SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Fakultas Ekonomi Universitas Semarang P-ISSN : 1412-5331. E-ISSN : 2716-2532 DOI: 10. 26623/slsi. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. 2 April 2026. Hal 213-228 Dinamika Blockholders dan Audit Fees pada Perusahaan Keluarga Windasari Rachmawati. Abdul Karim. Abdul Manan. Hani Krisnawati. E-mail Korespondensi : windasarirachmawati@usm. Program Studi Akuntansi. Universitas Semarang. Semarang. Indonesia1,2,3,. INFO ARTIKEL Proses Artikel Dikirim : 18/02/2026 Diterima: 10/04/2026 Dipublikasikan: 29/04/2026 Akreditasi oleh Kemenristekdikti No. 79/E/KPT/2023 ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada hubungan antara struktur kepemilikan blockholders dan audit fees pada perusahaan keluarga yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan keluarga digunakan sebagai konteks karena pola kepemilikannya yang terkonsentrasi cenderung membentuk dinamika tata kelola yang lebih kompleks. serta meningkatkan risiko konflik kepentingan antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham minoritas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi data panel pada perusahaan keluarga sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals selama periode 2021Ae2024. Data diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keuangan auditan yang dipublikasikan secara resmi. Audit fees diukur menggunakan logaritma natural biaya audit eksternal, sementara karakteristik blockholders direpresentasikan melalui keberadaan dan jumlah pemegang saham besar selain pemegang saham pengendali utama. Homogenitas kepemilikan keluarga diuji sebagai variabel moderasi untuk menangkap potensi dominasi pengendalian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan blockholders berasosiasi positif dengan audit fees, yang mengindikasikan bahwa auditor memandang kehadiran pemegang saham besar tambahan sebagai sumber peningkatan kompleksitas dan risiko tata kelola. Sebaliknya, jumlah blockholders tidak terbukti memengaruhi audit fees secara signifikan. Temuan lainnya menunjukkan bahwa homogenitas kepemilikan keluarga memperkuat hubungan antara keberadaan blockholders dan audit fees. Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan bahwa pola dan karakter pengendalian kepemilikan lebih berperan dalam penilaian risiko audit dibandingkan sekadar jumlah pemegang saham besar. Kata Kunci: struktur kepemilikan blockholders. audit fees perusahaan keluarga. homogenitas kepemilikan keluarga. konflik keagenan tipe II -------------------------------------------------------------------------------------------------------- Abstract This study examines how blockholder characteristics are reflected in audit fees within family firms. Family-controlled firms provide an appropriate setting because concentrated ownership structures often SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 generate more complex governance dynamics and increase the potential for principalAeprincipal conflicts. The study uses panel data from family firms listed in Indonesia over the 2021Ae2024 period, drawing on information from annual reports and audited financial Panel regression analysis is employed following a series of model selection tests to ensure robust estimation. Audit fees are measured using the natural logarithm of external audit fees. Blockholder characteristics are proxied by the presence of large shareholders and the number of large shareholders beyond the main controlling owner. Ownership homogeneity among family shareholders is further incorporated as a moderating variable to capture potential dominance in control. The findings indicate that the presence of blockholders is positively associated with audit fees, suggesting that auditors perceive greater governance complexity when additional significant shareholders exist. However, the number of blockholders does not significantly influence audit fees. Ownership homogeneity strengthens the relationship between blockholder presence and audit fees, emphasizing the importance of ownership structure in audit risk Keywords: blockholder ownership structure. audit fees in family firms. ownership homogeneity. agency conflict This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Periode 2021Ae2024 merupakan fase penting bagi pasar modal Indonesia, khususnya bagi sahamsaham sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals, seiring dengan proses pemulihan ekonomi pascapandemi, perubahan daya beli masyarakat, serta penyesuaian kebijakan moneter. Sektor consumer cyclicals cenderung lebih sensitif terhadap siklus ekonomi karena permintaan produknya bergantung pada pendapatan disposabel dan tingkat kepercayaan konsumen. Sebaliknya, sektor consumer non-cyclicals relatif lebih defensif karena produknya tetap dibutuhkan dalam berbagai kondisi ekonomi. Perbedaan karakteristik tersebut tercermin dalam dinamika pergerakan indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia sepanjang periode pengamatan. Tabel 1 menyajikan rentang pergerakan indeks sektor consumer cyclicals dan consumer noncyclicals di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021Ae2024. Tabel 1 Rentang Pergerakan Indeks Sektor Consumer cyclicals dan Consumer non-cyclicals di Bursa Efek Indonesia . 1Ae2. Tahun Indeks Consumer cyclicals . Indeks Consumer non-cyclicals . 630 Ae 1. 580 Ae 900 700 Ae 1. 620 Ae 950 750 Ae 1. 580 Ae 1. 633 Ae 1. 604 Ae 860 Sumber: Bursa Efek Indonesia dan data indeks sektoral . 2025 SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Rentang pergerakan indeks yang lebih luas pada sektor consumer cyclicals menunjukkan tingkat volatilitas dan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap perubahan kondisi ekonomi dan sentimen Sebaliknya, sektor consumer non-cyclicals menunjukkan pergerakan indeks yang relatif lebih sempit, yang mencerminkan karakter defensif dan stabilitas permintaan. Perbedaan tingkat risiko bisnis antar sektor ini mengindikasikan bahwa perusahaan yang beroperasi pada sektor yang berbeda berpotensi menghadapi tingkat risiko audit yang berbeda pula, sehingga relevan dalam konteks penilaian risiko auditor. Dalam kerangka tata kelola perusahaan, keberadaan blockholders dalam struktur kepemilikan semakin prevalen dan dipandang sebagai salah satu mekanisme tata kelola eksternal yang penting (Ge et al. , 2021. Holderness, 2009. Ortiz-de-Mandojana et al. , 2. Blockholders sebagai pemegang saham dengan kepemilikan signifikan memiliki kemampuan untuk memengaruhi kebijakan dan proses pengawasan perusahaan (Bar-Isaac & Shapiro, 2020. Edmans & Holderness, 2. Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam literatur terkini adalah keterkaitan antara karakteristik blockholders dan audit fees, yang sering digunakan sebagai proksi atas risiko audit, kompleksitas perusahaan, serta intensitas monitoring eksternal. Secara teoretis, dalam kerangka shareholder-based corporate governance, hubungan antara blockholders dan audit fees bergantung pada tingkat konsentrasi kepemilikan. Ketika kepemilikan saham semakin terkonsentrasi, blockholders dapat menjalankan fungsi monitoring yang lebih efektif melalui mekanisme intervensi dan negosiasi untuk menurunkan asimetri informasi antara manajemen dan pemegang saham minoritas (Bennedsen & Wolfenzon, 2. (Bloch & Hege, 2. Namun demikian, dalam konteks perusahaan keluarga, blockholders juga berpotensi membentuk koalisi dengan pemegang saham pengendali, sehingga memunculkan konflik keagenan tipe II yang meningkatkan persepsi risiko dan kebutuhan pengawasan audit (Barroso et al. , 2018, 2. Dominasi perusahaan keluarga di Bursa Efek Indonesia menjadikan konteks Indonesia relevan untuk mengkaji dinamika tersebut. Perbedaan karakter risiko antara sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals semakin memperkuat urgensi penelitian ini, karena auditor kemungkinan mempertimbangkan struktur kepemilikan dan risiko bisnis secara bersamaan dalam menentukan audit fees. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan kajian pada blockholders dan audit fees pada perusahaan keluarga yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan mempertimbangkan perbedaan karakteristik sektor consumer cyclicals dan consumer noncyclicals, guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai mekanisme tata kelola dan implikasinya terhadap audit eksternal di pasar modal Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperluas kajian mengenai hubungan antara struktur kepemilikan dan audit fees, tetapi juga menekankan pentingnya karakter dan pola pengendalian kepemilikan dalam menjelaskan risiko tata kelola pada perusahaan keluarga. Temuan ini diharapkan dapat memberikan perspektif tambahan dalam memahami bagaimana auditor menilai risiko konflik keagenan tipe II di pasar berkembang. KAJIAN PUSTAKA Blockholders dan Audit Fees Keberadaan blockholders merupakan salah satu karakteristik penting dalam struktur kepemilikan perusahaan yang memiliki implikasi signifikan terhadap mekanisme tata kelola. Dari sudut pandang teori keagenan, khususnya konflik keagenan tipe II . rincipalAeprincipal conflic. , blockholders memiliki dua peran yang bersifat ambivalen, yaitu sebagai mekanisme monitoring dan sebagai potensi sumber konflik kepentingan. Di satu sisi, blockholders dapat meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap manajemen melalui kekuatan suara dan kepemilikan yang Namun di sisi lain, dalam konteks kepemilikan terkonsentrasi, blockholders juga berpotensi membentuk koalisi dengan pemegang saham pengendali untuk memperoleh manfaat privat, yang dapat merugikan pemegang saham minoritas. Sejumlah studi terkini mengindikasikan bahwa keberadaan blockholders berkaitan dengan meningkatnya kompleksitas tata kelola perusahaan. (Alves, n. Barroso et al. , 2018, 2023. Khan. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Musah et al. , 2. menemukan bahwa heterogenitas pemegang saham besar meningkatkan kebutuhan pengawasan eksternal karena adanya perbedaan kepentingan dan potensi konflik antar pemegang saham. Selain itu, (Ge et al. , 2. menunjukkan bahwa blockholders, khususnya investor institusional, mendorong peningkatan transparansi dan pengungkapan informasi, yang pada akhirnya memengaruhi proses audit. Dalam praktik audit, keberadaan blockholders sering dipandang sebagai sinyal meningkatnya risiko tata kelola. Auditor tidak hanya menilai risiko dari sisi manajerial, tetapi juga mempertimbangkan dinamika kepemilikan yang dapat memengaruhi integritas laporan keuangan. Studi oleh (Barroso et al. , 2. menunjukkan bahwa perusahaan dengan struktur kepemilikan yang melibatkan blockholders cenderung memiliki audit fees yang lebih tinggi karena auditor meningkatkan tingkat kehati-hatian dan memperluas prosedur audit. Dalam konteks perusahaan keluarga, keberadaan blockholders menjadi semakin relevan karena adanya dominasi pengendalian oleh keluarga. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik keagenan tipe II, di mana pemegang saham pengendali dapat mengambil keputusan yang menguntungkan dirinya sendiri. Kehadiran blockholders tambahan dapat memperkuat atau justru memperumit dinamika tersebut, sehingga auditor cenderung merespons dengan meningkatkan intensitas audit. Dengan demikian, keberadaan blockholders tidak hanya mencerminkan kekuatan monitoring, tetapi juga menjadi indikator kompleksitas dan risiko tata kelola yang dipertimbangkan oleh auditor dalam menentukan audit fees. Oleh karena itu, hipotesis pertama dirumuskan sebagai H1: Keberadaan blockholders berasosiasi positif dengan audit fees. Jumlah Blockholders dan Audit Fees Jumlah blockholders mencerminkan tingkat fragmentasi kepemilikan dalam suatu perusahaan, yang berpotensi memengaruhi dinamika tata kelola serta efektivitas mekanisme pengawasan. Dari sudut pandang teori keagenan, khususnya konflik principalAeprincipal keberadaan beberapa pemegang saham besar dapat menciptakan dua kemungkinan mekanisme yang saling bertolak belakang, yaitu efek monitoring dan efek entrenchment. Di satu sisi, meningkatnya jumlah blockholders dapat memperkuat fungsi pengawasan terhadap manajemen melalui distribusi kekuasaan yang lebih merata, sehingga mengurangi kemungkinan dominasi oleh satu pihak (Alhamad et al. , 2. Namun di sisi lain, semakin banyak pemegang saham besar juga dapat meningkatkan kompleksitas koordinasi dan membuka peluang terbentuknya koalisi strategis yang berpotensi merugikan pemegang saham minoritas. Penelitian terkini menunjukkan bahwa hubungan antara jumlah blockholders dan kualitas tata kelola tidak bersifat linier. Edmans dan Holderness . menegaskan bahwa efektivitas blockholders tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, tetapi lebih pada insentif, independensi, serta kemampuan masing-masing pemegang saham dalam melakukan monitoring. Hal ini mengindikasikan bahwa banyaknya pemegang saham besar tidak secara otomatis meningkatkan kualitas pengawasan ataupun risiko tata kelola, melainkan sangat bergantung pada karakteristik hubungan antar pemegang saham tersebut. Selain itu, studi empiris oleh (Jiang et al. , 2025. Marquardt & Sanchez, 2022a. Smaili et al. menunjukkan bahwa keberadaan multiple blockholders dapat meningkatkan kompleksitas struktur kepemilikan, namun tidak selalu berimplikasi pada peningkatan risiko audit. Dalam beberapa kasus, pemegang saham besar justru bertindak secara independen dan tidak membentuk koalisi, sehingga tidak meningkatkan potensi konflik keagenan tipe II. Kondisi ini menyebabkan auditor tidak secara langsung mengaitkan jumlah blockholders dengan peningkatan risiko audit. Dalam konteks perusahaan keluarga, fenomena ini menjadi lebih kompleks. Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi sering kali didominasi oleh keluarga sebagai pemegang saham utama, sehingga keberadaan blockholders tambahan belum tentu memiliki kekuatan signifikan dalam memengaruhi pengambilan keputusan. Dengan demikian, jumlah blockholders tidak selalu mencerminkan tingkat dominasi pengendalian ataupun risiko ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Dari perspektif audit,(Barua et al. , 2026. Ensaf et al. , 2025. Owusu et al. , 2. auditor cenderung lebih mempertimbangkan aspek kualitatif seperti pola pengendalian, hubungan antar pemegang saham, serta potensi dominasi kepemilikan dibandingkan sekadar jumlah pemegang saham besar. Hal ini sejalan dengan pendekatan risk-based auditing (ISA . , di mana penilaian risiko tidak hanya didasarkan pada indikator kuantitatif, tetapi juga pada pemahaman mendalam terhadap struktur tata kelola dan lingkungan bisnis perusahaan. Oleh karena itu, meskipun secara teoritis jumlah blockholders berpotensi meningkatkan kompleksitas tata kelola, pengaruhnya terhadap audit fees masih bersifat empiris dan tidak selalu Dengan demikian, hipotesis kedua dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H2: Jumlah blockholders berasosiasi positif dengan audit fees. Moderasi Homogenitas Kepemilikan Keluarga Homogenitas kepemilikan keluarga merupakan karakteristik penting dalam struktur kepemilikan perusahaan keluarga yang mencerminkan tingkat keseragaman tipe pemegang saham utama. Dalam konteks ini, homogenitas mengacu pada kondisi di mana sebagian besar pemegang saham besar berasal dari kelompok keluarga yang sama, (Ahmed & Tahir, 2024. Tai, 2. sehingga memiliki kepentingan ekonomi dan non-ekonomi yang relatif selaras. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dominasi pengendalian dan memengaruhi dinamika tata kelola perusahaan. Dalam perspektif Agency Theory, khususnya konflik keagenan tipe II . rincipalAeprincipal conflic. , homogenitas kepemilikan keluarga meningkatkan risiko terjadinya entrenchment effect, yaitu situasi di mana pemegang saham pengendali memperkuat posisinya dan mengurangi efektivitas mekanisme pengawasan. (La Porta et al. , 1. (Ducassy & Guyot, 2017. Sai & Yamada, 2. menjelaskan bahwa dalam struktur kepemilikan yang terkonsentrasi, pemegang saham pengendali memiliki insentif untuk mengekstraksi manfaat privat, terutama ketika kontrol perusahaan tidak diimbangi dengan mekanisme pengawasan yang memadai. Dalam kondisi homogen, potensi tersebut semakin besar karena tidak adanya kekuatan penyeimbang dari pemegang saham lain yang berbeda kepentingan. Literatur terbaru menunjukkan bahwa keseragaman tipe pemegang saham meningkatkan kemungkinan terbentuknya koalisi pengendalian yang stabil. (Barroso et al. , 2018, 2. menekankan bahwa homogenitas blockholders memperkuat koordinasi dan konsolidasi kekuasaan, sehingga meningkatkan risiko tata kelola. Selain itu, (Alhamad et al. , 2025. Anderson et al. , 2. menemukan bahwa perusahaan keluarga dengan struktur kepemilikan homogen cenderung memiliki tingkat transparansi yang lebih rendah dan risiko konflik yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang kepemilikannya lebih beragam. Dari perspektif audit, kondisi tersebut memiliki implikasi langsung terhadap penilaian risiko Auditor tidak hanya mempertimbangkan keberadaan blockholders, tetapi juga menilai bagaimana struktur kepemilikan tersebut memengaruhi distribusi kekuasaan dan potensi dominasi Dalam situasi di mana kepemilikan keluarga bersifat homogen, auditor cenderung mempersepsikan adanya peningkatan risiko entrenchment dan potensi manipulasi informasi, sehingga meningkatkan tingkat kehati-hatian dalam proses audit. Peran homogenitas kepemilikan keluarga dalam penelitian ini tidak hanya sebagai variabel independen, tetapi sebagai variabel moderasi yang memperkuat hubungan antara keberadaan blockholders dan audit fees (Barua et al. , 2026. Ensaf et al. , 2025. Owusu et al. , 2. Artinya, dampak keberadaan blockholders terhadap peningkatan audit fees akan menjadi lebih kuat ketika struktur kepemilikan keluarga bersifat homogen. Hal ini disebabkan karena keberadaan blockholders dalam kondisi homogen tidak lagi berfungsi sebagai mekanisme pengawasan yang independen, melainkan cenderung memperkuat dominasi pengendalian yang sudah ada. Dalam konteks perusahaan keluarga di Indonesia, karakteristik kepemilikan yang terkonsentrasi dan berbasis keluarga memperkuat relevansi variabel ini. Banyak perusahaan keluarga di Indonesia memiliki struktur kepemilikan yang didominasi oleh kelompok keluarga tertentu, sehingga homogenitas kepemilikan menjadi faktor penting dalam menjelaskan risiko tata kelola dan implikasinya terhadap audit. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Dengan demikian, homogenitas kepemilikan keluarga diperkirakan memperkuat hubungan antara keberadaan blockholders dan audit fees, karena meningkatkan persepsi risiko dominasi pengendalian dan potensi konflik keagenan tipe II. Oleh karena itu, hipotesis ketiga dirumuskan sebagai berikut: H3: Homogenitas kepemilikan keluarga memperkuat hubungan antara keberadaan blockholders dan audit fees. Kerangka Pemikiran Teoritis Berdasarkan Agency Theory . onflik keagenan tipe II). Corporate Governance Theory, dan perspektif audit risk, struktur kepemilikan yang terkonsentrasi melalui blockholders dapat menghasilkan dua kemungkinan mekanisme. Pertama, efek monitoring yang berpotensi menurunkan risiko melalui pengawasan yang lebih efektif. Kedua, efek entrenchment yang justru meningkatkan konflik keagenan tipe II akibat dominasi pengendalian. Dalam konteks perusahaan keluarga di Bursa Efek Indonesia, dominasi kepemilikan keluarga meningkatkan kemungkinan terbentuknya koalisi antar pemegang saham besar. Kondisi ini dapat memperbesar risiko ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas dan meningkatkan persepsi risiko auditor. Presence of blockholders dan number of blockholders mencerminkan kekuatan pengendalian perusahaan, sedangkan homogenitas kepemilikan keluarga menunjukkan tingkat keseragaman kepentingan antar pemegang saham besar. Auditor, sesuai standar penilaian risiko (ISA . , akan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam menentukan tingkat upaya audit dan penetapan audit fees. Oleh karena itu, semakin kuat dan semakin homogen struktur blockholders dalam perusahaan keluarga, semakin besar kemungkinan audit fees yang dikenakan meningkat sebagai respons terhadap risiko konflik keagenan tipe II. Penelitian ini menggunakan model moderasi, di mana homogenitas kepemilikan keluarga berperan sebagai variabel yang memperkuat hubungan antara keberadaan blockholders dan audit fees, bukan sebagai variabel mediasi, di mana homogenitas kepemilikan keluarga memperkuat hubungan antara keberadaan blockholders dan audit fee. Homogenitas Kepemilikan Keluarga Keberadaan Blockholders Audit Fees Jumlah Blockholders Gambar 1 : Kerangka pemikiran teoritis 2026 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis data empiris untuk memahami bagaimana karakteristik struktur kepemilikan, khususnya blockholders, berkaitan dengan audit fees pada perusahaan keluarga yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Fokus penelitian diarahkan pada perusahaan yang beroperasi di sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals selama periode 2021Ae2024, mengingat kedua sektor tersebut memiliki karakter risiko yang berbeda dan relevan dalam konteks penilaian risiko audit. Data penelitian berupa data sekunder yang dikumpulkan dari laporan tahunan dan laporan keuangan auditan perusahaan. Serta laporan keuangan auditan yang dipublikasikan secara resmi. Seluruh dokumen dikumpulkan melalui situs Bursa Efek Indonesia dan laman resmi perusahaan. Informasi mengenai struktur kepemilikan saham diidentifikasi dari bagian kepemilikan saham SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 dalam laporan tahunan, sementara data audit fees diperoleh dari pengungkapan biaya audit yang tercantum dalam catatan atas laporan keuangan. Penelitian ini secara khusus membatasi sampel pada perusahaan keluarga yang secara konsisten mengungkapkan informasi kepemilikan dan audit fees selama periode pengamatan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, yaitu dengan menelusuri dan mencatat informasi yang relevan dari dokumen perusahaan. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan kelengkapan data, keberlanjutan pencatatan perusahaan selama periode penelitian, serta kejelasan struktur kepemilikan saham. Populasi awal penelitian mencakup seluruh perusahaan sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021Ae2024 sebanyak 85 perusahaan. Selanjutnya, proses penyaringan dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, yaitu: . perusahaan yang tidak mengungkapkan audit fees secara konsisten selama periode penelitian dikeluarkan sebanyak 20 perusahaan. perusahaan yang tidak termasuk kategori perusahaan keluarga dikeluarkan sebanyak 10 perusahaan. perusahaan yang memiliki data tidak lengkap terkait struktur kepemilikan dikeluarkan sebanyak 7 perusahaan. Berdasarkan proses tersebut, diperoleh sebanyak 48 perusahaan sebagai sampel akhir dengan total 192 observasi yang berasal dari data panel selama periode 2021Ae2024. Analisis data dilakukan menggunakan regresi data panel karena karakteristik data mencakup dimensi waktu dan individu perusahaan. Untuk memastikan kesesuaian model estimasi, dilakukan serangkaian pengujian pemilihan model, termasuk uji Chow, uji Hausman, dan uji Lagrange Multiplier. Pengujian hipotesis dilakukan dengan tingkat signifikansi lima persen. Seluruh proses analisis diarahkan untuk memperoleh estimasi yang stabil dan dapat merepresentasikan hubungan antar variabel secara empiris. Audit fees digunakan sebagai variabel dependen dalam penelitian ini dan diukur menggunakan logaritma natural dari biaya audit eksternal yang dilaporkan perusahaan. Transformasi logaritma diterapkan untuk mengurangi potensi distorsi distribusi data dan meningkatkan keandalan hasil Variabel independen terdiri dari keberadaan blockholders dan jumlah blockholders. Keberadaan blockholders diidentifikasi berdasarkan ada tidaknya pemegang saham dengan kepemilikan minimal lima persen selain pemegang saham pengendali utama, yang dinyatakan dalam bentuk variabel dummy. Jumlah blockholders diukur dengan menghitung banyaknya pemegang saham yang memiliki kepemilikan saham minimal lima persen selain pemegang saham pengendali utama. Variabel moderasi dalam penelitian ini adalah homogenitas kepemilikan keluarga. Variabel ini diukur berdasarkan kesamaan tipe pemegang saham terbesar dalam perusahaan, dengan nilai satu diberikan apabila dua atau tiga pemegang saham terbesar berasal dari keluarga yang sama, dan nilai nol apabila struktur kepemilikan tersebut bersifat heterogen. Seluruh variabel diukur menggunakan skala nominal dan rasio sesuai dengan karakteristik masing-masing variabel Oleh karena itu, dalam konteks perusahaan keluarga dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi, peran blockholders tidak dapat dipandang semata sebagai mekanisme pengawasan, melainkan juga sebagai sumber potensi risiko tata kelola yang relevan dalam penilaian audit eksternal. Tabel 2 Definisi Operasional No Variabel Jenis Variabel Audit Fees Variabel Dependen Keberadaan Variabel Blockholders Independen Jumlah Blockholders Variabel Independen Homogenitas Variabel Moderasi Kepemilikan Keluarga Sumber: data yang diolah 2026 Pengukuran Logaritma natural biaya audit eksternal Dummy . = ada blockholder Ou5% selain pengendali utama. 0 = tidak ad. Jumlah pemegang saham Ou5% selain pengendali utama Dummy . = kepemilikan keluarga 0 = heteroge. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 HASIL PENELITIAN Hasil Pemilihan Model Regresi Data Panel Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, penelitian ini terlebih dahulu menentukan model regresi data panel yang paling sesuai dengan karakteristik data. Pemilihan model dilakukan melalui uji Chow, uji Hausman, dan uji Lagrange Multiplier untuk membandingkan model common effect, fixed effect, dan random effect. Tabel 3. Hasil Uji Chow Statistik Nilai Cross-section F 3,47 Probabilitas 0,000 Sumber: Data sekunder diolah, 2026. Hasil uji Chow menunjukkan nilai Cross-section F sebesar 3,47 dengan probabilitas 0,000, yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 5 persen ( = 0,. Hal ini mengindikasikan bahwa hipotesis nol yang menyatakan bahwa model common effect lebih tepat dibandingkan model fixed effect Secara statistik, hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan karakteristik individu antar perusahaan dalam sampel yang tidak dapat diabaikan. Dengan kata lain, terdapat efek spesifik masing-masing perusahaan yang memengaruhi hubungan antara variabel independen dan audit Oleh karena itu, model fixed effect dinilai lebih mampu menangkap variasi heterogenitas antar perusahaan dibandingkan model common effect yang mengasumsikan bahwa seluruh unit observasi bersifat homogen. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam konteks perusahaan keluarga, karakteristik unik setiap perusahaan seperti struktur kepemilikan, pola pengendalian, maupun kompleksitas tata Kelola memiliki peran penting dalam menjelaskan variasi audit fees. Dengan demikian, berdasarkan hasil uji Chow, model estimasi selanjutnya perlu mempertimbangkan efek individual melalui pendekatan fixed effect sebelum dilakukan pengujian lanjutan menggunakan uji Hausman. Tabel 4. Hasil Uji Hausman Statistik Chi-Square Probabilitas Sumber: Data sekunder diolah, 2026. Nilai 5,82 0,213 Hasil uji Hausman menunjukkan nilai Chi-Square sebesar 5,82 dengan probabilitas 0,213, yang lebih besar dari tingkat signifikansi 5 persen ( = 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa hipotesis nol tidak dapat ditolak, sehingga model random effect lebih tepat digunakan dibandingkan model fixed effect. Secara metodologis, hasil ini menunjukkan bahwa perbedaan estimasi koefisien antara model fixed effect dan random effect tidak bersifat sistematis. Dengan demikian, efek individual perusahaan dalam model dapat diasumsikan tidak berkorelasi dengan variabel independen yang digunakan dalam penelitian. Kondisi ini memenuhi asumsi dasar penggunaan model random effect, yaitu bahwa variasi karakteristik spesifik perusahaan bersifat acak dan tidak menimbulkan bias dalam estimasi parameter. Dalam konteks penelitian ini, hasil uji Hausman mengindikasikan bahwa variasi audit fees pada perusahaan keluarga tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh karakteristik unik masing-masing perusahaan yang melekat secara tetap, melainkan juga oleh variasi acak yang dapat dijelaskan secara lebih efisien melalui pendekatan random effect. Oleh karena itu, berdasarkan hasil uji Hausman, model random effect dinilai lebih efisien dan konsisten untuk digunakan dalam pengujian hipotesis selanjutnya. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Tabel 5. Hasil Uji Lagrange Multiplier Statistik Breusch-Pagan Probabilitas Sumber: Data sekunder diolah, 2026. Nilai 24,19 0,000 Hasil uji Lagrange Multiplier (BreuschAePaga. menunjukkan nilai statistik sebesar 24,19 dengan probabilitas 0,000, yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 5 persen ( = 0,. Hasil ini mengindikasikan bahwa hipotesis nol yang menyatakan bahwa model common effect lebih tepat dibandingkan model random effect ditolak. Secara metodologis, uji Lagrange Multiplier digunakan untuk menentukan apakah model random effect lebih sesuai dibandingkan model common effect. Nilai probabilitas yang signifikan menunjukkan adanya variasi efek individu antar perusahaan yang tidak dapat diabaikan dalam model estimasi. Dengan demikian, model random effect dinilai lebih mampu menangkap heterogenitas antar perusahaan dibandingkan model common effect yang mengasumsikan keseragaman seluruh unit observasi. Dalam konteks penelitian ini, hasil tersebut mengindikasikan bahwa perbedaan karakteristik perusahaan keluarga termasuk struktur kepemilikan dan pola pengendalian berkontribusi terhadap variasi audit fees. Oleh karena itu, berdasarkan hasil uji Lagrange Multiplier dan didukung oleh uji Hausman sebelumnya, model random effect dipilih sebagai model estimasi akhir dalam pengujian hipotesis penelitian. Hasil Statistik Deskriptif Statistik deskriptif memberikan gambaran umum mengenai karakteristik variabel penelitian, khususnya audit fees dan struktur kepemilikan pada perusahaan keluarga. Tabel 6. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Variabel Mean Audit Fees (L. 192 20,34 Keberadaan Blockholders 192 0,68 Jumlah Blockholders 192 1,94 Homogenitas Kepemilikan Keluarga 192 0,55 Sumber: Data sekunder diolah, 2026. Minimum 18,12 0,00 0,00 0,00 Maximum 23,87 1,00 4,00 1,00 Std. Dev. 1,21 0,47 1,02 0,50 Statistik deskriptif pada Tabel 6 memberikan gambaran umum mengenai karakteristik variabel penelitian yang mencakup audit fees dan struktur kepemilikan pada perusahaan keluarga selama periode pengamatan. Variabel audit fees yang diukur menggunakan logaritma natural menunjukkan nilai rata-rata sebesar 20,34, dengan nilai minimum 18,12 dan maksimum 23,87. Rentang nilai tersebut mencerminkan adanya variasi biaya audit antar perusahaan keluarga, yang mengindikasikan perbedaan tingkat kompleksitas operasional dan risiko audit yang dihadapi Nilai simpangan baku sebesar 1,21 menunjukkan variasi audit fees yang relatif moderat dalam sampel penelitian. Variabel keberadaan blockholders memiliki nilai rata-rata 0,68, yang mengindikasikan bahwa sekitar 68 persen perusahaan keluarga dalam sampel memiliki pemegang saham besar selain pemegang saham pengendali utama. Nilai simpangan baku sebesar 0,47 menunjukkan adanya variasi yang cukup seimbang antara perusahaan yang memiliki dan tidak memiliki blockholders Untuk variabel jumlah blockholders, nilai rata-rata sebesar 1,94 menunjukkan bahwa perusahaan keluarga umumnya memiliki hampir dua pemegang saham besar di luar pengendali utama. Nilai maksimum sebesar 4,00 mengindikasikan adanya perusahaan dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang relatif tinggi. Simpangan baku sebesar 1,02 mencerminkan variasi jumlah blockholders yang cukup besar antar perusahaan. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Sementara itu, variabel homogenitas kepemilikan keluarga memiliki nilai rata-rata 0,55, yang menunjukkan bahwa lebih dari separuh perusahaan keluarga dalam sampel memiliki struktur kepemilikan yang homogen. Hal ini mengindikasikan kecenderungan dominasi pengendalian oleh pemegang saham dengan tipe kepemilikan yang seragam, yang berpotensi memengaruhi persepsi risiko tata kelola dan penilaian risiko audit oleh auditor. Statistik deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan keluarga dalam sampel memiliki keberadaan blockholders selain pemegang saham pengendali utama. Rata-rata jumlah blockholders yang mendekati dua pemegang saham besar mengindikasikan struktur pengendalian yang relatif terkonsentrasi. Variasi nilai pada masing-masing variabel tersebut menunjukkan adanya perbedaan karakteristik struktur kepemilikan dan biaya audit antar perusahaan, sehingga relevan untuk dianalisis lebih lanjut melalui pengujian regresi data panel. Hasil Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan model random effect untuk menilai keterkaitan antara struktur blockholders dan audit fees serta peran homogenitas kepemilikan keluarga sebagai variabel moderasi. Tabel 7. Hasil Regresi Data Panel (Model Random Effec. Variabel Koefisien t-Statistik Keberadaan Blockholders 0,214 2,87 Jumlah Blockholders 0,071 2,41 Homogenitas Kepemilikan 0,193 2,22 Keluarga Interaksi Keberadaan 0,146 2,05 Blockholders y Homogenitas Konstanta 18,92 9,14 R-squared 0,36 Prob (F-statisti. 0,000 Sumber: Data sekunder diolah, 2026. Probabilitas 0,005 0,281 0,028 0,041 0,000 Hasil Regresi Data Panel (Model Random Effec. Tabel 7 menyajikan hasil estimasi regresi data panel menggunakan model random effect untuk menguji pengaruh struktur blockholders terhadap audit fees pada perusahaan keluarga. Nilai Prob (F-statisti. sebesar 0,000 menunjukkan bahwa model regresi secara keseluruhan signifikan pada tingkat kepercayaan 95 persen. Nilai R-squared sebesar 0,36 mengindikasikan bahwa sebesar 36 persen variasi audit fees dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen dalam model, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Variabel keberadaan blockholders memiliki koefisien positif sebesar 0,214 dengan nilai probabilitas 0,005, yang signifikan pada tingkat 5 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa keberadaan pemegang saham besar selain pemegang saham pengendali utama berasosiasi dengan peningkatan audit fees. Temuan ini mengindikasikan bahwa auditor memandang kehadiran blockholders sebagai sumber tambahan kompleksitas tata kelola dan potensi konflik keagenan, sehingga mendorong peningkatan upaya audit. (Edmans, 2014. Edmans & Holderness, 2. (Edmans, 2014. Edmans & Holderness, 2. Variabel jumlah blockholders tidak berpengaruh signifikan terhadap audit fees . > 0,. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah blockholders tidak berpengaruh signifikan terhadap audit Temuan ini mengindikasikan bahwa auditor tidak semata-mata mempertimbangkan jumlah pemegang saham besar dalam menilai risiko audit, tetapi lebih menitikberatkan pada struktur dan pola pengendalian yang terbentuk. Dengan demikian, aspek kuantitatif berupa jumlah blockholders kurang relevan dibandingkan karakteristik hubungan dan potensi dominasi pengendalian dalam perusahaan keluarga. Temuan ini sejalan dengan (Edmans, 2014. Edmans & SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Holderness, 2. yang menyatakan bahwa efektivitas blockholders dalam tata kelola tidak ditentukan oleh jumlahnya, melainkan oleh insentif dan interaksi antar pemegang saham. Selanjutnya, homogenitas kepemilikan keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap audit fees dengan koefisien 0,193 dan probabilitas 0,028. Temuan ini menunjukkan bahwa keseragaman tipe kepemilikan keluarga meningkatkan persepsi risiko dominasi pengendalian dan potensi entrenchment, sehingga auditor merespons dengan meningkatkan intensitas audit. Interaksi antara keberadaan blockholders dan homogenitas kepemilikan keluarga memiliki koefisien positif sebesar 0,146 dengan probabilitas 0,041, yang menunjukkan efek moderasi yang Hasil ini mengindikasikan bahwa homogenitas kepemilikan keluarga memperkuat hubungan positif antara keberadaan blockholders dan audit fees. Dengan kata lain, dampak keberadaan blockholders terhadap audit fees menjadi lebih kuat ketika struktur kepemilikan keluarga bersifat homogen. Secara keseluruhan, hasil regresi ini menegaskan bahwa struktur dan karakter pengendalian kepemilikan memiliki peran penting dalam penilaian risiko audit pada perusahaan keluarga, dan auditor tidak hanya mempertimbangkan keberadaan pemegang saham besar, tetapi juga pola dominasi pengendalian yang terbentuk. xtset firmid year Panel variable: firmid . trongly balance. Time variable : year, 2021 to 2024 Delta : 1 unit summarize lnauditfee pb nb hk Variable Obs Mean Std. Dev. Min Max -------------------------------------------------------------lnauditfee xtreg lnauditfee pb nb hk c. pb##c. hk, re ----------------------------------------------------------------------------lnauditfee | Coef. Std. Err. P>. ------------- -------------------------------------------------------------pb | 0. | 0. | 0. pb#hk | 0. _cons | 18. ----------------------------------------------------------------------------- Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan guna menilai apakah hubungan yang dirumuskan secara teoretis dapat dibuktikan secara empiris. Hasil pengujian ini memberikan gambaran mengenai arah dan kekuatan keterkaitan antara struktur blockholders dan audit fees, serta peran homogenitas kepemilikan keluarga dalam memperkuat hubungan tersebut. Tabel. 8 Uji Hipotesis Kode Hipotesis Keberadaan Blockholders berasosiasi positif dengan Audit Fees Jumlah Blockholders berasosiasi positif dengan Audit Fees Keputusan Diterima Ditolak SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Homogenitas Kepemilikan Keluarga memperkuat hubungan Keberadaan Blockholders dan Audit Fees Sumber: Hasil Hipotesis 2026 Diterima Pengujian Hipotesis 1 (H. : Keberadaan Blockholders dan Audit Fees Hasil pengujian menunjukkan bahwa keberadaan blockholders berasosiasi positif dan signifikan dengan audit fees, sehingga hipotesis pertama diterima. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberadaan pemegang saham besar selain pemegang saham pengendali utama dipersepsikan auditor sebagai sumber tambahan risiko tata kelola dan potensi konflik keagenan. Auditor merespons kondisi tersebut dengan meningkatkan intensitas pemeriksaan yang tercermin dalam audit fees yang lebih tinggi. Hasil ini mendukung temuan (Barroso et al. , 2018. Maury & Pajuste, 2. yang menyatakan bahwa keberadaan blockholders dapat meningkatkan persepsi risiko audit, khususnya dalam konteks konflik keagenan tipe II antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham minoritas. Temuan ini konsisten dengan studi terbaru seperti Barroso et al. yang menunjukkan bahwa keberadaan blockholders meningkatkan kompleksitas tata kelola dan risiko audit. Dalam konteks perusahaan keluarga, konflik keagenan tipe II memperkuat persepsi risiko tersebut, sehingga auditor meningkatkan intensitas audit yang tercermin dalam audit fees. Selain itu, temuan ini juga konsisten dengan (Ge et al. , 2. yang menunjukkan bahwa blockholders mendorong peningkatan transparansi dan pengungkapan, yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan prosedur audit. Dengan demikian, dalam konteks perusahaan keluarga, keberadaan blockholders tidak hanya berperan sebagai mekanisme monitoring, tetapi juga sebagai sumber kompleksitas governance yang meningkatkan persepsi risiko auditor. Keberadaan blockholders menciptakan dinamika tata kelola yang lebih kompleks sehingga meningkatkan risiko audit. Temuan ini mengindikasikan bahwa kehadiran pemegang saham besar selain pemegang saham pengendali utama dipersepsikan auditor sebagai kondisi yang menambah kompleksitas tata kelola perusahaan. Dalam konteks Agency Theory, khususnya konflik keagenan tipe II, struktur kepemilikan seperti ini berpotensi meningkatkan ketegangan kepentingan antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham minoritas. Kondisi tersebut mendorong auditor untuk bersikap lebih berhati-hati dengan memperluas cakupan pemeriksaan dan meningkatkan intensitas audit. Respons tersebut tercermin dalam audit fees yang lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa auditor mempertimbangkan struktur kepemilikan sebagai bagian penting dari penilaian risiko audit pada perusahaan keluarga. Hal ini terjadi karena auditor tidak hanya menilai risiko dari sisi manajemen, tetapi juga mempertimbangkan potensi konflik antar pemegang saham besar yang dapat memengaruhi kualitas laporan keuangan. Pengujian Hipotesis 2 (H. : Jumlah Blockholders dan Audit Fees Berbeda dengan dugaan awal, hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah blockholders tidak berpengaruh signifikan terhadap audit fees, sehingga hipotesis kedua ditolak. Temuan ini mengindikasikan bahwa banyaknya pemegang saham besar dalam perusahaan keluarga tidak secara otomatis meningkatkan persepsi risiko audit. Auditor tampaknya tidak semata-mata mempertimbangkan jumlah blockholders, tetapi lebih menilai bagaimana pola pengendalian dan koordinasi antar pemegang saham besar tersebut terbentuk. Hasil ini tidak mendukung temuan (Maury & Pajuste, 2. yang menemukan pengaruh positif jumlah blockholders terhadap audit fees, namun sejalan dengan pandangan (Edmans & Holderness, 2017. Ensaf et al. , 2025. Owusu et al. , 2. yang menekankan bahwa efektivitas blockholders dalam mekanisme pengawasan sangat bergantung pada perilaku dan kepentingan yang menyertainya, bukan hanya pada kuantitas Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh (Smaili et al. , 2. yang menunjukkan bahwa blockholders memiliki dua peran yang berlawanan, yaitu sebagai mekanisme monitoring yang dapat mengurangi agency problem, namun di sisi lain juga berpotensi mengejar kepentingan pribadi yang dapat merugikan pemegang saham minoritas. Dualitas peran ini menyebabkan pengaruh blockholders menjadi tidak konsisten, sehingga jumlah blockholders tidak selalu mencerminkan tingkat risiko yang dipersepsikan oleh auditor. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Selain itu, hasil ini juga didukung oleh (Marquardt & Sanchez, 2022. yang menekankan bahwa pengaruh blockholders lebih ditentukan oleh karakteristik dan peran mereka dalam perusahaan, seperti keterlibatan aktif dalam dewan direksi, dibandingkan dengan jumlahnya semata. Hal ini menunjukkan bahwa auditor lebih mempertimbangkan kualitas monitoring daripada kuantitas blockholders dalam menilai risiko audit. Dengan demikian, temuan ini mengindikasikan bahwa jumlah blockholders bukan merupakan indikator yang cukup kuat dalam menentukan audit fees, karena efeknya bergantung pada interaksi antara fungsi monitoring dan potensi ekspropriasi yang dimiliki oleh masing-masing Hal ini menunjukkan bahwa jumlah blockholders tidak selalu mencerminkan peningkatan risiko tata kelola yang dihadapi auditor. Temuan ini mengindikasikan bahwa banyaknya pemegang saham besar dalam perusahaan keluarga tidak serta-merta mencerminkan peningkatan risiko Dalam perspektif Agency Theory, keberadaan beberapa blockholders belum tentu memperburuk konflik keagenan tipe II, terutama apabila tidak terbentuk pola pengendalian yang Dari sudut pandang auditor, kondisi ini menunjukkan bahwa aspek kuantitatif berupa jumlah pemegang saham besar kurang relevan dibandingkan karakter hubungan dan pola pengendalian yang terbentuk di antara mereka. Oleh karena itu, auditor tampaknya lebih menaruh perhatian pada bagaimana kekuasaan pengendalian dijalankan, bukan sekadar pada jumlah blockholders yang ada. Ketidaksignifikanan ini menunjukkan bahwa jumlah blockholders tidak selalu mencerminkan kekuatan kontrol, sehingga tidak menjadi indikator utama dalam penilaian risiko audit. Temuan ini mengindikasikan bahwa auditor dalam praktiknya lebih menekankan aspek kualitas pengendalian . ontrol effectivenes. dibandingkan jumlah pemegang saham besar. Dengan demikian, jumlah blockholders tidak menjadi indikator utama dalam penilaian audit risk, terutama dalam konteks perusahaan keluarga dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi. Pengujian Hipotesis 3 (H. : Moderasi Homogenitas Kepemilikan Keluarga Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel moderasi mampu memperkuat hubungan antara variabel independen dan audit fee. Dalam perspektif agency theory, kondisi ini meningkatkan konflik keagenan tipe II antara pemegang saham mayoritas dan minoritas. Ketika kepemilikan terkonsentrasi pada kelompok yang homogen, potensi ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas menjadi lebih tinggi karena lemahnya mekanisme checks and balances. Akibatnya, auditor akan memandang kondisi tersebut sebagai peningkatan audit risk. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Ahmed & Tahir, 2. sebelumnya yang menegaskan bahwa mekanisme tata kelola perusahaan memainkan peran penting dalam meningkatkan efektivitas keputusan keuangan terhadap kinerja perusahaan. Studi oleh (Sai & Yamada, 2. (Barua et al. , 2026. Ensaf et al. , 2025. Owusu et al. , 2. menunjukkan bahwa corporate governance secara signifikan memperkuat hubungan antara homogenitas dan audit fee melalui pengurangan konflik keagenan. Dari perspektif agency theory, keberadaan mekanisme pengawasan seperti dewan direksi, kepemilikan institusional, maupun struktur kepemilikan mampu mengurangi opportunistic behavior manajer sehingga meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya (Jensen & Meckling. Shleifer & Vishny, 1. Hal ini juga didukung oleh (Sai & Yamada, 2. yang menemukan bahwa kepemilikan institusional, termasuk passive ownership, berkontribusi dalam meningkatkan kualitas corporate governance melalui peningkatan monitoring dan transparansi Selain itu, struktur kepemilikan juga menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas Penelitian oleh(Ducassy & Guyot, 2. menunjukkan bahwa keberadaan blockholders dapat berfungsi sebagai mekanisme monitoring yang efektif dalam mengurangi konflik keagenan antara manajer dan pemegang saham. Namun, dalam kondisi tertentu, terutama ketika terjadi konsentrasi kepemilikan yang tinggi, dapat muncul konflik principalAeprincipal yang justru meningkatkan biaya keagenan. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 213-228 Lebih lanjut (Tai, 2. , studi mengungkapkan bahwa kualitas corporate governance yang baik, seperti independensi dewan, mampu memperkuat hubungan antara mekanisme internal perusahaan dan kinerja perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa peran moderasi tidak hanya bergantung pada keberadaan variabel tersebut, tetapi juga pada kualitas implementasinya. Namun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua bentuk kepemilikan memperkuat hubungan tersebut. Kepemilikan keluarga, misalnya, dapat melemahkan hubungan antara homogenitas dan audit fee karena adanya konflik kepentingan antara pemegang saham mayoritas dan minoritas . rincipalAeprincipal conflic. Kondisi ini mengindikasikan bahwa efektivitas moderasi sangat bergantung pada karakteristik struktur kepemilikan. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat literatur yang menyatakan bahwa variabel moderasi seperti corporate governance dan struktur kepemilikan memiliki peran krusial dalam menentukan arah dan kekuatan hubungan antara variabel independen dan audit fee. Temuan ini juga menegaskan bahwa kualitas tata kelola yang baik menjadi faktor kunci dalam meningkatkan audit effort perusahaan. Kondisi homogenitas memperbesar kekuatan kontrol kelompok tertentu sehingga meningkatkan risiko ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas. PENUTUP Penelitian ini dilakukan untuk memahami bagaimana struktur blockholders berkaitan dengan audit fees pada perusahaan keluarga yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan menempatkan homogenitas kepemilikan keluarga sebagai konteks penting dalam hubungan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan blockholders berasosiasi dengan peningkatan audit fees, yang mengindikasikan bahwa auditor memandang kehadiran pemegang saham besar selain pemegang saham pengendali utama sebagai sinyal meningkatnya kompleksitas dan risiko tata Namun demikian, jumlah blockholders tidak terbukti memengaruhi audit fees secara signifikan, yang menunjukkan bahwa banyaknya pemegang saham besar tidak serta-merta mencerminkan tingkat risiko audit. Temuan ini menguatkan pandangan bahwa auditor lebih menaruh perhatian pada karakter dan pola pengendalian yang terbentuk, bukan sekadar pada jumlah pemegang saham besar. Selain itu, homogenitas kepemilikan keluarga terbukti memperkuat keterkaitan antara keberadaan blockholders dan audit fees, yang mengindikasikan bahwa keseragaman kepentingan dalam struktur kepemilikan keluarga meningkatkan persepsi risiko entrenchment dan mendorong auditor meningkatkan intensitas pemeriksaan. Secara praktis, temuan ini menegaskan pentingnya bagi auditor, regulator, dan pemangku kepentingan untuk menilai struktur kepemilikan perusahaan keluarga secara lebih mendalam, terutama terkait pola pengendalian dan potensi konsentrasi kekuasaan, dalam proses penilaian risiko audit. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena berfokus pada perusahaan keluarga dan menggunakan audit fees sebagai proksi risiko audit, sehingga hasilnya belum tentu sepenuhnya mencerminkan seluruh dimensi risiko yang dihadapi auditor. Oleh karena itu, penelitian mendatang disarankan untuk memperluas cakupan objek penelitian, memasukkan indikator tata kelola perusahaan lainnya, serta mengeksplorasi konteks sektoral atau negara yang berbeda agar pemahaman mengenai hubungan antara struktur kepemilikan dan audit eksternal dapat semakin DAFTAR PUSTAKA