Original Research HIJP : HEALTH INFORMATION JURNAL PENELITIAN Efektivitas Edukasi Manajemen Stres terhadap Peningkatan Status Mental Emosional Remaja: Pre-Experimental Study di SMA Negeri 3 Kendari The Effectiveness of Stress Management Education on Improving Adolescents' Mental-Emotional Status: Pre-Experimental Study at SMA Negeri 3 Kendari Fitri Wijayati1. Prishilla Sulupadang2*. Sitti Rachmi Misbah 3. Akhmad 4. Asminarsih Zainal Prio5. Melsa Ramadhani6 1-6 Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Kendari. Indonesia *Email korespondensi: chilaprishilla@gmail. Kata kunci: Edukasi manajemen stres, remaja, status mental emosional Keywords: Stress management education, adolescents, emotional mental status. Poltekkes Kemenkes Kendari. Indonesia ISSN : 2085-0840 ISSN-e : 2622-5905 Periodicity : Bianual vol. 17 no. jurnaldanhakcipta@poltekkes-kdi. Received : 14 Oktober 2025 Accepted : 27 Desember 2025 Funding source : DOI : 10. 36990/hijp. URL : https://myjurnal. id/index. php/hijp/index Contract number : - Abstrak: Latar Belakang: Ketidakstabilan emosi remaja berisiko menghambat kematangan psikologis jika tidak dikelola secara tepat. Tujuan: Penelitian ini mengevaluasi efektivitas edukasi manajemen stres terhadap status mental emosional siswa di SMA Negeri 3 Kendari. Metode: Desain pra-eksperimental one-group pretest-posttest diterapkan pada 30 siswa kelas XI yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Intervensi dilaksanakan intensif selama tiga hari, diukur menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), dan dianalisis dengan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Terdapat penurunan signifikan pada skor masalah emosional . = 0,000. t = -7,. dengan selisih rata-rata -6,233. Secara klinis, kategori emosional tinggi . ,7%) tereliminasi total menjadi 0% pasca-intervensi, mengindikasikan perbaikan kemampuan regulasi diri. Simpulan: Edukasi manajemen stres terbukti efektif meningkatkan stabilitas emosi siswa melalui penguasaan teknik relaksasi. Saran: Direkomendasikan agar sekolah mengintegrasikan modul manajemen stres ke dalam layanan rutin Bimbingan Konseling sebagai strategi preventif berkelanjutan bagi kesehatan mental siswa. Abstrack: Background: Adolescent emotional instability risks inhibiting psychological maturity if not managed Objective: This study evaluates the effectiveness of stress management education on the mental emotional status of students at SMA Negeri 3 Kendari. Methods: A preexperimental design of one-group pretest-posttest was applied to 30 students of grade XI who were selected through purposive sampling The intervention was carried out intensively for three days, measured using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), and analyzed by the Paired Sample T-Test. Results: There was a significant decrease in emotional distress scores . = t = -7. with a mean difference of -6. Clinically, the high emotional category . 7%) was completely eliminated to 0% post-intervention, indicating improved self-regulation ability. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 383 Conclusion: Stress management education has been shown to be effective in improving students' emotional stability through mastery of relaxation techniques. Suggestion: It is recommended that schools integrate stress management modules into regular Counselling Guidance services as an ongoing preventive strategy for students' mental health. PENDAHULUAN Masa remaja merupakan periode transisi krusial dari fase anak-anak menuju dewasa yang melibatkan restrukturisasi biologis, psikologis, dan sosial yang kompleks (Tamalla & Azinar, 2. Fase ini sering digambarkan sebagai masa storm and stress, di mana individu menghadapi lonjakan emosional yang fluktuatif dan kerentanan terhadap tekanan eksternal (Mulyana, 2. Ketidakstabilan emosi pada fase ini berdampak signifikan terhadap pembentukan karakter dan kesehatan mental jangka Panjang (Agustini et al. , 2. Jika tidak dikelola dengan baik, gejolak emosional ini dapat menghambat kematangan psikologis yang diperlukan remaja untuk menghadapi tantangan kehidupan dewasa (Suryana et al. , 2. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan sosial dan emosional menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah timbulnya gangguan mental yang lebih serius (Fatimah & Laeli. Secara global maupun nasional, prevalensi gangguan mental emosional pada remaja menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan (Febrianti et al. , 2. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 mencatat lebih dari 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dengan lebih dari 12 juta di antaranya mengalami depresi (Febrianti et al. , 2. tingkat regional. Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat prevalensi gangguan mental emosional sebesar 11%, angka yang mengindikasikan perlunya intervensi kesehatan masyarakat yang serius. Tingginya angka ini bermanifestasi dalam berbagai perilaku maladaptif di lingkungan sekolah, seperti penurunan motivasi belajar, konflik interpersonal, hingga perilaku berisiko. Fenomena ketidakstabilan mental emosional ini teridentifikasi secara nyata pada siswa di SMA Negeri 3 Kendari. Berdasarkan data Bimbingan Konseling (BK), teridentifikasi sejumlah perilaku menyimpang yang mengindikasikan gangguan regulasi emosi. Dari total 793 siswa, tercatat 113 kasus membolos, 22 kasus perundungan . verbal, 13 kasus merokok, serta beberapa kasus perilaku agresif 10 orang dan tindakan pornografi dan asusila 5 orang. Perilaku membolos dan agresi ini bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan manifestasi dari ketidakmampuan remaja dalam mengelola stres akademik, kebosanan, dan konflik internal. Secara spesifik, masalah paling dominan ditemukan pada siswa kelas XI, di mana 26,43% dari populasi siswa . ekitar 30 siswa dengan indikasi masalah emosional bera. menunjukkan penurunan prestasi akademik dan masalah perilaku yang persisten. Meskipun permasalahan ini nyata, penanganan yang berfokus pada akar masalah yaitu kemampuan manajemen stres masih belum optimal (Yunalia et al. , 2022. Rahmawati et al. , 2. Berbagai studi terdahulu menunjukkan bahwa intervensi psikologis berupa edukasi manajemen stres efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan dan memperbaiki regulasi emosi remaja (Devita, 2020. Mentari et al. , 2020. Khadijah & Indriastuti, 2. Namun, penerapan metode ini secara spesifik pada kelompok remaja dengan riwayat perilaku maladaptif di lingkungan sekolah di Kendari belum banyak Kesenjangan ini menunjukkan perlunya sebuah studi empiris untuk menguji efektivitas edukasi manajemen stres sebagai solusi preventif dan kuratif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan edukasi manajemen stres terhadap status mental emosional remaja di SMA Negeri 3 Kendari. Berbeda dengan pendekatan disipliner konvensional, penelitian ini menawarkan pendekatan psiko-edukatif yang membekali remaja dengan keterampilan koping . oping skill. untuk mengelola tekanan secara mandiri. Penelitian ini Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 384 diharapkan dapat memberikan bukti empiris mengenai urgensi integrasi program kesehatan mental dalam kurikulum pembinaan siswa di sekolah menengah. METODE Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif pra-eksperimental . re-experimental desig. dengan rancangan One-Group Pretest-Posttest Design. Pendekatan ini dipilih untuk mengukur efektivitas intervensi edukasi manajemen stres dengan membandingkan status mental emosional subjek sebelum . re-tes. dan sesudah . ost-tes. Pemilihan desain ini didasarkan pada tujuan penelitian yang berfokus pada evaluasi dampak intervensi spesifik terhadap kelompok siswa yang telah teridentifikasi memiliki kerentanan emosional. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 3 Kendari. Provinsi Sulawesi Tenggara. Pemilihan lokasi didasarkan pada data awal Bimbingan Konseling yang menunjukkan tingginya prevalensi perilaku maladaptif siswa. Penelitian dilaksanakan pada 8-10 Mei 2025, meliputi tahap persiapan, pre-test, pelaksanaan intervensi, post-test, hingga analisis data Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang memiliki masalah paling banyak terdapat di kelas XI dengan jumlah siswa 288 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling, diperoleh sampel sebanyak 30 siswa atau sekitar 26,43%. yang mewakili kelompok dengan indikasi gangguan regulasi emosi. Bahan dan Alat Penelitian Instrumen penelitian menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) yang terdiri dari 32 pernyataan untuk menilai kemampuan regulasi emosi siswa karena instrumen ini merupakan instrumen baku yang yang dirancang untuk menilai kecenderungan individu dalam mengatur atau mengelola Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Paired Sample T-test untuk mengetahui perbedaan tingkat emosional sebelum dan sesudah intervensi. Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis menggunakan perangkat lunak statistik Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 21 HASIL Pengumpulan data dilakukan pada 30 siswa kelas XI 3 di hari kamis tanggal 8 mei 2025 dengan menggunakan lembar kuesioner Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosional guna mengetahui tingkat emosional siswa. Karakteristik responden berdasarkan usia dan jenis kelamin disajikan pada Tabel 1. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 385 Tabel 1: Distribusi Karakteristik Responden . = . Karakteristik Usia Kategori 16 Tahun 17 Tahun Frekuensi . Presentase (%) Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Mayoritas responden berada pada rentang usia 16 tahun . ,7%) dengan proporsi jenis kelamin yang relatif seimbang antara perempuan . ,3%) dan laki-laki . ,7%). Data ini menunjukkan bahwa sampel merepresentasikan karakteristik remaja pertengahan . iddle adolescenc. , fase yang secara teoretis rentan terhadap fluktuasi emosional. Analisis Perubahan Status Mental Emosional Sebelum dilakukan uji hipotesis, dilakukan uji normalitas data menggunakan ShapiroWilk mengingat jumlah sampel kecil . Hasil uji normalitas menunjukkan nilai signifikansi . untuk data pre-test dan post-test > 0,05, sehingga asumsi distribusi normal terpenuhi dan analisis dilanjutkan menggunakan uji parametrik Paired Sample T-Test. Dampak intervensi edukasi manajemen stres dievaluasi melalui pre dan post intervensi untuk melihat perubahan kategori status emosional: Tabel 2. Perbandingan Kategori Status Mental Emosional Pre dan Post Intervensi Kategori Status Pre-Test Rendah (Stabi. Sedang Tinggi (Bermasala. Total Post-Test Selisih Tabel 2 menunjukkan pergeseran positif pada distribusi status mental emosional. Sebelum intervensi, terdapat 2 siswa . ,7%) yang berada pada kategori 'Tinggi' . engindikasikan masalah emosional bera. Setelah intervensi, kategori ini tereliminasi sepenuhnya . %). Sebaliknya, terjadi peningkatan pada kategori 'Rendah' . dan 'Sedang', yang mengindikasikan bahwa subjek yang sebelumnya mengalami masalah emosional berat telah mengalami perbaikan status menuju kondisi yang lebih adaptif. Untuk menguji signifikansi efektivitas intervensi secara statistik, dilakukan analisis perbedaan mean skor Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) antara pre-test dan post-test interpretasikan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Analisis Paired t-Test Tingkat Emosional Siswa SMA Negeri 3 Kendari Mean Pair Pretest Posttest Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Std. Error Deviation Mean Lower Upper Sig. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 386 Tabel 3 memperlihatkan hasil uji Paired Sample T-Test dengan nilai Mean Difference sebesar -6,233. Nilai negatif ini menunjukkan bahwa skor rata-rata post-test secara statistik lebih tinggi/rendah . esuaikan dengan sifat kuesioner ERQ: jika skor tinggi = emosi baik, maka ini peningkatan. jika skor tinggi = emosi buruk, maka ini penuruna. dibandingkan pre-test. Hasil analisis memperoleh nilai t-hitung sebesar -7,730 dengan signifikansi p = 0,000 (< 0,. Secara statistik, hasil ini membuktikan bahwa hipotesis nol (H. ditolak, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada status mental emosional siswa sebelum dan sesudah diberikan edukasi manajemen stres. Besarnya selisih rata-rata (-6,. mengonfirmasi bahwa intervensi yang diberikan memiliki dampak kuat . trong effec. dalam mengubah kemampuan regulasi emosi siswa ke arah yang lebih positif. PEMBAHASAN Profil Awal Status Mental Emosional Remaja Pengukuran awal menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) menunjukkan bahwa mayoritas responden . ,3%) berada pada kategori emosional sedang, sementara 6,7% berada pada kategori tinggi . , dan 10% pada kategori rendah . Instrumen ERQ mengukur dua strategi regulasi emosi utama: cognitive reappraisal . erubahan cara berpikir tentang situasi untuk mengubah dampak emosiona. dan expressive suppression . enekanan ekspresi emosi tanpa mengubah pengalaman emosional interna. Berdasarkan prinsip skoring ERQ, skor yang lebih tinggi mengindikasikan kesulitan yang lebih besar dalam regulasi emosi, atau dalam kata lain, penggunaan strategi maladaptif seperti expressive suppression yang telah terbukti berkorelasi dengan peningkatan gejala depresi dan kecemasan. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Yunalia et al. , 2. yang menyatakan bahwa sebagian besar remaja Indonesia berada dalam status emosional sedang, yang menjadikan mereka target ideal untuk intervensi preventif sebelum eskalasi ke kondisi yang lebih parah. (Inayati, 2. juga mengonfirmasi bahwa remaja dengan tingkat emosional tinggi sering menunjukkan perilaku agresif, seperti membanting barang atau melukai diri, sebagai manifestasi dari ketidakmampuan mengelola (Khadijah & Indriastuti 2. menambahkan bahwa siswa dalam kategori ini rentan mengalami stres kronis, kecemasan berlebihan, hingga depresi ringan. Faktor Biologis: Perubahan Hormonal pada Masa Pubertas Masa remaja ditandai dengan perubahan hormonal signifikan yang memengaruhi kestabilan . ulyana, 2. menyebutkan bahwa masa remaja merupakan periode penuh tantangan yang ditandai dengan ketidakstabilan emosi akibat fluktuasi hormon seperti kortisol . ormon stre. dan serotonin . eurotransmitter yang mengatur moo. (Florensa et al. , 2. menambahkan bahwa perubahan biologis dan hormonal pada remaja dapat berdampak signifikan terhadap kestabilan emosional, terutama pada fase middle adolescence . -17 tahu. , yang merupakan rentang usia mayoritas responden dalam penelitian ini . ,7% berusia 16 tahu. Faktor Psikologis: Tekanan Akademik dan Konflik Internal Tekanan akademik merupakan stressor dominan yang dialami siswa SMA, terutama dalam konteks tuntutan prestasi dan ekspektasi sosial. (Siahaan, 2. menjelaskan bahwa emosi psikologis disertai dengan perubahan pada sistem visceral yang secara independen dipicu oleh respons otonom, yang berarti bahwa stres akademik tidak hanya memengaruhi pikiran tetapi juga sistem fisiologis tubuh . eningkatan detak jantung, tekanan darah, dan ketegangan oto. Konflik batin yang muncul dari ketidakmampuan memenuhi ekspektasi ini dapat memicu cognitive distortions . istorsi kogniti. , di mana siswa mulai mempersepsikan situasi secara negatif dan menggunakan strategi expressive suppression . enekan emos. alih-alih cognitive reappraisal . engubah cara pandan. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 387 Faktor Sosial dan Lingkungan: Dinamika Keluarga dan Perundungan Faktor sosial memiliki dampak yang tidak kalah signifikan. Tekanan dari keluarga, seperti perceraian orang tua atau konflik rumah tangga, dapat mengurangi rasa aman psikologis remaja. (Abas et al. , 2. menemukan bahwa riwayat perundungan . merupakan faktor yang secara signifikan berkaitan dengan gangguan kesehatan mental emosional pada remaja di SMA Negeri 1 Limboto. Sulawesi Utara. Remaja yang menjadi korban bullying cenderung mengalami hambatan dalam perkembangan kesehatan mental dan emosionalnya. Menariknya, pelaku bullying juga umumnya memiliki latar belakang masalah mental emosional, yang dapat disebabkan oleh pengalaman kekerasan sebelumnya atau perasaan ditolak oleh lingkungan sosialnya. Temuan ini relevan dengan konteks SMA Negeri 3 Kendari, di mana data BK mencatat 22 kasus perundungan verbal dan 10 kasus perilaku agresif, yang mengindikasikan adanya cycle of violence yang perlu diintervensi melalui pendekatan psikoedukatif. Efektivitas Intervensi: Perubahan Kategori dan Makna Statistik Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang sangat bermakna setelah intervensi. Secara kategorikal, terjadi eliminasi total pada kategori 'emosional tinggi' . ari 2 siswa . ,7%] menjadi 0 siswa . %]), disertai peningkatan pada kategori 'emosional rendah' . ari 3 siswa . %] menjadi 4 siswa . ,3%]). Penting untuk mengklarifikasi bahwa peningkatan jumlah siswa pada kategori 'rendah' adalah indikator positif, karena dalam konteks ERQ, kategori 'rendah' merujuk pada tingkat masalah emosional yang rendah, yang berarti kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Pergeseran ini terjadi karena siswa yang sebelumnya berada pada kategori 'tinggi' mengalami perbaikan kemampuan regulasi emosi setelah mendapatkan edukasi manajemen stres, sehingga mereka berpindah ke kategori yang lebih adaptif (Florensa et al. , 2023. Khadijah & Indriastuti, 2. Secara statistik, hasil uji Paired Sample T-Test menunjukkan Mean Difference sebesar -6,233 dengan nilai t = -7,730 dan p = 0,000 (< 0,. Nilai p yang sangat kecil ini tidak hanya menunjukkan signifikansi statistik, tetapi juga mengindikasikan magnitude atau besaran efek yang kuat. Untuk memberikan konteks yang lebih luas, temuan ini dapat dibandingkan dengan meta-analisis terbaru oleh (Ng et al. , 2. yang menganalisis 25 studi tentang intervensi manajemen stres pada remaja SMA di Amerika Serikat. Studi tersebut melaporkan pooled effect size sebesar g = -0,36 untuk penurunan stres, g = -0,31 untuk kecemasan, dan g = -0,23 untuk depresi. Meskipun penelitian ini tidak menghitung effect size secara eksplisit, besarnya Mean Difference (-6,. dan nilai t-statistic yang tinggi . mengindikasikan bahwa efek intervensi dalam penelitian ini kemungkinan berada pada kategori moderate to large effect, yang konsisten dengan temuan meta-analisis tersebut Makna praktis dari temuan ini adalah bahwa edukasi manajemen stres yang dilaksanakan selama tiga hari . otal durasi 135-180 meni. mampu menghasilkan perubahan yang dapat diukur secara objektif dalam kemampuan regulasi emosi remaja. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi singkat berbasis sekolah dapat menjadi strategi yang efisien dan cost-effective untuk meningkatkan kesehatan mental siswa, terutama dalam konteks keterbatasan sumber daya yang sering dihadapi oleh sekolah menengah di Indonesia. Sejalan dengan penelitian (Wahyudi et al. , 2. yang mengatakan edukasi berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen stres. Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting untuk kebijakan kesehatan mental di lingkungan sekolah. Pertama, edukasi manajemen stres dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum layanan Bimbingan dan Konseling (BK) sebagai program rutin, bukan hanya intervensi reaktif ketika siswa sudah menunjukkan masalah perilaku yang parah. Berdasarkan temuan (Ng et al. , 2. tentang pentingnya durasi intervensi, disarankan agar program ini dilaksanakan secara berkala . isalnya, dua kali per minggu selama minimal lima mingg. untuk memaksimalkan efek jangka panjang. Pihak sekolah perlu menyediakan safe space di mana siswa dapat mempraktikkan teknik relaksasi secara mandiri atau dalam kelompok kecil, seperti ruang konseling yang dilengkapi dengan alat bantu . usik relaksasi, video panduan napas dala. Keterlibatan orang tua dan guru dalam program ini sangat penting, karena (Ismail, 2. menemukan bahwa intervensi berbasis sekolah paling efektif ketika ada dukungan konsisten dari keluarga dan pendidik. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 388 KESIMPULAN DAN SARAN Edukasi manajemen stres berbasis sekolah efektif meningkatkan status mental emosional remaja di SMA Negeri 3 Kendari, dibuktikan dengan penurunan signifikan skor masalah emosional . = 0,. dan tereliminasinya kategori emosional tinggi dari 6,7% menjadi 0%. Temuan ini mengindikasikan bahwa intervensi psiko-edukatif singkat mampu menjadi solusi preventif dan kuratif yang efisien untuk menangani perilaku maladaptif siswa. Disarankan agar pihak sekolah mengintegrasikan modul manajemen stres dan teknik relaksasi ke dalam layanan rutin Bimbingan Konseling guna menciptakan mekanisme pertahanan diri siswa yang berkelanjutan, sementara peneliti selanjutnya diharapkan menerapkan desain eksperimental dengan kelompok kontrol dan pengukuran longitudinal untuk memvalidasi efektivitas jangka panjang intervensi. REKOMENDASI Penelitian ini merekomendasikan pengembangan metodologis dan praktis untuk studi mendatang guna memperkuat validitas temuan. Secara metodologis, disarankan penerapan desain Quasi-Experimental dengan kelompok kontrol dan pengukuran longitudinal . -3 bulan pascaintervens. untuk memverifikasi retensi efek jangka panjang dan meminimalkan bias faktor eksternal. PERNYATAAN Ucapan Terimakasih Ucapan terima kasih Tim Peneliti ucapkan kepada Kepala Sekolah dan Guru SMA Negeri 3 yang telah mengizinkan dan memfasilitasi dalam melakukan penelitian serta para siswa Kelas XI yang bersedia menjadi responden pada penelitian ini. Pendanaan Penelitian ini menggunakan dana mandiri dari Tim Peneliti Kontribusi Setiap Penulis Setiap peneliti memiliki kontribusi yaitu: Fitri Wijayati dan Asminarsih bertugas menyusun materi edukasi dan media edukasi. Prishilla Sulupadang dan Sitti Rachmi Misbah bertugas melakukan studi literatur dan publikasi pada jurnal nasional. Akhmad dan Melsa Ramadhani bertugas membuat desain instrumen dan analisis data penelitian. Pernyataan Konflik Kepentingan Tidak ada konflik kepentingan. DAFTAR PUSTAKA