Vol 3 No. 2 Mei 2026 P-ISSN : 3047-1931 E-ISSN : 3047-2334. Hal 92 Ae 103 JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jilak Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/ehvhyk08 EVALUASI KESEHATAN BANK BERBASIS RISIKO. TATA KELOLA. PROFITABILITAS. DAN PERMODALAN DALAM KERANGKA RGEC PADA PT BANK NEO COMMERCE TBK TAHUN 2022Ae2024 Indri Iswardhani a* a Ekonomi dan Bisnis/ Manajemen. iswardhani@unm. Universitas Negeri Makassar. Jl. Pettarani Makassar. Sulawesi Selatan * Penulis Korespondensi: Indri Iswardhani ABSTRACT This study aims to evaluate the health level of PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) for the 2022-2024 period using the Risk-Based Bank Rating (RGEC) approach, which includes four main aspects: Risk Profile. Good Corporate Governance (GCG). Earnings, and Capital. The research method used is descriptive quantitative analysis with secondary data sourced from BBYB's annual financial reports. The results show that during the 2022-2024 period. BBYB experienced a consistent improvement in its health level, reflected in the composite score increasing from 66. 67% (PK-3 with "fairly healthy" predicat. in 2022 to 75% (PK-2 with "healthy" predicat. This improvement was primarily driven by significant enhancements in the risk profile aspect, particularly the LDR ratio which improved from 93% . airly health. in 2022 to 68% . ery health. in 2024, while NPL remained stable in the healthy category at 2-3%. The profitability aspect showed improvement with ROA increasing from -5. 09% . in 2022 to 0. 11% . ess health. in 2024, while NIM consistently maintained a very healthy predicate above The capital aspect demonstrated very strong performance with CAR consistently above 27% with a very healthy predicate throughout the research period. However, the GCG aspect experienced a decline from "healthy" predicate in 2022 to "fairly healthy" in 2023-2024. This study emphasizes the importance of strengthening GCG principles implementation and continuously improving profitability to support the future growth of digital banks. Keywords: Digital Banking. RGEC. Bank Neo Commerce. Earnings. Capital Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kesehatan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) pada periode 2022-2024 dengan pendekatan Risk-Based Bank Rating (RGEC) yang meliputi empat aspek utama: Profil Risiko. Good Corporate Governance (GCG). Pendapatan dan Permodalan. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kuantitatif deskriptif dengan data sekunder yang bersumber dari laporan keuangan tahunan BBYB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2022-2024. BBYB mengalami peningkatan tingkat kesehatan yang konsisten, tercermin dari nilai komposit yang meningkat dari 66,67% (PK-3 dengan predikat cukup seha. pada tahun 2022 menjadi 75% (PK-2 dengan predikat seha. pada tahun 2024. Peningkatan ini terutama didorong oleh perbaikan signifikan pada aspek profil risiko, khususnya rasio LDR yang membaik dari 93% . ukup seha. pada tahun 2022 menjadi 68% . angat seha. pada tahun 2024, sementara NPL stabil pada kategori sehat di level 2-3%. Aspek profitabilitas menunjukkan perbaikan dengan ROA meningkat dari -5,09% . idak seha. pada tahun 2022 menjadi 0,11% . urang seha. pada tahun 2024, sedangkan NIM konsisten pada predikat sangat sehat di atas 23%. Aspek permodalan menunjukkan kinerja sangat kuat dengan CAR konsisten di atas 27% dengan predikat sangat sehat sepanjang periode penelitian. Namun demikian, aspek GCG mengalami penurunan dari predikat "Sehat" pada tahun 2022 menjadi "Cukup Sehat" pada tahun 2023-2024. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan implementasi prinsip GCG dan peningkatan profitabilitas secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan bank digital di masa mendatang. Kata kunci: Bank Digital. RGEC. Bank Neo Commerce. Profitabilitas. Permodalan Naskah Masuk 23 Februari 2026. Revisi 25 Februari 2026. Diterima 11 Maret 2026. Tersedia 13 Maret 2026 Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 PENDAHULUAN Era bisnis modern ditandai oleh volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Dalam lingkungan yang dinamis tersebut, risiko merupakan faktor yang melekat dan tidak terhindarkan dalam seluruh operasional organisasi, sehingga manajemen risiko menjadi pilar utama kepemimpinan dan keberlanjutan perusahaan . Tidak ada entitas, baik itu lembaga keuangan, badan pemerintah, maupun organisasi nirlaba, yang kebal terhadap tantangan yang ditimbulkan oleh masa depan yang tidak pasti. Hal ini menuntut adanya pendekatan terstruktur dalam mengalokasikan sumber daya dan mengejar tujuan di tengah ketidakpastian . Sektor jasa keuangan, khususnya perbankan, merasakan dampak yang paling akut karena bisnis intinya melibatkan penempatan modal di tengah risiko. Revolusi digital semakin mengintensifkan realitas ini, menciptakan paradigma baru di mana risiko keuangan tradisional bertemu dengan ancaman baru berbasis teknologi, menjadikan kerangka manajemen risiko yang sistematis sebagai alat kritis untuk kelangsungan hidup perusahaan . PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) merupakan salah satu pelopor bank digital di Indonesia yang bertransformasi dari bank konvensional untuk merespons kebutuhan masyarakat modern akan layanan keuangan yang cepat, mudah, dan efisien. Sebagai bank yang berfokus pada teknologi. BBYB mewujudkan institusi keuangan modern di mana kelincahan dan inovasi menjadi sangat penting. Perkembangan teknologi yang pesat telah mengubah pola perilaku masyarakat yang mulai beralih pada digitalisasi . , dan pandemi COVID-19 menjadi katalis yang semakin mengakselerasi adopsi layanan perbankan digital . Namun, menjalankan bank digital bukanlah tanpa tantangan. Biaya investasi yang besar untuk teknologi, keterbatasan tenaga kerja digital, regulasi perlindungan data yang belum mumpuni, serta tingginya potensi kejahatan siber menjadi tantangan serius yang harus dihadapi . Perjalanan bisnis BBYB dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan dinamika yang sangat fluktuatif, terutama dari sisi profitabilitas. Gambar 1 menyajikan perkembangan total pendapatan, pemasukan neto, dan marjin bersih BBYB selama periode 2020-2024. Visualisasi ini dengan jelas menggambarkan fase-fase kritis yang dialami bank digital tersebut, mulai dari periode kerugian yang mendalam hingga akhirnya mencapai titik balik menuju profitabilitas. Gambar 1. Tren Profitabilitas PT Bank Neo Commerce Tbk 2020-2024 Sumber: w. Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa BBYB mengalami periode paling menantang pada tahun 2020-2022, yang tercermin dari total pendapatan dan pemasukan neto yang berada di zona negatif. Memasuki tahun 2023, total pendapatan berhasil tumbuh positif meskipun pemasukan neto masih menunjukkan kinerja yang belum optimal. Titik balik signifikan terjadi pada tahun 2024, di mana total pendapatan tetap tumbuh positif dan marjin bersih mencapai titik tertinggi selama periode pengamatan. Trajektori keuangan yang fluktuatif ini, dari kerugian besar kembali menuju profitabilitas, menggarisbawahi lingkungan dengan risiko tinggi di mana BBYB beroperasi. Hal ini memicu pertanyaan kritis: sejauh mana strategi mitigasi risiko bank berkontribusi dalam menavigasi periode turbulen dan memungkinkan pemulihan keuangannya? Kasus ini menjadi contoh nyata mengapa manajemen risiko yang efektif tidak hanya bersifat teoretis, tetapi terkait erat dengan ketahanan finansial dan kemampuan untuk melakukan turnaround. Dalam konteks pengawasan perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Peraturan OJK No. 4/POJK. 03/2016 mewajibkan bank untuk melakukan penilaian tingkat kesehatan secara individu dengan Evaluasi Kesehatan Bank Berbasis Risiko. Tata Kelola. Profitabilitas, dan Permodalan dalam Kerangka RGEC pada PT Bank Neo Commerce Tbk Tahun 2022Ae2024 (Indri Iswardhan. Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 menggunakan pendekatan risiko . isk-based bank ratin. yang mencakup penilaian terhadap faktor-faktor profil risiko . isk profil. Good Corporate Governance (GCG), profitabilitas . , dan permodalan . atau yang dikenal dengan akronim RGEC . Pendekatan ini dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi bank dengan mempertimbangkan risiko inheren dan efektivitas manajemen dalam menghadapinya . Metode RGEC menjadi solusi penilaian kesehatan bank yang lebih komprehensif karena terfokus pada kombinasi penilaian self assessment yang menekankan pada manajemen risiko, pelaksanaan GCG, dan rasio keuangan yang mengukur kondisi suatu bank . , . Berbagai penelitian terdahulu telah mengkaji kesehatan bank dengan pendekatan RGEC. menemukan bahwa secara parsial Non Performing Loan (NPL) dan GCG tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, sedangkan Return on Asset (ROA) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh signifikan. mengungkapkan bahwa secara simultan RGEC berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. menegaskan bahwa profil risiko berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, sementara GCG, laba, dan modal berpengaruh positif dan signifikan. Penelitian pada bank BUMN . menunjukkan bahwa selama pandemi Covid-19, bank BUMN berada pada peringkat komposit 1 (PK-. dengan predikat sangat sehat. Sementara itu, studi komparatif . menemukan perbedaan signifikan pada variabel NPL. LDR. ROA, dan CAR sebelum dan selama pandemi. Penelitian lain juga menegaskan pentingnya fungsi audit internal dan tata kelola dalam memperkuat manajemen risiko dan meningkatkan transparansi . , . Penelitian khusus mengenai bank digital di Indonesia juga mulai berkembang. menemukan bahwa bank-bank digital mengalami perbaikan signifikan. Kajian lebih mendalam mengenai strategi mitigasi risiko di BBYB . menunjukkan bahwa BBYB telah mengembangkan kerangka manajemen risiko yang komprehensif dan semakin proaktif yang selaras dengan prinsip-prinsip GCG. Berdasarkan latar belakang dan penelitian-penelitian terdahulu tersebut, terdapat urgensi untuk melakukan evaluasi yang lebih mendalam dan terintegrasi mengenai kesehatan PT Bank Neo Commerce Tbk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesehatan PT Bank Neo Commerce Tbk tahun 2022-2024 berdasarkan aspek profil risiko (NPL dan LDR). Good Corporate Governance, profitabilitas (ROA dan NIM), dan permodalan (CAR) dalam kerangka RGEC. Dengan mengintegrasikan analisis kuantitatif rasio keuangan dan pemetaan kualitatif strategi mitigasi risiko, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi manajemen BBYB dalam merumuskan strategi peningkatan kinerja, memberikan informasi berharga bagi regulator dalam melakukan pengawasan, serta menjadi referensi bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi di sektor perbankan digital yang berkembang pesat di Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Konsep Kesehatan Bank Kesehatan bank merupakan cerminan dari kondisi fundamental suatu bank dalam menjalankan kegiatan Bank sebagai lembaga intermediary memiliki peran yang sangat penting dalam menggerakkan perekonomian di Indonesia, sehingga bank harus dikelola dengan sangat hati-hati dan perlu pengawasan khusus dari pemerintah . , . Penilaian tingkat kesehatan bank menjadi instrumen penting bagi regulator, manajemen, dan pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kinerja dan ketahanan bank dalam menghadapi berbagai tantangan. Bank Indonesia telah melakukan transformasi kebijakan penilaian kesehatan bank sejak tahun 1746, yang semula berbasis CAMEL hingga saat ini menjadi Risk-Based Bank Rating . Kebijakan ini dibuat untuk menilai kinerja lembaga perbankan yang pada akhirnya akan berdampak pada nilai perusahaan. Perkembangan metode penilaian kesehatan bank terus mengalami penyempurnaan, di mana metode RGEC menjadi solusi penilaian kesehatan bank yang lebih komprehensif karena terfokus pada kombinasi penilaian self assessment yang menekankan pada manajemen risiko, pelaksanaan GCG, dan rasio keuangan yang mengukur kondisi suatu bank . Risk-Based Bank Rating (RGEC) Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan RI No. 4/POJK. 03/2016 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara individu dengan menggunakan pendekatan risiko . isk-based bank ratin. , dengan cakupan penilaian terhadap faktor-faktor profil risiko . isk profil. Good Corporate Governance (GCG), profitabilitas . , dan permodalan . atau yang dikenal dengan akronim RGEC . Pendekatan ini dirancang untuk memberikan JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. Mei 2026, pp. 92 - 103 Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 gambaran menyeluruh mengenai kondisi bank dengan mempertimbangkan risiko inheren dan efektivitas manajemen dalam menghadapinya . Penelitian . menunjukkan bahwa RGEC secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap nilai Sementara itu, . mengungkapkan bahwa secara simultan RGEC berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas dengan kemampuan variabel RGEC dalam menjelaskan profitabilitas sebesar 90,6%. Risk Profile (Profil Risik. Profil risiko merupakan cerminan dari risiko yang melekat pada operasional bank dan kualitas penerapan manajemen risiko. Dalam pendekatan RGEC, profil risiko mencakup pengelolaan risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko operasional . Risiko Kredit (Non-Performing Loa. Risiko kredit adalah risiko kerugian finansial yang timbul ketika peminjam atau counterparty gagal memenuhi kewajiban kontraktual mereka . Rasio yang umum digunakan untuk menilai risiko kredit adalah rasio Non-Performing Loan (NPL), yang mengukur perbandingan antara total kredit bermasalah dengan total kredit yang disalurkan . Rasio ini penting dalam konteks bank digital karena mereka umumnya memiliki basis nasabah yang lebih luas dengan profil risiko yang lebih beragam. Penelitian . menemukan bahwa NPL yang tinggi berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan bank, dan hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi bank digital yang lebih rentan terhadap kegagalan dalam penilaian kredit. menemukan bahwa secara parsial NPL tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Sementara itu, . menunjukkan bahwa variabel NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap potensi financial distress. dalam studi komparatifnya menemukan bahwa variabel NPL memiliki perbedaan signifikan sebelum dan selama pandemi COVID-19. Tabel 1. Kriteria Penetapan Peringkat Komposit NPL Peringkat Keterangan Sangat Sehat Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sumber: . Kriteria NPL < 2% 2% O NPL < 5% 5% O NPL < 8% 8% O NPL < 12% NPL Ou 12% Risiko Likuiditas (Loan to Deposit Rati. Risiko likuiditas adalah risiko bahwa bank tidak dapat memperoleh cukup kas untuk memenuhi kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo, baik akibat ketidaksesuaian jangka pendek, ketidakseimbangan struktural, atau peristiwa tak terduga . Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) digunakan dalam penilaian risiko likuiditas yang menunjukkan kesehatan bank dalam memberikan pembiayaan . Rasio ini sangat penting untuk bank digital yang mungkin menghadapi tekanan likuiditas yang lebih tinggi terkait dengan frekuensi transaksi yang lebih cepat dan lebih besar. Penelitian . menunjukkan bahwa secara parsial variabel LDR berpengaruh secara signifikan terhadap ROA. Sementara itu, . menemukan bahwa variabel LDR memiliki perbedaan signifikan dengan nilai . -taile. 0,00 < 0,05 sebelum dan selama pandemi. menemukan bahwa variabel LDR tidak mempengaruhi potensi financial distress. Tabel 2. Kriteria Penetapan Peringkat Komposit LDR Peringkat Keterangan Sangat Sehat Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sumber: . Kriteria 50% < LDR < 75% 75% O LDR < 85% 85% O LDR < 100% 100% O LDR < 120% LDR Ou 120% Evaluasi Kesehatan Bank Berbasis Risiko. Tata Kelola. Profitabilitas, dan Permodalan dalam Kerangka RGEC pada PT Bank Neo Commerce Tbk Tahun 2022Ae2024 (Indri Iswardhan. Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 Corporate Governance (GCG) Good Corporate Governance (GCG) merupakan kumpulan prinsip, sistem, dan struktur yang bertujuan untuk memandu serta mengawasi pengelolaan organisasi secara transparan, adil, dan penuh tanggung jawab . GCG dibangun di atas prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran yang menjadi tulang punggung etika dan prosedural agar manajemen risiko dapat berfungsi secara efektif . Tabel 3. Kriteria Penetapan Peringkat Komposit GCG Peringkat Sumber: . Keterangan Sangat Sehat Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Earnings (Profitabilita. Earnings berfokus pada profitabilitas bank yang umumnya diukur menggunakan rasio Return on Assets (ROA) dan Net Interest Margin (NIM). Profitabilitas menjadi indikator penting untuk menilai efisiensi dan efektivitas bank dalam menghasilkan laba. Return on Assets (ROA) Return on Assets (ROA) membandingkan besarnya laba bersih terhadap total aktiva . Rasio ini mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimilikinya. Penelitian . mengungkapkan bahwa bank yang memiliki ROA yang tinggi dapat lebih efisien dalam menghasilkan laba, yang sangat penting untuk kelangsungan operasional bank digital yang memerlukan pengelolaan biaya yang efisien. Tabel 4. Kriteria Penetapan Peringkat Komposit ROA Peringkat Keterangan Sangat Sehat Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sumber: . Kriteria ROA Ou 1,5% 1,25% < ROA O 1,5% 0,5% < ROA O 1,25% 0% < ROA O 0,5% ROA O 0% Net Interest Margin (NIM) Net Interest Margin (NIM) mengukur efektivitas bank dalam menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktifnya . Rasio ini mencerminkan kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya dan menghasilkan pendapatan dari aktivitas penyaluran kredit dan investasi. Tabel 5. Kriteria Penetapan Peringkat Komposit NIM Peringkat Keterangan Sangat Sehat Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sumber: . Kriteria NIM > 3% 2% < NIM O 3% 1,5% < NIM O 2% 1% < NIM O 1,5% NIM O 1% Capital (Permodala. Capital mengukur sejauh mana bank mampu menjaga permodalannya melalui rasio Capital Adequacy Ratio (CAR). CAR digunakan dalam mengukur berapa banyak modal minimum yang harus disediakan oleh bank sesuai dengan profil risiko yang dimiliki . Rasio ini menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan modal untuk menutupi potensi kerugian dari aktiva berisiko. JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. Mei 2026, pp. 92 - 103 Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 Penelitian . menunjukkan bahwa bank dengan rasio CAR yang tinggi lebih mampu bertahan dalam menghadapi gejolak pasar dan ketidakpastian ekonomi. menemukan bahwa CAR berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. mengungkapkan bahwa CAR berpengaruh positif signifikan terhadap ROA. menegaskan bahwa permodalan menjadi variabel yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Tabel 6. Kriteria Penetapan Peringkat Komposit CAR Peringkat Keterangan Sangat Sehat Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sumber: . Kriteria CAR Ou 12% 9% O CAR < 12% 8% O CAR < 9% 6% < CAR < 8% CAR O 6% METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan suatu fenomena atau variabel berdasarkan ukuran-ukuran kuantitatif . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kesehatan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) menggunakan pendekatan risk-based bank rating yang melibatkan empat aspek utama, yaitu Risk Profile (NPL dan LDR). Good Corporate Governance (GCG). Earnings (ROA dan NIM), dan Capital (CAR). Objek dalam penelitian ini adalah PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), yang merupakan salah satu bank digital terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jenis data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu laporan keuangan tahunan . nnual repor. PT Bank Neo Commerce Tbk periode 2022-2024. Data sekunder ini dipilih karena menyediakan informasi yang komprehensif dan telah diaudit, sehingga menjamin keandalan dan validitas data yang dianalisis. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, menghitung rasiorasio keuangan untuk setiap aspek penilaian, yaitu NPL dan LDR untuk aspek profil risiko. ROA dan NIM untuk aspek earnings, serta CAR untuk aspek capital. Kedua, mengidentifikasi nilai komposit GCG berdasarkan hasil self-assessment yang dipublikasikan dalam laporan tahunan bank. Ketiga, membandingkan hasil perhitungan rasio dengan kriteria penetapan peringkat komposit sesuai ketentuan Bank Indonesia. Keempat, menentukan peringkat komposit masing-masing aspek dan menghitung nilai komposit keseluruhan dengan pembobotan yang telah ditetapkan. Kelima, menyimpulkan tingkat kesehatan bank secara keseluruhan berdasarkan rentang nilai komposit, yaitu sangat sehat (PK-1 dengan nilai 86-. , sehat (PK-2 dengan nilai 71-. , cukup sehat (PK-3 dengan nilai 61-. , kurang sehat (PK-4 dengan nilai 41-. , atau tidak sehat (PK-5 dengan nilai O. HASIL DAN PEMBAHASAN Penilaian kesehatan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) menggunakan pendekatan Risk-Based Bank Rating (RGEC) dilakukan dengan menganalisis empat aspek utama, yaitu profil risiko . isk profil. Good Corporate Governance (GCG), profitabilitas . , dan permodalan . Setiap aspek dinilai menggunakan rasio keuangan yang telah ditetapkan dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP/2011, kemudian dibandingkan dengan kriteria penilaian untuk menentukan peringkat komposit masing-masing indikator. Analisis ini mencakup periode 2022-2024 dengan menggunakan data laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan oleh perusahaan. 1 Analisis Risk Profile (Profil Risik. Profil risiko merupakan cerminan dari risiko yang melekat pada operasional bank dan kualitas penerapan manajemen risiko. Dalam pendekatan RGEC, profil risiko mencakup pengelolaan risiko kredit dan risiko Risiko kredit diukur menggunakan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang menunjukkan proporsi kredit bermasalah terhadap total kredit yang disalurkan, sementara risiko likuiditas diukur menggunakan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban likuiditasnya dari dana pihak ketiga yang dihimpun. Analisis kedua rasio ini memberikan gambaran tentang seberapa sehat dan stabil bank digital dalam menghadapi tantangan finansial dan operasional yang dinamis. Evaluasi Kesehatan Bank Berbasis Risiko. Tata Kelola. Profitabilitas, dan Permodalan dalam Kerangka RGEC pada PT Bank Neo Commerce Tbk Tahun 2022Ae2024 (Indri Iswardhan. Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 1 Non-Performing Loan (NPL) Salah satu indikator utama dalam menilai risiko kredit adalah rasio Non-Performing Loan (NPL). Rasio ini mengukur proporsi kredit bermasalah terhadap total kredit yang disalurkan oleh bank. Semakin rendah rasio NPL, semakin baik kualitas kredit yang dikelola bank. Dalam konteks bank digital, pengelolaan NPL menjadi tantangan tersendiri karena basis nasabah yang lebih luas dengan profil risiko yang beragam. Berikut adalah perkembangan rasio NPL PT Bank Neo Commerce Tbk selama periode 2022-2024. Tabel 7. Rasio NPL PT Bank Neo Commerce Tbk 2022-2024 Tahun NPL (%) Peringkat Sumber: Data Diolah, 2026 Predikat Sehat Sehat Sehat Berdasarkan Tabel 7. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) menunjukkan kinerja yang stabil dalam pengelolaan NPL selama periode 2022-2024. Rasio NPL berada pada 2% di tahun 2022, meningkat menjadi 3% pada tahun 2023 dan 2024, namun tetap dalam kategori "Sehat" karena berada pada rentang 2% O NPL < 5% sesuai kriteria Bank Indonesia. Peringkat "Sehat" menunjukkan bahwa bank ini masih mampu mengelola risiko kredit dengan baik. 2 Loan to Deposit Ratio (LDR) Aspek kedua dalam profil risiko adalah risiko likuiditas yang diukur menggunakan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR). Rasio ini menunjukkan perbandingan antara total kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun bank. LDR mencerminkan kemampuan bank dalam menjembatani fungsi intermediasi, yaitu menyalurkan dana masyarakat dalam bentuk kredit. Rasio LDR yang terlalu tinggi dapat mengindikasikan tekanan likuiditas, sementara LDR yang terlalu rendah mencerminkan kurang optimalnya penyaluran kredit. Berikut adalah perkembangan rasio LDR PT Bank Neo Commerce Tbk selama periode Tabel 8. Rasio LDR PT Bank Neo Commerce Tbk 2022-2024 Tahun LDR (%) Peringkat Sumber: Data Diolah, 2026 Predikat Cukup Sehat Cukup Sehat Sangat Sehat Tabel 8 menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan dalam pengelolaan likuiditas BBYB selama periode Pada tahun 2022, rasio LDR berada pada 93% yang termasuk dalam kategori "Cukup Sehat" sesuai kriteria Bank Indonesia . untuk rentang 85% O LDR < 100%. Rasio ini sedikit menurun menjadi 88% pada tahun 2023, namun masih dalam kategori yang sama. Pencapaian luar biasa terjadi pada tahun 2024 di mana BBYB berhasil menurunkan LDR menjadi 68%, yang masuk dalam kategori "Sangat Sehat" dengan rentang 50% < LDR < 75%. Penurunan LDR yang signifikan ini menunjukkan pengelolaan likuiditas yang sangat baik, di mana bank mampu menjaga keseimbangan antara kredit yang disalurkan dan dana yang dihimpun dari masyarakat. 2 Analisis Good Corporate Governance (GCG) Good Corporate Governance (GCG) merupakan kumpulan prinsip, sistem, dan struktur yang bertujuan untuk memandu serta mengawasi pengelolaan organisasi secara transparan, adil, dan penuh tanggung Penerapan GCG yang baik menjadi fondasi penting bagi bank digital yang memiliki ketergantungan tinggi pada teknologi dan data, sehingga transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan nasabah dan regulator. Penilaian GCG dalam penelitian ini menggunakan hasil selfassessment bank yang dipublikasikan dalam laporan tahunan, sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Berikut adalah perkembangan peringkat GCG PT Bank Neo Commerce Tbk selama periode 2022-2024. JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. Mei 2026, pp. 92 - 103 Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 Tabel 9. Nilai Komposit GCG PT Bank Neo Commerce Tbk 2022-2024 Tahun Peringkat Predikat Sehat Cukup Sehat Cukup Sehat Sumber: Data Diolah, 2026 Berdasarkan Tabel 9. BBYB mengalami penurunan peringkat GCG selama periode penelitian. Pada tahun 2022, bank ini memperoleh peringkat 2 dengan predikat "Sehat", yang menunjukkan penerapan prinsipprinsip GCG yang baik. Namun pada tahun 2023 dan 2024, peringkat menurun menjadi 3 dengan predikat "Cukup Sehat". Penurunan ini menunjukkan bahwa meskipun BBYB masih mempertahankan standar GCG yang memadai, terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki dalam hal transparansi, pengawasan, atau akuntabilitas yang dapat mempengaruhi kinerja jangka panjang. Penurunan peringkat GCG ini menjadi perhatian tersendiri mengingat . menemukan bahwa penerapan GCG yang baik memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan bank. 3 Analisis Profitabilitas (Earning. Profitabilitas merupakan indikator penting untuk menilai efisiensi dan efektivitas bank dalam menghasilkan Bank yang memiliki profitabilitas tinggi umumnya lebih efisien dalam mengelola aset dan biaya operasional, yang sangat penting untuk kelangsungan operasional bank digital yang memerlukan investasi teknologi yang besar. Dalam pendekatan RGEC, aspek profitabilitas diukur menggunakan rasio Return on Assets (ROA) yang mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki, serta Net Interest Margin (NIM) yang mengukur efektivitas bank dalam menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktif. 1 Return on Assets (ROA) Return on Assets (ROA) merupakan rasio yang membandingkan laba bersih setelah pajak dengan rata-rata total aset yang dimiliki bank. Rasio ini mencerminkan kemampuan manajemen bank dalam menghasilkan laba dari pemanfaatan aset yang dimilikinya. Semakin tinggi ROA, semakin efisien bank dalam mengelola aset untuk menghasilkan keuntungan. Berikut adalah perkembangan rasio ROA PT Bank Neo Commerce Tbk selama periode 2022-2024. Tabel 10. Rasio ROA PT Bank Neo Commerce Tbk 2022-2024 Tahun ROA (%) Peringkat -5,09 -3,03 0,11 Sumber: Data Diolah, 2026 Predikat Tidak Sehat Tidak Sehat Kurang Sehat Tabel 10 menunjukkan perbaikan bertahap dalam profitabilitas BBYB selama periode penelitian, meskipun masih berada pada level yang belum optimal. Pada tahun 2022. ROA tercatat -5,09% yang masuk kategori "Tidak Sehat" sesuai kriteria Bank Indonesia . untuk ROA O 0%. Tahun 2023 menunjukkan perbaikan dengan ROA -3,03% namun masih dalam predikat yang sama. Pencapaian positif terjadi pada tahun 2024 di mana BBYB berhasil mencatatkan ROA positif sebesar 0,11%, yang membawa bank pada peringkat 4 dengan predikat "Kurang Sehat" untuk rentang 0% < ROA O 0,5%. Perbaikan ini sejalan dengan data perkembangan profitabilitas yang menunjukkan tren peningkatan total pendapatan dan marjin bersih dari tahun ke tahun. Perbaikan ROA BBYB meskipun bertahap menunjukkan bahwa bank mulai keluar dari fase kesulitan Hal ini sejalan dengan penelitian . yang mengungkapkan bahwa bank dengan ROA yang tinggi dapat lebih efisien dalam menghasilkan laba. Temuan . juga mengindikasikan bahwa ROA memiliki perbedaan signifikan sebelum dan selama pandemi, yang menunjukkan bahwa profitabilitas bank sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan eksternal. Dengan ROA yang mulai positif. BBYB menunjukkan prospek perbaikan kinerja keuangan di masa mendatang. 2 Net Interest Margin (NIM) Net Interest Margin (NIM) merupakan rasio yang mengukur efektivitas bank dalam menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktif yang dimiliki. Rasio ini mencerminkan kemampuan Evaluasi Kesehatan Bank Berbasis Risiko. Tata Kelola. Profitabilitas, dan Permodalan dalam Kerangka RGEC pada PT Bank Neo Commerce Tbk Tahun 2022Ae2024 (Indri Iswardhan. Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 manajemen bank dalam mengelola penempatan dana pada aset produktif seperti kredit dan surat berharga untuk menghasilkan pendapatan bunga setelah dikurangi biaya bunga. NIM yang tinggi menunjukkan efisiensi bank dalam mengelola margin pendapatan bunga. Berikut adalah perkembangan rasio NIM PT Bank Neo Commerce Tbk selama periode 2022-2024. Tabel 11. Rasio NIM PT Bank Neo Commerce Tbk 2022-2024 Tahun NIM (%) Peringkat 16,57 23,82 23,76 Sumber: Data Diolah, 2026 Predikat Sangat Sehat Sangat Sehat Sangat Sehat Tabel 11 menunjukkan kinerja NIM BBYB yang sangat impresif dan konsisten sepanjang periode Pada tahun 2022. NIM tercatat 16,57% yang jauh di atas batas minimum kategori "Sangat Sehat" (NIM > 3%) sesuai kriteria Bank Indonesia . Rasio ini meningkat signifikan menjadi 23,82% pada tahun 2023, dan sedikit menurun menjadi 23,76% pada tahun 2024 namun tetap pada level yang sangat tinggi. Kinerja NIM ini mencerminkan efektivitas luar biasa bank dalam menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktif yang dimiliki. Kinerja NIM yang sangat baik ini menunjukkan bahwa BBYB memiliki kemampuan unggul dalam mengelola portofolio pinjaman dan investasi dengan efisiensi 4 Analisis Permodalan (Capita. Aspek permodalan dalam pendekatan RGEC diukur menggunakan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR). CAR merupakan rasio yang digunakan untuk menilai sejauh mana bank mampu menjaga permodalannya sesuai dengan profil risiko yang dimiliki. Rasio ini mengukur kemampuan bank dalam menyediakan modal untuk menutupi potensi kerugian dari aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). CAR yang tinggi mencerminkan ketahanan modal yang kuat dalam menghadapi gejolak pasar dan ketidakpastian ekonomi, sekaligus menjadi indikator penting bagi regulator dan investor dalam menilai kesehatan bank. Berikut adalah perkembangan rasio CAR PT Bank Neo Commerce Tbk selama periode 2022-2024. Tabel 12. Rasio CAR PT Bank Neo Commerce Tbk 2022-2024 Tahun CAR (%) Peringkat 36,82 27,90 35,36 Sumber: Data Diolah, 2026 Predikat Sangat Sehat Sangat Sehat Sangat Sehat Berdasarkan Tabel 12. BBYB menunjukkan kinerja permodalan yang sangat kuat dan konsisten sepanjang periode penelitian. Pada tahun 2022. CAR tercatat 36,82% yang jauh di atas batas minimum kategori "Sangat Sehat" (CAR Ou 12%) sesuai kriteria Bank Indonesia . Tahun 2023 mengalami penurunan menjadi 27,90% namun tetap pada level yang sangat sehat. Tahun 2024 kembali meningkat menjadi 35,36%, mengkonfirmasi kekuatan permodalan bank. Meskipun terdapat fluktuasi, seluruh nilai CAR selama periode penelitian berada jauh di atas ambang batas minimal yang ditetapkan regulator. Konsistensi CAR BBYB pada level sangat sehat menunjukkan bahwa bank memiliki cadangan modal yang cukup untuk menghadapi risiko serta mendukung ekspansi bisnis. 5 Peringkat Komposit RGEC dan Pembahasan Komprehensif Setelah menganalisis masing-masing aspek RGEC secara individual, langkah selanjutnya adalah menentukan peringkat komposit secara keseluruhan untuk mengetahui tingkat kesehatan PT Bank Neo Commerce Tbk selama periode 2022-2024. Penentuan peringkat komposit dilakukan dengan menjumlahkan bobot dari masing-masing indikator dan mengkonversinya ke dalam skala penilaian sesuai ketentuan Bank Indonesia. Berikut adalah rekapitulasi peringkat komposit RGEC BBYB selama periode JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. Mei 2026, pp. 92 - 103 Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 Tabel 13. Peringkat Komposit RGEC PT Bank Neo Commerce Tbk 2022-2024 Tahun Aspek Penilaian Rasio Nilai Peringkat NPL . Risk Profile LDR . %) GCG GCG ROA (-5,09%) Earnings NIM . ,57%) Capital CAR . ,82%) Nilai Komposit Penilaian Komposit PK-3 NPL . Risk Profile LDR . %) GCG GCG ROA (-3,03%) Earnings NIM . ,82%) Capital CAR . ,90%) Nilai Komposit Penilaian Komposit PK-3 NPL . Risk Profile LDR . %) GCG GCG ROA . ,11%) Earnings NIM . ,76%) Capital CAR . ,36%) Nilai Komposit Penilaian Komposit PK-2 Sumber: Data Diolah, 2026 Predikat Sehat Cukup Sehat Sehat Tidak Sehat Sangat Sehat Sangat Sehat 66,67% Cukup Sehat Sehat Cukup Sehat Cukup Sehat Tidak Sehat Sangat Sehat Sangat Sehat 70,00% Cukup Sehat Sehat Sangat Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Sangat Sehat Sangat Sehat 75,00% Sehat Berdasarkan Tabel 13. PT Bank Neo Commerce Tbk menunjukkan perbaikan tingkat kesehatan yang konsisten selama periode 2022-2024. Pada tahun 2022, nilai komposit mencapai 66,67% yang termasuk dalam Peringkat Komposit 3 (PK-. dengan predikat "Cukup Sehat" sesuai rentang 61-70% pada kriteria Bank Indonesia . Tahun 2023 mengalami peningkatan menjadi 70% yang masih berada pada PK-3 dengan predikat "Cukup Sehat". Pencapaian signifikan terjadi pada tahun 2024 di mana nilai komposit meningkat menjadi 75% yang masuk dalam Peringkat Komposit 2 (PK-. dengan predikat "Sehat" pada rentang 71-85%. Peningkatan peringkat komposit ini terutama didorong oleh perbaikan pada beberapa aspek kunci. Pada aspek profil risiko, perbaikan LDR dari 93% . ukup seha. menjadi 68% . angat seha. memberikan kontribusi positif yang besar. Pada aspek profitabilitas, meskipun ROA masih pada level kurang sehat, perbaikan dari negatif menjadi positif menunjukkan tren yang menggembirakan. Sementara itu, aspek NIM dan CAR konsisten mempertahankan predikat "Sangat Sehat" sepanjang periode penelitian, menjadi fondasi kuat bagi kesehatan bank secara keseluruhan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis menggunakan pendekatan Risk-Based Bank Rating (RGEC) selama periode 2022-2024. PT Bank Neo Commerce Tbk menunjukkan perbaikan tingkat kesehatan yang konsisten. Nilai komposit bank meningkat dari 66,67% dengan predikat "Cukup Sehat" (PK-. pada tahun 2022 menjadi 75% dengan predikat "Sehat" (PK-. pada tahun 2024. Peningkatan ini terutama didorong oleh perbaikan signifikan pada aspek profil risiko, khususnya rasio LDR yang membaik dari 93% . ukup seha. menjadi 68% . angat seha. , sementara rasio NPL stabil pada level 2-3% dengan predikat sehat. Pada aspek profitabilitas. ROA membaik dari -5,09% . idak seha. menjadi 0,11% . urang seha. , menandai keberhasilan bank keluar dari fase kerugian menuju profitabilitas positif. NIM konsisten pada predikat sangat sehat di atas 23% sepanjang periode penelitian. Aspek permodalan menunjukkan kinerja sangat kuat dengan CAR konsisten di atas 27% dengan predikat sangat sehat, jauh melampaui batas minimal 12%. Namun demikian, aspek Good Corporate Governance mengalami penurunan dari predikat "Sehat" pada Evaluasi Kesehatan Bank Berbasis Risiko. Tata Kelola. Profitabilitas, dan Permodalan dalam Kerangka RGEC pada PT Bank Neo Commerce Tbk Tahun 2022Ae2024 (Indri Iswardhan. Indri Iswardhani / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 3 No. 92 Ae 103 tahun 2022 menjadi "Cukup Sehat" pada tahun 2023-2024, yang mengindikasikan perlunya perhatian lebih dalam implementasi prinsip-prinsip tata kelola. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan objek penelitian dengan membandingkan beberapa bank sekaligus guna mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kinerja sektor perbankan digital di Indonesia. Selain itu, penelitian mendatang dapat menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam terhadap manajemen bank untuk menggali informasi yang tidak terungkap dalam laporan tahunan, serta menganalisis faktor-faktor eksternal seperti kondisi makroekonomi dan perubahan regulasi yang mempengaruhi kesehatan bank digital. Penelitian juga dapat dikembangkan dengan menambahkan periode pengamatan yang lebih panjang untuk melihat tren kesehatan bank dalam siklus bisnis yang lebih lengkap. DAFTAR PUSTAKA