681 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 ANALISIS AMENITAS DAN AKSESIBILITAS DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI DAIRYLAND ON THE VALLEY (CIMORY BAWEN) Oleh Herman Novry Kristiansen Paninggiran*1. Almas Nabili Imanina2. Faisal Yusuf3 1,2,3Pariwisata. Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi. Universitas Semarang Jl. Soekarno Hatta. Rt 7/Rw 7. Tlogosari Kulon. Kec. Pedurungan. Kota Semarang. Jawa Tengah 50196, . e-mail: *1herman@usm. id, 2almasnabili@usm. id, 3faisal@usm. Article History: Received: 17-05-2025 Revised: 01-06-2025 Accepted: 20-06-2025 Keywords: Accessibility. Amenities. Cimory Bawen. Inclusive Tourism. Destination Development Abstract: This study aims to analyze the conditions of amenities and accessibility as key components in tourism development at Dairyland On The Valley (Cimory Bawe. , located in Semarang Regency. Central Java. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through field observations, indepth interviews with managers and visitors, and secondary data analysis from documentation and online reviews. The results indicate that Cimory Bawen has provided essential amenities such as restaurants, public toilets, souvenir shops, and prayer facilities. However, several issues remain, including the lack of facilities for people with disabilities, the absence of smoking area separation, and stair-stepped infrastructure that is unfriendly to elderly visitors. In terms of accessibility, while external access to the location is relatively good, internal mobility remains difficult for vulnerable groups due to uneven and rocky paths. The study recommends improvements in inclusive infrastructure, staff training, and governance policies that support accessible and inclusive tourism. These findings are expected to contribute to the development of more inclusive and sustainable tourist destinations in Indonesia PENDAHULUAN Dairyland On The Valley Bawen atau lebih dikenal dengan Cimory Bawen merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Semarang. Jawa Tengah. Objek wisata ini menggabungkan elemen edukasi, rekreasi, dan agrowisata dalam satu kawasan yang Dengan latar belakang alam pegunungan dan keindahan lanskap pertanian, tempat ini menjadi tujuan favorit bagi keluarga dan sekolah yang ingin memberikan pengalaman wisata edukatif dan menyenangkan kepada anak-anak . keberhasilan suatu destinasi wisata sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mengintegrasikan fungsi edukatif dan rekreatif secara seimbang. Dalam konteks pembangunan daerah, pariwisata memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi lokal. Cimory Bawen, sebagai bagian dari jaringan wisata Cimory Group, telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan konsumsi produk lokal dan penciptaan lapangan kerja. Hal ini sejalan dengan pendapat dalam . yang menekankan bahwa pengembangan pariwisata berbasis lokal dapat memperkuat kapasitas ekonomi a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 masyarakat serta mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah. Selain itu, destinasi seperti Cimory berperan sebagai daya tarik kawasan penyangga yang mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan sekitar, terutama sektor UMKM dan kuliner berbasis susu Namun, keberhasilan destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh atraksi semata. Aspek pendukung seperti amenitas dan aksesibilitas merupakan komponen krusial dalam menentukan kualitas pengalaman wisatawan. Yoeti . menyatakan bahwa keberhasilan kawasan wisata sangat bergantung pada kemudahan akses . dan kelengkapan fasilitas . Pernyataan ini diperkuat oleh studi Chaerunissa dalam . yang menunjukkan bahwa aksesibilitas merupakan indikator kunci dalam menilai kelayakan destinasi wisata bagi semua kalangan, termasuk kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia. Maka dari itu, amenitas dan aksesibilitas tidak bisa dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai fondasi utama dalam keberlangsungan destinasi. Dalam pengamatan lapangan. Cimory Bawen telah menyediakan berbagai amenitas seperti restoran, mushola, toilet umum, toko souvenir, dan area parkir. Namun, ulasan dari wisatawan di Google Review menunjukkan adanya beberapa keluhan, seperti kurangnya fasilitas duduk umum, kondisi toilet yang kurang bersih pada waktu tertentu, serta belum adanya pemisahan zona merokok di area resto. Masalah lain yang menonjol adalah belum tersedianya jalur dan fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas, meskipun Cimory Bawen mengusung slogan AuJoyful for EveryoneAy. Selain itu, struktur jalan di kawasan wisata yang berbentuk terasering dengan bebatuan dinilai menyulitkan wisatawan lansia atau difabel untuk bergerak dari satu titik atraksi ke titik lainnya. Berdasarkan studi oleh Imran et al. , aksesibilitas internal dalam destinasi wisata memiliki korelasi langsung terhadap length of stay dan loyalitas wisatawan. Jika aksesibilitas dan kenyamanan tidak diperhatikan secara serius, maka dapat menurunkan minat kunjungan ulang, bahkan memberikan pengalaman negatif yang memengaruhi reputasi destinasi. Oleh sebab itu, pengelolaan destinasi harus berorientasi pada pengalaman menyeluruh yang merata bagi seluruh segmen wisatawan. Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengkaji pentingnya amenitas dan aksesibilitas dalam pengembangan destinasi wisata, namun sebagian besar masih berfokus pada kawasan wisata alam atau desa wisata berbasis komunitas, seperti yang dilakukan oleh Putri dan Andriana . di Pantai Biru Kersik Marangkayu dan Candra et al. di Jasmine Park Cisauk. Studi mengenai destinasi wisata yang dikelola korporasi besar, seperti Cimory Bawen, masih terbatas, terutama dalam konteks integrasi fasilitas wisata dengan kebutuhan kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia. Di sisi lain, literatur tentang pariwisata inklusif juga umumnya terpisah dari kajian aksesibilitas infrastruktur secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kontribusi baru dengan mengisi kesenjangan tersebut, yaitu dengan menggabungkan analisis kondisi eksisting amenitas dan aksesibilitas dalam satu studi lapangan yang komprehensif pada destinasi wisata modern berbasis komersial. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi eksisting amenitas dan aksesibilitas di Dairyland On The Valley (Cimory Bawe. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perbaikan manajemen destinasi wisata, serta menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata dalam mewujudkan kawasan wisata yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini juga memperkuat literatur tentang pentingnya peran amenitas dan aksesibilitas dalam a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 menunjang pembangunan pariwisata daerah, sebagaimana dikemukakan oleh Candra . dan Berutu . LANDASAN TEORI Pengembangan pariwisata merupakan proses strategis untuk meningkatkan kualitas destinasi melalui optimalisasi daya tarik wisata, peningkatan infrastruktur, dan pelayanan Menurut Suranny . , pengembangan pariwisata bertujuan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, memperpanjang lama tinggal, dan meningkatkan kepuasan wisatawan secara keseluruhan. Pemerintah daerah memiliki peran signifikan dalam pengembangan destinasi melalui perbaikan sarana dan prasarana wisata . Pariwisata berkelanjutan mengedepankan tiga prinsip utama yaitu perlindungan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan ekonomi lokal . Pendekatan berbasis komunitas menjadi model populer yang menekankan pada pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya dan pelayanan wisata . Dalam konteks ini, amenitas dan aksesibilitas menjadi dua komponen vital. Amenitas didefinisikan sebagai fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan dasar wisatawan seperti akomodasi, tempat makan, toilet, area ibadah, dan pusat informasi . Kualitas dan kelengkapan amenitas akan berdampak langsung terhadap kepuasan wisatawan, sebagaimana dijelaskan oleh Putri dan Andriana . yang menemukan korelasi antara kualitas amenitas dan loyalitas pengunjung. Aksesibilitas adalah tingkat kemudahan dalam mencapai destinasi, baik dari segi moda transportasi, kondisi jalan, hingga ketersediaan rambu dan petunjuk arah . Menurut Hadiwijoyo . , aksesibilitas mencakup informasi, kondisi fisik jalur, dan titik akhir Penelitian oleh Mohamad dalam . menambahkan bahwa infrastruktur transportasi yang inklusif menjadi indikator penting dalam peningkatan jumlah kunjungan Dalam studi oleh Berutu . , aksesibilitas internal dalam destinasi seperti jalur pejalan kaki, akses bagi difabel, dan petunjuk arah yang informatif, sangat berpengaruh pada kepuasan wisatawan. Oleh karena itu, pengembangan amenitas dan aksesibilitas harus memperhatikan kebutuhan semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas dan lansia. Hal ini juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Pariwisata yang mendorong penerapan standar pariwisata inklusif di destinasi unggulan nasional. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengkaji kondisi amenitas dan aksesibilitas di Dairyland On The Valley (Cimory Bawe. Metode ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang mendalam mengenai fenomena yang diteliti melalui deskripsi verbal berdasarkan observasi lapangan dan wawancara. Lokasi penelitian dilakukan di Cimory Bawen. Kabupaten Semarang, dengan waktu pelaksanaan pada bulan Desember 2024. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menjelaskan kondisi aktual dan persepsi pengunjung terhadap fasilitas dan aksesibilitas di destinasi wisata tersebut. Subjek penelitian terdiri dari pengelola wisata, staf, dan pengunjung, termasuk wisatawan difabel dan lansia. Teknik pemilihan informan dilakukan menggunakan purposive sampling, yaitu penentuan responden berdasarkan pertimbangan tertentu yang relevan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 dengan tujuan penelitian . Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap fasilitas dan infrastruktur di area wisata, serta wawancara mendalam dengan narasumber yang dipilih. Data sekunder diperoleh dari dokumentasi, literatur ilmiah, serta ulasan pengunjung di platform digital . Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahap utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Proses ini dimulai sejak sebelum pengumpulan data hingga seluruh informasi terkodifikasi dan ditafsirkan dalam konteks penelitian. Validitas data dijaga dengan teknik triangulasi sumber dan metode, yaitu membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memastikan keakuratan dan konsistensi informasi . Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil penelitian dapat menggambarkan realitas secara komprehensif dan valid. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Destinasi Wisata Cimory Bawen Dairyland On The Valley (Cimory Bawe. merupakan destinasi wisata tematik berbasis edukasi dan agrowisata yang memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dan integrasi industri susu sapi. Destinasi ini dikembangkan oleh Cimory Group dan menawarkan berbagai aktivitas edukatif seperti memberi makan hewan, memerah susu sapi, hingga kunjungan ke area peternakan. Ciri khas dari tata ruang destinasi ini adalah penggunaan lanskap bertingkat menyerupai terasering, yang di satu sisi estetis namun di sisi lain menimbulkan tantangan aksesibilitas bagi kelompok rentan . Kondisi Amenitas Cimory Resto di Bawen merupakan salah satu destinasi kuliner yang populer di kalangan wisatawan karena menawarkan pengalaman makan dengan pemandangan alam yang indah langsung menghadap ke area Cimory. Resto ini menyediakan beragam pilihan menu, mulai dari makanan khas Indonesia, makanan ringan, hingga hidangan ala Barat. Salah satu daya tarik utama Cimory Resto adalah minuman milkshake aneka rasa yang berbahan dasar susu sapi segar, sejalan dengan reputasi Cimory sebagai produsen olahan susu dan yoghurt berkualitas tinggi yang sangat diminati oleh pengunjung. Dengan kapasitas yang luas. Cimory Resto mampu menampung ratusan pengunjung sekaligus, dilengkapi fasilitas tempat duduk yang memadai dan pelayanan yang sigap. Meskipun mengusung konsep full outdoor, area resto tetap terjaga kebersihan dan kerapihannya, serta didukung oleh udara sejuk khas dataran tinggi. Namun demikian, salah satu kendala yang dihadapi adalah belum adanya pemisahan area merokok dan nonmerokok, yang mengganggu kenyamanan sebagian pengunjung. Ke depan, menurut pernyataan Bapak Agus selaku pemilik Dairyland On The Valley. Cimory Bawen berencana menambah fasilitas lounge dengan proyektor besar agar orang tua atau lansia dapat menunggu dengan nyaman sambil tetap memantau aktivitas anak-anak mereka di area a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Gambar 1. Resto Cimory Bawen Berdasarkan hasil observasi dan wawancara. Cimory Bawen memiliki amenitas utama Tabel 1. Kondisi Amenitas Cimory Bawen Jenis Amenitas KetersediaKondisi Catatan Umum Restoran (Rest. Ada Baik Tidak ada pemisahan zona rokok Toilet Umum Ada Cukup Baik Belum inklusif bagi difabel Tempat Ibadah Ada Baik Mushola terpisah pria dan wanita Tempat Duduk Ada Terbatas Tidak tersebar merata Umum Toko Souvenir Ada Baik Pegawai kurang responsif saat Lahan Parkir Ada Luas Masih berupa kerikil Ketersediaan amenitas tersebut memperlihatkan komitmen pengelola dalam menyediakan fasilitas dasar wisatawan. Namun demikian, aspek kebersihan dan kenyamanan di area publik, khususnya pada hari libur dengan lonjakan kunjungan, masih memerlukan perhatian lebih lanjut . Aksesibilitas Wisatawan Kondisi akses jalan menuju Cimory Bawen tergolong baik karena sebagian besar sudah menggunakan beton, namun area parkir yang masih berupa kerikil menimbulkan risiko licin bagi pejalan kaki. Di dalam area Cimory, jalanan terdiri dari campuran semen dan bebatuan yang dapat menjadi licin, terutama setelah hujan, seperti yang disampaikan oleh Ibu Siti yang mengalami kesulitan saat menuruni tangga. Sayangnya, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas masih belum memadai karena belum tersedia fasilitas seperti ramp, pegangan di toilet, maupun kursi roda. Menurut Ibu Vishinta selaku HRD Cimory Bawen, struktur jalan memang dirancang mengikuti kontur alami seperti terasering, dan bagi wisatawan yang menginginkan area dengan jalur yang lebih landai, disarankan untuk mengunjungi Cepogo Cheese Park di Boyolali yang juga dikelola oleh Cimory Group. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Gambar 2. Kondisi Jalan Di Area Cimory Aksesibilitas ke Cimory Bawen cukup baik, baik dari segi jalan utama maupun ketersediaan transportasi umum dan daring. Namun, masalah mulai muncul ketika memasuki kawasan internal, di mana struktur jalan menantang bagi lansia dan difabel. Data observasi menunjukkan tidak adanya jalur ram, pegangan, maupun kursi roda untuk pengunjung dengan kebutuhan khusus. Tabel 2. Kondisi Aksesibilitas Cimory Bawen Aspek Aksesibilitas Kondisi Keterangan Jalan Masuk Utama Baik Jalan beton, mudah diakses kendaraan pribadi/bus Jalan Dalam Area Sedang Jalan batu/tangga, licin saat hujan Petunjuk Arah Baik Papan signage tersedia, dukungan GPS akurat Transportasi Online Tersedia Grab. Gojek. Maxim mendukung destinasi ini Akses Difabel Tidak Ada Tidak tersedia jalur landai, ramp, maupun kursi roda Aspek Aksesibilitas Kondisi Keterangan Temuan ini memperkuat argumen dalam studi oleh Berutu . bahwa desain fisik destinasi yang tidak inklusif berisiko menurunkan tingkat kepuasan pengunjung dan loyalitas wisatawan jangka panjang. Pengabaian terhadap prinsip universal design di destinasi wisata juga bertentangan dengan kebijakan nasional tentang pariwisata inklusif. Analisis Kritis dan Implikasi Pengelolaan Temuan lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara narasi AuJoyful for EveryoneAy dan realitas struktur destinasi yang belum sepenuhnya ramah inklusi. Padahal, tren pariwisata global saat ini menunjukkan pergeseran menuju inclusive tourism, yang menekankan prinsip kesetaraan dalam akses, pelayanan, dan pengalaman wisata . Secara manajerial, hal ini dapat ditindaklanjuti melalui strategi: Revitalisasi infrastruktur dengan menambahkan ramp, jalur landai, serta pegangan tangan di tangga. Zona Resto Terbagi untuk area merokok dan non-merokok. Peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan hospitality dan customer care secara Pembangunan lounge lansia yang dilengkapi proyektor real-time aktivitas atraksi anak. Implikasi Temuan terhadap Teori Penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas amenitas dan aksesibilitas bukan hanya a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 elemen pendukung, tetapi merupakan fondasi keberlangsungan destinasi wisata modern. Hal ini memperkuat konsep teori 3A (Attraction. Accessibility. Amenitie. dalam pariwisata . , . Temuan ini juga memperkaya diskursus literatur terkait pariwisata inklusif dan aksesibel di konteks destinasi komersial berbasis industri, bukan hanya desa wisata. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Dairyland On The Valley (Cimory Bawe. telah memiliki amenitas dan aksesibilitas dasar yang cukup lengkap, seperti restoran, toilet, toko souvenir, mushola, dan area parkir luas. Namun, dari hasil observasi dan wawancara, ditemukan bahwa fasilitas tersebut belum sepenuhnya mendukung prinsip inklusi dan keberlanjutan wisata. Kendala utama terletak pada aspek aksesibilitas internal, seperti jalan bebatuan bertingkat yang menyulitkan pengguna kursi roda dan lansia, serta ketiadaan ramp dan jalur Selain itu, tidak adanya pembagian zona merokok dan non-merokok di area restoran juga menurunkan kenyamanan pengunjung tertentu. Secara umum. Cimory Bawen memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata edukatif dan inklusif. Namun, realisasi visi "Joyful for Everyone" masih membutuhkan penyesuaian dari sisi manajemen, desain infrastruktur, dan peningkatan pelayanan yang berorientasi pada semua segmen wisatawan. SARAN Berdasarkan temuan penelitian, pengelola Cimory Bawen disarankan untuk segera melakukan peningkatan fasilitas yang mendukung kenyamanan dan aksesibilitas bagi seluruh segmen wisatawan, terutama kelompok rentan seperti lansia dan penyandang Salah satu langkah prioritas adalah pembangunan jalur landai . dan penambahan pegangan tangan pada area tangga untuk memudahkan mobilitas. Selain itu, pengaturan zona merokok dan non-merokok di area restoran perlu diterapkan guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan nyaman bagi seluruh pengunjung. Penyediaan lounge khusus untuk orang tua dan lansia dengan fasilitas tempat duduk yang nyaman serta layar proyektor yang menampilkan kegiatan atraksi anak secara real time juga dapat menjadi nilai tambah. Dalam hal pelayanan, pelatihan sumber daya manusia (SDM) secara berkala penting untuk meningkatkan profesionalisme dalam pelayanan berbasis hospitality, khususnya pelayanan inklusif yang memperhatikan kebutuhan wisatawan dengan keterbatasan fisik. Fasilitas umum seperti toilet perlu dilengkapi dengan pegangan, ruang putar untuk kursi roda, dan pencahayaan yang cukup agar dapat diakses oleh semua kalangan. Terakhir, penyediaan fasilitas kesehatan ringan seperti pos pertolongan pertama atau medical corner di area utama wisata akan sangat membantu apabila terjadi kondisi darurat. Penerapan saran-saran ini diharapkan dapat memperkuat posisi Cimory Bawen sebagai destinasi wisata edukatif yang inklusif, aman, dan menyenangkan untuk semua kalangan. DAFTAR PUSTAKA