JURNAL IKTIBAR NUSANTARA E-ISSN: E-ISSN: 2964-5255 Editorial Address: Jl. Nyak Arief No 333. Jiulingke. Kota Banda Aceh Provinsi Aceh Received: 07-05-2. Accepted: 26-05-2. Published: 28-6-2024 PENGELOLAAN E- LAYANAN KONSELING DALAM PENINGKATAN DISIPLIN PESERTA DIDIK BERBASIS WHATSAPP Inna Maiza1. Fatimah Ibda2 Universitas Islam Negery (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh Email: 200206002@ar-raniry. Email: fatimahibda@ar-raniry. Abstract: Counseling services are less effective in conveying relevant and useful information to students, as well as the use of media is not optimal and there is a lack of time in providing counseling services to improve student discipline. Electronic counseling is an alternative that is relevant to technological developments and the needs of today's modern students. However, it is necessary to manage WhatsApp-based e-counseling services to improve student discipline at SMAN 4 Banda Aceh. The aim of this research is to determine the planning, implementation and obstacles to WhatsApp-based e-counseling services in improving student discipline. This research uses a descriptive qualitative The research subjects were guidance and counseling teachers, homeroom teachers, and Data collection techniques use observation, interviews and documentation, then the data is analyzed through triangulation techniques. The results of this research show that planning WhatsApp-based e-counseling services was carried out through stages: . survey of student needs and interests. communication with parents and homeroom teachers . formation of several Whatsapp groups. distribution of tasks to guidance and counseling teachers. and long term The implementation of WhatsApp-based e-counseling services is carried out in stages: . Analysis of student needs via the assessment questionnaire link. introduction of WhatsApp-based counseling materials to parents and students. individual counseling and group counseling via WhatsApp. follow-up to students who have not changed. collaboration with parents and homeroom teachers to resolve cases. Obstacles in managing WhatsApp-based e-counseling services include: . students are late in filling out assessment questionnaires via the website. misuse of WhatsApp. technological limitations. lack of non-verbal communication between counselors and students Keywords : E-counseling services. Whatsapp. Student Discipline Abstrak Layanan konseling kurang efektif dalam menyampaikan informasi yang relevan dan bermanfaat kepada peserta didik, serta penggunaan media yang belum optimaldan ketidaksesuaian waktu dalam memberikan layanan konseling guna meningkatkan disiplin peserta didik. Elektronik konseling menjadi alternatif yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan peserta didik modern saat ini. Akan tetapi perlu adanya pengelolaan e-layanan konseling berbasis Whatsapp dalam peningkatan disiplin peserta didik di SMAN 4 Banda Aceh. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan dan kendala e-layanan konseling berbasis Whatsapp dalam peningkatan disiplin peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah guru BK, wali kelas, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian data tersebut dianalisis melalui teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan e-layanan konseling berbasis Whatsapp dilakukan melalui tahapan: . survei kebutuhan dan kepentingan peserta didik. komunikasi dengan orang tua dan wali kelas . pembentukan beberapa grup Whatsapp. Jurnal Iktibar Nusantara Vol. No. 1, 2. Inna Maiza. Fatimah Ibda Pengelolaan E- Layanan Konseling pembagian tugas kepada guru BK. dan perencanaan jangka panjang. Pelaksanaan e-layanan konseling berbasis Whatsapp dilakukan melalui tahapan: . Analisis kebutuhan peserta didik melalui link angket asesmen. pengenalan materi konseling berbasis Whatsapp kepada orang tua dan peserta didik . konseling individual dan konseling kelompok melalui Whatsapp. tindak lanjut kepada peserta didik yang tidak ada perubahan. kolaborasi dengan orang tua dan wali kelas untuk penyelesaian kasus. Kendala- kendala dalam pengelolaan e-layanan konseling berbasis Whatsapp antara lain : . peserta didik terlambat mengisi angket asesmen melalui website. penyalahgunaan WhatsApp. keterbatasan teknologi. kekurangan komunikasi non-verbal antara konselor dan peserta didik. Kata Kunci : E-layanan konseling. Whatsapp. Disiplin Peserta Didik PENDAHULUAN Kedisiplinan peserta didik di sekolah merupakan hal yang penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Namun, pada kenyataannya, banyak sekolah di Indonesia mengalami masalah tidak disiplinnya peserta didik. Faktor yang mempengaruhi kedisiplinan peserta didik meliputi faktor internal dan Faktor internal adalah faktor yang ada di dalam diri peserta didik. Seperti adanya rasa ingin menjadi lebih baik. Faktor eksternal adalah faktor yang terdapat dari luar diri peserta didik. Seperti peran orang tua, guru dan lingkungan. Berbagai layanan bimbingan dan konseling yang mungkin dapat diberikan untuk membantu siswa yang bermasalah dengan disiplin yaitu: . layanan orientasi, . layanan informasi, . layanan penguasaan konten, . layanan penempatan dan penyaluran, . layanan konseling individual, . layanan bimbingan kelompok, . layanan konseling kelompok, . layanan konsultasi, . layanan mediasi, dan . layanan Internet digunakan sebagai media sosial, terutama WhatsApp. Facebook. Instagram. Youtube dan kemudian media sosial buatan Korea Selatan. Line. Business Services Provider (BSP) mengatakan mereka memiliki 2 miliar pengguna, naik dari 1,5 miliar yang diumumkan dua tahun lalu. Kinerja WhatsApp menjadikannya aplikasi kedua di belakang Facebook dengan 2 miliar pengguna. Revolusi industri selalu menghadirkan sesuatu yang baru, dan perpaduan antara generasi milenial dan digitalisasi membawa perubahan besar. Misalnya saja media informasi yang berbentuk cetak seperti majalah, surat kabar, dan pamflet. Saat ini, semuanya sudah terintegrasi dan terhubung melalui digitalisasi dan internet. Mengingat pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini dan keterikatan generasi milenial terhadap teknologi, maka konsultan sebagai tenaga profesional perlu mengembangkan ilmunya seiring dengan kemajuan teknologi dan Cybercounseling merupakan alternatif dari konseling dan cocok dengan model konseling saat ini. Penggunaan aplikasi WhatsApp untuk menunjang kinerja bimbingan dan konselor dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling masih sangat jarang. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, pendidikan mendapat Jurnal Iktibar Nusantara Vol. No. 1, 2. Inna Maiza. Fatimah Ibda Pengelolaan E- Layanan Konseling perhatian khusus oleh pemerintah Indonesia. sesuai dengan RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 Pasal 3. Dalam UU tersebut diatur mengenai dasar, fungsi, dan tujuan sistem pendidikan prinsip penyelenggaraan pendidikan. hak dan kewajiban warga negara, orang tua, masyarakat, dan pemerintah. peserta didik. jalur, jenjang, dan jenis bahasa pengantar. dan wajib belajar. Menurut Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 54 butir 6 menyebutkan bahwa beban kerja guru bimbingan dan konseling atau konselor yang menerima tunjangan profesi dan tunjangan tambahan minimal 150 orang peserta didik per tahun pada satu satuan studi atau lebih. Hal ini kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam nota penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Republik Indonesia. 74 Tahun 2008 kaitannya dengan Pasal 54 ayat . bahwa yang dimaksud dengan mampu memberikan layanan bimbingan bimbingan adalah memberikan perhatian, bimbingan, pengendalian dan pengawasan kepada sekurang-kurangnya 150 orang peserta didik, yang dapat dilakukan dalam bentuk tatap muka, layanan tatap muka di kelas dan layanan individu atau kelompok. Sebagaimana diatur dalam undang-undang, seorang guru pembimbing harus mahir dalam media sosial dan media pembelajaran agar bisa mengikuti kemajuan Dengan adanya kemajuan teknologi, guru bimbingan dan konseling saat ini mencoba memanfaatkan media sosial WhatsApp dalam layanan bimbingan Tugas dan tanggung jawab guru konseling adalah mengendalikan dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi siswa melalui media sosial WhatsApp. Peserta didik sering ketinggalan informasi yang di berikan oleh guru-guru karena keterbatasan media dan waktu. Ada beberapa peserta didik tidak berani berkonsultasi kepada guru bimbingan konseling terkait permasalahan yang di alami karena takut di nilai buruk oleh kawan- kawan dan lingkungannya. Selanjutnya, peserta didik juga kerap mendapatkan perlakuan yang kurang bagus dari temannya melalui sosial media WhatsApp. Peserta didik tidak bijak dalam menggunakan whatsapp di dalam lingkungan sekolah. Tidak sedikit juga peserta didik datang terlambat ke sekolah pada jam pertama pembelajaran dan setelah waktu istirahat, libur sekolah lebih dari tiga kali dalam sebulan. Dengan adanya WhatsApp sebagai media dalam layanan bimbingan dan konseling, peserta didik tidak akan terbatas waktu, tempat, informasi, serta terjaganya privasi ketika melakukan konseling. Serta diharapkan kepada peserta didik lebih bijak dalam menggunakan whatsapp dengan memanfaatkannya kepada hal-hal yang positif. Melalui e- layanan konseling berbasis whatsapp proses belajar mengajar bisa berlangsung lebih efektif dan efesien serta kedisiplinan peserta didik dapat mengalami peningkatan. Selvina. Empati dan Penggunaan Media Sosial Sebagai Faktor dalam MembentukMoral Remaja. Vol 3,No 2. Hasgimianti. Layanan BK Pola 17 Plus(Sekolah dan Luar Sekola. (Pekanbaru:Cahaya Firdaus, 2. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2. Inna Maiza. Fatimah Ibda Pengelolaan E- Layanan Konseling METODE Metode Penelitian yang dipilih oleh peneliti sesuai dengan pendapat Supardi yang mengatakan bahwa jenis penelitian kualitatif menggunakan metode penelitian lapangan . ield researc. yaitu penelitian yang data dan informasinya diperoleh dari kegiatan di kancah . kerja penelitian. 3 Metode penelitian kualitatif (Qualitative researc. , adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas, sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual atau kelompok. 4 Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, dan wawancara. Subjek penelitian adalah guru BK, wali kelas, dan peserta didik. Lokasi penelitian yang peneliti lakukan bertempat di SMA Negeri 4 BandaAceh. JL. Panglima Nyak Makam. No. Kec. Kuta Alam. Gampoeng Kota Baru,Kota Banda Aceh. Di analisis melalui teknik AuTriangulasiAy. Teknik triangulasi adalah pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu. Validasi data yang digunakan sebagai pembuktian bahwa data yang diperoleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelolaan E- Layanan Bimbingan dan Konseling Istilah e-konseling berasal dari bahasa inggris yaitu e-counseling . lectronic counselin. yang secara singkat dapat diartikan yaitu proses penyelenggaraan konseling secara elektronik. Selain istilah e-counseling ada pula yang menyebut dengan istilah cybercounseling, virtual counseling, internet counseling dan Konseling memberikan bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, sehingga akan menimbulkan perubahan dalam dirinya. 5Ekonseling adalah kegiatan membantu . yang dilakukan oleh seorang konselor terhadap masalah yang dihadapi oleh seorang klien dengan memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer dan internet. Supardi. Metodelogi Penelitian Ekonomi Bisnis, (Yogyakarta: UII Press, 2. , h. Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2. , h. Suhendri. Dede Abdurahman dkk. Aplikasi E-Counseling Untuk Meningkatkan Layanan Bimbingan Dan Konseling Siswa Menggunakan Metode Forecasting Berbasis Android Pada Smk Negeri 1 Maja. Jurnal J-Ensitec: Vol. 07 No. November 2020. Hairil Kurniadi. Implementasi Prototype Aplikasi E-konseling Untuk Menunjang Pelayanan Konseling Berbassi Jejaring Sosial. Jurnal Sistem Informasi. Volume 2 Nomor 2. September 2017, h. Jurnal Iktibar Nusantara Vol. No. 1, 2. Inna Maiza. Fatimah Ibda Pengelolaan E- Layanan Konseling Proses e-counseling dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu sebagai berikut : Tahap I (Persiapa. Tahap persiapan meliputi aspek teknis penggunaan perangkat keras. dan perangkat lunak. untuk mendukung pelaksanaan e-konsultasi. Perangkat komputer/laptop dengan koneksi ke internet/ethernet, headset, mikrofon, webcam. Perangkat lunak adalah program yang mendukung dan akan digunakan untuk akun dan alamat email. Di luar itu juga penyiapan konselor dari segi keterampilan, kesesuaian akademik, penilaian etika dan hukum, kesesuaian isu yang akan dibahas dan tata kelola. Tahap II . roses konselin. Tahapan e-counseling tidak jauh berbeda dengan tahapan proses konseling face-toface. Tahapan itu terdiri dari lima tahap. pengantaran, penjajagan, penafsiran, pembinaan dan penilaian namun dalampelaksanaannya Aukontinum fleksibelAy dimana saling berhubungan dan bersambung sesuai tahap dan lebih terbuka untuk dimodifikasi, mulai dari tahap awal hingga tahap akhir, juga penggunaan teknikteknik umum dan khusus tidak secara penuh seperti penyelenggaraan konseling secara langsung. Pada sesi e-counseling lebih menekankan pada terentasnya masalah siswa dibandingkan dengan cara bentuk pendekatan, teknik dan atau terapi yang digunakan. Pada tahapan ini pemilihan teknik, pendekatan dan ataupun terapi akan disesuaikan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa. Tahap i (Pasca Konselin. Tahap tiga yaitu pasca proses e-counseling pada tahap ini merupakan lanjutan dari tahapan sebelumnya dimana setelah dilakukan penilaian maka yang pertama . konseling akan sukses dengan ditandai kondisi siswa yang (Effective Daily Livin. EDL . konseling akan dilanjutkan pada sesi tatap muka . konseling akan dilanjutkan pada sesi konseling e-counseling berikutnya dan . siswa akan direferal pada guru BK lain atau ahli lain. Bersesuaian dengan konteks konseptual penelitian ini mengenai e- layanan konseling maka dapat dijelaskan pengertian e-layanan konseling adalah kegiatan membantu atau memberikan solusi yang dilakukan oleh seorang konselor terhadap masalah yang dihadapi oleh seorang klien dengan memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer dan internet. Situs-situs Konseling Online secara khusus memanfaatkan berbagai media Online lainnya yang bisa digunakan untuk penyelenggaraan konseling Online seperti jaring sosial misalnya Facebook. Twitter, myspace, email. dan beberapa Ifdil. Konseling Online Sebagai Salah Satu Bentuk Pelayanan E- Layanan Konseling,Jurnal Pendidikan. Volume 1 Nomor 1. Februari 2013, h. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2. Inna Maiza. Fatimah Ibda Pengelolaan E- Layanan Konseling program aplikasi untuk chating seperti Skype. Messenger. Google talk. Window Live Messenger bahkan penggunaan telepon dan Handpbone serta media khusus seperti WhatsApp dan teleconference lainnya. WhatsApp adalah salah satu media sosial paling populer yang sering digunakan oleh warga negara Indonesia. Whatsapp membuat komunikasi dan interaksi sosial melalui pesan, foto, audio, video, dokumen, dan hal-hal unik lainnya, termasuk dialog menjadi lebih mudah diakses. Media sosial whatsapp saat ini banyak digunakan oleh berbagai kalangan terutama pelajar. Anwar & Riadi mendefinisikan whatsapp sebagai media chatting yang bisa mengirim pesan teks, gambar, suara, lokasi, dan juga video ke orang lain dengan menggunakan smartphone jenis apa pun. 9 WhatsApp merupakan teknologi instan messaging seperti SMS dengan bantuan data internet dengan fitur pendukung yang lebih menarik dan merupakan media sosial paling populer yang dapat digunakan sebagai media komunikasi. 10 Sosial media WhatsApp merupakan media yang di gunakan oleh tenaga pendidik dalam proses belajar mengajar salah satunya pada layanan BK yang kemudian menjadi E-layanan konseling. Kedisiplinan Peserta Didik Disiplin berarti setiap macam pengaruh yang ditujukan untuk menolong peserta didik mempelajari cara menghadapi tuntutan yang datang dari lingkungannya dan juga cara menyelesaikan tuntutan yang mungkin diajukan terhadap lingkungannya. Soegeng Priyodarminto dalam bukunya AyDisiplin Kiat Menuju SuksesAy disiplin didefinisikan sebagai suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan, dan atau ketertiban12 Disiplin adalah suatu perubahan tingkah laku yang teratur dalam menjalankan tugas-tugasnya atau pekerjaannya, yang tidak melanggar sebuah aturan yang telah disepakati bersama. Sikap disiplin itu muncul pada diri sendiri Zahrah isnain dkk. Efektifitas Penggunaan Media Sosial Whatsapp dalam Komunikasi Kelompok. Jurnal Ilmu dan Komunikasi. Vol. No. 1 Juni 2023, h. Anwar dkk. Analisis Investigasi Forensik Whatsapp Sebagai Media Komunikasi Antara Dosen dan Mahapeserta didik Dalam Menunjang Kegiatan Belajar. Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, h. Yumiatmoko. Whatsapp Messenger Dalam Tinjauan Manfaat Dan Adab, (Wahana Akademika, 2. , h. Alex Sobur. Anak Masa Depan, (Bandung: Ankasa, 1. , h. Soejitno Irmim. Abdul Rochim. Membangun Disiplin Diri Melalui Kecerdasan Spiritual dan Emosional, ( Batavia Press. Cet. I, 2. , h. Jurnal Iktibar Nusantara Vol. No. 1, 2. Inna Maiza. Fatimah Ibda Pengelolaan E- Layanan Konseling untuk berbuat sesuai dengan keinginan untuk mencapai sebuah tujuan. Kedisiplinan peserta didik adalah suatu sikap dan perilaku yang menunjukkan ketaatan dan kesadaran untuk mengikuti aturan-aturan yang berlaku di lingkungan belajar, baik di rumah maupun di sekolah. Kedisiplinan peserta didik mencerminkan kemampuan mereka untuk mengatur diri sendiri, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas tugas dan kewajiban mereka sebagai Kedisiplinan peserta didik sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mengembangkan potensi diri mereka secaraoptimal. Penelitian ini telah di lakukan di SMAN 4 Banda Aceh yaitu dengan melakukan wawancara dengan koordinator BK, guru BK, wali kelas, dan peserta didik, penelitian kualitatif ini untuk mendapatkan data-data di lapangan seakurat mungkin untuk melihat bagaimana pengelolaan e-layanan konseling dalam peningkatan disiplin peserta didik berbasis WhatsApp di SMA Negeri 4 Banda Aceh. Peneliti akan membahas mengenai hasil-hasil penelitian yang telah di peroleh dari lapangan sesuai dengan rumusan masalah yang ada yaitu : Perencanaan e-layanan konseling berbasis WhatsApp dalam peningkatan disiplin peserta didik di SMAN 4 Banda Aceh. Dalam menyusun perencanaan harus ditentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya dan siapa yang akan melakukan kegiatan dalam suatu organisasi. 74 Pelaksanaan merupakan kegiatan inti dalam suatu pengelolaan agar perencanaan yang sudah di rancang dapat tercapai. Sehingga dalam kegiatan ini pihak-pihak yang bersangkutan dapat bekerja sama untuk melaksanakan e-layanan konseling sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Berdasarkan wawancara, observasi dan dokumentasi yang peneliti lakukan di SMAN 4 Banda Aceh bahwasanya pelaksanaan pengelolaan e-layanan konseling dalam peningkatan disiplin peserta didik berbasis WhatsApp ialah dengan melakukan perencanaan awal yaitu dengan membentuk Identifikasi Kebutuhan dan Kepentingan. Guru BK harus memahami kebutuhan dan kepentingan peserta didik. Ini melibatkan komunikasi dengan wali kelas dan pemahaman tentang situasi di Tahap selanjutnya yaitu membentuk Grup WhatsApp Per kelas. Untuk peserta didik baru, pembentukan grup WhatsApp per kelas adalah langkah awal yang baik. Grup ini memfasilitasi komunikasi antara peserta didik dan guru BK. Grup ini akan berfungsi hingga peserta didik mencapai semester 2 di kelas X. Tahap selanjutnya transisi ke Kelas XI, ketika peserta didik memasuki kelas XI, mereka akan memilih jurusan sesuai dengan minat dan bakat mereka . Oleh karena itu, perlu membentuk grup WA baru berdasarkan jurusan. Grup ini akan berlanjut hingga peserta didik menyelesaikan masa studi di SMAN 4 Banda Aceh. Tentunya orang tua harus mengambil andil dalam perkembangan peserta didik agar orang tua juga Suryaningsih. Pengaruh Disiplin Terhadap Peningkatan Prestasi Hasil Belajar Peserta didik MTsN Malang I. RS. PI, 2004, h. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2. Inna Maiza. Fatimah Ibda Pengelolaan E- Layanan Konseling dapat memantau dan memberikan arahan, tahap selanjutnya yaitu pembentukan grup WhatsApp orang tua dan wali. Guru BK juga dapat membentuk grup khusus untuk orang tua atau wali peserta didik. Dalam grup ini, anggota terdiri dari guru BK, wali kelas, dan orang tua. Tujuannya adalah agar orang tua dapat memantau perkembangan peserta didik di sekolah. Kemudian pembagian tugas guru BK dalam memberikan e-layanan konseling berbasis WhatsApp di SMA Negeri 4 Banda Aceh yang sudah ditunjuk ada 3 orang guru yang menjadi guru BK, dari 3 guru BK tersebut 1 orang guru yang menjadi koordinator guru BK yang bertujuan untuk memudahkan berjalannya elayanan konseling berbasis WhatsApp. Guru BK juga harus merencanakan waktu yang tepat, akan tetapi harus sefleksibel mungkin, perencanaan yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang muncul sepanjang tahun ajaran akan memudahkan guru BK dalam memberikan e-layanan konseling berbasis WhatsApp. Perencanaan e-layanan konseling di targetkan untuk jangka satu tahun ajaran dan akan di lakukan penyesuaian jika ada hal yang terjadi di luar perencanaan. Pelaksanaan e-layanan konseling berbasis WhatsApp dalam peningkatan disiplin peserta didik di SMAN 4 Banda Aceh. Aktualisasi dilaksanakan dengan cara mengimplementasikan seluruh rencana menjadi tindakan nyata sesuai prosedur yang telah ditetapkan. 75 Analisis di lakukan oleh guru BK berdasarkan data dan informasi mengenai peserta didik, sekolah, dan orang tua. Guru BK berkoordinasi dengan guru lain agar memudahkan merancang program BK yang relevan dan efektif. Terutama e-layanan konseling berbasis WhatsApp. Kemudian guru BK memberikan materi konseling secara langsung kepada siswa serta orang tua, juga mengenalkan e-layanan konseling berbasis WhatsApp. Ini bisa berupa presentasi atau diskusi kelompok. Melakukan pengenalan materi dan di sesuaikan juga dengan keperluan yang sedang di hadapi oleh peserta didik. Guru BK melakukan konseling individual dan kelompok dengan peserta Peserta didik diminta agar berbicara tentang masalah pribadi, emosi, dan Hal tersebut biasanya di lakukan di dalam ruangan khusus, karena agar peserta didik merasa nyaman dalam bercerita dan membagikan masalah dan privasi peserta didik juga tetap terjaga, dan secara kelompok jika ada peserta didik yang menghadapi masalah serupa. Kemudian melakukan tindak lanjut. Ini bisa berupa evaluasi perkembangan siswa. Peserta didik tetap di pantau jika setelah mendapatkan bimbingan baik itu melalui WhatsApp tidak ada perubahan maka peserta didik akan di buat jadwal baru untuk bimbingan ulang. Wali kelas biasanya memberikan laporan kepada guru BK terhadap tingkah laku peserta didik. Wali kelas juga ikut serta dalam memantau peserta didik dan juga wali kelas bisa berkoordinasi dengan guru BK dalam mengamati peserta didik. Di mana dalam hal Jurnal Iktibar Nusantara Vol. No. 1, 2. Inna Maiza. Fatimah Ibda Pengelolaan E- Layanan Konseling ini guru BK berkolaborasi dengan orang tua dan wali kelas untuk memastikan peserta didik mendapatkan dukungan holistik. Ini melibatkan komunikasi terbuka dan koordinasi dalam mengatasi masalah peserta didik. Kendala-kendala yang dialami guru BK dan peserta didik dalam pengelolaan e-layanan konseling berbasis WhatsApp dalam peningkatan disiplin peserta didik di SMAN 4 Banda Aceh. Dalam penggunaan e-layanan konseling berbasis digital timbul beberapa hal yang positif dan negatif. Kendala-kendala yang di alami guru BK dalam pengelolaan e- layanan konseling berupa peserta didik telat mengisi angket asesment melalui website dan penyalahgunaan WhatsApp dengan memakai whatsapp orang tua untuk meminta izin libur. Pelaksanaan konseling tidak bisa sepenuhnya bisa di lakukan melalui whatsapp, karena peserta didik biasanya datang langsung ke ruang BK saat peserta didik berada di lingkungan sekolah. Walaupun di SMAN 4 Banda Aceh sudah menggunakan e-layanan konseling hal ini tidak bisa sepenuhnya di gunakan untuk menggantikan layanan konseling non elektronik. Hal ini terjadi karena keterbatasan teknologi, beberapa peserta didik mungkin tidak nyaman atau tidak terbiasa menggunakan whatsapp dengan fitur chat, video call, telepon dan audio dalam layanan konseling sehingga layanan tatap muka lebih cocok bagi beberapa peserta didik. Kemudian konseling melalui whatsapp tidak memiliki kekuatan komunikasi Non-Verbal. Layanan konseling tatap muka memungkinkan konselor untuk mengamati ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan petunjuk non-verbal lainnya dari klien. Informasi ini dapat membantu dalam memahami perasaan dan kebutuhan peserta didik. Dalam elayanan konseling, informasi non-verbal ini terbatas, dan konselor harus mengandalkan komunikasi tertulis atau verbal saja KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang peneliti dan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Perencanaan e-layanan konseling berbasis WhatsApp dalam peningkatan disiplin peserta didik di SMA Negeri 4 Banda Aceh yaitu sebagai berikut: Survei Kebutuhan dan Kepentingan peserta didik. Komunikasi dengan Orang Tua dan Wali Kelas. Pembentukan beberapa grup WhatsApp. Pembagian tugas kepada guru BK. Merencanakan jangkapelaksanaan. Pelaksanaan e-layanan konseling berbasis WhatsApp dalam peningkatan disiplin peserta didik di SMA Negeri 4 Banda Aceh yaitu sebagai berikut: . Analisis kebutuhan peserta didik melalui link angket asesment. Pengenalan materi konseling berbasis whatsapp kepada orang tua dan peserta didik. Konseling individual dan konseling kelompok melalui . Tindak lanjut kepada peserta didik yang tidak ada perubahan. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2. Inna Maiza. Fatimah Ibda Pengelolaan E- Layanan Konseling . Kolaborasi dengan orang tua dan wali kelas untuk penyelesaian kasus. Kendala-kendala yang dialami guru BK dan peserta didik dalam pengelolaan e-layanan konseling berbasis WhatsApp dalam peningkatan disiplin peserta didik di SMA Negeri 4 Banda Aceh yaitu sebagai berikut:Keterlambatan dalam mengisi angket, beberapa peserta didik telat mengisi angket asesmen melalui website sehingga menghambat dalam proses analisis kebutuhan peserta didik. Penyalahgunaan beberapa peserta didik menggunakan WhatsApp orang tua untuk meminta izin libur tanpa sepengetahuan mereka. Keterbatasan teknologi, tidak semua peserta didik nyaman atau terbiasa menggunakan teknologi, terutama dalam bentuk chat, video, dan panggilan dalam layanan konseling. Kekurangan komunikasi non-verbal, e-layanan konseling tidak dapat menyampaikan informasi non-verbal seperti ekspresi wajah dan bahasa tubuh. REFERENSI