JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia https://journals. iai-alzaytun. id/index. php/jis E-ISSN: 2988-0947 Vol. 2 No. : 502-511 DOI: https://doi. org/10. 61341/jis/v2i5. ANALISIS PESAN NASIONALISME DALAM ORASI ILMIAH SYAYKH PANJI GUMILANG PADA WISUDA IAI AL-AZIS 2023 MENURUT FERDINAND DE SAUSSURE Zidan Khoirul Azmi1A. Anjar Sulistyani2. Ahmad Asrof Fitri3 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI AL-AZIS. Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia. Indramayu. Kode Pos 45264. Indonesia E-mail: zidanazmi12@gmail. com1A, anjar@iai-alzaytun. id2, asrof. fitri@gmail. Abstrak Indonesia sebagai negara dengan keberagaman etnis, agama, dan budaya sangat bergantung pada semangat nasionalisme dalam menjaga persatuan. Nilai-nilai nasionalisme ini penting untuk terus disuarakan, terutama melalui pendidikan yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Pendidikan sebagai wadah penanaman rasa cinta tanah air merupakan upaya yang perlu dilakukan. Salah satu tokoh yang sering menyuarakan pesan kebangsaan adalah Syaykh Panji Gumilang, pemimpin pondok pesantren Al-Zaytun. Dalam orasinya. Syaykh sering mengusung pesan-pesan yang mengangkat nilainilai nasionalisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pesan nasionalisme yang disampaikan Syaykh Panji Gumilang dengan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure dengan unsur penanda dan petanda. Metodologi dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan sumber data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pesan nasionalisme yang disampaikan berfokus pada pentingnya gagasan, keberanian merealisasikan gagasan, kebanggaan terhadap tanah air, menjaga persatuan dalam keberagaman, peran pemuda dalam pembangunan bangsa, lagu Indonesia Raya sebagai panduan moral, serta Pancasila sebagai kepribadian bangsa. Merujuk kepada semiotika Ferdinand de Saussure, orasi Syaykh Panji Gumilang membangun narasi nasionalisme yang kuat, di mana pemuda didorong untuk mencintai tanah air dan berani bertindak nyata dalam membangun bangsa. Kata Kunci: Nasionalisme. Orasi Ilmiah. Ferdinand de Saussure. Semiotika. Panji Gumilang Abstract Indonesia, as a country with diverse ethnicities, religions, and cultures, heavily relies on nationalism to maintain unity. These nationalist values need to be consistently promoted, particularly through education, which has a significant influence on society. Education, as a means of instilling love for the homeland, is an essential effort. One figure who frequently conveys messages of nationalism is Syaykh Panji Gumilang, leader of the Al-Zaytun Islamic boarding school. In his speeches. Syaykh often promotes messages that highlight nationalist values. This study aims to analyze the nationalism messages delivered by Syaykh Panji Gumilang using Ferdinand de Saussure's semiotic approach, focusing on the signifier and the signified. The methodology is descriptive qualitative research, with data collected through interviews, observations, and documentation. The research findings show that the nationalism messages conveyed focus on the importance of ideas, the courage to realize them, pride in the homeland, maintaining unity in diversity, the role of youth in national development, the song "Indonesia Raya" as a moral guide, and Pancasila as the national identity. Referring to SaussureAos semiotics. Syaykh Panji GumilangAos speech builds a strong nationalism narrative, encouraging youth to love the homeland and act boldly in nation-building. Keywords: Oration. Nationalism. Semiotics 502 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Zidan Khoirul Azmi. Anjar Sulistyani. Ahmad Asrof Fitri Vol. No. : 502-511 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan kekayaan budaya, etnis, agama, dan bahasa yang sangat beragam. Keberagaman ini menjadi identitas yang unik sekaligus tantangan tersendiri dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks tersebut, semangat nasionalisme menjadi elemen krusial dalam merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya, di tengah dinamika zaman yang terus berubah, semangat nasionalisme di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, menunjukkan gejala Sebagian masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap identitas nasional dan bahkan mempertanyakan legitimasi pemerintah serta kemampuan bangsanya sendiri dalam menghadapi tantangan global (Suryana, 2. Salah satu indikasi memudarnya nilai-nilai kebangsaan adalah dampak dari masa reformasi yang ditandai dengan tumbangnya Orde Baru pada tahun 1998 yang menimbulkan berbagai konflik dan menjamurnya lebih dari seratus partai politik. Perkembangan ini menyebabkan terjadinya pergeseran dari fokus pada persatuan dan kesatuan menuju berbagai kepentingan politik sektoral, baik agama, suku, ras, maupun golongan tertentu Dampak dari reformasi yang tengah berlangsung dan belum menemukan format yang ideal tersebut terus mempengaruhi langkah-langkah terpadu untuk membangun suatu Akibatnya, persoalan kebangsaan masih menjadi bahan diskusi yang hangat di berbagai forum ilmiah (Yani, 2. Persoalan mayoritas dan minoritas bukanlah masalah sederhana karena berkaitan dengan keadilan, pelayanan sosial masyarakat secara merata, serta kesempatan yang setara kepada semua orang tanpa memandang komposisi atau jumlah penduduk. Isu ini juga melibatkan kondisi obyektif penduduk yang memiliki latar belakang budaya berbeda dan jumlah yang tidak seimbang. Dalam masyarakat majemuk, tidak ada kriteria objektif atau wajar untuk membatasi agama mana yang merupakan minoritas agama dan mana yang tidak. Kriteria pembeda apa pun cenderung sewenang-wenang dan dapat menyebabkan perlakuan yang berbeda tanpa pembenaran yang wajar atau objektif-dengan demikian diskriminasi (Vieytez, 2. Di satu sisi, kelompok mayoritas merasa memiliki kontribusi besar dalam pembentukan identitas nasional, sehingga menginginkan pengakuan lebih besar atas peran tersebut. Di sisi lain, kelompok minoritas menuntut perlakuan yang setara atas dasar hak asasi manusia dan Ketegangan ketidakseimbangan sosial jika tidak dikelola secara adil dan dialogis (Umihani, 2. Di Indonesia, negara yang kaya keberagaman budaya dan etnis, memelihara kesatuan nasional menjadi sebuah tantangan yang tidak mudah. Dalam usaha untuk meningkatkan kesadaran akan identitas nasional, pesan-pesan yang mengadvokasi nasionalisme mempunyai peran penting dalam membentuk pola pikir dan sikap masyarakat. Pentingnya persiapan generasi muda agar dapat mengatasi tantangan yang dihadapi dan ikut serta dalam membangun kembali identitas bangsa (Soebhan, 2. 503 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Zidan Khoirul Azmi. Anjar Sulistyani. Ahmad Asrof Fitri Vol. No. : 502-511 Nilai-nilai nasionalisme ini penting untuk terus disuarakan, terutama melalui pendidikan yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Peran pendidikan sebagai wadah penanaman rasa cinta tanah air adalah salah satu upaya yang perlu dilakukan. Pendidikan merupakan rangkaian proses belajar yang bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan individu agar mencapai tingkat kualitas yang lebih baik. Proses ini dapat terjadi di berbagai lembaga, seperti sekolah, perguruan tinggi, atau pusat pelatihan kerja. Tujuan utama pendidikan adalah membantu individu mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memberikan kontribusi positif dalam masyarakat (Asril, 2. Tokoh publik memegang peran strategis dalam menyuarakan dan menanamkan nilainilai kebangsaan kepada masyarakat luas. Salah satu tokoh yang konsisten menyuarakan pesan-pesan nasionalisme adalah Syaykh Panji Gumilang, pemimpin Pondok Pesantren AlZaytun. Melalui berbagai forum, khususnya dalam orasi-orasi ilmiah, beliau kerap menekankan pentingnya nasionalisme sebagai bagian integral dari pembentukan karakter generasi muda. Pesan tersebut secara khusus ditujukan kepada mahasiswa agar mereka memahami dan menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan dalam menjalani peran sosialnya di tengah masyarakat. Salah satu contoh konkrit dari komitmen tersebut terlihat dalam orasi ilmiah yang beliau sampaikan pada Wisuda ke-3 Program Sarjana Institut Agama Islam AlAzis (IAI AL-AZIS) tahun 2023. Dalam kesempatan tersebut. Syaykh Panji menegaskan bahwa nilai-nilai kebangsaan merupakan fondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap individu yang ingin berkontribusi secara positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Orasi ilmiah memiliki fungsi strategis sebagai media komunikasi publik dalam membangun kesadaran kolektif, terutama di kalangan mahasiswa yang dipandang sebagai agen perubahan sosial. Melalui orasi, tokoh publik dapat menyampaikan gagasan, nilai, dan pesan-pesan kebangsaan yang relevan dengan tantangan zaman. Dalam konteks ini. Syaykh Panji Gumilang sebagai tokoh sentral di Pondok Pesantren Al-Zaytun secara konsisten menyuarakan nilai-nilai nasionalisme dalam berbagai orasi ilmiah yang ditujukan kepada Orasi semacam ini menjadi sarana penting dalam menanamkan nilai kebangsaan dan memperkuat identitas nasional di tengah masyarakat multikultural seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pesan-pesan nasionalisme yang disampaikan oleh Syaykh Panji Gumilang dalam orasi ilmiahnya, dengan menggunakan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menelaah makna-makna simbolik yang terkandung dalam bahasa lisan maupun non-verbal yang digunakan oleh orator dalam menyampaikan pesan kebangsaan. Fokus utama dari penelitian ini adalah memperdalam pemahaman mengenai bagaimana mahasiswa Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia memaknai nilai-nilai nasionalisme yang dikomunikasikan melalui orasi ilmiah tersebut. Urgensi penelitian ini terletak pada konteks sosial-politik Indonesia yang terus mengalami dinamika dan perubahan. Di tengah arus globalisasi yang kian deras, pemahaman terhadap nasionalisme perlu terus diperkuat, terutama di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, kajian ini diharapkan dapat memperkaya literatur dalam bidang semiotika dan 504 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Zidan Khoirul Azmi. Anjar Sulistyani. Ahmad Asrof Fitri Vol. No. : 502-511 wacana kebangsaan, serta membuka ruang baru dalam memahami kontribusi orasi ilmiah terhadap pembentukan kesadaran mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure, penelitian ini tidak hanya bertujuan mengidentifikasi bagaimana pesan nasionalisme dikonstruksi dan disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut diterima dan dimaknai oleh audiens. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi komunikasi yang lebih efektif dalam menyampaikan nilai-nilai kebangsaan, sekaligus memperkuat kesadaran akan identitas nasional di tengah tantangan global yang kompleks. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan pada pengamatan mendalam terhadap suatu fenomena sosial. Metode kualitatif dipilih karena mampu menggali makna, nilai, dan persepsi yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, terutama dalam konteks kajian sosial dan humaniora. Penelitian ini bersifat naturalistik dan interpretatif, dengan fokus pada pemahaman terhadap konteks, pengalaman subjektif, serta konstruksi makna dari para partisipan (Anggito, 2. Peneliti bertujuan memperoleh pemahaman yang komprehensif melalui proses pengumpulan data secara langsung, bukan melalui statistik. Pendekatan ini menggunakan paradigma induktif, yaitu menyusun hipotesis atau teori berdasarkan temuan lapangan. Penelitian bersifat multimetoda, karena menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data, seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi, untuk memperkaya interpretasi terhadap objek yang diteliti. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Dakwah angkatan 2021 di Institut Agama Islam (IAI) AL-AZIS. Fakultas ini terdiri dari dua program studi, yaitu Manajemen Dakwah (MD) sebanyak 14 mahasiswa dan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) sebanyak 38 mahasiswa, sehingga total populasi berjumlah 52 Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu penetapan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang ditentukan oleh peneliti sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam konteks penelitian kualitatif, jumlah sampel tidak menjadi fokus utama, melainkan kredibilitas, kualitas, dan kekayaan informasi yang dapat diberikan oleh partisipan (Raco, 2. Kriteria informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan kepanitiaan, karena dinilai memiliki kontribusi dan perspektif yang kuat dalam memahami isi orasi Syaykh Panji Gumilang, khususnya dalam konteks pesan-pesan nasionalisme. Berdasarkan kriteria tersebut, peneliti menetapkan 6 orang informan, terdiri dari 3 mahasiswa program studi KPI dan 3 mahasiswa program studi MD. Diharapkan para informan ini mampu memberikan data yang relevan, reflektif, dan memperkaya pemahaman terhadap konteks orasi yang dikaji. 505 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Zidan Khoirul Azmi. Anjar Sulistyani. Ahmad Asrof Fitri Vol. No. : 502-511 HASIL DAN PEMBAHASAN Orasi ilmiah yang disampaikan oleh Syaykh Panji Gumilang mengandung nilai-nilai nasionalisme yang mendalam, yang dapat dijadikan pembelajaran oleh para wisudawan maupun mahasiswa aktif. Perkembangan pesan nasionalisme akan dijelaskan berdasarkan komentar dari responden mahasiswa angkatan 2021 khususnya program studi fakultas dakwah terhadap teks orasi ilmiah. Berikut ini adalah pengkajian data dari orasi Syaykh yang ditranskripsi menjadi teks untuk menggambarkan pesan nasionalisme yang menjadi fokus penelitian, melalui unsur penanda (Signifie. dan petanda . Dalam penelitian ini orasi Syaykh adalah sebuah tanda . , menurut Saussure tanda merupakan aspek material berupa suara, gambar, huruf, gerak, dan bentuk. kemudian penanda . merupakan aspek material berupa bahasa, apa yang dibaca, ditulis atau yang dikatakan, didengarkan, pada penelitian ini responden atau mahasiswa yang memproses tayangan baik membaca, melihat, atau mendengar merupakan penanda . , kemudian terciptalah sebuah konsep pemikiran para responden yang merupakan petanda . Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, dalam orasi ilmiahnya secara konsisten menyampaikan pesan-pesan nasionalisme yang kuat dan relevan bagi generasi muda Indonesia. Diantaranya sebagai berikut: Peran Gagasan dalam Kemajuan Suatu Bangsa Pada dasarnya manusia memiliki kemampuan atau akal secara natural untuk memecahkan suatu masalah, seiring dengan perkembangan zaman masalah yang baru dapat bermunculan, namun manusia memiliki kemampuan beradaptasi untuk memecahkan masalah, dengan begitulah suatu peradaban tercipta dan terus berkembang, dalam hal ini manusia membutuhkan kreativitas, gagasan, atau ide yang harus terus dikembangkan. Dalam orasi ilmiah Syaykh Panji Gumilang mengatakan Ausesuatu yang bisa menguasai dunia, menaklukan dunia tanpa harus berkuasa dalam satu kekuasaan, itulah gagasan. Ay Syaykh menekankan bahwa sebuah gagasan dapat menguasai dunia, bahkan dapat menaklukan apa saja tanpa harus berkuasa atau duduk di kursi kekuasaan. Ini menggambarkan bahwa gagasan memiliki kekuatan yang besar, bahkan lebih besar daripada kekuasaan itu sendiri. Gagasan atau ide yang telah dikemukakan oleh Syaykh ini sejalan dengan pernyataan Herlambang, yang menyatakan gagasan adalah AusenjataAy yang dapat AumemerdekakanAy (Herlambang, 2. Dalam konteks nasionalisme di Indonesia, gagasan ini dapat diartikan bahwa pada zaman penjajahan Belanda maupun Jepang, pemuda Nusantara memiliki semangat juang untuk merdeka. Gagasan yang dimiliki oleh setiap pemuda Nusantara adalah gagasan untuk merdeka atau melepaskan diri dari penjajahan. Selain dari persamaan suku bangsa, bahasa, agama. Adat dan budaya, gagasan ini didasari oleh kesadaran sejarah bahwa wilayah Britania. Borneo Utara, dan Hindia Belanda dahulu pernah dipersatukan dalam sebuah kerajaan besar seperti Sriwijaya. Majapahit. Kesultanan Malaka, dan Kesultanan Johor-Riau. Kemudian dalam mempersatukan ras, suku, dan budaya, dicetuskanlah Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dengan tujuan mempersatukan bangsa Indonesia dalam satu tanah 506 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Zidan Khoirul Azmi. Anjar Sulistyani. Ahmad Asrof Fitri Vol. No. : 502-511 air, satu bangsa, dan satu bahasa. Gagasan ini berhasil dicapai pemuda bangsa Indonesia atau merdeka pada tahun 1945 hingga sekarang dengan tanda pidato Ir. Soekarno presiden pertama negara Indonesia, dengan demikian pesan syaykh dalam tayangan pertama sudah jelas, bahwa dalam perkembangan zaman yang sangat cepat ini, kemudian lebih lanjut Syaykh Panji Gumilang mengatakan AuMaka gagasan ini tidak bisa ditembus oleh siapapun karena dimiliki oleh orang per-orang. Ay Peran gagasan dalam kemajuan suatu bangsa sangat besar karena dimiliki oleh orang-perorang. Pentingnya Keberanian Merealisasikan Gagasan Seperti yang diungkapkan oleh Dahlan, jika siswa berani menyampaikan pendapatnya maka akan tumbuh rasa percaya diri pada dirinya sehingga siswa berani untuk bertanya atau mengungkapkan pendapatnya (Dahlan R. , 2. Dalam hal ini Syaykh juga mengajak mahasiswa meneruskan gagasan untuk mendidik bangsa Indonesia. Pada tayangan orasi ilmiah Syaykh Panji Gumilang menekankan bahwa sebuah gagasan tidak perlu takut jika masih dalam suatu aturan Augagasan itu tidak perlu takut, orang yang punya gagasan dia akan berani dalam relAy, bahkan jika terdapat gagasan yang lebih bagus gagasan ini harus terus berlanjut mengikuti perkembangan zaman yang tujuannya untuk mendidik di tanah air. Dalam konteks ini. Syaykh Panji Gumilang mendorong para mahasiswa untuk tidak takut mewujudkan gagasan mereka, karena kemajuan bangsa membutuhkan realisasi dari ide-ide pemuda bangsa untuk kesejahteraan. Keberanian untuk merealisasikan suatu gagasan diperlukan ilmu yang mumpuni, maka dari itu pendidikan sangat dibutuhkan untuk menambah pengetahuan, yang akhirnya timbul kesadaran. Syaykh Panji Gumilang juga menekankan dalam kemajuan zaman, perkembangan sebuah gagasan tidak perlu takut, seharusnya gagasan bisa mengikuti perkembangan zaman yang tujuannya mendidik pemuda Kebanggaan terhadap Tanah Air Salah satu elemen penting dari pesan nasionalisme Syaykh adalah kebanggaan terhadap tanah air. Indonesia. Kebanggaan ini tidak hanya diwujudkan melalui cinta kepada tanah air, tetapi juga melalui kontribusi intelektual dan inovasi. Syaykh Panji Gumilang menekankan, bahwa dalam keberlanjutan gagasan mendidik di tanah air Indonesia ini, kita berdoAoa bukan hanya mendoAoakan orang yang telah meninggal. Seharusnya kita juga mendoAoakan bangsa Indonesia untuk keberlanjutan tanah air Indonesia. AuSupaya bisa sustainable, itu doanya jangan doa mengubur orang tapi untuk mensustainablekan orang, maka diatas bumi, camkan Aumin-ha KhalaqnakumAy dari tanah air Indonesia engkau dilahirkan. Auwa minha nuAoidukumAy hasil apapun kembalikan pada tanah airmu. Auwa min-ha nukhrijukum taratan ukhraAy dari Indonesia kita akan bangkit kembali masuk ke tatanan dunia baru yang bahagiaAy. Dalam kutipan tersebut. Syaykh menyampaikan bahwa doa bukan hanya dipanjatkan untuk yang wafat, tetapi juga untuk keberlangsungan kehidupan dan masa depan bangsa. Ini menunjukkan bentuk nasionalisme spiritual yang jarang dibahas dalam kajian kebangsaan. 507 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Zidan Khoirul Azmi. Anjar Sulistyani. Ahmad Asrof Fitri Vol. No. : 502-511 Seperti yang diungkapkan oleh Handayani, menanamkan rasa cinta tanah air sangat penting bagi setiap warga negara. Tujuannya agar warga negara ini merasa bangga dan benar-benar mencintai tanah airnya, menumbuhkan jiwa sosial dan toleransi terhadap perbedaan yang sudah ada (Handayani, 2. Syaykh Panji Gumilang mengungkapkan, upaya beliau dalam menanamkan kecintaan atau mengembalikan jerih payah kepada tanah air ini dilakukan beliau melalui pendidikan. Syaykh mengatakan untuk apa itu MaAohad AlZaytun, ini adalah landasan kecintaan terhadap tanah air, karena dalam Mars yang ditulis menekankan bahwa hidup bersama itu penting Auhidup bersama ini penting, jangan pakai di embel-embel apapun hidup bersama itu, jangan di embeli agama, ideologi, apapun, lepaskan itu semua, hidup bersama. Ay, namun untuk dapat hidup bersama itu tidak perlu memprioritaskan lagi agama atau ideologi apapun, untuk hidup bersama diperlukan akhlak dan morality. Menjaga Persatuan dalam Keberagaman Pesan nasionalisme yang disampaikan oleh Syaykh Panji Gumilang juga menekankan pentingnya menjaga persatuan bangsa tanpa memandang perbedaan agama, suku, atau ras. Pada tayangan keenam. Syaykh Panji Gumilang mengatakan memahami dasar negara sampai hari ini belum tuntas, namun meyakininya sudah. Bangsa ini belum memahami dasar negara yang sebenarnya sudah dicetuskan oleh pemuda melalui Pancasila. Syaykh mengatakan bahwa dari Pancasila sila pertama sudah bisa mewadahi agama-agama yang ada di Indonesia, yaitu ketuhanan yang Maha Esa. Syaykh Panji Gumilang menekankan kepada mahasiswa untuk menggalang persatuan Indonesia di atas persatuan lainnya. AuSaudara-saudara khususnya ini yang IAI. Jangan sampai persatuan Indonesia ini kamu rubah dengan persatuan islam. Kamu sudah islam tidak usah dipersatukan, karena innamal Mukminuna ikhwah bersahabat, persatuan Indonesia yang harus kita galang. Ay Persatuan menjadi sangat penting ketika suatu bangsa dihadapakan dalam keberagaman yang memiliki potensi terpecah belahnya suatu bangsa. Dampak negatif dari keberagaman mengakibatkan ketidakharmonisan bahkan kehancuran bangsa dan negara. Munculnya perasaan kedaerahan dan kesukuan yang berlebihan dan dibarengi tindakanyang dapat merusak persatuan, dapat mengancam keutuhan NKRI (Mandasari, 2. Peran Pemuda dalam Membangun Bangsa Dalam pencarian moral bangsa Indonesia. Syaykh Panji Gumilang menekankan kepada mahasiswa untuk melihat apa moral bangsa Indonesia, ini ditunjukkan beliau pada tayangan orasi. Syaykh mengatakan bahwa moral bangsa Indonesia ini lahir pada tahun 1928 oleh Moral pemuda ketika itu, ialah menunjukkan diri dengan rasa percaya diri dan bangga terhadap pencapaiannya. Dari pesan yang disampaikan oleh Syaykh Panji Gumilang, kita harus ingat bahwa dahulu pemuda-pemuda bangsa memiliki kepercayaan diri untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu, sebagai mahasiswa atau pemuda penerus bangsa kita harus memiliki kepercayaan yang sama dengan pemuda era kemerdekaan, yang memiliki cita-cita untuk kesejahteraan Indonesia. Syaykh Panji Gumilang menekankan, jangan pernah mengatakan dengan rasa bangga aku dari kelompok ini, dari keturunan dan lain sebagainya. Menurut Sabiq. Ke depan pemuda akan menjadi tulang punggung bangsa, dimana melalui tangan 508 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Zidan Khoirul Azmi. Anjar Sulistyani. Ahmad Asrof Fitri Vol. No. : 502-511 pemuda inilah pembangunan negeri ini terus berkembang. Pemuda dipandang sebagai agen perubahan yang memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan ide-ide kreatif demi kemajuan bangsa (Sabiq, 2. Lagu "Indonesia Raya" sebagai Panduan Moral Bangsa Dalam upaya perjuangan pemuda dengan gagasan untuk memerdekakan Indonesia, lagu kebangsaan mendapatkan peran penting sebagai alat pemersatu. Karena ketika itu pemuda bertanya-tanya bangsa yang seperti apa yang akan dibangun, ketika itu Wage Rudolf Soepratman seorang wartawan dan komponis mempersembahkan lagu Indonesia Raya pada tahun 1928 saat kongres pemuda II yang digelar di Batavia, yang kemudian dijadikan sebagai lagu nasional bangsa Indonesia hingga sekarang. Ini mengartikan pengaruh gagasan yang ditulis menjadi lagu kebangsaan, dapat memberikan semangat kepada pemuda, memberikan jalan kepada pemuda untuk dapat Dalam penulisan lirik lagu kebangsaan Indonesia raya. WR. Soepratman menulisnya menjadi 3 stanza, dengan awal penggalan pertama AuIndonesia tanah airku tanah tumpah darahku, disanalah aku berdiri jadi pandu ibukuAy, penggalan kedua AuIndonesia tanah yang mulia, tanah kita yang kaya, disanalah aku berdiri untuk selama-lamanyaAy, dan penggalan ketiga AuIndonesia tanah yang suci tanah kita yang sakti, disanalah aku berdiri jaga ibu sejatiAy. Namun pada saat ini bangsa Indonesia menyanyikan lagu kebangsaan dengan stanza 1 saja. Syaykh berpesan andainya 3 stanza ini dijadikan landasan untuk hidup berkepribadian dapat menghantarkan anak bangsa menjadi anak yang sopan, yang santun, berbudi pekerti. Aulagu indonesia raya adalah starting point bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang di merdekakan kemudian. andainya ini dijadikan landasan untuk hidup berkepribadian Indonesia, bisa menghantarkan anak bangsa ini menjadi bangsa yang sopan, yang santun, yang berbudi pekerti, yang berakhlak dan lain-lain. Ay Seperti ungkapan pernyataan Hadi. Lagu AuIndonesia RayaAy memiliki nilai moral sebagai pengukuh kesadaran berbangsa dan menjadi refleksi atas penumbuhan kesadaran, mengaspirasikan, serta mengimplementasikan rasa kebangsaan warga bangsa Indonesia (Hadi, 2. Kepribadian Bangsa yang Berlandaskan Pancasila Kepribadian bangsa adalah sekumpulan karakteristik, perilaku yang mencerminkan identitas suatu bangsa. Maka setelah merdeka atau pemuda bangsa Indonesia menyatakan merdeka, para pemuda memikirkan Indonesia yang seperti apa yang akan dijalankan. Indonesia yang memiliki kepribadian seperti apa atau cermin daripada bangsa ini seperti apa yang kemudian keluarlah periambul Pancasila pada tanggal 18 agustus 1945 atau setelah Berikut ini adalah ungkapan Syaykh yang menekankan nilai Pancasila: AuIngin tahu Indonesia bacalah fathiahnya, bacalah priambulnya. Inti didalamnya adalah dasar apa Indonesia ini nanti? Dalam berambul disebutkan berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan seterusnya mewujudkan suatu keadilan sosial, mewujudkan baca periambul 509 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Zidan Khoirul Azmi. Anjar Sulistyani. Ahmad Asrof Fitri Vol. No. : 502-511 bukan hanya keadilan sosial tapi aktif mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ay Dalam tayangan orasi ilmiah. Syaykh Panji Gumilang mengajak untuk melihat apa yang sebenarnya diharapkan pemuda kepada bangsa Indonesia. Pemuda bangsa Indonesia mengharapkan bangsa Indonesia ini berkepribadian yang dilandaskan pada Pancasila, yang berdasar kepada ketuhanan yang Maha Esa sebagai wadah agama, setelah memiliki kepribadian toleransi akan muncul kemanusiaan yang adil dan beradab yang kemudian tercipta persatuan Indonesia, setelah semua bersatu dalam satu kesatuan Indonesia Raya akan tampil kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dan berusaha mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Ramadhan. Pancasila merupakan inti dan karakteristik bangsa Indonesia, sehingga penduduk Indonesia menerapkan dan mengamalkan prinsipprinsip yang terkandung dalam Pancasila sebagai upaya pertama dalam kehidupan berkelompok, berbangsa, dan bernegara (Ramadhan, 2. Pancasila menjadi landasan utama untuk menciptakan keselarasan dan kesejahteraan sosial dalam kehidupan berbangsa. Pesan-pesan nasionalisme yang disampaikan oleh Syaykh Panji Gumilang melalui orasi ilmiahnya mencerminkan fondasi kuat bagi pembentukan karakter generasi muda. Jika pesan-pesan ini berhasil diinternalisasi oleh mahasiswa, yakni menjadikan gagasan sebagai kekuatan utama, memiliki keberanian bertindak, mencintai tanah air melalui doa, menjunjung pendidikan sebagai perekat persatuan, menyadari peran strategis pemuda, serta menghayati makna lagu kebangsaan, maka akan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berintegritas tinggi dan memiliki jiwa kebangsaan yang kuat. Generasi inilah yang akan menjadi pilar dalam menjaga keutuhan bangsa serta mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat KESIMPULAN Pesan nasionalisme yang disampaikan syaykh meliputi peran gagasan dalam kemajuan suatu bangsa, keberanian dan komitmen dalam merealisasikan gagasan, kebanggaan terhadap tanah air, menjaga persatuan dalam keberagaman, peran pemuda dalam membangun bangsa, lagu kebangsaan Indonesia raya sebagai panduan moral bangsa, dan kepribadian bangsa yang berlandaskan Pancasila. Merujuk kepada semiotika Ferdinand de Saussure khusunya pada unsur penada . dan petanda . Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang juga berpesan tidak hanya tersurat melalui kata-kata, tetapi juga tersirat melalui simbol-simbol dan gagasan yang menekankan pentingnya persatuan, kebanggaan terhadap tanah air, dan peran penting pemuda dalam menjaga keberlanjutan Indonesia. DAFTAR RUJUKAN Anggito. Metodologi penelitian kualitatif. CV Jejak (Jejak Publishe. 510 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Zidan Khoirul Azmi. Anjar Sulistyani. Ahmad Asrof Fitri Vol. No. : 502-511 Asril. Peningkatan Nilai-Nilai Demokrasi dan Nasionalisme Pada Mahasiswa Melalui Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 1300-1309. Dahlan R. Keberanian Mengemukakan Pendapat dan Pemahaman Siswa. Journal on Education, 775-778. Hadi. Trilogi Moral Utilitarianisme Lagu Kebangsaan AuIndonesia Raya. Jurnal Etika Terapan, 4-13. Handayani. Pentingnya Penerapan Rasa Cinta Tanah Air Bagi Siswa Sekolah Dasar. SNHRP, 2257-2264. Herlambang. Peran Kreativitas Generasi Muda dalam Industri Kreatif Terhadap Kemajuan Bangsa. Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi (Temati. , 61-71. Mandasari. Persatuan Dalam Keberagaman. Science and Education Journal (SICEDU), 340-345. Raco. Metode penelitian kualitatif: jenis, karakteristik dan keunggulannya. Ramadhan. Peran Pancasila dalam Membangkitkan Jiwa Nasionalisme. Borneo Law Review, 197-205. Sabiq. Peran Pesantren dalam Membangun Moralitas Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta, 16-30. Soebhan. Relasi Nasionalisme dan Globalisasi Kontemporer. Pustaka Pelajar, 110. Suryana. Lunturnya rasa Nasionalisme pada Anak Mileneal Akibat Arus Modernisasi. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 598-602. Umihani. Problematika Mayoritas dan Minoritas Dalam Interaksi Sosial Antar Umat Beragama. Tazkiya, 248-268. Vieytez. Minorities and Human Rights: Gaps and Overlaps in Legal Protection. Religions, 1-15. Yani. Nationalism thoughts of Ahmad Hassan. Isa Anshary, and M. Natsir: A study of the works of Islamic thinkers in the city of Bandung. Indonesia. Cogent Social Sciences, 1-11. 511 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S