Efektivitas Bimbingan KelompokA (Endang Wulandar. EFEKTIVITAS BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK JIGSAW TERHADAP KETERAMPILAN SOSIALDALAM KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI BENCANA SISWA SMK N 1 BULUKERTO THE EFFECTIVENESS OF JIGSAW ENGINEERING GROUP GUIDANCE ON SOCIAL SKILLS IN PREPAREDNESS FOR DISASTERS OF STUDENTS OF SMK N 1 BULUKERTO Oleh: Endang Wulandari. Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta, email : endang. wulandari2016@student. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas bimbingan kelompok teknik jigsaw terhadap keterampilan sosial dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana pada siswa SMK N 1 Bulukerto. Penelitian ini dilakukan berdasarkan keadaan pemberian layanan bimbingan kelompok di SMK N 1 Bulukerto yang masih bersifat konvensional yaitu dengan menerapkan metode ceramah yang belum menstimulasi munculnya keterampilan sosial pada diri peserta didik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan quasi experimental design atau eksperimen semu, bentuk desain penelitian ini merupakan pengembangan dari true experimental design. Bentuk quasi experimental design yang digunakan adalah non equivalent control group design. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 69 siswa kelas X Akuntansi 2 dan X Akuntansi 3 SMK N 1 Bulukerto tahun ajaran 2020/2021. Teknik pengumpulan data menggunakan skala keterampilan sosial. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistika non parametrik dengan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan perhitungan ratarata skor keterampilan sosial sebelum diberikan treatment sebesar 80,00 dan rata-rata skor keterampilan sosial setelah diberikan treatment sebesar 84,00. Berdasarkan hasil perhitungan wilcoxon signed ranks test dengan nilai signifikansi sebesar 0,009<0,05 sehingga dapat ditarik kesimpulan adalah H0 ditolak dan Ha diterima. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa bimbingan kelompok teknik jigsaw efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial dalam kesiapsiagaan bencana pada siswa SMK N 1 Bulukerto. Kata Kunci : Bimbingan kelompok, teknik jigsaw, keterampilan sosial siswa Abstrack This study aims to determine the effectiveness of the jigsaw technique group guidance on social skills in disaster preparedness for students of SMK N 1 Bulukerto. This research was conducted based on the condition of providing group guidance services at SMK N 1 Bulukerto which is still conventional, namely by applying the lecture method that has not stimulated the emergence of social skills in students. The method used in this research is quantitative research with a quasi experimental design or quasiexperimental approach, the form of this research design is a development of true experimental design. The quasi experimental design used was the non equivalent control group design. The sampling technique used in this study was simple random sampling. The sample of this research was 69 students of class X Accounting 2 and X Accounting 3 SMK N 1 Bulukerto in the academic year 2020/2021. The data collection technique used a social skill scale. The analysis technique used in this research is non-parametric statistical analysis with the Wilcoxon test. The results showed that the average score of social skills prior to treatment was 80. 00 and the average score of social skills after treatment was 84. Based on the calculation results of the Wilcoxon signed ranks test with a significance value of 0. 009<0. 05, it can be concluded that H0 is rejected and Ha is accepted. The results of this study indicate that the jigsaw technique group guidance is effective in improving social skills in disaster preparedness for students of SMK N 1 Bulukerto. Keywords: Group guidance, jigsaw technique, students' social skills 272 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 6. Juni 2021 PENDAHULUAN Lembaga pendidikan merupakan salah satu wadah yang berfungsi membentuk jati diri peserta didik. Pendidikan di Indonesia didesain sedemikian rupa guna dapat memfasilitasi aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik dalam diri peserta didik. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sanjaya . 6: 2-. juga mengatakan bahwa dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang didalamnya dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan dapat dikatakan kurang berarti ketika kesuksesan suatu pendidikan hanya dilihat dari aspek kognitif saja dengan psikomotorik, artinya pendidikan tidak hanya menyangkut mengenai bagaimana peserta didik cerdas secara akademis namun peserta didik juga harus memiliki sikap serta keterampilan sosial yang baik. Muji . 5: . juga mengungkapkan bahwa salah satu tujuan pendidikan menengah umum adalah untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial. Nilai-nilai sosial ini sangat penting bagi peserta didik, dikarenakan berfungsi sebagai acuan dalam bertingkah laku terhadap sesamanya, sehingga dapat diterima di lingkungan masyarakat. Nilai-nilai tersebut antara lain seperti kasih sayang, tanggung jawab, dan keserasian hidup. Salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 kurikulum 2013 dalam sistem pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 telah memuat tiga aspek penilaian pembelajaran, meliputi aspek keterampilan, sikap, dan perilaku. Hal ini selaras dengan pendapat Suardi . 6: . yang mengatakan bahwa pendidikan membentuk aspek afeksi, disamping aspek kognisi dan Aspek afeksi atau sikap dan nilainilai atau aspek moral adalah aspek yang sangat menentukan mutu bagi manusia. Bagaimanapun luasnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, jika moralnya kurang baik, maka ilmu dan keterampilannya itu tidak membawa manfaat bagi pemiliknya maupun orang Melihat tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang No. tahun 2003 dan penerapan kurikulum 2013 di sekolah maka suatu keharusan apabila lembaga pendidikan menjadi wadah yang dapat memfasilitasi peserta didik agar dapat memahami aspek keterampilan sosial, sekaligus menstimulasi mereka agar memiliki inisiatif untuk mau menerapkan keterampilan sosial dalam kehidupanya. Keterampilan sosial ini dibutuhkan mengingat manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam Keterampilan sosial yang dimiliki dan diterapkan oleh seseorang membuatnya dapat diterima dalam kehidupan sosial sehingga terbentuk hubungan yang harmonis didalam masyarakat. Hal ini selaras dengan yang dikatakan oleh Maryani . 1: . bahwa keterampilan sosial merupakan berkomunikasi, dan berpartisipasi dalam kelompok yang perlu didasari oleh kecerdasan personal berupa kemampuan mengontrol diri, percaya diri, disiplin dan tanggungjawab, yang berkomunikasi secara jelas, lugas, meyakinkan, dan mampu membangkitkan inspirasi, sehingga mampu mengatasi silang pendapat dan dapat menciptakan kerjasama, untuk selanjutnya persamaan pandangan, empati, toleransi, saling menolong dan membantu secara positif, solidaritas, menghasilkan pergaulan atau interaksi secara harmonis untuk kemajuan Efektivitas Bimbingan KelompokA (Endang Wulandar. 273 Peran guru sangatlah penting dalam menjamin keberhasilan aspek keterampilan sosial ini agar dapat dipahami maupun diterapkan oleh peserta didik. Hal ini dikarenakan peran guru didalam proses pembelajaran selain sebagai pendidik juga sebagai pembimbing, pelatih, pengajar dan perancang jalannya pembelajaran, seperti yang dikatakan Rusman . 6: . mengatakan bahwa tugas guru dalam era teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini bukan hanya sekedar mengajar . ransfer of knowledg. melainkan harus menjadi manajer Hal tersebut mengandung arti, setiap guru diharapkan mampu menciptakan kondisi belajar yang menantang kreativitas dan aktivitas siswa, memotivasi siswa, menggunakan multimedia, multimetode dan multisumber agar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa peran guru sangatlah pembelajaran di kelas. Oleh karena itu keberhasilan suatu pembelajaran yang dalam hal ini adalah keterampilan sosial peserta didik sangat didukung oleh pemilihan model pembelajaran yang tepat yang dipilih guru. Guru bimbingan dan konseling memiliki peranan yang penting dalam memfasilitasi dan menstimulasi aspek keterampilan sosial bagi peserta didik, hal ini dikarenakan keberadaan bimbingan dan konseling sendiri salah satunya berfungsi sebagai fasilitator bagi terbentuknya keterampilan sosial dalam diri peserta didik, seperti yang dikatakan Suherman dalam Kamaluddin . 1: . bahwa salah satu fungsi bimbingan dan konseling adalah fungsi penyesuaian yang berarti membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. Tohirin . 7: . juga mengatakan bahwa aspek-aspek sosial yang memerlukan layanan bimbingan sosial adalah : . kemampuan lingkungannya, . kemampuan individu melakukan adaptasi, dan . kemampuan individu melakukan hubungan sosial . nteraksi sosia. dengan lingkungannya baik lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Supriatna . 1: . mengungkapkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang dikembangkan harus menyentuh banyak ragam aspek perkembangan peserta didik. Pengetahuan, keterampilan, sistem nilai, dan perilaku yang dipelajari peserta didik di kelas, secara klasikal, perlu diperhalus dan diinternalisasi. Ini adalah sebuah proses menyentuh dunia kehidupan peserta didik secara individual. Proses ini tidak cukup hanya dilakukan oleh guru tapi perlu bantuan profesi pendidik lain yang disebut konselor. Menelusuk keterampilan sosial agar dapat dimiliki maupun mampu diterapkan oleh peserta didik, serta melihat berbagai upaya pemerintah dalam memfasilitasinya melalui lembaga pendidikan, namun ternyata fakta yang terjadi dilapangan belum dapat dikatakan berjalan sesuai dengan yang semestinya. Hasil wawancara dan observasi yang dilakukan di SMKN 1 Bulukerto didapatkan data berupa layanan bimbingan kelompok yang dilakukan oleh guru BK di sekolah selama ini masih menggunakan metode ceramah, sehingga membuat teknik- teknik yang ada dalam layanan bimbingan kelompok belum diterapkan. Jam masuk kelas bagi guru bimbingan dan konseling juga masih terbatas dikarenakan tidak ada jam khusus masuk kelas bagi BK melainkan hanya bisa didapat dengan meminjam jam mata pelajaran lain, hal ini juga membuat materi terkait keterampilan sosial juga belum tersampaikan secara menyeluruh melainkan hanya disampaikan melalui konseling kelompok, dampak lainnya juga berpengaruh terhadap peran BK yang seharusnya menstimulasi peserta didik agar memiliki keterampilan sosial belum dapat tercapai dengan optimal. Guru BK di SMKN 1 Bulukerto juga mengatakan bahwa kondisi keterampilan sosial siswa juga terlihat masih rendah yang ditandai dengan beberapa peserta didik tidak sopan dalam bertutur kata baik dengan guru maupun dengan teman yang lain. Pemberian layanan BK dengan sistem daring sebagai dampak dari pandemi corona ini juga membuat prosesnya belum dapat berjalan dengan optimal, disamping pihak guru sendiri yang belum siap dalam menyiapkan model pembelajaran baru, juga terlihat dari fasilitas belajar mengajar yang digunakan masih Selama ini proses belajar mengajar berlangsung melalui google classroom dan WhatsApp, hal ini secara tidak juga berpengaruh terhadap keterampilan sosial peserta didik dikarenakan mereka tidak dapat 274 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 6. Juni 2021 berinteraksi secara langsung secara lebih leluasa. Peserta didik juga terlihat kurang interaktif didalam proses pembelajaran, hal ini terlihat dari mereka yang cenderung diam ketika berada dalam obrolan via WhatsApp, dan hanya beberapa peserta didik saja yang merespon proses Pandemi corona membuat perubahan yang drastis berbeda dalam kehidupan manusia, termasuk dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dampak dari pandemi corona ini hingga membuat proses belajar mengajar yang seharusnya dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung namun harus dilakukan dengan sistem daring ataupun sering disebut Pembelajaran Jarak jauh. Awal bulan Maret kasus corona pertama kali diberitakan terdeteksi di Indonesia dan hingga kini jumlah korban corona semakin bertambah setiap harinya. Dilansir https://m-merdekacom. cdn yang diakses tanggal 4 Agustus 2020 disebutkan bahwa kasus positif corona di Indonesia semakin bertambah setiap harinya. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan 679 kasus baru pasien positif Covid19, sehingga per hari Senin 3 Agustus 2020 jumlah orang terinfeksi covid-19 mencapai Data tersebut dikutip dari situs Satgas Penanganan covid-19 pada hari Senin 3 Agustus 2020 pada pukul 12. 00 WIB. Sementara, terdapat 262 pasien covid-19 dinyatakan sembuh, sehingga total menjadi 237 pasien sembuh, sedangkan untuk kasus meninggal dunia bertambah 66 orang, sehingga total menjadi 5. 302 kasus. Disamping bencana alam berupa pandemi corona, tidak dapat dipungkiri Indonesia merupakan negara yang berpotensi rawan bencana, berbagai macam bencana seperti gempa bumi, banjir, gunung meletus, tanah longsong, tsunami, dan lain sebagainya sering terjadi di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Indonesia yang terletak pada jalur cincin api pasifik dan dilewati oleh tiga lempeng yaitu Eurasia. Pasifik dan Indo- Australia. Dampak dari pertemuan lempeng dan deret gunung api ini menyebabkan wilayah yang berada diantara pertemuan nya terdapat banyak patahan aktif dan sering terjadi gempa bumi. Indonesia bertemunya dua jalur gunung api besar dunia, selain itu beberapa jalur pegunungan lipatan dunia juga saling bertemu di Indonesia yang merupakan bagian dari hasil proses pertemuan 3 lempeng tektonik yang besar, yaitu lempeng Indo Australia. Eurasia dan lempeng Pasifik. Aktivitas tektonik yang terjadi menyebabkan terbentuknya deretan gunungapi disepanjang pulau Sumatera. Jawa-Bali-Nusa Tenggara, utara Sulawesi-Maluku, hingga Papua. Deret gunung api di Indonesia merupakan bagian dari deret gunung api sepanjang Asia Pasifik yang disebut dengan Ring of Fire (BNPB, 2017: . Dilansir dalam Solopos. com diakses pada 30 November 2020 disebutkan pula bahwa Kabupaten Wonogiri merupakan daerah yang rawan bencana dengan potensi sangat tinggi. Hampir semua jenis bencana berpotensi terjadi di Wonogiri, baik dimusim penghujan maupun musim kemarau. Potensi bencana di Wonogiri merupakan konsekuensi logis karena letak geografis yang berada di zona merah bencana Berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri pada tahun 2019 terdapat 216 kasus bencana yang meliputi banjir, tanah longsor, tanah bergerak, tanah ambles, kebakaran, dan angin kencang. Pada tahun 2020 telah terjadi 78 bencana di Wonogiri yang dikenal dengan wilayah rawan dengan total kerugian mencapai Rp 922 juta. Atas dasar itu, maka pemerintah Kabupaten Wonogiri bersana dengan BPBD Wonogiri. TNI-Polri dan institusi lain mengadakan Apel Kesiapsiagaan Bencana Banjir dan Tanah Longsor Kabupaten Wonogiri 2020-2021. Sabtu . /10/2. Apel dilaksanakan di area Sekretariat Daerah Wonogiri dengan peserta yang terbatas, kemudian dilanjutkan dengan pengarahan atau rapat koordinasi melalui zoom meeting yang diikuti seluruh Forkompincam di Wonogiri. Keterampilan sosial selain penting dimiliki dan diterapkan oleh manusia sebagai modal sosial untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, alangkah lebih baik lagi apabila keterampilan sosial ini mampu dimiliki dan diterapkan antar sesama manusia ketika terjadi bencana, mengingat bahwa dalam Efektivitas Bimbingan KelompokA (Endang Wulandar. 275 situasi tersebut dibutuhkan dukungan dan hubungan sosial yang positif antarindividu satu dengan yang lainnya. Individu yang memiliki keterampilan sosial berpeluang besar untuk dapat mengatasi stress dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya, yang mana gangguan stress dapat terjadi ketika menghadapi bencana. Keterampilan sosial sendiri memiliki banyak manfaat bagi setiap individu seperti yang dikatakan oleh Pitoko, dkk . bahwa manfaat memiliki keterampilan sosial adalah individu mampu menyesuaikan diri dengan kepribadian dan identitas diri, mengembangkan kemampuan karir, meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan kesehatan, serta mampu mengatasi Pemerintah Indonesia juga sudah mencanangkan program untuk menghadapi bencana ini melalui lembaga pendidikan yang telah diatur dalam Permendikbud no 33 bab 1 pasal 3 tentang Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang didalamnya disebutkan bahwa Program Satuan Pendidikan Aman Bencana yang selanjutnya disebut Program SPAB adalah upaya pencegahan dan penanggulangan dampak bencana di satuan Pendidikan. Pendidikan dipandang penting dalam memberikan pengetahuan mengenai kebencanaan kepada peserta didik dengan harapan setelah itu mereka dapat bertindak sebagai sumber penyebaran pengetahuan kepada keluarga maupun lingkungan sosialnya, sehingga bisa meminimalisir dampak buruk dari bencana itu sendiri, selaras dengan hal tersebut Rachman . 8: . mengungkapkan sangat tepat jika lembaga pendidikan dapat memberikan informasi pengurangan resiko bencana sebagai tindakan preventif dan antisipatif terhadap keadaan alam lingkungan kita yang memang rawan terjadi bencana alam, sehingga ke depan masyarakat dan peserta didik mampu dan mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan jika datang bencana alam di wilayah mereka. Berdasarkan permasalahan diatas maka diperlukan suatu metode pemberian layanan BK yang tepat, guna dapat mendorong semangat belajar peserta didik dalam proses belajar sistem daring ini, memudahkan peserta didik dalam memahami materi layanan, serta dapat memberikan stimulant kepada peserta didik untuk memiliki maupun menerapkan keterampilan sosial dalam Peran guru bimbingan dan konseling khususnya dalam memilih dan menerapkan metode layanan menjadi hal yang penting dalam hal ini. Metode layanan dibutuhkan dalam kegiatan bimbingan kelompok agar materi dan nilai-nilai layanan dapat tersampaikan dan dipahami dengan baik oleh peserta didik. Materi serta nilai-nilai yang disampaikan oleh guru bimbingan dan konseling diharapkan dapat dipahami dan memberikan arti mendalam bagi peserta didik sehingga dapat membuat mereka tergerak hatinya untuk mau menerapkan ataupun mengambil nilai dan manfaat dari proses pemberian layanan yang telah Salah satu faktor penting yang mempengaruhi keterserapan materi maupun nilai-nilai bagi peserta didik adalah melalui metode layanan. Berdasarkan tujuan pendidikan yang telah termuat dalam kurikulum 2013 yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, maka sudah sepantasnya guru BK memilih metode layanan yang tepat agar dapat memfasilitasi ketiga aspek tersebut. Salah satu metode layanan yang dapat diterapkan untuk mendapatkan ketiga aspek tersebut adalah metode layanan kooperatif. Metode layanan ini dirancang agar setiap anggota dapat saling berinteraksi, bekerjasama, dan saling tergantung satu sama lain. Jigsaw merupakan salah satu tipe dari metode layanan kooperatif yang memiliki banyak kelebihan, seperti yang dikatakan oleh Rusman . 0: . bahwa berdasarkan banyak riset yang telah dilakukan berkaitan dengan menunjukkan siswa yang terlibat di dalamnya memperoleh prestasi lebih baik, mempunyai sikap yang lebih baik, dan lebih positif terhadap pembelajaran, disamping saling menghargai perbedaan dan pendapat orang lain. Jhonson and Jhonson dalam Sobari . melakukan penelitian terkait pembelajaran kooperatif model yang hasilnya menunjukkan bahwa interaksi kooperatif memiliki berbagai 276 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 6. Juni 2021 pengaruh positif terhadap perkembagan anak. Pengaruh positif tersebut adalah meningkatkan hasil belajar, meningkatkan daya ingat, dapat digunakan untuk mencapai tarap penalaran tingkat tinggi, mendorong tumbuhnya motivasi instrinsik . esadaran individ. , meningkatkan hubungan antarmanusia yang heterogen, meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah, meningkatkan sikap yang positif terhadap guru, meningkatkan harga diri anak, meningkatkan perilaku penyesuaian sosial yang positif, dan meningkatkan keterampilan hidup bergotong-royong. Metode layanan kooperatif tipe jigsaw dipilih juga karena sifatnya yang fleksibel dan mudah untuk diterapkan, seperti yang dikatakan oleh Slavin . 5: . bahwa jigsaw merupakan salah satu dari metode pembelajaran kooperatif yang paling fleksibel, walaupun dengan beberapa modifikasi dapat membuatnya tetap pada model dasarnya dengan mengubah beberapa detil Jigsaw keterampilan sosial melalui pengaplikasian metode ini, seperti yang dikatakan oleh Ainun dan Harahap . 6: . bahwa jigsaw merupakan suatu struktur multifungsi kerjasama belajar, yang mana jigsaw dapat digunakan dalam beberapa hal untuk mencapai berbagai tujuan pembelajaran, terutama digunakan untuk presentasi dan mendapatkan materi baru. Struktur ini dapat menciptakan saling ketergantungan. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada bentuk struktur multi fungsi kelompok belajar yang dapat digunakan pada semua pokok bahasan dan semua tingkatan untuk mengembangkan keahlian dan keterampilan setiap kelompok. Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Pujianasari . tentang AuKeefektifan Model Jigsaw terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IVAy menunjukkan bahwa hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran jigsaw mengalami peningkatan, selain itu peningkatan juga terjadi dalam ranah afektif dan ranah psikomotor siswa. Berdasarkan uraian hasil penelitian yang relevan diatas, peneliti pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sebagai strategi dalam peningkatan keterampilan sosial siswa dalam bimbingan kelompok sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi bencana. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektivan layanan bimbingan kelompok teknik jigsaw terhadap keterampilan sosial dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana peserta didik kelas X di SMKN 1 Bulukerto. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada pada tanggal 21 Juli 2020-28 Juli 2020 berupa observasi dan wawancara kepada guru BK, dan proses pengambilan data mulai dari tanggal 26 Agustus-25 September 2020, di SMK N 1 Bulukerto yang beralamat di Jalan Guli. Bulukerto. Wonogiri. Jawa Tengah 57697. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK N 1 Bulukerto yang berjumlah 356 siswa, dengan jumlah sampel yang dipilih sebanyak 69 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik probability sampling jenis simple random sampling. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan skala jenis likertdan lembar observasi, yaitu berupa skala keterampilan sosial yang telah dimodifikasi dan lembar observasi keterlaksanaan layanan. Skala keterampilan sosial ini digunakan untuk mengukur keterampilan sosial siswa sebelum diberi perlakuan . dan setelah diberikan perlakuan . , sedangkan lembar observasi keterlaksanaan layanan digunakan untuk mengetahui aktivitas pemberian layanan teknik jigsaw pada bimbingan kelompok. Hasil observasi selanjutnya dicatat pada lembar observasi yang sudah disediakan. Efektivitas Bimbingan KelompokA (Endang Wulandar. 277 Validitas dan Reliabilitas Uji menggunakan pendapat ahli . xperts judgemen. , setelah didapatkan keabsahan instrumen kemudian dilakukan uji validitas dengan aplikasi SPSS versi 23. 0 dengan membandingkan r hitung dengan r tabel, sehingga dihasilkan 6 item instrumen yang gugur. Uji reliabilitas dilakukan dengan rumusAlpha Cronbach menggunakan SPSS for Windows 23. 0 Version dengandiperoleh hasil reliabilitas sebesar 0,709. SKOR MAX SKOR MIN RATARATA Tinggi Tinggi Sedang Tinggi KATEGORI Keterangan Meningkat Meningkat Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan uji analisis deskriptif dan uji wilcoxon. Uji analisis deskriptif pengukuran variabel terikat yaitu keterampilan sosial, sedangkan uji wilcoxon dilakukan guna melihat pengaruh perlakuan terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan perhitungan menggunakan bantuan SPSS for windows version Berdasarkan tabel 1 diatas, dapat diketahui bahwa pada kelompok eksperimen yaitu kelompok yang diberikan perlakuan layanan bimbingan kelompok dengan teknik jigsaw terdapat peningkatan skor, dari yang semula skor pretest sebesar 80 kemudian untuk hasil skorposttest menjadi 84, yang artinya terdapat penambahan skor yang cukup signifikan setelah Pada kelompok kontrol yang diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik ceramah dan diskusiyang semula memperoleh skor pretest sebesar 79, kemudian untuk hasil posttest sebesar 80, yang artinya juga terdapat penambahan skor setelah dilakukan treatment namun tidak sesignifikan kelompok eksperimen. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Pretest dan Posttest Keterampilan Sosial Siswa Tabel 2. Hasil Uji Deskriptif Statistik Uji Wilcoxon Pretest Kelompok Eksperimen dan Pretest Kelompok Kontrol Teknik Analisis Data Hasil penelitian diperoleh dengan menyebarkan instrumen penelitian kepada kelas X Akuntansi 2 sebagai kelompok kontrol dan X Akuntansi 3 sebagai kelompok eksperimen yang bertujuan untuk memperoleh data terkait keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial siswa diukur menggunakan skala keterampilan sosial yang terdiri dari 24 item pernyataan dengan 4 alternatif jawaban yang memiliki rentang skor 1 sampai 4. Berikut adalah hasil pretest dan posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol di SMK N 1 Bulukerto. Tabel 1. Hasil Pretestdan Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Uji Hipotesis Penelitian Descriptive Statistics PRETEST KELOMPO EKSPERIM PRETEST KELOMPO KONTROL Mean 5,236 Min Max 79,42 6,524 Tabel 3. Hasil Uji Perbedaan antara Pretest Kelompok Eksperimen dan Pretest Kelompok Kontrol Test Statisticsa Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Pretest Posttest Pretest Posttest TOTAL SKOR MEDIAN PRETEST KELOMPOK KONTROL - PRETEST KELOMPOK EKSPERIMEN 278 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 6. Juni 2021 Asymp. Sig. -,187b Based on negative ranks. ,852 Berdasarkan uji wilcoxon yang telah dilakukan diperoleh data bahwa mean pada pretest kelompok eksperimen sebesar 80,00 sedangkan posttest pada kelompok eksperimen sebesar 84,00 yang artinya posttest kelompok eksperimen lebih besar dari hasil pretestnya. Nilai signifikansi melalui uji wilcoxon sebesar 0,009 yang artinya lebih kecil dari 0,05 sehingga H0 ditolak, yang berarti pretest dan posttest pada kelompok eksperimen memiliki varian data yang berbeda. Kesimpulan yang diperoleh adalah adanya pengaruh layanan bimbingan kelompok teknik jigsaw terhadap keterampilan sosial dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Wilcoxon Signed Ranks Test Based on negative ranks. Berdasarkan hasil uji wilcoxon diatas menunjukkan mean pada pretest kelompok kontrol sebesar 79,42 dan mean pada kelompok eksprimen sebesar 80,00 yang artinya hasil pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak jauh berbeda. Nilai signifikansi yang diperoleh melalui uji wilcoxon ini sebesar 0,852 yang nilainya lebih besar dari 0,05. Dilihat dari hasil signifikansi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima sehingga tidak ada perbedaan keterampilan sosial siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum diberikan perlakuan . berupa layanan bimbingan kelompok. Tabel 4. Hasil Uji Deskriptif Statistik Uji WilcoxonPretest dan Posttest Kelompok Eksperimen Descriptive Statistics Mean Min Max PRE_EKSPERIM 35 80,00 5,236 34 84,00 5,784 POST_EKSPERI MEN Tabel 6. Hasil Uji Deskriptif Statistik Uji WilcoxonPretest dan Posttest Kelompok Kontrol Descriptive Statistics PRETEST KELOMPOK KONTROL POSTTEST KELOMPOK KONTROL Mean Min Max 79,42 6,524 80,44 6,524 Tabel 7. Hasil Uji Perbedaan antara Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol Test Statisticsa POSTTEST Tabel 5. Hasil Uji Perbedaan antara Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen KELOMPOK KONTROL - Test Statisticsa PRETEST POST_EKSPER KELOMPOK IMEN - KONTROL PRE_EKSPERI MEN Asymp. Sig. -2,622b ,009 Wilcoxon Signed Ranks Test -,796b Asymp. Sig. -taile. ,426 Wilcoxon Signed Ranks Test Based on negative ranks. Efektivitas Bimbingan KelompokA (Endang Wulandar. 279 Berdasarkan hasil uji wilcoxon yang telah dilakukan diperoleh hasil mean pada pretest kelompok kontrol sebesar 79,42 sedangkan posttest pada kelompok kontrol sebesar 80,44, yang artinya posttest pada kelompok kontrol lebih besar dari hasil pretestnya. Nilai signifikansi menunjukkan 0,426 yang artinya lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima maka tidak ada perbedaan keterampilan sosial siswa pada kelompok kontrol setelah diberi layanan bimbingan kelompok dengan teknik ceramah sekaligus diskusi. Tabel 8. Hasil Uji Deskriptif Statistik Uji WilcoxonPosttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Descriptive Statistics Mean Min Max POSTTEST KELOMPOK EKSPERIMEN POSTTEST KELOMPOK KONTROL 80,44 Tabel 9. Hasil Uji Perbedaan antara Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Test Statisticsa POSTTEST KELOMPOK KONTROL - POSTTEST KELOMPOK EKSPERIMEN Asymp. Sig. -1,893b ,058 Wilcoxon Signed Ranks Test Based on positive ranks. Berdasarkan hasil uji wilcoxon diatas diperoleh hasil mean pada posttestkelompok eksperimen sebesar 84,00 sedangkan posttest pada kelompok kontrol sebesar 80,44 yang artinya posttest pada kelompok eksperimen lebih besar daripada posttest kelompok kontrol. Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,058 yang nilainya lebih besar sedikit dari 0,05 yang berarti H0 Posttest pada kelompok eskperimen dan kelompok kontrol hampir memiliki varian data yang hampir sama. Pembahasan dan Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengawali proses penelitian dengan melakukan pretest kepada siswa kelas X Akuntansi 2 sebagai kelas kontrol dan X Akuntansi 3 sebagai kelas eksperimen. Kedua kelas inilah yang terpilih sebagai subjek penelitian sesuai dengan hasil pemilihan sampel yang telah dilakukan. Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian treatment kepada masingmasing kelompok. Kelompok ekperimen diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik jigsaw sedangkan kelompok kontrol diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik ceramah sekaligus diskusi. Setelah pemberian treatmen selesai dilakukan, kemudian dilakukan pengambilan data posttest untuk melihat tingkat keterampilan sosial siswa setelah diberikan treatment. Hasil posttest di kelas eksperimen menunjukkan peningkatan skor yang dapat dilihat dari perolehan skor rata-rata posttest yaitu 84,00 yang lebih tinggi dari perolehan hasil pretest sebelumnya yaitu 80,00. Hasil uji wilcoxon yang telah dilakukan juga menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,009 yang lebih kecil dari 0,05 sehingga H0 ditolak yang artinya ada perbedaan hasil antara pretest dan posttest di kelompok eksperimen. Peserta didik memperoleh informasi dan pemahaman baru terkait keterampilan sosial melalui layanan bimbingan kelompok teknik jigsaw yang telah dilaksanakan. Hal ini dikarenakan materi yang didiskusikan melalui metode jigsaw adalah seputar keterampilan sosial, sehingga peserta didik dapat saling bertukar informasi dan menggali lebih dalam terkait materi tersebut. Metode jigsaw selain bersifat informatif juga dapat memberikan stimulant bagi peserta didik untuk dapat mengembangkan keterampilan sosial melalui 280 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 6. Juni 2021 pengaplikasian metode ini. Metode jigsaw dapat memberikan pengalaman langsung bagi peserta didik untuk menerapkan keterampilan sosial yang dimilikinya, sehingga proses pemberian layanan di kelas akan menjadi lebih dinamis. Pemilihan pemberian layanan bimbingan kelompok kali ini juga membuat peserta didik dapat merasakan model pemberian layanan yang baru dan menyenangkan bagi mereka. Melalui teknik ini peserta didik yang sebelumnya lebih banyak bersifat pasif kini dapat berperan aktif dan keluar dari zona yang biasanya mereka lakukan. Melalui jigsaw peserta didik yang sebelumnya malu-malu untuk berbicara didepan teman-teman yang lain mulai terlatih untuk berani bersuara, dikarenakan suatu tanggung jawab yang harus dilakukannya. Proses diskusi dalam jigsaw juga membuat peserta didik berlatih sikap saling menghargai maupun sikap toleransi antar teman. Seperti yang dikatakan oleh Usman, dkk . 4: . bahwa model jigsaw merupakan salah satu variasi dari model pembelajaran cooperative learning yaitu proses belajar kelompok dimana setiap anggota mengembangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya, untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh Arif dan Insih . 7: . juga mengatakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini dapat menjadikan kelas menjadi lebih dinamis, dikarenakan semua siswa merasa membutuhkan siswa yang lain dalam proses pembelajaran. Keterampilan sosial dibutuhkan manusia dalam menjalani kehidupan dilingkungan Melalui keterampilan sosial yang dimiliki dan diterapkannya, manusia tersebut dapat diterima secara positif oleh masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Izzaty, dkk . bahwa keterampilan sosial merupakan keterampilan atau strategi yang digunakan untuk memulai ataupun mempertahankan suatu hubungan yang positif dalam interaksi sosial, yang diperoleh melalui proses belajar dan bertujuan untuk mendapatkan hadiah atau penguat dalam hubungan interpersonal yang Keterampilan sosial ini menjadi salah satu aspek yang menjadi tujuan pendidikan nasional Indonesia, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung Melihat tujuan pendidikan nasional tersebut, maka tepat jika lembaga pendidikan keterampilan sosial ini dapat muncul dalam diri peserta didik. Keterampilan sosial juga dibutuhkan terlebih lagi saat terjadi bencana, yang mana setiap dari korban membutuhkan dukungan sosial yang lebih. Rachman . mengungkapkan sangat tepat jika lembaga pendidikan dapat memberikan informasi dan kesiapsiagaan bencana atau pendidikan pengurangan resiko bencana sebagai tindakan preventif dan antisipatif terhadap keadaan alam lingkungan kita yang memang rawan terjadi bencana alam, sehingga kedepan masyarakat dan peserta didik mampu dan mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan jika datang bencana alam di wilayah mereka. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai efektivitas bimbingan kelompok teknik jigsaw terhadap keterampilan sosial siswa SMK N 1 Bulukerto, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Terdapat perbedaan yang nyata pada pemahaman dan inisiatif siswa terhadap aspek keterampilan sosial setelah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik jigsaw, sehingga dapat dikatakan bahwa bimbingan kelompok meningkatkan keterampilan sosial Hal ini dibuktikan dari hasil uji wilcoxon yang Efektivitas Bimbingan KelompokA (Endang Wulandar. 281 telah dilakukan pada hasil pretest dan posttest kelompok eksperimen. Hasil uji wilcoxon menunjukkan nilai sig 0,009 < 0,05 yang dapat diartikan bahwa ada perbedaan hasil antara pretest dan posttest pada kelompok Tidak terdapat perbedaan yang nyata pada pemahaman dan inisiatif siswa terhadap aspek keterampilan sosial setelah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik ceramah dan diskusi, sehingga dapat dikatakan bahwa Bimbingan kelompok teknik diskusi dan ceramah tidak efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial Hal ini dibuktikan pula dari uji wilcoxon yang menunjukkan hasil nilai sig 0,426 > 0,05 yang dapat diartikan bahwa tidak ada perbedaan hasil antara pretest dan posttest pada kelompok Saran Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah dikemukakan maka dapat diajukan saran sebagai berikut : Bagi Peserta didik Penelitian ini diharapkan dapat didikmengenai keterampilan sosial Peserta didik diharapkan mendapatkan pemahaman terkait pentingnya memiliki keterampilan sosial. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan keterampilan sosial peserta didik, selain itu pemberian layanan sebaiknya dilakukan secara tatap muka langsung guna tercapainya tujuan layanan yang lebih efektif dan efisien Penelitian ini dapat diterapkan oleh guru bimbingan dan konseling sebagai variasi metode pemberian layanan dalam bimbingan kelompok agar siswa dapat berperan aktif dan antusias mengikuti layanan BK. Penelitian inijuga berguna sebagai referensi guna pemenuhan layanan bimbingan dan konseling dalam bidang pribadi sosial. Penelitian lain yang serupa juga dapat kemampuan metode layanan teknik jigsaw sesuai dengan karakteristik peserta didik dan materi layanan yang Bagi Peneliti Selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk meneliti faktor-faktor lain yang dimungkinkan dapat mempengaruhi keterampilan sosial peserta didik, supaya penelitian mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Peneliti selanjutnya diharapkan pula untuk melakukan validasi berbagai metode layanan dalam bimbingan kesesuaiannya dengan fakta empirik praktek layanan bimbingan kelompok. Bagi peneliti selanjutnya juga dapat mengembangkan penelitian ini dengan variasi yang berbeda seperti indikator yang berbeda, karakteristik subjek yang berbeda, maupun materi layanan yang berbeda pula. DAFTAR PUSTAKA