Sophia Dharma: Jurnal Filsafat. Agama Hindu, dan Masyarakat E-ISSN: 2338-8390 * https://e-journal. iahn-gdepudja. Volume 8 Nomor 1. Mei 2025 Analisis Struktur dan Nilai Geguritan Patibrata Anak Agung Istri Anom1. Anak Agung Istri Dhika Dharma Putri2 Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram. Universitas Udayana mail@gmail. com1 , anakagungistridhikadharmaputri@gmail. Keywords: Analysis. Structure. Value. Geguritan Patibrata. Kata Analisis. Struktur. Nilai. Geguritan Patibrata. Abstract Geguritan is a classical Balinese literary form that continues to captivate literature enthusiasts. Geguritan Patibrata conveys profound Hindu religious teachings, particularly significant for Hindu women in fulfilling their swadharma . acred dut. in society. This study aims to explore the structure and values embedded in Geguritan Patibrata. The research methodology consists of manuscript inventory and literature review for data collection, while translation and descriptive methods are applied for analysis. Structural analysis reveals three core elements: theme, plot, and characterization. The central theme is a wife's loyalty to her husband, reflecting the concept of patibrata. The plot follows a classical structure: . The exposition introduces the main character. Dhyah Sunyawati. The complication emerges as Wang Bhang Mahacitta falls in love with Dhyah Nawang Sasih, intending to marry her. The resolution shows Dhyah Sunyawati, discovering her husbandAos sorrow and, out of selflessness, granting him permission to marry Dhyah Nawang Sasih. Dhyah Sunyawati is the protagonist, supported by characters including Wang Bhang Mahacitta. Dhyah Nawang Sasih. Dhang Hyang Mahadisara. Wang Bhang Dwiyajyana. Dhyah Dwiajyani. Dhang Hyang Lingga Pranawa, and Maharsi Sri Winddhu. The work conveys philosophical values (Widhi Tattwa. Atma Tattwa. Karma Phala Tattwa. Punarbhawa Tattw. , ethical values . aithfulness, politeness, sincerit. , and aesthetic values through poetic depictions of nature in the hermitage. Abstrak Geguritan merupakan karya sastra klasik yang sampai saat ini masih menarik minat masyarakat pecinta sastra. Geguritan Patibrata. berisi tentang ajaran agama Hindu yang luhur, yang penting ketahui oleh umat Hindu terutama kaum wanita, dalam menunaikan swadharmanya di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan struktur dan nilai Geguritan Patibrata . Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi metode pengumpulan data meliputi inventarsisasi naskah dan studi pustaka. Metode alnalisis data meliputi metode terjemahan dan metode deskriptif. Hasil Penelitian terhadap struktur Geguritan Patibrata Struktur Patibrata meliputi tema, alur dan penokohan. Tema Geguritan Patibrata adalah kesetiaan seorang istri terhadap suami (Patibrat. Alur cerita Geguritan Patibrata terdiri dari. Eksposisi. Komplikasi, dan Resolusi. Eksposisi dalam Geguritan Patibrata diawali oleh pengarang memperkenalkan tokoh utama cerita yaitu Dhyah Sunyawati. Komplikasi dalam Geguritan Patibrata muncul setelah tokoh Wang Bhang Mahacitta bertemu Dhyah Nawang Sasih. Mereka berdua saling jatuh cinta dan berniat untuk melangsungkan perkawinan. Resolusi . khir cerit. Dhyah Sunyawati melihat suaminya sangat berduka setelah pulang dari perjalananya. Setelah diselidiki ternyata suaminya telah jatuh cinta dengan wanita bernama Dhyah Nawang Sasih. Demi kebahagiaan suaminya Dhyah Sunyawati, mengijinkan suaminya untuk mengawini Dhyah Nawang Sasih. Penokohan dalam Geguritan Patibrata meliputi tokoh utama adalah Dhyah Sunyawati. Tokoh Tambahan adalah Wang Bhang Mahacita. Dhyah Nawang Sasih. Dhang Hyang Mahadisara. Wang Bhang Dwiyajyana. Dhyah Dwiajyani. Dhang Hyang Lingga Pranawa. Maharsi Sri Winddhu. Adapun Nilai Geguritan Patibrata i adalah Nilai Filosofis. Nilai Etika dan Nilai Estetika. Pendahuluan Kebudayaan secara luas diartikan sebagai seluruh total dari pikiran, karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya dan yang karena itu hanya bias dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar (Koentjaraningrat, 1974:. Pelestarian terhadap warisan budaya perlu dilaksanakan dalam upaya membentuk kepribadian masyarakat suatu bangsa, dalam berbagai kemungkinan skala adalah sesuatu yang sekaligus ditentukan oleh dua hal yaitu: . warisan budaya yang berupa hasil-hasil penciptaan dimasa lalu. hasil-hasil daya cipta dimasa kini yang didorong, dipacu atau dimungkinkan oleh tantangan dan kondisi actual dari jaman sekarang (Sedyawati, 2006: . Oleh karena itu kita perlu melestarikan kebudayaan bangsa dengan kreativitas serta mengembangkannya mengikuti kemajuan (Mantra, 1996: . Hasil karya sastra klasik tersebar di seluruh wilayah nusantara dan diungkapkan dalam berbagai Bahasa daerah di Nusantara. Beberapa diantaranya merupakan hasil karya sastra yang membanggakan yang ditulis dalam Bahasa Aceh. Batak. Minangkabau. Sunda. Bugis dan Bali. Diantara karya-karya sastra tersebut karya sastra berbahasa Jawa (Jawa Kun. menduduki tempat yang istimewa, karena berasal dari abad ke 9 sampai 10 (Zoetmulder, 1985: . Dalam proses sejarah, di Jawa. Majapahit sebaagai pewaris terakhir kesusastraan Jawa Kuna akibat adanya goncangan politik dan budaya zaman itu sastra Jawa Kuna semakin memudar atau hilang di Jawa. Akhirnya. Kesusastraan Jawa Kuna tersebut berkembang di berbagai tempat, yang secara tidak langsung memberi inspirasi sastra zaman berikutnya, misalnya sastra Jawa Baru. Namun. Bali penerima warisan sastra Jawa Kuna secara dominan, mewarisi tradisi sastra Jawa Kuna serta nilai budayanya (Suastika, 2011: . Tradisi satra Jawa Kuna sampai sekarang tetap terpelihara dengan baik pada masyarakat Bali. Hasil-hasil karya sstra Jawa Kuna yang tersimpan dalam bentuk lontar, terpelihara dengan baik, pada beberapa tempat penyimpanan lontar antara lain Gedong Kirtya Singaraja. Kantor Pusat Dokumentasi Budaya bali. Museum Bali, maupun menjadi koleksi pribadi masyarakat di tempat kediamannya masing-masing. Naskahnaskah Sastra Jawa Kuno yang merupakan refleksi buku suci Weda, senantiasa dipelajari dan diapresiasi melalui kegiatan mabebasan. Cara apresiasi karya sastra seperti ini tidak hanya pada puisi Jawa Kuna, tetapi dilakukan pula pada semua bentuk puisi tradisional Bali . ekar agung, sekar madia, dan sekar ali. Melalui kegiatan ini masyarakat . eniman, sastrawan dan budyawa. Bali berusaha mengkaji, memahami, dan menghayati ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra (Madera, 1997: . Geguritan merupakan salah satu karya sastra klasik yang sampai saat ini masih menarik minat masyarakat pecinta sastra. Sebagai salah satu karya sastra di nusantara geguritan mengandung nilai-nilai luhur berupa ajaran agama Hindu yang luhur, yang penting untuk diketahui oleh umat Hindu khususnya bagi kaum wanita, dalam menunaikan swadharmanya sebagai istri untuk mempertahankan keharmonisan keluarga, dan dalam perannya sebagai ibu yang melahirkan anak, atau pelaksana aktivitas keagamaan, oleh karena itu Geguritan Patibrata sangat penting diteliti dan dikaji, sehingga nilai-nilai ajaran agama Hindu yang terkandung di dalamnya bias dipahami dan diamalkan dengan baik. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi metode pengumpulan data dan metode analisis data. Metode pengumpulan data meliputi inventarsisasi naskah dan studi pustaka. Metode alnalisis data meliputi metode terjemahan dan metode deskriptif. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Naskah yang dijadikan sebagai bahan kajian dalam penelitian ini berasal dari Kantor Pusat Dokumentsi Budaya dengan No Lontar: G/XVi/6/DOKBUD. judul Lontar: Geguritan Patibrata. Ukuran lontar, pnjang 35 cm, lebar 3,5 cm. Jumlah Halaman 19 lembar: Asal geria Jungutan. Bungaya. Karangasem. Naskah ini ditulis dengan huruf Bali. Teks diawali dengan kalimat: AuDhurma winacita ta sira asitkala. diakhiri dengan kalimat: Katedun antuk Ida bagus ketur Rai. Geria jungutan bungaya, babandem Amlapura. Puput ring rahina radite, pon wara medangsia, sasih katiga isaka Ada 6 jenis pupuh yang digunakan dalam Geguritan Patibrata yaitu . Pupuh Dhurma terdiri dari 9 Bait. Pupuh Sinom terdiri dari 15 bait. Pupuh Pangkur terdiri dari 11 Bait, . Pupuh Smarandana terdiri dari 16 bait. Pupuh Dangdang terdiri dari 13 Bait, . Pupuh Demung terdiri dari 14 bait. Ada seorang resi bernama Dang Hyang Mahadisara dari pasraman Antahredaya memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Dyah Sunyawati. Dyah Sunyawati sudah menikah deng Sang Arya Wang Bang Mahacitta. Perkawinannya sangat harmonis daan telah memiliki putra dan putri. Anak yang laki bernama Wang Bang Diwyadnyana dan yang perempuan bernama Dyah Diwyadnyani. Di tempat lain di pertapaan Widyasrangga diceritakan ada seorang maharesi bernama Sri Dang Hyang Lingga Pranawa. Beliau mempunyai seorang putri bernama Dyah Nawang Sasih, yang terkenal dengan kepandaiannya mengarang. Pada suatu hari Wang Bang Mahacita pergi bercengkrama menikmati keindahan alam pegunungan. Sampailah beliau di tengah hutan yang sangat indah Dia melihat seekor kumbang yang sangat menarik. Tanpa terasa beliau mengelilingi hutang mengkuti kumbang tersebut sehingga akhirnya Bebeapa kali sudah berusaha kembali ketempat semula tetapi gagal. Sambil merenung ia berdo dsn berharap ada orang yang akan menunjukkan jalan pulang ke pasraman Anta Hredaya. Pada saat beliau sedang kebingungan mencari jalan pulang, bertemulah dia dengan Dyah Nawang Sasih. Dyah Nawang Sasih bersedia mengantarkannya pulang ke pasraman. Dalam perjalanan pulang Dyah Nawang Sasih terjatuh di hutan dan dililitular besar, kemudian jatuh ke sungai. Wang Bang Mahacita segera melompat ke sungai dan menolong Dyah Nawang Sasih, dan mengangkatnya ke Dyah Nawang Sasih tidak sadarkan diri. Tidak Lama kemudian Dyah Nawang Sasih siuman. Dia merasa berhutang budi kepada Wang Bang Mahacitta yang telah menyelamatkan hidupnya. Dari pertemuan itu timbullah rasa cinta diantara keduanya. Diah Nawang Sasih menyatakan kesediaannya untuk diperistri oleh Wang Bang Mahacita. Namun karena Wang Bang Mahacita sudah mempunyai istriia menyetujui dengan syarat Dyah Nawang Sasih berjanji menghormati istri pertamanya Dyah Sunyawati layaknya seorang anak berbakti kepada orang tuanya. Kemudian pulanglah Wang Bang mahacitta ka pesraman Anta Hredaya. Setelah Wang Bang Mahacitta sampai di pasraman, disambutlah dia oleh istri dan putra putrinya. Tetapi Dyah Sunyawati sangat bingung melihat suaminya seperti orang yang berduka. Semenjak kedatangannya Wang Bang Mahacitta tampak murung, gelisah dan berduka. Setelah beberapa hari demikian, maka Dyah Sunyawati berusaha menanyakan kepada suaminya, apa yang menyebabkan kesedihan suaminya. Sang Wang Bang mahacita menceritakan pertemuannya dengan Dyah Nawang Sasih, dan janjinya memperistri Dyah Nawang Sasih. Setelah mengetahui permasalahannya yang membuat suaminya sedih Dyah Sunyawati merasa lega, iapun mengabulkan keinginan Tanpa terasa waktupun berlalu tibalah hari baik untuk melaksanakan Maka upacara perkawinan maka Wang Bang Mahacita dan Dyah Nawang Sasih dilaksanakan dengan menjamu para resi dan pertapa di pasraman Anta Hredaya. Para pertapa merasa puas dengan perjamuan yang dilaksanakan. Setelah perkawinan suaminya dengan Dyah Nawang sasih kehidupan Dyah Sunyawati berjalan seperti Ia tetaop melakukan kewajibannya sebagai istri yang menjalankan patibrata. Mereka bertiga dilukiskan hidup rukun dan harmonis. Pembahasan Analisis Struktur Geguritan Patibrata akn membahas mengenai struktur instrinsik. Geguritan Patibrata (Tema. Alur. Penokoha. Tema Tema adalah gagasan, ide, pikiran utama dalam karya sastra yang terungkap atau tidak . udjiman, 1990: . Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan ide pokok atau gagasan utama atau tem geguritan ini dalah kesetiaan seorang istri terhadap suami. Alur Alur atau plot adalah struktur gerak yang terdapat dalam fiksi atau drama (Brooks, dalam Tarigan, 2015:. Jalinan peristiwa dalam karya sastra yang memperlihatkan keterpaduan . tertentu yang diwujudkan antara lain oleh hubungan sebab akibat, tokoh, tema dan ketiganya (Zaidan dkk, 2007:. Eksposisi : Eksposisi dalam Geguritan Patibrata diawali oleh pengarang dengan memperkenalkan tokoh utama cerita yaitu Dyah Sunyawati. Komplikasi : Komplikasi adalah bagian tengah dalam suatu karya sastra yang bertugas mengembangkan konflik (Tarigan, 2015: . Pada awalnya kehidupan rumah tangga Dyah Sunyawati sangat harmonis tanpa halangan. Perkawinan yang bahagia itu sudah lengkap dengan lahirnya putra dan putri mereka. Komplikasi muncul setelah tokoh Wang Bhang Mahacitta bertemu dan jatuh cinta kepada wanita cantic bernama Dyah Nawang Sasih. Resolusi: Resolusi atau denouement adalah bagian akhir suatu karya Resolusi merupakan akhir dari komplikasi alur, sesuatu yang memberi pemecahan terhadap alur (Warren, dalam Tarigan, 2015: . Dyah Sunyawati sebagai istri, selalu berusaha untuk membantu suaminya keluar dari masalah yang dihadapi. Dengan ucapannya yang sopan ia berusaha untuk menanyakan masalah yang dihadapi Setelah istrinya bertanya barulah Wang Bhang Mahacitta menyampaikan tentang keinginannya untuk mengawini Dyah Nawang Sasih. Penokohan Penokohan adalah proses penampilan tokoh dan pemberian watak sifat atau kebiasaan tokoh pemeran suatu cerita (Sudjiman, 1990: . Dyah Sunyawati Dyah Sunyawati merupakan tokoh utama dalam Geguritan Patibrata Dyah Sunyawati merupakan tokoh utama dalam geguritan ini. Dyh Sunyawati dilukiskan oleh pengarang sebagai putri tunggal Sri Dang Hyang Mahadisara. Beliau lahir secara gaib yaitu dari kekuatan batin sang Maharesi. Secara fisik Dyah Sunyawati dilukiskan sebagai tokoh yang sangat cantik, setia kepada suami, berbudi mulia, pandai menyenangkan hati suami, taat menjalankan kewajibannya, tabah, dan . Wang Bang Mahacita Wang bang Mahacita adalah suami Dyah Sunyawati. Dia sangat mencintai dan menghormati istrinya, dan dia tidak berani bertindak tanpa persetujuan istrinya. Dyah Nawang Sasih Dyah Nawang Sasih adalah tokoh yang berperan sebagai istri kedua dari Wang bang Mahacitta. Dia seorang putri dari maharesi yang hebat, dia lahir sebagai anugrah melakukan pemujaan di Kundha. Dia dilukiskan sebagai wanita yang cantik bagaikan Dewi Sinta. Pintar bagaikan Sang Hyang Saraswati, seorang pengarang ahli yang dipuja oleh seisi pasraman. Dyah Nawang sasih juga memiliki watak bertutur kata halus, dan sopan serta tahu balas budi. Nilai Filosofis dalam Geguritan Patibrata Nilai Filosofis Penerapan ajaran agama Hindu di Indonesia diformalisasikan dalam tiga konsep dasar yang integral serta memiliki keluwesan dalam penerapannya. Adapun ketiga konsep dasar yang dimaksud meliputi Konsep Tattwa (Filsafa. Konsep Susila . dan Konsep Acara . Ketiga formula dasar dalam penerapan ajaran agama Hindu memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Konsep Tattwa sebagai intinya diibaratkan sebagai kuning telur. Konsep susila sebagai norma mulia yang diandaikan sebagai putih telur. Sedangkan konsep acara sebagai penerapan nyata ajaran agama Hindu yang paling nampak dalam kesehariannya (Subagiasta, 2008: . Geguritan Patibrata, merupakan karya sastra tradisional yang di dalamnya mengandung ajaran-ajaran yang berharga, yaitu berupa Nilai Filosofis atau filsafat . Filsafat memiliki arti . pengetahuan dan penyelidikan mengenai akal budi mengenai hakekat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya: teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan, . ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika dan epistemology, . Falsafah, kata Filosofis artinya berdasarkan filsafat (Tim penyusun, 2002: . Ajaran agama Hindu memiliki lima dasar kepecayaan yang disebut Panca Sraddh. Panca artinya lima dan Sraddha artinya kepercayaan. Jadi berdasarkan tattwanya, agama Hindu merupakan Panca Sraddha yaitu . Percaya adanya Tuhan (Sang Hyang Widhi/Widhi Tatw. , . Percaya dengan adanya Atma (Atmatattw. , . Percaya adanya hokum Karma Phala (Karma Phala tattw. , . Percaya adanya Samsara (Punarbhawa Tatw. Percaya adanya Moksa (Sudharta, 2001: . Widhi Tatwa Kepercayaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam Geguritan Patibrata, terdapat pada saat Wang Bhang Mahacitta berada di hutan ia merasa sedih karena tersesat dan tidak mengetahui jalan pulang. Pada saat itu lah terpikir olehnya bahwa ia sedang dihukum oleh Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kepercayaan terhadap Tuhan, bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Tuhan dalam kutipan ini disebut sebagai Widhi. Atma Tattwa Atma merupakan percikan-percikan kecil dari parama Atma yaitu Sang Hyang Widhi Wasa yang berada di dalam mahluk Hidup. Atman di dalam tubuh manusia disebut Jiwatman, yaitu yang menghidupkan manusia. (Sudharta, 2001: . Atma tattwa. Di dalam ajaran agama Hindu Tuhan Yang Maha Esa diyakini menghidupkan seluruh mahluk hidup baik manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Tuhan Yang Maha Esa yang disebut atman meresapi segala dan menghidupkan seluruh mahluk hidup (Titib, 1996: . Kepercayaan terhadap adanya Atman dalam geguritan ini, terdapat dalam ucapan Wang Bhang Mahacita yang menyebut istrinya sebagai atma Jiwa. Atma jiwa berarti hidupnya sendiri ungkapan untuk menyebut orang sangat dicintai. Karmaphala Tattwa Karmaphala tattwa berarti hasil dari perbuatan atau buah dari perbuatan (Adiputra, dkk, 2004: . setiap perbutan yang dilakukan oleh manusia. Ajaran karma phala dalam geguritan ini terdapat dalam Pupuh Pangkur bait 10. Bahwa alam kehidupan setiap bahaya maupun suka dan duka adalah akibat karma. Jadi tidak bisa dihindari. Punarbhawa tatwa. Punarbhawa tatwa merupakan bagian dari Panca srada yaitu ajaran mengenai kelahiran kembali. Roh manusia tidak selamanya di surga atau dineraka tetapi akan lahir kembali kedunia, itu disebut punarbhawa ( Adiputra ,dkk. Dalam geguritan ini wang bang Mahacitta memiji istrinya yang sangat setia, melaksanakan ajaran patibrata sehingga ia diibaratkan sebagai penjelmaan Dewi Laksmi. Nilai Etika Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk menghadapi masalah bagaimana ia harus hidup kalau ingin menjadi baik (Suseno,1987:. Etika disebut juga dengan stilah susila yang artinya tingkah laku yang baik (Subagiasta, 2008:. Ajaran Etika artinya tingkah laku yang baik dan benar untuk mencapai keharmonisan hidup (Titib, 1996:. Nilai etika dalam Geguritan Patibrata tercermin dalam tokoh Dyah Sunyawati. Dyah Sunyawati digambarkan sebagai wanita yang memiliki sifat sifat baik dan mulia yaitu, bertutur kata yang baik dan sopan, lemah lembut, hormat dan setia kepada suami. Nilai Estetis Estetis berarti mengenai keindahan, menyangkut apresiasi keindaha, alam seni dan sastra (Tim Penyusun, 2002: . Nilai estetis adalah susunan konsep, ide yang berkaitan dengan sikap keindahan (Zaidan, 2007:71-. Nilai Estetis dalam Geguritan ini berupa lukisan tentang keindahan alam di pasraman. Kesimpulan Penelitian terhadap struktur dan nilai Geguritan Patibrata meliputi tema alur dan penokohan. Tema Geguritan Patibrata adalah Kesetiaan seorang istri terhadap suami . Alur cerita terdiri dari Eksposisi, komplikasi dan resolusi. Nilai yang terdapat dalam geguritan Patibrata adalahNilai Filosofis. Nilai Etika dan Nilai Estetis. Karya sastra geguritan sampai saat ini masih digemari oleh masyarakt. Oleh karena itu pelestarian terhadap karya sastra berupa geguritanperlu ditingkatkan untuk mengunggkapkan nilai nilai luhur yng terdapat di dalamnya. Geguritan Patibata hanyalah salah satu karya sastra tradisional yang ada di masyarakat, masih banyak kara sastra yang perlu dikaji dan dibahasuntuk menggali nilai-nilai yang terkandung di DAFTAR PUSTAKA