Vol. No. x, 202x, pp. xx-xx DOI: https://doi. org/10. x/x Contents lists available at JOURNAL STKIPM SUNGAI PENUH NOTULA BESTARI: Journal of Teaching and Learning Journal homepage: https://jtl. id/jtl Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Passing bawah dan Atas Bola Volli dengan Metode Latihan Berpasangan Pada Siswa Siswi SMP Negeri 8 Kerinci Tanjung Pauh Mudik Untung Aglare Saputra1. Jonika Trishandra2. Cundra Bahar3 STKIP Muhammadiyah Sungai Penuh Article Info ABSTRAK Article history: Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya meningkatkan hasil belajar passing bawah dan atas bola dengan metode latihan berpasangan pada siswa kelas VI dan VII SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah belajar passing bawah dan atas bola dengan metode latihan berpasangan pada siswa kelas VI dan VII SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik yang berjumlah 28 orang. Instrumen yang digunakan adalah terdiri dari lembar penilaian siswa ranah afektif, lembar penilaian siswa ranah psikomotorik, dan lembar penilaian siswa ranah kognitif. Teknik analisis data menggunakan ditabulasi berdasarkan variable. Berdasarkan kesimpulan hasil dari penelitian tersebut Pada siklus I ketuntasan hasil belajar mencapai 94 % sedangkan pada siklus II ketuntasan hasil belajar mencapai 75, 67%. Hal ini menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa siswi pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75 menjadi 85 . Received Dec 12th, 2024 Revised Dec 25th, 2024 Accepted Jan 16th, 2025 Keyword: Passing Bawah Passing Atas A 2025 The Authors. Published by STKIP Muhammadiyah Sungai Penuh. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Untung Aglare Saputra STKIP Muhammadiyah Sungai Penuh Email: untungaglare6@gmail. Pendahuluan Seiring majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, setiap negara termasuk Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan dan memelihara kesegaran jasmani warga negara yang maju, di mana manusianya dapat dikatakan sudah sangat berkurang dalam gerak jasmaninya, sehingga tidak jarang menimbulkan gangguan-gangguan dalam metabolisme tubuh, sistem otot, tulang, jantung dengan pembuluh darahnya dan juga sistem syarafnya. Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai . ikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosia. , serta pembiasaan pola hidup sehat yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga, dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Saputra . Trishandra et al NOTULA BESTARI: Journal of Teaching and Learning Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Pendidikan Jasmani olahraga dan kesehatan mempunyai keunikan dibandingkan dengan pendidikan yang lain, yaitu yang memberikan kesempatan untuk mengembangkan karakter dan sifat sosial yang lebih besar untuk mewujudkan dalam praktik pengajaran. Siswa sekolah pertama merupakan masa perkembangan dan Oleh karena itu, dalam membelajarkan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan diharapkan dapat merangsang perkembangan dan pertumbuhan siswa. Untuk mencapai hal tersebut, maka materi-materi dalam pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dari sekolah tingkat paling rendah hingga atas telah diatur dalam kurikulum pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Tujuan pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan akan terwujud apabila pembelajarannya dilakukan menggunakan metode latihan berpasangan yang sesuai dengan kondisi sekolah yang bersangkutan. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah keterbatasan prasarana yaitu banyak sekolah tidak mempunyai lapangan atau halaman yang cukup, sarana tidak menggunakan ukuran standar dan tidak sesuai dengan karakteristik siswa, sehingga akan menjadi kendala terhadap keberhasilan proses pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan itu sendiri. Bola voli adalah suatu cabang olahraga bola besar yang dimainkan oleh dua regu yang masing-masing terdiri dari enam orang anggota yang mengambil posisi berlawanan di bidang lapangan yang telah dibagi dua oleh sebuah jaring . Permainan bola voli merupakan salah satu jenis olahraga yang terkenal di dunia. Olahraga ini dapat menarik minat bagi semua kelompok umur, berbagai tingkat keterampilan, pria maupun wanita memainkan olahraga ini di dalam ataupun di luar ruangan untuk tujuan rekreasi, dan juga sebagai ajang persaingan. Permainan ini mudah dilakukan karena hanya memerlukan bola dan jaring selain itu tidak membutuhkan lapangan yang terlalu luas serta dapat dimainkan oleh siapa saja. Oleh karena itu permainan bola voli dapat berkembang pesat. Permainan Bola Voli di Indonesia berkembang sangat pesat diseluruh lapisan masyarakat, sehingga timbul klub-klub di kota besar di seluruh Indonesia. Dengan dasar itulah, maka pada tanggal 22 Januari 1955 PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesi. didirikan di Jakarta bertepatan dengan kejuaraan Nasional yang Pertandingan bola voli masuk acara resmi dalam PON II di Jakarta dan POM I di Yogyakarta. Teknik dasar permainan voli terbagi menjadi 4 yaitu, service, passing bawah, passing atas, smash dan block dimana semua teknik ini harus dikuasai oleh semua pemain bola voli yang nantinya akan ada yang lebih ditonjolkan sesuai posisi masing-masing. Dalam permainan bola voli gerakan yang harus dipahami secara umum salah satunya yaitu gerakan passing bawah. Passing bawah adalah teknik dasar passing bawah biasa dilakukan ketika bola dirasa akan jatuh tepat di depan pemain, passing atas . adalah salah satu jenis teknik dasar bola voli dengan melambungkan bola dengan kedua telapak tangan untuk memberi bola kepada rekan setim. Teknik passing bawah dan atas ini biasa dilakukan saat menerima service dan smash dari musuh yang masih berada dalam jangkauan namun posisi bola terlalu rendah. Teknik dasar passing bawah dua tangan memiliki 2 macam metode yaitu The Dig dan Thumb Over Palm methode. Teknik The Dig adalah di mana posisi tangan berada dalam posisi seperti menyendok dengan mengepalkan kedua tangan dan teknik yang sering digunakan untuk menerima service lawan karena dengan teknik ini kita dapat mengarahkan bola sesuai keinginan kita, namun teknik ini lebih sulit ketimbang teknik thumb over palm . Teknik The Dig adalah posisi tangan kanan menggenggam 4 jari tangan kiri dan ibu jari tangan kiri menindih ibu jari tangan kanan atau sebaliknya. The Dig adalah teknik yang sangat umum dipakai oleh para pemain voli, teknik The Dig juga sangat sering diajarkan pada murid oleh guru olahraga mereka, ini dikarenakan teknik The Dig lebih mudah di praktekkan dan The Dig dianggap memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi saat melakukan Passing daripada teknik Thumb Over Palm. Sedangkan thumb overpalm tangan kiri mengepal dan tangan kanan menggenggam tangan kiri. Sedangkan indikator pencapaian kompetensinya adalah Melambung-lambungkan bola voli dengan dua tangan, melakukan gerakan passing bawah, melakukan gerakan passing atas, melakukan gerakan servis bawah/atas, melakukan passing atas dan bawah berpasangan, melakukan passing atas dan bawah berkelompok, melakukan permainan bola voli dengan peraturan yang dimodifikasi, dan mengembangkan kerjasama tim dalam permainan bola voli. Menurut hasil observasi yang telah dilakukan dalam bentuk pretest sebagian besar siswa SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik Kelas VI dan VII belum memahami bagaimana cara melakukan passing bawah dan atas dengan benar, banyak kesalahan dalam posisi kaki, posisi lengan, posisi tubuh, dan tidak mencapainya titik maksimal. Adapun siswa yang merasa malu-malu dalam melakukan gerak serta kurangnya percaya diri sehingga siswa tidak mau melakukan gerak tersebut. Dan adapun faktor yang mempengaruhi siswa tersebut yaitu minat dan modifikasi dari metode yang dipakai kurang bervariasi. Selain itu fasilitas sekolah yang kurang memadai mulai dari garis lapangan yang tidak terlihat dan jaring yang sudah rusak juga mengurangi motivasi siswa berolahraga voli. Sebelum melakukan gerak passing bawah dan atas siswa diberikan beberapa contoh oleh guru untuk melakukan teknik passing bawah dan atas, mulai dari posisi lengan, posisi kaki, posisi badan, maupun titik jatuhnya bola voli di bagian jari-jari lengan ditekuk ke arah dalam, lalu mendorong bola dengan cara menggerakkan pergelangan ke arah luar dan diikuti dengan gerakan meluruskan siku-siku, lalu menggerakkan kaki dengan agar menjinjit. Journal homepage: https://jtl. id/jtl. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Passing Bawah dan Atas. Bola Volly dengan Menggunakan Metode Llatihan Berpasangan Pada Siswa Siswi SMP Negeri 8 Kerinci Tanjung Pauh Mudik Siswa diberikan materi dengan latihan berpasangan yaitu permainan bola voli yang dilakukan dengan cara membagi beberapa kelompok, setelah itu siswa yang sudah mendapatkan kelompok lalu masing-masing kelompok tersebut membuat barisan dengan saling berhadapan kepada lawannya. Dengan menggunakan latihan berpasangan agar siswa dapat meningkatkan hasil belajar passing bawah dan atas bola voli serta meningkatkan semangat dalam belajar, rasa keingintahuan yang besar, dan meningkatkan daya nalar sehingga tidak merasa bosan dalam kegiatan belajar mengajar khususnya pada pelajaran olahraga bola voli. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui upaya meningkatkan hasil belajar passing bawah dan atas bola dengan metode latihan berpasangan pada siswa kelas VI dan VII SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik Menurut Khakim . 9: 10-. Bola voli sudah dikenal sejak abad pertengahan terutama di negara-negara Romawi. Pada tahun 1893 di Jerman permainan ini dikenal dengan nama AuFraust ballAy. Dua tahun kemudian yakni pada tahun 1895 William G. Morgan seorang guru pendidikan jasmani pada Young Men Christian Associatian (Y. ) di kota Hollioke. Massachusette mencobakan permainan sejenis faust ball, yang mulamula olahraga rekreasi dalam lapangan tertutup . Dalam percobaan-percobaan selanjutnya dirasakan bola terlalu ringan, sedangkan penggunaan bola basket dirasakan terlalu berat. Morgan kemudian mengusulkan pada A. Spalding dan Brothers yakni suatu perusahaan industri alat-alat olahraga untuk membuatkan bola voli sebagai percobaan. Setelah itu diadakan demonstrasi di hadapan para ahli Pendidikan Jasmani pada suatu konferensi Internasional di Springfield College. Pada tahun 1896 setelah melihat bahwa dasar permainan Mintonette adalah memvoli bola hilir mudik melewati net maka Prof. Halsted dari Springfield. Massachusette. mengusulkan nama permainan ini menjadi AuVolleyballAy. Menurut Maulida . 8: . Permainan bola voli merupakan jenis olahraga yang membutuhkan keterampilan dan penguasaan teknik. Hal ini karena mengingat dalam olahraga ini, seorang pemain di tuntut untuk mampu menjaga bola agar tetap berada di udara dan tidak menyentuh tanah. Selain itu, pemain dituntut mampu menciptakan pukulan yang mampu membuat lawan tidak mampu menguasai bola tersebut secara sempurna guna menghasilkan poin. Proses ini bisa tercipta bila seorang pemain mampu menguasai teknik bermain bola voli dengan baik dan benar. Dalam Jurnal Nasuka . 9: 1-. Permainan bola voli adalah salah satu olahraga prestasi yang lahir dari olahraga rekreasi. Olahraga yang lahir di Inggris pada abad 18 ini sangat popular pada awal abad 19 dan dimainkan oleh hampir seluruh masyarakat dunia. Saat ini permainan bola voli sudah menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dalam kompetisi resmi tingkat dunia. Permainan bola voli juga telah berkembang menjadi cabang lain yaitu bola voli pantai. Dalam buku ini bola voli yang dimaksud adalah bola voli indoor. Menurut Maulida . 8: 15-. Passing merupakan teknik menerima bola mengayunkan kembali ke arah yang diinginkan. Teknik ini merupakan teknik dasar dalam permainan bola voli dan harus di ketahui oleh mereka yang ingin melakukan permainan tersebut. Secara umum ada dua jenis teknik passing yang dikenal. Kedua jenis teknik passing tersebut adalah sebagai berikut: . Passing bawah. Pada teknik ini kedua telapak tangan bersatu dengan satu bagian menggenggam bagian telapak tangan lain. Kedua lengan bersikap lurus ke bawah dengan bagian bawah siku menghadap ke arah depan. Posisi badan saat melakukan passing bawah adalah badan sedikit jongkok yang bertujuan untuk memperkuat tumpuan badan atau kuda-kuda. Arah badan menghadap lurus dengan arah lengan saat mengarahkan bola yang datang, sehingga bisa di ayunkan sesuai dengan arah yang diinginkan. Biasanya, passing bawah digunakan pada saat menerima servis atau juga pada saat menerima pukulan smash. Passing bawah dipilih karena dengan teknik ini, kekuatan tangan akan lebih kuat dari pada menggunakan passing atas. Passing atas, teknik ini berbeda dengan teknik passing bawah. Pada teknik ini lebih mengutamakan jari jemari kedua tangan. Biasanya teknik ini lebih dipilih pada saat seorang pemain hendak melakukan umpan sebelum dilakukannya pukulan terakhir atau smash. Pemain yang ditutut memiliki keterampilan lebih dalam teknik ini adalah mereka yang berposisi sebagai tosser atau pengumpan. Seorang tosser harus bisa memberikan umpan yang memanjakan pemain lain untuk melakukan smash secara Sebagaimana passing bawah posisi badan pada teknik pssing atas pun hampir sama. Kedua kaki harus sedikit ditekuk untuk membantu menghasilkan lontaran secara baik. Kedua tangan berada disamping dengan posisi telapak tangan membuka. Pada saat bola datangnya telapak tangan menghadap ke arah bola dan menyentuhnya dengan ujung jari. Dalam Jurnal Agus . 3: 18-. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar (Chatarina Tri Anni, dkk, 2007: . Hasil belajar merupakan faktor yang sangat penting, karena hasil belajar mencerminkan kemampuan siswa dalam mempelajari suatu mata pelajaran. Bentuk dari hasil belajar biasanya ditunjukan dengan nilai yang diberikan guru. Seperti yang diungkapkan oleh RifaAoi . 9: . , bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut bergantung pada apa yang dipelajari oleh Oleh karena itu, apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang Journal homepage: https://jtl. id/jtl Saputra . Trishandra et al NOTULA BESTARI: Journal of Teaching and Learning Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku siswa dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti yang diukur menggunakan teknik penilaian tertentu setelah mengalami kegiatan belajar. Bloom dalam RifaAoi . 9: . , menyatakan bahwa hasil belajar meliputi tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar. Diantaranya yaitu ranah kognitif . ognitive domai. , ranah sikap . ffective domai. , dan ranah psikomotorik . sychomotoric domai. Menurut Jurnal Risda . 9: 9-. Metode latihan berpasangan merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota berpasangan, belajar belum dikatakan selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Tujuan metode latihan berpasangan adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta perngembangan keterampilan Untuk menciptakan kerjasama tim yang baik dalam permainan bola voli, dibutuhkan koordinasi, gerak yang baik dari setiap pemain. Faktor strategi dan taktik merupakan salah satu penunjang keberhasilan dalam memenangkan pertandingan. Oleh karena itu, suah seharusnya pemain dapat beradaptasi dengan semua strategi dan taktik yang di terapkan oleh timnya. Untuk membentuk sikap, gerak, dan kekompakan para pemain, perlu dilakukan pelatiham dengan sistem kooperatif. Didalam kelompok terjadi pengaruh secara sosial. Pertama, pengaruh itu dapat diterima seseorang karena ia memang berharap untuk menerimanya. Yang kedua, ia memang ingin mengadopsi atau meniru tingkah laku atau keberhasilan orang lain atau kelompok tersebut karena sesuai dengan sudut pandang kelompoknya. Ketiga, karena pengaruh itu Kongruen dengan sikap atau nilai yang ia miliki. Ketiganya mempengaruhi sejauh mana kerja metode kooperatif tersebut dapat dikembangkan. Metode Penelitian ini memakai Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu siswa siswi kelas VII dan Vi dengan jumlah 30 siswa siswi SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik. Penelitian ini akan dilaksanakan setelah ujian proposal yang bertempat dilapangan SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik Menurut Sugiyono . menyatakan Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek, yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik Yang menjadi pupolasi dalam penelitian ini adalah siswa siswi kelas VII dan Vi dengan jumlah 30 siswa siswi SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik. Menurut Lufri . 5: . Sampel adalah sebagian dari anggota populasi yang diteliti. Sedangkan menurut sugiyono . 7: . Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Maka sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pemain bola voli siswa kelas VII dan Vi dengan jumlah 28 siswa siswi SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik Sehingga teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling adalah sampel yang sengaja dipilih berdasarkan karakteristik tertentu yang diperlukan dalam penelitian. Menurut Agus . 3: 31-. Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari dua siklus. Penelitian Tindakan Kelas ini ditujukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa materi pokok passing bawah dan atas bola voli dengan metode latihan berpasangan. Setiap siklus mencakup empat tahapan yaitu perencanaan . , tindakan . , pengamatan . dan refleksi . Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Journal homepage: https://jtl. id/jtl. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Passing Bawah dan Atas. Bola Volly dengan Menggunakan Metode Llatihan Berpasangan Pada Siswa Siswi SMP Negeri 8 Kerinci Tanjung Pauh Mudik Rancangan Siklus I Tahap Perencanaan: . Mengidentifikasi masalah, mendiagnosis masalah, dan mengembangkan pemecahan masalah. Merancang rencana pembelajaran sesuai indikator pada siklus I yaitu melakukan passing bawah bola voli mini dengan permainan Boardball. Merancang media peraga berupa papan kayu, bola karet, sebagai media permainan . Menyusun lembar pengamatan proses pembelajaran siswa. Tahap Pelaksanaan: Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada tahap pelaksanaan dari perencanaan yang telah dibuat adalah dengan melaksanakan proses pembelajaran antara lain: Menyiapkan rencana pembelajaran, . Menyiapkan media berupa papan kayu yang dimodifikasi, bola karet dan sejumlah siswa, . Menyiapkan lembar pengamatan aktivitas belajar siswa, kemudian memberikan kepada guru mitra . untuk mengamati proses pembelajaran, . Melakukan pengelolaan kelas, meliputi: - Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. - Mengadakan presensi dari semua siswa yang hadir. - Menjelaskan kegiatan belajar mengajar passing bawah bola voli mini melalui pendekatan bemain boardball. - Melakukan pemanasan. - Melakukan latihan teknik dasar passing bawah bola voli mini melalui pendekatan bermain - Penilaian dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. - Melakukan pendinginan. - Menarik kesimpulan. Pengamatan Tindakan Menurut Agus . 3: 34-. Pengamatan dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran dibuat dengan bergradasi 1, 2, 3, dan 4, dengan ketentuan: 1 Ae Tidak Baik. 2 Ae Kurang Baik. 3 Ae Cukup Baik. 4 Ae Baik Adapun objek yang diamati adalah sebagai berikut: Tabel 2. Objek Yang Diamati Minat belajar siswa ketika melakukan Motivasi siswa selama mengikuti proses Keseriusan siswa melakukan kegiatan. Keaktifan siswa selama pembelajaran Antusias siswa selama pembelajaran Keberanian siswa dalam melakukan gerakan Kedisiplinan siswa Kelancaran langkahAelangkah pembelajaran. Tanggung jawab siswa Kerjasama siswa Objek yang diamati Tahap Evaluasi (Refleks. : Refleksi merupakan uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil penelitian dan refleksi berkaitan dengan proses dan dampak tindakan yang dilaksanakan serta kriteria dan rencana bagi siklus berikutnya. Journal homepage: https://jtl. id/jtl Saputra . Trishandra et al NOTULA BESTARI: Journal of Teaching and Learning Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Rancangan Siklus II: Pada siklus II perencanaan tindakan dikaitkan dengan hasil yang telah dicapai pada tindakan siklus I sebagai upaya perbaikan dari siklus tersebut dengan materi pembelajaran sesuai dengan silabus mata pelajaran pendidikan jasmani. Demikian juga termasuk perwujudan tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan tindakan, dan refleksi juga mengacu pada siklus sebelumnya. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik, observasi lapangan . , dan Adapun jenis data metode tersebut akan dijelaskan sebagai berikut: Observasi merupakan proses pengamatan sistematis dari aktivitas manusia dan pengaturan fisik dimana kegiatan tersebut berlangsung secara terus menerus dari lokus aktivitas bersifat alami untuk menghasilkan fakta. Oleh karena itu observasi merupakan bagian integral dari cakupan penelitian lapangan etnografi. Hadi . mengartikan observasi sebagai proses komplek, tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis melibatkan pengamatan, persepsi, dan ingatan. Observasi sebagai suatu proses melakukan pemilihan, pengubahan, pencatatan, dan pengkodeaan serangkaian perilaku dan suasana berkenaan dengan organisme in situ, sesuai dengan tujuan-tujuan empiris. Secara lebih dalam menyebutkan bahwa observasi tidak hanya meliputi prinsip kerja sederhana, melainkan memilik karakteristik yang begitu komplek. Terdapat tujuh karakteristik dalam kegiatan observasi, dan selanjutnya menjadi proses tahapan observasi. Tahapan atau proses observasi tersebut meliputi pemilihan . , pengubahan . , pencatatan . , dan pengkodeaan . , rangkaian perilaku dan suasana . ests of behavior settin. , in situ, dan untuk tujuan empiris (Hasyim, 2016:. Menurut Umar . 9: 71-. dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu yang berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang Dokumentasi tidak kalah penting dari metodemetode lain, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya. Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi benda mati. Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Dokumen yang diteliti bisa berupa dokumen resmi seperti surat putusan, surat instruksi, sementara dokumen tidak resmi seperti surat nota, dan surat pribadi yang dapat memberikan informasi pendukung terhadap suatu Dalam penelitian kualitatif dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan Studi dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah secara mendalam sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian. Kuesioner merupakan metode pengumpul data yang pada umumnya digunakan untuk penelitian. Instrumen dari kuesioner disebut dengan nama metodenya sendiri. Kuesioner umumnya digunakan untuk penelitian dengan pendekatan kuantitatif (Komang, 2020:. Dalam penelitian ini, angket digunakan untuk memperoleh respon atau tanggapan siswa terhadap pembelajaran passing bawah bola voli mini melalui pendekatan bermain Angket diberikan sesudah proses pembelajaran selesai. Instrumen Penelitian Instrument yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lembar penilaian siswa ranah afektif, lembar penilaian siswa ranah psikomotorik, dan lembar penilaian siswa ranah kognitif. Penilaian afektif digunakan untuk mengukur perilaku siswa ketika pembelajaran berlangsung, untuk penilaian psikomotor dimaksudkan untuk menggambarkan penguasaan prosedur gerak dan koordinasi, dan penilaian kognitif untuk mengukur intelektul siswa. Lembar penilaian kognitif berisi soal-soal tes dengan materi pelajaran pendidikan jasmani kesehatan dan olahraga SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik Kelas VII dan Vi, pokok bahasannya passing bawah dan atas bola voli dengan metode latihan berpasangan. Adapun bentuk tes yang digunakan adalah uraian singkat. Adapun kisi-kisi instrument masing-masing aspek yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: Journal homepage: https://jtl. id/jtl. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Passing Bawah dan Atas. Bola Volly dengan Menggunakan Metode Llatihan Berpasangan Pada Siswa Siswi SMP Negeri 8 Kerinci Tanjung Pauh Mudik Tabel 2. Kisi-Kisi Instrumen No1 Aspek Kemampuan Instrument Kognitif Memahami teknik dasar passing bawah dan atas bola voli dengan metode latihan berpasangan. Instrument afektif Keberanian . tanggung jawab . Instrument psikomotorik Menguasai teknik dasar passing bawah dan atas bola voli dengan metode latihan berpasangan dengan media papan kayu Menguasai teknik dasar passing bawah dan atas bola voli dengan metode latihan berpasangan tanpa media Menguasai teknik dasar passing bawah dan atas bola voli dengan metode latihan berpasangan dengan media papan kayu Menguasai teknik dasar passing bawah berpasangan tanpa media Teknik Analisis Data Analisis data penelitian merupakan bagian dari beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam suatu Kegiatan analisis data tentunya dilakukan setelah data terkumpul dari lapangan. Data-data yang sudah terkumpul dari lapangan kemudian ditabulasi berdasarkan variable, hal ini dilakukan untuk mempermudah proses tahapan analisis data. Indikator Keberhasilan Belajar Refleksi merupakan uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil penelitian dan refleksi berkaitan dengan proses dan dampak tindakan yang dilaksanakan serta kriteria dan rencana bagi siklus berikutnya. Prosentase indikator pencapaian keberhasilan penelitian adalah kriteria ketuntasan nilai untuk pelajaran penjasorkes sebesar Ou75 dan 85% dari jumlah siswa sudah melebihi Kriteria Ketuntasan Minimal tersebut. (Djamarah, 2006: . Berdasarkan hasil analisis ataupun refleksi pada siklus I dan II terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa, maka peneliti akan menyimpulkan apakah hipotesis tindakan tercapai atau tidak. Jika aktivitas belajar dan hasil belajar siswa sesuai atau melampaui indikator keberhasilan, maka pendekatan bermain boardball meningkatkan hasil belajar siswa dalam belajar passing bawah passing bawah dan atas bola voli dengan metode latihan berpasangan. Hasil Penelitian dan Pembahasan Dibawah ini deskripsi data siklus I hasil belajar passing bawah bola voli mini dan kriteria ketuntasan hasil belajar siklus I kelas VII dan Vi SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik Tahun Pelajaran 2023. Tabel 3. Hasil Belajar Pada Siklus I Penilaian Nama Siswa Psikomotor Afektif Septiawan Adi H Agung Trimo S Azis Prasetiyo Moh. Ega Prayoga Siti Nur Azizah Ani Andrayani Aditia Nurmaulana Irfan Habib Melli Agustin Martin Wahyu W Jumlah Tuntas Tuntas Tuntas Belum Belum Tuntas Belum Belum Belum Tuntas Journal homepage: https://jtl. id/jtl NOTULA BESTARI: Journal of Teaching and Learning Saputra . Trishandra et al Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Wildan Faozan Mohamad Aribowo Moh. Windi A Moh. Imron Rosadi Muhamad Akmal F Reza Aditianto Rieke Diah Pitaloka Shinta Elfariani Sinta Nuria K Sepriyanto Yanuar Pamungkas Yuni Sulistiya N Siti Rahayu Muhammad Faiz A Riswoyo Sopian Rusdi Dhea SafaAoatin Widi Putri Samsu W Rata-rata Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Tuntas Berdasarkan data di atas bahwa 27 % dari jumlah siswa siswi belum mencapai ketuntasan dan rata-rata kelas hanya 67 %. Hal tersebut menunjukan bahwa target yang diinginkan peneliti yaitu 94 % dari jumlah siswa siswi belum tercapai sehingga harus ditingkatkan lagi dengan siklus II. Untuk mengurangi hambatan yang muncul pada siklus 1, peneliti merencanakan tindakan siklus 2 yaitu . siswa siswi diminta untuk mengikuti pembelajaran dengan pendekatan bermain boardball lebih serius dan memperhatikan penjelasan dan peragaan, sehingga fokus dalam melaksanakan proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai target yang ditentukan . peneliti dan kolaborator lebih fokus dalam melaksanakan observasi sehingga dapat menguasai kelas dengan baik agar kualitas hasil belajar dapat tercapai dengan optimal. Deskripsi Data Hasil Pembelajaran Siklus II: Dibawah ini deskripsi data hasil belajar passing bawah bola voli mini dan kriteria ketuntasan hasil belajar siklus I kelas VII dan Vi SMP Negeri 8 Kerinci. Tanjung Pauh Mudik Tahun Pelajaran 2023. Tabel 4. Hasil Ketuntasan Belajar Pada Siklus II Penilaian Nama Siswa Septiawan Adi H Agung Trimo S Azis Prasetiyo Moh. Ega P Siti Nur Azizah Ani Andrayani Aditia Nurmaulana Irfan Habib Melli Agustin Martin Wahyu W Wildan Faozan Mohamad Aribowo Moh. Windi A Moh. Imron Rosadi Muhamad Akmal Psikomotor Afektif Journal homepage: https://jtl. id/jtl. Jumlah Ket Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Passing Bawah dan Atas. Bola Volly dengan Menggunakan Metode Llatihan Berpasangan Pada Siswa Siswi SMP Negeri 8 Kerinci Tanjung Pauh Mudik 16 Reza Aditianto Tuntas Rieke Diah P Shinta Elfariani Sinta Nuria K Sepriyanto Yanuar Pamungkas Yuni Sulistiya N Siti Rahayu Muhammad Faiz Riswoyo Sopian Rusdi Dhea SafaAoatin Widi Putri S. Rata-rata Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Data di atas menunjukan bahwa rata-rata hasil belajar siswa siswi dalam pembelajaran passing bawah bola voli melalui pendekatan bermain boardball pada siklus II nilai rata-rata meningkat. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari banyaknya siswa siswi yang tuntas, yaitu sebesar 68, 42 % siswa siswi . dari jumlah keseluruhan 28 siswa siswi memiliki nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75. Hasil Angket yang diberikan pada siswa siswi setelah siswa siswi melaksanakan proses pembelajaran dengan metode demonstrasi . iklus II) dengan jumlah pertanyaan sebanyak 5 butir dan jumlah responden 28 siswa siswi untuk mengetahui motivasi siswa siswi untuk mengetahui motivasi siswa siswi terhadap pembelajaran passing bawah bola voli mini melalui pendekatan bermain boardball. Berdasarkan jumlah rata-rata dalam persen menunjukan bahwa 59,29% siswa siswi sangat setuju dengan kegiatan pembelajaran tersebut, 32,14% siswa siswi setuju, 5,71% siswa siswi tidak setuju dan hanya 2,86% siswa siswi yang sangat tidak setuju. Ini dapat dikatakan bahwa siswa siswi menyukai metode pembelajaran yang disajikan guru. Selanjutnya. Berdasarkan jumlah rata-rata dalam persen menunjukan bahwa 64,29 % sangat setuju dengan kegiatan pembelajaran tersebut 4,29 % siswa siswi sangat tidak setuju. Ini dapat dikatakan bahwa siswa siswi tertarik dan senang mengikuti metode pembelajaran yang disajikan guru. Ketuntasan hasil belajar siswa siswi melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran pertemuan ter bimbing memilki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat terlihat dari semakin menatapnya pemahaman siswa siswi terhadap materi yang disampaikan peneliti/kolaborator . etuntasan belajar meningkat dari siklus I dan II). Pada siklus I ketuntasan hasil belajar mencapai 94 % sedangkan pada siklus II ketuntasan hasil belajar mencapai 75, 67%. Hal ini menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa siswi pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75 menjadi 85. Sedangkan untuk proses pembelajaran berdasarkan analisis data diperoleh bahwa aktivitas siswa siswi selama proses belajar mengajar dengan pendekatan bermain boardball dalam setiap siklus mengalami Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa siswi yaitu dapat ditujukan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa siswi setiap siklus yang terus meningkat. Dalam proses belajar mengajar siswa siswi terlihat semangat, memperhatikan penjelasan guru, melakukan kegiatan dengan sungguh-sungguh dan disiplin. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa siswi sangat aktif mengikuti pembelajaran dengan Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu, bila mereka melihat bahwa sesuatu itu menguntungkan, mereka pun berminat. Ini kemudian mendatangkan kepuasan. Bila kepuasan berkurang, minat pun akan berkurang (Elizabet B. Hurlock. Begitu pula untuk belajar sangat diperlukan adanya minat dan motivasi. Motivation is an essential condition of learning . alam bukunya Sardiman, 2010: . Bahwa hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi dan motivasi dapat muncul jika ada minat. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan semakin berhasil pula pelajaran itu. Pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang di konsep dalam bentuk permainan (Wahjoedi 1999: . Modifikasi digunakan sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani yang dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Seperti yang dikemukakan oleh Ngasmain Soepartono . Beberapa komponen yang dapat dimodifikasi sebagai pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani diantaranya ukuran, berat atau bentuk peralatan yang digunakan, lapangan permainan, waktu bermain atau lamanya permainan, dalam pembelajaran, peraturan permainan, dan jumlah pemain (Aussie: 1. Journal homepage: https://jtl. id/jtl Saputra . Trishandra et al NOTULA BESTARI: Journal of Teaching and Learning Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Dalam pembelajaran passing bawah melalui pendekatan bermain boardball memberikan dampak positif bagi siswa siswi, hal ini dapat ditunjukkan dalam kegiatan pembelajaran siswa siswi bersemangat melakukan passing bawah tanpa rasa takut karena media yang digunakan sesuai karakteristik siswa siswi. Dari hasil pengisian angket tanggapan siswa siswi terhadap model pembelajaran melalui pendekatan bermain boardball berdasarkan analisis angket siswa siswi menunjukan 75 % jawaban siswa siswi sangat setuju dan menyatakan bahwa siswa siswi tertarik dan antusias mengikuti pembelajaran melalui pendekatan bermain Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran passing bawah bola voli mini melalui pendekatan bermain boardball dapat meningkatkan hasil belajar siswa siswi. Kesimpulan Berdasarkan data di atas pada siklus I menunjukkan bahwa 27 % dari jumlah siswa siswi belum mencapai ketuntasan dan rata-rata kelas hanya 67 %. Hal tersebut menunjukan bahwa target yang diinginkan peneliti yaitu 94 % dari jumlah siswa siswi belum tercapai sehingga harus ditingkatkan lagi dengan siklus II. Dan data siklus II menunjukan bahwa rata-rata hasil belajar siswa siswi dalam pembelajaran passing bawah bola voli mini melalui pendekatan bermain boardball pada siklus II nilai rata-rata meningkat. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari banyaknya siswa siswi yang tuntas, yaitu sebesar 68, 42 % siswa siswi . dari jumlah keseluruhan 28 siswa siswi memiliki nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75. Motivasi siswa siswi terhadap pembelajaran passing bawah bola voli mini melalui pendekatan bermain boardball adalah positif. Berdasarkan jumlah rata-rata dalam persen menunjukan bahwa 59,29% siswa siswi sangat setuju dengan kegiatan pembelajaran tersebut, 32,14% siswa siswi setuju, 5,71% siswa siswi tidak setuju dan hanya 2,86% siswa siswi yang sangat tidak setuju. Ini dapat dikatakan bahwa siswa siswi menyukai metode pembelajaran yang disajikan guru. Minat siswa siswi terhadap pembelajaran passing bawah bola voli mini melalui pendekatan bermain boardball adalah positif. Berdasarkan jumlah rata-rata dalam persen menunjukan bahwa 64,29 % sangat setuju dengan kegiatan pembelajaran tersebut 4,29 % siswa siswi sangat tidak setuju. Ini dapat dikatakan bahwa siswa siswi tertarik dan senang mengikuti metode pembelajaran yang disajikan guru Hal ini dapat terlihat dari semakin mantap nya pemahaman siswa siswi terhadap materi yang disampaikan peneliti/kolaborator . etuntasan belajar meningkat dari siklus I dan II). Pada siklus I ketuntasan hasil belajar mencapai 94 % sedangkan pada siklus II ketuntasan hasil belajar mencapai 75, 67%. Hal ini menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa siswi pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75 menjadi 85. Acknowledgments Ucapan terimakasih kepada bapak Jonika Trishandra dan bapak Cundra Bahar yang telah ikut membantu dalam penelitian ini. Referensi