STRATEGI MEMBANGUN MINAT BACA ANAK DI USIA DINI Diana Zuschaiya1. Lila Hikmawati2 Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan e-mail: zuschaiya@unisda. id, 2lilahikmawati@unisda. Abstrak. Minat membaca anak Indonesia masih tergolong rendah dan perlu pembinaan. Untuk mengatasi persoalan ini diperlukan strategi yang efektif untuk membangun dan mengembangkan minat baca anak sejak usia dini. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi membangun minat baca anak usia dini melalui studi literatur. Berdasarkan hasil kajian terhadap 24 artikel penelitian terdahulu yang diterbitkan dalam rentang waktu 2020-2024 dari berbagai jurnal nasional dan internasional, ditemukan bahwa pengembangan minat baca anak usia dini melibatkan peran sinergis dari lingkungan keluarga, sekolah, serta masyarakat. Secara analitis, temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif keluarga dalam menanamkan kebiasaan membaca merupakan fondasi awal yang paling berpengaruh. Strategi yang paling dominan di lingkungan keluarga meliputi kegiatan membacakan buku secara rutin, memberikan hadiah berupa buku, serta memberikan teladan melalui kebiasaan membaca orang tua. Setelah fondasi ini terbentuk, peran sekolah dan masyarakat menjadi penguat yang penting dalam membiasakan anak untuk terus Tanpa dukungan dari kedua lingkungan ini, minat baca anak cenderung sulit berkembang secara optimal. Temuan ini memberikan arah strategis bagi upaya pembinaan literasi anak usia dini di berbagai lingkungan pendidikan, baik informal . , formal . , maupun nonformal . Kata kunci: strategi, minat baca, anak usia dini Abstract. Indonesian children's reading interest remains relatively low and requires structured To address this issue, effective strategies are needed to cultivate and enhance children's reading interest from an early age. This article aims to describe strategies for fostering reading interest in early childhood through a literature review. Based on an analysis of 24 previous research articles published between 2020 and 2024 in various national and international journals, it was found that the development of reading interest in early childhood involves the synergistic roles of the family, school, and community environments. Analytically, the findings indicate that active family involvement in instilling reading habits serves as the most influential foundational The most dominant strategies within the family setting include regularly reading books aloud to children, giving books as gifts, and modeling reading behavior through parents' own reading Once this foundation is established, the roles of schools and communities act as vital reinforcements in encouraging children to maintain their reading practices. Without support from both of these environments, childrenAos reading interest tends to develop suboptimally. These findings provide strategic direction for literacy development efforts in early childhood across various educational settingsAiinformal . , formal . , and non-formal . Keywords: strategy, reading interest, early childhood Diana Zuschaiya dan Lila Hikmawati PENDAHULUAN Setiap anak perlu mendapatkan perhatian terkait perkembangannya, baik minat, bakat, kognitif, maupun kreativitasnya. Minat merupakan faktor penting untuk memotivasi individu melakukan hal-hal yang baik guna masa depannya. Seorang anak dikatakan memiliki sebuah minat, dapat dilihat dari rasa senang atau ketertarikan pada sesuatu, kemudian didukung dengan adanya perhatian serta aktivitas yang ia lakukan (Rahman et al. , 2. Salah satu minat anak yang perlu ditingkatkan adalah minat membaca. Karena dengan terbiasa dan gemar membaca, pengetahuan anak akan cepat meluas serta membantu anak untuk memperbaiki cara ia berpikir (Ramadhani et al. , 2. Cinta terhadap kegiatan membaca penting untuk ditanamkan pada anak sejak usia dini. Minat membaca adalah kegemaran seseorang yang tumbuh dari diri sendiri tanpa adanya paksaan terhadap kegiatan membaca dan mampu menikmati dengan senang hati secara konsisten. Perasaan senang dalam membaca karena disadari bahwa ada kemanfaatan yang diperoleh individu setelah membaca (Nurmala et al. Namun, di era digital yang makin canggih dan kesukaan terhadap game di ponsel yang makin meningkat menyebabkan minat membaca anak-anak Indonesia makin berkurang. Sebetulnya permasalahan utama yang terjadi di Indonesia bukanlah terkait buta aksara, karena masalah tersebut sudah semakin terminimalisir. Justru masalah pokoknya adalah ketidakmauan orang-orang yang mestinya sudah mampu membaca terhadap kegiatan membaca. Berdasarkan data UNESCO, nilai minat membaca buku masyarakat Indonesia masih tergolong begitu rendah yaitu di angka indeks 0,001%. Artinya, dari 1. 000 orang hanya 1 yang tekun dalam membaca (Indrasari, 2. Fakta ini perlu ditangani dengan serius, baik di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, ataupun masyarakat. Pemerintah juga bertanggung jawab akan hal ini. Masalah rendahnya minat baca ini telah banyak dikaji dalam berbagai penelitian, terutama terkait peran orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat. Penelitian sebelumnya menekankan pentingnya pembiasaan membaca sejak dini melalui kegiatan yang menyenangkan seperti membacakan buku cerita, memberikan teladan, atau menciptakan lingkungan literasi di sekolah (Wati & Diana Zuschaiya dan Lila Hikmawati Perdana, 2. Akan tetapi, sebagian besar studi tersebut masih bersifat parsial, terbatas pada satu lingkungan saja . eluarga atau sekolah atau masyaraka. , tanpa melihat hubungan sinergis antar ketiganya. Studi ini berbeda dengan studi sebelumnya karena menyajikan analisis menyeluruh dari berbagai pendekatan strategis yang mencakup tiga lingkup utama secara terpadu: informal . , formal . , dan nonformal . Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bakiyah, dkk disampaikan bahwa menumbuhkan minat baca pada anak sejak usia dini adalah penting. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk andil dalam peningkatan minat baca anak. Cara yang dapat diupayakan adalah mengajak anak untuk bermain sekaligus belajar. Orang tua juga dapat menyempatkan waktu untuk membersamai anak dan membacakan buku cerita sesuai pilihan dan yang disukai anak. Sehingga tidak tumbuh kebencian akan kegiatan belajar (Bakiyah et al. , 2. Pernyataan terkait pentingnya peran orang tua di atas juga sejalan dengan yang dikemukakan Agnes dan Ainnur dalam tulisan artikelnya bahwa rumah sebagai lingkungan terbaik dalam memupuk dan mengembangkan minat baca anak. Orang tua dapat membangun minat baca anak dengan memberikan teladan. Orang tua yang gemar membaca akan diikuti oleh anak kegemarannya karena anak disebut sebagai peniru ulung yang baik. Adanya pembiasaan membaca juga menjadi dorongan atau motivasi anak untuk lebih mencintai kegiatan membaca (Cahyani & Rasydah, 2. Selain orang tua, guru juga memiliki tugas untuk menumbuhkan rasa cinta anak terhadap membaca. Guru adalah motivator yang selalu memberikan energi positif pada siswanya, misalnya dengan memberikan pujian saat anak dapat mengulas kembali tentang yang ia sudah baca. Guru juga dinamisator yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan arahan terkait kegiatan pembiasaan membaca siswa. Di samping itu, guru sebagai evaluator dan fasilitator. Guru harus mengevaluasi perkembangan minat dan kemampuan membaca siswanya, serta menunjang minat siswa dalam membaca seperti menyediakan lingkungan yang Perpustakaan merupakan tempat yang baik untuk menyalurkan minat baca anak. Anak dapat memilih dan meminjam buku yang diminati untuk ia baca (Wati & Perdana, 2. Diana Zuschaiya dan Lila Hikmawati Lingkungan masyarakat juga dapat mendukung minat baca jika lingkungan tersebut kondusif dan menyediakan fasilitas membaca yang dibutuhkan, baik fisik maupun nonfisik. Seperti di lingkungan masyarakat Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur, terdapat komunitas Generasi Limabelas (Gen Libel. yang mengadakan program mappabaca mappaguru, yakni kegiatan pembelajaran sekaligus lapak baca. Program ini bertujuan melakukan pengembangan minat baca anak (Suardi & Marzuki, 2. Mengingat pentingnya ditumbuhkannya minat anak terhadap kegiatan membaca, maka artikel ini disusun dengan tujuan mendeskripsikan strategi-strategi efektif dalam membangun minat baca anak usia dini berdasarkan hasil studi literatur terhadap sejumlah artikel ilmiah. Pada fase usia dini, perkembangan otak anak masuk kategori periode emas yaitu peka-pekanya anak dalam merekam dan meniru segala hal yang didengar dan dilihat. METODE Penulisan artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Sehingga karya tulis yang dihasilkan bersumber dari berbagai pustaka, di antaranya buku, artikel ilmiah, dan lainnya yang relevan dengan topik yang peneliti telaah. Peneliti menggunakan kriteria inklusi berupa: . artikel hasil penelitian yang membahas strategi membangun minat baca anak usia dini. artikel yang dipublikasikan dalam 5 tahun terakhir. artikel yang tersedia dalam akses penuh . ull tex. dan dapat ditinjau secara mendalam. Adapun kriteria eksklusi mencakup: . artikel yang tidak memuat data atau temuan relevan dengan fokus strategi. artikel yang hanya berupa opini atau ulasan singkat tanpa analisis Berdasarkan kriteria tersebut, peneliti mengkaji 24 artikel ilmiah dari berbagai jurnal nasional dan internasional yang diterbitkan dalam rentang waktu Melalui penelitian studi pustaka ini, peneliti dapat memperdalam pengetahuan terkait permasalahan yang hendak diteliti, selanjutnya dideskripsikan dalam karya tulis yang dapat dimanfaatkan pihak-pihak lain atau referensi bagi peneliti berikutnya (Sukardi, 2. Untuk proses analisis data, digunakan teknik analisis isi . ontent analysi. melalui kategorisasi tematik. Setiap artikel dibaca Diana Zuschaiya dan Lila Hikmawati secara mendalam untuk mengidentifikasi temuan-temuan utama, kemudian dikodekan berdasarkan tema-tema strategis yang muncul, seperti: peran keluarga, peran sekolah, peran masyarakat, metode pembiasaan membaca, serta pendekatan berbasis teknologi atau permainan. Setelah semua data terkategorisasi, peneliti menyusun sintesis temuan dengan membandingkan dan mengontraskan strategi dari berbagai artikel, untuk kemudian dirumuskan menjadi temuan baru yang bersifat integratif. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Peneliti menemukan beberapa artikel terkait dari jurnal nasional juga Artikel-artikel tersebut membahas tentang strategi atau upaya untuk membangun minat baca anak sejak usia dini. Sebagian besar penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan instrumen observasi. Dari 24 artikel, terdapat 14 yang menggunakan observasi dan 10 memanfaatkan wawancara sebagai teknik untuk menggali informasi. Hasil penelitian Syafrina . tentang minat baca anak usia dini, disampaikan bahwa upaya untuk meningkatkan minat baca anak usia dini dilakukan melalui mendongeng. Kegiatan mendongeng ini membuahkan hasil positif, yaitu minat baca anak dapat meningkat. Hal ini tampak dari antusiasme siswa saat mendengarkan dongeng dan tertarik untuk membuka buku-buku cerita yang disediakan di lingkungan sekolah. Mereka saling bercerita melalui gambar yang terdapat di buku tersebut, dapat melakukan tanya jawab terkait cerita, bahkan dapat mengulas kembali cerita yang didengar ataupun dibaca. Dengan demikian, dongeng merupakan salah satu strategi yang dapat membantu berkembangnya bahasa dan menumbuhkan minat baca anak usia dini. Pada penelitian Rahmah Hakim . menunjukkan bahwa media kartu kata bergambar dapat membantu anak usia dini mampu membaca permulaan. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar, termasuk tahap pemberian kuis yang menuntut anak harus membaca kemudian menebak gambar yang ditunjukkan. Proses ini dapat merangsang minat dan semangat baca siswa. Senada dengan hasil penelitian Tati Hamdiah & Nita Priyanti . yang mengatakan bahwa media kartu bergambar mampu Diana Zuschaiya dan Lila Hikmawati menciptakan daya tarik siswa untuk membaca, memudahkan siswa mengingat, serta mendukung kemampuan membacanya. Selanjutnya Rahmawaty Karwanto menjelaskan bahwa kepala sekolah memotivasi minat membaca siswa melalui strategi penggunaan buku digital. Kepala sekolah menuntut guru untuk menjembatani siswa terkait pembiasaan membaca buku digital. Buku ini efektif karena dapat dibaca dimana pun dan kapan pun. Program ini diharapkan dapat mendukung tercetaknya sumber daya manusia yang berwawasan tinggi, kritis, dan Purnamasari & Alam . dalam penelitiannya mengemukakan bahwa melalui metode Read Aloud minat membaca anak bisa mengalami Langkah-langkah yang telah dilakukan untuk mewujudkan minat baca anak terdiri dari: . memilih buku yang disesuaikan dengan karakteristik anak usia dini, yaitu memiliki ukuran besar buku ini berukuran besar dan bahasa yang digunakan mudah dipahami anak, sehingga anak dapat antusias menyimak buku yang dibaca guru. Aziz dalam penelitiannya . menjelaskan tentang program budaya literasi untuk membangun minat baca anak. Program yang telah dilaksanakan terdiri dari beberapa kegiatan di antaranya: . kegiatan One Day One Story, guru menyampaikan 1 cerita kepada anak-anak dengan teknik bervariasi setiap harinya, seperti dengan mendongeng, gambar seri, kadang juga dengan boneka jari. berkunjung ke perpustakaan. memberikan stimulasi mengembangkan literasi melalui metode bermain, seperti memasangkan gambar dengan nama, kegiatan menulis, ataupun dengan bermain kartu. berkunjung ke toko buku. Pada penelitian Wintari & Machfud . disebutkan bahwa bimbingan belajar mampu menumbuhkan rasa senang anak terhadap buku dan timbul antusias untuk membacanya ketika kolaborasi antara peran orang tua dan Pendidikan formal dapat berjalan dengan baik. Abidin M. Z et al. dalam tulisannya mengatakan bahwa membangun minat baca pada diri anak dapat melalui pemberian pengalaman bahasa sejak kecil dengan 3 cara yaitu: . orang tua dapat membiasakan anak mendengar yang dibaca ibu atau ayahnya. menciptakan lingkungan yang baik, seperti memberikan contoh suka membaca, menyediakan buku-buku yang diminati dan sesuai dengan Diana Zuschaiya dan Lila Hikmawati umur anak, serta menciptakan kehangatan ketika membaca. menggunakan metode bermain untuk kegiatan membaca, sehingga anak tidak terbebani atau terpaksa untuk menikmati kegiatan membaca atau mendengar bacaan. Sesuai hasil penelitian Setyaningsih & Indrawati . dikemukakan bahwa ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan minat sekaligus mendukung kemampuan membaca anak, di antaranya dapat melalui bermain peran, pojok baca, bermain kartu bergambar, bermain tebak kata, permainan keaksaraan, bercerita, serta membacakan buku untuk anak oleh ayah atau ibu di rumah serta guru di Tapiah A. et al. menjelaskan bahwa e-komik yang dikembangkan merupakan media pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan minat membaca anak pada usia dini. EAekomik disusun menggunakan aplikasi canva dan capcut yang berlandaskan dengan tujuan yang diharapkan. Berdasarkan hasil penelitian Taib et al. dijelaskan bahwa strategi yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan minat membaca yaitu melakukan kerja sama dengan kepala sekolah untuk memfasilitasi kebutuhan membaca anak seperti media yang menarik. samping itu, guru dapat memanfaatkan bahan bekas untuk dibuat media edukatif secara mandiri dan kreatif, serta dapat membuat permainan untuk kegiatan membaca seperti dengan kartu bergambar ataupun boneka tangan. Fakhriya . menjelaskan tentang implementasi Shared reading yang dapat meningkatkan minat membaca siswa. Shared reading merupakan cara yang menyenangkan karena terdapat kolaborasi antara guru dengan siswa. Dalam kegiatan ini guru menggunakan tulisan yang berukuran besar dan semua siswa dapat melihatnya. Kegiatan diawali dengan membaca bersama, diskusi, dan selanjutnya membaca secara mandiri. Pada penelitian Alifah et al. dijelaskan bahwa media pojok baca yang dibuat dapat menarik minat anak untuk membaca dengan perasaan senang. Pojok baca disusun dengan menarik dan disajikan bukubuku yang berkesan dengan dunia anak. Selain itu pojok baca menjadi tempat membaca terdekat dan ternyaman. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Susanti & Maulina . bahwa peran pojok baca berkontribusi dalam pengembangan minat baca anak. Diana Zuschaiya dan Lila Hikmawati Berdasarkan penelitian Pamungkas . disebutkan bahwa ada komunitas Indonesia yakni Komunitas Sohib Literasi Indonesia (Soli. yang mempunyai program sebagai upaya meningkatkan minat baca anak. Bentuk-bentuk kegiatannya antara lain: Yuk Batulis (Baca tuli. , strorytelling, tentang aku, puisi, aku bisa, dan hadiah kecilku. Melalui upaya-upaya tersebut, anak-anak semakin antusias Fitriani & Harjanty . mengemukakan dalam tulisannya bahwa perpustakaan berperan sebagai penunjang minat baca anak. Hal ini tidak lepas dari kualitas dalam pengelolaan perpustakaan itu sendiri, mulai dari pengadaan buku, pemilihan buku, serta pelayanan perpustakaan. Sebagaimana dalam artikel yang ditulis Ibrahim & Nazila . dijelaskan bahwa kepala perpustakaan sangat berperan untuk meningkatkan minat baca anak. Strategi yang dijalankan yaitu: mengadakan perbaikan terkait kelengkapan fasilitas, memastikan AC perpustakaan berfungsi aman, penyediaan internet tanpa dipungut biaya, pengaturan cahaya, penataan buku dan ruangan, serta pemberian tugas kelompok siswa pada jam pelajaran di perpustakaan. Pada penelitian Jayanti et al. dibahas bahwa untuk menumbuhkan minat baca anak dapat menggunakan strategi yang berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan cerita rakyat lokal, sehingga mudah dipahami anak karena karakter yang familiar. Ada lagi strategi lain yang dapat dilakukan untuk membangun minat baca anak, yaitu dengan membiasakan anak sejak dini untuk berinteraksi dengan sumber-sumber informasi seperti buku. Hal ini disampaikan dalam penelitian Sabila et al. yang sejalan dengan penelitian Hendinata et al. , bahwa pembiasaan interaksi dengan buku dapat dimulai dengan membacakan buku oleh orang tua atau guru, membaca bersama, mengeksplorasi variasi buku, serta didukung dengan ketelatenan orang tua/ guru mengadakan pendekatan kepada anak agar terlibat aktif dalam kegiatan membaca. Sedangkan Nurkhasyanah et al. dalam penelitiannya menjelaskan tentang buku bercerita bergambar untuk membangun minat baca anak. Pemahaman dan keterampilan akan bahasa dapat meningkat dengan rangsangan ilustrasi cerita yang menarik. Berbeda lagi dengan yang dibahas Rahman et al. dalam tulisannya yang lebih menekankan peran orang tua untuk mengembangkan minat baca anak. Mengembangkan minat dianggap lebih penting dibanding melatih Diana Zuschaiya dan Lila Hikmawati membaca. orang tua dapat mengupayakan terbentuknya minat baca anak bisa dengan beberapa cara, di antaranya: membacakan buku, menyediakan pojok baca, membelikan buku, ataupun mengajak anak mengunjungi pameran buku. Julianto & Umami . dalam jurnal internasional juga membahas tentang peran keluarga dalam membangun minat baca anak. Orang tua dikatakan sebagai pemeran penting dalam membina dan mengasuh anak. Yang tak kalah pentingnya adalah ikut serta menggerakkan budaya literasi atau membangun minat baca anak. Semakin banyak stimulasi dan pengaruh positif yang diberikan kepada anak, seperti pengenalan kosa kata dan dukungan untuk membaca, maka semakin cepat anak dapat memahami tulisan yang dibacanya dan hal ini dapat mendorong keberhasilan budaya literasi dalam keluarga. Hasil penelitian Julianto dan Umami tersebut senada dengan hasil penelitian Marti & Labibah . yang mengemukakan bahwa orang tua memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap minat membaca anak karena lingkungan keluarga merupakan tempat untuk membesarkan, mendidik dan merawat anak. Keluarga adalah kelompok sosial yang paling penting dan pertama. Anak-anak akan memiliki interaksi pertama mereka di awal kehidupan mereka dengan orang-orang terdekat Dengan beberapa upaya yang dilakukan, antara lain sering membacakan buku kepada anak sebelum tidur, menyediakan pojok baca di rumah, pergi ke bazar buku untuk rekreasi, serta memberikan hadiah buku kepada anak. DISKUSI