Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 414-418 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Analisis Berpikir Kritis Siswa Terhadap Kemandirian Belajar Siswa dalam Pembelajaran PAI Yuliana Lestari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesia Email : yulianalestari897@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sikap dan berpikir kritis siswa terhadap kemandirian belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI). Adapun jenis penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Pemerolehan data dilakukan menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, serta dinyatakan valid usai uji keabsahan melalui teknik triangulasi. Penelitian ini menemukan bahwa perilaku atau sikap mandiri seseorang tidak terbentuk secara mendadak, akan tetapi melalui proses sejak masa kanak-kanak. Perilaku antara individu dengan individu yang lain berbeda, hal ini karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor yang sangat mempengaruhi sikap mandiri seseorang dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam yaitu, faktor fisiologis mencakup kondisi fisik siswa, sehat atau kurang sehat dan faktor psikologis mencakup bakat, minat, sikap mandiri, motivasi, dan kecerdasan. Sedangkan faktor dari luar mencakup keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kata kunci: Berpikir kritis. Kemandirian Belajar. Analysis of Students' Critical Thinking Against Student Learning Independence in PAI Learning Abstract This study aims to analyze the attitudes and critical thinking of students towards student learning independence in learning Islamic religious education (PAI). The type of this research is a qualitative approach with analytical descriptive method. Data collection was carried out using interview, observation and documentation studies. Furthermore, the data were analyzed using data reduction techniques, data presentation and conclusion drawing, and were declared valid after the validity test through triangulation techniques. This study found that a person's independent behavior or attitude is not formed suddenly, but through a process since childhood. Behavior between individuals with other individuals is different, this is because it is influenced by many factors. Factors that greatly affect a person's independent attitude are grouped into two, namely internal factors and external factors. Internal factors, namely, physiological factors include students' physical conditions, healthy or unhealthy and psychological factors include talents, interests, independent attitudes, motivation, and While external factors include family, school, and community. Keywords: Critical Thinking. Independent Learning. || Yuliana Lestari || Analisis Berpikir Kritis Siswa Terhadap Kemandirian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 414-418 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu kebutuhan bagi setiap kehidupan manusia (Arfani. Hal ini karena pendidikan dapat memperluas cakrawala pengetahuan dalam rangka membentuk sebuah nilai, sikap, perilaku yang lebih baik (Supardi, 2. Pendidikan sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku sesuai dengan kebutuhan. Menurut Undang-Undang Bab 1 pasal . pendidikan adalah Auusaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peseta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa dan negaraAy (Syah, 2010:. Tujuan pendidikan di Indonesia secara umum adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya (Siddik, 2016:89-. Untuk mencapai butir-butir tujuan pendidikan tersebut perlu di dahului oleh proses pendidikan yang memadai. Agar proses pendidikan berjalan dengan baik, maka semua aspek yang dapat mempengaruhi belajar siswa hendaknya dapat berpengaruh positif bagi diri siswa, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan (Hartono, 2010:. Kemandirian belajar adalah sifat dan kemampuan yang dimiliki peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar aktif yang didorong oleh motif untuk menguasai suatu kompetensi dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki (Syahputra, 2. Menurut pendapat ahli mengemukakan bahwa, peserta didik yang memiliki kemandirian belajar peserta didik yang aktif memaksimalkan kesempatan dan kemampuannya untuk belajar (Suryabrata, 2. Seseorang dikatakan memiliki kemandirian belajar apabila ia mempunyai keinginan sendiri untuk belajar, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan kewajibannya sebagai peserta didik. Namun kenyataannya kemandirian belajar peserta didik sekarang ini sangatlah kurang. Hal ini didasarkan banyak penelitian yang mengungkapkan rendahnya kemandirian belajar yang dimiliki oleh siswa. Selaras dengan makna di atas, seharusmya siswa cenderung belajar lebih baik, mampu memantau, mengevaluasi dan mengatur belajarnya secara efektif, menghemat waktu secara efisien, akan mampu mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berpikir dan bertindak serta tidak merasa bergantung pada orang lain. Siswa yang mempunyai kemandirian belajar mampu menganalisis permasalahan yang kompleks, mampu bekerja secara individual maupun bekerja sama dengan kelompok dan berani mengemukakan gagasan. Mencermati uraian di atas, dipahami bahwa masih minim penelitian, pengembangan, dan implementasi pembiasaan karakter mandiri belajar pada siswa. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka peneliti mengambil judul penelitian yaitu AuAnalisis Berfikir Kritis Siswa Terhadap Kemandirian Belajar Siswa dalam Pembelajaran PAIAy. METODE Jenis penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan metode library research yaitu mengumpulkan buku-buku yang berkaitan dengan objek penelitian atau penelitian yang bersifat kepustakaan (Assingkily, 2. Adapun sumber literatur yang dijadikan referensi ialah artikel, buku, dan literatur ilmiah lainnya tentang kemandirian || Yuliana Lestari || Analisis Berpikir Kritis Siswa Terhadap Kemandirian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 414-418 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety belajar dan sikap berpikir kritis siswa, yang dapat diakses secara langsung . di toko buku atau akses daring . via Google Scholar atau Google Cendekia. Adapun teknik analisis data yang digunakan, yaitu teknik analisis data kajian isi . ontent analysi. Kajian ini adalah kajian yang menanfaatkan buku atau dokumen untuk menarik kesimpulan, baik kajian isi yang bersifat deduktif maupun kajian isi yang bersifat induktif. Pada kajian ini peneliti terlebih dahulu mengadakan survei data untuk memperoleh informasi dari penelitian terdahulu terhadap pengerjaan tanpa memedulikan apakah data itu primer atau sekunder, di lapangan atau di laboratorium. Kemudian, menelusuri literatur yang ada serta menelaahnya secara tekun. Setelah itu, peneliti mengungkapkan buah pikiran secara kritis dan analitis. HASIL DAN PEMBAHASAN Kemandirian dalam belajar masih banyak tidak dimiliki oleh siswa. Ada guru yang mengatakan bahwa pelajaran sekarang banyak yang bersifat seperti AupakuAy, paku baru dapat bergerak kalau dipukul dengan martil. Siswa sekarang walau tidak semuanya, banyak bersifat serba pasif. Dalam membaca buku-buku pelajaran saja misalnya, kalau tidak disuruh atau diperintahkan oleh guru, maka buku-buku tersebut akan tetap tidak tersentuh dan akan selalu utuh karena tidak dibaca (Sobri & Moerdiyanto, 2. Aktivitas guru-guru pada waktu senggang mereka, yang mana lebih gemar mengambil topik-topik ringan dan mengambang dalam berdialog sementara tugastugas murid banyak yang tidak diperiksa dan persiapan belajar serba belum beres adalah gambaran ketidakmandirian siswa dalam mengikuti pembelajaran. Tidak hanya guru-guru tetapi malah pegawai-pegawai lainnya, barangkali juga menunjukkan adanya gejala ketidakmandirian dalam belajar. Perilaku mereka seperti suka berpikir mengambang, melakukan debat kusir dan berkelakar hampir sepanjang waktu, mereka baru melakukan tugas dengan baik kalau masih dikontrol oleh pihak atasan saban waktu adalah ciri-ciri dari ketidakmandirian dalam belajar meski secara biologis mereka sudah sangat dewasa. Kesimpulan saya, kegagalan dalam pendidikan banyak yang disebabkan oleh ketidakmandirian siswa dalam belajar. Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting bagi individu (Al Fatihah, 2016:. Seseorang dalam menjalani kehidupan ini tidak pernah lepas dari cobaan dan tantangan. AuIndividu yang memiliki kemandirian tinggi relatif mampu menghadapi segala permasalahan karena individu yang mandiri tidak tergantung pada orang lain, selalu berusaha menghadapi dan memecahkan masalah yang adaAy. Pada sisi inilah kemandirian belajar diperlukan dalam mengatasi setiap masalah. Belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri, melainkan belajar dengan prakarsa dan tanggung jawab sendiri dengan bantuan minimal dari orang lain. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pengertian kemandirian belajar dapat dirincikan berikut ini, . Tidak bergantung pada orang lain. Bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran sendiri. Menentukan tindakan belajar sendiri. Dapat mentransfer hasil belajar ke dalam situasi nyata. Melibatkan berbagai sumber dalam . Mampu mengevaluasi hasil belajar sendiri. Menguasai kompetensi tertentu sebagai hasil belajar (Oknisih & Suyoto, 2. || Yuliana Lestari || Analisis Berpikir Kritis Siswa Terhadap Kemandirian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 414-418 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kemampuan seseorang dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya secara nyata dengan tidak bergantung pada orang lain. Kemandirian merupakan perilaku siswa dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya secara nyata dengan tindak bergantung pada orang lain, dalam hal ini adalah siswa tersebut mampu melakukan belajar sendiri mempelajari pendidikan agama Islam, dengan dapat menentukan cara belajar yang efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik dan mampu untuk melakukan aktivitas belajar secara mandiri, serta menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai anak didik. Kemandirian belajar secara terperinci disampaikan oleh beberapa ahli berikut ini. Pertama, setiap individu siswa berusaha meningkatkan tanggung jawab untuk mengambil berbagai keputusan dalam usaha belajarnya. Kedua. Belajar mandiri dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran. Ketiga. Belajar mandiri bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain. Keempat. Dengan belajar mandiri, siswa dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan ke dalam situasi yang lain. Kelima. Siswa yang melakukan belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas, seperti: membaca sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik, dan kegiatan korespondensi. Keenam. Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan siswa, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan-gagasan kreatif. dan Ketujuh. Beberapa institusi pendidikan sedang mengembangkan belajar mandiri menjadi program yang lebih terbuka (Tasaik & Tuasikal, 2. Kemandirian belajar dapat diartikan sebagai usaha individu untuk melakukan kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai suatu materi dan atau kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah yang dijumpainya di dunia nyata. SIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa perilaku atau sikap mandiri seseorang tidak terbentuk secara mendadak, akan tetapi melalui proses sejak masa kanakkanak. Perilaku antara individu dengan individu yang lain berbeda, hal ini karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor yang sangat mempengaruhi sikap mandiri seseorang dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam yaitu, faktor fisiologis mencakup kondisi fisik siswa, sehat atau kurang sehat dan faktor psikologis mencakup bakat, minat, sikap mandiri, motivasi, dan kecerdasan. Sedangkan faktor dari luar mencakup keluarga, sekolah, dan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA