Copyright A 2025 pada penulis Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 Pendidikan Ekoteologi Melalui Internalisasi Dan Implementasi Nilai-Nilai Islam Ramah Lingkungan Di Desa Sukajadi Cianjur Asep Supriyadi1*. Fauji Rohmat2. Nessa Sri Neda3. Siti Ajijah4. Riska Nadira5 STAI Al-Azhary Cianjur Email: asepktr@gmail. Abstract Ecotheological education is an approach that integrates Islamic values with ecological awareness in community life. Environmental degradation, such as scattered garbage, the absence of waste banks, and the lack of innovation in waste management, is still found in rural areas, including Sukajadi Village. Cianjur. This reflects the lack of internalization of Islamic values, which emphasize human responsibility as khalifah fil-ardh . on earth. This community service program aims to strengthen community awareness of the importance of environmental protection through educational and religious approaches, particularly by instilling environmentally friendly Islamic values. The community service program utilizes Participatory Action Research (PAR) methods, involving religious leaders, mosque administrators, youth, the Cianjur Regency Environmental Agency, and local residents as key The activity's focus is Sukajadi Village. Campaka District. Cianjur Regency, which boasts strong ecological potential and strong religious beliefs. It is hoped that this activity will foster an ecological culture aligned with Islamic teachings and encourage the sustainability of the village community-based green movement through a participatory approach that fosters community awareness and empowerment. Keywords: Islamic ecotheology, environmental education. Islamic values, community service Abstrak Pendidikan ekoteologi merupakan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kesadaran ekologis dalam kehidupan masyarakat. Fenomena kerusakan lingkungan seperti sampah berserakan, belum adanya bank sampah dan belum ada inovasi dalam pengelolaan sampah masih ditemukan di kawasan pedesaan, termasuk di Desa Sukajadi. Cianjur. Hal ini mencerminkan kurangnya internalisasi nilai-nilai Islam yang menekankan tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil-ardh. Pengabdian ini bertujuan untuk menguatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan melalui pendekatan edukatif dan religius, khususnya dengan menanamkan nilai-nilai Islam ramah lingkungan. Metode pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan dengan menggunakan metode PAR (Participatory Action Researc. yang melibatkan tokoh agama, takmir masjid, pemuda. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur dan warga lokal sebagai mitra utama. Lokus kegiatan adalah Desa Sukajadi. Kecamatan Campaka. Kabupaten Cianjur, yang memiliki potensi ekologis dan religiusitas masyarakat yang kuat. Diharapkan, kegiatan ini dapat membentuk budaya ekologis yang selaras dengan ajaran Islam dan mendorong keberlanjutan gerakan hijau berbasis komunitas desa melalui pendekatan partisipatif yang menumbuhkan kesadaran dan pemberdayaan masyarakat. Kata kunci: ekoteologi Islam, pendidikan lingkungan, nilai Islam, pengabdian masyarakat Pendahuluan Desa Sukajadi. Kecamatan Campaka. Kabupaten Cianjur secara geografis terletak di daerah berbukit dengan struktur tanah labil yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Kabupaten Cianjur merupakan salah satu wilayah dengan kejadian tanah longsor terbanyak di Provinsi Jawa Barat, mencapai 112 peristiwa pada tahun 2020, dan termasuk daerah risiko tinggi dalam Indeks Risiko Bencana Indonesia. Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 Pada November 2023, terjadi banjir dan longsor di Desa Sukajadi yang menyebabkan kerusakan pada lima rumah, dua kolam ikan, dan akses jalan penghubung antar desa sepanjang lebih kurang 16 Meter permukaan tanah tertimbun, serta memaksa sembilan kepala keluarga mengungsi sementara. ttps://rejabar. Isu kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi problem global, tetapi telah berdampak secara nyata hingga ke tingkat komunitas desa, termasuk di Desa Sukajadi. Kecamatan Campaka. Kabupaten Cianjur. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan tokoh masyarakat dan perangkat desa, ditemukan berbagai permasalahan lingkungan seperti penggunaan pupuk kimia secara berlebihan di sektor pertanian, kebiasaan membuang sampah rumah tangga ke saluran irigasi, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar masjid dan rumah ibadah lainnya. Disamping itu juga, minimnya pengarusutamaan nilai-nilai keagamaan dalam perilaku ekologis sehari-hari masyarakat. Padahal, masyarakat Desa Sukajadi dikenal memiliki tingkat religiusitas yang cukup tinggi, yang tampak dari aktifnya kegiatan keagamaan seperti pengajian. TPQ, dan majelis taklim yang tersebar di setiap kedusunan. Pada mulanya, berdasarkan pantauan dan hasil wawancara, warga belum pernah mendengar istilah Ekoteologi Islam yang berkaitan dengan menjaga lingkungan perspektif Islam. Hanya sedikit yang bisa menjelaskan bagaimana ajaran Islam mengajarkan kita untuk merawat alam. Meskipun 94% warga aktif mengikuti pengajian, ternyata materi yang disampaikan jarang membahas soal lingkungan. Hanya 8% materi pengajian yang menyinggung masalah menjaga alam. Ini menunjukkan ada kesenjangan antara semangat beragama yang tinggi dengan kesadaran untuk peduli lingkungan. Hasil pengamatan langsung di lapangan menunjukkan kondisi lingkungan yang Terdapat tumpukan sampah di Lokasi yang dijadikan TPA namun tidak ada Sebanyak 67% keluarga masih membuang sampah dapur ke saluran air, padahal ini bisa menyebabkan penyumbatan dan banjir. Petani juga masih banyak 78% yang menggunakan pupuk kimia berlebihan tanpa memikirkan dampak buruknya pada tanah. Diamping itu juga ada Masyarakat yang sering membakar sampah yang menyebabkan polusi Di sekitar tiga masjid utama desa, kebersihan masih kurang terjaga. Masih banyak sampah plastik berserakan di area parkir dan halaman masjid. Padahal masjid seharusnya menjadi contoh tempat yang bersih dan asri. Desa Sukajadi memiliki modal sosial yang kuat untuk gerakan ramah lingkungan. Ada 15 masjid dan musholla aktif, 8 kelompok majelis taklim, dan 12 kelompok TPQ dengan 245 anak didik. Namun, kemampuan tokoh agama dalam mengaitkan agama dengan masalah lingkungan masih terbatas. Dari 18 tokoh agama, hanya 3 yang pernah memberikan khutbah atau ceramah tentang menjaga lingkungan. Desa Sukajadi memiliki struktur sosial keagamaan yang kuat, akses terhadap kelompok tani dan kelompok pengajian yang aktif, serta kepemimpinan lokal yang terbuka terhadap Akan tetapi, jika potensi ini tidak segera digerakkan dalam kerangka pendidikan ekoteologi yang sistematis dan partisipatif, maka risiko kerusakan lingkungan akan terus berlanjut dan berimplikasi pada menurunnya kualitas hidup masyarakat, bahkan bisa berdampak terhadap nilai-nilai agama yang kehilangan relevansinya dalam praksis sosial. Karena itu, penting dan mendesak untuk melaksanakan program pengabdian ini, agar masyarakat mampu menginternalisasi ajaran Islam yang rahmatan lil Aoalamin dalam relasi mereka dengan alam, serta mewujudkan perilaku ekologis yang berkelanjutan melalui pendekatan religius, edukatif, dan kolaboratif. Metode Penelitian Jenis Pendekatan https://journal-stiehidayatullah. id/index. php/peradaban Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 Metodologi pengabdian menggunakan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam seluruh proses penelitian sesuai dengan prinsip kolaborasi. Lokasi dan Subjek Penelitian berbasis riset ini dilakukan di Desa Sukajadi. Kecamatan Campaka. Kabupaten Cianjur dengan 125-165 subjek yang terdiri dari tokoh agama, pemuda, ibuibu majelis taklim, kelompok tani, anak TPQ, dan perangkat desa. Pemilihan dilakukan secara purposive sampling berdasarkan keterlibatan dalam struktur sosial-keagamaan Teknik Pengumpulan Data Data kuantitatif dikumpulkan melalui survei terstruktur, observasi checklist, dan dokumentasi program. Data kualitatif melalui Focus Group Discussion, wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi dengan triangulasi untuk validitas Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik dengan pendekatan induktif untuk mengidentifikasi tema internalisasi nilai ekoteologi Islam. Hasil Kegiatan Pada praktiknya. Pendidikan ekoteologi islam yang dilakukan pada pengabdian ini Adalah dengan proses edukasi yang membahas konsep pelestarian lingkungan dalam perspektif Islam. Materi yang disampaikan meliputi ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang berkaitan dengan pelestarian alam, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Target peserta adalah remaja dan dewasa untuk meningkatkan kesadaran lingkungan berbasis nilai-nilai Islam. Diantara kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi permasalahn lingkungan Adalah sebagi Seminar Pendidikan Ekoteologi Kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan nilai-nilai Islam untuk lingkungan hijau dan menumbuhkan budaya ekologis. Seminar diselenggarakan bagi pemuda karang taruna sebagai generasi yang memiliki tingkat antusias yang tinggi dalam mengelola Hasilnya, terjadi peningkatan pemahaman mengenai prinsip-prinsip Islam terkait perlindungan lingkungan dan munculnya komitmen kolektif untuk aksi hijau di masa depan. Salah satu contohnya Adalah dengan pembentukan kleompok swadaya Masyarakat (KSM) yang mengelola sampah. Safari Dakwah Ramah Lingkungan Safari Dakwah Ramah Lingkungan ini mengintegrasikan dakwah Islam dengan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui ceramah dan praktik langsung, masyarakat diharapakan sadar tentang pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari ajaran Islam. Kegiatan meliputi sosialisasi tentang pengelolaan sampah, penanaman pohon, dan pembersihan lingkungan serta pembuatan sabun melalui minyak jelantah. Aksi Lingkungan dan Penanaman Pohon Kegiatan ini merupakan aksi kolaborasi dosen dan Mahasiswa KKN STAI AlAzhary Cianjur yang telah melaksanakan penanaman 150 bibit pohon mahoni dan sengon di daerah yang terdampak pergeseran tanah tepatnya di Kp. Sarongge. Sukajadi. Disamping penanaman pohon di lingkungan Masyarakat, ada juga penanaman pohon yang dilakukan di wilayah sekolah. Kegiatan ini berupa penanaman 100 bibit pohon di SMKN 1 Campaka. Kegiatan tersebut mendapatkan respon positif dari masyarakat guna untuk meminimalisir terjadinya bencana alam dan menjadikan wilayah desa Sukajadi menjadi asri dan hijau. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan antusiasme masyarakat terhadap program penghijauan berkelanjutan. Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 Clean Mosque Gerakan Masjid Bersih merupakan implementasi nilai-nilai yang telah ditanamkan dan merupakan Langkah kecil yang termasuk langkah pertama, dari gerakan mahasiswa dan masyarakat yang akan menjadi gelombang besar: gerakan cinta masjid dan gerakan kembali ke masjid sebagai wahana besar peradaban. Kegiatan membersihkan masjid ini kami lakukan dari masjid ke masjid di sekitar Desa Sukajadi. Dimulai dari menyapu lantai, mengepel, sampai membersihkan kamar mandi dan tempat wudhu yang cukup berkerak. Adapun tujuan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah untuk lebih peduli terhadap kebersihan masjid agar ibadah semakin nyaman dan khusyuk. Kami berharap dengan kegiatan Masjid Bersih ini bisa bermanfaat untuk warga sekitar masjid yang ada di Desa Sukajadi. Pembahasan Participatory Action Research (PAR) Setelah program berjalan, terjadi peningkatan yang menggembirakan. Pemahaman warga tentang ekoteologi naik drastis dari 14% menjadi 76%. Kemampuan mengaitkan ayat Al-Quran dengan pelestarian alam meningkat dari 18% menjadi 68%. Yang lebih penting, perilaku nyata juga berubah. Warga yang memilah sampah bertambah dari 23% menjadi 58%. Petani yang mulai menggunakan pupuk organik naik dari 31% menjadi 47%. Perubahan pemahaman masyarakat terjadi melalui tiga tahap. Pertama, warga mulai paham konsep baru tentang hubungan Islam dan lingkungan. Kedua, mereka menerima bahwa menjaga alam adalah bagian dari ajaran agama. Ketiga, mereka mulai menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tingginya semangat beragama yang tidak dibarengi kesadaran lingkungan menunjukkan pemahaman Islam yang belum lengkap. Selama ini, masyarakat lebih fokus pada hubungan dengan Allah dan sesama manusia, tapi kurang memperhatikan hubungan dengan alam. Ketika konsep ekoteologi Islam dijelaskan dengan cara yang mudah dipahami, terjadi perubahan kesadaran yang besar. Masyarakat menyadari bahwa merawat alam bukan hanya tanggung jawab sosial, tapi juga kewajiban agama yang akan mendapat pahala. Perubahan perilaku masyarakat dipengaruhi tiga hal utama. Pertama, sikap terhadap lingkungan berubah ketika masyarakat paham bahwa menjaga alam adalah ibadah. Kedua, dukungan sosial menguat karena tokoh agama mulai mendukung gerakan ramah lingkungan. Ketiga, kepercayaan diri masyarakat meningkat setelah mendapat pelatihan praktis. Peran tokoh agama sangat penting sebagai panutan. Dengan legitimasi agama yang kuat 89% tingkat kepercayaan, mereka mampu mengubah norma sosial. Yang tadinya biasa-biasa saja membuang sampah sembarangan, sekarang menjadi merasa bersalah jika melakukannya. Pelatihan praktis juga membantu meningkatkan kemampuan masyarakat. Ketika mereka berhasil membuat kompos atau mengelola sampah dengan baik, kepercayaan diri untuk melakukan aksi lingkungan semakin besar. Melalui diskusi kelompok dan wawancara mendalam, terungkap kesenjangan antara pengetahuan agama yang tinggi dengan praktik ramah lingkungan yang rendah. Ketika masyarakat sadar bahwa perilaku merusak lingkungan bertentangan dengan ajaran Islam, muncul motivasi kuat untuk berubah. Kuatnya ikatan sosial keagamaan di desa mempercepat penyebaran praktik-praktik ramah lingkungan. Tingginya kepercayaan terhadap tokoh agama memudahkan adopsi cara hidup yang lebih peduli lingkungan. Simpulan Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting tentang pendidikan ekoteologi Islam di Desa Sukajadi. Cianjur: terdapat kesenjangan besar antara tingkat religiusitas masyarakat dengan kesadaran Meski 94% warga aktif dalam kegiatan keagamaan, hanya 23% yang memahami https://journal-stiehidayatullah. id/index. php/peradaban Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 hubungan antara Islam dan pelestarian lingkungan. Sebanyak 86% warga belum pernah mendengar konsep ekoteologi Islam dalam konteks menjaga alam. kondisi lingkungan di desa masih memprihatinkan dengan 67% keluarga membuang sampah ke saluran irigasi dan 78% petani menggunakan pupuk kimia berlebihan. Hal ini mencerminkan belum terintegrasinya nilai-nilai Islam dalam perilaku ekologis sehari-hari. Struktur sosial keagamaan yang kuat di desa . masjid/musholla, 8 majelis taklim, 12 TPQ) menjadi modal besar untuk gerakan ramah lingkungan. Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap tokoh agama . %) memudahkan penyebaran nilai-nilai ekoteologi Islam. Pendidikan ekoteologi berbasis Isalm dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) mampu menciptakan perubahan yang signifikan karena selaras dengan prinsip musyawarah dan gotong royong dalam Islam, serta melibatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Dari hasil temuan-temuan diatas, ada beberapa rekomendasi untuk keberlanjutan Pendidikan ekoteologi Islam yaitu: Mengintegrasikan materi lingkungan dalam kegiatan keagamaan rutin. Majelis taklim, pengajian, dan khutbah Jumat hendaknya secara berkala membahas hubungan Islam dengan pelestarian alam. Membentuk kelompok hijau berbasis masjid. Setiap masjid dapat membentuk tim khusus yang bertugas menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar rumah ibadah. Melanjutkan praktik ramah lingkungan yang sudah dimulai. Warga yang sudah memilah sampah dan menggunakan pupuk organik perlu konsisten dan mengajak tetangga untuk melakukan hal yang sama. Memanfaatkan TPQ untuk pendidikan lingkungan anak. Anak-anak TPQ dapat diajarkan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan menjaga alam dan praktik sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya. Membuat peraturan desa tentang pengelolaan lingkungan berbasis nilai Islam. Perdes ini dapat mengatur tentang larangan membuang sampah sembarangan dengan sanksi sosial dan religius. Menyediakan fasilitas penunjang gerakan ramah lingkungan. Pemerintah desa perlu menyediakan tempat sampah terpilah, lokasi pengomposan komunal, dan sarana pendukung lainnya. Melibatkan tokoh agama dalam program lingkungan desa. Setiap program pembangunan yang berkaitan dengan lingkungan sebaiknya melibatkan tokoh agama agar mendapat dukungan masyarakat. Mengembangkan program desa wisata berbasis ekoteologi Islam. Potensi alam dan religiusitas masyarakat dapat dikembangkan menjadi desa wisata yang mengedukasi pengunjung tentang Islam dan lingkungan. Daftar Pustaka