Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 DETEKSI BERAT MOLEKUL PROTEIN LITHOSTHATINE-1 (REG-1B) PENANDA CEDERA USUS PADA ANAK PENDERITA STUNTING DI WILAYAH KERJA BLUD UPTD PUSKESMAS BENU-BENUA KOTA KENDARI Sanatang 1. Ulfah Khairul Nissa 2. Leniarti Ali3 D-IV Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya Email: Chemist_ana82@yahoo. com, leniartiali69@gmail. ABSTRAK Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang Protein Lithostathine 1 (REG 1B) terbentuk jika terjadi cedera usus pada anak yang dapat disebabkan oleh adanya gangguan mikroorganisme yang merugikan. Tujuan diproduksinya protein Lithostathine 1 (REG 1B) adalah untuk memperbaiki sel-sel yang telah rusak pada usus. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui adanya cedera usus pada anak stunting. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif untuk mengetahui berat molekul protein Lithostathine 1 (REG 1B) pada sampel serum anak penderita. Populasi dalam penelitian ini adalah 18 anak penderita stunting di BLUD UPTD Puskesmas Benu-Benua. Jumlah sampel yang digunakan adalah 8 anak. Metode penelitian berupa ekstraksi protein, pemurnian protein dan pengukuran kadar protein menggunakan metode SDS-PAGE. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh karakteristik umur 12-23 bulan berjumlah 2 . %) anak dan umur 24-59 bulan berjumlah 6 . %) anak. Untuk karakteristik berdasarkan jenis kelamin laki-laki berjumlah 5 . ,5%) anak dan perempuan berjumlah 3 . ,5%) anak. Berdasarkan status stunting terdapat 2 . %) anak dengan status sangat pendek dan 6 . %) anak dengan status pendek. Pada 8 anak penderita stunting yang dilakukan terdapat 1 . ,5%) anak penderita stunting yang kemungkinan positif mengalami cedera usus dan 7 . ,5%) anak yang tidak mengalami cedera usus. Keadaan ini dibuktikan dengan terbentuknya pita protein lithostathine 1 (REG 1B) dengan berat molekul 16 kDa pada sampel ketiga. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian adalah pada anak penderita stunting bahwa dari 8 responden anak penderita stunting 1. ,5%) responden diperoleh kemungkinan mengalami cedera usus. Hal tersebut ditandai dengan ditemukannya Protein Lithostathine 1 (REG 1B) dengan berat molekul 16 kDa. Saran bagi peneliti selanjutnya untuk mendeteksi Protein Lithostathine 1 (REG 1B) pada pasien dengan kasus kanker kolon, diharapkan pula untuk membahas protein lain yang dapat berkaitan dengan kejadian stunting. Kata kunci : Anak Stunting. Lithostathine 1 (REG 1B). Cedera Usus. SDS-PAGE Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia PENDAHULUAN Stunting adalah masalah kurang gizi mengalami stunting. Namun, angka ini kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan angka stunting pada tahun 2000 pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yaitu 32,6%. Ditahun 2017, terdapat lebih kebutuhan gizi (Kementerian Kesehatan Republik dari setengah balita stunting di dunia berasal Indonesia, 2. Keadaan stunting pada anak- dari Asia . %) sedangkan lebih dari anak memiliki banyak efek negatif, dengan sepertiganya . %) tinggal di Afrika. Dari konsekuensi jangka panjang berupa obesitas, 83,6 juta balita stunting di Asia, kasus penyakit arteri koroner, osteoporosis, tekanan terbanyak berasal dari Asia Selatan . ,7%) darah tinggi, dan gangguan toleransi glukosa. dan kasus paling sedikit di Asia Tengah Efek jangka pendeknya adalah fungsi kekebalan . ,9%). Prevalensi stunting pada anak di penurunan kecerdasan dan kemampuan mental bawah usia 2 tahun . di Indonesia karena perkembangan otak yang kurang optimal juga masih dikatakan tinggi yaitu 29,9%. dan pembelajaran yang buruk (Endang L. Propinsi dengan prevalensi stunting pada Achadi, dkk. baduta paling tinggi terdapat di propinsi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Aceh, sedangkan paling rendah pada DKI mengatakan bahwa angka kejadian stunting di Jakarta. Periode usia 0-2 tahun adalah dunia mencapai 22% atau sebanyak 149,2 juta pada tahun 2020. Masalah stunting dianggap kehidupan anak. Periode ini disebut periode ringan bila prevalensinya 20% sampai 29% dan emas . olden perio. disebabkan oleh sedang bila prevelensinya 30% sampai 39%, dan terjadi pertumbuhan dan perkembangan dianggap parah jika Ou 40%. Terkait preavelensi yang sangat pesat dan akan mempengaruhi stunting tersebut standar yang diberikan WHO masa depan seorang anak. Malnutrisi dapat harus kurang dari 20% (WHO, 2. terjadi pada periode ini dan jika tidak segera Masalah prevalensi stunting di Dunia diatasi dapat menetap sampai usia dewasa. khususnya Indonesia lebih tinggi dibandingkan Anak yang mengalami malnutrisi pada dengan negara lain di wilayah Asia Tenggara, periode ini juga lebih berisiko menderita seperti Myanmar yaitu . %). Vietnam . %), dan Thailand . %) dan berada pada posisi dibandingkan anak dengan status gizi kelima dunia (Sutarto, 2. Pada tahun 2017 normal (Candra, 2. Berdasarkan survei SSGI (Survey Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. Status Gizi Indonesi. Provinsi Sulawesi p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 molekul 16-17 kDa. Reg I terdapat di sel Tenggara ialah salah satu dari 12 provinsi pankreas, yang mampu melakukan trans dengan prevalensi angka stunting tertinggi di differensiasi secara patologis tetapi tidak Indonesia, yaitu urutan ke sembilan secara dalam kondisi sehat. Reg I diekspresikan nasional dengan kasus stunting sebesar 22,7%. Sementara itu, angka stunting di Kota Kendari lambung dan produksinya distimulasi oleh pada tahun 2021 terdapat 466 orang dan ditahun gastrin, bertindak sebagai faktor mitogenik 2022 adalah 365. untuk meningkatkan sel proliferasi pada enterochromaffin-like (ECL) Berdasarkan data stunting diwilayah epitel lambung. Reg II terdeteksi pada tikus puskesmas Benu-Benua diperoleh meningkat dan tidak ada pada manusia. Reg i terapat setiap empat tahun terakhir, didapatkan jumlah jika munculnya tumor. REG IV terdapat kasus stunting pada tahun 2019 terdapat 25 dalam berbagai organ dan jaringan manusia, kasus, ditahun 2020 terdapat 40 kasus, ditahun seperti usus besar, usus kecil, lambung, dan 2021 terdapat 53 kasus dan pada tahun 2022 pankreas (Liu, et al 2. terdapat 75 kasus (Puskesmas Benu-Benua. Dalam situasi cedera usus Protein Kemudian dalam tiga bulan terakhir REG 1B merupakan salah satu protein yang (Oktober Ae Desembe. tahun 2022 terdapat 18 anak penderita stunting disetiap bulannya. sampel serum. Protein REG 1B diproduksi Keluarga Regenerasi (REG) oleh pankreas dalam keadaan munculnya terbagi menjadi empat macam yaitu REG I, suatu inflamasi seperti situasi cedera usus. REG II. REG i dan REG IV. Protein REG ini Keterkaitan anak cedera usus dengan anak masing-masing memiliki struktur utama. Ekpresi stunting yaitu dapat mengganggu proses dan patofisiologi protein ini telah diteliti pada sel manusia maupun sel hewan. Protein REG menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi yang terdapat pada hewan diantaranya REG I, sehingga dapat membuat berat badan atau REG II. REG i . REG i . REG i i dan tinggi badan anak tidak sesuai dengan anak REG IV. Sedangkan Protein REG yang ada pada lain yang seusianya . (Liu, et al manusia adalah REG I. REG I. REG i . REG i i, dan REG IV. Masing-masing Keunggulan REG protein REG memiliki enam ekson dan lima intron, kecuali pada REG IV, yang memiliki protein REG 1B merupakan protein yang tujuh ekson (Liu, et al 2. banyak muncul didalam usus dalam keadaan Keluarga protein REG memiliki massa Protein REG 1B ialah salah satu Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. protein regenerasi dari keluarga protein REG. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 mikrobiotausus atau hilangnya salah satu Dimana mikrobiota non patogen mengakibatkani merupakan suatu fase pembentukan sel-sel yang mekanisme terganggu proses pencernaan Sehingga untuk menentukan suau makanan dan produksi berbagai vitamin, meskipun jumlah makanan yang dikonsumsi munculnya protein REG 1B karena protein ini cukup sehingga menyebabkan gangguan terdapat didalam situasi cedera usus yang dapat menjadi salah satu faktor pemicu munculnya menderita stunting mengalami kekurangan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. REG Efek dari cedera usus adalah dapat Sementara sehingga mudah terserang penyakit infeksi. Pertumbuhan stunting mengalami perubahan komposisi patogen yang berlebihan dapat terjadi karena dan jumlah mikrobiota antara bakteri yang imunitas yang rendah dan infeksi, sehingga bersifat probiotik maupun bakteri yang bersifat pathogen (Simanjuntak. dkk, 2. disaluran pencernaan menurun, maka terjadi Stunting pada anak disebabkan oleh melabsorbsi zat gizi yang membuat anak beberapa faktor yang saling berhubungan di mengalami stunting (Simanjuntak. dkk, 2. antaranya faktor gizi. Status gizi yang rendah Mikrobiota mikroorganisme berupa bakteri, virus, dan organisme lainnya yang hidup dalam organisme Mikrobiota usus mempunyai peranan penting terhadap imunitas maupun penyerapan zat gizi. Mikrobiota usus berkontribusi terhadap kejadian stunting. Komposisi mikrobiota usus pada balita stunting berbeda dengan balita yang berstatus gizi normal. Mikrobiota saluran cerna berperan dalam proliferasi dan pematangan sel epitel usus, induksi gen tubuh manusia untuk penyerapan zat gizi dan pengembangan sistem kekebalan mukosa, yang sangat penting untuk penyerapan zat gizi yang optimal. Perubahan Keadaan tersebut dapat menganggu faktor pertumbuhan seperti tinggi dan berat badan anak. Oleh karena itu, pengukuran stunting dapat dilakukan dengan dilihat dari status gizi dengan disesuaikan pada usia anak (Yudianti dan Rahmat, 2. Status gizi adalah suatu keadaan tubuh sebagai akibat dari kosumsi makanan. Makanan balita diawali dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). MP-ASI adalah makanan atau minuman selain ASI yang diberikan pada masa pemberian makanan peralihan dan disertai dengan pemberian ASI. Gizi yang kuat menjadi salah satu faktor dalam pencapaian tumbuh kembang yang maksimal. Kekurangan gizi dapat Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 HASIL perkembangan dan merubah struktur dan fungsi Telah dilakukan penelitian deteksi Kekurangan gizi pada usia dibawah 2 protein REG 1B menggunakan metode tahun akan menyebabkan sel otak berkurang 15- SDS-PAGE pada kasus stunting di wilyah 20% sehingga anak hanya memiliki kualitas otak kerja BLUD UPTD Puskemas Benu-Benua 80-85% pada tanggal 10 Juli 2023 Ae 14 Juli 2023 dan dapat (Wijhati. dkk, 2. Protein Lithostathine 1 adalah salah untuk pengambilan sampel di wilayah kerja BLUD UPTD Puskesmas Benu Ae Benua dan Ae satu protein yang meliliki kode REG 1B. Protein ini akan diproduksi oleh pancreas pada saat Laboratorium Diagnostik Molekuler Prodi terjadi cedera usus. Setelah Produksi protein D-IV TLM Universitas Mandala Waluya REG 1B dipancreas maka protein REG 1B akan untuk pendeteksian Protein REG 1B pada memperbaiki sel-sel yang rusak yang dapat disebabkan oleh gangguan mikrobiota yang merugikan (Zhou Yiming. et al, 2. Juli Karakteristik responden Umur SDS-PAGE merupakan teknik untuk Berdasarkan data hasil observasi memisahkan rantai polipeptida pada protein berdasarkan berat molekul yang bermuatan di frekuensi responden berdasarkan umur bawah pengaruh medan listrik. Analisis dengan ditunjukkan pada tabel 1. SDS-PAGE ini, menggunakan gel poliakrilamid Tabel 1. Distribusi frekuensi responden yang terdiri dari stacking gel dan separating gel. berdasarkan umur di Puskesmas Benu Ae Stacking gel terdapat well yang berfungsi Benua sebagai tempat meletakkan sampel sedangkan Umur separating gel merupakan tempat protein akan 12-23 bln bergerak kearah anoda (Rachmania, dkk 2. 24-59 bln Total METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam (Sumber data primer, 2. penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan Dari desain penelitian case control study untuk mendeteksi protein Lithostathine 1 (REG 1B) responden dalam penelitian ini adalah pada kasus stunting di wilayah kerja BLUD dimulai dari anak berumur 1 tahun hingga UPTD Puskemas Benu-Benua. berumur 5 tahun. Berdasarkan tabel 6 Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. diketahui respoden berumur 12 - 23 bulan p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 Tabel 3. Distribusi frekuensi responden sebanyak 2 responden dengan persentase 25% dan responden yang berumur 24 Ae 59 bulan Puskesmas Benu Ae Benua berjumlah 6 responden dengan persentase Jenis kelamin Berdasarkan data hasil observasi penelitian Pendek Total (Sumber data primer, 2. berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Benu Ae Benua Perempuan 62,5 % Laki-laki 37,5 % Total status gizi pada balita yang dapat dilihat perempuan yaitu berjumlah 5 responden memiliki presentase 62,5% berjumlah 3 responden dengan persentase 37,5%. melalui pengukuran tubuh seperti tinggi badan dan berat badan yang disesuaikan dapat dihitung menggunakan Z- Score (Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Ana. Hasil Kurva Protein Standar Didapatkan hasil kurva protein didalam penelitian ini adalah sebagai penelitian yang dilakukan, jumlah responden berdasarkan status stunting ditunjukkan pada Log Marker Protein Standar (BM) Status Stunting Berdasarkan Status stunting tersebut merupakan berjenis kelamin laki-laki memiliki frekuensi berjumlah 6 responden dengan persentasi Berdasarkan data pada tabel 2 diatas kemudian kasus anak stunting pendek (Sumber data primer, 2. diatas dapat diketahui anak dengan kasus Jenis kelamin Berdasarkan data pada tabel 3 anak stunting sangat pendek berjumlah 2 Sangat Pendek Tabel 2. Distribusi frekuensi responden Stunting berdasarkan jenis kelamin ditunjukkan pada Status KURVA PROTEIN STANDART y = -1. RA = 0. Reartardation Factor (RF) Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 Gambar 1. Hasil kurva protein standar. Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 stunting, dari 8 responden terdapat 1 Hasil SDS-PAGE Didapatkan pita protein hasil SDS-PAGE dengan pewarnaan commisse Brilian blue pada sebanyak dengan frekuensi 12,5%, dan serum darah anak penderita stunting dapat responden yang tidak mengalami cedera dilihat pada gambar berikut : frekuensi 87,5%. Dikatakan positif cedera usus dikarenakan terbentuknya pita protein lithostathine 1 (REG 1B) dengan berat molekul 16 kDa. Frekuensi anak stunting yang cedera usus lebih rendah dibandingkan anak stunting yang tidak mengalami cedera Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua anak stunting dapat mengalami Gambar Hasil SDS-PAGE Lithostathine 1 (REG 1B) pada serum anak penderita stunting dimana M adalah marker dan Tabel 4. Distribusi frekuensi hasil pemeriksaan berat molekul protein lithostathine 1 (REG 1B) Positif Keterangan 1B . Negatif 7 87,5 Tidak REG 1B . Total cedera usus. Stunting adalah suatu permasalahan menggambarkan kegagalan pertumbuhan yang terakumulasi sejak sebelum dan sesudah kelahiran yang dapat diakibatkan 1 12,5 Terdapat protein REG dapat memicu terjadinya stunting adalah PEMBAHASAN S1-S9 sampel Hasil cedera usus, tetapi salah satu penyebab yang Berdasarkan tabel 4 dan 5 menunjukan bahwa dari 8 responden yang mengalami (Sofiah,dkk. Tidak tercukupinya asupan gizi ini dapat berasal dari kurangnya asupan protein pada penderitanya. Apabila hal ini terjadi maka, dapat mengganggu Protein diproduksi oleh pankreas yaitu melalui hormon Insuline-Like Growth Factor 1 (IGF-. Tujuan dilakukannya penelitian ini Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. untuk mengetahui adanya cedera usus pada anak p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 stunting diusia 24 Ae 59 bulan terdapat 52 Protein . %) balita yang stunting dari jumlah Lithostathine 1 (REG 1B) yang merupakan keseluruhan 100 balita. Hasil penelitian ini salah satu faktor yang membuat kegagalan sejalan pula dengan yang dikemukakan oleh malnutrisi pada anak balita. Hutabarat, dkk. bahwa anak balita Didalam yang berumur diatas 24 bulan 4 kali lebih mendeteksi adanya Protein Lithostathine 1 beresiko terjadi stunting dari pada anak (REG 1B) yang merupakan penanda cedera usus dibawah 24 bulan. Pada usia tahun kedua pada anak stunting dengan menggunakan sampel ada penurunan secara perlahan masukan serum anak penderita stunting berjumlah 9 Pendeteksian berat molekul Protein kecenderungan kurangnya nafsu makan Lithostathine 1 (REG 1B) pada sampel serum yang kurang dipahami oleh orang tua, anak stunting diperiksa dengan menggunakan terutama penurunan kebutuhan kalori yang dapat berakibat mengupayakan pemaksaan SDS-PAGE terbentuknya pita protein Protein Lithostatine 1- makan dan dapat (REG-1B) dengan berat molekul target 16 sehingga mengakibatkan kegagalan anak kDa. Protein Lithostathine 1 (REG 1B) dalam memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi, kesulitan makanan yang serius dapat pancreas karena terjadinya cedera usus. Protein oleh anak, dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan. ini berperan didalam perbaikan sel-sel yang Berdasarkan tabel 7 didapatkan telah rusak. Hal ini berarti bahwa apabila sel hasil responden berdasarkan jenis kelamin REG 1B terbentuk, maka telah terjadi kerusakan dengan persentasi berjenis kelamin laki-laki sel seperti keadaan cedera usus. Berdasarkan hasil penelitian ditabel 6 responden, kelompok responden umur 24 Ae 59 perempuan dengan frekuensi 3 responden bulan merupakan kelompok persentase tertinggi . yaitu 6 responden dengan persentase 75% dengan penelitian yang dilakukan oleh Iksan dibandingkan dengan anak yang berusia 12 Ae 23 bulan dengan jumlah 2 responden dengan stunting berjenis kelamin laki-laki lebih presentase 25%. Sejalan dengan penelitian yang tinggi dengan jumlah 60 responden dengan dilakukan oleh Adimuntja dan Asriati tahun persentasi 60% dibanding anak stunting . bahwa anak lebih beresiko terjadi berjenis kelamin perempuan dengan jumlah Hasil didapatkan sejalan Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. 40 responden dengan persentasi 40%. Pada p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 Ketika hal ini terus berlanjut maka akan tahun pertama kehidupan, buruk yang berkepanjangan terhadap anak laki-laki rentan mengalami malnutrisi dari pada perempuan (Rachmawati, dkk. karena ukuran tubuh laki-laki lebih besar yang SDS-PAGE atau Sodium Dodecyl menyebabkan kebutuhan asupan energi yang Sulfate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis lebih banyak dibanding perempuan dan apabila adalah suatu metode untuk mengidentifikasi asupan makanan tidak terpenuhi dan keadaan protein dan hasil pemurnian protein dengan tersebut berlangsung dalam kurun waktu yang mengukur berat molekulnya. Prinsip kerja SDS-PAGE adalah menghambat interaksi pertumbuhan (Marfuah, 2. hidropobik dan merusak ikatan hidrogen. Pada tabel 8 didapatkan hasil penelitian Berdasarkan metode SDS-PAGE didalam frekuensi responden yang berdasarkan status penelitian ini diawali dengan preparasi stunting (TB/U) yaitu sebanyak 8 responden sampel untuk membuat sampel bermuatan menunjukan bahwa sama sehingga muatan tidak mempengaruhi pergerakan komponen sampel dalam gel persentase 25% dan untuk status stunting pendek dengan cara dimurnikan menggunakan asam lebih dominan didalam penelitian ini yaitu sulfosalisilat 40% untuk menghilangkan terdapat 6 responden dengan frekuensi 75%. kandungan serum lain sehingga tersisa Sama halnya dengan hasil penelitian yang protein saja. Preparasi dilakukan dengan Rachmawati, . diperoleh sebagian besar sampel yang diteliti menggunakan SDS dan memutus ikatan memiliki status gizi yang dikategorikan pendek lebih banyak yaitu berjumlah 30 sampel . ,08%) dan dengan status gizi sangat pendek sebanyak 4 sampel dengan jumlah 4 . ,92%) memanaskan sampel. Selanjutnya pada saat dari total keseluruhan 37 responden. Tinggi gel telah tersedia dibuka cetakan atau sisiran badan menurut umur diketahui sebagai salah satu indikator pertumbuhan masa balita. Tinggi sumuran untuk tempat sampel. Ketika sampel telah dimasukan didalam sumuran menggambarkan kecukupan nutrisi pada masa gel, maka gel dialiri alur listrik sehingga Balita yang tidak terpenuhi kebutuhan komponen yang terdapat dalam sampel akan terpisah melewati martriks gel. Protein yang pertumbuhan, perkembangan dan kecerdasan. berat molekulnya rendah akan bergerak beta-merkaptoetanol. Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. cepat menuju dasar gel, sedangkan protein yang p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 kesepuluh digunakan untuk sampel kontrol berat molekulnya besar akan bergerak lambat . nak yang sehat atau tidak stuntin. sehingga protein akan benar-benar terpisah Berdasarkan tabel 9 pengamatan sesuai dengan berat molekulnya. Tahap staining pita protein yang terbentuk pada gel SDS- dan destaining dapat dilakukan setelah running PAGE didapatkan total 123 pita protein. SDS telah berlangsung. Apabila telah terlihat Diperoleh hasil pita sampel 1 hingga 9 pita protein secara jelas maka dapat dihitung berturut-turut terbentuk 15 pita, 12 pita, 14 jarak pita untuk mengetahui berat molekulnya. pita, 15 pita, 13 pita, 15 pita, 14 pita, 14 Menurut penelitian yang dilakukan Subagyo tahun . , perubahan pita protein pita, 15 pita dengan masing-masing berat molekul yang berbeda-beda. hasil dari SDS-PAGE menunjukan adanya Pada tabel 10 dapat disimpulkan perubahan pada protein seperti seperti penipisan bahwa beberapa pita yang terbentuk dari 9 dan hilang pita protein. Adapun faktor yang sampel yang terbagi atas 8 sampel anak positif stunting dan 1 sampel anak yang perubahan dari sifat sebagai sampel kontrol . nak yang tidak aktivitas bakteri, enzim, serta denaturasi protein stuntin. yang dianalisis terdapat 1 . ,5%) ataupun sampel yang telah rusak. sampel yang terdeteksi terbentuk pita protein Lithostathine 1 (REG 1B) yaitu protein yang terbentuk dapat melalui pembuatan pada sampel ketiga karena didapatkan pita kurva standar protein dengan menentukan protein dengan berat molekul 16 kDa dan 7 terlebih dahulu jarak pita yang muncul dengan . ,5 %) sampel yang tidak terdapat pita menggunakan penggaris. Dalam menentukan protein REG 1B. Artinya 1 dari 8 anak berat molekul pita pada sampel diperlukan pita penderita stunting terdeteksi mengalami marker yang telah diketahui berat molekulnya. cedera usus. Untuk Berat molekul marker yang digunakan dalam Dapat dilihat dari kondisi yang ada penelitian ini berturut-turut yaitu 250 kDa, 150, pada responden tersebut yaitu berjenis kDa, 100 kDa, 75 kDa, 50 kDa, 37 kDa, 25 kDa, kelamin laki-laki memiliki status stunting 15 kDa dan 10 kDa. yang tidak baik yaitu memiliki BB 7,1 dan Dari hasil SDS-PAGE terdapat 10 TB 73,5 (-3,. didalam perhitungan Z-Score sumuran pada gel diantaranya pada sumuran diusia 2 tahun 1 bulan. Anak laki-laki yang pertama digunakan untuk marker, sumuran berusia 2 tahun seharusnya memiliki tinggi kedua hingga kesembilan digunakan untuk badan sekitar 92 cm dengan berat bedan sampel anak positif stunting dan pada sumuran sekitar 9,7 Ae 13,8 kg. Hal ini dapat Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. disebabkan tidak terpenuhinya asupan gizi pada p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 stunting pada balita ataupun membiasakan anak diusianya pada saat 1 tahun sehingga pada memberi konsumsi makanan siap saji usia 2 tahun sudah mulai nampak jika anak terhadap balita, kemudian untuk hasil terindikasi stunting. Dari hasil yang didapatkan hubungan pemberian ASI dan MP-ASI dapat diketahui bahwa adanya cedera usus pada didapatkan proporsi kejadian stunting pada anak stunting dapat memperparah status stunting balita 6-23 bulan lebih banyak ditemkan dari anak tersebut. Penelitian ini sejalan dengan pada balita yang tidak diberikan ASI penelitian yang dilakukan Peterson, et al . ,6%) dibandingkan dengan balita bahwa rata-rata konsentrasi REG 1B pada anak yang diberi ASI ekslutif . ,4%). gizi buruk lebih tinggi dibandingkan anak Cedera usus adalah suatu kondisi dengan gizi baik. Sehingga konsentrasi REG 1B dimana terdapat luka pada usus yang dapat yang tinggi ini dapat mendukung munculnya diakibatkan oleh mikroba seperti bakteri Perbandingan yang dilakukan dengan atau virus. Protein REG 1B akan diproduksi menganalisa sampel feses anak yang diare oleh pancreas apabila hal tersebut terjadi. menggunkan metode ELISA. Adanya Terdapat pula responden yang sama terjadinya kerusakan pada sel-sel diusus. dengan responden yang terdeteksi kemungkinan Diproduksinya protein REG 1B bertujuan mengalami cedera usus yang dapat dilihat dari untuk memperbaiki kerusakan sel tersebut. status stunting yang diukur dari nilai ambang Hal tersebut erat kaitannya dengan kejadian batas (Z-scor. yaitu dengan kondisi sangat stunting dikarenakan situasi cedera usus Namun, lain halnya pada responden dapat menyebabkan berkurangnya asupan tersebut tidak terdeteksi protein REG 1B. Hal ini nutrisi pada anak. Kurangnya asupan nutrisi menandakan bahwa terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian stunting seperti pertumbuhan karena asupan protein didalam faktor lingkungan, pola asuh orang tua, maupun tubuh tidak tercukupi (Liu, et al 2. pemberian ASI dan MP-ASI. Sejalan dengan Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Angelina, dkk dapat dikaitkan dengan yang dikemukakan . yang menyatakan bahwa pola asuh oleh Dewi dkk. , . bahwa protein keluarga yang salah seperti membiasakan anak berfungsi sebagai pembentuk jaringan baru yang tua mendapatkan asupan makanan lebih dimasa pertumbuhan dan perkembangan banyak dibandingkan anak yang berusia muda Anak yang mengalami defisiensi . dapat juga menjadi salah satu faktor asupan protein yang berlangsung lama yang mempengaruhi tingginya jumlah kejadian meskipun asupan energinya tercukupi akan Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 7 No 2. Desenber 2023 Website : . ttps://ejournal. id/medilab/inde. DOI : https://doi. org/10. 36566/medilab. v5i1 juli. mengalami pertumbuhan tinggi badan yang p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 6-23 Bulan Di Provinsi Lampung. Apabila tingkat protein berkurang Jurnal Dunia Kesmas. Vol. akan mengakibatkan kerusakan massa mineral Diakses pada 10 Agustus 2023 melalui produksi Insuline-Like Growth Factor 1 Amini,Naimah. (IGF-. yang merupakan hormon pembentuk Dalam protein dan memiliki peran penting didalam Perkembangan pertumbuhan anak sehingga berdampak pada Usia Dini. Jurnal Buah Hati. Vol. Diakses pada 10 Maret 2023 Hal Factor Hereditas Mempengaruhi Intelegensi Anak Arridiyah. Farah Okky dkk. Faktor- memicu munculnya stunting. faktor yang Mempengaruhi Kejadian KESIMPULAN Stunting Anak Balita Kesimpulan dari penelitian ini adalah Wilayah Pedesaan dan Perkotaan. dari 8 responden anak penderita stunting 1 Jawa Timur. Diakses pada 13 Maret dengan persentase 12,5 % responden diperoleh kemungkinan mengalami cedera usus. Hal Aryanto. Dadi. Kince. tersebut ditandai dengan ditemukannya Protein Lithostathine 1 (REG 1B) dengan berat Badan Orang Tua Dengan Kejadian molekul 16 kDa. Stunting Pada Anak Usia 24-59 DAFTAR PUSTAKA