JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Analisis Dimensi Kreatif dan Kritis dalam Kurikulum Merdeka pada Siswa Kelas IV SD 1*,2,3 Nia Karisma1*. Susanti Faipri Selegi2. Sri Wahyuningsih3 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas PGRI Palembang. Palembang. Indonesia Article Info Article history: Received Oct 06, 2025 Accepted Nov 03, 2025 Published Online Dec 12, 2025 Keywords: Kurikulum Merdeka Dimensi Kreatif Dimensi Kritis ABSTRACT Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut pengembangan kompetensi esensial, termasuk dimensi kreatif dan kritis dalam Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan bagaimana kedua dimensi tersebut diimplementasikan serta dicapai pada siswa kelas IV SD Negeri 196 Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan bagaimana dimensi kreatif dan kritis dalam Profil Pelajar Pancasila diimplementasikan serta dicapai pada siswa kelas IV SD dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi proses pembelajaran, wawancara mendalam dengan guru dan kepala sekolah, angket terhadap 29 siswa kelas IV, serta studi dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi dimensi kreatif dan kritis berjalan cukup baik. Siswa menunjukkan kemampuan memberikan respons orisinal, umpan balik, dan gagasan kreatif selama pembelajaran. Angket mengindikasikan respons positif siswa terhadap indikator kreativitas dan berpikir kritis, meskipun kemampuan refleksi diri masih perlu Temuan ini mendukung perlunya penguatan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan interaktif, serta pelatihan guru untuk lebih optimal dalam membimbing siswa mengembangkan metakognisi dan keterampilan berpikir mandiri. Penelitian ini memberikan gambaran empiris tentang capaian dimensi kreatif dan kritis pada jenjang SD dalam konteks Kurikulum Merdeka, sekaligus mengidentifikasi area penguatan untuk refleksi diri siswa, yang masih jarang dibahas dalam penelitian terdahulu. This is an open access under the CC-BY-SA licence Corresponding Author: Nia Karisma. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas PGRI Palembang. Palembang. Indonesia Jl. Jenderal Ahmad Yani Lorong Gotong Royong. Palembang. Sumatera Selatan Email: karismania30@gmail. How to cite: Karisma. Selegi. , & Wahyuningsi. Analisi Dimensi Kreatif dan Kritis Dalam Kurikulum Merdeka Siswa Kelas IV SD. Jurnal Riset Dan Inovasi Pembelajaran, 5. , 1213Ae1222. https://doi. org/10. 51574/jrip. Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1213 Ae 1222 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Analisis Dimensi Kreatif dan Kritis Dalam Kurikulum Merdeka Siswa Kelas IV SD Pendahuluan Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah strategis dalam dunia pendidikan melalui implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini dirancang untuk mengatasi tantangan pendidikan kontemporer dengan menawarkan pembelajaran intrakurikuler yang lebih variatif, menekankan pada pengembangan kompetensi, karakter, dan keterampilan lunak . oft skill. Tujuannya adalah memberikan ruang yang memadai bagi peserta didik untuk memahami konsep secara mendalam dan memperkuat kemampuan mereka . emendikbudristek, 2. Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan pendidikan yang bertujuan memberikan kebebasan kepada sekolah dan guru untuk mengembangkan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan konteks local (Tuerah & Tuerah, 2. Menurut Widhamiyani et al. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek telah menjadi ciri khas Kurikulum Merdeka. Pendekatan berbasis proyek ialah siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran melalui kegiatan kelompok maupun penelitian yang mendorong peserta didik untuk meningkatkan soft skills serta karakter sesuai dengan profil Pelajar Pancasila. Pembelajaran yang diutamakan dalam Kurikulum Merdeka dianggap lebih bermanfaat dan menarik karena memberi kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi permasalahan yang ada di sekitar mereka (Widyastuti, 2. Hal ini memungkinkan keterlibatan aktif siswa guna mendukung pengembangan karakter dan keterampilan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Struktur penerapan pembelajaran Kurikulum Merdeka meliputi pembelajaran berbasis kompetensi, pembelajaran yang fleksibel, dan Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila merupakan pendidikan karakter bangsa Indonesia. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk memantapkan budi pekerti, terus menerus meningkatkan diri individu, dan mengembangkan keterampilan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, termasuk nilai-nilai agama dan budaya serta kearifan lokal Indonesia (Purnamasari & Soegeng, 2. Sedangkan Menurut Sunarto et al. Profil pelajar Pancasila menggambarkan sisi sejati dari seorang pelajar Indonesia yang senantiasa memilki keterampilan yang mendunia dan berprilaku sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Indonesia mengembangkan dirinya sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila melalui enam dimensi dalam profil pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Profil ini didefinisikan dengan enam dimensi kunci yang saling berhubungan dan mendukung, yaitu: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Ahmad et al. , 2. Berdasarkan keenam dimensi tersebut peneliti tertarik untuk meneliti dimensi bernalar kritis dan kreatif. Menurut Rodhiyana. Pelajar yang memiliki kemampuan berpikir kritis mampu mengolah informasi secara objektif, termasuk yang berbasis kualitas. Baik secara kualitatif maupun kuantitatif, kita dapat membangun hubungan antara berbagai informasi dan melakukan analisis. Menyampaikan, menilai, dan menarik kesimpulannya. Sedangkan Menurut Purnamasari & Soegeng, . Berpikir kritis adalah proses di mana pelajar perlu membuat penilaian yang logis, masuk akal, dan dipikirkan dengan matang. Sebagai contoh, dalam mengikuti kegiatan karya ilmiah, kemampuan berpikir kritis sangat penting untuk memecahkan masalah sehingga keputusan yang diambil dapat berlangsung dengan cepat dan tepat. Menurut Oktavia Rahayu et al. Pelajar yang kreatif mampu menyatukan dan membuat sesuatu yang asli. Memiliki makna, bermanfaat, serta memberikan dampak pada Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1213 Ae 1222 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Satu aspek penting dalam kreativitas adalah kemampuan peserta didik untuk menghasilkan gagasan inti yang menarik, menciptakan karya yang autentik dan orisinal. Oleh karena itu penting untuk menganalisis dimensi kreatif dan kritis dalam kurikulum merdeka terutama pada siswa kelas lV yang berada pada tahap perkembangan kognitif yang signifikan. Elemen kunci dari kreatif meliputi penghasilan ide-ide orisinal, produksi karya dan tindakan orisinal, serta pengembangan alternatif untuk pemecahan masalah yang memperkuat aspek kreatif dalam kemampuan menemukan solusi. Profil Pelajar Pancasila mencakup unsur-unsur yang dikembangkan melalui proses penguatan kreativitas (Yana et al. , 2. Sedangkan menurut Atipah & imamah, . kreativitas adalah salah satu sifat yang perlu dikembangkan agar anak dapat mengeksplorasi dan mengungkapkan ide serta perasaan yang sejalan dengan minat dan kesukaan mereka terhadap karya dan aktivitas yang mereka Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti di SDN 196 Palembang bersama wali kelas lV perihal kurikulum merdeka. SDN 196 Palembang telah menerapkan kurikulum Merdeka sejak dua tahun yang lalu, tepat pada tahun 2022. Sudah menerapkan profil pelajar Pancasila, dan dibagi ke dalam tiga fase: Fase A untuk kelas 1 dan 2. Fase B untuk kelas 3 dan 4, serta Fase C untuk kelas 5 dan 6. Sejauh ini, sekolah telah berhasil menerapkan kurikulum merdeka dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran yang memberikan siswa kesempatan untuk menyampaikan dan mengembangkan gagasan mereka secara bebas, sambil tetap mendapatkan bimbingan dari guru sebagai fasilitator. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat lebih terdorong untuk kreatif dan berpikir kritis. Namun, tantangan masih terdapat pada kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa, di mana mereka masih mengalami kesulitan dalam mengembangkan keterampilan tersebut. Hal ini terlihat dari kurangnya partisipasi siswa di dalam kelas, serta kurangnya keberanian mereka dalam mengungkapkan ide-ide mereka, dan kemampuan penalaran peserta didik yang masih harus didorong oleh guru, selain itu implementasi dimensi kreatif dan kritis di SDN 196 Palembang seringkali menemui beberapa kendala, seperti kurangnya inovasi dalam model dan metode pembelajaran yang menyebabkan pembelajaran hanya difokuskan pada peran guru, sarana dan prasarana belum memadai, dan perbedaan latar belakang siswa juga dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis dan kreatif, yang bertujuan untuk menciptakan ketidakmerataan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan permasalahan tersebut, guru seharusnya dapat meningkatkan pembelajaran dengan lebih interaktif serta melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian oleh Waridah & Selvia, . yang berjudul "Implementasi Profil Pelajar Pancasila Bernalar Kritis dalam Proses Pembelajaran di SDN 02 Boli Pintas" menunjukkan bahwa penerapan dimensi bernalar kritis dalam Profil Pelajar Pancasila dilakukan melalui tiga kegiatan utama: memperoleh dan memproses informasi serta gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, serta merefleksi dan mengevaluasi pemikiran. Penelitian ini didasarkan pada hasil wawancara dengan beberapa guru, yang mengungkapkan praktik yang dilakukan, seperti memotivasi siswa untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Penelitian lain oleh Lilihata et al. yang berjudul "Penguatan Profil Pelajar Pancasila Dimensi Kreatif dan Kritis di Era Digital" menunjukan hasil bahwa penguatan dimensi kreatif dan bernalar kritis pada Profil Pelajar Pancasila di era digital telah berjalan dengan baik. Implementasi ini memberikan kontribusi positif, di mana penguatan profil tersebut dapat dilakukan secara fleksibel, terutama melalui Kurikulum Merdeka, yang mendukung perkembangan dimensi kreatif dan kritis dalam konteks digital. Sementara itu, penelitian oleh Fakhirah et al. yang berjudul "Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa pada Mata Pelajaran IPA Kelas IV di SDN 36 Cakranegara" menunjukkan bahwa terdapat siswa kelas IV yang memiliki kemampuan berpikir kreatif rendah dalam pelajaran IPA. Penelitian ini menegaskan perlunya pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1213 Ae 1222 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Dari beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dimensi kreatif dan kritis sudah berjalan dengan baik, penerapannya dilakukan sesuai dengan indikator dari dimensi tersebut. Berdasarkan uraian di atas maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis dimensi kreatif dan kritis dalam kurikulum merdeka siswa kelas lV SD. Metode Penelitian Penelitian ini mengadopsi jenis penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena memberikan fokus pada pemahaman mendalam . terhadap fenomena sosial, sehingga memungkinkan peneliti mengeksplorasi makna, pengalaman, dan perspektif individu atau kelompok dalam konteks yang sesungguhnya (Sugiyono, 2. Desain deskriptif digunakan karena relevan untuk menggambarkan fenomena secara sistematis, faktual, dan akurat (Sahir, 2. Kombinasi metodologi ini dipilih untuk menganalisis dan mendeskripsikan secara eksploratif implementasi serta tingkat pencapaian dimensi Bernalar Kritis dan Kreatif siswa kelas IV SD Negeri 196 Palembang. Sesuai pandangan Sugiyono . , analisis data dilakukan sebagai proses menyusun data secara sistematis melalui kategorisasi, sintesis, pola hubungan, dan penarikan kesimpulan. Dengan desain tersebut, peneliti dapat memperoleh data yang kaya dan holistik melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen, sehingga hasil penelitian tidak hanya bersifat kuantitatif berupa persentase, tetapi juga memuat interpretasi kualitatif yang kontekstual terhadap indikator pencapaian kedua dimensi Profil Pelajar Pancasila tersebut. Selanjutnya, penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 196 Palembang yang ditentukan melalui teknik purposive sampling berdasarkan pertimbangan keterwakilan sekolah dalam implementasi Kurikulum Merdeka pada jenjang Sekolah Dasar. Penentuan subjek penelitian juga dilakukan secara purposif untuk menjamin relevansi data dengan tujuan penelitian. Siswa Kelas IV. A sebanyak 29 orang dipilih sebagai subjek utama angket dan observasi, mengingat karakteristik perkembangan kognitif pada jenjang tersebut relevan untuk mengukur kemampuan bernalar kritis dan kreatif. Selain itu, wawancara mendalam dilakukan dengan Guru Kelas IV. A dan Kepala Sekolah SD Negeri 196 Palembang sebagai informan kunci yang memberikan perspektif komprehensif terkait kebijakan kurikulum, proses pembelajaran, serta strategi penguatan dimensi Bernalar Kritis dan Kreatif. Berdasarkan penentuan lokasi dan subjek tersebut, instrumen penelitian kemudian disusun untuk mengumpulkan data yang sesuai dengan fokus penelitian. Instrumen yang digunakan meliputi angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Angket diberikan kepada siswa untuk mengukur persepsi dan respons terhadap indikator dimensi kreatif . dan kritis . menggunakan skala Likert lima poin Sangat Setuju . Setuju . Netral . Tidak Setuju . , dan Sangat Tidak Setuju . yang telah divalidasi oleh ahli. Wawancara terstruktur dilakukan dengan Kepala Sekolah dan Guru Kelas IV. A guna memperoleh informasi mendalam mengenai implementasi Kurikulum Merdeka dan strategi pengembangan kreativitas serta nalar kritis siswa. Sementara itu, observasi dan dokumentasi digunakan untuk mencatat data pendukung terkait proses pembelajaran dan produk karya siswa. Tahapan akhir dalam metode penelitian ini adalah analisis data. Data yang diperoleh dianalisis melalui dua teknik utama, yaitu analisis data angket serta analisis data kualitatif dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Jawaban angket terlebih dahulu dikonversi ke dalam persentase sesuai kategori respons (SS. TS. STS), kemudian diinterpretasikan secara kualitatif untuk menilai tingkat pencapaian kedua dimensi yang diteliti. Adapun data dari wawancara, observasi, dan dokumentasi dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Melalui tahapan ini diperoleh pemahaman komprehensif mengenai pelaksanaan dan capaian dimensi Bernalar Kritis dan Kreatif di SD Negeri 196 Palembang. Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1213 Ae 1222 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Hasil dan Pembahasan Penelitian ini menganalisis implementasi Kurikulum Merdeka di SD Negeri 196 Palembang, dengan fokus utama pada perkembangan dimensi kreatif dan kritis siswa kelas IV. Dimensi-dimensi ini merupakan elemen krusial dari Profil Pelajar Pancasila Fase B. Data kualitatif deskriptif dikumpulkan melalui angket yang disebarkan kepada 29 siswa, didukung oleh wawancara dengan kepala sekolah dan wali kelas, serta observasi di lapangan. Hasil dari analisis data tersebut kemudian digunakan untuk mendeskripsikan secara mendalam bagaimana dimensi kreatif dan kritis siswa kelas IV telah berkembang di sekolah ini. Dimensi kreatif mendorong siswa untuk merumuskan ide-ide baru, menghasilkan karya nyata, serta berpikir adaptif ketika menghadapi tantangan. Salah satu aktivitas yang mendukung kreativitas siswa adalah proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P. , di mana siswa diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi ide dan menciptakan karya. Dalam praktiknya, siswa mampu membuat produk atau kerajinan dari bahan bekas, yang menunjukkan kemampuan mereka dalam analisis, pengambilan keputusan, serta kemandirian. Bantuan dari guru diberikan dengan arahan yang tepat tanpa menghambat proses kreatif siswa, menciptakan lingkungan belajar yang mendorong inisiatif dan keunikan. Di sisi lain, dimensi berpikir kritis dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk mengumpulkan dan mengolah informasi, menilai logika, serta merenungkan pemikiran mereka sendiri. Sebagai contoh, dalam pembelajaran IPA, guru menjelaskan alasan terjadinya banjir, dan banyak siswa menjawab dengan penyebab seperti hujan, air pasang, atau tumpukan sampah di saluran air, yang menunjukkan adanya kegiatan yang merangsang analisis mendalam dan pemecahan masalah. Gambar 1. Grafik dimensi kreatif Hasil menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menghasilkan gagasan orisinal sangat tinggi, terbukti dari pertanyaan pertama (P. yang mencapai persentase Sangat Setuju (SS) sebesar 93,1%. Namun, terdapat variasi pada pertanyaan P2 dan P3, yang cenderung berada pada kategori Setuju (S), menandakan kemampuan moderat siswa dalam menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal. Lebih lanjut, persebaran jawaban yang cukup merata pada P4 menunjukkan bahwa fleksibilitas berpikir siswa masih bervariasi dan belum merata di antara seluruh responden. Meskipun demikian, dominasi kategori Sangat Setuju (SS) pada P5 . ,8%) menegaskan bahwa sebagian besar siswa memiliki kreativitas tinggi dalam mencari alternatif solusi masalah. Secara umum, data mengindikasikan bahwa stimulus yang diberikan seperti proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P. yang memberi kebebasan eksplorasi berhasil mendorong orisinalitas ide siswa. Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1213 Ae 1222 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Gambar 2. Grafik dimensi kritis Gambar 2 menyajikan hasil angket dimensi berpikir kritis. Pada pertanyaan keenam (P. , dominasi kategori Sangat Setuju (SS) mencapai 55,1%, menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan yang kuat dalam memperoleh dan memproses informasi. Pertanyaan P7 dan P8, yang mengukur kemampuan menganalisis dan mengevaluasi penalaran, cenderung tinggi pada kategori Setuju (S), menggambarkan kemampuan yang cukup baik, namun masih memerlukan penguatan. Di sisi lain. P9 dan P10 memperlihatkan sebaran yang lebih merata antara Netral (N) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Hal ini menunjukkan bahwa refleksi diri siswa untuk merenungkan pemikiran sendiri masih perlu ditingkatkan dan bervariasi. Pengembangan dimensi kritis ini sebagian besar dilakukan melalui kegiatan pembelajaran yang mengharuskan siswa mengolah informasi dan menilai logika, seperti yang dicontohkan dalam pembelajaran IPA di mana siswa didorong untuk mengidentifikasi berbagai penyebab suatu fenomena. Temuan ini menunjukkan bahwa dimensi kreatif dan kritis si swa telah berkembang secara positif, meskipun dengan tingkat pencapaian yang berbeda antar indikator. Tingginya kemampuan orisinalitas ide (P. dan pemrosesan informasi (P. mengindikasikan keberhasilan Kurikulum Merdeka dalam menanamkan dasar-dasar berpikir mandiri pada Dalam konteks SD N 196 Palembang, ini memberikan implikasi bahwa intervensi guru selanjutnya harus lebih difokuskan pada kegiatan yang mendorong siswa untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan melakukan evaluasi diri secara mendalam, alih-alih hanya berfokus pada hasil ide atau produk akhir. Bantuan guru yang diberikan dengan arahan yang tepat telah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong inisiatif, namun langkah-langkah selanjutnya perlu diarahkan untuk memperkuat aspek analisis mendalam dan pemecahan masalah. Pada data wawancara berdasarkan wawancara bersama kepala sekolah dan wali kelas IV peneliti menyimpulkan bahwa kreatif dipandang sebagai kemampuan siswa untuk menghasilkan ide-ide baru, orisinal, dan inovatif dalam menyelesaikan masalah serta mengekspresikan diri. Sekolah mendorong hal ini melalui pembelajaran aktif berbasis proyek, eksperimen sederhana, pemanfaatan barang bekas, serta kegiatan bercerita dan diskusi yang memberi ruang bagi siswa untuk berimajinasi dan mencoba hal baru. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberi dukungan dan membangun kepercayaan diri siswa agar berani menyampaikan ide. Penilaian kreativitas tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses berpikir, orisinalitas, dan keberanian berinovasi. Sementara itu, kemampuan berpikir kritis dipahami sebagai kemampuan siswa untuk menganalisis informasi, menilai alasan, serta mengambil keputusan yang logis dan bijak. Dalam praktiknya, guru menerapkan strategi seperti diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek, dan refleksi untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa. Guru juga menggunakan pertanyaan terbuka dan memberikan contoh situasi nyata agar siswa dapat menilai dan mengevaluasi suatu tindakan berdasarkan logika dan nilai moral. Selain itu, guru selalu meminta umpan balik dari siswa untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terhadap Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1213 Ae 1222 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 materi, sehingga pembelajaran berikutnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Secara keseluruhan, wawancara ini menunjukkan bahwa sekolah telah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang mendorong kemandirian berpikir, keberanian berpendapat, dan pengembangan nilai-nilai moral. Pendekatan yang diterapkan sudah sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa, aktif, kontekstual, dan menumbuhkan potensi berpikir kreatif serta kritis untuk menghadapi tantangan kehidupan nyata. Pembahasan Hasil dan pembahasan penelitian ini didapatkan melalui beberapa tahapan yang telah dilakukan, dimulai dari wawancara mendalam, dilanjutkan dengan penyebaran angket kepada siswa, dan diakhiri dengan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, bahwa sekolah memiliki pemahaman dan penerapan yang baik terhadap pengembangan kreatif dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran. Ini terlihat dari beberapa pertanyaan yang dijawab olehnya " Sebagai kepala sekolah SD, saya mendefinisikan kreativitas dalam konteks pembelajaran di kelas sebagai kemampuan siswa untuk menghasilkan ide-ide baru, orisinal, dan inovatif dalam menyelesaikan masalah atau mengekspresikan diri, sambil mengintegrasikan pengetahuan yang telah dipelajari. Ini bukan sekadar seni atau imajinasi bebas, melainkan proses berpikir yang melibatkan eksplorasi, eksperimen, dan adaptasi terhadap situasi nyata. Kepala sekolah mendefinisikan kreativitas dipandang sebagai cara berpikir yang inovatif dan fleksibel, bukan sekadar membuat sesuatu yang AuindahAy saja". Begitu pula informasi yang diperoleh dari wawancara dengan wali kelas IV di SD Negeri 196 Palembang, kemampuan kreatif dan berpikir kritis siswa sudah berada pada tingkat yang cukup baik. Hal ini terlihat dalam proses belajar mengajar di mana siswa mampu memberikan respons atau umpan balik terhadap materi yang diajarkan oleh guru di "Pernah dalam pelajaran IPS, saya menceritakan tentang bencana banjir. Seorang siswa memberikan pendapat bahwa penyebabnya bukan hanya hujan, tapi juga karena sampah yang menumpuk di saluran air. Dia juga mengatakan agar tidak membuang sampah sembarangan. Itu menunjukkan bahwa dia berpikir kritis dan peduli. Penggunaan contoh yang konkret dapat membantu menilai kreativitas secara objektif dan adil. Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa sekolah telah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang mendorong kemandirian berpikir, keberanian berpendapat, dan pengembangan nilai-nilai moral, yang mana pendekatan ini sudah sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Selanjutnya, hasil data angket pada indikator dimensi kreatif memberikan gambaran tentang kemampuan siswa dalam menghasilkan gagasan dan tindakan orisinal, meskipun keluwesan berpikir menunjukkan keberagaman respons yang lebih besar. Sementara itu, dimensi kritis menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki kemampuan yang baik dalam memperoleh, memproses informasi, serta menganalisis Namun, ditemukan bahwa kemampuan siswa dalam merefleksi dan mengevaluasi pemikiran sendiri masih perlu ditingkatkan, hal ini ditunjukkan dari respons angket yang cukup merata. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa dimensi kreativitas dan keberanian berpikir kritis telah berjalan dengan cukup baik, terlihat dari cara siswa yang memahami materi pembelajaran, berani bertanya, dan menyampaikan pendapat dengan penalaran yang Temuan ini sejalan dengan Kollo & Suciptaningsih, . yang menyatakan bahwa Kurikulum Merdeka merupakan pendekatan inovatif yang menjadikan siswa sebagai subjek utama dalam pembelajaran, berfokus pada kreativitas dan pemecahan masalah. Meskipun demikian, penelitian kami menemukan adanya tantangan spesifik dalam aspek refleksi diri, sehingga diperlukan penguatan dalam metakognisi siswa agar mereka dapat mengembangkan keterampilan berpikir secara lebih mandiri dan mendalam. Penelitian lain oleh Lilihata et al. Menyatakan bahwa penguatan dimensi kreatif dan bernalar kritis Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1213 Ae 1222 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 pada Profil Pelajar Pancasila di era digital telah berjalan dengan baik. Implementasi ini memberikan kontribusi positif, di mana penguatan profil tersebut dapat dilakukan secara fleksibel, terutama melalui Kurikulum Merdeka, yang mendukung perkembangan dimensi kreatif dan kritis dalam konteks digital. Meskipun kurikulum ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas siswa, pelaksanaannya tetap menghadapi hambatan terkait kurangnya pelatihan bagi guru. Metode yang efektif untuk mendorong kreativitas siswa melalui pembelajaran P5 meliputi proyek berbasis pembelajaran, kegiatan eksperimen, proyek seni, kerja sama antarbudaya, dan penghargaan terhadap ide-ide kreatif. Akan tetapi, saat pelaksanaan, terdapat tantangan seperti pengelolaan waktu yang kurang efisien dan persiapan guru yang tidak memadai sebelum proses pembelajaran (Salsabila et al. , 2. Penelitian dari Mery et al. Proyek penguatan profil pelajar Pancasila dapat berjalan dengan lancar apabila komponen utama dari pembelajaran yakni pendidik, peserta didik dan lingkungan satuan pendidikan dapat saling mengoptimalkan perannya. Peserta didik yang merupakan subjek dari sebuah pembelajaran perlu turut aktif dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan. Pendidik yang merupakan fasilitator dari pembelajaran tersebut bertugas untuk membimbing peserta didik dalam mengupayakan proses belajar yang maksimal. Pandangan ini diperkuat oleh Waridah & Selvia, . yang menyatakan bahwa guru perlu bersikap proaktif, memberikan teladan, menarik perhatian siswa, dan memberikan dukungan dalam proses belajar. Guru juga diharapkan lebih mendalami pemahaman mengenai Profil Pelajar Pancasila melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan, serta menggunakan variasi metode pembelajaran seperti tanya jawab, demonstrasi, dan diskusi, bukan hanya ceramah, untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif dan interaktif. Jadi dapat disimpulkan bahwa kurikulum merdeka fokus pada peningkatan kemampuan berpikir kritis, kreatif, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Suasana belajar yang mendukung sangat krusial untuk membantu siswa dalam menganalisis serta memahami gagasan-gagasan dalam konteks kehidupan nyata. Peran pengajar juga sangat signifikan, di mana pengajar perlu bersikap proaktif, memberikan teladan, menarik perhatian siswa, serta mendukung proses pembelajaran. Pengajar diharapkan juga menggali lebih dalam pemahaman mengenai profil pelajar Pancasila melalui kegiatan seperti penyuluhan dan Dalam proses pembelajaran, selain metode ceramah, perlu ditambahkan metode tanya jawab, demonstrasi, dan diskusi agar pengalaman belajar menjadi lebih efektif dan Kesimpulan dan Saran Secara umum, implementasi Kurikulum Merdeka di SD Negeri 196 Palembang telah menunjukkan dampak positif terhadap perkembangan kemampuan berpikir kreatif dan kritis siswa kelas IV. Data angket memperlihatkan respons yang baik dari siswa, sementara wawancara mengonfirmasi adanya lingkungan belajar yang mendukung. Kreativitas siswa tampak dari keberanian mereka menyampaikan ide serta mencoba hal-hal baru, sedangkan kemampuan kritis terlihat melalui kecakapan berpikir logis dan menyelesaikan masalah secara Meski demikian, aspek refleksi diri dalam dimensi kritis masih perlu diperkuat karena menunjukkan variasi respons yang lebih besar dibandingkan indikator lainnya. Melihat pentingnya kemampuan kreatif dan kritis dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, guru diharapkan terus menghadirkan metode pembelajaran yang inovatif dan mendorong siswa untuk lebih terbuka dalam mengevaluasi proses berpikir mereka. Partisipasi aktif siswa juga menjadi faktor penting untuk memaksimalkan perkembangan kedua kemampuan tersebut. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan yang bermanfaat bagi pengembangan praktik pembelajaran maupun bagi penelitian selanjutnya yang ingin memperdalam kajian terkait implementasi Kurikulum Merdeka dalam konteks yang lebih luas. Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1213 Ae 1222 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Konflik Kepentingan Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. Kontribusi Penulis K berperan dalam memahami ide penelitian yang diajukan sekaligus melakukan proses pengumpulan data. Sementara itu, tiga penulis lainnya. F dan S. yang terlibat secara aktif dalam pengembangan landasan teori, penyusunan metodologi, pengaturan serta analisis data, hingga pembahasan hasil penelitian serta penyusunan naskah akhir. Seluruh penulis menegaskan bahwa mereka telah membaca, menelaah, dan menyetujui versi final artikel ini sebelum dipublikasikan. Adapun pembagian kontribusi dalam kegiatan konseptualisasi, penulisan, dan perbaikan naskah adalah sebagai berikut: N. K sebesar 40%. F sebesar 30%, dan S. sebesar 30%. Pernyataan Ketersediaan Data Para penulis menegaskan bahwa tidak ada data baru yang dihasilkan maupun dianalisis dalam penelitian ini, sehingga proses berbagi data tidak dapat dilakukan. DAFTAR PUSTAKA