Tinjauan Historis Cerpen Pelajaran Sejarah Karya Seno Gumira Ajidarma (Historical Review of Seno Gumira Ajidarma's Short Story of Pelajaran Sejara. Padhil Hudaya Corresponding Author: padhilhudaya@unja. Universitas Jambi. Jambi. Indonesia Article history Received 10 March 2025 Revised 24 April 2025 Accepted 15 May 2025 Abstract This study aims to analyze the short story Pelajaran Sejarah by Seno Gumira Ajidarma as an alternative historical source that represents political violence in East Timor during the New Order. The method used is text analysis with a mimetic approach and new historicism, which examines literary works as a reflection of historical reality as well as narrative construction. The results show that the short story contains hidden historical facts through the use of symbolism and satire as social criticism of state violence that is not revealed in official documents. Literary works act as counter-memory, enriching historical perspectives with emotional and social dimensions, so that literature can be used as an important medium in the reconstruction of collective trauma and a more humanistic understanding of history. Keywords: historical short story. East Timor, political violence, mimetic, new historicism Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cerpen Pelajaran Sejarah karya Seno Gumira Ajidarma sebagai sumber sejarah alternatif yang merepresentasikan kekerasan politik di Timor Timur pada masa Orde Baru. Metode yang digunakan adalah analisis teks dengan pendekatan mimetik dan new historicism, yang menelaah karya sastra sebagai refleksi realitas historis sekaligus konstruksi naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen tersebut mengandung fakta sejarah tersembunyi melalui penggunaan simbolisme dan satire sebagai kritik sosial terhadap kekerasan negara yang tidak terungkap dalam dokumen resmi. Karya sastra berperan sebagai counter-memory, memperkaya perspektif historis dengan dimensi emosional dan sosial, sehingga sastra dapat dijadikan medium penting dalam rekonstruksi trauma kolektif dan pemahaman sejarah yang lebih humanistik. Kata Kunci: cerpen sejarah. Timor Timur, kekerasan politik, mimetik, new historicism https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. PENDAHULUAN Menurut Kuntowijoyo . , sejarah berbeda dengan sastra dalam hal cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan. Sastra lahir dari imajinasi yang kebenarannya begitu subyektif oleh pengarang. Ia memiliki kebebasan seluas-luasnya bersama dunia yang ia bangun. Sastra berakhir dengan pertanyaan, sedangkan sejarah harus selesai dan Namun hal tersebut masih memunculkan perdebatan. Hasil dari penulisan disebut dengan historiografi. Ia akan berusaha menemukan kebenaran historis pada setiap fakta yang bermula dari beberapa pertanyaan (Iryana. Suatu pendekatan baru dalam kajian sejarah, yang relevan dengan keterkaitan antara sastra dan sejarah dikenal juga dengan pendekatan new historisisme. Tidak hanya mengkaji sejarah mengenai peristiwa, namun juga memberi kesaksian tentang bagaimana situasi yang digambarkan serta pelukisan dari gambaran tersebut. New historisisme berprinsip bahwa karya seni teks seperti wacana sosial lain yang berinteraksi dengan budaya di dalamnya sehingga menemukan makna. Dalam hal tersebut, maka teks yang ditinjau yang sebenarnya merupakan dokumen sosial, bisa saja menjadi penting karena merespon situasi sejarah yang tertuang dalam karya sastra (Rodiah. , 2020. Saputra. , 2. Mulai dari abad ke-19, atas kemenangan ilmu positivistik pada wacana ilmu modern, akhirnya terjadi pemisahan antara sastra dari studi sejarah. Sekitar 1960-an dan 1970-an, atas pengaruh teoritisi sosial seperti Foucault. Habermas. Gadamer serta Darida, akhirnya kembali merangkul kembali sastra dengan studi sejarah ketika kritikan terhadap objektivitas dan kebenaran absolut positivisme dilancarkan. Dalam hal ini, implikasi dan interpretasi penulis dikupas atas dasar strukturnya, serta dilakukan pendekatan untuk menelaah dinamika serta norma-norma dalam interaksinya dengan dunia nyata. Karya sastra bisa membantu sejarawan dalam mengisi kekurangan fakta sosial dan fakta mental yang tidak terekam dalam sumber berbentuk dokumen. Dalam penyampaiannya, sastra juga memaparkan secara lebih jelas dan rinci sehingga bisa menjadi lebih efektif sebagai sumber (Wicaksono. , 2014. Aulia. R et al. , 2. Penafsiran tidak hanya terbatas pada golongan sastrawan. Namun itu juga berlaku untuk yang lain, termasuk sejarawan. Hal itu menentukan suatu ruang bagi sejarah. Keberlakuan itu juga ihwal historiografi. Tempat atau ruang yang dimaksud adalah tentang zeitgeist yang mendekap dalam masa tertentu yang tidak dapat dinilai dari sudut pandang masa kini. Namun terlebih dahulu memahami karya tersebut sampai ke tingkat penafsiran. Jadi, sejarawan harus menafsirkan masa lampau (Sidik & Sulistyana, 2021. Prayogi, 2. Dalam karya sastra, sudah menjadi hal biasa jika dalam pemaparannya secara mendetail tentang apa-apa saja yang terjadi. Atau paling tidak, penarasian mengenai suatu peristiwa dibiaskan melalui bentuk yang simbolis. Dan yang begitu pula terkadang karya sastra bisa lebih efektif dibandingkan dokumen resmi dalam penelusuran informasi. Yang menjadi halangan adalah bagaimana karya sastra yang dijadikan sebagai sumber informasi tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Laporan sejarah yang terdiri dari serangkaian pernyataan- pernyataan yang ada didalam karya sastra akan ditarik kesimpulannya dengan langkah interpretasi ,dan ditetapkan apakah yang didapatkan tersebut benar-benar fakta atau Maka, sejarah sebagai pengetahuan yang ilmiah bisa dipertanggungjawabkan secara tuntutan keilmiahan, maupun sebagai kebutuhan masyarakat (Setianto, 2012. Watloly, 2. Hal ini bisa dikategorikan sebagai langkah mimesis-historis. Telaah karya sastra dalam perspektif mimesis-historis sepertinya sangat sedikit Jika ditinjau lebih lanjut dalam kajian-kajian ilmiah, yang secara gamblang menyatakaan bahwa penelitian yang menggunakan pendekatan mimesis-historis belum ditemukan sama sekali. Meskipun di beberapa karya ilmiah, memang ditemukan ada beberapa karya penelitian sejarah yang menggunakan karya sastra sebagai sumber. Hal ini bisa dilihat pada penelitian Jurahman . dengan judul Karya Sastra sebagai Sumber Penulisan Sejarah. Dalam kajiannya, ia melihat tentang bagaimana para sastrawan menggunakan setting karya hingga isi dari karya itu sendiri yang diambil dari dokumen sejarah, baik itu dalam penamaan tokoh, peristiwa, tempat serta waktu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selanjutnya adalah penelitian Hudaya . , yang JLA Vol. No. Mei 2025, p. berjudul Tinjauan Historiografi tentang Kekerasan di Timor Timur . dalam Sastra Indonesia: Saksi Mata. Dalam tulisannya, ia menganalisis tentang buku kumpulan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Saksi Mata. Dalam 16 cerpen tersebut, dilihat tentang apa saja kekerasan yang dinarasikan di dalam cerpen, dan kesaksian masyarakat yang membenarkan peristiwa tersebut. Terakhir adalah buku Padhil Hudaya . , yang berjudul Menilik Sastra. Merangkai Masa Lalu: Meninjau Karya Sastra sebagai Sumber Sejarah. Buku ini menjelaskan bahwa karya sastra dapat merefleksikan kondisi sosial, budaya, dan politik pada zamannya. Melalui narasi dan karakter, sastra mampu menyampaikan realitas sejarah secara mendalam. menganalisis berbagai karya sastra untuk menunjukkan bagaimana elemen-elemen dalam sastra dapat digunakan sebagai data sejarah. Ini mencakup studi tentang latar, tema, dan representasi tokoh dalam konteks historis. Buku ini mengeksplorasi hubungan timbal balik antara sastra dan sejarah, menunjukkan bagaimana keduanya saling mempengaruhi dan membentuk pemahaman kita tentang masa lalu. Ia mengadopsi pendekatan interdisipliner, menggabungkan teori sastra dan historiografi untuk memberikan perspektif yang komprehensif dalam menafsirkan karya sastra sebagai dokumen sejarah. Tulisan ini secara spesifik meninjau unsur sejarah dalam cerpen Pelajaran Sejarah karya Seno Gumira Ajidarma melalui pendekatan mimetik yang dipadukan dengan kerangka new historicism. Kebaruan pendekatan ini terletak pada penyandingan dimensi estetik dan historis sebagai alat untuk mengungkap kekerasan negara yang tersembunyi dalam fiksi, khususnya dalam konteks narasi pasca-Orde Baru. Berbeda dengan kajian sebelumnya seperti Hudaya . yang menyoroti tema kekerasan secara umum dalam kumpulan cerpen Saksi Mata, atau Turama . yang memfokuskan pada kuasa wacana dalam cerpen Seno Gumira, kajian ini memusatkan perhatian pada cara narasi fiksi menggantikan kekosongan dokumentasi resmi melalui representasi pengalaman traumatis dan simbolisme Tujuan utama tulisan ini adalah untuk menunjukkan bahwa karya sastra dapat berfungsi sebagai sumber sejarah alternatif yang sahih, khususnya dalam merekam dimensi emosional dan sosial dari peristiwa kekerasan yang tak terekam dalam dokumen resmi. Secara khusus, artikel ini menganalisis aspek simbolik, tema kekerasan negara, struktur naratif, serta karakterisasi tokoh utama (Guru Alfons. sebagai representasi korban sekaligus saksi sejarah. Dengan demikian, artikel ini tidak hanya memperluas pemahaman tentang fungsi sosial sastra, tetapi juga menawarkan perspektif baru dalam pembacaan historiografis atas karya fiksi Indonesia kontemporer. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan mimetik-historis, yaitu pendekatan kualitatif berbasis analisis teks yang memadukan teori mimesis dengan kajian sejarah. Pada teori mimesis ini, dilakukan komparasi dan kritik demi menelusuri fakta dalam karya sastra yang penulis teliti (Hartono, 2017. Hakim, 2. Pendekatan ini dipilih karena mampu menelusuri keterkaitan antara representasi dalam karya sastra dengan realitas sosial-historis yang Dalam konteks ini, cerpen Pelajaran Sejarah karya Seno Gumira Ajidarma dianalisis sebagai teks sastra yang merefleksikan peristiwa kekerasan negara di Timor Timur pada masa Orde Baru. Objek dalam penelitian ini adalah cerpen Pelajaran Sejarah, yang dipilih karena secara eksplisit mengangkat narasi kekerasan dan trauma kolektif melalui pendekatan simbolik dan naratif khas Seno Gumira. Data utama berupa teks cerpen dianalisis secara kualitatif, sedangkan data pendukung dikumpulkan melalui studi pustaka terhadap dokumen sejarah, laporan pelanggaran HAM . eperti arsip CAVR), artikel surat kabar, dan hasil penelitian terdahulu tentang kekerasan negara dalam sastra Indonesia. Analisis dilakukan dengan metode analisis isi (Ahmad. , 2018. Martono. , 2. yaitu dengan menelaah tema, simbol, struktur narasi, serta karakterisasi dalam cerpen, lalu menyandingkannya dengan fakta historis yang didapat dari sumber pendukung. Peneliti menelusuri bagaimana unsur-unsur fiksi tersebut merepresentasikan pengalaman nyata masyarakat Timor Timur dalam konteks represi dan kekerasan militer (Bungin, 2. JLA Vol. No. Mei 2025, p. Pendekatan mimetik memungkinkan keterbacaan ulang karya sastra sebagai bentuk dokumentasi alternatif dari sejarah yang tidak terekam dalam arsip resmi. Untuk menjamin keabsahan data, dilakukan kritik sumber terhadap dokumen sejarah yang digunakan, serta triangulasi dokumen dengan membandingkan informasi dari teks sastra, arsip sejarah, dan kajian akademik lainnya (Creswell, 2013. Yin, 2. Dengan demikian, pembacaan mimetikhistoris ini tidak hanya menggali aspek estetika sastra, tetapi juga berupaya merekonstruksi realitas sejarah yang tersembunyi dalam narasi fiktif. HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Historis: Timor Timur di Bawah Pemerintahan Republik Indonesia Portugis mengunjungi pulau Timor sejak tahun 1515 dan secara resmi menjadikan pulau Timor sebagai daerah jajahan pada tahun 1681 (Nope. , 2. Sejak saat itu, banyak pembatasan yang dilakukan oleh Pemerintah Portugis terhadap Timor, terutama di bidang Sampai akhirnya terjadi pemberontakan internal di negara intuk Portugis pada tanggal 25 April 1974. Kejadian itu bernama Revolusi Bunga (Revolusi Anyeli. (Racitan. , 2. Revolusi tersebut dipelopori oleh perwira muda yang tergabung dalam Movimento das Forcas Armadas (MFA) atau Gerakan Angkatan Bersenjata (Wijayatmi, 2. Portugis akhirnya tidak lagi sempat memperhatikan wilayah jajahan mereka karena peristiwa tersebut, sampai akhirnya daerah koloni Portugis mengambil kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajahan sebelum dekolonisasi dilaksanakan kembali (Soekanto, 1. Dr. Lemos Pires (Gubernur Portugis untuk Timor Portugi. , membentuk komisi Penentuan Nasib Sendiri Timor Portugis pada tanggal 13 Mei 1974. Padahal dalam naskah konstitusi yang disiarkan di Lisabon pada tanggal 12 Juli 1975. Timor Portugis tetap menjadi daerah jajahan negara Portugal sampai bulan Oktober 1978 (Antara, 1. Namun pemerintah Portugal tetap mendukung terhadap pembentukan partai guna mempersiapkan rakyat untuk ikut serta dalam penentuan nasib Timor Portugis. Pada tanggal 28 November 1975. Timor Portugis memproklamirkan kemerdekaan. Namun Indonesia berupaya untuk melakukan kerjasama dengan UDT (Uniao Democratica Tomorens. Apodeti (Assiciacao Popular Democratia de Timo. Trablista (Partai Buru. dan KOTA (Klibur Oan Timor Aswai. yang mengupayakan agar Timor Timor berintegrasi dengan Indonesia. Indonesia memberikan intervensi terhadap wilayah dengan melancarkan operasi (Adrian. , 2. Akhirnya pada tanggal 17 Juli 1976. Timor Portugis akhirnya resmi menjadi provinsi ke-27 Indonesia dengan nama Timor Timur (Sila. , & Yustinus, 2. Pasca bergabung, pemerintah mulai memperhatikan dan membangun kembali infrastuktur yang rusak akibat proses dekolonisasi. Pemerintah juga memetakan sumber daya alam yang tersimpan di Timor Timur untuk dieksplorasi (Suartika, 2. Sumber daya manusia juga ikut dibangun. Seperti pada bidang pendidikan, pemerintah Indonesia mengirim 1500 guru SD. SMP dan SMA di Timor Timur. Selain pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah Indonesia, hal lain juga terjadi seperti munculnya beberapa kontak fisik yang berujung kematian dan pembantaian tidak diketahui masyarakat umum di luar Timor Timur itu sendiri. Masa Orde Baru, tidak ada keberanian yang lebih untuk memaparkan pemberitaan yang sebenarnya. Kesan ditutup-tutupi atau penggunaan konsep-konsep yang lebih halus untuk mengelabui masyarakat adalah hal biasa dilakukan agar ada pembenaran tentang apa yang pemerintah laksanakan, termasuk sebuah kejadian pada Insiden Dili, yaitu sebuah peristiwa penembakan terhadap warga sipil di Makam Santa Cruz, yang terjadi pada 12 November 1991 (Adam, 2. Latar Belakang Penulis Cerpen Pelajaran Sejarah Seno Gumira Ajidarma (SGA) lahir di Boston. Amerika Serikat, pada tanggal 19 Juni tahun 1958. Ia merupakan penulis dari generasi barusastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam. Wisanggeni Sang Buronan. Sepotong Senja untuk Pacarku. Biola tak Berdawai. Kitab Omong Kosong. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja. SGA terkenal karena membuat beberapa tulisan mengenai situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya tentang Timor Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi JLA Vol. No. Mei 2025, p. Mata . umpulan cerpe. Jazz. Parfum, dan Insiden . , dan Ketika Jurnalisme Dibungkam. Sastra Harus Bicara . umpulan esa. Pada 2014, dia meluncurkan blog bernama PanaJournal- w. com tentang human interest stories bersama sejumlah wartawan dan profesional di bidang komunikasi. SGA adalah salah satu pengarang yang mengangkat peristiwa faktual masa Orde Baru ke dalam karyanya. Sejak tahun 1990, ia menjadi generasi muda dalam dunia penulisan di Indonesia. Secara konsisten, pengarang yang juga seorang wartawan ini mengungkapkan peristiwa-peristiwa sosial politik ke dalam karya-karyanya seperti peristiwa pembunuhan misterius terhadap para gali atau Augabungan anak-anak liarAy pada tahun 1980-an, insiden di Dili pada 1991, pembunuhan Ala Ninja 1997, peristiwa Mei 1998, ataupun peristiwa peperangan di Aceh yang semuanya bernuansakan kekerasan. Hal- hal tersebut, dalam situasi pemerintahan Orde Baru berkuasa, tidak akan bisa diberitakan sebagai karya jurnalistik sehingga SGA memilih mempergunakan wahana sastra untuk mengungkapkan peristiwa- peristiwa tersebut (Putra. , 2. Ideologi yang dianut oleh SGA adalah humanisme, karena yang ditampilkan adalah penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh pihak otoritas untuk mempertahankan kedudukannya, tanpa ada keadilan dalam setiap kejahatan yang terjadi. Semuanya terlihat dari tulisan yang dikarang dalam berbagai karya meski banyak pengkaburan yang berusaha Dalam karangannya tersebut seolah-olah ada pesan pembelaan terhadap kelompok yang ditindas. Ia juga merupakan seorang penulis satire yang halus karena tidak pernah apa yang dikritiknya itu dipaparkan secara jelas dan mendetail. Latar belakang sebagai jurnalis yang dibungkam selama Orde Baru menimbulkan keinginan untuk membuat gambaran bagaimana keadaan masa itu melalui karya sastra. Konten yang ditampilkan dalam penulisan karya sastra yang dilakukan oleh SGA berisi tentang sindiran dan satire yang cukup tegas dipaparkan. Namun semuanya mengatasnamakan sebagai karya sastra belaka dan dianggap sebagai proses imajinasi sang penulis dalam membuat cerita. Pandangan politik yang digunakan berdasarkan tafsiran penulis adalah jelas bahwa SGA merupakan pihak oposisi dalam masa pemerintahan beberapa laporan yang dimuat dalam majalah Jakarta Jakarta secara gamblang dan terhitung sangat berani pada masa itu memberikan gambaran lebih jelas akan tindakan dan sikap yang diambil olehnya. Analisis Cerpen Pelajaran Sejarah dan Unsur Fakta Sejarah di Dalamnya Cerpen Pelajaran Sejarah karya Seno Gumira Ajidarma merupakan representasi fiksi yang sarat muatan historis dan politis, menggambarkan kekerasan negara melalui narasi seorang guru yang mengajar sejarah kepada murid-muridnya di tengah trauma kolektif. Cerpen ini dianalisis melalui pendekatan mimetik-historis, yang melihat karya sastra sebagai cerminan atau representasi realitas, dan melalui lensa new historicism, yang menempatkan teks sebagai bagian dari wacana sosial dan politik zamannya (Wajiran, 2. Kisah dibuka dengan latar tempat berupa kompleks pemakaman, yang memiliki konotasi kelam dan simbolis. Tokoh utama. Guru Alfonso, mengalami kebingungan eksistensial ketika harus mengajarkan peristiwa sejarah penuh kekerasan kepada murid-murid yang masih anakanak. Dalam hal ini. Seno tidak hanya menyampaikan ulang fakta sejarah seperti insiden Santa Cruz tahun 1991, melainkan membingkainya sebagai pengalaman batin yang emosional dan Peristiwa tersebut direpresentasikan melalui ingatan Alfonso yang penuh trauma: AuGuru Alfonso belum lupa peristiwa itu. Bagaimana bisa lupa? Saat penembakan, mereka dibagi dalam dua barisan. Barisan pertama di depan dan barisan kedua di Komandannya berdiri di depan dan menembak sekali ke atas, sambil berteriak AuDepan tidur, belakang tembak!Ay setelah yang belakang menembak, yang depan merangsek dan menusukkan sangkurnya ke arah semua orang. Guru Alfonso belum lupa, ia hanya bisa berlari-lari tidak tentu arah karena orang-orang berjatuhan begitu saja, bergelimpangan. Ay (Ajidarma. , 2. JLA Vol. No. Mei 2025, p. Narasi tersebut merepresentasikan kekerasan struktural negara terhadap rakyat, yang dalam konteks new historicism dapat dipahami sebagai wacana kekuasaan yang berusaha dikritik melalui teks sastra. Seno mengonstruksi ulang peristiwa sejarah bukan sebagai kronologi formal, tetapi sebagai trauma kolektif yang hidup dalam ingatan individu. Dilema moral Guru Alfonso juga mencerminkan beban epistemologis dalam mengajarkan kebenaran sejarah. Ia tidak sekadar menyampaikan data, melainkan bergulat dengan rasa bersalah, marah, dan keputusasaan. Hal ini tampak dalam bagian berikut: AuKarena begitulah, memang tidak terlalu mudah mengajarkan suatu pengertian tentang makna peluru yang beterbangan itu. Peluru yang beterbangan berhamburan, menyambar-nyambar tubuh dan udara selama tujuh menit, kemudian sepuluh menit, kemudian sunyi, dan kemudian terdengar suara erangan. Guru Alfonso sudah lama memikirkannya, bagaimana caranya menceritakan semua itu tanpa harus menjadi terlalu mengerikan. Tanpa cerita darah yang memerahkan aspal, tanpa cerita tentang kepalanya sendiri yang ditendang, bajunya dicopot untuk mengikat tangan, dan kepalanya dipukul dengan popor senjata sampai berdarah, sementara teman yang disampingnya dipukul dengan kayu yang ujungnya berpaku. Guru Alfonso sudah lama mencari jalan, bagaimana caranya mengajarkan sejarah macam itu tanpa rasa Ay (Ajidarma. G, 2. Kutipan ini mengandung intensitas etis yang kuat. Guru Alfonso berdiri sebagai saksi sejarah, namun juga sebagai perantara narasi sejarah kepada generasi muda. Pendekatan mimetik dalam sastra menempatkan Guru Alfonso sebagai tokoh fiktif yang menyalurkan pengalaman historis secara estetis dan simbolis, yang tidak dapat diungkap oleh dokumen sejarah formal. Di sini, sastra bekerja sebagai jembatan antara arsip dan afek antara data dan Kekuatan cerpen ini terletak pada penggunaan simbol dan pertanyaan retoris yang menyiratkan kritik terhadap penghapusan sejarah dalam kesadaran publik: AuKanak-kanak, apakah yang mesti diketahui kanak-kanak? Mestikah mereka tahu mengapa kakak-kakak mereka hilang tak tentu rimbanya, keluarga tak lengkap, dan ayah mereka dikuburkan entah di mana? Mestikah mereka tahu mengapa malam begitu sunyi, patroli tentara berkeliaran, dan mata ibu mereka sering ketakutan?Ay (Ajidarma. , 2. Pertanyaan tersebut berfungsi sebagai metafora atas generasi yang tumbuh dalam kehilangan dan ketidaktahuan yang disengaja. Dalam perspektif new historicism, pertanyaan ini menjadi bentuk resistensi terhadap narasi dominan negara yang menutup-nutupi Ini menunjukkan bagaimana karya sastra dapat menjadi Audokumen sosialAy yang mengungkap sisi-sisi sejarah yang tak terdokumentasi secara resmi. Jika dibandingkan dengan karya lain seperti Saksi Mata . Jazz. Parfum dan Insiden . , maupun karya Pramoedya Ananta Toer seperti Bumi Manusia . Seno Gumira konsisten menghadirkan pengalaman kekerasan politik melalui bentuk sastra yang tidak langsung, tetapi menyimpan kritik tajam terhadap negara. Namun, berbeda dari Pramoedya yang menggunakan narasi sejarah besar . acro-histor. Pelajaran Sejarah justru menggunakan sudut pandang mikro . icro-histor. , yakni trauma personal dan psikologis dari seorang guru. Ini menjadikan karya ini lebih halus namun emosional dalam menyampaikan makna historis. Dibandingkan dengan penelitian Fadhil Hudaya . yang menganalisis Saksi Mata sebagai kumpulan narasi kekerasan, kajian ini menawarkan keunikan dalam fokusnya pada satu cerpen dan penggunaan pendekatan mimetik yang berpadu dengan kerangka new Dengan demikian, penelitian ini memberikan penekanan pada bagaimana fiksi menyampaikan kebenaran emosional dan simbolis yang tidak ditemukan dalam pendekatan dokumenter semata. JLA Vol. No. Mei 2025, p. Temuan dalam analisis ini menunjukkan bahwa karya sastra dapat memainkan peran penting sebagai arsip alternatif dalam kajian sejarah. Sastra mampu menghadirkan dimensi emosional, moral, dan afektif dari peristiwa traumatis yang seringkali terpinggirkan dalam catatan resmi negara. Pendekatan mimetik dan new historicism membuka ruang bagi interpretasi sejarah yang lebih humanistik dan reflektif, sehingga memperluas batas-batas historiografi konvensional. Penelitian ini juga membuka peluang bagi pengembangan kajian interdisipliner antara sastra dan sejarah, terutama dalam konteks negara-negara pascakolonial yang memiliki jejak kekerasan negara dan pelanggaran HAM. Melalui pendekatan semacam ini, literatur dapat menjadi medium pemulihan ingatan kolektif, sekaligus alat perlawanan kultural terhadap narasi resmi yang hegemonik. SIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa karya sastra, khususnya cerpen Pelajaran Sejarah karya Seno Gumira Ajidarma, dapat berfungsi sebagai sumber sejarah alternatif yang mengungkap dimensi emosional dan sosial dari peristiwa traumatis yang tidak terekam dalam dokumen resmi. Dengan pendekatan mimetik dan new historicism, cerpen ini menjadi counter-memory yang menantang narasi sejarah hegemonik terkait kekerasan di Timor Timur pada masa Orde Baru. Temuan ini memperluas fungsi pendekatan mimetik, bukan hanya sebagai analisis estetika, tetapi juga sebagai medium rekonstruksi ingatan kolektif dan trauma Secara praktis, hasil ini menunjukkan pentingnya pemanfaatan karya sastra dalam pendidikan sejarah dan pelestarian memori sosial, serta mendorong pengembangan riset interdisipliner antara sastra dan historiografi guna memahami sejarah secara lebih holistik dan humanistik. DAFTAR PUSTAKA