Makna Kesejarahan sebagai Penggerak Perkembangan Bangsa Sunarto NDARU MURSITO* Apabila kita menyoroti sejenak perjalanan tahun 1983, akan kita dapati dua kenangan yang bisa mengesankan prestasi sejarah nasional kita yang Hari kenangan bersejarah tersebut adalah tanggal 23 Pebruari 1983, saat diresmikan selesainya pemugaran candi Borobudur, dan tanggal 20 Mei 1983 sebagai peringatan 75 tahun . iga perempat aba. semangat Kebangkitan Nasional. Kedua peristiwa ini bila direnungkan sesungguhnya merupakan momentum yang tepat untuk menggugah perhatian nasional guna meningA katkan AoAosadar kesejarahanAy di antara bangsa kita yang sedang giat memA bangun ini. Dari hikmah arti kesejarahan nasional itu akan dapat dipancarkan inspiA rasi, pelajaran, atau dorongan untuk memacu dinamika bangsa dalam perA kembangan lebih lanjut, terutama demi memupuk daya juang dalam pemA Pada khususnya dari wawasan kesejarahan bangsa ini bisa disadarkan dan lebih diperkaya dalam hal identitas, kepribadian, serta inA tegritas bangsa menuju perwujudan cita-cita nasionalnya. Sebab apabila bangsa kita tidak pernah mendalami makna kesejarahan nasionalnya, niscaya disia-siakanlah berbagai pengalaman dan kekayaan lahir batin yang pernah mampu disandangnya. Oleh karena itu, kita perlu menyelami kekayaan kesejarahan bangsa kita, pertama dengan menelusuri prestasi budaya dan ideologi sejarah nasional, kedua secara filsafati memahami arti atau makna kesejarahannya, dan ketiga membahas perihal tantangan nasional untuk melanjutkan prestasi-prestasi bangsa yang pernah dicapai. AoStaf CSIS. ANALISA 1984 - 5 PRESTASI BUDAYA DAN IDEOLOGI SEJARAH NASIONAL Guna menyelami berbagai pengalaman dan kekayaan lahir batin yang mampu diraih oleh sejarah bangsa kita, kiranya cukup memadai melalui ulasan mengenai arti karya candi Borobudur dan gelora semangat KebangA kitan Nasional. Dua momen kesejarahan ini sebenarnya dapat mencerminkan prestasi budaya dan ideologi sejarah nasional kita, yang dapat mewariskan kesinambungannya di dalam arah dan dinamika pembangunan bangsa kita dewasa ini. Khususnya ideologi di sini bukanlah seperti yang diartikan Kari Marx yaitu sistem pemikiran yang bertujuan untuk pembenaran keadaan keA masyarakatan ataupun sistem pemikiran yang bersifat dogmatik, tetapi diA artikan pemikiran sistematik sebagai operasionalisasi efektif dari cita-cita naA Boleh dikatakan prestasi budaya Masyarakat Nusantara mencapai suatu puncak atau kristalisasi perkembangannya dengan penciptaan candi BorobuA dur pada abad ke-8. Hingga kini candi tersebut merupakan peninggalan sejaA rah yang tak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia. Tidak disangsikan lagi bahwa dalam wujudnya yang utuh candi Borobudur adalah hasil karya yang indah, megah, gemilang, agung, penuh pesona rohani, menakjubkan, dan Hal ini jelas menunjukkan bahwa bangsa yang membangunnya telah mencapai tingkat peradaban yang tinggi, teratur, dan mandiri baik dalam bidang kemasyarakatan, perekonomian, hukurn, kesenian, maupun dalam bidang Ketuhanan. Dunia internasional pun mengagumi candi Borobudur dan bahkan menyaA takannya sebagai salah satu keajaiban dunia, yang bukan hanya milik bangsa Indonesia saja melainkan juga merupakan warisan sejarah untuk umat manuA Dengan demikian candi Borobudur bukan hanya kebanggaan masyarakat Jawa Tengah, umat beragama Buddha, dan bangsa Indonesia, tetapi juga suatu permata budaya milik semua bangsa. Betapa tinggi nilai candi BoroA budur kita itu dapat dilihat dari kenyataan bahwa ia disejajarkan dengan keA enam bangunan keajaiban dunia lainnya yaitu piramida Mesir, taman berA gantung Babilonia, tembok raksasa Cina, musolium Taj Mahal di India, meA nara Pisa di Italia, dan menara Eiffel di Perancis. Ternyata candi Borobudur itu mencerminkan banyak prestasi ulung dari nenek moyang kita, karena memang mengungkapkan berbagai prestasinya yang lain. Di antaranya ialah budaya bahari dan jiwa niaga berupa pengetaA huan serta ketrampilan menjelajahi samudra raya dan berdagang dengan negeri-negeri yang jauh, seperti ditunjukkan dalam salah satu relief candi Borobudur yang menggambarkan kapal niaga mereka. Demikian juga tertib hukum yang penuh disiplin sudah dikenal pada jaman Ratu Syima di kerajaan SEJARAH & PENDIDIKAN Mataram Hindu. Hanya tertib hukum dan keadaan sosial ekonomi yang tangA guhlah memungkinkan nenek moyang kita membangun Borobudur dan candicandi megah serta indah lainnya. Selain itu adalah prestasi besar dan orisinal pula bermacam-macam kesenian kreasi tinggi yang dari saat itu berkembang hingga sekarang, seperti seni pahat, seni ukir, seni batik, seni tari, seni musik instrumental maupun vokal, atau seni sastra. Secara khusus mengenai seni pewayangan, kebudayaan daerah yang kini sedang dinasionalisasikan dengan pemakaian bahasa Indonesia, terdapat penghargaan tinggi dari para ahli luar negeri, antara lain pengkaji seni budaya dari Uni Soviet yaitu I. Solomonik. 1 Di antara jenis seni pemanggungan traA disional dari India. Thailand. Kampuchea. Cina, dan Iran dinilainya bahwa ternyata wayang kulit . ayang purw. merupakan pertunjukan yang telah berkembang maju sekali dalam hal teknik dan pemanggungan. Dikatakannya pertunjukan wayang kulit tak ada bandingannya baik menurut arti pentingnya dalam fungsi sosial maupun menurut volume kedalaman seni yang bersegi banyak: drama, kesusastraan, lukis, aneka gaya bicara serta gerak imitasi, dan warna-warni dunia musik yang menakjubkan. Di dalamnya dicerminkan keA hidupan masyarakat, adat-istiadat, sistem filsafat, pendidikan, dan hiburan yang mampu menghantarkan segi-segi pemikiran paling halus dan mengunA dang simpati estetika yang mengasyikkan para penonton. Di Uni Soviet ulasan Solomonik ini disambut hangat oleh para pembacanya, sehingga mereka mengetahui seni beraneka ragam di Nusantara ini dan karenanya sangat berA simpati pada rakyatnya yang berbakat. Walaupun cerita wayang bersumberkan buku sastra Mahabarata dan Ramayana dari India, terbukti bahwa cerita pewayangan Indonesia yang deA mikian mengakar dalam pemahaman rakyat ini mempunyai karakter dan keA jiwaan yang berbeda dengan sastra Mahabarata dan Ramayana asli India. Di Indonesia cerita aslinya telah mengalami banyak perubahan dan penyeA 2 Kemampuan kreatif orang Indonesia di bidang ini pernah dipuji oleh pujangga India. Dr. Rabindra Nath Tagore yang berkunjung ke Jawa pada tahun 1937, bahwa walaupun cerita wayang Mahabarata dan Ramayana berA asal dari India, namun kenyataannya orang Indonesia mampu mengembangA kannya secara lebih mengagumkan. 'S. Zakharov. AoAoDunia Wayang yang MengasyikkanAy dalam harian Berita Buana, 6 Agustus 2Drs. Soetrisno PH. Falsafah Hidup Pancasila Sebagaimana Tercermin dalam Falsafah Hidup Orang Jawa. Penerbit Pandawa Yogyakarta, 1977, hal. 3Tajuk harian Berita Buana, 16 Pebruari 1984. ANALISA 1984 -5 Mengenai budaya maritim dan jiwa niaga diketahui dari bukti-bukti seA jarah abad ke-15 dan ke-16 yang menunjukkan bahwa masyarakat Jawa justiu lebih menyerupai masyarakat kota perdagangan daripada masyarakat pedeA saan pertanian. Lebih banyak penduduk tinggal di kota-kota daripada di peA Kota-kota seperti Tuban. Demak. Banten. Jakarta. Gresik. Surabaya menurut laporan peninjau masa itu besarnya sudah mirip kota-kota di Eropa pada jamannya. Kota-kota ini tidak tergantung pada penghasilan pertanian, melainkan hidup dari perdagangan dan pelayaran. Kapal-kapal dari Jawa telah berdagang sampai mengarungi lautan hingga di India. Arab. Timur Tengah, dan daratan Cina. Sementara itu semangat Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 dapat dikataA kan telah mampu membangunkan kesadaran nasional para perintis gerakan kebangsaan di Nusantara ini. Dari waktu ke waktu berkembang dan meluasA nya nasionalisme mereka memancarkan tindakan patriotisme yang semakin menggelorakan perjuangan lahir batin demi cita-cita mendirikan negara baru dan membangun bangsa baru. Padahal di masa itu status negeri mereka adalah masyarakat Nusantara yang telah merosot ke tingkat suatu bangsa yang cerai-berai, terpecah-pecah, sangat terbelakang, dan miskin dalam beA lenggu penjajahan Belanda selama beberapa abad. Meringkuk dalam jaman penjajahan bangsa asing itu martabat bangsa Nusantara sungguh-sungguh dinistakan: ditindas dan diperbudak yaitu dieksploatasi sumber daya alam maupun manusianya untuk peningkatan keA makmuran dan peradaban bangsa penjajah. Dari masa itu cukup dikenal adaA nya sebutan yang mengatakan bahwa masyarakat Nusantara hanyalah AoAobangsa kuli. Ay Jika keadaannya terus-menerus demikian, sebagai akibatnya niscaya masyarakat Nusantara ini senantiasa tergencet kreativitas serta perA tumbuhan budayanya sehingga tetap menjadi bangsa yang sangat terbelakang, miskin, dan terhinakan. Namun semenjak penampilan pergerakan Budi Utomo 20 Mei 1908, seA mangat kebangsaan di Nusantara terus-menerus berkembang. Cita-cita serta gerakan Budi Utomo menyebarluaskan dan mengembangkan pendidikan bangsa sejalan dengan kegiatan R. Kartini yang menekankan pendidikan kaum wanita untuk memajukan peradaban bangsa. Setelah makin banyak warga Nusantara mengecap pendidikan modern maka semakin meluas pengeA tahuan sosial mereka, menjadi semakin kritis dan kreatif daya pikir mereka. AoDr. Onghokham dalam harian Kompas, 7 April 1981. 2Uraian lebih lengkap mengenai semangat Kebangkitan Nasional dapat dibaca: Sunarto Ndaru Mursito. AoAoDari Kebangkitan Nasional Menuju Pembangunan Kesejahteraan UmumAy dalam harian Suara Karya, 20 Mei 1983. SEJARAH & PENDIDIKAN Dari sini mereka berangsur-angsur meyakini perlunya upaya politik dan sosial untuk menggalang kesadaran nasional bangsa terjajah, sekaligus untuk mengobarkan semangat kemajuan bumiputera dalam berbagai bidang kehiA Sebagai hasil nyata di antaranya ialah berkembangnya partai-partai politik, perkumpulan-perkumpulan pemuda dan wanita, lembaga-lembaga pendidikan, serikat-serikat buruh atau pedagang. Kiranya tidaklah berlebihan untuk mengagumi, betapa dalam hal ini maA syarakat Nusantara telah menunjukkan kemampuan besarnya. Kegiatan sosial dan politik yang dikembangkan belum sampai lima dasawarsa, ternyata sudah mampu menghasilkan prestasi nasional yang gemilang. Nusantara yang dalam dasawarsa pertama abad ke-20 masih tercerai-berai dan sangat terbelakang, telah dikobarkan kesadaran dan kebangkitan nasional yang bergelora seA hingga dalam dasawarsa ke-5 abad yang sama berhasil menjadi pelopor terA andalkan bagi negara-negara berkembang lain, bahkan bagi negara berkemA bang yang jauh lebih maju. Pergerakan nasional untuk kemajuan politik, sosial, dan ekonomi yang dikembangkan semenjak Angkatan 1908 terus-menerus meningkat dan menA capai momentum baru pada Angkatan 1928 yang dalam Sumpah Pemuda mengintegrasikan seluruh perjuangan bangsa dengan membentuk identitas bangsa Indonesia menuju cita-cita bersama. Dari sini semakin berkembang mantap kesadaran nasional untuk mendirikan negara baru Indonesia. Melalui pengalaman dan wawasan semasa pergerakan kemerdekaan berhasil dirumusA kan perangkat falsafah politik Pancasila dan konstitusi UUD 1945 untuk membangun bangsa baru Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur jasmaniah rohaniah. Pendirian negara baru dan pembangunan bangsa baru Indonesia itu diA maklumkan kepada dunia internasional melalui Proklamasi Kemerdekaan InA donesia pada 17 Agustus . Semuanya ini jelas merupakan hasil perA juangan yang berat dan tak kenal menyerah. Kemerdekaan nasional yang lama diimpi-impikan ini harus direbut dan dibela dengan kekerasan dari bangsa penjajah dengan mempertaruhkan segala-galanya sampai tetes darah Angkatan 1945 tampil menjadi tulang punggung perjuangan merebut serta membela kemerdekaan bangsa untuk menegakkan keseluruhan hasil perA gerakan nasional sejauh ini. Kesemuanya itu menunjukkan betapa semangat kebangkitan nasional yang dirintis pada awal abad ini telah berkobar dan menggelora menjadi naA sionalisme maupun patriotisme yang sejati serta ampuh. Cinta bangsa dan tanah air terwujud dalam semangat dan tindakan nyata, menyumbangkan darma bakti demi mendirikan serta menegakkan negara dan bangsa yang ANALISA 1984 -5 Betapa tingginya nilai kemerdekaan itu terutama dirasakan oleh generasi lebih tua yang mengalami sendiri bagaimana hina dan sengsaranya menjadi bangsa diperbudak oleh bangsa penjajah. Terutama memang dirasaA kan betapa terkekangnya prospek kehidupan. Maka kaum terpelajar kita pada waktu itu umumnya berpendirian bahwa lebih baik menderita dan bahkan mati memperjuangkan kemerdekaan bangsa daripada hidup makmur mengabdi bangsa penjajah yang ingin melanggengA kan pemerasannya. Pendirian yang membara ini juga meluas ke lingkungan masyarakat yang merasa nasibnya diperjuangkan. Dengan demikian berkoA barlah penghayatan kolektif cita-cita menjadi bangsa merdeka yang bebas unA tuk membangun masyarakat adil dan sejahtera. Secara demikian bangsa InA donesia berhasil memperjuangkan dan membela Proklamasi Kemerdekaan InA donesia, kendatipun semua ini menuntut pengorbanan harta benda, penderiA taan, dan bahkan nyawa. KESEJARAHAN NASIONAL: KESADARAN AKAN DINAMIKA PERA KEMBANGAN BANGSA Dari uraian di atas jelaslah bahwa sebagaimana adanya candi Borobudur memang merupakan harta sejarah dari masyarakat Indonesia kuno. Begitu pula pergerakan Budi Utomo merupakan kegiatan masyarakat kita di masa Namun demikian, warisan ataupun pengalaman bangsa kita itu tidak boA leh dianggap dan dijadikan mutiara masa lampau belaka, karena dengan cara ini berarti bangsa Indonesia akan buta terhadap sifat kesejarahannya dan melaA Justru setiap peristiwa penting dalam sejarah kita sebenarnya memA berikan pelajaran yang konkrit. Dalam hal ini tetaplah berlaku peribahasa: AoAoPengalaman adalah guru yang paling baik. Ay Dari pengetahuan dan pemaA haman sejarah seharusnya suatu bangsa membuat kesejarahannya. Arti kata AoAosejarahAy menurut makna bahasa sebenarnya ialah: . peristiwa atau apa yang sudah terjadi. penulisan atau kisah mengenai peristiwa terA Apabila pengertian ini diterapkan untuk memahami AoAosejarah manusiaAy tampaknya kehidupan manusia itu menunjukkan kontinuitas peningkatan. Ternyata bahwa hidup manusia mempunyai ciri perkembangan yang terusmenerus. Proses perkembangan yang berkesinambungan ini merupakan "kesejarahanAy yang dibentuk atau ditentukan oleh kepribadian manusia itu sendiri sebagai subyek kesejarahan. Arti filsafati dimensi kesejarahan ini seA bagai faktor realitas yang pokok telah disadarkan oleh filsafat Hegel pada awal abad ke-19, dan sampai dewasa ini merupakan sasaran pemikiran filsafat yang amat penting untuk memahami eksistensi makhluk yang disebut Aomanusia. SEJARAH & PENDIDIKAN Merupakan makna filsafati sadar kesejarahan manusia tidak lain adalah kesadaran manusia akan dinamika perkembangannya yang terus-menerus. Kesadaran ini bersifat mengolah keadaan masa sekarang dengan memetik hikmah dari masa lampau dan mengusahakan kemajuan di masa depan, seA hingga menjadi modal untuk penyempurnaan lebih lanjut. Maka manusia bukan hanya pasif dilewati waktu, melainkan aktif mendayagunakan waktuA nya: yaitu masa lampau, masa sekarang, dan masa depan untuk perkemA Dengan demikian manusia benar-benar menjadi subyek yang menyejarah, jadi bukan hanya terhanyut dalam peristiwa atau hukum alam belaka seperti halnya semua makhluk yang lebih rendah daripada manusia. Sehubungan dengan kesejarahan manusia ini terdapat tiga corak panA dangan yaitu: . model siklis. model linear. model spiral. 1 Model siklis memahami jalannya sejarah adalah sebagai periode-periode yang terusmenerus berulang atau repetitif . iclis = berputar, lingkara. Di sini perisA tiwa-peristiwa sekarang dipandang sama sekali sebagai pengulangan-pengA ulangan dari peristiwa masa lampau. Dan peristiwa di masa lampau itu diA pegang sebagai paradigma atau pola bagi peristiwa sekarang. Dengan demiA kian maka tingkah laku maupun kegiatan sekarang pun menerima nilainya, kalau meniru atau disesuaikan dengan apa yang sudah dipolakan pada masa Dalam perkembangannya peristiwa yang semakin jauh dari polanya seA lalu mengalami kemerosotan, lalu keruntuhan, dan akan lahir kembali peA ristiwa keemasan yang akan merosot lagi. demikian akan berulang terusmenerus. Pandangan seperti ini pada umumnya terdapat di dalam sikap hidup tradisional, yang tidak mau menerima pembaharuan-pembaharuan. Realisasi konkrit penghayatan kesejarahan model siklis ini sedikit banyak terdapat daA lam liturgi, dogma, dan hirarkhi. Sebaliknya dalam model linear jalan sejarah dipandang sebagai maju ke depan di mana waktu tidak terulang . inear = luru. Dinamika sejarah diA tandai oleh munculnya hal-hal yang baru. Kesejarahan manusia dipahami berA sifat kreatif dan maju menuju suatu pemenuhan terakhir. Di sini setiap perisA tiwa dinilai mempunyai makna pada dirinya sendiri dalam hubungannya deA ngan yang lain dan tujuan terakhir. Hampir mirip dengan ini ialah model spiral yang memandang majunya jalan sejarah tidak lurus tetapi melewati kontradiksi-kontradiksi yang dalam setiap tahap berbeda. Tiap-tiap kontraA diksi yaitu dari tese menimbulkan antitese akhirnya mencapai sintese, akan menghasilkan tahap yang lebih tinggi. Realisasi konkritnya, kesejarahan maA nusia berlangsung melalui pergolakan-pergolakan dan dari sini mengalami tahap-tahap yang terus-menerus diatasi oleh tingkat yang lebih sempurna. *Dr. Sastrapratedja. Catatan Kuliah Filsafat Manusia 1983. Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Jakarta. ANALISA 1984 -5 Kiranya jelas bahwa ketiga corak pandangan tentang kesejarahan manusia di atas masing-masing mempunyai penganut. Bahkan karena begitu ekstrem beberapa orang hanya berpegang teguh pada satu model sejarah belaka secara Sebagai contoh, kaum Marxis atau Komunis yang menjadikan konflik atau pertentangan golongan sebagai arah proses sosial menuju pemA baharuan atau perbaikan masyarakat. Demikian pula sikap kaum modernis yang menginginkan kebaharuan semata-mata, berbalikan dengan kaum konA servatif yang bersikap mengagung-agungkan masa lalu. Namun bagi sikap filsafati yang kritis dan lengkap wajib menerima setiap segi kebenaran yang disampaikan oleh ketiga model kesejarahan itu demi membangun kesejarahan yang bijaksana dan terbaik. Sehubungan dengan itu sebagai bangsa, di abad mutakhir ini bagaimanaA pun bangsa Indonesia harus menjalani kesejarahannya. Dia bisa berlaku masa bodoh tidak peduli atau bersantai-santai mengenai kesejarahannya, yang akibatnya dia akan terhanyut dan terseret oleh kesejarahan bangsa lain, atau dia mau memerankan diri sebagai subyek yang mandiri mengolah dan menA dayagunakan kesejarahannya. Kemandirian bangsa sebagai subyek yang mengolah kesejarahannya ini terungkap dalam kemauan mengambil atau meA lestarikan hal yang bernilai dari masa lampaunya dalam menyelenggarakan peradaban dan membangun kreasi baru di masa sekarang demi meningkat ke masa depan yang lebih baik tanpa takut menghadapi pertentangan yang sering kali tak terelakkan . andingkan tiga corak kesejarahan di ata. Tidak disangsikan lagi bahwa kristalisasi dan pemuncakan kultural yang mendasar dari kesejarahan bangsa Indonesia adalah falsafah negara Pancasila sebagai ideologi perjuangan bangsa. Butir-butir Pancasila merupakan peneA muan atas nilai-nilai unggul budaya bangsa yang disesuaikan dengan dunia Dan nilai-nilai Pancasila ini oleh kesepakatan nasional sampai kini dijadikan pedoman pembangunan masyarakat Indonesia yang dicita-citakan. Dewasa ini atau menyongsong abad ke-21 bangsa Indonesia melaksanakan pembangunannya adalah demi menciptakan masyarakat Pancasila. Ini berarti bahwa seluruh pembangunannya seharusnya merupakan pengamalan atas nilai-nilai Pancasila itu. Sudah pasti beruntunglah bangsa Indonesia masa kini diwarisi kesejarahan yang gemilang dari nenek moyangnya. Bukti yang konkrit ialah tidak banyak bangsa di muka bumi ini menerima warisan sebesar dan senilai candi BoroA budur atau budaya maritim dan jiwa niaga yang pernah jaya. Terutama menA dapat warisan semangat kebangsaan penuh daya juang yang ibaratnya adalah masih embrio dalam masa R. Kartini, terlahir sebagai anak kecil pada Angkatan 1908, berkembang menjadi teruna remaja yang mengenal identitas dirinya sebagai bangsa Indonesia pada Angkatan 1928, dan meningkat men- SEJARAH & PENDIDIKAN jadi pemuda dewasa yang sanggup mematahkan belenggu penjajahan pada Angkatan 1945. akhirnya dari keseluruhan angkatan ini mampu mendirikan negara dan bangsa baru siap dengan ideologi pembangunannya. Maka bangsa kita sekarang ini benar-benar tidak tahu berterima kasih, seandainya tidak menyambut prestasi ulung dan nilai-nilai cemerlang nenek moyang kita itu dengan meneruskan kesinambungannya dan mendayagunakan makna keseA TANTANGAN MELANJUTKAN PRESTASI GEMILANG BANGSA INA DONESIA Menjelang abad ke-21 ini masyarakat Indonesia sedang berjuang untuk mencapai cita-citanya membangun bangsa besar yaitu masyarakat Pancasila. Berdasarkan bukti-bukti jelas masa lampaunya bangsa Indonesia pernah meA nampilkan diri sebagai masyarakat yang berpotensi besar dan unggul. PerA wujudan cita-cita tersebut bukanlah sesuatu khayalan. Tidak diragukan bahwa tanah air kita yang merdeka ini merupakan negara yang potensinya kaya raya dan mempunyai letak geografi yang strategis di antara negaranegara lain. Namun disayangkan bahwa bangsa Indonesia nyaris menenggelamkan bahtera kesejarahannya. Hampir dua dasawarsa setelah kemerdekaannya, naA sionalisme dan patriotisme bangsa yang telah menggelora itu tidak disalurkan ke arah pembangunan kesejahteraan berdasarkan cita-cita Pancasila. Justru para pemimpin bangsa dan kaum cerdik pandai mengisi kemerdekaan neA garanya dengan mencari kepentingan mereka masing-masing. Dalam keA rangka ini mereka saling bersaing memperebutkan dukungan masyarakat. Sebagai akibatnya rakyat menjadi terpecah-pecah, karena mengikuti pengaA rahan yang berbeda-beda dan bahkan bertentangan. Nasionalisme dan patrioA tisme yang telah menggelora semakin digerogoti oleh perpecahan dan makin memudar kobarannya karena cita-cita pembangunan hanya menjadi janjijanji kosong. Arus kemerosotan nasional ini dengan baik dimanfaatkan oleh kaum KoA munis yang ingin menguasai bangsa kaya potensi ini dalam rangka mengKomunis-kan dunia. Justru dalam keadaan negara hampir bangkrut akibat pemberontakan Partai Komunis, sementara pemimpin dan cerdik-pandai Angkatan 1966 menyadari bahaya kehancuran bangsa secara material maupun Penumpasan kaum Komunis dan perombakan Orde Lama dipanA dang sebagai prasyarat untuk mendirikan Orde Baru yang bertujuan mengemA balikan orientasi kepada cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 1945 yaitu memA bangun masyarakat Indonesia yang sejahtera dan adil dalam Masyarakat Pancasila. ANALISA 1984 - 5 Semenjak pemerintahan Orde Baru memang rakyat Indonesia mengharapA kan supaya pembangunan kesejahteraan umum segera dilaksanakan dan agar wujudnya pun semakin tampak. Namun hasil dari hampir 15 tahun pembaA ngunan nasional berencana masih jauh dari memungkinkan segenap warga negara secara pasti memperoleh kesejahteraan dan keadilan lahir batin. Harus diakui bahwa baru sebagian warga negara bisa mandiri atau mantap memA bangun kesejahteraan. Karena peningkatan kesejahteraannya begitu pesat dan kebanyakan hanya mencari kesejahteraannya sendiri, maka di mana-mana menggejala jurang kaya-miskin yang lebar dalam masyarakat. Di lain pihak sebagian besar warga negara belum mendapat tempat untuk menyumbangkan kemampuannya secara maksimal bagi pembangunan, sehingga terlalu tertingA gal kemajuannya dan bahkan banyak yang tak terjangkau oleh hasil-hasil Pembangunan tidak berhasil sepenuhnya melaksanakan deA sentralisasi kekayaan masyarakat tetapi justru cenderung menguatkan konsenA trasi kekayaan pada warga negara yang sudah kaya. Selama periode ini agaknya baru tampil perintis-perintis pembangunan kesejahteraan dan keadilan. Semangat pembangunan AoAokesejahteraan umumAy belum meluas ke segenap bangsa Indonesia, khususnya di antara para peA mimpin dan cendekiawan. Jadi keadaannya adalah seperti tahun 1908 ketika baru muncul perintis-perintis semangat kebangkitan nasional. Tetapi jelaslah bahwa kegotongroyongan dan kecintaan bangsa yang merupakan kepribadian dan inti semangat kebangkitan nasional tokoh-tokoh Budi Utomo, mengamaA natkan kepada setiap warga negara untuk membangun kesejahteraan umum dan bukan hanya kesejahteraannya sendiri. Secara konkrit, warga negara masing-masing wajib menanyakan dan melaksanakan apa yang dapat disumA bangkannya untuk kesejahteraan masyarakat yang seluas-luasnya, sehingga turut bertanggung jawab untuk meningkatkan mutu kehidupan sesama warga bangsanya, terlebih-lebih mereka yang terlantar. Tak diragukan lagi bahwa para perintis kebangkitan nasional tahun 1908 tidak hanya berjuang untuk kesejahteraan mereka sendiri tetapi untuk keseA jahteraan dan keadilan bagi bangsanya. Demikian juga nasionalisme dan patriotisme . ang digelorakan oleh semangat kebangkitan nasiona. pada pelopor-pelopor kebangsaan tahun 1928 dan 1945 telah berkobar untuk meA wujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi segenap warga bangsa dan bukan untuk mencari kepentingannya sendiri. Maka kemerdekaan bangsa yang telah direbut dengan susah payah oleh hampir seluruh warga bangsa akan diseleA wengkan, jika oleh generasi sekarang kemerdekaan itu hanya diisi dengan perlombaan untuk mengejar kesejahteraannya sendiri dan bukan kesejahteA raan bagi seluruh bangsa. Lebih durhaka lagi, jika kemerdekaan ini dimanA faatkan untuk mengeksploatasi sesama warga bangsa. SEJARAH & PENDIDIKAN Tendensi kehidupan yang mengejar kesejahteraan sendiri itu pada umumA nya adalah gaya hidup lebih menonjolkan kemajuan ekonomi dan sangat kuA rang diimbangi oleh kemajuan aspek-aspek kehidupan yang lain seperti keA sosialan, mentalitas. Ketuhanan, moral, dan kesadaran nasional . Gaya hidup ini merupakan akibat peniruan pada peradaban modern Barat. Padahal apabila kita camkan, warisan besar nenek moyang kita amat meA nonjolkan spiritualitas umpamanya bidang-bidang kesenian, kesosialan, menA talitas, moral, dan religi. Sebab itu terasalah pentingnya pengenalan dan peA mikiran atas kepribadian bangsa yang tercermin dalam sejarah kemerdekaan, candi Borobudur, dan warisan budaya lainnya demi memperkuat spiritualitas bangsa dalam menghadapi dan menyaring peradaban Barat yang bertendensi materialis dan individualis. Andaikata bangsa Indonesia kurang berminat untuk mendalami, melesA tarikan, dan meningkatkan nilai-nilai seni, sosial, moral, dan Ketuhanan dari warisan budaya bangsa itu, boleh jadi kebudayaan k-ita akan dilanda dan digerogoti peradaban asing yang ternyata menjauhkan dari kesejahteraan yang utuh/seimbang sebagaimana terlihat di kota-kota besar maupun kecil dan kini makin mempengaruhi pedesaan juga. Kebudayaan bangsa selama ini adalah kaya dengan aspek-aspek kemanusiaan serta kerohanian yang luhur. sudah barang tentu ini perlu dikembangkan juga beriringan dengan pengemA bangan segi kejasmanian yang sedang giat dilancarkan dalam program perA luasan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industrialisasi. Apabila pembaA ngunan unsur kejasmanian tersebut berkembang begitu pesat tanpa disertai inA tensifikasi pembangunan unsur kerohanian yang umumnya berlangsung lebih lambat, niscaya sejarah perkembangan bangsa kita semakin terkikis kemanuA siaannya di mana ini akan tercermin dalam fakta keberingasan dan kekerasan sosial yang kini telah menggejala. Menghadapi masyarakat yang sedang diarahkan menuju ekonomi modern dan industrialisasi, jelaslah di dalam masyarakat nanti akan bermunculan bermacam-macam sektor jasa. Dengan perkembangan peradaban akan terjadi diversifikasi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia yang seluas-luasnya. Dalam bahasa ekonominya, kemajuan masyarakat akan meningkatkan keA butuhan manusia dari kebutuhan primer kepada kebutuhan sekunder dan terA Namun demikian peningkatan sektor jasa-jasa ini pasti tidak cukup hanya menekankan pengembangan kuantitatif, tetapi juga menuntut pengemA bangan kualitatif. Dalam segi kualitas inilah terasa pentingnya pengisian boA bot kemanusiaan yang mempunyai hati dan kesosialan, sehingga perbuatanperbuatan jasa nantinya bukan hanya bernilai lahiriah saja sebagai basa-basi penuh manipulasi dan kemunafikan yang justru bisa mendangkalkan dan memutarbalikkan kepribadian. ANALISA 1984 -5 Akibat dari pertambahan penduduk yang makin meningkat jelas bangsa kita sedang menghadapi masalah lapangan kerja dan pemberantasan kemisA kinan yang tidak semakin ringan. Untuk itu khususnya kecakapan serta keA trampilan nenek-moyang kita menguasai lautan dan berniaga hendaknya seA gera mendorong usaha peningkatan kecakapan maupun ketrampilan kebaA harian dan kewiraswastaan bangsa yang sekarang masih sangat kurang. DeA mikian pula warisan sosial budaya yang amat indah dan orisinal serta alam permai selekasnya menyadarkan masyarakat untuk bersungguh-sungguh mengelola industri pariwisatanya yang masih kecil dan menampilkannya menA jadi negara pariwisata yang terkemuk. Tiga bidang tersebut sebenarnya merupakan faktor penggerak kemajuan ekonomi yang penting, tetapi justru dalam ketiga bidang itu dirasakan keleA Apabila secara serius dikembangkan, maka kewiraswastaan, kebahaA rian, dan pariwisata itu bisa menyerap tenaga kerja penganggur dan menguA rangi kemiskinan yang memadati sektor pertanian. Wilayah bahari yang amat luas dan bisa menyediakan lapangan kerja dalam bidang perikanan, perA kapalan, perindustrian. Pengolahan atau distribusi berbagai sumber daya alam yang luas membutuhkan berkembangnya kewiraswastaan. Begitu juga tumbuhnya sektor pariwisata akan menarik kegiatan sektor-sektor lain dengan jangkauan yang amat luas. Kita hendaknya tidak mengabaikan bidang-bidang itu, sehingga Wawasan Nusantara kita tinggal bagaikan impian, kewiraA swastaan di negara kita dinikmati oleh orang asing, dan keindahan negara kita hanya memberi manfaat sedikit. Sebagai hasil renungan atas prestasi kesejarahan bangsa di atas, wajiblah kita generasi penerus mewarisi dan melestarikan prestasi generasi terdahulu, serta mendayagunakannya untuk kreasi baru demi mewujudkan pembaA ngunan Masyarakat Pancasila. Mengakhiri abad ke-20 dan memasuki abad ke-21 ini bangsa Indonesia sekarang ditantang untuk tidak kalah berprestasi daripada nenek moyangnya masa lalu, yaitu untuk terus-menerus melanjutkan prestasi gemilang mereka. Sudah pasti pembangunan negara Pancasila tidak kalah beratnya dengan pergerakan kebangsaan untuk memerdekakan nusa dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu perlu dihayati dan dikembangkan daya juang yang ulung dan konsisten dari semangat kebangsaan di negeri ini, yang mulai dibangkitkan dan digelorakan dalam pertengahan pertama abad ini. Bagaimanapun masyarakat Pancasila . esejahteraan lahir batin dan keA adila. baru akan terwujud hanya kalau dilaksanakan pengerahan maksimal 'Ulasan lebih mendetil mengenai kepariwisataan dapat dilihat: Sunarto nDaru Mursito. AoAoMendayagunakan Potensi Pariwisata untuk Pembangunan NasionalAy dalam majalah Analisa. Juli 1983. SEJARAH & PENDIDIKAN dari potensi bangsa untuk membangun kesejahteraan umum. Semakin meA luasnya dedikasi dan prestasi warga negara untuk pembangunan kesejahteA raan itu merupakan satu-satunya upaya untuk terbinanya negara Pancasila. Berkembang atau merosotnya kesejahteraan umum terletak pada partisipasi tiap-tiap warga negara. Oleh sebab itu demi mewujudkan Masyarakat PanA casila yang dicita-citakan, tidak ada pilihan lain kecuali perlu mengobarkan dan menggelorakan semangat kebangkitan nasional untuk pembangunan keA sejahteraan umum dengan cara membangkitkan semangat setiap warga negara agar suka menyumbangkan apa yang dapat diberikannya untuk kesejahteraan masyarakat yang sebanyak-banyaknya, khususnya mereka yang menderita. Jadi mereka jangan sampai hanya mementingkan kesejahteraannya sendiri, atau lebih jahat lagi: mencari kesejahteraannya sendiri dengan cara mengorA bankan kesejahteraan sesama warga bangsa. Supaya semangat nasional yang membangun kesejahteraan umum dapat dibangkitkan, sudah pasti terlebih dahulu dituntut adanya kepeloporan terA utama dari aparat pemerintah dan kaum cerdik pandai bangsa. seperti halnya selama masa pergerakan nasional semangat kebangkitan nasional untuk pemA bangunan bangsa juga telah dipelopori oleh lapisan pemimpin dan cendekiaA wan bangsa. Jika suasana kepeloporan semacam ini sekarang tidak ada, jelas semangat nasional untuk membangun kesejahteraan umum sukar dibangkitA kan, apalagi dikobarkan dan digelorakan dalam masyarakat. Sehubungan deA ngan ini menjadi nyata vitalnya krida pemerintah sekarang guna menyehatkan dan membangun aparaturnya menjadi aparatur pembangunan yang bersih dan Niscaya cepat atau lambatnya tercapai Masyarakat Pancasila jusA tru tergantung pada kualitas aparatur pembangunan pemerintah yang sekaA rang dalam meneladankan pembangunan kesejahteraan umum. Maka dari itu diharapkan agar pemberantasan korupsi yang kini sedang berjalan dan mulai berhasil mengungkap penyelewengan di berbagai inA stansi seperti Direktorat Reboisasi. Departemen Sosial. Perum Astek, maniA pulasi pajak semakin berdaya mampu membongkar liku-liku dan jaringan penyelewengan yang telah mengakar selama tahunan. Lalu dari sini ditegakA kan tertib hukum dengan sanksi-sanksi efektif sehingga tercipta momentum dan iklim yaitu orang takut atau malu korupsi dan peka untuk melaporkan ketidakberesan dalam aparatur pembangunan. Di samping itu pendayagunaan aparatur pembangunan yang telah diprogramkan sudah sewajarnya lebih gesit membenahi birokratisasi yang berbelit-belit dan semrawut. Sebagai salah satu contoh terlalu banyaknya instansi yang ikut campur dalam hal impor buku berarti pula banyak waktu dan uang para importir buku yang terbuang. Terlalu banyak meja yang harus dilalui seperti harus melalui instansi DeparA temen P dan K. Departemen Perdagangan. Kejaksaan Agung. Departemen ANALISA 1984 -5 Keuangan, dan kabarnya Departemen Penerangan akan turut campur . huA susnya impor majala. Akhir-akhir ini lembaga kejaksaan tampak menunjukkan fungsi dan presA tasinya dalam pemerintahan dan bertekad mendayagunakan aparatur pemA Cukup menonjol kegiatan kejaksaan dalam upaya membongkar manipulasi dan korupsi. Mengingat perekonomian negara yang kurang cerah sekarang ini, maka pembersihan oleh kejaksaan itu berarti mencegah meA luasnya kebocoran anggaran dan ini merupakan langkah kejaksaan yang berA tanggung jawab dalam menyiapkan pemerintahan bersih dalam Pelita IV, yang dirancang sebagai periode penyiapan kerangka tinggal landas. Sudah barang tentu gebrakan kejaksaan ini harus diimbangi oleh lembaga penegak hukum yang lain, agar mampu memperbaiki kehidupan negara sesuai asas negara hukum. Untuk itu merupakan tantangan berat bila benar pengA amatan yang menilai bahwa sebagian kecil saja penegak hukum kita tidak diA hinggapi dekadensi moral. Menurut Ketua Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia. Albert Hasibuan, masalah korupsi dan manipulasi amat erat kaitannya dengan birokrasi dan kekuasaan. Seseorang yang tidak berada dalam struktur itu lebih kecil kemungkinannya terlibat korupsi dan manipulasi. Dipandangnya langkahlangkah kejaksaan kini berhasil menembus struktur birokrasi, namun belum berhasil menembus tembok-tembok kekuasaan. Sebab itu rakyat mengharapA kan kejaksaan juga menembus tembok tersebut dan menyeret para pelaku korupsi yang berlindung di balik kekuasaannya. Aparat penegak hukum diA tegaskannya harus aktif mengikuti dinamika kejaksaan, sehingga semuanya berperan-serta secara seimbang. Sebab ternyata banyak kasus yang dibongkar oleh kejaksaan itu sebenarnya telah melalui proses pengawasan dan telah diA nyatakan wajar oleh para pengawas. Artinya beberapa lapis pengawasan tidak waspada mengamati kebocoran, sementara kejaksaan berhasil membuktiA Bagaimanapun operasi hukum seharusnya dijadikan gerakan penegakan hukum secara nasional di dalam aparatur pembangunan dan tata masyarakat yang menipis jiwa sosialnya. Barulah dari sini ditumbuhkan lagi kesadaran dan penghormatan hukum dan dimungkinkan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab sosial. Adanya kesadaran dan tanggung jawab sosial merupakan prasyarat dipermudahnya kebangkitan semangat nasional untuk AoHarian Kompas, 22 Juli 1983. 2Lihat Tajuk Merdeka, 23 Juli 1983. 3Harian Kompas, 22 Juli 1983. SEJARAH & PENDIDIKAN menciptakan kesejahteraan umum di atas. Jelaslah bangkitnya semangat mau membangun kesejahteraan umum merupakan awal perwujudan masyarakat yang adil dan sejahtera. Berkat berkobar meluas dan menggeloranya semangat ini secara nasional . ebagaimana diteladankan oleh proses nasionalisme seA telah Budi Utom. niscaya dapat mempercepat dan memantapkan pembaA ngunan maupun kemajuan bangsa. kita dimampukan bekerja sama dan saling menunjang bagi tercapainya Masyarakat Pancasila. PENUTUP Dari pengupasan kesejarahan bangsa Indonesia kita mengerti berbagai prestasi ulung generasi nenek moyang yang pernah dicapai baik dalam kebuA dayaan jasmaniah maupun kebudayaan rohaniah. Pengertian ini selayaknya menyadarkan kita, generasi anak cucunya untuk membuat kesejarahan seA lanjutnya sebagai dinamika perkembangannya yang bermutu. Secara konkrit, bila dahulu bangsa kita mempelajari kebudayaan lain atau memanfaatkan peluang internasional dan menggunakannya untuk menciptakan karya budaya baru yang gemilang dan orisinal, maka kini pun bangsa kita bisa dan wajib mempelajari peradaban mutakhir ini . eperti dicontohkan bangsa Jepan. serta menggunakannya untuk membangun masyarakat Pancasila sebagai perA adaban manusia menyeluruh dan utuh sampai kedalaman hati dan bukan hanya peradaban lahiriah dangkal yang semu dan penuh kepalsuan. Karya raksasa candi Borobudur atau gelora nasionalisme kemerdekaan yang membanggakan itu memang merupakan hasil kerja kolektif yang memA butuhkan partisipasi aktif, inisiatif, kreasi, dan sikap positif dari rakyat. Terutama prestasi kreatifnya pastilah sebagai hasil atau ditunjang partisipasi aktif, positif, dan berinisiatif pada umumnya. Dalam membangun MasyaA rakat Pancasila yang jelas merupakan pembangunan bangsa besar, sudah barang tentu membutuhkan partisipasi demikian itu juga. Namun gerak pemA bangunan bangsa sekarang ini, partisipasi aktif dan positif dari masyarakat mengamanatkan berkembangnya jiwa kedisiplinan, bertanggung jawab, dan Pengembangan ini mempersyaratkan AoAomerakyatnya pemerintah,Ay yaitu keterbukaan dan kemanunggalan pemerintah dan rakyat dalam mengeA lola roda pembangunan bangsa. Bangsa Indonesia yang telah mempunyai kesejarahan unik dan unggul baik masa lampau maupun cita-cita masa depannya itu memang tidak cukup hanya berbangga dan berpuas diri. Sebab kepuasan dan kebanggaan macam apa pun hampir tidak mempunyai arti, kalau generasi penerus yang sekarang ini dipercayakan untuk membuat kesejarahan bangsanya tidak secara kolektif ANALISA 1984-5 dan terpadu menyumbangkan partisipasi aktif, positif, berinisiatif, dan kreatif demi cita-cita Pancasila. Terwujudnya Masyarakat Pancasila ini akan diuji oleh kemauan mereka untuk membangun kesejahteraan umum sesuai dengan kemampuan maksimalnya dan bukan oleh prestasi berlomba memA bangun kesejahteraan jasmaniah secara serakah bagi dirinya sendiri. Tidak berhasilnya membangkitkan, mengobarkan, dan menggelorakan semangat naA sional untuk membangun kesejahteraan umum berarti menggerogoti, meleA mahkan, serta memundurkan potensi bangsa dan menyia-nyiakan potensi CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CsiS CSIS CSIS Isi di luar tanggung jawab Perc. Gaya Baru CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS CSIS Untuk menunjang kegiatan pengkajian. CSIS juga menyediakan PERPUSTAKAAN dan CLIPPINGS yang terbuka untuk pencinta pengetahuan, analis dan peneliti dengan koleksi yang eksklusif, penyediaan data yang lengkap dan informasi yang cepat. Untuk keperluan tersebut hubungilah: PERPUSTAKAAN dan BIRO INFORMASI DAN DATA Ai CSIS Jalan Tanah Abang 111/27. Jakarta 10160. Telepon 356532 - 35 CSIS Penerbitan-penerbitan tersebut di atas dapat diperoleh di Toko-toko Buku, atau langA sung pada: BIRO PUBLIKASI Ai CSIS CENTRE FOR STRATEGIC AND INTERNATIONAL STUDIES Jalan Kesehatan 3/13. Jakarta 10160. Telepon 349489 CSIS DOKUMENTASI Kumpulan clipping berbagai surat kabar/ bulletin secara sistematis mengenai masalah-masalah tertentu. CSIS THE INDONESIAN QUARTERLY Majalah triwulanan berbahasa Inggeris, memuat karangan-karangan hasil pemiA kiran, penelitian, analisa dan penilaian yang bersangkut-paut dengan masalahmasalah aktual Indonesia di forum nasioA nal maupun internasional. Harga per eks Rp 1. 000,Ai, langganan setahun . Rp 4. 000,Ai, untuk Mahasiswa Rp 3. CSIS ANALISA Majalah bulanan, menyajikan beberapa analisa peristiwa dan masalah internaA sional dan nasional, baik ideologi dan poA litik maupun ekonomi, sosial budaya dan pertahanan serta keamanan, yang ditulis oleh staf CSIS maupun dari luar CSIS. Harga per eks Rp 750,Ai langganan setaA hun . Rp 9. 000,Ai sudah terA masuk ongkos kirim, untuk Mahasiswa Rp 6. 750,Ai CSIS BUKU-BUKU Berbagai buku baik dalam bahasa IndoA nesia maupun bahasa Inggeris, hasil peA nulisan staf CSIS mengenai strategi, ekoA nomi, ideologi, politik, hubungan interA nasional, pembangunan, hankam, sosial budaya dan lain-lain. CSIS Untuk menunjang kegiatan studi mahasiswa, para peneliti maupun lembagaTembaga universitas, instansi-instansi peA merintah dan umum. CENTRE FOR STRATEGIC AND INTERNATIONAL STUDIES (CSIS) menyediakan penerA bitan berupa buku-buku dan terbitan