Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Exploring the Effectiveness of Discovery Learning in Teaching Fiqh at MIS Nurul Jadid Waiwagang: A Classroom Action Research Jumriati A. Pao 1. Muhamad Najmudin 2 1 MIS. Nurul Jadid Waiwagang 2 MIS. Nurul Jadid Waiwagang Correspondence: jumriatipao45@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Discovery Learning. Fiqh Education. Classroom Action Research. MIS Nurul Jadid Waiwagang. Islamic Jurisprudence. Student Engagement. Teaching Methods ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to investigate the effectiveness of Discovery Learning in enhancing the understanding of Fiqh (Islamic Jurisprudenc. among students at MIS Nurul Jadid Waiwagang. Fiqh education is crucial in developing students' knowledge and application of Islamic law, yet traditional teaching methods often fail to engage students Discovery Learning, a student-centered approach that encourages active exploration, has been proposed as a more interactive and engaging alternative. This study is designed to evaluate how Discovery Learning influences studentsAo understanding and interest in Fiqh topics. The research was conducted in two cycles, each involving planning, action, observation, and reflection. The participants were 30 students from a fifthgrade class at MIS Nurul Jadid Waiwagang. Data were collected through observation, interviews, and student assessments before and after the implementation of Discovery Learning activities. The results indicated a significant improvement in students' comprehension of Fiqh concepts, as well as their participation and enthusiasm during lessons. Students showed a greater ability to apply Fiqh principles in real-life scenarios and displayed increased critical thinking. This study highlights the potential of Discovery Learning in fostering deeper engagement and understanding in Fiqh education. It suggests that integrating more interactive and student-centered teaching methods can improve the overall quality of religious education in Islamic schools. The findings of this research contribute to the ongoing efforts to modernize and enhance the teaching of Islamic studies, making it more relevant and engaging for students in the 21st century. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pembelajaran Fikih di Madrasah Ibtidaiyah (MI) memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pemahaman agama dan karakter siswa. Namun, metode pengajaran yang masih dominan, seperti ceramah dan hafalan, sering kali menyebabkan siswa hanya menerima informasi secara pasif. Hal ini berakibat pada rendahnya pemahaman mendalam siswa terhadap konsep-konsep Fikih dan kurangnya kemampuan mereka dalam mengaplikasikan ajaran-ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih aktif dan partisipatif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap Fikih. (Budi. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran adalah model pembelajaran Discovery Learning. Model ini menekankan pada peran aktif siswa dalam proses belajar, di mana mereka diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi, menemukan, dan memahami konsep-konsep secara mandiri. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis dan menganalisis materi secara mendalam. (Tika, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Discovery Learning dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan mengembangkan keterampilan berpikir tingkat Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan di sebuah sekolah dasar di Palu menunjukkan bahwa model ini meningkatkan motivasi siswa dan hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, termasuk Fikih. Hasilnya, siswa tidak hanya lebih memahami materi Fikih, tetapi juga lebih mampu menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari. (Rahmawati, 2. Di sisi lain, beberapa studi juga menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis penemuan dapat meningkatkan keterampilan sosial dan kerja sama antar siswa. Model ini mengajak siswa untuk bekerja bersama dalam kelompok untuk memecahkan masalah, yang secara tidak langsung membentuk sikap saling menghargai dan belajar bekerja dalam tim. (Sigit, 2. Namun, meskipun banyak studi yang menunjukkan keberhasilan penerapan Discovery Learning dalam pendidikan agama, implementasi model ini masih terbatas di beberapa madrasah, khususnya pada tingkat MI. Banyak sekolah yang masih mengandalkan metode tradisional yang kurang efektif dalam menarik minat dan perhatian siswa. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana penerapan Discovery Learning dapat dilakukan dalam pembelajaran Fikih di MI, terutama di MIS Nurul Jadid Waiwagang. (Hanafi, 2. Sebagian besar penelitian yang ada lebih banyak berfokus pada Pendidikan Agama Islam (PAI) secara umum, dan belum banyak yang mengkaji secara spesifik pembelajaran Fikih menggunakan Discovery Learning di tingkat MI. Penelitian ini berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan mengkaji secara mendalam bagaimana model Discovery Learning dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fikih. (Kurniawan, 2. Selain itu, perkembangan teknologi dan informasi yang pesat di era digital saat ini menuntut pendidikan untuk lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Pembelajaran Fikih yang lebih berbasis pada metode aktif dan kontekstual dapat membantu siswa mengaitkan pengetahuan agama dengan kehidupan sehari-hari mereka. Melalui pendekatan Discovery Learning, siswa diajak untuk menggali dan memahami prinsip-prinsip Fikih melalui pengalaman nyata dan pemecahan masalah, bukan sekadar teori. (Febriana, 2. Penerapan Discovery Learning diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar untuk menghafal hukum-hukum Fikih, tetapi juga belajar untuk memahami dan menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan mereka. (Fatimah, 2. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa Discovery Learning dapat memperkuat daya ingat jangka panjang siswa karena mereka terlibat langsung dalam proses penemuan dan pemahaman materi. Pembelajaran yang berbasis pada pengalaman ini memungkinkan siswa untuk lebih mudah mengingat dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari. (Widodo. Selain itu, model pembelajaran ini juga mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis siswa. Dalam proses Discovery Learning, siswa diajak untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga untuk mempertanyakan, mengeksplorasi, dan menganalisis informasi Ini sangat relevan untuk pembelajaran Fikih, di mana pemahaman mendalam terhadap prinsip-prinsip hukum Islam sangat diperlukan. (Lestari, 2. Meskipun Discovery Learning menawarkan banyak manfaat, penerapannya di lapangan tidak selalu mudah. Guru harus memiliki keterampilan untuk merancang dan mengelola aktivitas yang memungkinkan siswa untuk melakukan eksplorasi dan penemuan secara mandiri. Selain itu, tidak semua materi Fikih dapat disampaikan melalui metode ini, sehingga perlu ada penyesuaian antara materi yang diajarkan dan pendekatan pembelajaran yang digunakan. (Suhartini, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan model Discovery Learning dalam pembelajaran Fikih di MIS Nurul Jadid Waiwagang. Dengan mengadaptasi model ini. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 diharapkan dapat tercipta proses pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan, yang pada gilirannya akan meningkatkan pemahaman dan minat siswa terhadap Fikih. (Marzuki. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan metode pembelajaran yang lebih inovatif di sekolah-sekolah Islam, terutama dalam pembelajaran Fikih. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan manfaat bagi pengajaran Fikih di MIS Nurul Jadid Waiwagang, tetapi juga dapat diterapkan di madrasah lainnya yang menghadapi tantangan serupa. (Nurhasanah, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang potensi Discovery Learning dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Fikih di MI, sekaligus memberikan wawasan baru bagi pengembangan pendidikan agama yang lebih interaktif dan aplikatif di Indonesia. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. PTK dipilih karena metode ini memungkinkan peneliti untuk melakukan perbaikan langsung terhadap praktik pembelajaran yang sedang berlangsung. Dengan melibatkan siswa secara aktif. PTK memberikan kesempatan bagi peneliti untuk melihat perubahan yang terjadi dalam pembelajaran Fikih setelah penerapan model Discovery Learning. (Budi, 2. Proses penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus melibatkan kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, observasi terhadap proses pembelajaran, dan refleksi terhadap hasil yang diperoleh. Pada tahap perencanaan, peneliti merancang rencana pembelajaran Fikih dengan menggunakan pendekatan Discovery Learning yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Pembelajaran akan dirancang dengan tujuan agar siswa dapat aktif berpartisipasi dalam proses penemuan konsep-konsep Fikih melalui kegiatan kelompok dan (Siti, 2. Pada tahap tindakan, guru akan melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusun, di mana siswa akan diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi materi Fikih melalui berbagai metode, seperti studi kasus, diskusi kelompok, dan eksperimen terkait hukum-hukum Fikih. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan konsep-konsep Fikih secara mandiri. Selama proses pembelajaran, observasi dilakukan untuk mencatat interaksi siswa, keterlibatan mereka, serta perkembangan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. (Hanafi, 2. Pada tahap observasi, peneliti akan mengamati sejauh mana siswa dapat memahami dan mengaplikasikan materi Fikih yang diajarkan dengan menggunakan model Discovery Learning. Observasi dilakukan melalui pencatatan langsung terhadap aktivitas siswa, interaksi antara siswa dan guru, serta pengamatan terhadap peningkatan hasil belajar siswa melalui tes dan evaluasi yang diberikan setelah setiap siklus. Data yang diperoleh dari hasil observasi akan dianalisis untuk mengidentifikasi apakah penerapan Discovery Learning memberikan dampak positif terhadap pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran Fikih. (Rizki, 2. Tahap terakhir adalah refleksi, di mana peneliti akan mengevaluasi dan menganalisis hasil pembelajaran dari siklus yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil observasi dan tes, peneliti akan menilai apakah pembelajaran Fikih menggunakan Discovery Learning berhasil mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu peningkatan pemahaman siswa. Jika diperlukan, peneliti akan melakukan perbaikan pada siklus berikutnya untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan model Discovery Learning menunjukkan adanya peningkatan minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran Fikih. Sebagian besar siswa yang sebelumnya pasif dalam pembelajaran kini mulai menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif dalam diskusi dan kegiatan kelompok. Melalui kegiatan eksplorasi dan penyelesaian masalah yang diberikan oleh guru, siswa tampak lebih tertarik untuk memahami materi secara mendalam. (Budi, 2. Namun, meskipun ada peningkatan minat dan motivasi, pemahaman siswa terhadap materi Fikih pada siklus pertama masih bervariasi. Beberapa siswa mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep-konsep Fikih dengan pengalaman sehari-hari mereka. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun model ini menarik, masih ada tantangan dalam menyelaraskan tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Guru perlu lebih menekankan pada penjelasan konsep dasar sebelum melanjutkan ke penerapan lebih lanjut. (Fatimah, 2. Dalam siklus kedua, penerapan model ini diperbaiki dengan memberikan penjelasan lebih rinci mengenai konsep-konsep dasar Fikih yang lebih sederhana. Siswa kemudian diminta untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam skenario yang lebih relevan dengan kehidupan Proses ini memungkinkan siswa untuk tidak hanya mengingat hukum-hukum Fikih, tetapi juga memahami aplikasi praktisnya dalam situasi nyata. Hasilnya, pemahaman siswa dalam siklus kedua menunjukkan kemajuan yang signifikan dibandingkan dengan siklus (Tika, 2. Peningkatan ini juga terlihat dari hasil tes yang menunjukkan adanya kenaikan rata-rata nilai. Sebelum siklus pertama, banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah standar kelulusan. Namun, setelah siklus kedua, hampir seluruh siswa mencapai atau melebihi nilai minimum yang ditetapkan. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan Discovery Learning membantu siswa tidak hanya memahami materi dengan lebih baik, tetapi juga meningkatkan kemampuan mereka dalam mengingat dan mengaplikasikan konsep-konsep Fikih. (Siti, 2. Selain peningkatan pemahaman, siklus kedua juga memperlihatkan perbaikan dalam aspek keterampilan sosial siswa. Siswa yang sebelumnya lebih tertutup dalam diskusi kelompok, mulai aktif berbicara dan berbagi pendapat. Kerja sama antar siswa dalam memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan berbasis kasus menunjukkan perkembangan keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang positif. Ini juga menunjukkan bahwa Discovery Learning tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga keterampilan sosial yang penting bagi perkembangan siswa. (Sigit, 2. Di sisi lain, tantangan utama yang dihadapi dalam siklus kedua adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk melakukan eksplorasi lebih dalam. Meskipun kegiatan pembelajaran cukup interaktif, beberapa siswa merasa waktu yang tersedia tidak cukup untuk sepenuhnya menggali setiap topik secara mendalam. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk merancang waktu pembelajaran yang lebih fleksibel agar proses penemuan lebih optimal, tanpa terburu-buru atau terbatas pada waktu yang sempit. (Marzuki, 2. Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa siswa yang lebih sering berinteraksi dalam kelompok cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik. Diskusi kelompok memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta memperkuat pemahaman mereka tentang materi Fikih. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan Discovery Learning dapat menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif, di mana siswa dapat saling mendukung dalam memahami materi. (Widodo, 2. Keterlibatan siswa dalam diskusi juga terlihat dari peningkatan antusiasme mereka dalam mempresentasikan hasil pemikiran mereka di depan kelas. Siswa yang sebelumnya enggan berbicara di depan umum, kini lebih percaya diri untuk menyampaikan argumen dan solusi berdasarkan diskusi kelompok. Pembelajaran dengan model Discovery Learning memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis mereka. (Lestari, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Secara keseluruhan, penerapan Discovery Learning dalam pembelajaran Fikih di MIS Nurul Jadid Waiwagang menunjukkan bahwa metode ini dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa secara signifikan. Namun, implementasi model ini memerlukan perhatian lebih dalam hal pengelolaan waktu dan pembagian tugas yang lebih jelas selama kegiatan Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap siswa mendapat kesempatan yang cukup untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. (Hanafi, 2. Selain itu, meskipun sebagian besar siswa dapat mengikuti dengan baik, ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam mengikuti alur pembelajaran yang lebih terbuka. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang lebih fleksibel dan strategi pembelajaran yang dapat menyesuaikan dengan kecepatan dan gaya belajar setiap siswa. Adanya variasi dalam pemahaman siswa menunjukkan perlunya diferensiasi dalam penerapan Discovery Learning. (Purnama, 2. Dari sisi guru, penelitian ini mengungkapkan bahwa penerapan Discovery Learning membutuhkan persiapan yang matang, terutama dalam merancang aktivitas pembelajaran yang menantang namun tetap bisa diikuti oleh seluruh siswa. Guru sebagai fasilitator memiliki peran penting dalam membimbing siswa melalui proses penemuan, bukan hanya sebagai pemberi Oleh karena itu, pelatihan untuk guru dalam menggunakan model ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. (Febriana, 2. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam temuan penelitian ini adalah perubahan sikap siswa terhadap pembelajaran Fikih. Sebelumnya, siswa menganggap Fikih sebagai pelajaran yang sulit dan membosankan, tetapi setelah diterapkannya Discovery Learning, siswa mulai merasa bahwa Fikih adalah pelajaran yang menarik dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan minat dan sikap positif terhadap materi yang diajarkan. (Rizki, 2. Terakhir, meskipun temuan ini menunjukkan hasil yang positif, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa penerapan Discovery Learning memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat terlihat hasil maksimal. Oleh karena itu, perlu ada evaluasi dan perbaikan berkelanjutan dalam setiap siklus untuk memastikan keberlanjutan peningkatan kualitas Penelitian ini memberi kontribusi penting bagi upaya pengembangan metode pembelajaran aktif dalam pendidikan agama Islam, khususnya dalam pembelajaran Fikih. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan di MIS Nurul Jadid Waiwagang dengan penerapan model Discovery Learning pada pembelajaran Fikih, dapat disimpulkan bahwa model ini memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman, motivasi, dan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Penerapan model Discovery Learning secara umum menunjukkan bahwa pembelajaran yang lebih aktif dan berbasis pada penemuan oleh siswa dapat memperdalam pemahaman mereka terhadap materi Fikih dan membuat pembelajaran lebih menarik dan bermakna. Pada siklus pertama, meskipun terdapat peningkatan dalam minat siswa, pemahaman mereka terhadap materi Fikih masih bervariasi. Beberapa siswa mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep-konsep Fikih dengan pengalaman hidup mereka. Namun, setelah dilakukan perbaikan pada siklus kedua, di mana penjelasan materi Fikih diberikan dengan cara yang lebih sederhana dan kontekstual, pemahaman siswa mengalami peningkatan yang Hal ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan tingkat pemahaman siswa, model Discovery Learning dapat memfasilitasi siswa dalam mencapai pemahaman yang lebih baik. Selain itu, penerapan Discovery Learning juga meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang sebelumnya kurang aktif dalam pembelajaran, kini mulai menunjukkan antusiasme yang lebih besar dalam berdiskusi dan menyelesaikan masalah secara Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pembelajaran berbasis kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fikih, tetapi juga membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial seperti komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah. Interaksi antar siswa dalam kelompok memungkinkan mereka untuk saling berbagi pemahaman dan saling menguatkan dalam menerapkan prinsip-prinsip Fikih. Peningkatan hasil belajar juga tercermin dari hasil tes yang menunjukkan peningkatan yang signifikan pada nilai rata-rata siswa setelah diterapkannya model Discovery Learning. Sebelum siklus pertama, banyak siswa yang belum mencapai nilai minimal, tetapi setelah penerapan model ini, hampir seluruh siswa mampu mencapai nilai yang lebih baik dan bahkan melebihi nilai standar kelulusan yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa Discovery Learning tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, tetapi juga berdampak positif pada pencapaian akademik mereka. Namun, meskipun banyak manfaat yang diperoleh, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan dalam penerapan Discovery Learning. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk melakukan eksplorasi materi secara lebih mendalam. Beberapa siswa merasa bahwa waktu yang diberikan untuk diskusi kelompok dan eksplorasi konsep Fikih terkadang terbatas, sehingga mereka tidak dapat menggali lebih jauh topik yang sedang dipelajari. Oleh karena itu, perencanaan waktu yang lebih baik sangat diperlukan agar kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan lebih optimal. Selain itu, masih terdapat siswa yang kesulitan mengikuti proses pembelajaran berbasis Discovery Learning. Beberapa dari mereka membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik sesuai dengan gaya belajar dan kecepatan belajar masing-masing. Oleh karena itu, penting untuk melakukan diferensiasi dalam pembelajaran agar setiap siswa mendapatkan kesempatan yang adil untuk belajar dan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka. Guru sebagai fasilitator juga perlu meningkatkan keterampilan dalam mengelola kelas dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran. Secara keseluruhan, penerapan Discovery Learning dalam pembelajaran Fikih di MIS Nurul Jadid Waiwagang menunjukkan bahwa metode ini dapat meningkatkan pemahaman siswa, memotivasi mereka untuk lebih aktif dalam belajar, dan mengembangkan keterampilan sosial Meskipun ada beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti pengelolaan waktu dan penyesuaian untuk siswa dengan kemampuan yang berbeda, hasil penelitian ini memberikan gambaran positif mengenai potensi Discovery Learning dalam meningkatkan kualitas pembelajaran agama di madrasah. Oleh karena itu, model pembelajaran ini layak dipertimbangkan untuk diterapkan secara lebih luas di berbagai lembaga pendidikan Islam, khususnya pada pembelajaran Fikih, untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif, bermakna, dan relevan dengan kehidupan siswa. REFERENCES