JURNAL CITRA KULIAH KERJA NYATA STKIP CITRA BAKTI Volume 4. Nomor 2. April 2026 ISSN 3024-806X SOSIALISASI PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT DALAM MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP Hamey Tri Wahyuni. Ferra Feronika. Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya hameytriwahyuni@gmail. com, . ferraferonika123@gmail. Histori artikel Abstrak Received: 25 Oktober 2024 Rendahnya kesadaran masyarakat di wilayah perdesaan dalam pengelolaan sampah, seperti kebiasaan membuang sampah ke sungai, menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan dan kesehatan. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab kolektif masyarakat Desa Sei Paken dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosialisasi partisipatif, mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan . dukasi, gotong royong, dan penyediaan fasilita. , serta evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman warga mengenai dampak negatif pencemaran dan pentingnya perilaku hidup bersih. Masyarakat mulai mengubah kebiasaan buruk dengan mengumpulkan sampah pada tempat yang disediakan dan aktif dalam aksi kebersihan desa. Kesimpulannya, kolaborasi antara edukasi teoretis dan aksi nyata terbukti efektif membangun fondasi kesadaran lingkungan, meskipun diperlukan pendampingan berkelanjutan untuk menjamin konsistensi perubahan perilaku masyarakat. Accepted: 22 April 2026 Published: 27 April 2026 Kata kunci: Kesadaran Lingkungan. Pengelolaan Sampah. Sosialisasi Partisipatif. Desa Sei Paken. Abstract Low awareness in rural communities regarding waste management, such as the habit of disposing of trash into rivers, poses a serious threat to environmental sustainability and public health. This community service program aims to enhance the awareness and collective responsibility of the residents in Sei Paken Village regarding environmental preservation. The method employed is descriptive qualitative through a participatory socialization approach, encompassing planning, implementation . ducation, community clean-up, and facility provisio. , and evaluation stages. The results indicate an improvement in residents' understanding of the negative impacts of pollution and the importance of hygienic behavior. Residents have begun to change detrimental habits by collecting waste in provided bins and actively participating in village clean-up activities. In conclusion, the collaboration between theoretical education and direct action effectively builds a foundation for environmental awareness, though continuous assistance is required to ensure consistent behavioral Keywords: Environmental awareness, waste management, participatory socialization. Sei Paken Village. https://doi. org/10. 38048/jckkn. Jurnal Citra Kuliah Kerja Nyata ic56 ISSN 3024-806X Volume 3. Nomor 4 Tahun 2025 PENDAHULUAN Kuliah Kerja Nyata merupakan bentuk pembelajaran sekaligus pengabdian yang menempatkan mahasiswa sebagai fasilitator perubahan sosial melalui kerja kolaboratif dengan masyarakat. Dalam konteks pengabdian. KKN tidak hanya berfungsi sebagai ruang implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga sebagai medium untuk mengidentifikasi persoalan riil dan menyusun intervensi yang sesuai dengan kebutuhan Berbagai studi menunjukkan bahwa program KKN yang dirancang secara partisipatif mampu memperkuat kepedulian sosial, kualitas hidup bersih dan sehat, serta pembangunan desa berkelanjutan. Karena itu, isu lingkungan hidup menjadi salah satu bidang strategis yang relevan untuk diintervensi melalui kegiatan KKN. Posisi ini menegaskan bahwa sosialisasi lingkungan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat yang berbasis kebutuhan lapangan (Farman et al. , 2021. Andri et al. , 2025. Fatihah et al. , 2. Lingkungan hidup yang bersih merupakan prasyarat bagi kesehatan, kenyamanan, dan keberlanjutan hidup masyarakat. Namun, masalah sampah rumah tangga masih menjadi persoalan yang terus berulang, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan, terutama ketika pengelolaannya belum dilakukan sejak dari sumbernya. Praktik pembuangan sampah sembarangan, pembakaran sampah, dan lemahnya pemilahan masih menjadi faktor yang memperburuk kualitas lingkungan dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan. Kajian mutakhir memperlihatkan bahwa persoalan sampah rumah tangga berkaitan erat dengan perilaku warga, persepsi risiko, dan ketersediaan pola pengelolaan yang sederhana namun konsisten. Dengan demikian, penguatan kesadaran masyarakat perlu ditempatkan sebagai fondasi utama dalam upaya menjaga lingkungan hidup (Fadhullah et al. , 2022. Marpaung et al. , 2022. Noer, 2. Dalam konteks masyarakat desa, rendahnya kesadaran lingkungan umumnya tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan keterbatasan pengetahuan, lemahnya pembiasaan, dan belum kuatnya dukungan sosial terhadap perilaku bersih. Selain itu, pengelolaan sampah rumah tangga sering kali dianggap sebagai urusan teknis sehari-hari, padahal masalah tersebut memiliki implikasi langsung terhadap kesehatan, keindahan, dan kualitas ruang hidup bersama. Sejumlah pengabdian menunjukkan bahwa penyadaran masyarakat perlu dilakukan melalui pendekatan yang komunikatif, sederhana, dan dekat dengan realitas keseharian warga. Penelitian lain juga menegaskan bahwa kesadaran kebersihan lingkungan tumbuh lebih baik ketika masyarakat memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama, bukan tugas individu tertentu saja. Oleh sebab itu, kegiatan sosialisasi menjadi relevan sebagai langkah awal untuk membangun pemahaman, sikap, dan komitmen kolektif masyarakat terhadap pelestarian lingkungan hidup (Aulia & Nurhasanah, 2022. Anggie Johar & Manihuruk, 2021. Palita et al. , 2. Sosialisasi lingkungan memiliki nilai strategis karena mampu menjadi media transfer pengetahuan sekaligus pemicu perubahan perilaku. Pengabdian tentang edukasi pengelolaan sampah rumah tangga menunjukkan bahwa penyuluhan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat secara nyata mengenai dampak pembakaran sampah dan cara pengelolaan yang benar. Tinjauan sistematis terbaru juga menunjukkan bahwa penyuluhan pengelolaan sampah rumah tangga berkontribusi pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta mendukung pencegahan penyakit dan banjir. Di sisi lain, pemanfaatan media edukasi lingkungan terbukti membantu masyarakat desa menerima pesan lingkungan dengan lebih mudah dan aplikatif. Artinya, kegiatan sosialisasi tidak hanya penting untuk memberikan informasi, tetapi juga efektif sebagai pintu masuk pembentukan perilaku peduli lingkungan (Sriagustini & Nurazijah, 2022. Hakim & Afif, 2023. Apriliani et al. Pengalaman pengabdian sebelumnya juga memperlihatkan bahwa sosialisasi akan lebih kuat dampaknya ketika dilaksanakan secara partisipatif dan diikuti dialog dua arah dengan warga. Kegiatan sosialisasi pentingnya menjaga lingkungan telah menghasilkan peningkatan pemahaman warga tentang bahaya kerusakan lingkungan, cara pencegahan pencemaran, serta perlunya menjaga lingkungan untuk generasi mendatang. Respons positif masyarakat terhadap kegiatan serupa menunjukkan bahwa warga sesungguhnya memiliki https://doi. org/10. 38048/jckkn. Jurnal Citra Kuliah Kerja Nyata ic57 ISSN 3024-806X Volume 3. Nomor 4 Tahun 2025 potensi untuk terlibat aktif ketika diberi ruang, penjelasan yang mudah dipahami, dan contoh tindakan yang realistis. Dengan demikian, sosialisasi yang dilaksanakan dalam program pengabdian bukan hanya berfungsi sebagai penyampaian materi, tetapi juga sebagai sarana membangun kepedulian dan partisipasi sosial. Pola ini relevan untuk diterapkan dalam kegiatan pengabdian bertema lingkungan hidup karena menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan sekadar objek kegiatan (Dewi et al. , 2023. Sabir et al. , 2. Berdasarkan uraian tersebut, program pengabdian bertajuk Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Menjaga Lingkungan Hidup menjadi relevan untuk dilaksanakan sebagai respons atas masih rendahnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Program ini diarahkan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan, menumbuhkan tanggung jawab bersama, serta mendorong perubahan perilaku sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, keberhasilan program akan lebih kuat apabila sosialisasi didukung dengan upaya praktis, seperti penyediaan sarana dasar pengelolaan sampah dan dorongan partisipasi warga secara berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, pengabdian diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga membangun budaya peduli lingkungan yang lebih konsisten. Dengan demikian, kegiatan ini memiliki kontribusi nyata dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan layak huni (Rizki & Hakim, 2. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam bentuk sosialisasi partisipatif kepada masyarakat. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan kegiatan, yaitu memberikan edukasi sekaligus membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup. Melalui pendekatan ini, tim pengabdian dapat menggambarkan kondisi nyata di lapangan, khususnya terkait perilaku masyarakat terhadap kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah. Data pendukung kegiatan diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk melihat secara langsung kondisi lingkungan masyarakat, sedangkan wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam dari aparat desa dan warga. Dokumentasi digunakan sebagai bukti pelaksanaan kegiatan sekaligus pelengkap data lapangan. Tahap pertama dalam kegiatan ini adalah perencanaan. Pada tahap ini, mahasiswa KKN melakukan koordinasi dengan kepala desa, perangkat desa, dan tokoh masyarakat untuk mengidentifikasi permasalahan utama yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Selanjutnya, tim melakukan observasi awal untuk mengetahui bentuk permasalahan yang paling dominan, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan dan keterbatasan sarana kebersihan. Hasil identifikasi tersebut kemudian dijadikan dasar dalam menentukan program kerja, sasaran kegiatan, materi sosialisasi, serta bentuk dukungan yang diperlukan. Selain itu, tim juga menyiapkan media sosialisasi, perlengkapan kegiatan, dan pembagian tugas antaranggota. Dengan demikian, tahap perencanaan berfungsi sebagai dasar agar pelaksanaan kegiatan berjalan terarah dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tahap kedua adalah pelaksanaan kegiatan. Pada tahap ini, mahasiswa KKN melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup, dampak negatif pembuangan sampah sembarangan, serta upaya sederhana yang dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Penyampaian materi dilakukan secara langsung melalui ceramah, diskusi, dan tanya jawab agar masyarakat lebih mudah memahami isi sosialisasi. Untuk memperkuat pesan yang disampaikan, kegiatan ini juga didukung dengan tindakan nyata berupa pembuatan atau penyediaan tempat sampah sebagai sarana pendukung kebersihan lingkungan. Selain itu, tim pengabdian melibatkan masyarakat dalam interaksi aktif selama kegiatan agar tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan. Pelaksanaan ini dirancang tidak hanya untuk menambah pengetahuan warga, tetapi juga untuk mendorong perubahan sikap dan perilaku. Tahap terakhir adalah evaluasi kegiatan. Evaluasi dilakukan untuk melihat sejauh mana pelaksanaan sosialisasi berjalan sesuai rencana dan bagaimana respons masyarakat terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan. Indikator evaluasi meliputi tingkat kehadiran peserta, keaktifan masyarakat dalam diskusi, antusiasme dalam mengajukan pertanyaan, https://doi. org/10. 38048/jckkn. Jurnal Citra Kuliah Kerja Nyata ic58 ISSN 3024-806X Volume 3. Nomor 4 Tahun 2025 serta tanggapan masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup. Selain itu, evaluasi juga dilakukan terhadap faktor pendukung dan kendala selama kegiatan berlangsung, termasuk dukungan dari pemerintah desa dan partisipasi warga. Hasil evaluasi ini digunakan sebagai bahan refleksi untuk menilai keberhasilan program sekaligus menyusun rekomendasi perbaikan pada kegiatan pengabdian berikutnya. Dengan adanya evaluasi, program sosialisasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi dapat memberi dampak berkelanjutan bagi kesadaran masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pelaksanaan Pelaksanaan program pengabdian melalui kegiatan KKN di Desa Sei Paken berlangsung dari tanggal 16 Juli sampai dengan 21 Agustus. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, pelaksanaan sosialisasi, aksi nyata, dan evaluasi, kegiatan ini menunjukkan adanya perubahan awal pada pengetahuan, sikap, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup. Sebelum kegiatan dilaksanakan, masyarakat masih menunjukkan kesadaran yang rendah terhadap pentingnya pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan. Setelah program dijalankan, terlihat adanya respons positif dari masyarakat, baik dalam bentuk kehadiran pada kegiatan sosialisasi maupun keterlibatan langsung dalam gotong royong membersihkan lingkungan. Hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian dapat disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Pelaksanaan Program Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Menjaga Lingkungan Hidup Tahap Bentuk Kegiatan Temuan/Hasil Indikator Kegiatan Keberhasilan Perencanaan Observasi lapangan Ditemukan bahwa kesadaran Permasalahan dan wawancara masyarakat terhadap utama lingkungan dengan Kepala kebersihan lingkungan masih Desa, perangkat Masyarakat masih desa, dan ketua RT membuang sampah sebagai dasar sembarangan, seperti ke sungai dan kebun karet milik program kerja warga lain. Sebagian warga belum memahami dampak negatif sampah terhadap kesehatan dan lingkungan. Perencanaan Analisis masalah Tim KKN menetapkan program Tersusunnya dan penyusunan sosialisasi lingkungan hidup, program kerja yang program kerja kegiatan gotong royong, dan sesuai dengan penyediaan tempat sampah sebagai solusi awal atas permasalahan yang Pelaksanaan Sosialisasi tentang Masyarakat menghadiri Tingginya pentingnya menjaga kegiatan sosialisasi dengan lingkungan hidup di Peserta aktif masyarakat dalam mendengarkan materi, kegiatan sosialisasi berdiskusi, dan mengajukan pertanyaan terkait pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan Penyampaian materi Masyarakat memperoleh Bertambahnya edukasi dan contoh pemahaman baru tentang pentingnya menjaga barang bekas kebersihan lingkungan dan pemanfaatan barang bekas lingkungan hidup menjadi barang yang berguna, dan pengelolaan https://doi. org/10. 38048/jckkn. Jurnal Citra Kuliah Kerja Nyata ic59 ISSN 3024-806X Volume 3. Nomor 4 Tahun 2025 Pelaksanaan Aksi nyata gotong Pelaksanaan Penyerahan 9 buah tempat sampah Evaluasi Pengamatan terhadap respons dan perubahan perilaku masyarakat setelah kegiatan Evaluasi Penilaian partisipasi Evaluasi Penilaian perubahan seperti celengan dari kotak lampu bekas. Mahasiswa KKN bersama pemerintah desa dan masyarakat melakukan kegiatan memungut sampah, membersihkan aliran sungai, membersihkan sumur, serta membersihkan jalan menuju kebun desa. Penyediaan tempat sampah menjadi sarana pendukung agar masyarakat mulai membuang sampah pada tempatnya dan tidak lagi membuang sampah ke sungai atau area lain secara Setelah sosialisasi dan aksi nyata dilaksanakan, masyarakat mulai memahami bahwa membuang sampah sembarangan dapat menimbulkan pencemaran, gangguan kesehatan, dan kesulitan memperoleh air Masyarakat menunjukkan respons positif terhadap program, terlihat dari kehadiran saat sosialisasi, keterlibatan dalam gotong royong, dan dukungan terhadap upaya menjaga kebersihan lingkungan desa. Sebagian masyarakat mulai membiasakan diri untuk tidak membuang sampah ke aliran sungai dan mulai mengumpulkan sampah di sekitar rumah. limbah sederhana Masyarakat terlibat langsung dalam Tersedianya fasilitas dasar untuk mendukung perilaku hidup Adanya masyarakat tentang dampak negatif Meningkatnya partisipasi dan Munculnya perubahan perilaku awal dalam sampah rumah Adapun dokumentasi Pelaksanaan Program Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Menjaga Lingkungan Hidup dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Gambar 1. Pelaksanaan Program Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Menjaga Lingkungan Hidup https://doi. org/10. 38048/jckkn. Jurnal Citra Kuliah Kerja Nyata ic60 ISSN 3024-806X Volume 3. Nomor 4 Tahun 2025 Pembahasan Permasalahan utama yang ditemukan dalam kegiatan ini adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup, yang terlihat dari kebiasaan membuang sampah ke sungai dan lahan milik orang lain. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan di tingkat desa tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sampah, tetapi juga berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan kebiasaan masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Pada masyarakat Desa Sei Paken, perilaku membuang sampah sembarangan menunjukkan bahwa sebagian warga belum sepenuhnya memahami dampak jangka panjang dari pencemaran lingkungan, seperti tersumbatnya aliran air, meningkatnya risiko banjir, dan gangguan kesehatan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Marpaung et al. yang menjelaskan bahwa perilaku membuang sampah sembarangan dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan sarana, dan kurangnya dukungan pengelolaan sampah di lingkungan setempat. Dengan demikian, permasalahan lingkungan yang ditemukan dalam kegiatan ini dapat dipahami sebagai persoalan perilaku sosial yang memerlukan pendekatan edukatif dan partisipatif. Pelaksanaan sosialisasi terbukti menjadi langkah yang tepat untuk menjawab masalah tersebut. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat hadir dengan antusias, memperhatikan materi, dan aktif mengajukan pertanyaan terkait pentingnya menjaga lingkungan hidup. Respons seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki keterbukaan untuk menerima informasi baru dan mulai membangun pemahaman yang lebih baik mengenai dampak perilaku mereka terhadap lingkungan. Perubahan perilaku pada dasarnya sering diawali oleh peningkatan pengetahuan dan kesadaran. Hal ini sesuai dengan hasil kajian Apriliani et al. yang menyatakan bahwa penyuluhan pengelolaan sampah rumah tangga dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta mendorong perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Selain sosialisasi, aksi nyata berupa gotong royong membersihkan lingkungan memberikan kontribusi penting terhadap keberhasilan program. Kegiatan memungut sampah, membersihkan aliran sungai, membersihkan jalan, dan merapikan area umum menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga mulai terlibat langsung dalam menjaga kebersihan lingkungan. Keterlibatan langsung ini penting karena perubahan perilaku akan lebih kuat apabila masyarakat diberi kesempatan untuk mempraktikkan nilai dan pemahaman yang baru diperoleh. Dalam konteks pengabdian masyarakat, perpaduan antara edukasi dan aksi lapangan merupakan pendekatan yang efektif untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif. Temuan ini sejalan dengan Aulia dan Nurhasanah . yang menunjukkan bahwa sosialisasi pengelolaan sampah yang disertai pelibatan masyarakat secara langsung mampu meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Penyediaan tempat sampah dan pemberian contoh pemanfaatan barang bekas juga menjadi aspek penting dalam program ini karena memberikan dukungan praktis terhadap pesan yang telah disampaikan saat sosialisasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa setelah intervensi dilakukan, masyarakat mulai terbiasa untuk tidak lagi membuang sampah ke sungai dan mulai mengumpulkan sampah di sekitar rumah. Meskipun demikian, kebiasaan membakar sampah plastik yang masih dilakukan oleh sebagian warga menunjukkan bahwa perubahan perilaku yang terjadi masih berada pada tahap awal. Artinya, sosialisasi telah berhasil membuka kesadaran awal masyarakat, tetapi masih diperlukan pendampingan lanjutan agar masyarakat mampu menerapkan pengelolaan sampah yang lebih baik melalui pemilahan, pengurangan, dan pemanfaatan ulang. Hasil ini sejalan dengan Pamungkas et . yang menegaskan bahwa peningkatan kesadaran lingkungan akan lebih efektif apabila didukung oleh sarana, contoh praktik, dan edukasi berkelanjutan berbasis 3R. Keberhasilan program ini juga tidak terlepas dari dukungan kepala desa, perangkat desa, dan masyarakat yang terlibat aktif selama kegiatan berlangsung. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa program pengabdian akan lebih efektif apabila dilaksanakan secara kolaboratif antara mahasiswa, pemerintah desa, dan warga. Walaupun demikian, adanya keterbatasan dana, terbatasnya jumlah tempat sampah, dan kendala transportasi menunjukkan bahwa keberlanjutan program masih memerlukan dukungan kelembagaan https://doi. org/10. 38048/jckkn. Jurnal Citra Kuliah Kerja Nyata ic61 ISSN 3024-806X Volume 3. Nomor 4 Tahun 2025 yang lebih kuat. Oleh karena itu, hasil kegiatan ini sebaiknya ditindaklanjuti melalui agenda rutin desa, seperti gotong royong berkala, penambahan sarana tempat sampah, dan edukasi lingkungan secara berkelanjutan. Dengan cara itu, peningkatan kesadaran masyarakat tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi budaya menjaga lingkungan hidup dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan Sabir et al. yang menegaskan bahwa sosialisasi lingkungan akan lebih berdampak apabila disertai dukungan aparat desa dan partisipasi aktif masyarakat. KESIMPULAN Kesimpulan dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa program Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Menjaga Lingkungan Hidup telah terlaksana dengan baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Melalui kegiatan sosialisasi, gotong royong membersihkan lingkungan, dan penyediaan tempat sampah, masyarakat mulai memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta dampak negatif dari kebiasaan membuang sampah sembarangan. Hasil kegiatan juga menunjukkan adanya peningkatan partisipasi dan kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup, yang terlihat dari antusiasme saat mengikuti sosialisasi dan keterlibatan langsung dalam aksi Meskipun masih terdapat keterbatasan sarana dan perubahan perilaku masyarakat belum sepenuhnya optimal, program ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan tindak lanjut secara berkelanjutan melalui kerja sama antara pemerintah desa, masyarakat, dan pihak terkait agar upaya menjaga lingkungan hidup dapat terus dilaksanakan secara konsisten. DAFTAR PUSTAKA