Volume 10 No. Page 8 Ae 18 e-ISSN: 2598-2095 DOI: https://doi. org/10. 35747/jcps https://journal. id/index. php/jcps/index AKajian Fisiko-kimia Daun Pandan Wangi (Pandanus ammaryllifolius Roxb. ) : Pengaruh Proses Pengeringan Terhadap Kadar Flavonoid Total Hendra Budiman1 Abstract Astrid Dwi Cahyaningsih1 Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb. ) is an herbal plant that contains bioactive compounds such as flavonoids with various pharmacological activities. This study aims to evaluate the effect of drying methods on the total flavonoid content in pandan leaves and determine the method that produces the highest flavonoid levels. Fresh leaves were dried using two methods: oven drying at 50AC for 36 hours and direct drying under sunlight for 6 days . hours per da. The dried samples were ground into powder, and 200 g of dry samples were extracted using the maceration method with 70% ethanol as the solvent. The flavonoid content was determined using a UV-Vis spectrophotometer at a maximum wavelength of 425 nm after incubation for 30 minutes. The loss on drying (LOD) in oven-dried and sun-dried samples was 1. 21% and 1. 14%, respectively, with extraction yields of 11. 10% and 11. The total flavonoid content was 2. 52 mg QE/g for oven drying and 2. 36 mg QE/g for sun drying. Normality and homogeneity tests . > 0. showed that the data were normally distributed and homogeneous. Independent t-test analysis showed no significant difference between the two methods . = 0. 428 > 0. although the oven method produced numerically higher flavonoid Anita Agustina Styawan1* Muchson Arrosyid1 1Fakultas kesehatan dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Klaten. Klaten. Jawa Tengah. Indonesia *email: anita@umkla. Kata kunci: Pandan Wangi Pengeringan Oven Sinar Matahari Langsung Spektrofotometri UV-Vis Received: Oktober 2025 Accepted: Maret 2026 Published: Maret 2026 A 2026. Published by Institute for Research and Innovation Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). LATAR BELAKANG Indonesia memiliki aktivitas farmakologi seperti antibakteri, hayati yang sangat melimpah dengan berbagai tanaman obat yang sejak lama digunakan masyarakat sebagai pengobatan tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit1. Salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan masyarakat dan memiliki potensi besar sebagai obat herbal adalah pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb. ), tidak hanya digunakan sebagai penyedap Aktivitas biologis tersebut dipengaruhi oleh berbagai senyawa kimia yang terkandung di saponin, tanin, minyak volatil, alkohol, aldehid aromatik, keton, dan ester3. Penelitian terdahulu mengidentifikasi 2acetyl-1-pyrroline . -AP) sebagai komponen utama daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb. ) yang memberikan aroma khas. dan pewangi makanan, tetapi juga diketahui Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. e-ISSN: 2598-2095 Flavonoid merupakan senyawa polifenol flavonoidnya, pemanfaatannya yang luas di yang terdapat pada tumbuhan dan makanan. Senyawa ini dikenal memiliki efek bioaktif, seperti antioksidan, anti-inflamasi, dan antivirus4. dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami Namun, kandungan flavonoid dalam tanaman berbasis bahan lokal. sangat dipengaruhi oleh perlakuan pasca panen. Terkait khususnya metode pengeringan. Pengeringan pengeringan merupakan salah satu tahapan yang tidak tepat dapat menurunkan kadar penting dalam pembuatan simplisia yang dapat senyawa aktif, bahkan merusak komponen yang memengaruhi stabilitas dan kadar senyawa Penelitian yang dilakukan oleh Nera kualitas simplisia5. Oleh karena itu, pemilihan Umilia menunjukkan bahwa metode pengeringan metode pengeringan yang sesuai menjadi hal penting untuk menjaga stabilitas dan senyawa simplisia daun pandan, di mana pengeringan flavonoid yang sensitif terhadap panas dalam proses pembuatan simplisia. antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan Tanaman metode lainnya6. Hasil tersebut menunjukkan penelitian karena selain luas dimanfaatkan berperan dalam mempertahankan senyawa aktif. sebagai bahan pangan dan obat tradisional. Sejalan Widayanti dkk. pada tanaman lain, seperti daun berbagai senyawa metabolit sekunder, termasuk jinten, juga membuktikan bahwa perbedaan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan flavonoid total yang bervariasi secara signifikan7. melaporkan bahwa ekstrak daun pandan wangi Namun demikian, data yang secara khusus (Pandanus Beberapa bahwa kontrol suhu dan waktu pengeringan (Pandanus Roxb. Elok mengevaluasi pengaruh metode pengeringan flavonoid dengan kadar total yang terukur dalam terhadap kadar flavonoid total pada daun pandan satuan mg QE/g berat kering serta menunjukkan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb. ) masih aktivitas antioksidan yang berkorelasi dengan terbatas dan belum banyak dilaporkan secara kandungan senyawa fenoliknya. Flavonoid yang Oleh karena itu, penelitian ini teridentifikasi umumnya termasuk golongan dilakukan untuk mengkaji pengaruh metode flavon dan flavonol, yang diketahui sensitif pengeringan terhadap kadar flavonoid total pada simplisia daun pandan wangi, sehingga dapat diperoleh metode pengeringan yang lebih optimal tersebar luas pada berbagai jenis tumbuhan, dalam mempertahankan kandungan senyawa pemilihan daun pandan wangi dalam penelitian aktif dan meningkatkan mutu simplisia. Roxb. Meskipun Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. e-ISSN: 2598-2095 Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini . , ayakan no. 40 mesh dilakukan untuk mengkaji pengaruh metode pengeringan oven pada suhu 50AC selama 36 jam dan pengeringan sinar matahari langsung selama waterbath . Bahan-bahan yang dipakai 6 hari (A6 jam/har. terhadap kadar flavonoid total daun pandan wangi. Protokol pengeringan amaryllifolius Roxb. ), aluminium klorida (AlCl. oven mengacu pada prinsip pembuatan simplisia 10%, aquabidestilata . , etanol absolut, p. dalam Farmakope Herbal Indonesia (FHI) dan dan 70% . , metanol . , kuersetin . igma-aldric. , dan natrium asetat 1 M . Jalannya Penelitian 40Ae60AC mencegah degradasi senyawa termolabil seperti . , . est siev. UV-Vis . , . , (Pandanus Determinasi Sampel Suhu 50AC dipilih untuk memastikan Daun pandan wangi Pandanus amaryllifolius proses penurunan kadar air berlangsung efektif Roxb. ) dipetik pukul 06. 30 pagi untuk tanpa menyebabkan degradasi senyawa aktif, menjaga kesegaran, mencegah kerusakan khususnya flavonoid yang bersifat termolabil. akibat panas matahari. Sampel yang diambil Pengeringan sinar matahari digunakan sebagai sebanyak 6-8 helai yang berasal dari bagian pekarangan rumah yang berlokasi di Dukuh Proses Padangan. Desa Glodogan. Kecamatan dilakukan hingga diperoleh simplisia kering Klaten dengan kadar air rendah sesuai standar mutu. Determinasi dilakukan di Laboratorium Mengingat daun pandan wangi mengandung Biologi Fakultas MIPA Universitas Ahmad senyawa bioaktif yang bermanfaat, optimalisasi Dahlan. Selatan. Kabaupaten Klaten. Preparasi Sampel memberikan nilai tambah yang signifikan dengan Daun amaryllifolius Roxb. ) segar sebanyak 4 kg mempertahankan kadar flavonoid lebih tinggi, dipilih dari bagian tengah tanaman, dicuci, sehingga mendukung pemanfaatannya sebagai dirajang A0,5 cm, lalu dikeringkan dengan sumber bahan alam dengan potensi aktivitas metode pengeringan oven suhu 50 AC selama 36 jam dan sinar matahari selama 6 (Pandanus hari (A6 jam/har. didasarkan pada prinsip METODE Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini mencangkup blender . , bejana maserasi, seperangkat alat gelas laboratorium . , oven pembuatan simplisia dalam Farmakope Herbal Indonesia (FHI) serta metode yang termolabil dan pencapaian kadar air sesuai Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. e-ISSN: 2598-2095 standar mutu. Simplisia kering disortasi, selesai, campuran disaring dengan kertas dihaluskan, diayak dengan ayakan no. saring untuk memisahkan filtrat dari Filtrat yang didapat, juga disebut menggunakan waterbath pada suhu 78 AC Penetapan Susut Pengeringan Susut pengeringan dilakukan terhadap hingga diperoleh ekstrak kental. Metode ini diambil dari peneliti sebelumnya. Hasil menggunakan metode oven dan sinar ekstrak dihitung dengan menggunakan matahari langsung. Masing-masing serbuk sebanyak 2 g ditimbang ke dalam botol timbang yang telah ditara . erat awa. , dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Serbuk dirata hingga memiliki ketebalan ycaycuycaycuyc ycycuycycayco yceycoycycycycayco %Rendemen ekstrak= ycaycuycaycuyc ycyceycycaycyco ycycnycoycyycoycnycycnyca ycu 100% Uji Kuantitatif Flavonoid Pembuatan Larutan Induk Kuersetin antara 5 sampai 10 mm, lalu dikeringkan Larutan standar kuersetin disiapkan pada suhu 105AC selama 15 menit sampai mendapatkan berat yang diinginkan7. Botol Masukkan 10 mg kuersetin ke dalam labu ukur 25 mL lalu ditambahkan sebelum dan sesudah proses pengeringan. etanol p. a mencapai garis ukur9. Nilai susut pengeringan diperoleh dari Pembuatan Larutan AlCl3 10% . selisih antara bobot awal dan akhir. Sebanyak 10 gram AlCl3 diukur dengan Persentase susut pengeringan dihitung hati-hati, lalu dimasukkan ke dalam menggunakan rumus: Susut Pengeringan = berat awalOeberat akhir y 100% berat awal Ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb. ) kering oven dan sinar menggunakan metode maserasi6. Dalam proses ekstraksi, 200 gram masing-masing sampel dimasukkan ke daalam botol maserasi, lalu ditambahkan etanol 70% dengan rasio sampel dan pelarut 1:10. Campuran digojok selama A10 menit dan didiamkan selama 3 y 24 jam dengan tujuan Tambahkan mencapai garis batas dan aduk hingga Persiapan Ekstrak merata dengan mengocoknya9. Pembuatan Larutan Natrium Asetat 1 Timbang dengan teliti 8,2 gram natrium asetat ditimbang dengan seksama, lalu masukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Selanjutnya ditambahkan aquabidestilata hingga tanda batas dan kocok hingga Penentuan Panjang Gelombang Maksimum bioaktif yang optimal. Setelah maserasi Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. e-ISSN: 2598-2095 Sebanyak 1250 AAL larutan kuersetin volume dengan cara mencampurnya. Kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 10 mL spektrofotometer UV-Vis, pada panjang untuk menghasilkan konsentrasi 50 gelombang maksimal selama 30 menit9. Tambahkan etanol p. a hingga Penyiapan Kurva Baku Kuersetin mencapai garis batas dan campurkan Larutan kuersetin dengan konsentrasi Selanjutnya, 400 ppm disiapkan sebagai larutan sebanyak 0,5 mL larutan kuersetin utama, kemudian diencerkan menjadi 6 konsentrasi 50 ppm masukkan ke dalam variasi kosentrasi berbeda 10, 20, 30, 40, labu ukur berkapasitas 5 mL, lalu 50, dan 60 ppm, yang masing-masing ditambahkan 0,1 mL aluminium klorida dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL, (AlCl. 10%, 1,5 mL etanol, 1 mL natrium asetat 1M, serta aquabidestilata hingga mencapai batas volume dengan dihomogenkan dengan cara dikocok. cara mencampurnya. Proses inkubasi Selanjutnya, sebanyak 0,5 mL larutan dilakukan pada suhu ruangan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, cara dikocok9. menggunakan spektrofotometer UV-Vis ditambahkan 0,1 mL aluminium klorida pada rentang panjang gelombang 400- (AlCl. 10%, 1,5 mL etanol, 1 mL 600 nm. natrium asetat 1M, dan aquabidestilata hingga mencapai batas volume dengan Penentuan Operating Time Sebanyak 1250 AAL larutan kuersetin diinkubasi dalam rentang waktu yang dipindahkan ke dalam labu ukur 10 mL ditentukan pada suhu ruangan, lalu agar dapat diperoleh konsentrasi 50 diukur absorbansinya pada panjang Tambahkan etanol p. a hingga mencapai garis batas dan campurkan Selanjutnya. Larutan Penentuan Kadar Sampel sebanyak 0,5 mL larutan kuersetin Masing-masing konsentrasi 50 ppm dimasukkan ke kurang lebih 0,1 gram dengan teliti dan dalam labu ukur berukuran 5 mL, kemudian ditambahkan 1,5 mL etanol, 1 . eplikasi 3 kal. Sampel kemudian mL natrium asetat 1M, 0,1 mL diekstraksi menggunakan 10 mL etanol aluminium klorida (AlCl. 10%, dan absolut, divortex selama beberapa saat aquabidestilata hingga mencapai batas sebanyak tiga kali, lalu disonikasi Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. e-ISSN: 2598-2095 selama 15 menit. Setelah itu, dilakukan flavonoid dalam sampel. pada kecepatan 000 rpm selama 5 menit dan filtrat Data yang diperoleh dianalisis secara yang diperoleh diambil sebanyak 2 mL. statistik dengan menghitung nilai rata-rata (A) Filtrat selanjutnya dikeringkan di dalam dan standar deviasi (ASD). Selanjutnya, dilakukan uji normalitas menggunakan Uji menghasilkan ekstrak kering. Ekstrak Shapiro-Wilk untuk mengetahui apakah data kering selanjutnya dilarutkan kembali . >0,. Jika menggunakan 4 mL metanol hingga Untuk analisis flavonoid dengan uji Independent T-Test menggunakan total. Larutan blanko disiapkan dengan SPSS untuk membandingkan rata-rata kadar menggabungkan 1 mL larutan sampel flavonoid antara kedua metode pengeringan dan 4 mL aquabidestilata. Sementara itu, dan menentukan ada tidaknya perbedaan yang signifikan secara statistik. mencampurkan 1 mL larutan sampel dan 1 mL larutan AlCl3 10% dan 3 mL selama 15 menit. Absorbansinya diukur HASIL DAN PEMBAHASAN Determinasi Daun Pandan Wangi Determinasi dilakukan untuk mengetahui digunakan sebagai sampel. Proses determinasi menggunakan spektrofotometer UV- Vis9. Fakultas MIPA. Universitas Ahmad Dahlan. Laboratorium Biologi, dan didokumentasikan dengan nomor surat Analisis Data hasil determinasi (No: 518/Lab. Bio/XI/2. Data yang digunakan dalam studi ini Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sampel merupakan hasil pengukuran kadar flavonoid yang digunakan adalah daun pandan wangi pada sampel yang diberi dua jenis perlakuan (Pandanus yang berbeda yaitu metode pengeringan oven validitas bahan penelitian dapat dikonfirmasi dan pengeringan sinar matahari langsung. secara akurat. Penetapan kadar flavonoid dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UVVis Konsentrasi flavonoid ditentukan berdasarkan kurva baku yang menunjukkan hubungan antara konsentrasi . dan nilai absorbansi, kemudian dikonversi menjadi persamaan Roxb. Preparasi Sampel Hasil persentase ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Pengeringan Daun Pandan Wangi Segar Proses Pengeringan Bobot . Oven Sinar Matahari Hasil Pengeringan . Penyusutan (%) 90,00 89,15 Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. e-ISSN: 2598-2095 Data pengeringan daun pandan segar menjadi simplisia kering pada penelitian ini Uji Susut Pengeringan Serbuk Simplisia Daun Pandan Wangi dilakukan satu kali untuk masing-masing Daun pandan wangi selanjutnya diuji susut metode, sehingga data yang disajikan pengeringan bertujuan untuk mengetahui jumlah kadar air yang hilang selama proses pengeringan. ditambahkan pada bagian metode dan Nilai penyusutan pengeringan mencerminkan kadar air yang masih diperbolehkan dalam bahan Keterangan baku obat yang berhubungan dengan kemurnian dan potensi kontaminasi11. Hasil persentase susut pengeringan pada metode oven dan sinar matahari langsung sudah memenuhi persyaratan yang baik yaitu O 10. Hasil persentase kadar (%) susut pengeringan ditunjukkan pada Tabel 2. (A) (B) Tabel 2. Hasil Susut Pengeringan Serbuk Simplisia Gambar 1. Perbandingan warna simplisia daun pandan wangi hasil pengeringan (A) oven dan (B) sinar matahari langsung Karakteristik Kadar (%) Pengeringan makroskopis simplisia daun pandan wangi i 1,35 1,23 1,03 1,01 1,25 1,18 Rerata (%) 1,21 1,14 pengeringan menunjukkan perbedaan yang Hasil susut pengeringan pada kedua Simplisia hasil pengeringan oven pada metode masih memenuhi persyaratan kadar gambar (A) memiliki warna hijau lebih tua air simplisia yang baik. Hal ini sejalan dengan sedikit kecoklatan, aroma pandan berkurang, kering merata, dan tekstur mudah hancur. bahwa metode pengeringan dengan oven Sementara itu, pengeringan sinar matahari maupun sinar matahari dapat memberikan langsung (B) memiliki warna hijau cerah hasil susut yang tidak berbeda signifikan sedikit pucat, bau khas pandan wangi, tidak kering merata, dan teksturnya kaku namun Perbedaan nilai susut yang diperoleh tidak rapuh. Perbedaan tersebut disebabkan dapat dipengaruhi oleh ketebalan bahan, oleh adanya suhu, lama pengeringan, serta intensitas proses degradasi klorofil dari Penelitian menjelaskan bahwa, perubahan warna pigmen menunjukkan terjadinya degradasi akibat Oven Sinar Matahari paparan panas selama proses berlangsung. Hasil Ekstraksi Metode ekstraksi terpapar pada cahaya dengan intergitas tinggi Pemilihan metode maserasi karena dalam waktu yang cukup lama10. caranya yang sederhana dan mudah dilakukan. Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. e-ISSN: 2598-2095 serta cocok untuk elemen flavonoid yang tidak dengan AlCl315. Pembentukan zat kompleks tahan panas tinggi13. Pelarut yang digunakan pada kuersetin dan AlCl3 dapat dilihat pada Gambar 2. proses maserasi yaitu etanol 70% karena bersifat polar sehingga mampu mengekstraksi senyawa aktif flavonoid pada serbuk simplisia. Berdasarkan penelitian sebelumnya, etanol 70% menghasilkan rendemen dan kandungan flavonoid tertinggi dibandingkan etanol 96. Hasil rendemen ekstrak Gambar 2. Pembentukan Senyawa AlCl3 dan Kuersetin Kandungan flavonoid diukur dengan metode dapat ditunjukkan dalam Tabel 3. Tabel 3. Hasil Ekstraksi Daun Pandan Wangi Proses Pengeringan Bobot Hasil Oven Sinar Matahari 22,20 22,30 Rendemen (%) 11,10 11,15 spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 425 nm. Absorbansi diukur setelah waktu inkubasi . perating tim. selama 30 menit, yaitu waktu yang diperlukan untuk mencapai stabilitas pembentukan kompleks antara flavonoid dan pereaksi. Kurva baku standar dihasilkan dari Penetapan Kadar Flavonoid larutan yang memiliki konsentrasi 20 ppm, 30 ppm. Sebagai tahap awal analisis, ekstrak daun 40 ppm, 50 ppm, dan 60 ppm pada panjang pandan wangi dilakukan skrining fitokimia secara gelombang maksimum. Nilai absorbansi kuersetin ditunjukkan dalam Tabel 4. senyawa flavonoid sebelum dilakukan penetapan Pengujian dilakukan menggunakan pereaksi AlClCE yang akan membentuk kompleks berwarna kuning apabila sampel positif mengandung Hasil pengujian menunjukkan bahwa Tabel 4. Absorbansi Larutan Baku Kuersetin Studi ini menggunakan kuersetin sebagai standar acuan karena merupakan salah satu senyawa golongan flavonol yang memiliki gugus keton pada atom C-4 serta gugus hidroksil pada atom C-3 dan C-5, yang berperan dalam pembentukan kompleks dengan pereaksi dan Kuersetin sebagai salah satu senyawa flavonoid dari kelompok flavonol yang memiliki kelompok Absorbansi 0,3053 0,4236 0,5950 0,7516 0,8471 Setelah nilai absorbansi kuersetin didapatkan, kedua ekstrak dari metode pengeringan oven dan sinar matahari positif mengandung flavonoid. Konsentrasi . persamaan tersebut dihitung dengan menggunakan Microsoft Excel dan menghasilkan persamaan y = 0,0141x 0,0199 serta RA = 0,9922. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan linier yang kuat karena nilai R hampir mencapai 1. Oleh karena itu, persamaan ini bisa digunakan untuk Penentuan menghasilkan data yang ditampilkan pada Gambar tersebut, sehingga mampu membentuk kompleks Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. e-ISSN: 2598-2095 kerusakan flavonoid karena prosesnya lebih stabil dan terlindungi dari sinar ultraviolet. Di sisi lain, pengeringan dengan sinar matahari langsung dapat mengurangi kandungan flavonoid akibat paparan panas, cahaya, dan oksidasi yang tidak terkontrol. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa metode Gambar 3. Persamaan Regresi Kuersetin efektif untuk mendapatkan kandungan flavonoid Kandungan flavonoid total diukur dengan cara yang optimal. Hasil penelitian ini konsisten dengan mengolah sampel menggunakan AlCl3, yang penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa menghasilkan kompleks berwarna kuning, lalu variasi metode pengeringan, yakni oven suhu 50AC distabilkan dengan natrium asetat. Intensitas warna diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 425 nm dan dinilai berdasarkan kurva standar kuersetin16. dan sinar matahari langsung, mempengaruhi kadar flavonoid total ekstrak daun jinten, di mana metode pengeringan oven menghasilkan kadar flavonoid yang lebih tinggi dibandingkan metode sinar Kandungan flavonoid total dan fenolik dalam produk herbal sangat berperan dalam menentukan matahari langsung7. Uji Normalitas kadar flavonoid dilakukan menggunakan Shapiro-Wilk untuk menentukan tergantung pada lokasi pertumbuhan, waktu panen, apakah data mengikuti distribusi normal. Hasil dan kondisi lingkungan lainnya17. Daun pandan analisis data menunjukkan bahwa kadar flavonoid sendiri diketahui memiliki kandungan flavonoid6 pada daun pandan wangi kering oven memiliki nilai yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan, sehingga kestabilan senyawa ini penting untuk flavonoid pada daun pandan wangi kering sinar dijaga melalui metode pengeringan yang tepat. matahari langsung memiliki nilai signifikansi 0,856. Dalam ekstrak etanol 70% daun pandan wangi (Pandanus Roxb. penghitungan absorbansi sampel terhadap 3 replikasi, sehingga diperoleh kadar flavonoid metode pengeringan oven 2,52 mg quercetin equivalent (QE)/g dan kadar pengeringan sinar matahari langsung 2,36 mg QE/g. Dari kedua sampel yang diteliti, kandungan flavonoid pada daun pandan yang dikeringkan menggunakan oven menunjukkan angka yang lebih tinggi. Ini sejalan dengan konsep bahwa pengeringan oven pada suhu rendah, sekitar 50AC, mampu mencegah pengeringan dengan oven adalah cara yang paling 0,612. Karena kedua nilai tersebut lebih besar dari 0,05, maka data tersebut dapat dianggap terdistribusi secara normal. Oleh karena itu, dilakukan uji T-Test Independen untuk membandingkan kadar flavonoid antara daun pandan oven dan sinar matahari Hasilnya menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,428, yang berada di atas ambang batas 0,05. Hal ini menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan secara statistik pada kadar flavonoid antara daun pandan wangi kering oven dan kering sinar matahari langsung. Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 10 No. Keterbatasan e-ISSN: 2598-2095 dilakukannya analisis kadar air . oss on dryin. , sehingga parameter mutu simplisia terkait kadar air tidak dapat dievaluasi secara kuantitatif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengujian flavonoid yang dilakukan pada daun pandan wangi dengan metode pengeringan yang berbeda, rata-rata kandungan total pengeringan oven sebesar 2,52 mg QE/g ekstrak, sedangkan yang terendah diperoleh dari pengeringan di bawah sinar matahari langsung sebesar 2,26 mg QE/g ekstrak. Metode pengeringan oven cenderung lebih optimal dalam mempertahankan kadar flavonoid, meskipun hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antar metode. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode pengeringan memberikan pengaruh terhadap kadar flavonoid yang diperoleh, tetapi perbedaan antarperlakuan tidak signifikan secara statistik berdasarkan hasil uji yang dilakukan . > 0,. DAFTAR PUSTAKA