http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 EWI Artikel Penelitian The Relationship between Physical Activity and Cognitive Function of the Elderly in Lempake Village. Samarinda Dwi Nopriyanto1. Eva Fitriani1. Bahtiar Bahtiar1. Syukma Rhamadani Faizal Nur1 Abstrak Pendahuluan: Fungsi kognitif mengacu kepada kemampuan mental yang berbeda. Peningkatan penurunan kognitif terkait usia, telah menjadi beban kesehatan, sehingga mendesak untuk mengidentifikasi strategi efektif berbasis gaya hidup yang dapat dimodifikasi untuk menguranginya diantaranya dengan melakukan aktivitas fisik yang teratur. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif lansia, dimana hasil penelitian ini akan membantu menghasilkan gambaran yang berfokus pada pengurangan risiko perkembangan gangguan kognitif, sehubungan dengan aktivitas fisik pada lansia. Metode: Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan Cross-Sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah Lansia yang berdomisili di Kelurahan Lempake Kota Samarinda. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan teknik proporsional stratified random sampling. Dalam penelitian ini analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan spearmanAos roh Hasil : Sebanyak . ,5%) lansia berjenis kelamin perempuan, mayoritas berpendidikan SD . ,6%), berusia antara 60-72 Tahun, . ,8%) melaksanakan aktivitas sedang serta . %) memiliki fungsi intelektual utuh. Terdapat hubungan yang signifikan dan berpola negatif antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif lansia . =-0,594, p=0,. Kesimpulan: Temuan penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia. Dimana kegiatan aktivitas fisik dapat dimodifikasi untuk mencegah atau menunda timbulnya gangguan kognitif pada lansia. Karena efek aktivitas fisik dapat dianggap sebagai kegiatan untuk menstimulus aktivitas otak dan fungsi kognitif di usia tua dan dapat diakomodasi dalam intervensi terkait proses penuaan. Kata Kunci: Aktivitas Fisik. Fungsi Kognitif. Lanjut Usia Abstract Introduction: Cognitive function refers to different mental abilities. The increase in age-related cognitive decline has become a health burden, so it is urgent to identify effective lifestyle-based strategies that can be modified to reduce it, including by engaging in regular physical activity. Objective: To determine the relationship between physical activity and cognitive function in the elderly, the results of this research will help produce a picture that focuses on reducing the risk of developing cognitive disorders, in connection with physical activity in the elderly. Methods: The research was conducted using a quantitative design with a cross-sectional approach. The sampling used in this research was proportional stratified random sampling In this research, univariate analysis uses frequency distribution, bivariate analysis uses spearmanAos roh analysis. Results: As many as . 5%) of the elderly are female, the majority have elementary school education . 6%), aged between 60-72 years, . 8%) carry out moderate activities and . %) have intact intellectual function. There is a significant and negative relationship between physical activity and cognitive function in the elderly . =-0. 594, p=0. Conclusions: The findings of this study show a relationship between physical activity and cognitive function in the elderly. Where physical activity activities can be modified to prevent or delay the onset of cognitive disorders in the elderly. Because the effects of physical activity can be considered as an activity to stimulate brain activity and cognitive function in old age and can be accommodated in interventions related to the aging process. Keywords: Physical Activity. Cognitive Function. Elderly Submitted : 12 March 2024 Revised: 29 May 2024 Affiliasi penulis : 1. Prodi Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Kalimantan Timur Korespondensi : AuDwi NopriyantoAy nopriyanto@yahoo. id Telp: 6281253000816 Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Accepted: 12 June 2024 PENDAHULUAN Fungsi kognitif mengacu kepada kemampuan mental yang berbeda, termaksud diantaranya Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 perhatian dan konsentrasi . Beberapa penelitian teoritis dan empiris telah menjelaskan bahwa populasi lanjut usia . rentan terhadap masalah gangguan kognitif seiring bertambahnya usia . Penurunan kognitif biasanya terdeteksi pada usia paruh baya, penurunan kognitif yang berkaitan dengan usia adalah hal yang biasa . Peningkatan penurunan kognitif terkait usia dan demensia, termasuk penyakit Alzheimer, telah menjadi beban kesehatan yang penting . Di seluruh dunia, hampir 47 juta orang hidup dengan demensia pada tahun 2015 . , dan angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 132 juta pada tahun 2050 . , dan sebagian besar dari penderita demensia ini diperkirakan tinggal di negaranegara Asia . Khususnya di Indonesia, dimana demensia merupakan masalah kesehatan yang baru muncul. Pada 2030, penderita demensia diprediksi tembus 2 juta orang di seluruh Indonesia . Karena semakin tingginya proporsi penduduk lansia yang menderita kesehatan mental. Indonesia akan menghadapi masalah kesehatan masyarakat yang sangat besar. Selain itu, disabilitas kognitif tidak hanya berdampak pada individu tetapi juga menimbulkan beban fisik, emosional, dan ekonomi yang besar pada keluarga, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat . Terapi farmasi terkait pengobatan demensia masih kurang dikembangkan. Terdapat kebutuhan mendesak untuk mengidentifikasi strategi efektif berbasis gaya hidup yang dapat dimodifikasi untuk mengurangi potensi risiko demensia. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa kinerja kognitif pada orang dewasa yang lebih tua telah dikaitkan dengan faktor sosial ekonomi, kondisi penyakit dan status kesehatan, hubungan sosial, dan perilaku kesehatan . Dalam penelitiannya Fratiglioni et al. , . , mengidentifikasi tiga faktor gaya hidup yang dapat dimodifikasi yang secara signifikan memperlambat penurunan kognitif dan mencegah demensia Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman diantaranya adalah aktivitas fisik yang teratur . Dampak terhadap kesehatan sering kali tidak memberikan manfaat secara spesifik bagi lansia, meskipun faktanya kelompok ini mungkin mendapatkan lebih banyak manfaat dari aktivitas fisik . Beberapa penelitian cross-sectional melaporkan bahwa aktivitas fisik dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih baik . Lansia mempunyai risiko tertentu untuk menjalani gaya hidup tidak aktif . Sebagian besar penelitian yang meneliti hubungan antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif telah dilakukan di negara-negara barat . Banyak penelitian mengenai fungsi kognitif pada populasi umum lansia di Indonesia. Sehingga pengetahuan ilmiah mengenai manfaat kesehatan dari aktivitas fisik terhadap fungsi kognitif pada lansia di Indonesia. Sebuah penelitian baru-baru ini yang dilakukan di Indonesia, menemukan bahwa aktivitas fisik berbanding terbalik dengan fungsi kognitif . Sedangkan Rinaningsih et al. , . menjelaskan bahwa ada hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif lansia. Namun, masih kurangnya penelitian yang dilakukan di Kota Samarinda Kalimantan Timur yang didedikasikan untuk menentukan hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif lansia di Kelurahan lempake, dimana hasil penelitian ini akan membantu menghasilkan gambaran yang sehubungan dengan aktivitas fisik pada lansia, khususnya di Kota Samarinda METODE Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan Cross-Sectional. Polpulasi dalam penelitian ini adalah lansia berumur Ou60 tahun yang berdomisili di Kelurahan Lempake Kota Samarinda, dengan jumlah Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 sampel 95 orang lansia yang diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin. Dalam penelitian ini sampel menggunakan lansia yang berdomisili di 4 . RT Kelurahan Lempake dengan teknik proporsional stratified random sampling. Pemilihan subjek penelitian dilakukan dengan cara purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi meliputi individu berusia Ou60 tahun, mampu melakukan aktivitas sehari-hari serta mampu mengikuti prosedur penelitian sampai Sedangkan kriteria eksklusi adalah lansia yang tinggal di panti jompo, mempunyai gangguan kesehatan yang pendengaran dan penglihatan. Pengumpulan data dilakukan dengan kunjungan rumah melalui wawancara langsung dan pengisian Instrumen yang digunakan berupa kuesioner Aktivitas Fisik yang terdiri dari 11 pertanyaan dengan menyajikan pilihan jawaban AuYaAy atau AuTidakAy, jika memilih AuYaAy skor 1, jika AuTidakAy maka skor 0. Untuk kuesioner Fungsi Kognitif menggunakan kuesioner SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionnair. yang terdiri dari 10 pertanyaan dengan jawaban benar atau Dalam penelitian ini analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan analisis Spearman,s Analisis statistik dilakukan menggunakan program komputer, dengan perangkat lunak SPSS Statistics 25. Penelitian ini telah mendapat ijin penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman No. 952/UN. 10/AK/2023. HASIL Penelitian ini melibatkan 95 lansia dengan karateristik responden dijelaskan pada (Tabel . Berdasarkan jenis kelamin 69,5% adalah perempuan dan 30,5% lakilaki, memiliki pendidikan terakhir 51,6% . tamat pendidikan sekolah dasar (SD) dan maksimal pendidikan SMA 12,6%, serta lansia berusia antara 60-72 tahun (Tabel . Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Pada (Tabel . menggambarkan 76,8% mayoritas lansia melakukan aktivitas fisik sedang, dan fungsi kognitif lansia sebesar 80% memiliki fungsi intelektual utuh. Penelitian hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif lansia . =0,. , serta menunjukan hubungan kuat dan berpola negatif . =-0,. hal ini menjelaskan bahwa Karateristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Terakhir Tidak Sekolah SMP SMA semakin berkurang aktivitas yang dilakukan oleh lansia akan mempengaruhi kesehatan fungsi kognitif pada lansia tersebut (Tabel . Tabel 1 Distribusi Karateristik Demografi Lansia Berdasarkan Jenis Kelamin, dan Pendidikan terakhir Tabel 2 Distribusi Karateristik Demografi Lansia berdasarkan Usia Variabel Mean MinMax 95% CI Umur 92 Ae 63. Tabel 3 Distribusi Frekuensi Aktivitas Fisik dan Fungsi Kognitif Lansia Variabel Aktivitas Fisik Ringan Sedang Berat Fungsi Kognitif Fungsi Intelektual Utuh Fungsi Intelektual Kerusakan Ringan Tabel 4 Analisa Bivariat Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Fungsi Kognitif Lansia Variabel Aktivitas Fisik Fungsi Kognitif P-value Signifikan <0. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan aktiviatas fisik dan fungsi kognitif Dimana proposi antara lansia laki-laki dan perempuan yaitu sebanyak 30,5% : 69,5% dengan usian antara 60-72 tahun dengan rata-rata usia berkisar 62,5 tahun. Berdasarkan hasil survey di Indonesia jumlah lansia perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki . , perbedaan jenis kelamin ini dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi psikologis pada lansia, yang berdampak pada pilihan cara adaptasi dalam kehidupan mereka . Hal ini dapat dilihat dari usia harapan hidup yang menjadi masyarakatnya termaksud lansia didalamnya dimana tingkat harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat dengan mayoritas usia berkisar 60-69 tahun . Peningkatan mempengaruhi kebiasaan lansia dalam kehidupan sehari-hari yang mana akan mempengaruhi kesehatan lansia itu sendiri. Kelainan penyakit yang sering terjadi pada lansia yang dimulai dan berkembang secara diam-diam, dengan kelompok gejala utama yang khas adalah disfungsi kognitif atau penurunan fungsi kognifit pada lansia . Fratiglioni et , . Jia et al. , . Melaporkan bahwa ada tiga faktor gaya hidup yang dapat memperlambat penurunan fungsi kognitif dan mencegah terjadinya demensia: jaringan yang terintegrasi secara sosial, aktivitas waktu luang serta aktivitas fisik yang teratur. Didalam penelitian ini dijelasakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif lansia . =0,. Hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif lansia . =0,. , serta menunjukan hubungan kuat dan berpola negatif . =-0,. , hal ini menunjukkan bahwa semakin berkurang aktivitas yang dilakukan oleh lansia akan mempengaruhi kesehatan fungsi kognitif pada lansia Beberapa penelitian menunjukkan perlindungan paling besar terhadap dapak Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman buruk usia terhadap kesehatan dan kognisi . Karena aktivitas fisik dan olah raga merupakan pengobatan alternatif berbiaya rendah dan beresiko rendah . Dimana aktivitas fisik dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan atau penurunan kognitif . Kumar et al. , . , menjelaskan bahwa lansia yang melakukan aktivitas fisik memiliki skor fungsi kognitif lebih tinggi dibandingkan dengan lansia yang tidak melakukan aktivitas fisik. Temuan ini juga di kuatkan oleh penelitian sebelumnya dimana dapat diimpulkan bahwa tingkat aktivitas fisik yang dilakukan oleh lansia berkaitan dengan perlambatan penurunan tingkat kognitif lansia itu sendiri . Ae. Bukti lain juga menjelaskan bahwa aktivitas fisik secara teratur melalui pengelolaan faktor resiko kardiovaskuler seperti penyakit hipertensi, diabetes, dan obesitas dapat melindungi kemapuan kognitif dan mengurangi resiko demensia di usia lanjut . Aktivitas kebugaran fisikn . isalnya: perubahan pada sistem kardiovaskuler, tulang dan oto. emosional-depresi, suasan hati, fungsi kognitif dan fungsi sosial pada semua lansi. , dan berdampak secara ekstensif pada lansia yang sehat dan mereka yang mengalami gangguan kognitif . Karena jumlah aktivitas fisik memiliki hubungan terbalik yang lebih besar dengan gangguan kognitif atau penurunan hingga 5000 setara metabolik tugas-menit per minggu . Beberapa penelitian dengan desain kohort cross-sectional/prospektif serta uji coba kontrol secara acak (RCT) menjelaskan temua serupa yang menunjukan bahwa volume hipokampus yang jauh lebih besar dan terkait dengan memori spasial yang lebih baik dan peningkatan fungsi kognitif di anatara individu lansia sehat secara fisik, dibandingkan dengan lansia yang tidak sehat . Oleh karean itu aktivitas fisik untuk lansia dapat memperbaiki defisit fungsi kognitif terkait usia dengan memberikan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 fungsi eksekutif yang lebih baik . , dan dengan pengambilan keputusan yang tepat akan menghasilkan untuk menghindari merugikan bagi lansia di tahun-tahun SIMPULAN Temuan dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia. Dimana kegiatan aktivitas fisik dapat dimodifikasi untuk mencegah atau menunda timbulnya gangguan kognitif pada lansia. Karena efek aktivitas fisik dapat dianggap sebagai kegiatan untuk menstimulus aktivitas otak dan fungsi kognitif di usia tua dan dapat diakomodasi dalam intervensi terkait proses Oleh karena itu, praktisi kesehatan yang ingin meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dapat mengembangkan intervensi terkait aktivitas fisik yang dirancang untuk mengurangi penurunan fungsi kognitif dengan melibatkan kader dalam kegiatan posyandu lansia. Selain itu dalam pengayaan kognitif pada populasi lansia terhadap intervensi prilaku diperlukan penelitian lebih DAFTAR PUSTAKA