JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Peran Strategis Kepemimpinan dalam Meningkatkan Kompetensi Teknologi Informasi Teungku Dayah Salafi di Aceh Besar *Nikmal Maula1. Marzuki2. Teuku Zulkhairi3. 1,2,3 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh. Aceh. Indonesia Email: nikmalmaula341@gmail. Abstract This study aims to analyze the strategic leadership roles in enhancing the information technology competence of Teungku in Salafi Dayah of Aceh Besar. Employing a descriptive qualitative approach, the research was conducted at Dayah Thalibul Huda and Dayah Raudhatul QurAoan using participatory observation and indepth interviews with purposively selected leaders and teachers. The findings reveal that dayah leaders serve as initiators, motivators, and facilitators in driving digital transformation within the traditional Islamic educational context. Their strategies include contextual training, institutional restructuring, and the internalization of Islamic values in the use of technology. Supporting factors consist of leadership commitment, the active role of younger teachers, external partnerships, and basic IT infrastructure. Major obstacles include low digital literacy, cultural resistance, limited technical support, and heavy workloads. These findings underscore the importance of value-based and contextual leadership in integrating technology while preserving the traditional identity of Islamic boarding schools. Keywords: Leadership. Information Technology Competence. Teungku Dayah. Digital Transformation. Salafi Dayah Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis kepemimpinan dalam meningkatkan kompetensi teknologi informasi (TI) para Teungku di Dayah Salafi Aceh Besar. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, studi ini dilakukan di Dayah Thalibul Huda dan Dayah Raudhatul QurAoan, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap pimpinan dan tenaga pengajar yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pimpinan dayah berperan sebagai inisiator, motivator, dan fasilitator dalam mendorong transformasi digital di lingkungan dayah. Strategi yang diterapkan mencakup pelatihan kontekstual, restrukturisasi kelembagaan, dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam pemanfaatan TI. Faktor pendukung meliputi komitmen kepemimpinan, keterlibatan Teungku muda, dukungan eksternal, dan ketersediaan infrastruktur dasar, sementara hambatan utamanya adalah rendahnya literasi TI, resistensi budaya, keterbatasan teknis, dan tingginya beban kerja. Temuan ini menegaskan pentingnya kepemimpinan berbasis nilai dan kontekstual dalam mengintegrasikan teknologi tanpa menggeser identitas tradisional dayah. Kata Kunci: Kepemimpinan. Kompetensi Teknologi Informasi. Teungku Dayah. Transformasi Digital. Dayah Salafi *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Dayah Salafi merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di Aceh yang telah memainkan peran penting dalam melestarikan tradisi keilmuan klasik dan membentuk karakter generasi Muslim. Dalam sejarahnya, dayah menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi berbagai dinamika zaman tanpa kehilangan identitas keilmuannya yang khas. Meskipun demikian, era digital dengan segala kemajuan teknologi informasi (TI) menuntut lembaga pendidikan, termasuk dayah, untuk melakukan penyesuaian dan inovasi agar tetap relevan (Zulmi et al. , 2024. Adeya, 2. Transformasi digital dalam dunia pendidikan dinilai mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses pengetahuan, serta meningkatkan efisiensi administrasi pendidikan (Anisa, 2. Namun, pada kenyataannya, proses digitalisasi di dayah, khususnya dayah salafi, masih berjalan lambat. Sebagian besar Teungku Dayah masih berpegang pada metode tradisional seperti ceramah dan talaqqi sebagai pendekatan utama dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan pemanfaatan teknologi belum menjadi bagian yang terintegrasi secara sistemik dalam proses pendidikan di dayah. Berdasarkan observasi awal peneliti di Dayah Thalibul Huda dan Dayah Raudhatul QurAoan di Aceh Besar memperlihatkan bahwa para Teungku dayah sangat membutuhkan teknologi pada zaman sekarang ini. Akan tetapi dalam pembelajaran tengku dayah lebih nyaman dengan menggunakan metode pengajaran tradisional, seperti ceramah dan diskusi tatap muka. Padahal, pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran dapat memberikan banyak manfaat seperti memperkaya materi pembelajaran, meningkatkan interaktivitas, memudahkan komunikasi dan memfasilitasi pembelajaran jarak jauh. Sehingga penulis menemukan banyak teungku-teungku dayah yang masih kurang paham dalam mengaplikasikan Teknologi Informasi. Di sisi lain, peluang untuk mengembangkan digitalisasi berbasis nilai lokal juga mulai terlihat. Beberapa dayah telah memanfaatkan perangkat lunak keislaman seperti Maktabah Syamilah, menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah, serta mengintegrasikan perangkat TI dalam kegiatan belajar-mengajar, meskipun penerapannya masih terbatas dan sporadis. Dalam konteks ini, peran kepemimpinan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. dayah menjadi sangat strategis, khususnya dalam menjembatani nilai-nilai tradisional dengan tuntutan transformasi digital. Kepemimpinan yang strategis dan visioner menjadi penentu keberhasilan adopsi teknologi di lingkungan dayah. Sebagaimana dijelaskan oleh Anwas . dan Mesran et al. , pimpinan pesantren memiliki peran sentral dalam menggerakkan perubahan, mulai dari penyusunan visi digital, fasilitasi pelatihan, hingga membentuk budaya adaptif di kalangan tenaga pengajar. Namun, hingga saat ini, masih sangat terbatas kajian empiris yang secara khusus mengkaji strategi kepemimpinan dalam meningkatkan kompetensi TI para Teungku di dayah salafi, khususnya di Aceh Besar, dalam kerangka nilai-nilai Islam lokal yang khas. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis kepemimpinan dalam meningkatkan kompetensi teknologi informasi Teungku Dayah Salafi di Aceh Besar, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses digitalisasi di lingkungan Kebaruan dari penelitian ini terletak pada penguatan perspektif lokalitas Aceh dalam kepemimpinan pendidikan, serta upaya mengintegrasikan teknologi digital tanpa menggeser jati diri dayah sebagai lembaga pembinaan akhlak dan ilmu Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi terhadap pengembangan teori kepemimpinan Islam dan praktik manajemen perubahan di lingkungan pesantren tradisional di Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam terkait peran strategis kepemimpinan dalam meningkatkan kompetensi teknologi informasi (TI) para Teungku di Dayah Salafi Aceh Besar. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik fenomena yang diteliti, yaitu berkaitan dengan proses, makna, dan pengalaman subyektif di lingkungan pendidikan tradisional. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive di dua dayah salafi di Aceh Besar, yakni Dayah Thalibul Huda dan Dayah Raudhatul QurAoan. Kedua lembaga ini dipilih karena merepresentasikan karakteristik umum dayah salafi di Aceh Besar, yaitu berbasis nilai tradisional namun menunjukkan keterbukaan terhadap inovasi digital, sehingga relevan sebagai lokasi penelitian. Informan penelitian JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. terdiri dari dua pimpinan dayah dan enam Teungku yang dipilih melalui teknik purposive sampling, dengan mempertimbangkan tingkat keterlibatan aktif mereka dalam kegiatan penguatan kompetensi TI di lingkungan dayah. Pengumpulan data dilakukan melalui dua teknik utama, yaitu observasi partisipatif dan wawancara terstruktur. Observasi dilakukan dengan keterlibatan langsung peneliti dalam lingkungan dayah untuk mengamati praktik kepemimpinan dan penggunaan teknologi oleh para Teungku. Sementara itu, wawancara dilakukan menggunakan pedoman terstruktur yang telah disusun berdasarkan fokus penelitian, dan ditujukan kepada pimpinan dan tenaga pengajar yang relevan. Data yang diperoleh dianalisis secara interaktif dengan mengacu pada model Miles. Huberman, & Saldana . , yang mencakup tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga validitas dan kredibilitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, serta melakukan member checking kepada informan kunci guna mengonfirmasi kebenaran dan konsistensi temuan (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Strategis Kepemimpinan dalam Meningkatkan Kompetensi Teknologi Informasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pimpinan dayah salafi di Aceh Besar memainkan peran yang sangat penting dalam mendorong penguatan kompetensi teknologi informasi (TI) bagi para Teungku. Peran strategis ini tercermin dalam posisi mereka sebagai inisiator, motivator, dan fasilitator transformasi digital. Pimpinan dayah menetapkan visi kelembagaan yang responsif terhadap perkembangan zaman dan secara aktif mengarahkan seluruh unsur dayah agar beradaptasi dengan tuntutan literasi digital. Pimpinan juga membangun kesadaran akan urgensi penguasaan teknologi melalui berbagai forum internal dan komunikasi informal. Sosialisasi ini mencakup penyampaian manfaat TI dalam konteks pembelajaran, pengelolaan administrasi, dan perluasan dakwah melalui media digital. Peran ini tidak bersifat simbolis, melainkan praktis dan partisipatif. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Temuan ini menguatkan pandangan Anwas . bahwa keberhasilan integrasi TI dalam institusi pendidikan Islam tradisional bergantung pada kapasitas kepemimpinan dalam membentuk orientasi kolektif terhadap inovasi. Dalam konteks dayah salafi, di mana norma-norma tradisional sangat kuat, kepemimpinan yang visioner menjadi elemen kunci dalam menjembatani nilai klasik dengan kebutuhan modernitas. Strategi Kepemimpinan dalam Penguatan Kompetensi Teknologi Informasi Teungku Dayah Strategi kepemimpinan yang diterapkan di Dayah Salafi dalam meningkatkan kompetensi teknologi informasi (TI) para Teungku menekankan dirancang dengan mempertimbangkan kultur pendidikan tradisional, kapasitas sumber daya manusia, dan nilai-nilai keislaman. Berdasarkan data empiris dari Dayah Thalibul Huda dan Dayah Raudhatul QurAoan, strategi tersebut mencakup tiga dimensi utama yaitu penguatan kapasitas individu, restrukturisasi kelembagaan, dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam penggunaan teknologi. Penguatan kapasitas individu Pimpinan dayah melakukan penguatan kapasitas individu melalui pelatihan yang bersifat terarah dan disesuaikan dengan tingkat literasi digital masing-masing Teungku. Pelatihan tersebut meliputi: Penggunaan perangkat dasar seperti laptop, proyektor . , dan printer. Pengenalan aplikasi perkantoran (Microsoft Offic. untuk pengetikan, pengolahan data, dan pembuatan bahan ajar. Pemanfaatan media sosial untuk kepentingan dakwah dan komunikasi Pelatihan ini dilaksanakan secara informal dan partisipatif, dengan memanfaatkan peran Teungku muda sebagai mentor sebaya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip andragogi, yaitu pembelajaran orang dewasa yang menekankan konteks dan pengalaman belajar (Knowles et al. , 2. Data wawancara menunjukkan bahwa para Teungku senior merasakan manfaat pendampingan tersebut karena pembelajaran menjadi lebih santai, relevan, dan sesuai kebutuhan lapangan. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Restrukturisasi kelembagaan Pada tataran struktural, pimpinan dayah melaksanakan restrukturisasi kelembagaan untuk mendukung ekosistem digital. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain: Alokasi anggaran khusus untuk pengadaan perangkat TI seperti komputer, router, dan proyektor. Penunjukan koordinator teknologi dari kalangan guru muda yang memiliki keterampilan digital. Integrasi TI dalam kegiatan akademik, termasuk evaluasi kitab, presentasi materi pelajaran, dan forum diskusi berbasis slide. Membangun kerja sama eksternal dengan lembaga pelatihan, instansi pemerintah, dan alumni untuk memperluas akses pelatihan serta bantuan Langkah-langkah ini sejalan dengan pandangan Bass dan Avolio . dalam model transformational leadership yang menekankan pentingnya struktur pendukung dalam mendorong perubahan. Internalisasi Nilai-nilai Islam dalam Penggunaan Teknologi Strategi kepemimpinan juga menekankan internalisasi nilai-nilai Islam dalam literasi digital. Pimpinan dayah menanamkan pemahaman bahwa penguasaan TI bukan bentuk westernisasi, melainkan bagian dari wasilah dakwah di era modern. Penggunaan teknologi dikaitkan dengan maqAid al-sharAoah, khususnya aspek hifz al-dn . enjaga agam. melalui perluasan akses dakwah. Para pimpinan juga memberikan pengarahan tentang etika bermedia dan filterisasi konten agar teknologi digunakan secara produktif dan sesuai syariat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip prophetic leadership yang mengintegrasikan nilai spiritual, edukatif, dan kultural dalam proses kepemimpinan (Maktumah et al. , 2. Hasil observasi menunjukkan bahwa Teungku dan santri menjadi lebih selektif dalam mengakses informasi digital serta memanfaatkannya untuk pengembangan ilmu keislaman. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Dengan ketiga pendekatan ini, kepemimpinan dayah tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga memainkan peran strategis dalam menjembatani nilai tradisional dan tuntutan teknologi kontemporer. Faktor Pendukung dan Penghambat Transformasi Digital Faktor Pendudkung Tranformasi Digital Proses transformasi digital di lingkungan dayah salafi di Aceh Besar tidak terlepas dari sejumlah faktor pendukung yang memperkuat kapasitas institusi dalam merespons era digitalisasi. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat faktor Pertama, komitmen kepemimpinan yang kuat menjadi fondasi utama. Pimpinan dayah menunjukkan kesadaran dan tekad untuk menjadikan teknologi sebagai bagian dari sistem pembelajaran. Kepemimpinan semacam ini sejalan dengan temuan Anwas . , yang menyatakan bahwa visi dan orientasi pemimpin sangat menentukan arah kebijakan lembaga pendidikan. Kedua, adanya keterlibatan Teungku muda yang memiliki literasi digital lebih baik turut mempercepat proses adaptasi teknologi. Mereka berperan sebagai katalisator perubahan yang menjembatani kesenjangan generasi dalam penggunaan TI. Hal ini menguatkan gagasan Suyanto . tentang pentingnya generasi muda dalam mendinamisasi lembaga berbasis tradisi. Ketiga, dukungan eksternal dari alumni dan mitra seperti Dinas Pendidikan dan perguruan tinggi menjadi pendorong signifikan dalam menyediakan pelatihan dan infrastruktur teknologi. Ini menunjukkan pentingnya kolaborasi multi-pihak dalam pembangunan kapasitas kelembagaan. Keempat, beberapa dayah telah memiliki fasilitas dasar TI, seperti komputer, proyektor, dan koneksi internet meski masih terbatas. Ketersediaan infrastruktur ini memberikan landasan awal bagi pelaksanaan program digitalisasi berbasis nilai. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Faktor Penghambat Tranformasi Digital Meskipun terdapat faktor-faktor pendukung, proses transformasi digital di dayah salafi juga menghadapi berbagai hambatan struktural dan kultural yang cukup kompleks. Pertama, keterbatasan literasi teknologi masih menjadi kendala utama, terutama di kalangan Teungku senior yang belum familiar dengan perangkat digital. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi mereka dalam pelatihan dan penerapan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar (Marisa et al. , 2. Kedua, terdapat resistensi kultural yang menganggap teknologi sebagai sesuatu yang asing atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai kesederhanaan Persepsi ini mencerminkan kekhawatiran akan terjadinya erosion of values, sebagaimana dikemukakan oleh Adeya . dalam konteks lembaga tradisional menghadapi modernisasi. Ketiga, minimnya tenaga teknis dan pendampingan di bidang TI menyebabkan proses adopsi teknologi berlangsung lambat dan kurang Tanpa dukungan teknis, pemeliharaan perangkat dan implementasi sistem pembelajaran berbasis teknologi sulit dilakukan secara sistematis. Keempat, terbatasnya anggaran operasional menyebabkan digitalisasi belum menjadi prioritas utama dalam perencanaan kelembagaan. Fokus dayah yang masih didominasi oleh kegiatan keagamaan mengurangi perhatian terhadap pengembangan sistem pembelajaran modern. Kelima, beban kerja para Teungku yang padat menyulitkan mereka untuk mengikuti pelatihan teknologi secara konsisten. Hal ini berdampak pada rendahnya tingkat adaptasi terhadap pembaruan digital yang dibutuhkan oleh sistem pendidikan kontemporer. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi digital di dayah salafi tidak cukup hanya dengan pendekatan struktural, tetapi juga memerlukan pendekatan kultural dan partisipatif. Sejalan dengan Putra . , keberhasilan inovasi teknologi di lingkungan pesantren tradisional sangat ditentukan oleh kemampuan adaptif dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam kerangka nilai-nilai lokal. Secara keseluruhan, penelitian ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan yang visioner, partisipatif, dan adaptif berperan sebagai katalisator utama dalam JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. proses peningkatan kompetensi teknologi informasi di lingkungan dayah salafi. Kepemimpinan semacam ini mampu mengubah resistensi menjadi partisipasi, serta memfasilitasi ekosistem pembelajaran digital yang tetap berakar pada nilai-nilai Islam tradisional. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dayah salafi di Aceh Besar memiliki peran strategis dalam meningkatkan kompetensi teknologi informasi Teungku melalui fungsi sebagai inisiator perubahan, motivator literasi digital, dan fasilitator penguatan kapasitas. Strategi yang diterapkan mencakup pelatihan berbasis kebutuhan, penguatan struktur kelembagaan, dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam penggunaan teknologi. Faktor pendukung keberhasilan transformasi digital mencakup komitmen kepemimpinan, peran aktif Teungku muda, dukungan eksternal, serta ketersediaan fasilitas dasar. Sementara itu, hambatan utama meliputi rendahnya literasi TI di kalangan Teungku senior, resistensi kultural, keterbatasan sumber daya, dan tingginya beban kerja. Temuan ini menegaskan pentingnya model kepemimpinan berbasis nilai dan transformasional dalam kontekstualisasi digitalisasi pendidikan Islam tradisional, serta memberikan kontribusi terhadap penguatan manajemen perubahan di lembaga pendidikan berbasis komunitas. *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. DAFTAR PUSTAKA