasional dalam perbaikan gizi masyarakat tertuang dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009, dimana perbaikan gizi ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perorangan dan Selanjutnya dalam rangka percepatan perbaikan gizi, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan . 0 HPK). Gerakan ini bertujuan meningkatkan efektifitas dan inisiatif yang telah ada, koordinasi serta dukungan teknis, advokasi kemitraan yang inovatif dan partisipatif dalam meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan prioritas pada 1000 HPK, serta ditekankan dalam pemberian makan bayi dan anak (PMBA) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Periode emas merupakan periode terpenting dimulai dari dalam kandungan sampai berusia 2 tahun, karena pada periode tersebut terjadi pertumbuhan otak sangat pesat yang sangat menentukan kualitas hidup selanjutnya sampai anak menjadi dewasa. Dampak yang terjadi akibat gangguan tumbuh kembang pada perkembangan otak anak tidak dapat diperbaiki lagi . , sehingga pemberian makan yang optimal untuk pemenuhan gizi anak pada periode tersebut (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian makanan pralakteal banyak diberikan kepada bayi baru lahir diantaranya pemberian susu formula . ,8%), madu . ,3%), dan air . ,2%). Pemberian pendamping ASI seringkali terlalu dini, tidak memenuhi zat gizi, tidak higienis, dan praktik pemberian belum tepat sehingga dapat menimbulkan masalah malnutrisi pada baduta (Kementerian Kesehatan RI and MCA Indonesia, 2. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 menunjukkan kejadian gizi buruk dan gizi kurang . sia 2459 bula. sebesar 17,7% dan kondisi dengan tubuh sangat pendek dan pendek sebesar 30,8%. Sedangkan, kejadian baduta . sia 0-23 bula. dengan tubuh sangat pendek dan pendek sebesar 29,9%. Prevalensi stunting di Provinsi Jambi 20,68%, sedangkan prevalensi underweight sebesar 15,74% (Riskesdas, 2. Kemudian pada profil kesehatan provinsi Jambi tahun 2013 hanya 20,4% saja bayi yang diberikan ASI Ekslusif, hal ini menunjukan masih banyak bayi yang diberikan makanan pralakteal dan MP-ASI terlalu dini (Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, 2. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 Berdasarkan data dinas kesehatan Kabupaten Kerinci Prevalensi gizi kurang dan sangat kurang pada tahun 2018 sebesar 4,2%, tahun 2019 sebesar 1,7%, dan pada tahun 2020 sebesar 2,4%. Prevalensi gizi kurus dan sangat kurus pada tahun 2018 sebesar 4%, tahun 2019 sebesar 0,6% dan pada tahun 2020 sebesar 1,29%. Selain itu cakupan asi ekslusif yang masih di bawah 50%. Berdasarkan dilakukan oleh Furqan, dkk, tahun 2020 bahwa terdapat hubungan bermakna pola PMBA, pengetahuan ibu balita, dan penyakit infeksi terhadap status gizi balita. Pada penelitian tersebut menyarankan tindak lanjut untuk pemberian edukasi PMBA dan pemantauan dari tenaga kesehatan (Furqan et al. , 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tanuwijaya, dkk, tahun 2020 menyebutkan bahwa pemberian makanan pendamping terlalu dini ataupun terlambat merupakan masalah yang umum dan sering terjadi di masyarakat. Fakta yang terjadi di masyarakat menunjukan bahwa selama ini ibu tidak tepat dalam pemberian makan bayi dan anak. Upaya untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan melalui pemberian makanan bayi dan anak yang baik dan Praktik PMBA yang tidak tepat pada masa 1000 HPK dapat menyebabkan stunting pada balita. Masa 1000 HPK merupakan masa emas yang menentukan kualitas kehidupan di masa yang akan datang sehingga perlunya edukasi gizi (Tanuwijaya et al. , 2. Berdasarkan penelitian awal dengan melakukan wawancara kepada 30 ibu balita di desa Gunung Labu, diketahui distribusi pengetahuan ibu dari 30 0rang hanya 10% ibu yang memiliki pengetahuan baik, 30% Ibu yang memiliki pengetahuan cukup dan 60% ibu memiliki pengetahuan kurang tentang PMBA. Diketahui distribusi sikap ibu tentang PMBA dari 30 responden 10% ibu memiliki sikap yang baik terhadap pemberian makanan bayi dan anak, 90% ibu memiliki sikap yang cukup terhadap pemberian makanan bayi dan anak. Berdasarkan hasil observasi dari 30 responden hamper semua ibu baduta tidak tepat dalam proses PMBA. Ketidak sesuaian tekstur makanan dengan umur anak dan kurangnya keragaman bahan makanan. Edukasi gizi memegang peranan penting dalam perubahan pengetahuan, sikap, dan Beberapa media edukasi memiliki dampak yang berbeda-beda tergantung dari jenis media, ketepatan dalam pemilihan media yang sesuai dengan sasaran. Secara teoritis dan beberapa riset sebelumnya, edukasi menggunakan media audio visual lebih efektif jika di bandingkan dengan media visual ataupun audio. Berdasarkan latar belakang ini maka yujuan penelitian inia dalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh edukasi gizi dengan media vidio dan leaflet terhadap pengetahuan, sikap, dan praktik pemberian makanan bayi dan anak Di Desa Gunung Labu Kabupaten Kerinci. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan studi quasi eksperiment . ksperimen sem. dengan rancangan pretest-posttest two group design. Pada penelitian ini terdapat dua kelompok, yaitu kelompok intervensi dengan media video dan kelompok intervensi dengan media leaflet. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki baduta dengan usia 6-24 bulan di Desa Gunung Labu Kecamatan Kayu Aro Barat Kabupaten Kerinci. Perhitungan besar sampel dihitung dengan rumus sampel Lemeshow (Alimul Hidayat, 2. Tingkat kemaknaan yang digunakan adalah 95% atau = 0,05 dan tingkat kuasa 90% atau = 0,10. E = 9,88, estimasi selisih rata-rata = 8,9 (Zikra, 2. Menurut perhitungan sampel didapatkan jumlah sampel sebanyak 25 orang ibu baduta. Pertimbangan responden drop out sebanyak 20%, maka jumlah sampel sebanyak 30 orang ibu Terdapat 2 kelompok perlakukan, yaitu kelompok dengan intervensi media video dan kelompok dengan intervensi media leaflet, maka jumlah sampel keseluruhan adalah 60 orang ibu baduta dengan 30 orang diberikan intervensi media video dan 30 orang diberi intervensi media Dilakukan dengan sistem accidental Perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku PMBA di ukur menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan Analisis univariat digunakan untuk responden serta menggambarkan frekuensi dari masing-masing variabel penelitian, baik A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 variabel bebas maupun variabel terikat pengetahuan, sikap dan praktik PMBA sebelum dan setelah pemberian pendidikan gizi pada kelompok intervensi dengan video dan kelompok intervensi dengan leaflet. Analisa bivariat digunakan uji parametrik paired t-test untuk melihat perbedaan ratarata pengetahuan, sikap dan praktik PMBA sebelum dan sesudah konseling. Untuk melihat perbedaan skor pada kelompok yang diberi pendidikan gizi dengan media video dan kelompok yang diberikan pendidikan gizi dengan media leaflet, digunakan uji Mann and Whitney. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Diagram 1. Distribusi Frekuensi Umur Responden Media Video 70% 83. Diagram 3. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden Media Video Media Leaflet 70% 6. 70% 0 Tidak Bekerja/IRT Petani Lainnya Berdasarkan bahwa separuh dari ibu baduta pada kelompok yang diberikan intervensi dengan media video adalah ibu rumah tangga dan pada kelompok intervensi dengan media leaflet sebagian besar responden adalah ibu rumah tangga yaitu sebanyak 25 responden . ,3%). Media Leaflet 30% 16. 20-35 tahun Diagram 4. Distibusi Frekuensi Usia Baduta Media Video > 35 Tahun Media Leaflet Berdasarkan diagram 1 sebagian besar responden berusia 20-35 tahun pada masing-masing kelompok intervensi dengan media video 26 responden . ,7%) dan media leaflet 25 responden . ,3%). Diagram 2. Distribusi Tingkat Pendidikan Responden Media Video Media Leaflet SMP SMA Berdasarkan diagram 2 sebagian pendidikan SMA dengan persentase . 3%) untuk kelompok intervensi dengan menggunakan media video dan . %) menggunakan media leaflet. 30% 26. 70% 23. 6-8 bulan 9-11 bulan 12-24 bulan Berdasarkan diagram 4 dapat dilihat bahwa usia baduta pada kelompok intervensi dengan media video lebih banyak baduta usia 6-8 bulan, yaitu sebanyak 13 responden . ,3%), dan balita 9-11 bulan dan 12-24 sebanyak 8 responden . ,7%) dan 9 responden . ,0%). Sedangkan, pada kelompok intervensi dengan media leaflet lebih separuh baduta berusia 12-24 bulan yaitu sebanyak 16 responden . ,4%) dan baduta usia 6-8 bulan sama banyak dengan usia 9-11 bulan, yaitu sebanyak 7 responden . ,3%). Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa rata-rata skor pengetahuan sebelum intervensi gizi dengan menggunakan video adalah 5,3. Sesudah diberikan edukasi gizi rata-rata pengetahuan responden 8. Pada A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 Tabel 1. Gambaran Rata-Rata Pengetahuan. Sikap dan Praktik Ibu baduta sebelum dan sesudah diberkan edukasi gizi dengan media video dan media leaflet Media Video Pengetahuan Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi Sikap Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi Praktik Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi Media Leaflet Mean ASD Mean ASD 40,37 2,17 4,43 4,07 kelompok dengan intervensi media leaflet diketahui bahwa rata-rata pengetahuan gizi sebelum intervensi mengenai PMBA adalah 4,9, sedangkan sesudah diberi edukasi ratarata 5. Rata-rata skor awal sikap responden mengenai PMBA pada kelompok dengan intevensi media video adalah 30,1. Setelah diberikan edukasi gizi dengan media video rata-rata skor sikap reponden yaitu menjadi 44,1. Pada kelompok dengan intervensi media leaflet diketahui bahwa rata-rata skor sikap responden mengenai PMBA adalah 28,93. Setelah diberi edukasi dengan media leafle rata-rata skor sikap reponden yaitu 40,37. Rata-rata praktik sebelum pemberian edukasi gizi dengan media vedio tentang PMBA adalah 2,17. Sesudah diberikan edukasi gizi rata-rata skor praktik reponden yaitu menjadi 4,43. Pada kelompok dengan intervensi media leaflet diketahui bahwa rata-rata skor praktik sebelum pemberian edukasi gizi mengenai PMBA adalah 1,8. Sesudah diberi edukasi dengan media leafle rata-rata skor praktik reponden yaitu menjadi 4,07. Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan rata-rata skor pengetahuan responden sebelum dan menggunakan media video . value= 0,. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan memberikan edukasi gizi menggunakan media video, diperoleh ratarata skor pengetahuan sebelum intervensi sebesar 5,3 dan setelah intervensi rata-rata skor pengetahuan sebesar 8,0. Rata-rata skor pengetahuan juga mengalami peningkatan dengan menggunakan media leaflet yang sebelum intervensi dengan leaflet rata-rata skor awal 4,97 dan meningkat mejadi 6,7. Pada kedua kelompok intervensi dilakukan uji Wilcoxon yang menunjukan nilai p 0,001, maka dapat pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan edukasi gizi dengan media video dan leaflet. Penelitian penggunaan media video juga menunjukan hasil yang sama. Dimana pengetahuan setelah diberikan edukasi gizi mengalami peningkatan dengan mengunakan media video (Tri et al. , 2. Hasil ini juga sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitri . , dimana penggunaan media video dapat meningkatkan pengetahuan ibu baduta tentang makanan pendamping ASI. Penelitian yang dilakukan oleh Annisa Zikra juga menunjukan hasil yang sama dimana penggunaan media leaflet juga membantu meningkatkan pengetahuan ibu baduta. Berdasarkan penelitian terdahulu maka penggunaan media dalam melakukan edukasi gizi sangat diperlukan untuk meingkatkan pengetahuan ibu. Pemberian edukasi gizi diharapkan responden tentang informasi kesehatan. Peningkatan pengetahuan tentu saja penyampaian informasi tersebut. Seperti penelitian yang telah dilakukan tentang pemberian makanan bayi dan anak terhadap pengetahuan ibu baduta. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 Tabel 2. Perbedaan Skor Pengetahuan Ibu Baduta Sebelum dan Sesudah Edukasi Gizi Dengan Media Video dan Media Leaflet Media Video Variabel Median MinMax Media Leaflet 0,001 0,001 0,001 Median MinMax 40,50 p value 0,001 0,001 0,001 Pengetahuan Sebelum edukasi gizi Sesudah edukasi gizi (OI) Sikap Sebelum edukasi gizi Sesudah edukasi gizi (OI) Praktik Sebelum edukasi gizi Sesudah edukasi gizi (OI) Pemberian edukasi gizi yang berulang dan dengan bantuan media membantu meningkatkan pengetahuan ibu. Sehingga dari hasil penelitian ini edukasi gizi sangat penting dalam meningkatkan pengetahuan responden tentang pemberian makanan bayi dan anak. Pengetahuan yang diharapkan tidak hanya sekedar tahu namum dapat mengevaluasi apakah pemberian makanan bayi dan anak sudah Hal yang sangat penting adalah bagaimana cara penyampaian informasi atau pesan agar dapat diterima dengan mudah dan dapat diingat oleh responden. Penyampaian informasi akan lebih mudah dengan bantuan media informasi. Usia dan pendidikan ibu merupakan faktor confounding dalam peningkatan pengetahuan tentang pemberian makanan bayi dan anak. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi pendidikan ibu semakin baik pula pemahaman ibu dalam menerima Selian itu usia yang lebih muda memiliki daya ingat yang lebih baik dan lebih focus dalam menerima informasi. Penelitian yang dilakukan oleh Zikra . bahwa faktor confounding seperti usia dan pengetahuan ibu. Penelitian yang dilakukan oleh Aprillia . menyatakan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan baik lebih tinggi pada ibu yang berusia >20-25 tahun. Pendidikan ibu yang lebih tinggi memiliki pengetahuan yang lebih baik. Sehingga dipengaruhi oleh usia dan pendidikan ibu. Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan rata-rata skor sikap responden sebelum dan sesudah di berikan edukasi gizi menggunakan media video . value= 0,. Penelitian yang telah dilakukan dengan memberikan edukasi gizi dengan menggunakan media video, diperoleh rata-rata skor sikap sebelum intervensi sebesar 30,1 dan setelah intervensi rata-rata skor sikap sebesar 44,1. Peningkatan skor rata-rata sikap juga terjadi pada kelompok intervensi dengan media leaflet, skor sikap sebelum edukasi gizi dengan media leaflet 28,93 dan stelah edukasi menjadi 40,37. Dilakukan uji Wilcoxon pada kedua kelompok intervensi maka didapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan median sikap sebelum dan sesudah edukasi gizi. Sikap bertindak dari individu, berupa respon tertutup terhadap stimulasi ataupun objek Sikap merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Peningkatan sikap menuju hal yang positif tentu akan mempengaruhi tindakan A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 seseorang (Notoadmojo, 2. Penelitian yang terdahulu menunjukan peningkatan sikap ibu menjadi lebih positif dari pada sebelum diberikannya edukasi gizi dengan mengunakan media. Penggunaan media sangat membantu dalam proses pemberian edukasi gizi (Liestyawati, 2. Penelitian serupa juga mendapatkan hasil yang sama dimana sikap responden menjadi lebih meningkat, dimulai dari raguragu hingga setuju terhadap pernyataan yang memiliki nilai positif terhadap pola asuh anak, termasuk didalamnya peberian makanan pendamping ASI (Rizqie. Kartini and Shaluhiyah, 2. Berdasarkan dilakukan peningkatan sikap ibu baduta tentang pemberian makanan bayi dan anak sangat dipengaruhi oleh pemberian edukasi. Keberhasilan dalam meningkatkan sikap responden menjadi lebih positif berkaitan dengan informasi yang disampaikan. Penyampaian informasi dengan bantuan media dapat membuat responden lebih memahami tentang tentang pemberian makanan bayi dan anak. Pemberian informasi yang berulang seperti yang dilakukan penelitian ini juga dapat mempengaruhi pemahaman dan mengubah sikap responden untuk lebih setuju kea rah Berdasarkan tabel 2 diperoleh ratarata skor praktik sebelum intervensi sebesar 2,17 dan setelah intervensi rata-rata skor praktik sebesar 4,43. Hasil penelitian pada kelompok edukasi gizi dengan media leaflet sebelum intervensi sebesar 1,8 dan setelah intervensi 4,07. Pada kedua kelompok dilakukan uji Wilcoxon yang menunjukan bawa terjadinya peningkatan median praktik sebelum dan sesudah edukasi gizi. Peningkatan praktik dalam pemberian makanan bayi dan anak sangat berkaitan erat dengan pengetahuan dan sikap ibu Karena mengubah pola asuh terutama tentan PMBA. Kegiatan pendidikan gizi tentu peningkatan pengetahuan dan sikap yang nantinya akan mengbah prktik pemberian makanan dayi dan anak menjadi lebih baik dan sesuai dengan pedoman WHO. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati dkk . menyatakan bahwa edukasi gizi dapat meningktkan praktik responden terhadap pemberian makanan bayi dan anak, dimana sebelum dilakukan edukasi gizi rata-rata praktik PMBA sebesar 70,0% setelah pemberian edukasi menjadi 75,2%. Penelitian serupa yang dilakukan oleh Fitri dkk . juga menunjukan hasil yang sama yaitu pemberian edukasi gizi dan dibantu oleh media dapat meningkatkan praktik ibu baduta (Fitri and Esem, 2. Penelitian ini sama dengan penelitian Peningkatakan prakatik ibu baduta dalam pemberian makanan bayi dan anak sangat berkaitan dengan informasi yang didapatkan. Media juga merupakan salah satu faktor yang sangat membantu dalam penyampian informasi. Pemberian edukasi yang berulang juga dapat meningkatakan pengetahuan dan sikap. Sehingga dapat mengubah praktik menjadi lebih baik dalam pemberian makanan bayi dan anak. Selain edukasi gizi dan bantuan media ada faktor confounding yang dapat mempengaruhi prkatik ibu baduta dalam pemeberian makanan bayi dan anak. Seperti keadaan geografis Desa Gunung Labu, akses tempat membeli bahan makanan yang jauh, sehingga persediaan bahan makanan terbatas dan makanan kurang bervariasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Annisa Zikara . faktor ekonomi dan pekerjaan ibu dapat mempegaruhi parktik. Hal ini berkaitan kemampuan membeli bahan makanan. Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa perbedaan skor pengetahuan ibu baduta tentang PMBA sesudah diberikan edukasi gizi dengan media video dibandingkan dengan media leaflet di Desa Gunung Labu mengalami peningkatan. Dimana skor pengetahuan dengan menggunakan media video lebih tinggi dari pada menggunakan media leaflet. Hasil penelitian menunjukan nilai p 0,001, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan ibu baduta yang signifikan antara kelompok dengan edukasi gizi mengunakan media video dibanding media leaflet. Sehingga dapat diartikan bahwa media video lebih mempengaruhi pengetahuan ibu tentang pemberian makanan bayi dan anak dibandingkan dengan media leaflet. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 Tabel 3. Perbedaan Pengetahuan. Sikap dan Praktik Ibu Baduta Tentang PMBA Dengan Edukasi Menggunakan Media Video Dibandingkan Dengan Media Leaflet Variabel Pengetahuan Edukasi gizi dengan media video Edukasi gizi dengan media leaflet Sikap Edukasi gizi dengan media video Edukasi gizi dengan media leaflet Praktik Edukasi gizi dengan media video Edukasi gizi dengan media leaflet Penggunaan penyampaian informasi gizi tidak hanya mengharapkan peningkatan pengetahuan akan tetapi juga sikap responden mejadi lebih positif terhadap kesehatan. Menurut Maulana . menyatakan bahwa panca indera yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke otak adalah mata . urang lebih 75% hingga 87%) sedangkan 13% pancaindera yang lain. Penelitian membandingkan media booklet dengan media video disimpulkan bahwa media video lebih memiliki skor pengetahuan yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena media video lebih menarik dan lebih mudah dengan media booklet (Rizqie. Kartini and Shaluhiyah. Penelitian dilakukan oleh Fitri . dimana pendidikan gizi dengan menggunakan bantuan media video sangat membantu dalam proses penyampaian informasi, hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang telah dilakukan dimana kelompok dengan pendidikan gizi dengan media video lebih tinggi skor pengetahuan dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan media video. Edukasi gizi adalah suatu proses yang pengetahuan tentang gizi, membentuk sikap mempertimbangkan pola makan dan faktor lain yang mempengaruhinya (Zikra, 2. Pemberian edukasi gizi pada ibu baduta diharapkan dapat merubah pola makan anak melalui praktik PMBA yang tepat. Median p value 0,001 0,001 0,915 Pemberian makanan bayi dan anak disesuaikan dengan umur, bentuk makanan dan frekuensi pemberian makanan (Tri et , 2. Berdasarkan terdahulu dan hasil penelitian yang Penggunaan media video memiliki pengaruh yang lebih baik dari pada media leaflet. hal ini disebabkan karena media video lebih menarik dan lebih banyak menggunakan panca indra. Sesuai dengan mendengar, mengatakan kembali dan dapat mempraktikan menunjukan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap. Peningkatan yang terjadi dapat mengubah tindakan menjadi lebih baik. Selain itu media cetak seperti leaflet memiliki kelemahan yaitu tidak dapat menstimulasi efek gerak dan efek suara (Widyawati, 2. Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat perbedaan skor sikap ibu baduta tentang PMBA sesudah diberikan edukasi gizi dengan media video dibandingkan dengan media leaflet di Desa Gunung Labu memiliki Dimana skor sikap dengan menggunakan media video lebih tinggi dari pada menggunakan media leaflet. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan skor sikap ibu baduta yang signifikan antara kelompok dengan edukasi gizi mengunakan media video dibanding media leaflet . Sehingga dapat diartikan bahwa media video lebih mempengaruhi sikap ibu kearah yang lebih positif tentang pemeberian makanan bayi dan anak dibandingkan dengan media Media adalah semua sarana ataupun upaya untuk menampilkan informasi yang A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 ingin disampaikan oleh keomunikator pengetahuannya yang akhirmya diharapkan merubah sikap dan prilaku kea rah yang Dalam penyampaian informasi tersebut semakin banyak indra yang terlibat maka akan semakin mudah penyerapan informasi terhadap sasaran (Susilowati. Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Laili . , membandingkan media booklet dengan media video disimpulkan bahwa media video lebih memiliki skor sikap yang menunjukan hasil yang lebih positif. Hal ini disebabkan karena media video lebih menarik dan lebih mudah mendapatkan informasi dibandingkan dengan media Penelitian menunjukan peningkatan sikap ibu menjadi lebih positif dari pada sebelum diberikannya edukasi gizi dengan mengunakan media. Penggunaan media sangat membantu dalam proses pemberian edukasi gizi (Liestyawati, 2. Berdasarkan terdahulu dan penelitian yang dilakukan. Peningkatan sikap lebih kaarah positif pada kelompok intervensi dengan media video pengetahuan ibu yang meningkat. Sehingga terjadi peningkatan pada sikap ibu baduta dalam pemberian makanan bayi dan anak. Domain prilaku ini saling berkaitan anatara pengetahuan, sikap dan tentunya akan meningkatkan tindakan yang lebih baik. Media video sebagai alat informasi yang digunakan memiliki pengaruh lebih baik karena responden lebih tertarik, tidak hanya mendengarkan namun dapat melihat gambar yang memudahkan informasi lebih Selain itu hal ini biasa disebabkan karena media leaflet memiliki kekurangan tidak dapat menstimulasi efek gerak dan efek suara (Widyawati, 2. Berdasarkan 5diatas diketahui bahwa median selisih skor praktik setelah diberikan edukasi gizi dengan media video adalah 2, sedangkan dengan media leaflet memiliki nilai sama yaitu 2. Data praktik ibu baduta dengan media video dan leaflat tidak berdisribusi normal. Sehingga dilakukan uji statistik dengan Mann and Whitney didapatkan nilai p 0,915, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok dengan edukasi gizi mengunakan media video dan media leaflet. Hal ini menunjukan bahwa media video dan media leaflet tidak memiliki perbedaan dalam meingkatkan praktik pemberian makanan bayi dan anak pada ibu Penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan Zikra . dimana praktik ibu ketika dibandingkan antra dua kelompok tidak terdapat perbedaan, hal ini bisa disebabkan karena faktor ketersedian pangan, ekonomi dan pola asuh yang diketahui juga menjadi faktor lain yang berperan dalam praktik PMBA. Penelitan lain memiliki hasil yang berbeda dimana media video lebih memiliki tindakan lebih baik dari pada media booklet. Semakin bertambah informasi yang didapat ibu dan pengetahuan yang meningkat tentang pemberian makanan bayi dan anak, maka semakin baik pula tindakan ibu dalam pemberian makanan kepada bayi usia 6-24 bulan (Rizqie. Kartini and Shaluhiyah, 2. Berdasarkan hasil observasi diketahui praktik mulai membaik akan tetapi masih ada beberapa responden yang belum melaksanakan parktik PMBA yang sesuai. Terutama tentang jenis bahan makanan, hal ini disebabkan karena kebiasaan makan balita yang belum sesuai sehingga sulit menerima rasa makanan yang baru, ketersediaan pagan hewani dan nabati yang terbatas, jauhnya tempat berbelanja pangan hewani membuat baduta di Desa Gunung Labu lebih banyak mengkonsumsi sayuran. Hasil penelitian juga menunjukkan praktik Sebagian besar responden memberikan menu yang sama pada baduta yaitu dengan menyiapkan MP-ASI pada satu waktu makan untuk dikonsumsi oleh baduta pada satu atau dua waktu makan lainnya. KESIMPULAN DAN SARAN Media video memiliki pengaruh lebih baik dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu baduta dalam pemberian makanan bayi dan anak dibanding dengan media leaflet, serta tidak terdapat perbedaan yang signifikan perbahan praktik ibu baduta tentang pemberian makanan bayi dan anak antara media video dan media leaflet. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 50-60 REFERENSI