Jurnal Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang. Jawa Timur. Indonesia p-ISSN 2085-6873 | e-ISSN 2540-9271 Edisi Februari 2025. Volume 16. Nomor 1, pp 38-46 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN ENTOMOLOGI AWETAN SERANGGA BERBASIS RESIN POLYESTER Arman Adrian Maulana. Denia Rista Damayanti. Fryan Krisnaya Gumilang. Auliya Fatihatuz Zanuba. Dita Megasari* Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur. Jl. Rungkut Madya No. Kota Surabaya. Jawa Timur. Indonesia * corresponding author | email : dita. agrotek@upnjatim. Received: 27 November 2024 Accepted: 10 Februari 2025 ABSTRAK Published: 28 Februari 2025 doi http://dx. org/10. 17977/um052v16i1p38-46 Pembelajaran entomologi yang dilaksanakan di sekolah menengah maupun perguruan tinggi menggunakan spesimen serangga sebagai objek atau media pembelajaran. teknik pengawetan yang jamak digunakan tidak dapat menjamin spesimen serangga bertahan lama. Hal tersebut berdampak pada visualiasi spesimen yang terkadang mengalami perubahan, seperti perubahan ukuran dan warna. Hal tersebut berakibat pada kurangnya kecakapan mahasiswa ketika dihadapkan pada permasalahan di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur pada bulan Juni 2024 Ae Oktober 2024. Penelitian desain pendidikan dimulai dengan pembuatan awetan serangga berbasis resin, penilaian kualitas awetan menggunakan skala likert, dan validasi ahli. peningkatan konsentrasi katalis tidak menyebabkan pengaruh terhadap kualitas spesimen secara kumulatif. Validasi ahli materi dan ahli media menunjukan bahwa pengembangan media pembelajaran awetan serangga berbasis resin tergolong sangat layak dengan persentase 91,4% dan 95%. Kata Kunci : awetan serangga, resin, entomologi, media pembelajaran Entomology learning carried out in high schools and universities uses insect specimens as objects or learning media. Commonly used preservation techniques cannot guarantee that insect specimens will last long. This has an impact on the visualization of specimens, which sometimes change, such as changes in size and color. This results in a lack of student skills when faced with problems in the field. The research was conducted at the National Development University "Veteran" East Java in June 2024 October 2024. Educational design research began with the manufacture of resin-based insect preservation, assessment of the quality of preservation using a Likert scale, and expert validation. Increasing the concentration of catalyst did not affect the cumulative quality of the specimen. Validation by material experts and media experts showed that the development of resinbased insect preservation learning media was classified as very feasible with a percentage of 91. 4% and 95%. Keywords : Insect preservation, resin, entomology, learning media Pendikan menjadi salah satu sarana bagi individu untuk senantiasa menggali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Media pembelajaran menjadi alat penting dalam proses pendidikan karena dapat memperlancar penyampaian pesan dan materi oleh pengajar. Pentingnya media pembelajaran adalah mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar karena materi dapat disampaikan secara lebih interaktif (Asmara et al. , 2. , dibandingan dengan metode konvensional seperti ceramah di dalam kelas. Terdapat relevansi antara media pembelajaran dengan disiplin ilmu entomologi, yang mana penggunaan media pembelajaran seperti spesimen serangga asli mampu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam hal observasi, berpikir kritis dan http://journal2. id/index. php/jpb journal@um. A copyright The Author. , published by Universitas Negeri Malang. This work licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. https://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pendidikan Biologi | Vol. No. Februari 2025, pp. Maulana, dkk | Pengembangan Awetan Serangga Lumowa & Purwati . mendefinisikan entomologi sebagai ilmu terapan biologi dengan fokus pada kajian mengenai serangga atau arthropoda dalam kelas insekta. Pembelajaran entomologi sangatlah penting khususnya bagi mahasiswa dengan disiplin ilmu biologi terapan seperti pertanian. Hal tersebut tidak terlepas dari peranan serangga yang sangat krusial dalam ekosistem, baik bersifat menguntungkan . enyerbuk/polinator, predator dan pengurai/dekompose. maupun merugikan . (Kalshoven, 1. Pembelajaran entomologi yang dilaksanakan di sekolah menengah maupun perguruan tinggi menggunakan spesimen serangga sebagai objek atau media pembelajaran. Namun sering kali peserta didik dan pengajar dihadapkan pada beberapa tantangan khususnya dalam hal ketersediaan spesimen serangga yang tidak menentu. Spesimen serangga yang digunakan sebagai media pembelajaran biasanya diawetkan untuk dapat digunakan secara berulang. Teknik pengawetan serangga dilakukan melalui dua cara yaitu melalui pengawetan kering dan pengawetan basah. Pengawetan kering dilakukan dengan mengeringkan spesimen serangga hingga mencapai kadar air yang sangat rendah, sehingga organisme penghancur tidak dapat bekerja. Pengawetan basah dapat dilakukan dengan mengawetkan objek biologi pada larutan pengawet. Namun teknik pengawetan yang jamak digunakan tidak dapat menjamin spesimen serangga bertahan lama. Hal tersebut berdampak pada visualisasi spesimen yang terkadang mengalami perubahan, seperti perubahan ukuran dan warna. Hal tersebut berakibat pada kurangnya kecakapan mahasiswa ketika dihadapkan pada permasalahan di lapangan. Permasalahan tersebut diperburuk dengan metode pengajaran yang didominasi oleh metode ceramah dengan menggunakan power point sebagai bahan pembelajaran, sehingga mahasiswa kurang memiliki kemampuan berpikir kritis dan hanya melihat fenomena melalui satu sudut pandang Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gowasa et al. yang menunjukkan bahwa sistem pembelajaran dengan menggunakan media power point menghasilkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan retensi memori yang lebih rendah dibandingkan dengan media video. Power point juga mengharuskan pengajar memiliki keterampilan khusus dalam menyampaikan pesan atau ide melalui desain yang menarik sehingga pesan lebih mudah diterima oleh peserta didik (Syah & Hidayatullah, 2. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu metode guna meningkatkan mutu pembelajaran dan soft skill mahasiswa sebagai peserta didik. Penelitian yang dilakukan Lestari . menunjukkan bahwa media pembelajaran berupa spesimen mampu meningkatkan motivasi, semangat dan ketertarikan peserta didik pada materi pembelajaran. Inovasi media pembelajaran berupa awetan spesimen serangga berbasis resin diharapkan menjadi solusi atas permasalahan yang telah diuraikan di atas. Resin adalah senyawa organik hasil metabolisme sekunder yang tersusun atas karbonat, sedangkan katalis adalah bahan tambahan yan beruna mempercepat proses polimerisasi (Handayani et al. , 2. Masyarakat mengenal resin sebagai bahan peris perekat dan pelapis karena sifatnya yang tidak mudah menyerap air. Sifat tersebut membuat resin menjadi material yang sesuai sebagai bahan pengawetan spesimen serangga, yang mana awetan spesimen biologi dalam resin dikenal sebagai resin bioplastik (Suryana & Putra, 2. Walaupun cukup mudah dibuat, awetan serangga dalam blok resin membutuhkan keterampilan dan pengetahuan untuk mendapatkan hasil yang baik, termasuk perbandingan resin dan katalis terbaik untuk mempertahankan sifat spesimen. Oleh karena itu hasil penelitian ini diharapkan mampu menciptakan inovasi awetan serangga yang memiliki ketahanan lebih baik dengan visual yang terjaga. Selain itu adanya tambahan informasi terkait bioekologi dan taksonomi diharapkan mampu meningkatkan efektivitas awetan serangga sebagai media pembelajaran terutama dalam pembelajaran entomologi. METODE Penelitian dilaksanakan di Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur pada bulan Juni 2024 Ae Oktober 2024. Metode penelitian menggunakan metode Penelitian Desain Pendidikan (Educational design researc. yang dimulai dengan pembuatan awetan serangga berbasis resin, penilaian kualitas awetan menggunakan skala likert, dan validasi ahli. Pembuatan awetan serangga berbasis resin dilakukan dengan metode sebagai berikut: Spesimen serangga dikoleksi dari area pertanian dan agroforestri di Jawa Timur. Koleksi serangga menggunakan teknik penangkapan langsung dengan menggunakan jaring serangga . weeping techniqu. dan tangan . and collectin. Spesimen serangga yang berhasil ditangkap diletakkan ke dalam killing jar dengan bahan aktif ethyl acetate (CH3CO2 A C2H. Menurut Schauff . , ethyl Jurnal Pendidikan Biologi | Vol. No. Februari 2025, pp. Maulana, dkk | Pengembangan Awetan Serangga acetate dipilih sebagai bahan aktif dalam toples pembunuh serangga karena mampu membunuh serangga secara cepat, namun kurang berbahaya bagi manusia dibandingkan dengan bahan aktif Serangga yang telah mati kemudian dikeringkan dengan lampu inkubator selama 24 jam Ae 120 jam bergantung pada spesimen serangga. Namun sebelum pengeringan dilakukan, perlu adanya pengaturan postur serangga sehingga morfologi serangga dapat terlihat dengan jelas. Pembuatan resin bioplastik didasarkan pada penelitian Suryana & Putra . yang dimodifikasi berdasarkan penelitian pendahuluan yang sudah dilakukan. Pembuatan resin melalui tiga tahapan yaitu pembuatan lapisan dasar, lapisan ikat dan lapisan penutup. Perlakuan resin terdiri dari empat perlakuan dengan formulasi resin poliester dan katalis yang berbeda (Tabel . Penelitian dilakukan dengan tiga spesies serangga sebagai ulangan. Spesies serangga yang digunakan adalah kumbang tanduk (Xylotrupes gideo. , capung jala bercak lurus (Neurothemis terminat. dan kupu-kupu pesiar malaya (Vindula dejon. Tabel 1. Perbandingan Perlakuan Resin Poliester dan Katalis No. Perlakuan Katalis Resin Poliester Kontrol Pengawetan Kering 0,50 ml 100 ml 0,75 ml 100 ml i 1,00 ml 100 ml 1,25 ml 100 ml Penelitian difokuskan pada dua topik penelitian yaitu evaluasi komposisi awetan resin terhadap kualitas awetan serangga sebagai dasar dalam analisis kelayakan produk dan validasi ahli untuk mengetahui kesesuaian produk sebagai media pembelajaran. Jenis penelitian yang digunakan adalah educational design research. Data dikumpulkan dengan beberapa tahapan yaitu: Penilaian kualitas awetan serangga pada berbagai kombinasi resin-katalis dengan menggunakan skala likert seperti yang tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Skala Likert Kualitas Awetan Serangga berbasis Resin No. Kualitas Awetan Skala Warna Sayap Warna sama Warna memudar Warna berubah Warna memudar dan berubah Kondisi Serangga Bagian serangga lengkap Sebagian kecil patah Sebagian besar patah Patah seluruhnya Kejernihan Sangat jelas Jelas Kurang jelas Sangat tidak jelas Tanggapan dan validasi ahli . xpert appraisa. melalui pengisian lembar angket tertutup. Kriteria kualitatif dalam validasi ahli berdasarkan pada penelitian Arikunto & Jabar . seperti yang tertulis pada Tabel 3. Ahli terbagi menjadi dua ahli yaitu ahli materi dan ahli media. Ahli materi dan ahli media yang dipilih merupakan dosen mata kuliah entomologi dan laboran Program Studi Agroteknologi UPN AuVeteranAy Jawa Timur. Perhitungan persentase angket menggunakan rumus sesuai dengan penelitian (Reza et al. , 2023: . Skor = !"#$%& (%)%*% ,-. /0 1- 230, 4-,45 665 x 100% . Jurnal Pendidikan Biologi | Vol. No. Februari 2025, pp. Maulana, dkk | Pengembangan Awetan Serangga Tabel 3. Tolok Ukur Validasi Ahli No. Interval (%) Kriteria 81 Ae 100 Sangat Layak 61 Ae 80 Layak 41 Ae 60 Cukup Layak 21 Ae 40 Tidak Layak < 21 Sangat Tidak Layak Analisis data diperlukan untuk mengetahui hubungan antara perlakuan terhadap variabel pengamatan yaitu warna, kondisi, dan kejernihan. Uji statistik yang dipilih berdasarkan pengujian statistik yang telah dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan nilai signifikansi 0,05 dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS 2. 2 (Suryana & Putra, 2. Jika dalam pengujian terdapat pengaruh yang nyata maka dilanjutkan dengan pengujian Tukey. HASIL DAN PEMBAHASAN Prototipe Produk Produk dibuat dengan tetap memperhatikan kesesuaian dengan materi pembelajaran dan unsur Selain spesimen serangga sebagai objek utama juga ditambahkan beberapa informasi mengenai spesies serangga yang diawetkan. Informasi yang dicantumkan meliputi nama umum, ordo, famili, nama latin/spesies, peran serangga dalam ekosistem dan bioekologi serangga (Gambar . Media pembelajaran awetan serangga berbasis resin yang dilengkapi dengan informasi mengenai spesimen mempermudah peserta didik mengamati karakteristik dan morfologi setiap spesimen (Pratami et al. , 2. Penggunaan awetan serangga berbasis resin yang dipadukan dengan kegiatan praktikum diketahui mampu meningkatkan ketertarikan mahasiswa terhadap materi pembelajaran. Peningkatan ketertarikan pada materi pembelajaran memicu mahasiswa untuk dapat mengetahui lebih banyak hal mengenai topik pembelajaran dari literatur yang beragam. Media pembelajaran dapat meningkatkan minat peserta didik untuk mempelajari hal baru dan menjadi rangsangan dalam proses pembelajaran (Nurfadhillah et al. , 2. Di lain sisi pengenalan mengenai awetan serangga berbasis resin sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik mengenai metode preservasi lainnya selain metode preservasi konvensional yang sudah jamak digunakan. Gambar 1. Prototipe Produk Awetan Serangga Berbasis Resin Kualitas Produk Hasil pengujian statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai p (Asymp. Sig. sebesar 0,905, yang lebih besar daripada tingkat signifikansi 0,05. Nilai p yang lebih besar dari 0,05 tersebut mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara perlakuan yang diujikan. Dengan kata lain, perbedaan yang teramati dari beberapa parameter pengamatan antara perlakuan peningkatan konsentrasi katalis tidak cukup besar sehingga tidak dikategorikan sebagai perbedaan yang signifikan berdasarkan statistik (Tabel . Meskipun hasil uji statistik rata-rata skor kumulatif setiap perlakuan menunjukkan tidak adanya perbedaan antar perlakuan (Gambar . , namun skor individual setiap parameter menunjukkan adanya kelebihan dan kekurangan yang spesifik pada setiap perlakuan dan masing-masing ulangan. Parameter individual . Jurnal Pendidikan Biologi | Vol. No. Februari 2025, pp. Maulana, dkk | Pengembangan Awetan Serangga menunjukan pengaruh perlakuan terhadap setiap ulangan yang bersifat spesifik. Pengaruh spesifik tersebut berasal dari toleransi spesimen serangga terhadap reaksi katalis dan resin poliester yang berbeda-beda. Tabel 4. Hasil Pengujian Statistik Kruskal Wallis Skor Kumulatif Chi-Square 1,030 Derajat Bebas Asymptotic Significance Gambar 2. Nilai kumulatif perlakuan berdasarkan spesimen serangga Kualitas awetan serangga berbasis resin diamati secara visual dengan membandingkan spesimen serangga dalam blok resin dengan perlakuan kontrol berupa pengawetan kering. Hasil pengamatan kualitas hasil awetan meliputi warna, keutuhan morfologis, dan kejernihan atau kejelasan sebagaimana disajikan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi katalis tidak menyebabkan pengaruh terhadap kualitas spesimen secara kumulatif. Umumnya perubahan warna dapat terjadi akibat peningkatan suhu ketika proses pengerasan resin sebagai reaksi kimia antara katalis dan resin. Menurut Yu . peningkatan suhu dalam pemadatan resin poliester adalah hal yang umum terjadi dan justru memegang peranan yang cukup krusial, karena ketika suhu meningkat ikatan polimer akan berubah menyerupai kaca. Pengamatan terhadap parameter secara individual menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi katalis berpengaruh terhadap warna sayap capung jala bercak merah (Neurothermis terminat. , yang mana peningkatan konsentrasi menyebabkan perubahan warna sayap menjadi lebih transparan. Pada konsentrasi katalis tertinggi . ,25 m. hampir seluruh sayap capung mengalami perubahan warna, sebaliknya pada konsentrasi katalis yang lebih rendah perubahan warna pada sayap capung mengalami penurunan hingga tidak terjadi perubahan pada konsentrasi terendah . ,50 m. Kualitas warna pada spesimen lainnya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pada parameter keutuhan morfologi, perlakuan kontrol memiliki ketahanan yang lebih rendah dibanding spesimen dalam Bagian yang rentan mengalami kerusakan meliputi tungkai, sayap dan antena yang mudah Pada parameter kejelasan atau kejernihan, seluruh perlakuan resin dan katalis memiliki penampakan tidak sebaik perlakuan kontrol. Kejernihan resin lebih dipengaruhi oleh proses finishing berupa pengamplasan dan pemolesan resin. Tingkat kejelasan juga dapat dilakukan melalui pengamatan menggunakan mikroskop stereo untuk observasi yang lebih mendetail (Bejcek et al. Metode pengawetan ini dapat digunakan sebagai alternatif pengawetan spesimen organisme secara modern berbasis polimer untuk keperluan pendidikan dan penelitian. Menurut Ghazwan . pengawetan berbasis plastik dan polimer menjadi teknik pengawetan dengan biaya terjangkau serta sejalan dengan modernitas pekerjaan dalam era polimer. Jurnal Pendidikan Biologi | Vol. No. Februari 2025, pp. Maulana, dkk | Pengembangan Awetan Serangga Tabel 5. Preservasi Serangga pada Berbagai Konsentrasi Katalis Konsentrasi Katalis Spesimen Kontrol 0,50 ml 0,75 ml Xylotrupes 1,00 ml 1,25 ml Neurothemis Vindula Validasi Ahli Materi Validasi ahli materi melibatkan dua ahli materi dengan latar belakang dosen mata kuliah entomologi di UPN AuVeteranAy Jawa Timur. Validasi ahli materi berguna untuk mengetahui kesesuaian media pembelajaran yang dibuat dengan kurikulum yang diterapkan. Validasi ahli juga bertujuan mendapatkan masukan dan saran ahli sehingga media pembelajaran yang dirancang dapat berkembang menjadi lebih baik lagi. Secara garis besar validasi ahli materi meliputi relevansi media pembelajaran, penyajian materi, dan kebenaran materi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran awetan serangga berbasis resin memiliki rata-rata persentase sebesar 91,42% yang tergolong dalam kriteria sangat layak digunakan (Tabel . Pemilihan media pembelajaran harus mengikuti beberapa kriteria, yaitu ketepatan dengan tujuan pengajaran, dukungan terhadap materi pembelajaran, kemudahan mendapatkan media, kecakapan guru dalam penggunaannya, kesediaan waktu, dan sesuai dengan kemampuan berpikir peserta didik (Nurita, 2. Tabel 6. Hasil Validasi Ahli Materi Aspek Penilaian Relevansi dengan kurikulum Materi disajikan secara sistematis Materi bersifat kontekstual Materi mudah dipahami Bahasa yang digunakan jelas Meningkatkan pemahamaman mahasiswa Tidak menyimpang dari kebenaran ilmu Total Rata-rata Skor Skor Maks. Persentase Kriteria Sangat Layak Layak Sangat Layak Layak Layak Sangat Layak Sangat Layak 91,42% Sangat Layak Validasi Ahli Media Validasi ahli media berguna untuk menilai desain dan kualitas media pembelajaran supaya media pembelajaran yang dirancang mampu dikembangkan lebih baik lagi sehingga dapat menjadi opsi alternatif bagi pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran. Validasi media dilakukan oleh dua ahli dibidang pengajaran. Validasi ahli materi berkaitan dengan aspek kelayakan desain, ukuran, kualitas dan ketahanan. Hasil validasi ahli media awetan serangga berbasis resin menunjukkan ratarata persentase sebesar 95% dengan kategori sangat layak. Beberapa masukan terhadap tampilan media pembelajaran yang dirancang berkaitan dengan transparansi resin untuk memudahkan observasi oleh peserta didik (Tabel . Jurnal Pendidikan Biologi | Vol. No. Februari 2025, pp. Maulana, dkk | Pengembangan Awetan Serangga Tabel 7. Hasil Validasi Ahli Media Aspek Penilaian Mudah digunakan dan dipindahkan Mudah dipahami dan digunakan Memberikan pengalaman visual yang jelas dan informatif Memiliki transparansi yang baik Desain menarik dan sesuai kebutuhan Penataan memudahkan observasi Kualitas dan ketahanan resin sesuai Resin memberikan kesan estetis Total Rata-rata Skor Skor Maks. Persentase Kriteria Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Layak Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Hasil pengamatan kualitas awetan dan validasi ahli menunjukkan bahwa penggunaan awetan serangga berbasis resin memiliki berbagai kelebihan dibandingkan pengawetan konvensional, khususnya dalam hal ketahanan. Berdasarkan hasil validasi oleh ahli materi dan media juga diketahui bahwa penggunaan media pembelajaran yang dikembangkan memiliki kegunaan yang sama dengan media pembelajaran spesimen serangga awetan kering dan basah. Menurut Barling et al. penggunaan resin sebagai media pengawetan serangga mampu mempertahankan kelengkapan spesimen sehingga dapat mempertahankan informasi mengenai spesimen, yang mana peserta didik dan pengajar tidak lagi mengkhawatirkan terjadinya kerusakan spesimen ketika proses belajarmengajar. Pengembangan awetan serangga berbasis resin adalah salah satu implementasi pembelajaran berbasis objek (OBL). Objek berupa serangga dalam blok resin mampu mempermudah peserta didik mempelajari ciri dan morfologi spesimen serangga serta lebih mudah dalam klasifikasinya (Rohmah et al. , 2. OBL mewujudkan pembelajaran yang terintegrasi dengan kemampuan kognitif, psikomotor dan afektif peserta didik (Dale et al. , 2. Media pembelajaran yang informatif akan memudahkan proses belajar mengajar sehingga peserta didik mampu belajar secara lebih mandiri dan fleksibel. Beragamanya media pembelajaran yang dikembangkan membuat peserta didik memiliki beragam pilihan yang sesuai dengan preferensi dan cara mereka dalam menyerap dan memproses informasi, yang mana dapat memengaruhi kinerja akademisnya (Oliveira et al. , 2. Jurnal Pendidikan Biologi | Vol. No. Februari 2025, pp. Maulana, dkk | Pengembangan Awetan Serangga KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Tidak ditemukan perbedaan signifikan secara statistik dalam peningkatan konsentrasi katalis terhadap kualitas awetan, namun pengamatan secara individual menunjukkan adanya perubahan spesifik pada warna sayap capung yang dipengaruhi oleh konsentrasi katalis. Ini menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap awetan bersifat variatif dan memerlukan penyesuaian lebih lanjut dalam proses Berdasarkan hasil validasi ahli materi dan ahli media, media pembelajaran ini layak digunakan, dengan rata-rata persentase 91,42% untuk ahli materi dan 95% untuk ahli media. Hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran ini memiliki kualitas tinggi, relevansi materi yang sesuai dengan kurikulum, dan desain yang efektif untuk pembelajaran serangga. Saran Lebih memperhatikan konsentrasi katalis yang digunakan dalam proses pengawetan resin, mengingat pengaruhnya terhadap warna sayap serangga dan kejernihan resin. Penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh variasi suhu dan waktu pengerasan resin dapat membantu memperoleh hasil pengawetan yang lebih optimal. Peningkatan kualitas fisik resin, seperti kejernihan dan ketahanan terhadap kerusakan, juga perlu menjadi perhatian utama untuk memastikan keunggulan media ini dalam jangka UCAPAN TERIMA KASIH