Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 27 Ae 36 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Eksistensi Tradisi Wiwitan dan Kontribusinya terhadap Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal Risalatul Ummami . Dian Ayu Larasati . Agus Suprijono . Katon Galih Setyawan . Universitas Negeri Surabaya Abstrak Tradisi Wiwitan merupakan salah satu tradisi peninggalan leluhur masyarakat petani di Jawa yang dilaksanakan menjelang panen padi dilaksanakan. Tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur masyrakat petani atas hasil panen yang telah mereka peroleh. Selain itu, pelaksanaan Tradisi Wiwitan ini juga dipercayai serta dilaksanakan sebagai bentuk penolak balak atau untuk memperoleh keselamatan. Tradisi Wiwitan ini dilaksanakan sejak zaman dahulu dari generasi ke generasi dan sudah menjadi sebuah kebiasaan pada masyarakat petani di Jawa salah satunya di Dusun Kedung Tunggak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana eksistensi dan harmonisasi dari nilai sosial dan nilai keagamaan yang terkandung di dalam Tradisi Wiwitan. Selain itu, dalam penelitian ini juga berusaha untuk melihat bagaimana kontribusi dari kearifan lokal Tradisi Wiwitan ini dapat berkontribusi dalam pembelajaran IPS sebagai sumber belajar IPS berbasis kearifan lokal. Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Kedung Tunggak Desa Jatikalen Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi, pengambilan sampel penelitian dengan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dalam mengungkap makna dari simbol-simbol yang terkandung dalam Tradisi Wiwitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Wiwitan ini masih eksis di kalangan masyarakat di era modern seperti saat ini. Tradisi Wiwitan mengandung nilai sosial dan nilai keagamaan yang tercermin dari gotong royong masyarakat yang dapat mempererat kerukunan dari masyarakat sendiri. Nilai keagamaan dalam tradisi ini tercermin dari bagaimana Tradisi Wiwitan yang merupakan aliran Kejawen ini dapat harmonis dan hidup berdampingan dengan agama islam di dalam pelaksanaannya. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Tradisi Wiwitan ini dapat berkontribusi secara aktif sebagai sumber belajar berbasis kearifan lokal karena tidak hanya mengandung nilai kebudayaan tetapi juga mengandung nilai sosial dan keagamaan yang sangat relevan dengan pembelajaran IPS, sehingga pembelajaran berbasis kearifan lokal Tradisi Wiwitan ini akan menjadikan peserta didik secara bertahap akan lebih dekat dengan lingkungan sekitarnya di dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Tradisi Wiwitan. Pembelajaran IPS. Kearifan Lokal Abstract The Wiwitan Tradition is one of the ancestral traditions of the farming community in Java which is carried out before the rice harvest is carried out. This tradition is carried out as a form of gratitude from the farming community for the harvest they have obtained. In addition, the implementation of the Wiwitan Tradition is also believed and carried out as a form of warding off disaster or to obtain safety. This Wiwitan Tradition has been carried out since ancient times from generation to generation and has become a habit in the farming community in Java, one of which is in the Kedung Tunggak Hamlet. This study aims to determine the existence and harmonization of social and religious values contained in the Wiwitan Tradition. In addition, this study also attempts to see how the contribution of local wisdom of the Wiwitan Tradition can contribute to social studies learning as a source of social studies learning based on local wisdom. This research was conducted in Kedung Tunggak Hamlet. Jatikalen Village. Jatikalen District. Nganjuk Regency using a descriptive qualitative research type. Data collection techniques in this study used observation, interviews, and documentation, research sampling with purposive sampling. This study uses Symbolic Interactionism Theory in revealing the meaning of the symbols contained in the Wiwitan Tradition. The results of the study show that the Wiwitan Tradition still exists among people in the modern era like today. The Wiwitan Tradition contains social and religious values that are reflected in the mutual cooperation of the community that can strengthen harmony from the community itself. The religious values in this tradition are reflected in how the Wiwitan Tradition, which is a Kejawen school, can be harmonious and live side by side with Islam in its implementation. In addition, the results of the study also show that the Wiwitan Tradition can actively contribute as a source of learning based on local wisdom because it not only contains cultural values but also contains social and religious values that are very relevant to social studies learning, so that learning based on local wisdom of the Wiwitan Tradition will gradually make students closer to their surroundings in everyday life. Keywords: Wiwitan Tradition. Social Studies Learning. Local Wisdom Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 27 Ae 36 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keberagaman budaya yang sangat tinggi. Setiap pulau memiliki masyarakat asli dengan adat istiadat dan cara hidup yang khas. Oleh sebab itu. Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang kaya akan suku, adat istiadat, dan budayanya, yang kesemua tersebut berusaha untuk dijaga dan dilestarikan oleh penduduk asli di setiap wilayah yang membentuk Indonesia saat ini. Kebudayaan dan berbagai suku bangsa yang ada di kepulauan Indonesia dan menempati beberapa wilayah di Indonesia juga cukup beragam. Karena keberagamannya yang berkontribusi terhadap kekayaan budayanya. Indonesia menjadi salah satu negara mulultikultural di dunia (Lestari, 2. Kebudayaan mereka yang beragam merupakan salah satu bentuk warisan kebudayaan yang didapatkan dari generasi ke generasi secara turun temurun. Bangsa Indonesia terkenal dengan negara yang majemuk, dengan beragam suku, adat istiadat, dan Di mana, keragaman tersebut memiliki ciri khas dan juga karakteristik masing-masing yang dimiliki oleh setiap daerahnya. Masyarakat adat Jawa merupakan salah satu masyarakat dengan memiliki kekayaan akan kebudayaan dan sampai saat ini tetap melestarikannya secara turun temurun dari generasi ke Kebudayaan Jawa dikenal dengan berbagai falsafah dan juga nilai-nilai luhur yang dibalik setiap tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat (Rohim, 2. Salah satu contoh kebudayaan yang masih dilestarikan oleh masyarakat adat Jawa hingga saat ini yaitu tradisi wiwitan dalam pertanian. Tradisi wiwitan merupakan bentuk upacara tradisi atau ritual yang dilakukan oleh masyarakat agraris yang memiliki kaitan dengan pengelolaan sawah sampai dengan inisiasi panen hasil tanaman (Harisantoso et al. , 2. Tradisi wiwitan ini dilakukan sebagai sebuah seremonial atau persembahan yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat Jawa sebelum memulai memanen padi (Salsabila. Diberikan nama AuWiwitanAy karena arti dari kata AuWiwitAy yang berarti AumulaiAy, memulai dalam hal ini yaitu memulai untuk memotong padi sebelum pelaksanaan panen (Salsabila, 2. Tradisi wiwitan merupakan salah satu adat istiadat dan juga kepercayaan yang dibawa secara turun-temurun dan dipelihara oleh masyarakat. Tradisi wiwitan ini telah menjadi kebiasaan oleh para petani terutama dalam masyarakat Jawa dalam menyikapi nilai-nilai dan juga norma-norma yang berlaku di dalam Dengan adanya nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat tradisi wiwitan ini menjadikan eksis keberadaannya di dalam masyarakat. Di mana dalam pelaksanaannya juga akan mempengaruhi kehidupan sosial maupun keagamaan dalam masyarakat (Badiah & Ramadan, 2. Tradisi wiwitan dalam waktu pelaksanaannya maupun masyarakatnya memiliki keunikan jika dibandingkan dengan tradisi lainnya (Badiah & Ramadan, 2. Dalam suatu masyarakat, pelaksanaan tradisi wiwitan ini tidak bisa dilaksanakan sembarang hari karena harus terdapat perhitungan Jawa yang dianggap cocok dan tepat. Tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur dan juga anggapan para petani dalam mendapatkan dampak baik serta mencegah hal buruk yang akan terjadi di dalam proses bertaninya. Akan tetapi, dalam pelaksanaan tradisi wiwitan ini hanya dilakukan oleh masyarakat dengan umur yang dapat dibilang sudah tua. Mereka yang masih generasi muda belum memahami dengan betul apa itu tradisi wiwitan dan bagaimana manfaatnya sesuai dengan kepercayaan nenek moyang terdahulu. Hal tersebutlah yang nantinya akan menjadi ancaman terhadap eksistensi tradisi wiwitan ini di tengah modernisasi pertanian. Padahal jika ditelisik kembali, tradisi wiwitan ini bukan hanya berkaitan dengan upacara keagamaan tetapi juga terdapat nilai sosial yang memang ingin tetap dilestarikan yang terkandung di dalamnya. Nilai sosial dalam tradisi wiwitan ini terletak dalam hal silaturahmi, kerja sama, serta jalinan pemeliharaan solidaritas antar para petani. Jalinan solidaritas ini keberadaannya tercipta dari kerja sama yang baik dalam mempersiapkan serta melaksanakan tradisi ini secara bersama-sama. Sehingga tradisi ini memang sudah seharusnya untuk tetap dilestarikan oleh para generasi muda. Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat memberikan banyak kontribusi signifikan dalam menjaga keberlangsungan tradisi Wiwitan serta memperkuat nilai-nilai sosial keagamaan masyarakat Dusun Kedung Tunggak. Selain itu, seperti yang telah dijelaskan di atas, di era modernisasi seperti saat ini, eksistensi dari Tradisi Wiwitan mengalami berbagai tantangan. Perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan mulai masuknya budaya asing dapat menggerus nilai-nilai tradisional dan akan mengancam keberlangsungan Tradisi Wiwitan. Di sisi lain, pendidikan sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan utamanya Pendidikan IPS yang berbasis kearifan lokal memiliki potensi besar untuk melestarikan tradisi inii dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Pendidikan IPS yang mengintegrasikan kearifan lokal, seperti pelaksanaan Tradisi Wiwitan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan relevan bagi siswa. Melalui tradisi ini, siswa akan dapat belajar tentang sejarah, budaya, nilai-nilai sosial, dan hubungan manusia dengan Selain itu. Pendidikan IPS berbasis kearifan lokal juga dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air, kebanggaan terhadap budaya sendiri, dan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji lebih dalam terkait dengan eksistensi Tradisi Wiwitan di dalam kehidupan masyarakat dan juga kontribusinya terhadap Pendidikan IPS berbasis kearifan lokal. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Tradisi Wiwitan dan bagaimana tradisi ini dapat diintegrasikan dalam pembelajaran IPS untuk memperkaya pengalaman belajar peserta didik. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian lapangan . ield researc. dengan deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif menghasilkan hasil berupa data deskriptif baik dalam bahasa tertulis maupun lisan yang dikumpulkan langsung dari subjek atau individu yang diamati. Penelitian ini juga disebut penelitian lapangan dikarenakan dalam mendapatkan data yang kemudian disajikan dengan data deskriptif didapatkan dari penelitian yang dilakukan dengan cara terjun secara langsung di lapangan yang artinya bukan dilakukan di laboratorium atau perpustakaan. Pelaksanaan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif ini peneliti harus turun secara langsung ke lapangan untuk mengamati serta memperdalam informasi di lapangan. Sehingga, dalam penelitian ini peneliti akan turun secara langsung ke Dusun Kedung Tunggak untuk mengamati secara langsung peristiwa yang ada yaitu bagaimana eksistensi dan harmonisasi nilai sosial keagamaan pada tradisi wiwitan di dalam arus modernisasi pertanian yang akan dijadikan fokus dalam penelitian ini, kemudian data yang telah diperoleh akan di analisis dan kemudian akan disajikan dengan bentik narasi. Sehingga, hasil penelitian yang didapatkan dari penelitian kualitatif akan tergantung dari bagaimana seorang peneliti menginterpretasikan hasil penelitian yang didapat ke dalam penulisan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Prosesi Pelaksanaan Tradisi Wiwitan di Dusun Kedung Tunggak Tradisi Wiwitan ini dilaksanakan pada saat padi mulai berwarna kuning dan siap untuk di Biasanya masyarakat Dusun Kedung Tunggak menggunakan ukuran umur pada padi untuk menentukan sudah tepat waktu untuk melaksanakan Wiwitan atau belum. Akan tetapi pada kenyataannya, banyak juga masyarakat Dusun Kedung Tunggak yang menentukan untuk memulai Tradisi Wiwitan ini cukup dilihat dari penampakan padi yang sudah mulai menguning. Tradisi Wiwitan ini merupakan serangkaian yang merupakan rangkaian terakhir dalam tahapan pertanian. Tahapan tersebut dimulai dari tahap kawit yang dilaksanakan sebelum memulai pertanian, kemudian keleman yang dilaksanakan pada pertengahan ketika tanaman padi sudah mulai beranak, dan juga tahap terakhir yaitu Wiwitan yang dilaksanakan ketika padi sudah Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 27-36 mulai menguning dan sudah siap untuk di panen. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa tahapan pelaksanaan Tradisi Wiwitan ini. Adapun tahapan prosesi Tradisi Wiwitan yaitu sebagai Milih Dino (Menentukan Har. Pelaksanaan Tradisi Wiwitan diawali dengan penentuan hari. Penentuan hari ini dilaksanakan oleh masyarakat petani seminggu sebelum melaksanakan Tradisi Wiwitan. Penentuan hari dilaksanakan dengan mendatangi rumah Mbah Kaum (Pemimpin Ada. dalam pelaksanaan Tradisi Wiwitan untuk dicarikan tanggal yang baik untuk pelaksanaan Tradisi Wiwitan ini. Tanggal baik ini didasarkan dengan kondisi setiap individu atau keluarga dengan memperhatikan tanggal-tanggal yang menjadi pantangan bagi individu tersebut atau keluarga yang akan melaksanakan Tradisi Wiwitan. Tanggal-tanggal yang biasanya menjadi pantangan dan tidak boleh dilaksanakan Tradisi Wiwitan yaitu tanggal geblake wong tuo . ari meninggalnya orang tu. Persiapan Ritual Persiapan ritual Tradisi Wiwitan ini dilakukan oleh seorang perempuan, mulai dari mempersiapkan alat-alat maupun hidangan yang akan digunakan dalam proses Tradisi Wiwitan. Perempuan atau ibu-ibu dalam hal ini memiliki peran penting tidak hanya dalam hal persiapan hidangan tetapi juga dalam hal mengatur keuangan yang digunakan untuk pelaksanaan Tradisi Wiwitan. Terdapat beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam proses Tradisi Wiwitan, seperti Cok Bakal atau sesajen dan juga ambeng atau hidangan manakan. Ritual Kenduren Dalam pelaksanaan ritual kenduren ini terdapat pelaksanaan doa menurut tradisi yang di pimpin oleh Mbah Kaum yang merupakan pemimpin adat. Selain itu, juga dilaksanakan doa secara agama islam sesuai dengan kepercayaan masyarakat Dusun Kedung Tunggak. Ritual Mengelilingi Sawah Setelah melaksanakan kenduren yang dilaksanakan di rumah selanjutnya dilaksanakan ritual mengelilingi sawah. Ritual ini dilakukan sebelum ritual doa dimulai. Ritual ini dilakukan oleh Mbah Kaum yang hanya dilakukan satu kali putaran dengan diiringi doa yang dipercaya dapat mengusir hama seperti tikus. Ritual Methik (Ritual Do. Ritual Methik inilah yang membutuhkan sesaji (Cok Baka. yang akan ditaruh di dalam tas besar. Ritual ini selalu dilaksanakan di pojok kanan sebelah timur sawah. Ritual ini diawali dengan pembacaan doa oleh Mbah Kaun telaku pemimpin Tradisi Wiwitan yang kemudian dilanjutkan dengan membakar merang . agang pad. yang digunakan sebagai media dupa. Selanjutnya Mbah Kaum mengeluarkan semua cok bakal yang telah disiapkan di pojok kanan sebelah timur sawah. Setelah itu diakhiri dengan memotong sedikit padi di bagian itu untuk di bawa pulang dan diserahkan kepada pemilik sawah sebagai tanda bahwa Tradisi Wiwitan telah dilaksanakan dan juga memberikan tanda bahwa padi siap untuk di Makan Bersama Setelah semua ritual telah dilaksanakan, dilanjutkan dengan membagi hidangan yang memang khusus untuk dihidangkan di sawah. Hidangan ini biasanya langsung dibagi secara merata kepada warga masyarakat yang mengikuti tradisi ini. Setelah mendapatkan makanan mereka akan memakan di tempat diselingi dengan obrolan atau juga terkadang langsung membawanya pulang. Makan bersama di sawah ini hanya dilaksanakan oleh petani yang memang menggunakan ambeng sawah dalam Tradisi Wiwitan. Sehingga, tidak seluruh Tradisi Wiwitan terdapat makan ambeng bersama yang dilakukan di sawah. Nilai Sosial Keagamaan dalam Tradisi Wiwitan di Dusun Kedung Tunggak Nilai Sosial Tradisi Wiwitan dalam pelaksanaannya mengandung fungsi sosial yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani, serta pemeliharaan solidaritas sosial misalnya pada pemeliharaan relasi internal pemilik sawah dengan keluarganya itu sendiri ataupun dengan relasi pemilik sawah dengan masyarakat. Dalam hubungan pemilik sawah dengan keluarganya nilai sosial dalam Tradisi Wiwitan ini tercermin dalam mempereratnya relasi antar keluarga. Hal ini nampak pada kerabat keluarga yang akan datang membantu untuk mempersiapkan persiapan yang digunakan dalam Tradisi Wiwitan. Kedatangan keluarga yang membantu tersebut mencerminkan adanya upaya dalam rangka mempererat hubungan antar keluarga. Tradisi Wiwitan yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Kedung Tunggak sendiri juga menjadikan relasi antar keluarga semakin erat. Hal ini bisa dilihat dari kegiatan masyarakat Dusun Kedung Tunggak yang akan melaksanakan rewang ketika keluarga atau tetangga mereka melaksanakan sebuah hajat salah satunya yaitu pelaksanaan Tradisi Wiwitan. Hal tersebut juga menjadi hal bahwa Tradisi Wiwitan adalah wadah berkumpulnya keluarga dan juga tetangga. Selain tercermin dalam hal mempereratnya hubungan antar keluarga, nilai sosial dalam Tradisi Wiwitan ini juga tercermin dalam hal kerukunan dan keharmonisan antar masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari masyarkat Dusun Kedung Tunggak melaksanakan kehidupan bermasyarakatnya secara rukun dan harmonis. Akan tetapi, dalam pelaksanaan Tradisi Wiwitan ini harmonisasi dan juga kerukunan antar masyarakat semakin terlihat dari partisipasi masyarakat dalam tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat lainnya. Dalam pelaksanaan Tradisi Wiwitan, utamanya dalam ritual kenduren petani yang melaksanakan Tradisi Wiwitan akan mengundang beberapa warga untuk melaksanakan tradisi ini. Masyarakat yang di undang akan mendatangi rumah petani untuk melaksanakan ritual kenduren ini. Dalam pelaksan ritual kenduren akan diisi oleh sebuah doa bersama dan juga diakhiri dengan membagi ambeng atau hidangan makanan yang telah disiapkan oleh tuan rumah. Akan tetapi, jika terdapat warga masyarakat yang telah diundang tetapi tidak dapat datang hidangan makanan yang telah disiapkan akan tetap diberikan kepada warga masyarakat tersebut. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa selain mempererat harmonisasi dan juga kerukunan antar masyarakat, dalam tradisi ini juga mengedepankan dalam hal berbagi kepada sesama masyarakat tanpa memandang golongan-golongan Hal ini berarti bahwa Tradisi Wiwitan ini sangat kental akan nilai sosial di dalamnya. Nilai Keagamaan Pelaksanaan Tradisi Wiwitan sangat erat kaitannya dengan hal keagamaan atau Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa Tradisi Wiwitan ini berangkat dari kepercayaan masyarakat dengan Adat Kejawen yang dibawa dari jaman nenek moyang. Nenek moyang dan juga masyarakat sampai sekarang mempercayai bahwa Tradisi Wiwitan ini merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk menjalin komunikasi dengan roh leluhur agar hasil panen yang akan didapatkan oleh masyarakat petani penuh akan keberkahan. Dalam hal keagamaan Tradisi Wiwitan ini dilaksanakan oleh masyarakat Kedung Tunggak sebagai bentuk keesaan terhadap Tuhan yaitu Allah. Masyarakat mendapatkan kemudahan dan juga kenikmatan rizki sehingga sebagai umat yang baik wajiblah untuk senantiasa bersyukur atas karunia yang diberikan kepada masyarakat petani dalam bentuk hasil panen. Rasa syukur yang diungkapkan oleh masyarakat ini diimplementasikan dalam Tradisi Wiwitan pada ritual kenduren untuk mengucapkan rasa syukur. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 27-36 Pembahasan Eksistensi Tradisi Wiwitan di Dusun Kedung Tunggak Kehidupan masyarakat Dusun Kedung Tunggak yang berada di wilayah pedesaan tidak menutup kemungkinan juga mengalami perubahan yang cukup signifikan Perubahan-perubaha ini juga terjadi dalam pelaksanaan Tradisi Wiwitan yang dilaksanakan oleh masyrakat. Perubahan ini dapat dilihat dari hasil wawancara yang telah dilakukan bahwa kebanyakan warga masyarakat melaksanakan tradisi ini hanya sebagai bentuk penghormatan saja tanpa mengetahui arti di balik tradisi Wiwitan ini. Akan tetapi, jika kita bertanya kepada masyarakat yang memiliki umur yang lebih tua mereka telah paham sepenuhnya apa arti dibalik yang mereka lakukan dalam tradisi Wiwitan ini. Perubahan yang terjadi di berbagai aspek kehidupan tersebut memiliki faktor yang Faktor-faktor tersebut seperti penemuan baru khususnya pada bidang teknologi, kemajuan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, perkembangan ilmu agama dalam masyarakat, kontak atau pengaruh dari budaya asing, serta munculnya berbagai media massa. Faktor-faktor tersebutlah yang banyak membawa pengaruh akan kehidupan masyarakat salah satunya yaitu pada Tradisi Wiwitan. Dengan adanya kemajuan teknologi dan juga pendidikan dalam hal ilmu pengetahuan dunia pertanian seperti mulai muncilnya traktor, mesin tanam, dan lain sebagainya dapat mengubah pemikiran masyarakat untuk berpikir secara leih rasional dan dapat mengubah pola tindakan dan juga pola hidup dari masyarakat Dusun Kedung Tunggak. Luasnya wawasan yang dimiliki oleh masyarakat juga dapat mengubah pola pikir masyarakat untuk bertindak rasional dengan menilai budaya yang ada dalam masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman atau tidak. Hal yang paling mendasar dalam hal ini yaitu perkembangan ilmu agama yang dimiliki oleh Masyarakat yang telah memiliki banyak ilmu agama dan mendalaminya akan bertindak sesuai dengan perintah agama, karena agama merupakan petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia. Dengan demikian agama dapat mengubah pola pikir masyarakat menjadi lebih Akan tetapi, dengan berbagai modernisasi dan juga faktor yang diyakini akan membawa perubahan pada kehidupan masyarakat tersebut tidak menjadi permasalahan bagi masyarakat Dusun Kedung Tunggak terutama dalam hal eksistensi dari Tradisi Wiwitan sendiri. Total jumlah penduduk masyarakat Dusun Kedung Tunggak yang berjumlah 954 jiwa dengan lahan perswahan yang luas mayoritas dari masyarakat masih melaksanakan Tradisi Wiwitan secara Hal tersebut membuktikan bahwa eksisteni dari Tradisi Wiwitan yang dilaksanakan di Dusun Kedung Tunggak ini masih terjaga dengan baik. Hal yang menyebabkan eksistensi dari Tradisi Wiwitan di Dusun Kedung Tunggak ini masih terjaga yaitu dari kehidupan masyarakat sendiri yang tergolong masih sederhana walaupun telah banyak hal-hal modern yang masuk di dalam kehidupan masyarakat. Seperti halnya walaupun sudah terdapat mesin tanam padi, mesin pemanen padi masyarakat Dusun Kedung Tunggak masih menggunakan tenaga manusia untuk menanam maupun memanen. Hal tersebut didasari dengan pemikiran masyarakat yang masih mementingkan masyarakat sekitarnya. Apabila semua petani yang memiliki lahan persawahan menggunakan mesin untuk menanam ataupun memotong padi lapangan pekerjaan dari masyarakat Dusun Kedung Tunggak akan hilang sehingga banyak masyarakat yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sama halnya dengan pelaksanaan Tradisi Wiwitan, dalam pemikiran yang lebih rasional dan didasarkan dengan ilmu pengetahuan Tradisi Wiwitan tidak perlu dilakukan karena sudah terdapat banyak hal yang bisa menjadikan hasil panen masyarakat berlimpah contohnya dengan pemberian pupuk yang berkualitas tinggi serta teknik pertanian yang lebih baik di era modern Akan tetapi masyarakat masih melaksanakan Tradisi Wiwitan ini atas dasar kepercayaan yang masih melekat pada diri setiap petani di Dusun Kedung Tunggak. Mereka sangat mempercayai apa yang mereka lakukan dalam Tradisi Wiwitan akan memberikan dampak baik selama mereka menjalankan proses pertaniannya. Masyarakat Dusun Kedung Tunggak juga mempercayai Tradisi Wiwitan tidak hanya memiliki fungsi sebagai sarana untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya bersyukur kepada Tuhan atas hasil bumi, tetapi juga sebagiai upaya memperkuat hubungan sosial antar anggota di dalam masyarakat. Sehingga dari kepercayaan yang masih dipegang teguh tersebut menjadikan pelaksanaan Tradisi Wiwitan ini masih eksis di Dusun Kedung Tunggak di tengah era modernisasi dalam bidang pertanian seperti saat ini. Kontribusi Tradisi Wiwitan terhadap Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan materi pembelajaran yang erat kaitannya dengan kearifan lokal. Kearifan lokal dengan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) seharusnya tidak terpisahkan dimana hakikatnya pembelajaran IPS merupakan pembelajaran yang harus juga mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam aktivitas pembelajaran. Karena pada dasarnya pembelajaran IPS merupakan pembelajaran yang aktivitas pembelajarannya bersumber pada kehidupan masyarakat. Namun permasalahan yang seringkali terjadi di lapangan pembelajaran IPS masih disampaikan secara teoritis dan sangat jarang untuk menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber pembelajaran. Permasalahan tersebut juga merupakan tantangan di era saat ini dimana dengan metode yang digunakan sepertii itu akan menjadikan peserta didik tidak tertarik dan cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Hal tersebut didasari dengan pembelajaran yang disampaikan tidak didukung dengan penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar yang Sebagai salah satu inovasi yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran IPS ialah pembelajaran berbasis kearifan lokal. Pembelajaran IPS dengan basis kearifan lokal dapat menjadi solusi dimana peserta didik akan selalu dekat dengan situasi yang kontekstual yang sering mereka hadapi dalam kehiduan sehari-hari. Model pembelajaran yang berorientasi pada kearifan lokal adalah contoh pembelajaran yang juga dapat meningkatkan skill atau kecakapan peserta didik dengan mendasrakan pada potensi lokal yang dimiliki oleh setiap daerah tertentu. Sama halnya dengan Tradisi Wiwitan ini. Tradisi Wiwitan ini merupakan sebuah potensi lokal yang dimiliki oleh suatu daerah yang mana juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran IPS. Nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Wiwitan akan menjadi sebuah pengalaman yang berharga bagi peserta didik jika diterapkan dalam sebuah pembelajaran. Karena tidak hanya mengandung nilai kebudayaan tetapi juga mengandung nilai sosial dan keagamaan yang sangat relevan dengan pembelajaran IPS. Selain itu, pembelajaran berbasis kearifan lokal Tradisi Wiwitan ini akan menjadikan peserta didik secara bertahap akan lebih dekat dengan lingkungan sekitarnya di dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam pembelajaran ini, peserta didik tidak hanya melaksanakan pembelajaran berbasis pada buku paket serta Lembar Kerja Peserta Disik (LKPD) saja, tetapi juga akan terdapat pembelajaran untuk menganalisis fenomena-fenomena yang ada di masyarakat. Sehingga dalam hal ini pembelajaran berbasis kearifan lokal seperti Tradisi Wiwitan ini merupakan inovasi yang tepat karena pembelajaran yang berbasis lingkungan akan mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih menarik, kreatif, dan memiliki pembelajaran yang Tradisi Wiwitan memiliki kontribusi yang signifikan sebagai sumber belajar IPS berbasis kearifan Tradisi Wiwitan memiliki nilai-nilai yang berkontribusi dan relevan secara langsung dengan pembelajaran IPS, yaitu sebagai berikut: Pemahaman tentang Hubungan Manusia dengan Alam Dalam hal ini. Tradisi Wiwitan mengajarkan mengenai pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan harmoni antara masyarakat dengan alam sekitarnya. Hal ini dapat tercermin dalam beberapa ritual yang dilaksanakan dalam pelaksanaan Tradisi Wiwitan. Tradisi Wiwitan seringkali melibatkan pelaksanaan pertanian tradisional yang selalu memperhatikan kesuburan tanahk, seperti dengan penggunaan pupuk organik, dan pengelolaan air yang bijaksana. Dengan hal tersebut peserta didik akan belajar mengenai bagaimana praktik-praktik ini dan berkontribusi dalam keberlanjutan lingkungan. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 27-36 Tradisi Wiwitan juga dianggap memiliki kekuatan spiritual seperti penghormatan kepada Dewi Sri yang dianggap sebagai Dewi Padi sebagai simbol kesuburan. Dari hal tersebut peserta didik akan belajar mengenai bagaimana masyarakat tradisional seperti masyarakat Dusun Kedung Tunggak memandang alam sebagai bagian yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakat dan bagaimana pandangan ini juga akan mempengaruhi perilaku masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Sehingga, dengan adanya Tradisi Wiwitan sebagai sumber belajar IPS akan mengajarkan mengenai bagaimana pentingnya mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Nilai-nilai Sosial dan Budaya Pelaksanaan Tradisi Wiwitan memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti nilai sosial dan budaya uang kuat seperti gotong royong, kebersamaan, dan juga rasa Tradisi Wiwitan dalam pelaksanaannya selalu melibatkan gotong royong, seperti dengan saling membantu dalam tahap persiapan hingga pelaksaan Tradisi Wiwitan. Dengan hal tersebut peserta didik akan belajar mengenai bagaimana gotong royong dapat memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat dan bagaimana nilai ini dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang telah bergeser ke arah yang lebih modern. Selain gotong royong, pelaksanaan Tradisi Wiwitan ini juga melibatkan kebersamaan dalam pelaksanaan ritualnya. Dalam hal ini dapat menciptakan rasa kebersamaan yang memperkuat identitas sosial. Sehingga peserta didik dapat belajar tentang bagaimana tradisi ini menciptakan rasa memiliki dan bagaimana mereka berkontribusi pada kohesi sosial. Selain gotong royong dan juga kebersamaan. Tradisi Wiwitan juga kental akan rasa syukur dari masyarakat atas hasil panen yang melimpah. Hal ini tercermin dalam beberapa pelaksanaan ritual dan persembahan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan Tradisi Wiwitan. Dengan hal tersebut, peserta didik dapat belajar tentang bagaimana rasa syukur dapat mempengaruhi sikap dan perilaku manusia dan bagaimana nilai ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman tentang Sistem Kepercayaan dan Religi Tradisi Wiwitan sangat erat kaitannya dengan sistem kepercayaan dan religi Kepercayaan tersebut yang kemudian mempengaruhi praktik pelaksanaan pertanian dan kehidupan sosial. Dalam pelaksanaannya. Tradisi Wiwitan dilatarbelakangi oleh beberapa kepercayaan dan juga nilai-nilai spiritual dalam kehidupan. Hal-hal tersebut diperoleh dari pewarisan yang diperoleh dari nenek moyang zaman dahulu. Dengan hal tersebut, peserta didik akan dapat belajar mengenai bagaimana kepercayaan dapat berpengaruh terhadap praktik-praktik pertanian yang juga berpengaruh terhadap proses interaksi sosial. Selain itu, dengan menjadikan Tradisi Wiwitan sebagai sumber belajar IPS peserta didik akan mempelajari bagaimana upaya yang harus diterapkan dalam rangka melestarikan peninggalan-peninggalan kebudayaan agar terus relevan dalam kehidupan Relevansi dengan Pembelajaran IPS Dalam dunia pendidikan, utamanya dalam pembelajaran IPS Tradisi Wiwitan ini sangat relevan dan bermakna bagi peserta didik. Hal tersebut dikarenakan Tradisi Wiwitan ini dapat dimasukkan ke dalam semua disiplin ilmu-ilmu sosial seperti geografi, sejarah, sosiologi, dan juga ekonomi. Dalam geografi Tradisi Wiwitan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya, bagaimana pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam, dan juga pengaruh pola penggunaan lahan terhadap hasil pertanian. Dalam materi pembelajaran sejarah Tradisi Wiwitan ini dapat diintegrasikan dalam materi mengenai perkembangan budaya di Indonesia, sistem kepercayaan, dan sejarah lokal. Dalam sosiologi Tradisi Wiwitan dapat diimplementasikan dengan materi terkait dengan struktur sosial, nilai-nilia budaya, dan juga interaksi sosial Sedangkan dalam materi ekonomi Tradisi Wiwitan ini dapat diintegrasikan dengan materi ekonomi tradisional, praktik pertanian, dan juga perdagangan lokal. Pada dasarnya. Tradisi Wiwitan ini sangat relevan dengan pembelajaran IPS yang mempelajari hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya. Tradisi Wiwitan dapat diintegraikan secara langsung ke dalam pendidikan IPS dengan menggunakan metodemetode yang mendukung pula sehingga dapat berkontribusi secara lebih nyata dalam pembelajaran IPS yang lebih kontekstual sehingga dapat menciptakan pembelajaran bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal ini dapat diimplementasikan pada jenjang pendidikan manapun seperti pada jenjang pendidikan SMP kelas IX kurikulum merdeka Tema 01. Kearifan Lokal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian Tradisi Wiwitan juga memiliki banyak nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti nilai sosial dan nilai keagamaan yang sangat kental dalam prosesi pelaksanaan Tradisi Wiwitan. Di era modernisasi seperti saat ini Tradisi Wiwitan dalam masyarakat Dusun Kedung Tunggak masih eksis dilaksanakan hal ini dikarenakan oleh kepercayaan yang masih melekat melekat pada diri setiap petani di Dusun Kedung Tunggak. Dalam dunia pendidikan Tradisi Wiwitan ini juga memberikan kontribusinya sebagai sumber belajar IPS yang berbasis kearifan lokal. Dalam hal ini nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Wiwitan akan menjadi sebuah pengalaman yang berharga bagi peserta didik jika diterapkan dalam sebuah pembelajaran. Karena tidak hanya mengandung nilai kebudayaan tetapi juga mengandung nilai sosial dan keagamaan yang sangat relevan dengan pembelajaran IPS. Selain itu, pembelajaran berbasis kearifan lokal Tradisi Wiwitan ini akan menjadikan peserta didik secara bertahap akan lebih dekat dengan lingkungan sekitarnya di dalam kehidupan sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA