Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Article History: Submitted : 28/06/2025 Reviewed : 12/08/2025 Accepted : 15/09/2025 Published : 31/10/2025 PENDEKATAN TEOLOGI AGAMA-AGAMA TERHADAP RITUAL PONGONSONG BIHING DI SUKU SALUAN KRISTEN Purnama PasandeA*. Jhon Efrendi BungalanA. Elsye Evasolina TulakaA. Joddiar SeptyantoA. Desry Narliany LinggamoAA Sekolah Tinggi Teologi STARAoS LUB Luwuk Banggai1-5 *)Email Correspondence: purnama. pasande@gmail. Abstract: This article discusses the Pongonsong Bihing custom, a cultural practice of the Saluan tribe in Central Sulawesi performed in the context of death and the mourning period. This tradition arises from the belief that the spirit of the deceased can disrupt festivities if not honored through specific rites. Within the Christian Saluan community, this practice creates tension between ancestral traditions and Christian theological teachings regarding the state of the soul after death. Using a qualitative approach and a literature review, this article analyzes the Pongonsong Bihing custom based on a theological approach to religions. The study shows that although the aspect of belief in spirits conflicts with Christian doctrine, the social values such as respect, solidarity, and empathy within this custom can be accommodated ethicotheologically. This article also emphasizes that an inclusive approach to local culture can strengthen inter-religious harmony in Indonesia's multicultural society. Keywords: Christian Ethics. Religious Moderation. Pongonsong Bihing. Saluan Tribe. Theology of Religions Abstraksi: Artikel ini membahas adat Pongonsong Bihing, sebuah praktik budaya dari suku Saluan di Sulawesi Tengah yang dilakukan dalam konteks kematian dan masa berkabung. Tradisi ini muncul dari keyakinan bahwa arwah orang yang meninggal dapat mengganggu jalannya pesta jika tidak dihormati melalui ritus tertentu. Dalam masyarakat Kristen Saluan, praktik ini menimbulkan ketegangan antara tradisi leluhur dan ajaran teologi Kristen mengenai keadaan jiwa setelah kematian. Artikel ini menganalisis adat ritual Pongonsong Bihing menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tinjauan kepustakaan dan studi kasus. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun aspek kepercayaan terhadap arwah bertentangan dengan doktrin Kristen, nilai-nilai sosial seperti penghormatan, solidaritas, dan empati dalam adat ini dapat diakomodasi secara etis-teologis. Artikel ini juga menekankan bahwa pendekatan inklusif terhadap budaya lokal dapat memperkuat harmoni antarumat beragama dalam masyarakat multikultural di Indonesia. Kata kunci: Etika Kristen. Moderasi Beragama. Pongonsong Bihing. Suku Saluan. Teologi Agama- Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 188 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Suku Saluan adalah salah satu suku yang berada di Kabupaten Banggai. Sulawesi Tengah yang berasal dari Pedalaman Pagimana, yang menyebar ke berbagai daerah di Kabupaten Banggai. Gambar 1. Peta Administrasi Kabupaten Banggai, sumber: BPK Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah . ttps://sulteng. id/peta-administrasikabupaten-banggai/) Data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Banggai menjelaskan bahwa pada tahun 2014, pemeluk agama Kristen sebanyak 46. 705 jiwa, pemeluk agama Islam sebanyak 261. 501 jiwa, pemeluk agama Katolik sebanyak 6. jiwa, pemeluk agama Hindu sebanyak 567 jiwa, dan pemeluk agama Buddha sebanyak 396 jiwa. Dari data tersebut, pemeluk agama Kristen berasal kecamatan-kecamatan mayoritas masyarakatnya adalah Suku Saluan. 2 Suku Saluan sendiri pada mulanya berada di bantaran aliran sungai Lobu, yang kemudian menyebar ke bagian Sungai Bunta. Sebagaimana yang diketahui sekarang bahwa hulu Sungai Lobu ada di pemukiman masyarakat Baloa. 3 Hal tersebut dikonfirmasi dari pernyataan Kruyt yang menjelaskan bahwa selain ke aliran sungai Bunta, sebagian Suku Saluan juga menyebar ke bagian Selatan sungai yang secara spesifik disebutkan ke bagian Batui, 1 A. Kruyt. DE TO LOINANG VAN DEN OOSTARM VAN CELEBES, 1930. 2 Badan Pusat Statistik Kabupaten Banggai, https://banggaikab. id/id/statisticstable/2/ODEjMg==/pemeluk-agama-menurutkecamatan-. 3 Kruyt. DE TO LOINANG VAN DEN OOSTARM VAN CELEBES. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 dengan pusatnya di Honbola. 4 Selain itu. Langkumo juga menjelaskan bahwa masyarakat Desa Simpang II awalnya dari Baloa (Pedalaman Pagiman. yang berpindah tempat tinggal ke dataran Bunta karena adanya agresi militer oleh Belanda pada tahun 1928. Banyak budaya-budaya sering dilakukan dalam suku Saluan. Dimulai dari adat saat kelahiran seorang anak . , adat saat seseorang mulai bertumbuh dewasa . , adat pernikahan . , dan adat sebelumnya penulis telah membahas salah satunya yaitu mohatu. 6 Budayabudaya ini melekat kuat pada suku-suku yang bahkan sudah beragama Kristen. Sebagaimana yang dijelaskan Zaluchu. AuIn every target area of evangelism. Christianity always interest with a local culture that has been deeply rooted over Ay7 Pada bagian ini. Zaluchu menjelaskan bahwa agama Kristen selalu bertemu dan berhubungan dengan budaya yang berakar kuat pada diri setiap anggota suku. Selain adat-adat Saluan di atas. Pongonsong Bihing pembahasan dalam penelitian ini. Pongonsong Bihing diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai penutup telinga. Adat Pongonsong Bihing adalah salah satu dari beberapa adat-adat yang berkaitan dengan kematian dalam budaya suku Saluan. Secara singkat, adat ini 4 Kruyt. DE TO LOINANG VAN DEN OOSTARM VAN CELEBES. 5 Jemiarto Langkumo. AuTinjauan Teologis Terhadap Paham AoTominuatAo Roh Orang Mati Di GKLB Jemaat Eklesia Simpang IIAy (Sekolah Tinggi Teologi STARAoS LUB, 2. 6 Jhon Efrendi Bungalan et al. AuKAJIAN TERHADAP TRADISI MOHATU SUKU SALUAN DI DESA SIMPANG II DARI PERSPEKTIF TEOLOGI KRISTEN,Ay VISIO DEI: Jurnal Teologi Kristen 4, no. : 232Ae50. 7 Sonny E. Zaluchu. AuLowalangi: From the Name of an Ethnic Religious Figure to the Name of God,Ay HTS Teologiese Studies/Theological Studies 77, no. : 1Ae6, https://doi. org/https://doi. org/10. 4102/hts. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 189 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf masyarakat tertentu sedang berduka dengan meninggalnya salah satu kerabat atau keluarga seseorang, dan masyarakat lain mengadakan pesta secara bersamaan bahkan sampai waktu yang ditentukan dalam perhitungan yang telah ditetapkan setelah peristiwa kematian tersebut. Awal mula adat ini dilakukan karena kepercayaan pada arwah seseorang yang telah meninggal tersebut akan merasuki salah satu keluarganya dan membuat kekacauan pada pesta yang berlangsung bersamaan dengan peristiwa duka Hal ini karena dipercaya bahwa arwah orang tersebut merasa tidak Sehubungan dengan hal ini. Bernad Lasopo menjelaskan bahwa: Mokonyo o bauakon na pongonsong bihing, da kijo malaAoikat nu mian anu silaka mbaAomo totobo na mohongo kalameaAoan nu pesta. De nu hongo na iya mati soku o ahi hi utusnyo ka motoAoidek i pesta. Ka sabenanyo de maisa pupus na ton-nyo na maisa ahi ko totobo na mombau kalameAoan. (Alasan adat pongonsong bihing harus dilaksanakan adalah supaya arwah seseorang orang yang meninggal tidak merasuki salah satu keluarganya dan mengacaukan pesta yang yang Karena . erhitungan orang-orang Saluan kun. belum selesai, belum bisa mengadakan pest. Melihat bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab. Bagaimana tidak, jika Alkitab mengajarkan bahwa setelah mengalami kematian, jiwa . manusia kembali kepada Tuhan, dan tubuh jasmaninya mengalami pembusukan alami. 9 Selain itu. Langkumo menjelaskan dalam tulisannya bahwa jiwa seseorang yang telah meninggal tidak bisa berhubungan 8 (Wawancara: Bernad Lasopo, 2. Millard J. Erickson. TEOLOGI KRISTEN (Gandum Mas, 2. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 lagi dengan manusia yang masih hidup. Namun, bagian penting yang juga tidak bisa disepelekan dari tujuan adat ini adalah untuk menghargai pihak yang berduka dengan penekanan supaya mereka tidak berkecil hati dengan kegiatan pesta yang berindikasi pada sikap yang tidak turut dalam duka. Bagian ini senada dengan wawancara yang dilakukan penulis bersama narasumber: AuMokonyoAo tetap ahi mamba mombau pongonsong bihing ka da aha anu salaAoje sinilaka na utus nu aha boli mae aha ise-ise hi kita anu kalameAoan. Ay Pongonsong bihing dimaksudkan sebagai sikap permisi kepada keluarga yang berduka untuk mengadakan pesta perkawinan, dan acara yang lain. Fakta keberagaman yang tidak terelakkan pada konteks Indonesia memberikan tantangan tersendiri bagi umat Kristen di konteks yang beragam. Dalam bingkai etis, adat Pongonsong Bihing menyodorkan kemungkinan kerukunan dalam konteks masyarakat Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa adat ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman dari kedua pihak, yaitu pihak yang berduka dan yang akan menyelenggarakan pesta. Meski demikian, di banyak tempat sudah tidak ada perhatian terhadap adat positif Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan persepsi antara substansi awal adat Pongonsong Bihing dan konsep kekristenan tentang jiwa orang mati. Keterangan dari salah satu informan, menjelaskan bahwa dalam perspektif budaya Pongonsong Bihing, arwah atau jiwa orang mati bisa masuk ke raga manusia yang masih hidup . erhubungan dengan manusi. sedangkan dalam kekristenan tidak demikian. 10 Langkumo. AuTinjauan Teologis Terhadap Paham AoTominuatAo Roh Orang Mati Di GKLB Jemaat Eklesia Simpang II. 11 (Wawancara: Yorid Djait, 2. 12 Dwi Andrianta. Stimson Hutagalung, and Rolyana Ferinia. AuKONTEKSTUALISASI IBADAH PENGHIBURAN PADA TRADISI SLAMETAN ORANG Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 190 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Jika demikian, penting untuk menelisik bagaimana konsep teologi Kristen tentang jiwa seseorang setelah mengalami kematian. Hal ini dapat menentukan sikap terhadap budaya adat pongonsong bihing. Selain itu, menjadi penting memperhatikan bagaimana implikasi adat Pongonsong Bihing terhadapat kerukunan antar umat METODE Dalam kajian ini, penulis menggunakan Metode Kualitatif dengan pendekatan tinjauan kepustakaan dan studi kasus. Dalam bukunya. Sugiono menyatakan bahwa Metode Kualitatif disebut sebagai metode etnografi karena penggunaan metode ini lebih cenderung untuk meneliti bidang antropologi 13 Karena itu. Metode Kualitatif dipilih penulis untuk mengkaji fenomena sosial yang terjadi di kalangan suku Saluan yang beragama Kristen. Dalam kajian ini, penulis juga menggunakan Sebagaimana yang dijelaskan oleh Creswell bahwa AuTinjauan kepustakaan berarti proses menemukan informasi . dari rangkuman, buku, jurnal, kebutuhan dalam proses penelitianAy. Dengan pendekatan tinjauan pustaka ini, penulis akan mengumpulkan berbagai sumber . uku dan artike. yang implisit dengan fakta-fakta historikal sebagai sumber utama bagaimana budaya dalam pandangan Etika Kristen. Dengan pendekatan studi kasus, menjadikan ritual Pongonsong Bihing sebagai objek utama yang diteliti secara mendalam, konteks kehidupan masyarakat Suku Saluan. Pengambilan data dalam MENINGGAL DALAM BUDAYA JAWA,Ay VISIO DEI: Jurnal Teologi Kristen 2, no. : 244Ae64. Sugiyono. METODE PENELITIAN: Kuantitatif. Kualitatif Dan R&D (Bandung: Alfabeta. John Creswell. Riset Pendidikan: Perencanaan. Pelaksaan. Dan Evaluasi Riset Kulatatif Dan Kuantitatif, 5th ed. (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 penelitian ini melalui wawancara dengan responden yang dipilih dari orang-orang Suku Saluan beragam Kristen yang menjalankan atau terlibat langsung dalam pelaksanaan ritual Pongonsong Bihing. HASIL Penelitian bagaimana budaya menjadi jembatan perdamaian dalam keberagaman. Dalam hal ini, salah satu pilar penting dalam diskursus Teologi Agama-Agama yaitu sifat Inklusif tercermin dalam ritual Pongonsong Bihing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual Pongonsong Bihing memberikan sumbangsih moril untuk tercapainya suatu kehidupan beragama di tengah keberagaman. Dari sisi teologis, ritual Pongonsong Bihing harus dikontekstualisasi sehingga selaras dengan kekristenan, sedangkan dari sisi etis tidak terdapat masalah yang PEMBAHASAN Hakikat Pongonsong Bihing Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian pendahuluan tulisan ini bahwa pongonsong bihing diartikan sebagai penutup telinga. Secara harfiah, pongonsong bihing berarti sebuah upaya dari keluarga yang melangsungkan pesta, supaya keluarga yang berduka seolah-olah tidak mendengar keramaian yang diakibatkan oleh pesta tersebut. Dengan harapan bisa menghindari kesalahpahaman dari kedua belah pihak. Biasanya, dalam pelaksanaan adat ini, diperlukan seorang yang dituakan dalam pernikahan untuk bertemu dengan pihak keluarga yang berduka. Dari hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan narasumber, dijelaskan bahwa Aunaipuan mokonyo obauakon na pongonsong bihing, maka monginau kijo malaAoikat nu mian anu sinilaka jumo matisokuAo hi mian ka mamba motoidek i kalameAoan. MalaAoikat montoa mian anu lameAo jo ia salaAoje Panyo sabenanyo ko tujuan Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 191 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf sagaAoat, da toutus-utus nu mian anu salaje sinilaka mba talasinggung. Sagaat na lame sagaat na humang. (Alasan pongonsong bihing adalah karena pengalaman bahwa arwah orang mati pernah merasuki keluarganya dan mengacaukan pesta yang dilaksanakan pada masa berkabung. Diyakini bahwa arwah tersebut tidak senang dengan pesta yang dianggap tidak menghargai masa-masa Ay15 Pada Pongonsong Bihing adalah untuk menghindari terjadinya kerasukan pada keluarga yang berduka dan akan mengacaukan pesta yang dilaksanakan. Dipercaya arwah orang yang telah meninggal tersebut merasa tidak senang dengan pesta yang diadakan di saat dia meninggal. Jadi, arwah tersebut harus di-onsong . Belakangan ini, adat ini dimaksudkan juga untuk menghindari ketersinggungan keluarga yang berduka. Ritual Pongonsong Bihing dalam Pendekatan Teologi Agama-agama Teologi agama-agama . heology of religion. merupakan cabang dari teologi yang berusaha memahami hubungan antara iman Kristen dan agama-agama Bidang ini menjawab pertanyaan teologis mendalam tentang keselamatan, pengalaman spiritual, pewahyuan, dan kebenaran dalam konteks pluralisme Teologi agama-agama mempelajari bagaimana kekristenan memandang keberadaan dan nilai agama-agama lain dalam pewahyuan Allah di dalam Yesus Kristus. Tujuannya bukan hanya membandingkan doktrin, melainkan juga mendalam tentang bagaimana Allah bekerja di dalam dan melalui berbagai tradisi keagamaan. 16 Fokus utama 15 (Wawancara: Bernad Lasopo, 2. 16 Harold A. Netland. Encountering Religious Pluralism: The Challenge to Christian Faith & Mission (InterVarsity Press, 2. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Teologi agama-agama adalah bagaimana keselamatan dan kebenaran dipahami dalam konteks pluralisme agama, serta bagaimana umat Kristen seharusnya merespons keberadaan agama-agama lain secara teologis. Dalam studi ini teologi agama-agama, terdapat tiga inklusivisme, dan pluralisme. Pandangan eksklusif menyatakan bahwa keselamatan hanya ditemukan di dalam Yesus Kristus, dan bahwa agama keselamatan yang sejati. Pandangan ini secara tegas menolak bahwa wahyu atau kebenaran tidak ada dalam agama lain Kekristenan. Sebagaimana pendapat Karl Barth bahwa keselamatan bersifat unik dan final dalam Kristus. Inklusivitas adalah jalan untuk mencapai pengintegrasian kehidupan bersama Sebagaimana yang dinyatakan Rezeki, , bahwa melalui pandangan yang inklusif membuat setiap orang bisa menerima keberagaman dan saling 18 Sedangkan pandangan pluralisme agama memahami bahwa tidak ada satu agama pun yang memiliki kebenaran mutlak. Keselamatan dan kebenaran dapat ditemukan dalam Pandangan mendorong dialog antaragama yang setara dan menganggap semua agama sebagai jalan yang sah menuju Tuhan. Misalnya John Hick menjelaskan bahwa agama secara keseluruhan adalah respon otentik terhadap posisi Tuhan yang tidak dapat diselami . Dalam konteks Indonesia yang majemuk, teologi agama-agama menjadi 17 Hendrik Kraemer. No Title (Grand Rapids: Kregel, 2. , 50. 18 Rezeki Putra Gulo. Nelci Mbelanggedo, and Seprianus Padakari. AuMembentuk Identitas Kristen Yang Toleran: Pendidikan Moderasi Beragama Sebagai Pilar Kebhinekaan,Ay Jurnal Teologi Amreta 8, . https://doi. org/https://doi. org/10. 54345/jta. Karl Barth. Church Dogmatics I/2 (Edinburgh: T&T Clark, 1. , 280. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 192 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf sangat penting sebagai landasan untuk membangun dialog antar iman yang sehat dan damai, tanpa kehilangan identitas iman masing-masing. 20 Dalam pandangan Knitter, menjelaskan bahwa perlu adanya kriteria etis untuk menjembatani perbedaan. Selain itu. Knitter juga mengutip pandangan dari Francis Scussler Fiorenza tentang Ausolidaritas dengan yang menderita. Ay21. Dengan demikian, budaya atau adat Pongonsong Bihing menjadi hal yang sinkron dengan bidang ilmu Teologi Agama-agama. Adat Pongonsong Bihing merupakan budaya yang juga bagian dari manifestasi kepedulian antar sesama. Bagian ini selaras dengan prinsip praktik di mana semua individu berbaur secara kolektif tanpa memandang latar belakang budaya dan agama. Pongonsong Bihing dalam Perspektif Etika Kristen Etika Kristen adalah cabang dari teologi praktis yang membahas prinsipprinsip moral dan tindakan manusia berdasarkan ajaran dan teladan Yesus Kristus seperti yang tertuang dalam Alkitab. Etika Kristen tidak hanya menilai perbuatan baik dan buruk berdasarkan norma sosial, tetapi menekankan pada ketaatan kepada kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya. Dalam etika Kristen, dasar utama penilaian moral bukanlah hasil atau konsekuensi dari tindakan, melainkan motivasi dan ketaatan terhadap kehendak Allah. Prinsip utama dalam etika Kristen adalah kasih . , yaitu kasih yang tidak berkorban demi kebaikan orang lain. Hal ini sesuai dengan pengajaran Yesus Matius 22:37-40, 20 Arta Rumiris Lumban Tobing. Spiritualitas Dan Etika Kristen (Indramayu: CV. Adanu Abimata, 21 Paul F. Kinitter. Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multiagama Dan Tanggung Jawab Global (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 183. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 menegaskan bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Etika Kristen dibangun di atas pandangan dunia . yang teosentris, yaitu Allah sebagai pusat dari segala aspek kehidupan. Oleh karena itu, pertimbangan etis dalam Kekristenan selalu mengacu pada wahyu Allah dalam Kitab Suci dan dipahami melalui komunitas iman. 22 Etika Kristen juga mencakup tanggung jawab sosial, keadilan, kebenaran, dan kekudusan. Prinsip-prinsip ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan bermasyarakat, seperti terlihat dalam kitab-kitab nabi di Perjanjian Lama dan ajaran gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul. Secara praktis. Etika Kristen terbagi atas dua yaitu: . secara normatif, etika mengkaji prinsip yang tetap seperti Sepuluh Firman. situasional, etika cenderung memperhatikan konteks dengan tetap berlandaskan kasih. 23 Jan Boersema menjelaskan bahwa dalam Etika Kristen, untuk menilai sesuatu setidaknya ada tiga prinsip etika, yaitu: . deontologis yang memperhatikan perintah Tuhan, . utilisme yang memperhatikan sebabakibat dari penilaian yang dilakukan, dan . etika tanggung jawab yang melihat pertimbangan keduanya . Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Etika Kristen adalah cabang ilmu teologi praktis yang mengkaji perilaku hidup manusia berdasarkan prinsipprinsip Alkitab. Etika Kristen menjadi bagian ilmu yang membantu manusia untuk mencapai kehendak Tuhan tentang bagaimana manusia harus hidup dan Jika dikaitkan dengan penjelasan Stanley Hauerwas. The Peaceable Kingdom: A Primer in Christian Ethics (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1. 23 Joseph Fletcher. Situation Ethics: The New Morality (Louisville: Westminster John Knox Press, 24 Jan Boersema. Pengantar Etika Kristen (Jakarta: Delima, 2. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 193 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf di atas, maka ada ruang untuk menghargai nilai-nilai positif yang terkandung dalam ritual Pongonsong Bihing. Dapat ditemukan nilai kasih pada tujuan ritual Pongonsong Bihing ini, yaitu bagaimana masyarakat berusaha untuk menghindarkan keluarga yang sedang berduka dari rasa sakit hati atau ketersinggungan dan menjaga relasi sosial agar tetap harmonis. Hal ini dapat penghormatan terhadap sesama manusia, rasa empati kepada mereka yang sedang mengalami kesedihan, dan usaha untuk mencegah konflik di tengah kehidupan Akan tetapi, perlu juga memperhatikan sisi kritis mengenai ritual ini, dilihat dari segi motivasi dan dasar dari sebuah tindakan. Ketika ritual Pongonsong Bihing ini dilakukan atas dasar keyakinan bahwa arwah orang mati masih ada di dunia, memiliki hubungan dengan manusia yang masih hidup, bahkan sampai mengganggu kehidupan manusia yang masih hidup, maka ini bertentangan dengan iman Kristen. Karena setelah seseorang mengalami kematian jiwanya akan kembali kepada Tuhan . Ayub 19:25-27, menghadapi penghakiman . Ibr. , dan tidak kembali ke dunia mengganggu kehidupan orang yang masih hidup. Pendekatan etika tanggung jawab dapat menjadi pegangan pengambilan sikap yang bijaksana dengan menghargai kearifan lokal Suku Saluan nilai-nilai positif berupa kasih, empati, dan penghargaan terhadap sesama tanpa mengorbankan kemurnian iman percaya kepada Kristus dengan memaknai budaya dalam terang firman Tuhan. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 eksistensi jiwa manusia. 25 Namun, tentang keberadaan jiwa . orang mati sangat bertentangan dengan pandangan Alkitab. Karena itu, bagian ini akan memuat beberapa ayat Alkitab yang berhubungan dengan keadaan Jiwa manusia setelah kematian. Di bawah ini, akan memuat referensi-referensi yang implisit dengan ayat-ayat Alkitab. dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru: Dalam Perjanjian Lama. Sheol adalah kata yang paling popular sebagai tempat bagi jiwa orang yang telah Culver yang mengutip pendapat Oehler dalam bukunya menjelaskan bahwa AuOhler found in Job 25-27 a conviction that after death God will manifest Himself to Job and continue in communion with Him. Ay26 Di sini dijelaskan bahwa Ayub 19:25-27 adalah ayat-ayat dalam Alkitab yang menyatakan suatu keyakinan keadaan setelah kematian, yaitu bersama dengan Tuhan. Senada dengan itu, dia memiliki Longman menjelaskan bahwa Ayub 19:26 menjelaskan tentang keadaan setelah kematian yaitu perjumpaan dengan Tuhan: The view that the phrase should be translate Auoutside/without my fleshAy takes the min as the privative. Is this case. Job imagines an encounter with God in a disembodied state after death, perhabs something similar to SamuelAos brief afterlife appearance (I Sam. This understanding also makes the most logical sense within the verse, since the first describes his flesh being peeled off. Jiwa Orang Mati dalam Alkitab Suku Saluan memiliki perspektif yang tidak berbeda dari pandangan yang umum tentang peristiwa kematian. Dalam perspektif Suku Saluan kematian adalah perpisahan antara tubuh dan roh . alaAoika. , serta adanya penekanan bahwa kematian bukanlah akhir dari Meskipun beberapa pandangan di Bungalan et al. AuKAJIAN TERHADAP TRADISI MOHATU SUKU SALUAN DI DESA SIMPANG II DARI PERSPEKTIF TEOLOGI KRISTEN. Ay Robert Duncan Culver. Systematic Theology: Biblical & Historical, 10th ed. (Fearn. Roshire: Christian Focus Publications, 2. , 1031. 27 Tremper Longman. Job, 18th ed. (Michigan: Baker Academic, 2. , 261. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 194 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf kematian, jiwa orang yang telah meninggal akan ke Sheol sebagai penantian bagi jiwa orang mati, namun dalam I Sam. 28 menyatakan tentang kehadiran jiwa Samuel di hadapan Saul. Apakah ini menjelaskan bahwa jiwa seseorang bisa berhubungan dengan manusia? Memperhatikan pendapat para tokoh reformator Luther dan Calvin yang kemudian diikuti para teolog mulamula yang dengan kesatuan hati menyatakan bahwa itu adalah sebuah menyerupai Samuel dengan tipuan dari perempuan penyihir yang teramat rapi. Payne menjelaskan bahwa: Sangat peristiwa kagetnya sang peramal saat dia melihat Samuel. Selain itu, sikap Saul yang berubah terhadap peramal Bagaimanpun juga bagian pembacaan ini tidak mendukung hal-hal spiritual. Hal utama yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa Allah tidak berbicara melalui pemanggil arwah. Jadi, bagian pembacaan tersebut tidak dapat diterima untuk menentang keadaan bahwa setelah kematian jiwa manusia akan ke Sheol secara khusus dalam Perjanjian Lama. Hal ini sekaligus setelah kematian, jiwa manusia tidak berhubungan lagi secara langsung dengan manusia yang masih hidup. Manusia memiliki tempat hidupnya di dunia, sedangkan jiwa manusia yang telah meninggalkan dunia ada di Sheol sebagai tempat sementara sebelum penghakiman-Nya. Selain itu. AuKej. 42:38. Kej. 37:35, 1 Sam. 2:6. Ayub 17:17. Amsal 27:20. Yes. 5:14 menyatakan bahwa secara umum Sheol adalah tempat jiwa setelah 28 C. Keil and F. Delitzsch. Comentary on the Old Testament (Massachusetts: Hendrickson Publishesrs, 2. , 544. 29 David F. Payne. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: 1 Dan 2 Samuel (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 226. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Ay30 Menurut Hoekema di dalam AuMazmur 9:18 menjelaskan tempat orang fasik adalah di dunia orang mati (Sheo. Ay31 Sumber-sumber ini memberikan deskripsi yang singkat sekaligus padat tentang keberadaan jiwa seseorang setelah mengalami kematian. Ketika manusia mengalami kematian, jiwa manusia mengalami keterpisahan dengan tubuh fana manusia yang sekaligus bertransformasi ke Sheol sebagai tempat perhentian sementara. Dalam berbagai sumber menjelaskan keadaan jiwa di Sheol, namun tulisan ini secara khusus membahas tentang konfirmasi keberadaan jiwa setelah Hades adalah kata Yunani untuk Sheol sebagaimana dalam Septuaginta. Dalam Perjanjian Baru, misalnya Lukas 16:23. Ketika orang kaya berada di Hades dengan siksan. Hades yang digunakan Lukas secara harfiah berarti sesuatu yang tidak dapat dilihat. Jika demikian, dapat dipahami bahwa itu bukan dunia manusia yang masih hidup. Dalam Kis. 2:27 dan 31. Mat. 11:22, Luk. 16:19-31 dinyatakan bahwa setelah kematian, jiwa manusia akan langsung ke Hades. 33 Hoekema juga memberikan pendapatnya tentang jiwa orang yang telah meninggal berdasarkan perspektif Perjanjian Baru, dalam Matius 16:18 yang memiliki alusi dengan Yesaya 38:10, yaitu istilah alam maut . he gates of Hades dan the gates of Sheo. menunjukan pada arti pintu gerbang orang mati. Dari pemahaman ini, dapat dijelaskan secara sederhana bahwa 30 Jonri Muksen Siregar. AuStudi Teologi Akhir Zaman (Eskatolog. Dan Signifikansinya Bagi Orang Percaya,Ay THEOSOPIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 1, no. : 34. 31 Anthony A. Hoekema. Alkitab Dan Akhir Zaman, ed. Solomon Yo, 2nd ed. (Surabaya: Momentum Christian Literature, 2. 32 Culver. Systematic Theology: Biblical & Historical. 33 Siregar. AuStudi Teologi Akhir Zaman (Eskatolog. Dan Signifikansinya Bagi Orang Percaya. Ay 34 Hoekema. Alkitab Dan Akhir Zaman. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 195 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf setelah mengalami kematian, jiwa manusia akan ke Hades/Sheol dan tidak memiliki hubungan dengan manusia yang masih hidup. Senada dengan itu. Situmorang & Munthe menjelaskan bahwa jiwa orang yang telah meninggal tidak ada lagi di dunia serta tidak bisa berhubungan dengan manusia yang masih hidup, terpisah karena tujuan manusia diputuskan ketika mengalami 35 Tentang peristiwa Lazarus dan Orang Kaya yang telah disinggung di atas. Henry berpendapat: Jiwanya diam di tempat yang terpisah dari badannya. Jiwa ini tidak mati, atau jatuh tertidur bersama dengan Nyala api lilinnya tidak diambil dari padanya. Sebaliknya, ia hidup dan dapat bertindak, serta mengetahui apa yang dilakukannya dan apa yang telah dilakukan Jiwanya pindah ke dunia yang lain, yaitu dunia roh. Jiwanya Allah memberinya, ke negeri asalnya. Hal ini disiratkan dalam perkataan ia Roh manusia pergi ke atas. Marshall setelah orang kaya mati, iya mendapati dirinya berada di Hades, yang dimaksud di sini adalah tempat tinggal sementara jiwa seseorang setelah meninggal dan sebelum penghakiman terakhir berlaku. Garland menjelaskan bahwa setelah kematian. Lazarus dan Orang Kaya kembali ke tempat seharusnya. Pada bagian ini ditekankan bahwa ke Hadeslah mereka berada. Berkaitan dengan latar belakang adat Pongonsong Bihing, yang berawal dari kepercayaan terhadap jiwa orang Risna Putri Situmorang and Pardomuan Munthe. AuTinjauan Dogmatis Terhadap Pemahaman Jemaat GKPI Sei Bamban,Ay Jurnal Sabda Akademika 1, no. : 1Ae9. 36 Matthew Henry. Tafsiran Matthew Henry: INJIL LUKAS 13-24 (Surabaya: MOMENTUM, 2. , 37 I. Howard Marshall. The Gospel of Luke (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1. , 636. 38 David A. Garland. Luke, ed. Clinton E. Arnold (Michigan: Zondervan, 2. , 671. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 mati yang merasa tidak senang dengan pesta yang dilaksanakan pada saat keluarga orang mati tersebut masih memberikan klarifikasi keadaan jiwa setelah kematian. Jiwa seseorang memang tidak akan mati bersama dengan tubuh jasmaninya, namun tidak juga memiliki pengaruh terhadap manusia yang masih hidup. Dengan kata lain baik dalam Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama sama-sama mengatakan bahwa jiwa seseorang yang telah meninggal dunia tidak akan mengganggu aktivitas manusia yang masih hidup, termasuk pada pesta apapun yang berlangsung dalam periode pascakematian seseorang. Berdasarkan hal-hal di atas, yang menjadi titik temu antara perspektif Kristen dan adat Pongonsong Bihing adalah kondisi jiwa yang tidak mati bersama dengan tubuh ketika manusia Namun, tetap saja ada konfirmasi dari Alkitab mengenai keberadaan jiwa dan jangkauan jiwa setelah kematian. Adat Pongonsong Bihing dalam Perspektif Etis-Teologis Berbicara tentang etis atau etika dalam Bahasa Indonesia berarti baik buruknya tindakan atau kelakuan seseorang dan tentang norma yang Manusia yang selalu berhubungan dengan manusia yang lain seharusnya berlaku dan bertindak, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya konflik antar manusia dalam komunitas tertentu. Konflik bisa terjadi jika salah satu dari dua pihak diuntungkan dan yang lain tidak Dalam kondisi yang demikian, komunikasi menjadi jembatan dalam menyelesaikan bahkan menghindari 39 J. Ch. Abineno. Sekitar Etika Dan Soal- Soal Etis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 196 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Dalam bahasan tentang hakikat adat Pongonsong Bihing di atas, dapat diketahui bahwa arti dari adat ini adalah suatu penghormatan atau penghargaan kepada orang yang sedang berduka. Bagian ini sangat implisit dengan ajaran Kristen yang mengajarkan untuk menghargai mereka yang berduka (Rm. Implikasi Konstruktif dalam Bingkai Moderasi Antar Umat Beragama Suku Saluan yang tinggal di Kabupaten Banggai bertemu dan bersosial dengan beragam suku serta Dari keberagaman ini, potensi konflik antar masyarakat dan antar umat beragama mungkin terjadi dan harus Dalam posisi yang baik, keragaman adalah kekayaan, sedangkan di sisi lain budaya dari masing-masing golongan justru dijadikan sarana konflik antar golongan tersebut. 41 Sebuah implikasi yang baik dan menarik dalam tulisan ini adalah bahwa budaya secara kontekstual teologis dan etis menjadi Budaya Pongonsong Bihing sebagai budaya yang memperhatikan solidaritas bagi yang menderita menjadi budaya yang memainkan peranan penting dalam konteks keberagaman. Budaya Pongonsong Bihing pada pelaksanaannya tidak harus hanya dilaksanakan kepada kerabat sesama agama tetapi terhadap agama lain juga. Budaya ini dimungkinkan dapat diintegrasikan kepada suku yang berbeda sebagai hal positif dan etis. Jika budaya Pongonsong Bihing dimengerti sebagai sarana untuk membangun serta menjaga relasi yang baik antara yang pihak berduka dan pihak yang berpesta, maka 40 M. Ali Syamsuddin Amin. AuKOMUNIKASI SEBAGAI PENYEBAB DAN SOLUSI KONFLIK SOSIAL,Ay Jurnal Common 1, no. : 101Ae8. Nofal Liata and Khairil Fazal. AuMULTIKULTURAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS,Ay ABRAHAMIC RELIGIONS: Jurnal Studi Agama-Agama 1, no. : 197, https://doi. org/doi. org/10. 22373 /ARJ. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 hal ini akan berimplikasi pada hal positif dalam konteks keberagaman. KESIMPULAN Adat Pongonsong Bihing merupakan warisan budaya suku Saluan penghargaan kepada keluarga yang sedang berduka, dengan cara menunda atau meminta izin untuk mengadakan pesta demi menjaga perasaan dan solidaritas sosial. Meskipun adat ini berasal dari kepercayaan tradisional tentang arwah orang mati yang masih dapat memengaruhi kehidupan orang hidup, hal ini bertentangan dengan ajaran Alkitab yang menegaskan bahwa setelah kematian, roh manusia kembali kepada Tuhan dan tidak lagi berinteraksi dengan dunia. Namun, dari perspektif Teologi Agama-Agama dan Etika Kristen, adat ini memiliki nilai-nilai luhur seperti empati, penghormatan, dan solidaritas sosial yang sejalan dengan ajaran kasih kristiani. Adat ini juga dapat berfungsi sebagai jembatan untuk membina harmoni dalam masyarakat multikultural dan multiagama, selama dipahami dalam konteks etis dan bukan keyakinan spiritual yang bertentangan dengan iman Kristen. Dengan demikian, pendekatan terhadap adat Pongonsong Bihing perlu dilakukan secara kritis dan kontekstual: menolak aspek teologis yang bertentangan dengan iman Kristen, namun mengafirmasi nilai-nilai sosial dan etisnya sebagai bentuk kontribusi terhadap kehidupan bersama yang damai dan harmonis antar umat beragama. DAFTAR PUSTAKA