Peran Badan Usaha Milik Desa. PERAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDe. SUKOSARI MAKMUR DALAM PENGELOLAAN WISATA POETOEK SOEKO DI DESA SUKOSARI KECAMATAN TRAWAS KABUPATEN MOJOKERTO Tria Maulana Zhara Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya 22103@mhs. Deby Febriyan Eprilianto Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya debyeprilianto@unesa. Galih Wahyu Pradana Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya galihpradana@unesa. Melda Fadiyah Hidayat Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya meldahidayat@unesa. Abstrak Pengembangan wisata desa merupakan bentuk pemanfaatan potensi desa yang memerlukan pengelolaan yang berkelanjutan. Keberadaan Wisata Poetoek Soeko memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi Desa Sukosari. Namun, dalam pengelolaannya masih ditemui berbagai kendala, khususnya pada pelaksanaan peran BUMDes. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran BUMDes Sukosari Makmur dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dengan menggunakan teori peran menurut Munir . alam Nilawati et , 2. yang terdiri dari peran entrepreneur, peran koordinator, dan peran fasilitator. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BUMDes Sukosari Makmur telah menjalankan perannya sebagai entrepreneur, koordinator, dan fasilitator dalam pengelolaan wisata. Peran entrepreneur memberikan keuntungan ekonomi dan sosial bagi desa, seperti kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa dan penyediaan lapangan kerja, namun belum optimal terutama dalam aspek inovasi wahana wisata. Peran koordinator telah dijalankan melalui koordinasi dengan pemerintah desa, pegawai, dan masyarakat, tetapi masih terbatas pada tahap perencanaan dan penyerahan aset, dengan rendahnya partisipasi masyarakat serta belum adanya kerja sama dengan pihak eksternal. Masih terdapat fasilitas yang kurang terawat dan promosi wisata belum Sementara itu, peran fasilitator ditunjukkan melalui penyediaan fasilitas wisata, pelayanan, dan dukungan kegiatan masyarakat, namun masih terdapat keterbatasan jumlah pegawai, dan keberlanjutan kegiatan pelatihan. Berdasarkan temuan tersebut, diperlukan penguatan peran BUMDes dalam inovasi, koordinasi yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta strategi promosi yang lebih terencana agar pengelolaan Wisata Poetoek Soeko dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Kata kunci: Peran. BUMDes. Pengelolaan Wisata. Desa Wisata Abstract The development of village tourism is a form of utilizing village potential that requires sustainable The existence of Poetoek Soeko Tourism provides economic and social benefits for Sukosari Village. However, various obstacles are still encountered in its management, particularly in the implementation of the role of BUMDes. Therefore, this study aims to analyze the role of BUMDes Sukosari Makmur in managing Poetoek Soeko Tourism. The research uses a qualitative approach with descriptive method, employing the theory of roles according to Munir . n Nilawati et al. , 2. , which consists of the roles of entrepreneur, coordinator, and facilitator. Data collection techniques were carried out through interviews, observations, and documentation. The results show that BUMDes Sukosari Makmur has performed its roles as an entrepreneur, coordinator, and facilitator in tourism management. The entrepreneur role provides economic and social benefits to the village, such as contributions to Village Original Income and job provision, but it is not yet optimal, especially in terms of tourism attraction Publika. Volume 14 Nomor 1. Tahun 2026, 179-188 The coordinator role has been implemented through coordination with the village government, employees, and community, but it is still limited to the planning and asset handover stages, with low community participation and no cooperation with external parties. There are still poorly maintained facilities, and tourism promotion has not been effective. Meanwhile, the facilitator role is demonstrated through the provision of tourism facilities, services, and support for community activities, but it still faces challenges such as limited staff numbers, the sustainability of human resource training. Based on these findings, strengthening the role of BUMDes is needed in innovation, continuous coordination, improving human resource capacity, and more planned promotional strategies so that the management of Poetoek Soeko Tourism can run effectively and sustainably. Keywords: Role. BUMDes. Tourism Management. Tourism Village PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan zaman saat ini, masyarakat semakin kreatif dan inovatif dalam mengelola potensi wisata lokal, di mana banyak potensi tersebut dikembangkan menjadi destinasi wisata sebagai upaya dalam mendorong pengembangan wilayah. Konsep pengembangan ini dapat dikemas dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui pengembangan desa wisata (Dewi dan Pradana, 2. Menurut Sutiani . Desa wisata merupakan bentuk pengembangan wilayah desa yang tidak mengubah kondisi awal, melainkan memanfaatkan potensi dan unsur-unsur khas desa sebagai daya tarik wisata yang tersusun menjadi rangkaian kegiatan pariwisata lengkap dengan daya tarik dan fasilitas Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. hadir sebagai salah satu lembaga yang memiliki peran strategis dalam mengelola potensi yang ada di desa, termasuk di dalamnya sektor wisata. BUMDes merupakan badan usaha yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah desa dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian desa atau termasuk usaha dari desa, oleh desa dan untuk desa, namun dalam pelaksanaannya tetap mengacu pada kebutuhan masyarakat dan potensi desa yang ada (Khairani dan Yulistiyono, 2. BUMDes memiliki dua fungsi, yaitu sebagai lembaga sosial dan lembaga komersial desa. Sebagai lembaga sosial. BUMDes memberikan pelayanan bagi masyarakat. Sedangkan sebagai lembaga komersial. BUMDes bertujuan memperoleh keuntungan melalui pengelolaan dan penjualan barang atau jasa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa (Utami, 2. Menurut data Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama sebagai daerah yang paling banyak dikunjungi wisatawan nusantara, dengan total 218,71 juta perjalanan atau berkontribusi sebesar 21,42 persen dari total perjalanan wisata di Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki daya tarik wisata yang sangat tinggi dibandingkan provinsi lainnya, karena keberagaman destinasi yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di wilayahnya. Berikut ini adalah data kunjungan wisatawan nusantara di Jawa Timur sebagai gambaran kontribusi tiap daerah. Table 1. Jumlah Kunjungan Wisatawan Nusantara Menurut Kabupaten/Kota Tujuan di Jawa Timur Kabupaten/Kota Jumlah Wisatawan Kota Surabaya 27,206,567 Kabupaten Sidoarjo 14,964,532 Kabupaten Malang 14,629,462 Kota Malang 11,811,578 Kabupaten Pasuruan 8,460,774 Kabupaten Gresik 8,227,066 Kota Batu 8,223,667 Kabupaten Mojokerto 8,062,814 Kabupaten Kediri 7,832,201 Kabupaten Jember 6,886,000 Sumber: BPS Jawa Timur, 2024 Berdasarkan data di atas Kabupaten Mojokerto berada pada urutan kedelapan sebagai daerah dengan jumlah kunjungan wisatawan terbanyak di Jawa Timur. Posisi tersebut didukung oleh keberagaman potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Mojokerto, mulai dari wisata alam, wisata buatan, hingga wisata sejarah. Keanekaragaman objek wisata ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut (Danarsasi dan Meirinawati, 2. Kecamatan Trawas menjadi daerah dengan tingkat kunjungan wisata tertinggi di Kabupaten Mojokerto. Terletak di kawasan pegunungan yang dikelilingi keindahan alam, wilayah ini memiliki potensi unggulan di sektor pariwisata. Terdapat 13 desa di Kecamatan Trawas yang seluruhnya telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. sebagai lembaga penggerak ekonomi lokal. Namun, tingkat perkembangan BUMDes secara keseluruhan tidak seragam, mulai dari kategori pemula, berkembang, hingga maju. Adapun identifikasi kategori perkembangan BUMDes pada setiap desa dapat dilihat pada tabel berikut. Peran Badan Usaha Milik Desa. Tabel 2 Kategori BUMDes di Kecamatan Trawas Kategori Desa Poetoek Soeko justru mengalami penurunan jumlah Adapun data penurunan pengunjung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3 Pengunjung Wisata Poetoek Soeko Tahun Jumlah Wisatawan Maju Ketapanrame. Belik. Penanggungan. Sukosari Berkembang Kesiman. Duyung. Jatijejer Pemula Selotapak. Kedungudi. Seloliman. Trawas. Tamiajeng. Sugeng Sumber : Data Desa Center DPMD Jawa Timur . Merujuk pada tabel di atas Desa Sukosari menjadi salah satu desa yang memiliki BUMDes berkategori maju di Trawas. BUMDes Sukosari Makmur dibentuk pada 2018 untuk mengelola potensi desa melalui berbagai unit usaha untuk meningkatkan pendapatan desa serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Keberhasilan BUMDes Sukosari Makmur dalam mencapai kemajuan tersebut semakin terbukti saat Desa Sukosari, melalui unit usaha Poetoek Soeko, menjadi tuan rumah Jambore BUMDesa seluruh Jawa Timur pada BUMDes Sukosari memiliki unit usaha yang terdiri dari penjualan air tengkian, wisata Poetoek Soeko. Cafy Poetoek Soeko. Alas Soeko, penyewaan kios dan warung dan pangkalan LPG. Wisata Poetoek Soeko pada awalnya merupakan tanah kas Desa Sukosari yang difungsikan sebagai lahan Namun, mengalami kegagalan irigasi sehingga tidak lagi produktif untuk kegiatan pertanian. Oleh karena itu. Pemerintah Desa kemudian menugaskan pengelolaan aset tersebut kepada BUMDes Sukosari Makmur dengan tujuan agar lahan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi kawasan wisata. Daya tarik tempat wisata ini adalah keindahan pemandangan alam dan wisata buatan yang didukung oleh latar belakang Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan. Berikut gambar salah satu spot foto dan taman di wisata Poetoek Soeko. Sumber: BUMDes Sukosari Makmur, 2024 Penurunan kunjungan wisatawan di Poetoek Soeko dapat dikaitkan dengan sejumlah keterbatasan dalam pengelolaan yang dilakukan oleh BUMDes Sukosari Makmur. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh belum optimalnya peran BUMDes dalam menjalankan inovasi pengelolaan sehingga kesulitan beradaptasi terhadap meningkatnya persaingan antar desa wisata. Minimnya kegiatan promosi serta adanya kekurangan sumber daya manusia juga turut memperdalam permasalahan Kondisi taman bunga Poetoek Soeko pada awal pengoperasian terlihat sangat terawat dan menjadi salah satu lokasi yang banyak diminati wisatawan untuk Namun, saat ini kondisi taman dan beberapa fasilitas mengalami penurunan dalam perawatan sehingga berdampak pada daya tarik wisata bagi pengunjung Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peran BUMDes dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko belum berjalan Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas peneliti memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian di wisata Poetoek Soeko dengan menggunakan teori peran yang dikemukakan oleh Munir . alam Nilawati et al. , 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menganalisis peran BUMDes dalam mengelola wisata desa. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Sukosari Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto. Subjek penelitian ini adalah direktur BUMDes Sukosari Makmur, sekretaris Desa Sukosari, anggota BUMDes Sukosari Makmur, pegawai wisata Poetoek Soeko, dan pengunjung wisata Poetoek Soeko. Fokus penelitian ini yaitu untuk melakukan analisis peran BUMDes yang mengacu pada teori peran Munir . alam Nilawati et al. yang terdiri dari tiga indikator yaitu entrepreneur, koordinator dan fasilitator. Subjek penelitian ditentukan melalui purposive sampling yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu (Hardani et al. , 2. Sumber data penelitian melipu tidata primer dan data Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi, sedangkan data sekunder berasal dari artikel Gambar 1 Spot Foto dan Taman di Poetoek Soeko Sumber: (Penulis, 2. Wisata Poetoek Soeko mengusung konsep rainbow garden yang memiliki aneka bunga dan tanaman dengan dilengkapi jembatan sebagai spot foto. Wisata ini beroperasi setiap hari dengan harga tiket masuk sebesar Rp5000 dengan biaya parkir sebesar Rp3000 untuk motor dan Rp6000 untuk mobil. Jika pengunjung ingin menggunakan kolam renang maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp10. 000 untuk perorang. Meskipun berbagai upaya pengembangan telah dilakukan. Wisata Publika. Volume 14 Nomor 1. Tahun 2026, 179-188 ilmiah, dokumen dan laporan kegiatan. Selanjutnya analisis data dilakukan dengan model Miles. Huberman, dan Saldana . yang melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi HASIL DAN PEMBAHASAN BUMDes Sukosari Makmur merupakan lembaga usaha milik desa yang dibentuk untuk mengelola berbagai usaha desa melalui pemanfaatan dan optimalisasi potensi yang dimiliki. BUMDes berperan sebagai aktor utama dalam pengelolaan wisata sehingga memiliki kontribusi yang besar terhadap pengembangan wisata. Peran tersebut sangat dibutuhkan agar wisata Poetoek Soeko dapat Namun, pelaksanaannya masih terdapat permasalahan, yaitu peran BUMDes Sukosari Makmur dinilai belum optimal, khususnya dalam melakukan inovasi dan pengelolaan wisata Poetoek Soeko sebagai bagian dari upaya pengembangan wisata desa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran BUMDes Sukosari Makmur dalam mengelola Wisata Poetoek Soeko dengan menggunakan teori peran menurut Munir . alam Nilawati et al. , 2. Berikut merupakan uraian pembahasan mengenai analisis peran BUMDes dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko: Peran Entrepreneur Peran entrepreneur menurut Munir . alam Nilawati , al 2. adalah bertanggungjawab dalam mengelola dan mengembangkan berbagai potensi serta sumber daya yang dimiliki agar menguntungkan dan bermanfaat bagi Selain itu, perlu inovasi yang berkelanjutan dalam mengelolah potensi yang dimiliki agar dapat meningkatkan pendapatan. BUMDes Sukosari Makmur memiliki tanggung jawab untuk mengelola Wisata Poetoek Soeko melalui berbagai upaya pengembangan dan inovasi, agar keberadaan wisata tersebut dapat memberikan keuntungan ekonomi dan sosial bagi desa serta masyarakat. Menurut Setyobakti . alam Handajani, 2. BUMDes memberikan dampak positif, baik secara ekonomi maupun Dari aspek ekonomi. Wisata Poetoek Soeko berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PADe. Melalui pengelolaan oleh BUMDes, pendapatan diperoleh dari retribusi tiket masuk, parkir, dan tiket kolam renang, penyewaan aula, serta aktivitas pendukung wisata lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa peran BUMDes Sukosari Makmur sebagai pengelola telah membuka peluang ekonomi baru bagi Desa Sukosari. Namun, pada saat ini kontribusi BUMDes Sukosari Makmur terhadap PADes mengalami penurunan. Berikut data penurunan data mengenai penurunan kontribusi BUMDes terhadap PAD Desa Tabel 4 Kontribusi BUMDes Terhadap PAD Tahun Kontribusi PAD Rp. Rp. Rp. Sumber: BUMDes Sukosari Makmur, 2025 Berdasarkan data di atas, dalam periode 2023-2025 kontribusi BUMDes terhadap PAD Desa mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini dikarenakan wisata Poetoek Soeko sebagai salah satu unit usaha BUMDes Sukosari Makmur mengalami penurunan jumlah pengunjung sehingga berpengaruh pada pendapatan Penurunan jumlah pengunjung salah satunya dipengaruhi oleh adanya persaingan dengan destinasi wisata lain di kawasan Trawas. Keberadaan berbagai objek wisata dengan beragam pilihan membuat Wisata Poetoek Soeko menghadapi persaingan yang cukup ketat. Dalam kondisi tersebut. Wisata Poetoek Soeko belum sepenuhnya mampu bersaing secara optimal, sehingga berpengaruh pada kunjungan wisatawan. keberadaan Wisata Poetoek Soeko juga memberikan keuntungan dalam bentuk penciptaan lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat sekitar. Namun, peluang usaha yang tersedia belum sepenuhnya berjalan optimal. Dari lima unit warung yang berada di dalam kawasan Wisata Poetoek Soeko, hanya dua yang beroperasi secara aktif, sedangkan tiga lainnya tidak beroperasi akibat menurunnya jumlah pengunjung. Berikut ini warung yang ada di sekitar Poetoek Soeko: Gambar 2 Warung Di Sekitar Poetoek Soeko Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025 Dari aspek sosial. BUMDes Sukosari Makmur memberikan bantuan dana yang diperoleh dari pendapatan BUMDes untuk kegiatan desa seperti ruwah desa, sedekah bumi, dan agustusan untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan desa tersebut sekaligus meringankan beban iuran yang harus ditanggung oleh masyarakat. BUMDes Sukosari Makmur tidak hanya sebagai pengelola wisata, tetapi juga sebagai lembaga yang berkontribusi terhadap kesejahteraan dan solidaritas sosial masyarakat Desa Sukosari. Inovasi dalam pengelolaan wisata Poetoek Soeko diwujudkan melalui pembangunan cafe Poetoek Soeko Peran Badan Usaha Milik Desa. dan kolam renang sebagai upaya menambah daya tarik wisata yang diinisiasi oleh BUMDes Sukosari Makmur sebagai pengelola wisata. Ide pembangunan tersebut berasal dari pengurus BUMDes setelah melihat kebutuhan untuk menambah variasi wahana agar pengunjung tidak merasa bosan. Melalui inovasi tersebut. BUMDes berupaya meningkatkan minat kunjungan sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha wisata. Hal ini menunjukkan bahwa BUMDes berperan aktif dalam menentukan arah pengembangan wisata, bukan hanya menjalankan kegiatan operasional sehari-hari. Cafe Poetoek Soeko menyediakan makanan dan minuman sederhana dengan menu lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung. Selain melayani pembelian langsung dari wisatawan, kafe ini juga menyediakan konsumsi untuk berbagai kegiatan seperti rapat, reuni, pertemuan PKK, dan komunitas. Keberadaan kafe tidak hanya menjadi fasilitas pendukung wisata, tetapi juga menambah sumber pendapatan BUMDes melalui penyewaan tempat dan pemesanan paket Adapun dokumentasi dari kegiatan penyewaan cafe Poetoek Soeko, sebagai berikut: pengembangan inovasi baru setelah pembangunan kolam renang tersebut. Kurangnya inovasi dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko menjadi salah satu permasalahan yang memengaruhi daya tarik wisata karena menawarkan atraksi yang terbatas. Pengunjung cenderung hanya menikmati taman bunga sebagai objek foto dan berenang. Selain itu, variasi wahana permainan anak di kawasan wisata juga masih tergolong minim. Fasilitas permainan yang tersedia belum cukup beragam untuk menarik minat pengunjung, khususnya yang membawa anak-anak. Pengembangan dan penataan taman bunga yang menjadi daya tarik utama wisata dinilai belum optimal. Jumlah bunga masih terbatas dan penataannya belum terlalu menarik sehingga belum mampu memperkuat identitas wisata sebagai taman bunga. Selain itu, bunga matahari yang dulu menjadi ikon utama kini jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya. Hal ini membuat daya tarik visual taman berkurang, terutama bagi pengunjung yang datang untuk berfoto. Untuk itu, pengembangan fasilitas pendukung wisata dan perawatan taman masih perlu ditingkatkan agar daya tarik dan kenyamanan pengunjung dapat lebih optimal. Berdasarkan uraian di atas peran entrepreneur dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko oleh BUMDes Sukosari Makmur belum berjalan optimal, terutama dalam aspek inovasi, baik pada pengembangan wahana. Kondisi ini berdampak pada terbatasnya daya tarik wisata yang dapat menurunkan minat kunjungan wisatawan dan berpotensi memengaruhi keberlanjutan pengelolaan Keterbatasan anggaran menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Hal ini menunjukkan belum optimalnya perencanaan dan strategi pengelolaan usaha yang adaptif dalam menghadapi keterbatasan sumber daya. Peran Koordinator Menurut Munir . alam Nilawati et al, 2. peran mengkoordinasikan berbagai kebijakan dan strategi pembangunan dengan melibatkan berbagai elemen pembangunan desa, seperti pemerintah dan masyarakat. Peran ini memastikan program dan kebijakan berjalan selaras serta membangun kerja sama yang mendukung pembangunan suatu daerah. Dalam pengelolaan wisata desa, peran koordinator dijalankan oleh BUMDes Sukosari Makmur melalai koordinasi dengan pemerintah desa, pegawai wisata, masyarakat desa, serta pihak terkait dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko. Bentuk koordinasi yang dilakukan BUMDes Sukosari Makmur dengan pegawai wisata terlihat melalui pertemuan rutin bulanan bersama. Selain anggota BUMDes dan pegawai wisata, pertemuan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah desa. Gambar 3 Penyewaan Cafe Di Poetoek Soeko Sumber: Dokumentasi BUMDes, 2025 Selain cafe Poetoek Soeko. BUMDes Sukosari Makmur juga melakukan investasi melalui pembangunan kolam renang sebagai upaya menambah variasi fasilitas Pembangunan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan pinjaman dana sebagai bentuk komitmen pengelola dalam meningkatkan daya tarik wisata. Keberadaan kolam renang tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi bagi pengunjung, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan melalui tiket penggunaan Berikut gambar kolam renang yang ada di wisata poetoek soeko sebagai berikut: Gambar 4 Kolam Renang Di Poetoek Soeko Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025 Namun, inovasi yang dilakukan masih terbatas pada pembangunan fasilitas fisik, dan belum terdapat Publika. Volume 14 Nomor 1. Tahun 2026, 179-188 Gambar 5 Pertemuan BUMDes Dengan Pemerintah Desa Sumber: Dokumentasi BUMDes, 2025 Dari sisi mekanisme, koordinasi sudah berjalan secara terstruktur dan melibatkan berbagai aktor yang Selanjutnya, koordinasi antara BUMDes Sukosari Makmur dan pemerintah desa Sukosari telah berjalan cukup baik pada tahap perencanaan dan penyerahan aset desa untuk dikelola oleh BUMDes Sukosari Makmur. Namun, terdapat keterbatasan dalam pelaksanaan peran koordinasi karena masih bersifat administratif dan belum sepenuhnya strategis. Koordinasi antara pemerintah desa dan BUMDes cenderung berhenti pada tahap penyerahan aset, tanpa diikuti dengan pendampingan teknis. Akibatnya. BUMDes harus mengelola aset dengan keterbatasan kapasitas internal dan anggaran, seperti pada kasus aula yang yang pengelolaannya masih menjadi kendala. BUMDes Sukosari Makmur masih belum bisa menentukan harga sewa untuk aula tersebut. Hal ini dikarenakan aula tersebut masih belum memiliki sarana dan prasarana seperti meja, kursi dan alat-alat lainnya. Sehingga menyulitkan penentuan skema penyewaan dan harga Situasi tersebut mengindikasikan adanya celah dalam sistem koordinasi, di mana pembagian peran memang jelas secara formal, tetapi belum diimbangi dengan dukungan kolaboratif dalam praktiknya Berdasarkan hasil penelitian, pengelolaan Wisata Poetoek Soeko dilakukan secara mandiri oleh BUMDes Sukosari Makmur. Hingga saat ini belum terdapat kerja sama secara formal dengan pihak eksternal, seperti investor atau lembaga lain, dalam pengelolaan wisata. Kondisi tersebut menyebabkan ruang pengembangan wisata menjadi terbatas, baik dari sisi pendanaan maupun perluasan jaringan kerja sama. Pada strategi perawatan, koordinasi antara BUMDes dan masyarakat pernah dilakukan melalui kegiatan kerja bakti rutin yang melibatkan masyarakat secara bergiliran. Namun, kegiatan ini tidak lagi berjalan karena muncul pandangan dari sebagian masyarakat bahwa pengelolaan wisata sepenuhnya menjadi tanggung jawab BUMDes Sukosari Makmur dan pegawai wisata yang telah ditugaskan. Akibatnya, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata semakin menurun. Menurut Dewi . alam Bachtiar et al. , 2. pengembangan desa wisata memerlukan keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam seluruh tahapan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Namun, dalam praktiknya, partisipasi masyarakat sering kali belum diperhatikan secara optimal. Dalam pengelolaan wisata Poetoek Soeko, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata masih dirasakan terbatas. Sebagian masyarakat menganggap bahwa proses perencanaan dan pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan oleh pemerintah desa dan BUMDes, sehingga masyarakat kurang mengetahui dan terlibat secara langsung. Kurangnya koordinasi dalam perawatan menyebabkan beberapa fasilitas wisata seperti taman, gazebo, dan kolam ikan kurang terawat. Kondisi ini dapat menurunkan kenyamanan pengunjung dan citra wisata. Selain itu, perawatan yang belum optimal juga dipengaruhi oleh rendahnya partisipasi masyarakat serta keterbatasan jumlah pegawai dalam mengelola area wisata yang cukup Adapun dokumentasi untuk area taman yang kurang terawat sebagai berikut: Gambar 6 Area Taman Yang Kurang Terawat Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025 Dalam strategi promosi. BUMDes telah melakukan koordinasi dengan mahasiswa KKN dan konten kreator Upaya ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya kerja sama dalam mendukung promosi wisata. Namun, hasil penelitian memperlihatkan bahwa koordinasi tersebut masih belum terencana secara Pengelola wisata masih jarang melakukan promosi di media sosial karena keterbatasan sumber daya manusia yang mengusai penggunaan media sosial. Selain itu, pengelola wisata juga sering kebingungan dalam membuat ide konten untuk promosi. Oleh karena itu, efektivitas strategi promosi yang dijalankan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. Berdasarkan uraian di atas. BUMDes Sukosari Makmur telah menjalankan peran sebagai koordinator melalui koordinasi dengan pemerintah desa, pegawai wisata, dan masyarakat desa untuk menentukan strategi pengolahan wisata. Namun, koordinasi tersebut belum berjalan secara optimal. Koordinasi dengan pemerintah desa cenderung berhenti pada tahap perencanaan dan penyerahan aset sehingga belum ada pendampingan pengelolaan dari Pemerintah Desa. Pengelolaan wisata juga dilakukan secara mendiri oleh BUMDes Sukosari Makmur tanpa bantuan dari investor atau mitra mana pun. Peran Badan Usaha Milik Desa. Sementara itu, koordinasi dengan masyarakat masih menghadapi kendala rendahnya partisipasi masyarakat. Dalam perawatan fasilitas juga masih ditemukan beberapa fasilitas yang masih kurang terawat. Selain itu, strategi promosi wisata belum efektif karena pemanfaatan media sosial yang masih terbatas. media sosial. Namun, pelatihan terakhir diketahui dilaksanakan sekitar dua tahun yang lalu dan hingga saat ini belum terdapat program pelatihan lanjutan sehingga pengembangan kompetensi pegawai belum berjalan secara Pelatihan dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko juga masih terbatas pada internal pengelola wisata dan belum menyasar masyarakat desa secara luas. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemberdayaan masyarakat maupun pegawai melalui peningkatan kapasitas masih belum berjalan secara optimal dalam mendukung pengembangan wisata desa. Dari sisi pelayanan. BUMDes Sukosari Makmur secara konsisten menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) kepada pegawai wisata Poetoek Soeko. Dalam upaya meningkatkan kepuasan pengunjung, kualitas pelayanan menjadi peran yang sangat penting untuk pengelolaan wisata (Rahma et , 2. Hal ini tercermin dari penilaian pengunjung yang secara umum menilai pelayanan di Wisata Poetoek Soeko sudah cukup baik dan ramah. Meskipun demikian, keterbatasan jumlah pegawai menjadi kendala tersendiri, karena tidak semua area wisata dapat terlayani dengan optimal dan beberapa wahana tidak dapat dioperasikan akibat tidak adanya petugas yang berjaga. Berikut gambar wahana bebek air yang terbengkalai di wisata Poetoek Soeko. Peran Fasilitator Peran fasilitator dalam pengelolaan wisata berfokus pada upaya menciptakan kondisi yang mendukung kelancaran kegiatan wisata. Menurut Munir . alam Nilawati et al. , 2. Peran sebagai fasilitator adalah menciptakan kondisi yang mendukung pelaksanaan pembangunan dengan memperbaiki tata kelola, prosedur pelayanan, serta menetapkan kebijakan yang memperkuat pelaksanaan pembangunan. Peran ini berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana, pelatihan, dan dukungan usaha untuk pengembangan kapasitas sumber daya BUMDes Sukosari Makmur telah menyediakan berbagai fasilitas wisata seperti cafy Poetoek Soeko, taman bunga, gazebo, toilet, area parkir, aula, dan kolam renang yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung. Fasilitas seperti area parkir, toilet, dan gazebo tersedia dalam jumlah yang cukup sehingga memudahkan Selain itu, terdapat tempat sampah dengan sistem pemilahan untuk mendukung kebersihan Namun, jumlah dan distribusi tempat sampah masih terbatas sehingga perlu ditingkatkan. Untuk menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan, pengelola wisata juga rutin melakukan kerja bakti setiap hari Jumat. Fasilitas yang di Wisata Poetoek Soeko tersedia tidak hanya berfungsi sebagai sarana penunjang kegiatan wisata, tetapi juga digunakan oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan sosial seperti wisuda Sekolah Orang Tua Hebat dan lokasi outbound. Berikut ini gambar salah satu kegiatan warga yang dilakukan di Poetoek Soeko: Gambar 8 Wahana Bebek Air Di Poetoek Soeko Sumber: Dokumentasi penulis, 2025 Keterbatasan jumlah pegawai menjadi kendala dalam mengoptimalkan pelayanan, terutama saat akhir pekan yang merupakan waktu dengan tingkat kunjungan tertinggi tetapi jumlah pegawai relatif minim. Selain itu, dalam pembagian tugas di lapangan masih terdapat pegawai yang bekerja terfokus pada satu titik tertentu, sehingga area lain kurang terpantau dan kurang terawat. Hal ini menunjukkan adanya indikasi permasalahan pada aspek manajerial dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko, khususnya terkait pengelolaan sumber daya Temuan ini menunjukkan adanya indikasi permasalahan pada aspek manajerial dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko, khususnya terkait pengelolaan sumber daya manusia. Hal ini mengakibatkan sistem pengaturan jadwal, pengawasan, dan distribusi tugas belum berjalan secara efektif, sehingga berdampak pada Gambar 7 Acara Wisuda Sekolah Orang Tua Hebat Desa Sukosari Sumber: Instagram Poetoek Soeko, 2025 BUMDes Sukosari Makmur telah menunjukkan peran sebagai fasilitator melalui pelatihan bagi pengelola wisata terkait manajemen, pengelolaan wisata, dan promosi Publika. Volume 14 Nomor 1. Tahun 2026, 179-188 kurang optimalnya pengelolaan dan pelayanan wisata secara menyeluruh. Selain itu, layanan informasi juga masih terbatas karena minimnya papan petunjuk arah dan ketidaksesuaian informasi pada peta lokasi, sehingga pengunjung sering mengalami kesulitan dalam mencari fasilitas tertentu. Jumlah pegawai yang terbatas juga membuat pengunjung tidak selalu dapat memperoleh informasi secara langsung. Berdasarkan uraian di atas peran BUMDes Sukosari Makmur sebagai fasilitator tersebut belum sepenuhnya Keberlanjutan pelatihan untuk pengelola wisata masih terbatas. Selain itu, kurangnya jumlah pegawai mengakibatkan beberapa wahana di wisata Poetoek Soeko tidak dapat beroperasi. Papan petunjuk arah yang masih minim membuat wisatawan kesulitan mencari informasi ketika berkunjung. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan peran fasilitator melalui peningkatan pelatihan untuk pegawai serta perbaikan sarana pendukung agar pengelolaan wisata Poetoek Soeko dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada orang tua, keluarga, dan teman-teman yang telah mendukung penulis sehingga dapat menjalani semua tahapan hingga titik ini. Selain itu, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Deby Febriyan Eprilianto. Sos. MPA. selaku Dosen Pembimbing Skripsi, kedua dosen penguji yakni Bapak Galih Wahyu Pradana. Si. , dan Ibu Melda Fadiyah Hidayat S. AP. MPA. , yang turut serta menjadi penyempurna penulisan tugas akhir ini. Terakhir, penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu penulis melakukan proses penelitian. PENUTUP Simpulan Berdasarkan menunjukkan bahwa BUMDes Sukosari Makmur telah menjalankan perannya dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko sebagai entrepreneur, koordinator, dan fasilitator. Ketiga peran tersebut telah memberikan kontribusi nyata bagi desa dan masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun Namun, pelaksanaannya belum berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Melalui peran entrepreneur pengelolaan Wisata Poetoek Soeko oleh BUMDes Sukosari Makmur memberikan manfaat ekonomi dan sosial, seperti kontribusi terhadap PADes, penciptaan lapangan kerja, serta bantuan untuk kegiatan desa. Namun, peran ini belum optimal karena masih terbatasnya inovasi, khususnya dalam pengembangan wahana wisata. Keterbatasan anggaran menjadi faktor yang memengaruhi belum optimalnya perencanaan dan strategi usaha yang adaptif, sehingga berdampak pada daya tarik wisata dan minat kunjungan wisatawan. Pada peran koordinator BUMDes Sukosari Makmur telah menjalankan koordinasi dengan pemerintah desa, pegawai wisata, dan masyarakat dalam pengelolaan Wisata Poetoek Soeko. Namun, koordinasi tersebut belum berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Koordinasi dengan pemerintah desa cenderung terbatas pada tahap perencanaan dan penyerahan aset tanpa pendampingan pengelolaan lanjutan. Selain itu, pengelolaan wisata dilakukan secara mandiri tanpa kerja sama dengan investor atau mitra eksternal. Sementara itu, partisipasi masyarakat masih relatif rendah. Kondisi ini berdampak pada perawatan fasilitas dan efektivitas strategi promosi wisata yang masih terbatas. Peran BUMDes Sukosari Makmur sebagai fasilitator telah terlihat melalui penyediaan fasilitas wisata, upaya peningkatan pelayanan, pengembangan sumber daya manusia, serta pemanfaatan fasilitas wisata untuk kegiatan masyarakat desa. Namun, peran fasilitator tersebut belum sepenuhnya optimal. Keberlanjutan pelatihan bagi pengelola wisata masih terbatas, jumlah pegawai belum mencukupi, beberapa wahana tidak dapat beroperasi, serta minimnya papan informasi yang menyulitkan wisatawan. Saran BUMDes Sukosari Makmur perlu melakukan inovasi wisata dengan penataan ulang spot wisata yang sudah ada seperti penanaman ulang taman bunga agar lebih menarik, perbaikan estetika wahana permainan dan pengecatan ulang fasilitas, serta pemanfaatan area kosong secara optimal seperti pembuatan spot foto yang tidak memerlukan biaya besar namun tetap memberikan pengalaman baru bagi pengunjung sehingga mampu mendorong peningkatan daya tarik Koordinasi antara BUMDes Sukosari Makmur dengan pemerintah desa perlu menyusun kesepakatan tertulis bersama agar tidak hanya berhenti pada tahap penyerahan aset, tetapi berlanjut pada pendampingan. Selain itu. BUMDes dapat menginisiasi forum diskusi untuk membuka peluang keterlibatan masyarakat. Untuk memperkuat permodalan. BUMDes dapat mengajukan kerja dengan skema bagi hasil yang jelas. Penguatan koordinasi tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan strategi promosi dan optimalisasi perawatan Wisata Poetoek Soeko. BUMDes Sukosari Makmur dapat menyelenggarakan pelatihan yang terencana bagi pengelola wisata maupun masyarakat, serta penataan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaan Selain itu, diperlukan penambahan sarana pendukung, seperti papan penunjuk arah dan tempat Peran Badan Usaha Milik Desa. sampah untuk mempermudah wisatawan dalam mengakses area wisata serta meningkatkan kenyamanan pengunjung. Sutiani. Peran Serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. Dalam Pengembangan Desa Wisata Di Desa Taro Kecamatan Tegallalang Kabupaten Gianyar. Jurnal CAKRAWARTI, 04. , 70Ae79. DAFTAR PUSTAKA Utami. Mahmudah. Sahilla. Amaretta, . Aini. , & Sari. Analisis Implementasi Kebijakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Kecamatan Widang Kabupaten Tuban. JPSI (Journal of Public Sector Innovation. , 7. , 97Ae https://doi. org/10. 26740/jpsi. Bachtiar. Tamrin. Pauzi. Prilasandi. & Rafliansyah. Collaborative Process Dalam Pengelolaan Desa Wisata. Jurnal Administrasi Negara, 28. , 340Ae364. Badan Pusat Statistik, . Kabupaten Mojokerto Dalam Angka 2025. Badan Pusat Statistik, 1-544. Danarsasi. , & Meirinawati. Manajemen Strategi Pariwisata Dalam Ketahanan Perekonomian Pada Masa Pandemi Covid-19 Oleh Dinas Pariwisata. Kepemudaan. Dan Olahraga Kabupaten Mojokerto (Studi Pada Ubalan Waterpar. Publika, 10. , 43Ae https://doi. org/10. 26740/publika. Dewi. , & Pradana. Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. Hendrosari Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik Dalam Pengembangan Pariwisata di Desa Wisata Lontar Sewu. Publika, 12, 395Ae408. https://doi. org/10. 26740/publika. Handajani. Abidin. , & Pituringsih,E. Pendampingan Perintisan Usaha Bumdes Untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Peteluan Indah. Jurnal Abdi Insani Universitas Mataram, 8 . , http://doi. org/10. 29303/abdiinsani. Hardani. Auliya. Andriana. Fardani. Ustiawaty. Jumari. Utami. Sukmana. , & Istiqomah. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta CV. Pustaka Ilmu.