UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SIFATSIFAT BANGUN DATAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD EFFORTS TO ENHANCE MOTIVATION AND LEARNING OUTCOMES ABOUT FLAT SHAPES PROPERTIES THROUGH THE STAD TYPE COOPERATIVE LEARNING MODEL Dian Mayasari SDN 3 Tempursari. Kecamatan Sidoharjo. Kabupaten Wonogiri. E-mail: dianmayasari5983@gmail. Diterima: 1 Februari 2024 Direvisi: 28 Mei 2024 Disetujui: 31 Mei 2024 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Sifat-sifat bangun datar. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 3 Tempursari kelas VI tahun pelajaran 2022/2023. Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, hasil tes, catatan lapangan dan observasi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian proses pembelajaran pada siklus II. menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD Rata-rata kondisi motivasi siswa Pada siklus II meningkat menjadi 81,81% dengan predikat sangat tinggi dan 18,19% dengan kriteria Ketuntasan siswa secara klasikal meningkat pada siklus II yaitu siswa tuntas ada 10 siswa atau 90,90% dan siswa tidak tuntas 1 siswa atau 9,10%. Peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa dari prasiklus sampai siklus II sebesar 62,74%. Berdasar hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Sifat-Sifat bangun datar pada siswa kelas VI semester 1 SD Negeri 3 Tempursari tahun pelajaran 2022/2023 lebih efektif dan meningkat serta berjalan lancar sesuai dengan RPP yang telah disusun. Kata kunci: Motivasi. Hasil Belajar. Bangun Datar. Kooperatif. Kooperatif Tipe STAD . ABSTRACT This study aims to improve motivation and learning outcomes. The properties of flat shapes. This research was conducted at SD Negeri 3 Tempursari class VI for the 2022/2023 school year. The data in this study were obtained from the results of interviews, test results, field notes and This research was conducted in two cycles. The results of the study of the learning process in the second cycle using the cooperative learning model type STAD. The average condition of students' motivation in the second cycle increased to 81. 81% with a very high predicate and 19% with high criteria. Classical student completeness increased in cycle II, namely 10 students completed or 90. 90% and 1 student did not complete. The increase in the percentage of student learning completeness from pre-cycle to cycle II was 62. Based on the results of the above research, it can be concluded that the learning process using the STAD type cooperative learning model to increase motivation and learning outcomes The properties of flat shapes in grade VI semester 1 SD Negeri 3 Tempursari students in the 2022/2023 school year are more effective and increase and run smoothly in accordance with the RPP that has been prepared. Keywords: Motivation. Learning Outcomes. Build Flat. Cooperative. Cooperative Type STAD . PENDAHULUAN Matematika adalah suatu bidang ilmu yang merupakan alat berpikir, berkomunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika darn intuisi, analisis dan konstruksi, generalisasi dan indidualitis, serta mempunyai cabang- cabang antara lain aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis (Uno, 2007:. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan sistematis, kritis, dan kreatif, serta Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar. Dian Mayasari kemampuan Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selau berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Kenyataan siswa SD kurang menyukai menganggap pembelajaran matematika susah, membosankan dan tidak menyenangkan. Melihat betapa besar peran matematika dalam kehidupan manusia, maka sebagai guru sekolah dasar harus senantiasa meningkatkan Hasil matematika kelas VI pada semester 1 SD Negeri 3 Tempursari kompetensi dasar SifatSifat bangun datar menunjukkan dari 11 siswa, hanya 3 siswa yang mendapat nilai diatas KKM yang ditentukan yaitu 70. Hal ini belum sesuai dengan target belajar yang Selama ini guru sudah menggunakan berbagai metode untuk mencapai tujuan pembelajaran namun hasil belajar belum memuaskan dan siswa masih terlihat kurang aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran Matematika yang disajikan dengan ceramah dan latihan-latihan individual sering tidak disukai oleh para siswa. Akibatnya hasil belajar selalu di urutan paling bawah dibandingkan mata pelajaran lainnya. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan dapat meningkatkan hasil belajar, maka perlu adanya perubahan pembelajaran yang menarik yaitu menerapkan pembelajaran model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD . Model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Devisio. adalah salah satu pembelajaran kooperatif yang dikembangkan berdasarkan teori belajar Kognitif-Konstruktivis yang diyakini oleh pencetusnya Vygotsky memiliki keunggulan yaitu fungsi mental yang lebih tinggi akan muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu (Slavin, 2008:. Kooperatif tipe STAD juga memiliki keunggulan bahwa siswa yang dikelompokkan secara heterogen berdasarkan kemampuan siswa terhadap matematika akan terjadi interaksi yang positif dalam menyelesaikan masalah, seperti tutor sebaya dan lain-lain. Jika sebelumnya tidak ada interaksi antar individu, maka dalam kooperatif tipe STAD siswa dapat bekerja sama dalam menyelesaikan masalah sampai menyelesaikan masalah. Kelompok dikatakan tidak selesai jika ada anggotanya belum Berdasarkan latar belakang di atas dapat dituliskan beberapa permasalahan adalah bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar sifat bangun datar pada siswa? Seberapa banyak peningkatan motivasi setelah diberikan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD pada siswa? Seberapa banyak peningkatan hasil belajar sifat bangun datar setelah diberikan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD Tujuan penelitian ini adalah sebagai Proses pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar sifat bangun datar. Peningkatan motivasi setelah diberikan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD . Peningkatan hasil belajar sifat bangun datar setelah diberikan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD . Kerangka berpikir adalah arahan penalaran untuk sampai pada jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan. Berdasarkan pada kajian teori yang diuraikan di atas maka dapat dikemukakan kerangka pemikiran dalam penelitian ini bahwa keberhasilan proses pembelajaran dalam mencapai tujuan belajar dapat dilihat dari prestasi belajar siswa. Penggunaan model pembelajaran cukup besar pengaruhnya bagi tingkat keberhasilan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan di Penerapan model pembelajaran yang tidak tepat justru akan menghambat jalannya proses serta tujuan pembelajaran yang diharapkan (Darmuki & Hidayati, 2023: . Model pembelajaran yang baik adalah model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan, kondisi siswa, pembelajarannya sehingga bisa dilihat apakah model yang diterapkan efektif (Darmuki & Hidayati, 2023: 122 ). Dalam proses pembelajaran diharapkan ada interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa sehingga siswa juga berperan aktif dalam Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 1 Ae Juni 2024 kegiatan belajar mengajar (Darmuki & Hariyadi, 2023: . Salah satu permasalahan yang dihadapi siswa kelas VI SD Negeri 3 Tempursari. Sidoharjo. Wonogiri pada prasiklus adalah dalam pembelajaran matematika guru menggunakan model pembelajaran yang belum tepat, hal ini mengakibatkan siswa kurang mempunyai motivasi dalam mengikuti Pada siklus 1 guru menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD , dengan menggunakan model kooperatif tipe terlihat motivasi belajar siswa meningkat terlihat dari pengamatan guru dan hasil belajar yang sudah mengalami Pada siklus 2 selain guru menggunakan model kooperatif tipe STAD , guru juga menggunakan media pembelajaran berupa potongan kertas bentuk bangun datar untuk memperjelas teori. Selama pembelajaran motivasi siswa sudah terlihat meningkat sesuai harapan sehingga hasil belajar dapat Dengan memperhatikan kajian teori, hasil Ae hasil penelitian yang relevan dan kerangka berfikir diatas, kaitannya dengan permasalahan yang ada maka hipotesis tindakan yang penulis ajukan yang akan dibuktikan kebenarannya adalah : . Proses pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar sifat bangun datar pada siswa kelas VI semester 1 SD Negeri 3 Tempursari tahun pelajaran 2022/2023 lebih efektif dan . Ada peningkatan motivasi setelah diberikan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD pada siswa kelas VI semester 1 SD Negeri 3 Tempursari tahun pelajaran 2022/2023. Ada peningkatan hasil belajar Sifat-Sifat bangun datarsetelah diberikan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD pada siswa kelas VI semester 1 SD Negeri 3 Tempursari tahun pelajaran 2022/2023 LANDASAN TEORI Pengertian Motivasi Belajar Menurut Sardiman . , motivasi adalah perubahan energi seseorang yang ditandai dengan munculnya AufeelingAy dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya Darmuki dkk . 7: . , motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Peserta didik akan bersungguh-sungguh motivasi yang tinggi. Seorang siswa akan belajar bila ada faktor pendorongnya. Hariyadi & Darmuki . 3: . , mengutip pendapat Koeswara mengatakan bahwa siswa belajar karena didorong kekuatan mental, kekuatan mental ini berupa keinginan dan perhatian, kemauan, cita-cita didalam diri seseorang terkadang adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu dalam belajar. Dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul dari diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Pendapat Nana Sudjana . 4 : . , hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Slameto . 8:7/. , hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa, sedangkan hasil belajar diukur dengan rata-rata hasil tes yang diberikan, dan tes hasil belajar itu sendiri adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan mengukur kemajuan belajar siswa. Hasil belajar merupakan kompetensi yang pembelajaran (Darmuki & Hariyadi, 2023: Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan tolak ukur yang menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mengetahui dan memahami suatu materi pelajaran dari proses pengalaman belajarnya yang diukur dengan tes. Pengertian Metode Kooperatif Kooperatif pembelajaran kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang secara heterogen yang saling ketergantungan untuk mencapai tujuan belajar (Darmuki dkk. , 2017: 45. Darmuki dkk. 2018: . Menurut Trianto . STAD merupakan salah satu jenis dari model Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar. Dian Mayasari menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 siswa secara heterogen. Menurut Slavin 8: . mengemukakan bahwa model STAD merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan oleh Disimpulkan pembelajaran STAD adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari kelompok belajar heterogen dan setiap siswa saling bekerja sama, berdiskusi dalam menyelesaikan tugas dan memahami bahan pelajaran yang diberikan. Menurut Trianto . 0: . , ada 5 komponen utama dalam pembelajaran kooperatif dengan model STAD yaitu : . Presentasi Kelas : Guru memberikan pengarahan umum baik mengenai materi maupun pemberian motivasi serta aturan main yang akan digunakan dalam pembelajaran. Belajar Kelompok : Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen berdasarkan prestasi belajar siswa, budaya, ras, dan jenis Setelah pengarahan umum, anggota kelompok berkumpul untuk mempelajari bersama topik yang harus dikuasai. Kuis : Setelah belajar kelompok dan presentasi kelas, siswa mengerjakan kuis individu. Siswa diharuskan mengerjakan sendiri tanpa bantuan anggota kelompok sehingga setiap siswa secara individu bertanggung jawab apa yang telah Tes individu ini digunakan untuk menilai sejauh mana siswa telah memahami materi yang telah dipelajari. Peningkatan Nilai Individu : Peningkatan nilai dalam pembelajaran kooperatif adalah nilai yang diperoleh berdasarkan kriteria tertentu dengan membandingkan nilai tes terbaru dengan nilai tes sebelumnya (Darmuki dkk. , 2017: . Nilai sebelumnya disebut skor dasar atau skor Gagasan diberikannya nilai peningkatan individu ini untuk memberikan suatu tujuan prestasi yang dicapai setiap siswa. Hal ini hanya dapat dicapai jika siswa tersebut berusaha lebih keras dan memperoleh prestasi yang lebih baik dari apa yang diperoleh Siswa dapat menyumbangkan nilai maksimum pada kelompok berapapun skor yang mereka peroleh pada kuis (Slavin, 2008:. Jadi Cooperatif learning Tipe STAD merupakan pembelajaran yang memberikan motivasi serta aturan main bagi siswa secara individu untuk meningkatkan nilai individu yang dapat meningkatkan keberhasilan kelompok yang diperoleh melalui kuis dan dibuktikan dengan penghaxrgaan berdasarkan skor kelompok. Penghargaan Kelompok Kelompok mendapatkan penghargaan sesuai kriteria Pemberian penghargaan tiap kelompok dapat ditentukan berdasarkan skor kelompok yang didapat dengan menjumlahkan nilai peningkatan anggota kelompoknya dibagi jumlah anggota kelompok/tim. Pemberian penghargaan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk antara lain berupa sertifikat penghargaan, memamerkan daftar kelompok yang super dan kelompok yang sangat baik dalam majalah dinding, pajangan kelas atau bentuk lain yang dapat Pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai beberapa keuntungan dan Slavin . 8: . menyebutkan beberapa keuntungan dan kelemahan dari pembelajaran kooperatif tipe STAD . Beberapa keuntungannya antara lain: . Setiap anggota kelompok mendapat tugas. Adanya interaksi langsung antar siswa dalam . Melatih siswa mengembangkan keterampilan sosial . ocial skil. Membiasakan siswa menghargai pendapat orang lain. Meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara dan berbuat, sehingga . Memberi peluang kepada siswa untuk berani bertanya dan mengutarakan pendapat. Memfasilitasi persaudaraan dan kesetiakawanan. Terlaksananya pembelajaan yang berpusat pada siswa, sehingga waktu yang tersedia hampir seluruhnya digunakan oleh siswa untuk kegiatan pembelajaran. Memberi peluang munculnya sikap-sikap positif siswa Ada pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah: Dalam pelaksanaan di kelas, membutuhkan wakru yang relatif lebih lama sehingga sulit mencapai target kurikulum. Dalam mempersiapkannya guru membutuhkan waktu yang lama. Membutuhkan kemampuan khusus guru, sehingga tidak semua guru dapat Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 1 Ae Juni 2024 melakukan dan menggunakan strategi belajar . Menuntut sifat tertentu tertentu dari siswa, misalnya sifat suka . Pada prinsipnya yang diungkapkan di atas bukan merupakan kekurangan tetapi merupakan kendala yang dihadapi dalam Kendala tersebut ada yang bisa diatasi dan ada yang tidak bisa diatasi. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakans elama 3 bulan dimulai pada bulan Juli 2022 dan diakhiri pada bulan September 2022 pada semester 1 tahun pelajaran 2022/2023. Alokasi waktu penelitian sudah diperhitungkan dengan Pengumpulan data melalui tindakan dilakukan pada hari efektif sekolah. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 3 Tempursari Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Wonogiri pada siswa kelas VI semester 1 tahun pelajaran 2022/2023. Penentuan tempat penelitian mempertimbangkan beberapa hal diantaranya : . dalam melaksanakan penelitian tidak meninggalkan tugas. pelaksanaan penelitian berpengaruh terhadap proses pembelajaran di kelas VI. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 3 Tempursari Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Wonogiri Semester 1 Tahun Pelajaran 2022/2023 yang jumlah siswanya ada 11 siswa dengan satu rombongan belajar. Objek penelitian adalah motivasi dan hasil belajar sifat-sifat bangun Sumber data diperoleh dari nilai hasil tes dan hasil pengamatan siswa kelas V I semester 1 tahun pelajaran 2022/2023. Hasil pengamatan diambil ketika siswa menerima penjelasan guru dan ketika siswa mengerjakan tugas dari guru. Untuk memperoleh data yang akurat pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik diantaranya : . Melalui dokumen yaitu mengumpulkan data motivasi dan hasil belajar sifat-sifat bangun datar pada saat belum diadakan tindakan . ondisi awa. Observasi yaitu mengumpulkan data dengan mengamati motivasi siswa dalam pembelajaran sifat-sifat bangun datarsetiap . Tes yang berupa tes tertulis materi sifat-sifat . Catatan lapanganyaitu catatan yang dibuat guru yang berisi peristiwa-peristiwa penting dalam pembelajaran, seperti partisipasi siswa yang dianggap istimewa, reaksi guru yang menimbulkan respon istimewa, reaksi guru yang menimbulkan berbagai respon dari siswa, atau kesalahan yang dibuat siswa karena guru membuat kekeliruan. Catatan ini akan sangat berharga bagi guru karena merupakan hasil observasi, reaksi, dan refleksi guru terhadap pembelajaran yang . Wawancara dilakukan untuk pembelajaran sehingga didapatkan data pendukung tentang masalah yang berkaitan dengan kondisi pembelajaran dan faktorfaktor yang mempengaruhi pembelajaran. Untuk memperoleh data diperlukan alat pengumpulan data berupa : . Dokumen yang berupa catatan tentang motivasi dan hasil belajar sifat-sifat bangun datar pada kondisi . Lembar observasi berupa lembar pengamatan tentang motivasi belajar sifatsifat bangun datar. Butir soal untuk tes tertulis tentang hasil belajar sifat-sifat bangun datar pada setiap siklus. Validasi berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi Penelitian tindakan kelas ini menggunakan trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Trianggulasi sumber data berasal dari guru kelas, siswa dan teman sejawat sebagai kolaborator. Trianggulasi metode yaitu data dari pengumpulan dokumen, hasil observasi dan hasil tes Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui catatan observasi, dan hasil tes. cara menganalisa data dengan melihat catatan hasil tes dan menganalisis hasil observasi Indikator kinerja pada bagian akhir penelitian tindakan kelas ini telah ditentukan target sebagai berikut :proses pembelajaran merupakan faktor terpenting dari keberhasilan suatu pembelajaran. Target yang ingin dicapai pada proses pembelajaran penelitian ini adalah dari pembelajaran yang kurang baik menjadi pembelajaran yang sangat baik. Kategori proses pembelajaran didasarkan dengan prosentase banyaknya siswa yang aktif mengikuti pelajaran. Berikut ini kategori proses pembelajaran peserta didik : Kurang baik O 25 % . Cukup baik 26 % - 49 %. Baik 50 % - 75 %. Sangat baik 76 % - 100 %. Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar. Dian Mayasari Target motivasi siswa yang diharapkan adalah minimal bermotivasi tinggi pada kondisi akhir . khir siklus . Indikator bermotivasi tinggi bisa diketahui apabila hasil pengamatan selama tindakan memenuhi standar penilaian dalam rentang angka 21-25 . angat tingg. dan ketuntasan motivasi siswa Nilai tersebut dirujuk dari rentang penilaian sebagai berikut: Sangat tinggi. Ae . , tinggi . , sedang . Rendah. Kriteria pengamatan untuk mengambil data motivasi belajar Sifat-Sifat bangun dataradalah sebagai berikut: siswa minat(Skor 1-. , memperhatikan materi(Skor 1-. , siswa menunjukkan ketertarikan/keaktifan belajar (Skor 1-. , siswa senang/semangat mengikuti pelajaran(Skor 1-. , siswa mengumpulkan tugas tepat waktu(Skor 1-. Terdapat 5 indikator dengan skor minimal 5 dan total skor akhir maksimal adalah 25. Kriteria pemberian skor menggunakan rubrik sebagai berikut : Skor 1 = Tidak pernah. Skor 2 = Jarang. Skor 3 = Kadang Ae kadang. Skor 4 = Sering. Skor 5 = Selalu Target hasil belajar yang diharapkan adalah :nilai hasil tes minimal mencapai KKM yaitu 70, rata-rata nilai tes minimal 75, target ketuntasan klasikal mencapa 80% Penelitian dikembangkan oleh Arikunto . 0: . langkah-langkah: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada tahap prasiklus dibagi dalam dua pertemuan menggunakan model jigsaw. Pelaksanaan pembelajaran pertemuan pertama berlangsung belum sesuai harapan. Sebagian besar siswa cenderung tidak fokus dikarenakan dengan model pembelajaran jigsaw menuntut siswa ada yang ahli ditiaptiap kelompok (Darmuki & Hariyadi, 2023: Ahli-ahli yang ditunjuk oleh guru kurang mampu untuk memahami materi sehingga anggota siswa dalam kelompok tersebut kurang dapat memahami materi. Selain siswa ahli anggota siswa yang lain cenderung pasif, diam dan hanya beraktivitas semaunya sendiri. Pertemuan kedua guru menampilkan media model bangun ruang untuk menarik perhatian siswa dan siswa ahli pada tiap kelompok, diharapkan mereka lebih memahami materi yang akhirnya dapat menyampaikan materi ke anggota kelompok yang lain. Pelaksanaan pertemuan kedua siswa hanya fokus pada media model bangun ruang sehingga sebagian besar siswa masih belum memahami materi. Terbukti pertanyaan kunci dari guru secara lisan belum dijawab dengan benar. Sebagian besar siswa kurang aktif dikarenakan kegiatan yang dilakukan kurang bisa memfasilitasi untuk lebih memahami materi pembelajaran. Keaktifan siswa baru mencapai 18,18% dalam kategori kurang pada prasiklus ini. Hasil prosentase motivasi siswa masih tergolong Indikator pertama siswa menunjukkan minat sebesar 47,27% kriteria sedang. Indikator kedua siswa memperhatikan materi sebesar 49,09% kriteria sedang. Indikator ketertarikan/keaktifan 47,27%. Indikator keempat siswa senang mengikuti pembelajaran sebesar 47,27%. Dan indikator yang kelima siswa mengumpulkan tugas tepat waktu sebesar 41,81%. Prosentase ratarata secara klasikal motivasi siswa mencapai 46,542% masih tergolong sedang. Hasil tes isian singkat dengan jumlah soal sebanyak 10 Hasil yang diperoleh siswa sebagai berikut dari 11 siswa terdapat 3 siswa atau 27,3% mendapat nilai cukup, sebanyak 8 siswa atau 72,7% masih berpredikat nilai kurang karena mendapat nilai kurang dari 60. Kesimpulan yang dapat diambil dengan KKM yang ditetapkan yaitu 70 maka yang tuntas sebanyak 3 siswa atau 26,32%. Siswa yang nilainya di bawah KKM sebanyak 8 siswa dengan prosentase sebesar 73,68% belum Nilai rata-rata hasil belajar siswa prasiklus baru mencapai 72,7% dengan katagori kurang. Pembelajaran pada siklus I berlangsung selama 2 pertemuan dengan tiap pertemuan 2 JP, guru mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD . Pertemuan pertama guru menjelaskan materi sifat- sifat bangun datar hanya berkisar pada bangun persegi, jajaran genjang dan persegi panjang, kemudian siswa dikelompokkan secara heterogen berdasarkan kinerja akademik. Siswa berkerjasama dalam tim untuk Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 1 Ae Juni 2024 mempersiapkan timnya menjadi yang terbaik dengan cara membahas masalah bersamasama, mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang melakukan Setelah setiap tim sudah merasa siap, guru memberikan kuis secara individual, para siswa tidak boleh saling membantu. Tim yang anggotanya paling banyak memperoleh sesuai kriteria akan mendapatkan sertifikat sebagai tim terbaik. Setelah pembelajaran selesai dilaksanakan wawancara dengan responden. Pertemuan kedua siswa sudah mulai memahami terhadap proses pembelajaran yang dilakukan. Siswa mulai berlomba bersama tim untuk menjadi tim Proses pembelajaran pada pertemuan kedua diakhiri dengan tes. Hasil pengamatan tentang motivasi siswa pada siklus I menunjukkan 2 siswa atau sebesar 18,18% sudah mencapai motivasi Sebanyak 9 siswa atau sebesar 81,82% mencapai motivasi sedang. Pembelajaran siklus I membuktikan bahwa motivasi siswa ada peningkatan dibanding prasiklus. Siswa sudah terlihat aktif dalam pembelajaran Proses pembelajaran siklus I yang sudah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dirasakan oleh siswa lebih menarik dan mereka telihat lebih antusias dalam pembelajaran sehingga hasil nilai yang diperoleh meningkat dibanding prasiklus. Siswa yang mendapat rentang nilai 90 O A O 100 ada 2 dan jika diprosentase mencapai 18,18% dengan predikat sangat baik. Siswa yang mendapat rentang nilai 80 O B O 89 ada 4 dan jika diprosentase mencapai 36,36% dengan predikat baik. Terdapat 3 siswa mendapat nilai pada rentang nilai 70 O C O 79 dan jika diprosentase mencapai 27,27% dengan predikat cukup. Sebanyak 2 siswa atau 18,18% termasuk predikat kurang. Ketuntasan klasikal berdasarkan KKM yang ditetapkan 70 maka 9 siswa telah tuntas atau diprosentase sebanyak 81,82%. Siswa yang belum tuntas 2 siswa dengan prosentase 18,18%. Nilai rata-rata secara klasikal 75,45 dengan kriteria cukup. Berdasarkan data-data di atas dengan pertimbangan indikator keberhasilan penelitian ini maka perlu dilanjutkan ke siklus II. Pembelajaran pada siklus II berlangsung selama 2 pertemuan dengan tiap pertemuan 2 Guru penggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD . Pertemuan pada siklus I dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD telah menunjukkan peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa. pertemuan siklus II selain penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD guru juga menggunakan alat peraga berupa kertas dan Siswa membuat bangun datar dari kertas secara mandiri. Guru menjelaskan sifat bangun datar dan siswa mengulangi dengan menunjuk pada bangun datar yang mereka Tingkat kesulitan materi ditingkatkan apabila dalam siklus 1 bangun ruangnya hanya persegi, jajaran genjang dan persegi panjang maka dalam siklus II, bangun ruangnya yaitu trapesium, belah ketupat dan layang-layang. Pembelajaran Keaktifan belajar siswa mulai meningkat terlihat mereka mulai senang berdasarkan wawancara dengan siswa. Pertemuan kedua siswa kelihatan semangat dalam mengikuti pembelajaran. Kegiatan yang dilaksanakan guru mengulas materi pembelajaran yang harus dikuasai siswa. Guru membimbing siswa yang belum paham kesusahan dengan kelompoknya. Hasil pengamatan tentang motivasi siswa siklus II menunjukkan 9 siswa atau 81,81% sudah berkriteria sangat tinggi. Ada 2 siswa atau 18,19% siswa dengan kriteria motivasi Pembelajaran siklus II membuktikan bahwa motivasi siswa ada peningkatan dibanding siklus I. Proses pembelajaran siklus pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan melengkapi kekurangan siklus sebelumnya, hasil belajar siswa ada peningkatan dibanding siklus I. Siswa yang mendapat rentang nilai 90 O A O 100 ada 5 siswa dan jika diprosentase mencapai 45,45% dengan predikat sangat baik. Terdapat 4 siswa mendapat nilai pada rentang nilai 80 O B O 90 dan jika diprosentase mencapai 36,36% dengan predikat baik. Terdapat 1 siswa mendapat nilai pada rentang nilai 70 O C O 79 dan jika diprosentase mencapai 09,09% dengan predikat cukup. Terdapat 1 siswa mendapat nilai pada rentang nilai 60O C O 69 atau sebesar 09,09%. Ketuntasan klasikal berdasarkan KKM yang ditetapkan 70 maka Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar. Dian Mayasari 10 siswa telah tuntas atau diprosentase sebanyak 91,91%. Siswa yang belum tuntas 1 siswa dengan prosentase 09,09%. Nilai ratarata secara klasikal 84,54 dengan predikat Berdasarkan data-data di atas dengan penelitian ini sudah dihentikan. Permasalahan pada penelitian ini berawal dari pembelajaran Matematika kelas VI pada materi sifat- sifat bangun datar yang belum berhasil sesuai dengan tujuan belajar yang ditentukan siswa terlihat bosan dan kurang bersemangat dalam belajar padahal guru telah menggunakan model pembelajaran jigsaw. Pembelajaran berlangsung kurang baik dengan hasil pengamatan aktifitas dari 11 siswa menunjukkan 9 siswa . ,81%) kurang Observasi yang dilakukan, guru perlu Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus I mulai tampak adanya peningkatan aktivitas siswa pada siklus I menunjukkan 54,54% siswa Pembelajaran siklus I membuktikan bahwa aktivitas siswa ada peningkatan dibanding prasiklus. Siswa sudah terlihat aktif dalam pembelajaran. Indikator penelitian belum berhasil pada siklus I, meskipun pembelajaran berlangsung lebih baik, maka harus berlanjut ke siklus II. Proses pembelajaran pada siklus II semakin menarik dan membaik, menjadikan siswa semakin menikmati belajar. Proses pembelajaran sangat kondusif, sehingga dapat disimpulkan pembelajaran pada siklus II menunjukkan 100% siswa aktif. Pembelajaran siklus II membuktikan bahwa aktivitas siswa ada peningkatan dibanding siklus I. Proses pembelajaran yang meningkat berdampak pada hasil belajar yang diperoleh, dengan hasil belajar dengan kriteria sangat tinggi dapat disimpulkan proses pembelajaran pada siklus II seluruh siswa yang berjumlah 11 siswa aktif atau 100% masuk kategori sangat Kegiatan pembelajaran yang berlangsung dari keadaan kurang baik pada prasiklus yang ditunjukkan dengan motivasi belajar siswa sedang, kemudian meningkat pada siklus I belajarnya tinggi meningkat lagi pada siklus II menjadi sangat tinggi dapat dilihat pada tabel berikut ini : Berdasarkan tabel di atas menunjukkan motivasi siswa berdasarkan pengamatan pada prasiklus 7 siswa atau 63,64% dengan kriteria sedang, 4 siswa atau 36,36% dengan kriteria Pada siklus I ada peningkatan minat siswa dari 11 siswa terdapat 2 siswa atau 18,18% berkriteria minat tinggi dan terdapat 9 siswa atau 81,82% bermotivasi sedang. Pada siklus II terjadi peningkatan motivasi sangat signifikan. Siswa yang berjumlah 11 sebanyak 9 siswa atau 81,81% bermotivasi sangat tinggi dan ada 2 siswa atau 18,19% bermotivasi tinggi. Berdasarkan rincian di atas menunjukkan adanya peningkatan motivasi siswa dalam pembelajaran. Hasil wawancara siswa siklus I dan II membuktikan bahwa motivasi belajar siswa Pertanyaan wawancara kepada 2 reponden pada siklus 1 yang jawabannya hampir sama. Auapakah pembelajaran kali ini menyenagkan?Ay. Jawaban respondenAy Ya, pembelajaran hari menyenangkanAy. Siklus pentanyaan yang sama dari 2 responden menjawab dengan mantap AuYa, pembelajaran hari ini asyikAy. AuApa yang menarik dari pembelajaran matematika hari ini ?Ay. Responden pertama menjawab AuPada saat belajar kelompokAy. Berlanjut ke pertanyaan selanjutnya. AuLebih asyik manakah, belajar dengan yang biasa kita lakukan atau belajar dengan model seperti pembelajaran kita kali ini ? kenapa ?Ay. Responden menjawab AuLebih enak hari ini, karena dengan belajar kelompok jadi lebih ramaiAy. Pertanyaan selanjutnya,AuAntara belajar yang biasa kita lakukan dengan pembelajaran kali ini, manakah yang lebih memudahkan kamu untuk memahami tujuan pembelajaran ?Ay. Responden menjawab. AuLebih paham dengan Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 1 Ae Juni 2024 pembelajaran kali ini, karena bisa tanya teman satu kelompokAy. Jawaban wawancara tiap siklus dari responden menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa meningkat dari prasiklus, siklus I dan siklus II. Lebih lanjut tentang data peningkatan tiap aspek motivasi belajar siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini: II meningkat menjadi 83,63%. Siswa yang memiliki harapan dalam pembelajaran. Pada pembelajaran prasiklus baru mencapai 53,68%. Terdapat peningkatan siklus I menjadi 76,84%. Pada siklus II meningkat menjadi 88,42%. Rata-rata kondisi motivasi siswa secara klasikal pada prasiklus mencapai 63,64% dengan kriteria sedang dan 36,36% kriteria rendah. Terjadi peningkatan pada siklus I menjadi 18,18% dengan kriteria tinggi dan 81,82% dengan kriteria sedang. Pada siklus II meningkat menjadi 81,81% dengan predikat sangat tinggi dan 18,19% dengan kriteria tinggi. Kesimpulan yang terjadi ada peningkatan motivasi dari kondisi awal sampai akhir siklus II. Indikator minat sangat tinggi sudah terpenuhi pada siklus II. Kegiatan akhir pembelajaran adalah evaluasi untuk mengetahui keberhasilan siswa menguasai materi. Evaluasi yang dilakukan dengan tes akhir. Sebanyak 10 tes soal pada prasiklus, siklus I dan siklus II. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan dari prasiklus hingga siklus II. Berikut tabel yang menunjukkan hasil belajar siswa. Tabel 3. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Prasiklus. Siklus I dan Siklus II Bedasarkan tabel di atas menunjukkan ada peningkatan motivasi siswa secara klasikal. Peningkatan ditentukan berdasarkan skor perolehan dibagi skor keseluranan tiap indikator dikalikan seratus persen. Pada indikator siswa yang tertarik dalam belajar prasiklus rata-rata klasikal 46,64% siklus I meningkat menjadi 63,63%, dan siklus II ada peningkatan menjadi 86,17%. Indikator siswa yang menunjukkan minat dalam belajar pada prasiklus rata-rata adalah 47,27%. Sedangkan dalam siklus 1 terjadi peningkatan menjadi 63,63%. Pada akhir siklus II menjadi 85,45%. Siswa yang memperhatikan materi pada prasiklus baru mencapai 49,09%, pada siklus I menjadi 63,63% dan pada siklus II meningkat menjadi 89,08%. Indikator siswa menunjukkan ketertarikan dalam prasiklus menunjukkan rata-rata 47,27%, dalam siklus I terjadi peningkatan menjadi 63,63% dan pada siklus II menjadi 89,08%. Siswa yang senang dalam mengikuti pembelajaran pada prasiklus baru mencapai 47,27% dan ada peningkatan pada siklus I menjadi 63,63%%. Pada siklus Rentang Interval 90 O A O 100 (Sangt Bai. 80 O B O 89 (Bai. 70 O C O 79 (Cuku. D < 70 (Kuran. Jumlah Jumlah Siswa . S II Rata-Rata S II 50,90 =72, =85,4 Kuran Cuk Baik Tabel di atas menunjukkan nilai yang diperoleh siswa dari prasiklus ke siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Prasiklus siswa yang memperoleh nilai < 70 ada 8 Siswa yang mendapat nilai pada rentang nilai 70 O C O 79 ada 3 siswa. Peningkatan terjadi ada siklus I. Siswa yang memperoleh nilai < 70 ada 2 siswa dan siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 70 O C O 79 ada 3 siswa dan 4 siswa memperoleh nilai pada rentang nilai 80 O B O 89. Sisanya 2 siswa memperoleh nilai pada rentang nilai Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar. Dian Mayasari 90 O A O 100. Pada siklus II terjadi peningkatan perolehan nilai siswa. Siswa yang memperoleh nilai < 70 ada 1 siswa. Siswa yang mempeoleh nilai pada rentang nilai 70 O C O 79 ada 1 siswa dan siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 80 O B O 89 ada 3 siswa. Siswa yang memperoleh nilai pada rentang nilai 90 O A O 100 ada 6 siswa. Ketuntasan siswa secara klasikal sebagai dasar adanya permasalahan pada prasiklus kemudian menerapkan model kooperatif tipe STAD sebagai solusi sehingga ketuntasan secara klasikal dapat tercapai di siklus II. Berdasarkan tabel di atas, siswa yang tuntas pada prasiklus hanya 3 atau 27,27%. Kemudian yang tidak tuntas ada 8 siswa atau 72,73%. Siklus I terjadi peningkatan yang tuntas ada 9 siswa atau 81,82% yang tidak tuntas ada 52siswa atau 18,18%. Peningkatan yang lebih terjadi pada siklus II yaitu siswa tuntas ada 10 siswa atau 90,90% tuntas. Ada 1 siswa tidak tuntas atau 9,10%. Peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa dari prasiklus sampai siklus II sebesar 62,74%. Berdasarkan ketuntasan yang telah dicapai siswa indikator baik sudah dapat terpenuhi di siklus II. Peningkatan nilai rata-rata dari prasiklus, siklus I dan siklus II. Peningkatan terjadi karena penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang disenangi siswa dan didukung motivasi belajar siswa yang tinggi pada saat pembelajaran dilaksanakan. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada saat prasiklus sebesar 50,90 dengan kriteria kurang meningkat menjadi 72,72 kriteria cukup pada siklus I dan meningkat pada siklus II dengan nilai rata-rata 85,45 dengan kriteria baik. Peningkatan dari prasiklus hingga siklus II sebesar 34,55. KKM yang ditetapkan adalah 70 sebagai indikator keberhasilan penelitian ini maka berdasarkan nilai rata-rata yang telah dicapai indikator kinerja sudah dapat terpenuhi di siklus II. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Proses menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berhasil meningkatkan motivasi dan hasil brlajar sifat-sifat bangun datar pada siswa kelas VI SD Negeri 3 Tempursari tahun pelajaran 2022/2023. Peningkatan proses pembelajaran ditandai dengan bertambahnya jumlah siswa aktif mengikuti pembelajaran dari kategori kurang menjadi kategori baik. Motivasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar sifat-sifat bangun datarpada siswa kelas VI semester 1 SD Negeri 3 Tempursari tahun pelajaran 2022/2023 lebih efektif dan meningkat serta berjalan lancar sesuai dengan RPP yang telah disusun. Peningkatan motivasi belajar siswa pada siklus II adalah dari 11 siswa terdapat 9 siswa atau 81,81% berkategori motivasi sangat tinggi dan 2 siswa atau 18,19 % berkategori motivasi tinggi. Hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar sifat-sifat bangun datarpada siswa kelas VI semester 1 SD Negeri 3 Tempursari tahun pelajaran 2022/2023 lebih efektif dan meningkat serta berjalan lancar sesuai dengan RPP yang telah Peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II adalah dari 11 siswa terdapat 10 siswa atau 90,90% kategori tuntas dengan nilai di atas KKM yang telah ditentukan yaitu 70 dan 1 siswa atau 9,10% belum tuntas dengan rata-rata nilai hasil belajar adalah 85,45. Berawal dari pembahasan dan simpulan di atas, dapat dikemukakan saran sebagai berikut : . Model pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat efektif untuk meningkatkan proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA