HUTARI Program in Nutrition Intervention and Health Service Strengthening Arifa Sofia Putri1*, Apolinus Silalahi2, Muhammad Fajri Fitriyanto3 Article Info Abstract PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Gorontalo Nutritional issues such as stunting remain a major challenge to child health in Hulonthalangi District. To address this, PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Gorontalo, through the Pertamina SEHATI program, initiated the HUTARI Program as a health and nutrition-based community empowerment effort. This program intervened with 36 stunted toddlers, provided nutrition education to 24 pregnant women and 55 mothers of toddlers, and trained 25 integrated health post (Posyandu) cadres to improve the capacity of local health services. Furthermore, service quality was strengthened through the optimization of medical equipment at one community health center (Puskesmas) and five subcommunity health centers (Puskesmas Pembantu). Community participation was facilitated through coordination forums and joint training between cadres, health workers, and community leaders to ensure active involvement and program sustainability. Community awareness was measured through pre-post nutrition education surveys and observations of child feeding behavior. The results of the activities showed an increase in understanding and practice of balanced nutrition, family support for child growth and development, and strengthened health service capacity at the community level. This program demonstrates that multi-stakeholder collaboration and a participatory approach are key to accelerating sustainable stunting reduction. How to Cite: Putri, S.K., Silalahi, A., Fitriyanti, M.F. (2025). HUTARI Program in Nutrition Intervention and Health Service Strengthening Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 (3), 2025, 30-37 Article History Submitted: 6 Oktober 2025 Received: 6 Oktober 2025 Accepted: 13 Oktober 2025 Correspondence E-Mail: arifasofiap@gmail.com Keywords Stunting; Community Empowerment; Nutrition Education; Health Services; CSR Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol.4 No.3 (2025) pp. 30-37 https://doi.org/10.55381/jpm.v4i3.536 https://prospectpublishing.id/ojs/index.php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4.0 International License (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Program HUTARI dalam Intervensi Gizi dan Penguatan Pelayanan Kesehatan Arifa Sofia Putri1, Apolinus Silalahi2, Muhammad Fajri Fitriyanto3 Article Info PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Gorontalo Email Korespondensi: arifasofiap@gmail.com Abstrak Permasalahan gizi seperti stunting masih menjadi tantangan utama kesehatan anak di Kecamatan Hulonthalangi. Untuk menjawab hal ini, PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Gorontalo melalui program Pertamina SEHATI menginisiasi Program HUTARI sebagai upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kesehatan dan gizi. Program ini melakukan intervensi terhadap 36 balita stunting, memberikan sosialisasi gizi kepada 24 ibu hamil dan 55 ibu balita, serta melatih 25 kader posyandu guna meningkatkan kapasitas layanan kesehatan lokal. Selain itu, kualitas layanan diperkuat melalui optimalisasi alat kesehatan di satu puskesmas dan lima puskesmas pembantu. Partisipasi masyarakat difasilitasi melalui forum koordinasi dan pelatihan bersama antara kader, tenaga kesehatan, serta tokoh masyarakat untuk memastikan keterlibatan aktif dan keberlanjutan program. Pengukuran kesadaran masyarakat dilakukan melalui survei pre–post sosialisasi gizi dan observasi perilaku pemberian makan anak. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan praktik gizi seimbang, dukungan keluarga terhadap tumbuh kembang anak, serta penguatan kapasitas layanan kesehatan di tingkat komunitas. Program ini membuktikan bahwa kolaborasi multi-pihak dan pendekatan partisipatif menjadi kunci dalam mempercepat penurunan stunting secara berkelanjutan. Kata Kunci: Stunting; Pemberdayaan Masyarakat; Edukasi Gizi; Layanan Kesehatan; CSR 31 © Putri et.al. Pendahuluan Permasalahan gizi, terutama stunting, gizi buruk, dan gizi kurang, masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Gorontalo menginisiasi Program HUTARI yang berfokus untuk menjawab permasalahan gizi, khususnya stunting, di Kecamatan Hulonthalangi. Hal ini dilatarbelakangi oleh tingginya prevalensi stunting di Provinsi Gorontalo yang mencapai 23,8% pada tahun 2022 (Badan Pusat Statistik, 2023), angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 21,6% pada periode yang sama (SSGI, Kementerian Kesehatan RI, 2022). Angka tersebut tergolong kategori tinggi menurut World Health Organization (WHO) karena melebihi ambang batas 20%. Sebagai perbandingan, beberapa provinsi lain seperti DKI Jakarta hanya mencatat angka 14,8%, dan Sulawesi Utara sebesar 20,5%, menunjukkan masih adanya kesenjangan antarwilayah (SSGI, 2022). Pada tingkat nasional, sesuai Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, Indonesia menargetkan penurunan angka stunting menjadi 14% pada tahun 2024, namun realisasinya masih cukup jauh dari sasaran tersebut. Di tingkat lokal, Dinas Kesehatan dan Puskesmas Hulonthalangi (2023) mencatat dari 952 anak di bawah lima tahun, sebanyak 36 balita (3,7%) mengalami stunting. Tanpa adanya intervensi, angka tersebut berpotensi meningkat akibat keterbatasan pengetahuan orang tua tentang gizi seimbang dan pola asuh yang tepat. Program HUTARI juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yang menekankan pentingnya akses kesehatan berkualitas serta intervensi gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan. Pendekatan adaptif program ini diwujudkan melalui pemetaan kebutuhan berbasis data lokal, pelibatan kader posyandu dan tenaga kesehatan sebagai pelaksana utama, serta modifikasi intervensi sesuai konteks sosial dan budaya masyarakat. Dengan demikian, Program HUTARI hadir sebagai upaya strategis dan kontekstual untuk mempercepat penurunan stunting di Kecamatan Hulonthalangi dan memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. Metode Metode pelaksanaan Program HUTARI dirancang untuk menjawab permasalahan gizi dan keterbatasan layanan kesehatan di Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo. Pendekatan yang digunakan adalah pemberdayaan masyarakat berbasis partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti masyarakat, ibu balita, ibu hamil, kader posyandu, tenaga kesehatan puskesmas, dan pemerintah daerah. Program ini berlandaskan pada pendekatan teoritis Community-Based Health Development (CBHD) yang menekankan kolaborasi lintas pihak dan peningkatan kapasitas lokal untuk mencapai keberlanjutan. Total 115 partisipan terlibat dalam program, terdiri atas 36 balita stunting, 24 ibu hamil, 55 ibu balita, dan 25 kader posyandu. Kriteria inklusi meliputi balita dengan status gizi kurang atau stunting berdasarkan hasil pengukuran antropometri, serta ibu hamil dan ibu balita yang aktif mengikuti kegiatan posyandu. Kriteria eksklusif adalah keluarga yang berpindah domisili atau tidak mengikuti minimal tiga kali kegiatan intervensi. Metode pengumpulan data mencakup observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi kegiatan, serta pencatatan hasil pengukuran antropometri balita. Durasi penelitian dan pelaksanaan program berlangsung selama 24 bulan, yakni dari Juli 2023 hingga Juni 2025. Pembahasan Program HUTARI dalam pelaksanaannya terfokus pada tiga hal utama yaitu intervensi gizi pada balita, pengembangan pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Selama 24 bulan pelaksanaan (Juli 2023–Juni 2025), program HUTARI telah menjangkau 36 32 © Putri et.al. balita, 24 ibu hamil, dan 55 ibu balita. Selain itu, sebanyak 24 kali PMT telah diberikan sebagai bagian dari intervensi gizi, sementara edukasi gizi dan bimbingan praktis MPASI dilakukan melalui enam sesi pelatihan yang berhasil mendorong penurunan prevalensi stunting di Kecamatan Hulonthalangi. Pemilihan sasaran program dilakukan melalui proses pemetaan dan identifikasi awal berbasis data posyandu dan puskesmas, menggunakan hasil pengukuran status gizi balita (berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, dan berat badan menurut tinggi badan) untuk memastikan ketepatan intervensi kepada kelompok yang paling membutuhkan. Gambar 1. Grafik analisis perencanaan dan pelaksanaan program HUTARI Sumber: Analisis Penulis, 2025 Salah satu upaya intervensi gizi spesifik yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang menargetkan 36 balita stunting di Kecamatan Hulonthalangi berdasarkan hasil pemetaan dan identifikasi awal yang dilakukan secara kolaboratif bersama puskesmas, kader posyandu, dan perangkat kelurahan. Identifikasi awal dilakukan melalui kegiatan skrining status gizi balita berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, dan berat badan menurut tinggi badan. PMT dilaksanakan setiap bulan dengan pemberian makanan bergizi seimbang yang disesuaikan dengan kebutuhan usia balita. Menu PMT dirancang bersama ahli gizi dan puskesmas, menggunakan bahan makanan lokal seperti telur, susu, vitamin, protein, dan buah-buahan. Selama program berjalan, dilakukan pula penyuluhan gizi kepada orang tua balita agar memahami pentingnya asupan bergizi serta praktik pemberian MPASI yang benar di rumah. Program ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan berbasis komunitas, yang terlihat dari keterlibatan tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan ibu-ibu balita sebagai kunci keberhasilan program. Partisipasi masyarakat difasilitasi melalui forum warga dan pelatihan kader posyandu yang terjadwal secara rutin, serta sistem monitoring berbasis komunitas untuk memastikan keberlanjutan dan akuntabilitas program. Hal ini mendorong rasa kepemilikan dan membangun kesadaran kolektif dalam menangani masalah gizi. 33 © Putri et.al. Tabel 1. Tabel Partisipasi Stakeholder di Program HUTARI Pihak PT Pertamina Patra Niaga IT Gorontalo Peran Utama Pemrakarsa Program Masyarakat (Balita, Ibu Balita, dan Ibu Hamil) Pemerintah Daerah Subjek Penanganan & Pelaku Utama Perguruan Tinggi Media Regulator & Fasilitator Kebijakan Litbang & Pendampingan Teknis Diseminator Informasi & Promotor Kontribusi Spesifik Merencanakan program HUTARI, memberikan bantuan berupa finansial dan memfasilitasi edukasi dan pelatihan Partisipasi aktif dalam pelaksanaan PMT dan pelaporan perkembangan anak Melakukan pendataan balita stunting dan pemetaan wilayah sasaran Melakukan pendampingan dan memberikan masukan berbasis data untuk pengembangan program lanjutan Mempublikasikan hasil kegiatan dan dampak program di media massa dan sosial untuk meningkatkan visibilitas, membangun citra positif dan sebagai media pembelajaran untuk masyarakat Sumber: Analisis Penulis, 2025 Program Program HUTARI telah memberikan hasil yang signifikan dalam membantu penanganan balita stunting. Hal ini dibuktikan dengan grafik perbaikan gizi balita yang diukur sebelum dan sesudah adanya intervensi. Berikut merupakan grafik penurunan angka stunting. Gambar 2. Grafik Penurunan Angka Stunting Dengan adanya intervensi yang dilakukan, PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Gorontalo berhasil menurunkan angka stunting di Kecamatan Hulonthalangi dari 3,7% pada tahun 2023 menjadi 2,1% pada tahun 2025. Data tersebut diperoleh melalui hasil pemantauan status gizi balita yang dilakukan secara berkala melalui monitoring langsung balita posyandu serta diverifikasi melalui survei lapangan dan data puskesmas. Hasil ini juga menunjukkan adanya variasi capaian antar kelurahan, yang mengindikasikan bahwa keberhasilan program sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi masyarakat, konsistensi pelaksanaan intervensi, serta dukungan infrastruktur layanan kesehatan di setiap wilayah. 34 © Putri et.al. Gambar 3. Sosialisasi Gizi Seimbang Sumber: Analisis Penulis, 2025 Program HUTARI tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan anak balita dan ibu hamil, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi dan kualitas lingkungan. Dampak ekonomi program diukur melalui survei pendapatan rumah tangga kelompok KAIL, yang menunjukkan peningkatan pendapatan sebesar 10%, dari Rp452.803 per bulan menjadi Rp498.083 per bulan. Peningkatan ini terjadi karena adanya kepastian pembelian abon ikan tuna sebagai salah satu menu PMT setiap bulan. Dari aspek lingkungan, penggunaan kemasan ramah lingkungan berbahan kertas daur ulang (kraft) pada produk abon ikan tuna terbukti menurunkan emisi karbon dibandingkan kemasan plastik konvensional, yaitu sebesar 0,97 kg CO₂eq per tahun, mengacu pada data faktor emisi dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change, 2006). Selain itu, pelaksanaan program HUTARI juga memainkan peran penting dalam membangun kohesi sosial di tengah masyarakat, mulai dari kader posyandu, ibu balita, tenaga kesehatan, hingga pemerintah. Pendekatan door to door dalam pemberian PMT serta edukasi gizi menciptakan interaksi sosial yang intens, mempererat hubungan antarwarga, dan menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya tumbuh kembang anak. Gambar 4. Pemberian PMT dan pengukuran balita Sumber: Analisis Penulis, 2025 Keberhasilan program tidak hanya diukur dari perencanaan yang sistematis, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi terhadap tantangan nyata di lapangan. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah aksesibilitas berupa perbukitan terjal dan kontur jalan yang tidak rata, sehingga menghambat mobilitas menuju fasilitas kesehatan. Menanggapi hal tersebut, program HUTARI tidak terpaku pada skema layanan terpusat, melainkan menginisiasi model 35 © Putri et.al. pemberian PMT secara door to door. Pendekatan ini tidak hanya memastikan penerima manfaat tetap mendapatkan intervensi gizi, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk menjangkau yang paling membutuhkan, tanpa terkendala jarak dan topografi. Tantangan lain yang dihadapi adalah rendahnya partisipasi sebagian orang tua karena rasa malu atau kekhawatiran sosial saat membawa anaknya ke posyandu. Menyadari hal ini, tim pelaksana HUTARI menerapkan pendekatan yang lebih personal melibatkan kader kesehatan dan tokoh masyarakat setempat agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan lebih baik dan tanpa rasa khawatir. Kesimpulan Program HUTARI yang dilaksanakan di Kecamatan Hulonthalangi berhasil menjawab persoalan utama terkait rendahnya status gizi anak dan terbatasnya kapasitas layanan kesehatan masyarakat. Melalui intervensi gizi, edukasi, pelatihan kader posyandu, serta optimalisasi sarana kesehatan, program ini menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat mampu meningkatkan kesadaran gizi, memperkuat kapasitas kader, dan mendukung kualitas layanan kesehatan. Keberhasilan program diukur melalui indikator perubahan perilaku gizi keluarga, peningkatan hasil pengukuran antropometri balita, serta tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan pelatihan dan pemantauan gizi. Di samping itu, program ini memberikan contoh praktik baik bagaimana kolaborasi multi-pihak antara perusahaan, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi yang berkelanjutan untuk perbaikan gizi dan kesehatan anak. Untuk menjaga keberlanjutan, program ini juga dirancang dengan sistem monitoring komunitas yang melibatkan kader lokal sebagai agen perubahan dan penggerak kegiatan pasca-program. Dengan demikian, Program HUTARI tidak hanya memberi dampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup anak-anak di Hulonthalangi, tetapi juga berpotensi menjadi model intervensi pemberdayaan masyarakat yang dapat di replikasi di wilayah lain dengan permasalahan serupa. Daftar Pustaka Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik kesejahteraan rakyat Provinsi Gorontalo 2023. Badan Pusat Statistik. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2006). 2006 IPCC guidelines for national greenhouse gas inventories: Volume 2 – Energy. IPCC. https://www.ipccnggip.iges.or.jp/public/2006gl/ Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Laporan status gizi Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Survei status gizi Indonesia (SSGI) 2022. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Putri, A., & Nugroho, A. (2022). Pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan stunting: Studi kasus di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 18(2), 123–134. https://doi.org/10.xxxx/jkm.v18i2.xxxx Supariasa, I. D. N., Bakri, B., & Fajar, I. (2016). Penilaian status gizi. EGC. United Nations Children’s Fund (UNICEF). (2020). Stunting: Early nutrition and its impact on child development. UNICEF Indonesia. World Health Organization. (2020a). Nutrition landscape information system (NLiS). World Health Organization. https://www.who.int/data/nutrition/nlis 36 © Putri et.al. World Health Organization. (2020b). Levels and trends in child malnutrition: Key findings of the 2020 edition. World Health Organization. 37