LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Oktober 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || Representasi Tokoh Perempuan Indonesia Pada Novel Surga Yang Tak Dirindukan Karya Asma Nadia (Kajian Feminism. Hartini 1. Mustofa 2. Sariban 3 *1-3 Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 hartini. 0477@gmail. 2 tofa09@unisda. 3 sariban@unisda. ABSTRAK Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan Sumber data yang digunakan yakni novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik baca catat. Analis data yang dilakukan didasarkan pada teknik dalam melakukan kajian feminisme, yaitu . mengindentifikasi satu atau beberapa tokoh wanita di dalam sebuah karya, yang dilakukan dengan cara mencari kedudukan tokohtokoh tersebut di dalam masyarakat dan mengindentifikasi perilaku serta watak tokoh perempuan dari gambaran yang langsung diberikan penulis, . meneliti tokoh lain, terutama tokoh laki-laki yang berkaitan dengan tokoh perempuan di dalam karya sastra tersebut, . mengamati sikap penulis di dalam karya sastra tersebut. Berdasarkan hasil analisis diperoleh pandangan perempuan tentang gender yang terdapat dalam novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia, mencakup pandangan terhadap lembaga perkawinan, pandangan mengenai sosok anak hasil pernikahan, pandangan terhadap tubuh perempuan, pandangan terhadap dirinya sendiri, dan pandangan terhadap Kata kunci: feminisme, gender, ketidakadilan, penolakan. ABSTRACT This research uses a qualitative descriptive research method using a sociological approach. The data source used is the novel Heaven That Is Not Missed by Asma Nadia. The technique used to collect data is the reading and note-taking technique. The data analysis carried out is based on techniques in conducting feminist studies, namely . identifying one or several female characters in a work, which is done by looking for the position of these characters in society and identifying the behavior and character of female characters from the descriptions directly given by the author, . examining other characters, especially male characters who are related to the female characters in the literary work, . observing the author's attitude in the literary work. Based on the results of the analysis, it was obtained women's views on gender contained in the novel Surga Yang Tak Missed by Asma Nadia, including views on the institution of marriage, views on the figure of children resulting from marriage, views on women's bodies, views on themselves, and views on infidelity. Kata Kunci: feminism, gender, injustice, rejection. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Karya sastra merupakan hasil kreasi sastrawan melalui kontemplasi dan refleksi setelah menyaksikan berbagai fenomena kehidupan dalam lingkungan sosialnya. Fenomena kehidupan itu beraneka ragam, baik yang mengandung aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, kemanusiaan, keagamaan, moral, maupun gender. Dengan daya imajinatifnya, berbagai realitas kehidupan yang dihadapi sastrawan itu diseleksi, direnungkan, dikaji, diolah, kemudian diungkapkan dalam karya sastra yang lazim bermediumkan bahasa. (Al-MaAruf, 2010: . Sebagai karya sastra imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan dan kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya di lingkungan sesamanya. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan sehingga seorang pengarang akan mengajak pembaca memasuki pengalaman atau imajinasi melalui tokoh-tokoh dalam karya sastra (Nurgiyantoro, 2009: 2-. Novel merupakan sebuah totalitas, suatu keseluruhan yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya secara erat dan saling menguntungkan (Nurgiyantoro, 2009: . Di antara genre utama karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, genre prosalah, khususnya novel, yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Alasan yang dapat dikemukakan di antaranya . novel menampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang paling luas, . bahasa novel cenderung merupakan bahasa sehari-hari, bahasa yang paling umum digunakan dalam masyarakat. Oleh karena itulah, dikatakan bahwa novel merupakan genre yang paling sosiologis dan responsif sebab sangat peka terhadap fluktuasi sosiohistoris (Ratna, 2009: 335-. Analisis feminisme muncul karena kesadaran ketidakadilan dan hak-hak dasar kehidupan kaum perempuan. Suara-suara subordinasi perempuan bergema pada saat pasca revolusi industri di Eropa. Di dunia sastra Indonesia, feminisme sudah dipermasalahkan sejak tahun 20-an, yaitu dalam roman AuSiti NurbayaAy bertema kawin paksa. Dalam segala hal, kaum perempuan dianggap manusia yang tidak mempunyai kehendak dan keyakinan dan hanya menurut kehendak kaum laki-laki (Darma, 2009: . Feminisme muncul dari rasa ketidakpuasan terhadap sistem patriarki yang ada pada Patriarki menentukan bahwa laki-laki superior dan perempuan inferior (Selden dikutip Darma, 2009:. Perempuan dalam pandangan feminisme mempunyai aktivitas dan inisiatif sendiri, untuk memperjuangkan hak dan kepentingan tersebut dalam berbagai Masalah-masalah yang dihadapi perempuan, mendorong perempuan untuk melakukan protesprotes, dan melawan diskriminasi yang selama ini diderita (Darma, 2009:. Deskriminasi perempuan juga tercermin dalam karya sastra. Menurut Humm . , dominasi terhadap perempuan dalam karya sastra ditujukkan oleh tulisan laki-laki yang berpandangan seolah-olah pembaca adalah laki-laki. Tokoh perempuan banyak digambarkan mendapat perlakuan secara diskriminatif. Kenyataan tersebut mendorong lahirnya feminisme dalam bidang sastra. Kritik sastra feminis merupakan salah satu ragam kritik sastra . ajian sastr. yang mendasarkan pada pemikiran feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan baik sebagai penulis maupun dalam karya sastra-karya Lahirnya kritik satra feminis tidak dapat dipisahkan dari gerakan feminisme yang pada awalnya muncul di Amerika Serikat pada tahun 1700-an. Kritik sastra feminis dianggap sebagai kritik yang bersifat revolusioner yang ingin menumbangkan wacana yang dominan yang dibentuk oleh suara tradisional yang bersifat patriaki. Tujuan utama kritik sastra feminis adalah menganalisis relasi gender, yaitu situasi ketika perempuan berada dalam dominasi lakilaki. Melalui kritik sastra feminis akan dideskripsikan opresi perempuan yang terdapat dalam karya sastra (Humm, 2007:. Salah satu dari sejumlah perempuan penulis di Indonesia adalah Asma Nadia. Novel ciptaannya yang berjudul Surga yang Tak Dirindukan diangkat sebagai objek dalam penelitian Dengan kepiawaiannya dalam mengeksplorasi dunia kata. Asma Nadia memotret poligami dari semua sisi, yaitu sisi suami, sisi korban yang dalam hal ini adalah istri pertama, dan sisi perempuan kedua. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Teeuw . bahwa penciptaan karya sastra oleh pengarang tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu proses. Asma Nadia tentu telah membiarkan ideologinya bergumul dengan realitas sosial yang ia temui dan kemudian melahirkan sebuah karya untuk diterjemahkan kembali oleh pembaca. Bagaimana pun, seorang pengarang menciptakan karya sastra tidak berangkat dari kekosongan, melainkan diilhami oleh realitas kehidupan yang semakin kompleks. Karya sastra lahir karena adanya penghayatan terhadap realitas kehidupan secara intens yang dilakukan oleh Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis. Sebagai representasi, sastra dapat membangun sebuah dunia imajiner, lingkungan interaksi imajiner, yang mencerminkan pola interaksi dalam dunia sosial yang nyata. Dalam novel Surga yang Tak Dirindukan terdapat berbagai fakta sosial berkaitan dengan ideologi patriaki, ketimpangan gender, dan perlawanan perempuan untuk mencapai posisi egaliter dalam masyarakat. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat ide-ide feminis di dalam novel tersebut. Sehubungan dengan itu. Ratna . menyatakan bahwa pendekatan sosiologis merupakan pendekatan yang dapat digunakan untuk membantu memahami gender, feminis, status peranan, wacana sosial, dan sebagainya. Pendekatan sosiologis ini memiliki implikasi metodologis berupa pemahaman mendasar mengenai kehidupan manusia dalam masyarakat. Data dalam penelitian ini adalah kutipan kata-kata, frasa, kalimat, dan paragraf yang terdapat dalam novel Surga yang Tak Dirindukan yang relevan terhadap penelitian. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia. Novel tersebut diterbitkan oleh Asma Nadia Publishing House dengan jumlah halaman sebanyak 300 halaman. Hasil dan Pembahasan Pandangan Terhadap Lembaga Pernikahan Bagi Arini, pernikahan merupakan sesuatu yang sakral. Kesakralan pernikahan merupakan sesuatu yang mutlak. Arini sangat menghargai dan menjunjung tinggi pernikahannya dengan Pras. Pandangannya tentang kamar tidur membuktikan akan hal itu seperti yang terekam dalam kutipan berikut. Bagi Arini, kamar bukan sekadar tempat beristirahat. Tapi lebih merupakan wujud cintanya yang putih pada Pras. Lelaki pertama yang menarik hati yang datang melamarnya sepuluh tahun lalu. Lelaki yang masih dicintai, dan mencintainya dengan sepenuh hati pula. (Nadia. Hlm. Arini percaya takdir bahwa kebahagiaan akan datang pada masanya. Dia tidak seperti teman-temannya yang mengisi masa muda dengan bergonta-ganti kekasih. Baginya pernikahan itu suci dan hanya kepada laki-laki yang dikirimkan oleh Allah ia akan melabuhkan hatinya. Ia memilih untuk sabar tidak pacaran dan menanti lelaki yang mendekatinya dengan niat menikah daripada sekadar meraih kehangatan masa muda. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Dan bagi Arini kalimat itu berarti: Sabar untuk tidak pacaran. Sabar menanti lelaki yang mendekatinya dengan niat menikah dan bukan sekadar meraih kehangatan masa muda. (Nadia. Hlm. Ketika memilih untuk menikah, maka sekian banyak perempuan berhenti memikirkan dirinya, memikirkan hidupnya. Sejak mengikrarkan perkawinannya, perempuan telah menandatangani kontrak bahwa ia akan mendedikasikan dirinya secara utuh bagi suami dan anak-anaknya, tanpa menyisakan ruang bagi dirinya sendiri. Bahkan ketika secara nyata Arini telah mengetahui perselingkuhan suaminya dengan perempuan lain, tetap saja ia menghormati Pras sebagai suaminya meskipun sebenarnya ia sangat ingin melabarak, mencaci maki dan memukul Pras. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan Semula Arini ingin melabrak Pras. Mencaci maki, memukul dan menendangnya kalau perlu. Tapi dia seorang istri. Dan sejak kecil Arini melihat betapa hormat ibu kepada Bapak, ibu tidak pernah merengut, marah, apalagi berkata kasar. Dan sikap itu diakui Arini sangat memepengaruhicara pandang dia dan abangnya terhadap lelaki yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. (Nadia, hlm. Kemampuan melakukan pendekatan dan penyesuaian merupakan hal yang penting dimiliki oleh seorang perempuan. Arini adalah istri yang sangat membaktikan diri untuk Setelah menikah, ia menganggap suaminya adalah seorang anak kecil yang tidak dapat mengurus urusan-urusan kecil yang berhubungan dengan dirinya. Seorang laki-laki tiba-tiba tidak mampu memenuhi kebutuhannya atas makanan dan pakaian sehingga harus dibantu oleh perempuan yang menjadi istrinya. Saat menikah, laki-laki akan memperoleh kenyamanan layaknya seorang anak kecil yang harus selalu dilayani. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Semua jerih payah yang kerap menghabiskan energinya untuk menulis dan membangun eksistensi diri. Tugas tugas rumah tangga memang tidak pernah Sebab sejak awal pernikahan. Arini tidak mengizinkan pembantu untuk mencuci atau menyeterika pakaian Pras. Dia suka melakukannya Sendiri. Arini tidak ingin satu pun baju suaminya rusak, atau tidak tersetrika dengan baik. (Nadia. Hlm. Hak suami atas istri ialah melayaninya sepenuh hati. Hal inilah yang selalu dilakukan oleh Arini. Bahkan setalah ia mengetahui bahwa Pras telah mengkhianatinya. Arini tetap melakukan kewajiban sebagai istri termasuk urusan tempat tidur. Meskipun sebenarnya ia tak rela disentuh oleh Pras tetapi ia tidak kuasa menolak. Sebagai pemeluk agama yang kuat. Arini merasa takut menghadapi kemarahan Allah dan malaikat yang mengutuknya hingga matahari terbit. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Setulusnya, dia ingin selalu membahagiakan Pras. Hidup dan tanggung jawab seorang suami sudah berat. Tidak perlu dilelahkan lagi oleh hal hal sepele hanya karena sang istri tidak bisa mengatur prioritas masalah. Dan rumah semestinya menjadi pelabuhan yang nyaman bagi setiap suami selain anak anak. (Nadia. Hlm. Pandangan perempuan terhadap perkawinan yang muncul dan mewakili konsep feminia adalah bahwa institusi perkawinan merupakan institusi legal yang sekaligus melegalkan adanya dominasi terhadap perempuan. Institusi perkawinan menjadi wadah bagi penguasaan perempuan oleh laki-laki yang terjadi secara halus hingga tidak disadari. Sejak awal, salah satu konsep dasar yang dikemukakan para feminis adalah bahwa keluarga merupakan institusi terbesar yang melanggengkan berlakunya system patriakal. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Arini memandang pernikahan sebagai institusi sakral yang menuntut pengabdian penuh dari seorang istri kepada suaminya. Ia meyakini bahwa kebahagiaan akan datang pada waktunya dan memilih kesabaran dalam menanti pasangan yang tepat. Setelah menikah, ia sepenuhnya mengabdikan dirinya kepada Pras, bahkan tetap menghormati dan melayani suaminya meskipun dikhianati. Pandangannya mencerminkan konsep patriarki dalam pernikahan, di mana perempuan dituntut untuk tunduk dan berkorban demi kebahagiaan suami. Hal ini sejalan dengan kritik feminis yang menyatakan bahwa perkawinan sering kali menjadi alat dominasi laki-laki terhadap perempuan secara halus dan tidak disadari. Pandangan Terhadap Anak-Anak Hasil Pernikahan Sebagai manusia biasa, kita tentu tidak bisa memungkiri bahwa besar keinginan dalam diri kita bahwa hidup kita akan penuh dengan kebahagiaan terlebih lagi jika kita mempunyai keluarga. Kita senantiasa ingin hidup bahagia bersama keluarga terutama anak-anak. Akan tetapi, sebesar apa pun usaha kita untuk selalu merasa bahagia, terkadang kita tetap tidak bisa menghindari kesedihan karena hal ini merupakan hal yang normal bagi setiap manusia. Kesedihan bisa muncul kapan saja tanpa bisa kita hindari. Apabila kesedihan merupakan hal yang manusiawi, maka akan terasa berat jika harus menyembunyikan kesedihan di depan orang lain terutama anak kandung. Pada kenyataannya, banyak orang tua yang berusaha menyembunyikan kesedihan yang mereka rasakan di depan anak. Banyak orang tua mempunyai kecenderungan untuk menyembunyikan kesedihan mereka dan berpura-pura bahwa segala sesuatu baik-baik Inilah yang dilakukan Arini yang harus menyembunyikan kesedihan setelah mengetahui pengkhianatan Pras, suaminya, di depan anak-anaknya. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Suara Nadia menyadarkan Arini akan keberadaan makhluk-makluk cilik di Arini menyeka air mata. Mencoba tersenyum semanis mungkin pada Nadia. Adam, dan si kecil Putri yang menjulurkan tangan mungilnya minta (Nadia. Hlm. Permasalahan muncul ketika orang tua yang memperlihatkan kesedihan kepada anak adalah saat anak juga ikut bersedih. Pada kenyataannya, anak mempunyai perasaan dan kepekaan terhadap apa yang dialami oleh orang tuanya. Seperti halnya yang dirasakan oleh Nadia dan Putri, anak-anak Arini. Mereka bisa merasakan kesedihan yang disembunyikan oleh Arini. Arini menarik nafas panjang. Matanya dikerjapkan kerjapkan seakan kelilipan. Lalu dengan senyum lebar yang sepenuhnya dipaksakan, arini merengkuh tiga permata (Nadia. Hlm. Kehadiran buah hati dalam sebuah pernikahan dapat mengubah kehidupan orang tua menjadi lebih indah. Berjuta alasan kebahagiaan akan terpancar dari setiap pasangan suami istri yang telah memiliki anak. Tentunya semua harapan yang diinginkan semua pasangan suami istri adalah harapan-harapan yang positif. Terlepas dari semua pendapat mereka, seorang anak ternyata sangat penting karena anak adalah anugerah, amanah, dan titipan dari Tuhan yang harus dijaga, dirawat, dan dibesarkan dengan baik. Anehnya, walau hati panas. Tubuh Arini justru menggigil membayangkan peperangan yang sejak pagi berlangsung dalam diri. Anak-anak yang tidak mengerti, mengira semua baik-baik saja, memaksanya bersikap normal. Nadia membuat perjuangan Arini untuk bersikap biasa-biasa saja menjadi kian AhA. Apakah dia sudah kehilangan akal sehat hingga hanya lewat tatapan mata, dia merasa mereka bercakap-cakap? Dia dan gadis kecilnya? Bunda luka. Sayang. Kenapa? Sebab AyahA. Kenapa dengan Ayah? Arini Diam. Menggigit bibir. Menahan suara hati agar tidak terbaca Nadia. (Nadia. Hlm. Ketika Tuhan mempersatukan manusia dalam ikatan pernikahan, maka menjadi tugas suami dan istri untuk memupuk, membina, dan mempertahankan pernikahan dengan dasar keikhlasan dan kasih saying. Namun tidak dapat dipungkiri begitu banyak pernikahan dipertahankan walau sudah porak poranda. Alasan utama demi anak-anak agar tetap memiliki ayah dan ibu, hingga apapun perbuatan yang dilakukan oleh suami, si istri menerima dengan sabar. Ini kesalahan Pras. Mungkin sebagian ada juga kesalahannya. Entahlah. Tapi adilkah membuat anak-anak menanggung akibat atas kesalahan orang tua? (Nadia. Hlm. Saat menjadi orang tua, setiap orang berharap ia bisa menjadi malaikat penjaga bagi sang buah hati. Apa pun masalah yang dihadapi si kecil, sebisa mungkin orang tua menghibur, menyemangati, dan mengutamakan kepentingannya. Namun, ada kalanya, beberapa hal membuat orang tua merasa begitu rapuh dan lemah. Saat orang tua sedang marah pada sesuatu hal atau sangat sedih, biasanya mereka berusaha menahan emosinya jika di sekitar mereka ada anak karena tidak ingin membuat anak menjadi marah atau Untuk mereka. Arini masih sanggup bertahan. Menjalani hidup yang pura-pura. Seakan semua normal, dan masih memiliki bangunan surga yang sama. Meski dinding-dindingnya mulai retak, dan setiap hari, satu per satu bagian yang menopangnya runtuh. (Nadia. Hlm. Banyak orang setuju bahwa kehadiran anak adalah salah satu kebahagiaan terbesar dalam kehidupan. Anak-anak adalah ibarat mata air yang meneduhkan luka seorang ibu. Menatap mata bening mereka dan mendengar tawa serta merasakan kebahagiaan mereka sanggup mengubah kesedihan orang tua menjadi kebahagiaan. Sebesar apa pun luka yang dialami orang tua menjadi tidak berarti. Tidak ada yang lebih membahagiakan orang tua selain melihat anak-anak mereka sehat dan tak kurang suatu apa pun. Kalimat-kalimat itulah yang senantiasa dipesankan oleh Ibu kepada Arini. Setiap kali Arini merasa menyerah dengan keadaan, pesan ibunya selalu terngiang di telinganya. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. AuIngat Rin, anak-anak adalah mata air yang meneduhkan luka setiap perempuan. Tatap mata-mata bening mereka. Rasakan tawa dan kebahagiaan mereka. Maka setiap luka menjadi tak berarti. Ay Selama anak-anak sehat. Selama anak-anak tak kurang suatu apa pun. Masalahmasalah lain menjadi kecil. (Nadia. Hlm. Pandangan perempuan mengenai sosok anak hasil pernikahan adalah pemikiran bahwa kehadiran buah hati dalam sebuah pernikahan dapat mengubah kehidupan orang tua menjadi lebih indah. Berjuta alasan kebahagiaan akan terpancar dari setiap pasangan suami istri yang telah memiliki anak. Dengan alasan itulah banyak orang tua yang berusaha menyembunyikan kesedihan yang mereka rasakan di depan anak. Banyak orang tua yang mempunyai kecenderungan untuk menyembunyikan kesedihan mereka dan berpura-pura bahwa segala sesuatu baik-baik saja. Berdasarkan uraian data di atas, dapat disimpulkan bahwa pandangan terhadap anak-anak hasil pernikahan dalam novel Nadia menunjukkan bahwa kehadiran mereka menjadi sumber kebahagiaan dan alasan bagi orang tua, terutama ibu, untuk bertahan dalam pernikahan meskipun penuh luka. Arini, tokoh utama, berusaha menyembunyikan kesedihannya demi menjaga perasaan anak-anaknya, meskipun mereka tetap bisa merasakan beban emosional ibunya. Ia meyakini bahwa anak-anak adalah anugerah yang harus dijaga, sehingga ia memilih mempertahankan rumah tangganya meskipun dindingdindingnya mulai retak. Baginya, kebahagiaan dan kesejahteraan anak lebih penting daripada luka yang ia rasakan. Pandangan Terhadap Perselingkuhan Pada dasarnya sikap perempuan dalam novel Surga yang Tak Dirindukan . alam hal ini Arin. sangat menolak adanya perselingkuhan. Arini merasa hatinya bagai terbakar sesaat setelah mengetahui Pras, suaminya telah berselingkuh. Sulit menggambarkan bagaimana dunia mendadak runtuh setelah mengetahui hal tersebut. Istana Arini yang semula indah dan sempurna, kini berubah menjadi serpihan kaca yang berhamburan dan menusuk-nusuk ruang batin. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Arini merasa hatinya terbakar, meski angin semilir dari jendela kamar yang terbuka, juga kolam di belakang rumah yang sesekali mengantarkan kecipak ikan mas, mengirimnya kesejukan. Tetap saja, rasanya tidak ada yang bisa mendinginkan hatinya saat ini. (Nadia. Hlm. Sebuah kabar yang diterima Arini dari bagian keuangan di kampus tempat Pras, suaminya mengajar mengungkap kebohongan yang dilakukan suaminya. Ketika Arini mencoba menelepon sebuah nomer yang diberikan oleh Mbak Hani, terdengar suara perempuan yang dengan riang menjawab bahwa dia adalah Nyonya Prasetya, suaminya. Kenyataan yang serta merta merapuhkan Arini. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan Delapan digit angka yang diberikan itu bukan nomor telepon rumah mereka. Tapi perempuan yang mengangkat gagang telepon di sana memperkenalkan dirinya tanpa ragu, membuat Arini serasa tak lagi menapak, limbung dan nyaris jatuh. (Nadia. Hlm. Secara normatif, hati nurani manusia akan menolak perselingkuhan. Tidak ada orang yang sengaja ingin menjadi penyebab perselingkuhan, menjadi korban perselingkuhan, atau menjadi pelaku perselingkuhan. Akan tetapi seringkali terdapat latar belakang tertentu yang membuat hal tersebut terjadi. Arini, tokoh utama dalam novel Surga yang Tak Dirindukan ini pada dasarnya telah mengetahui perselingkuhan yang dilakaukan oleh suaminya. Ia tidak menyangka bahwa Pras, suaminya, mampu melakukan hal itu. Sulit diterima oleh akal sehat jika Pras yang penuh kasih sayang telah memilih perempuan lain. Selama ini dia merasa tak sedikitpun kehilangan sensitivitas untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Kenyataannya. Pras telah menjerumuskannya ke luka yang lebih jauh. Lelaki yang semula mengenalkan dunia para putri kepadanya. Dunia yang hanya berisi kebahagiaan. Hanya ada kesetiaan cinta sejati, cinta yang tidak terbagi untuk orang lain ternyata sudah Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Arini terenyak. Selama ini dia merasa tak sedikit pun kehilangan sensitivitas untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Tetapi pangerannya mahir telah menjerumuskannya lebih jauh dalam kehidupan dongeng, di mana langit hanya berwarna biru, di mana hanya ada tawa tanpa air mata. Dunia para putri yang bahagia, bersama para pangeran. Putri-putri yang tak pernah berpikir suatu hari harus membagi pangeran impian mereka dengan putri lain. (Nadia. Hlm. Kenyataan bahwa Pras telah berselingkuh menyadarkan Arini bahwa realitas bukan dongeng. Arini berharap pertemuan dengan sahabat-sahabat lamanya bisa membantu melupakan realitas yang pahit dan jika mungkin mengembalikannya pada kehidupan yang sebelumnya. Kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Seperti orang bodoh. Arini menyaksikan saja kemesraan tang terjalin di seberang Si lelaki mengecup perempuannya lembut. Sosok bermata sipit dengan kerudung kecil tertawa renyah. Membenarkan letak kerah kemeja lelaki di hadapannya, sebelum masuk ke mobil yang terparkir. Arini mengamati raut lelaki berambut lurus yang terus melambaikan tangan hingga kendaraan yang membawa si perempuan dan bocah lelaki itu lenyap di kelokan (Nadia. Hlm. Pandangan perempuan mengenai perselingkuhan adalah pada dasarnya sangat menolak adanya perselingkuhan. Secara normatif, hati nurani manusia akan menolak Tidak ada orang yang sengaja ingin menjadi penyebab perselingkuhan, menjadi korban perselingkuhan, atau menjadi pelaku perselingkuhan. Akan tetapi seringkali terdapat latar belakang tertentu yang membuat hal tersebut terjadi. Berdasarkan hasil pemaparan data di atas dapat disimpulkan bahwa Arini dengan tegas menolak perselingkuhan dan merasa dunianya runtuh saat mengetahui bahwa suaminya. Pras, telah mengkhianatinya. Ia mengalami pergolakan batin yang mendalam, sulit menerima kenyataan bahwa pria yang penuh kasih sayang bisa berbagi cinta dengan perempuan lain. Berbagai bukti yang ditemukan, mulai dari percakapan telepon hingga transaksi mencurigakan, semakin menguatkan kecurigaannya. Puncaknya. Arini sendiri menyaksikan kemesraan Pras dengan wanita lain, yang menegaskan bahwa perselingkuhan itu nyata. Secara normatif, perselingkuhan bertentangan dengan hati nurani manusia, namun berbagai faktor tertentu dapat membuatnya terjadi. Pandangan Terhadap Dirinya Sendiri Bagaimana perempuan memandang dirinya sendiri merupakan sesuatu yang unik. Beberapa pandangan gersebut masih merupakan pengaruh oleh nilai-nilai patriakal, namun sebagian lainnya telah mulai beranjak meninggalkannya. Pasrah, merupakan salah satu feminitas yang disematkan kepada perempuan oleh sistem patriakal. Perempuan yang dianggap baik adalah perempuan yang tunduk terhadap ayah jika perempuan itu seorang anak, dan tunduk terhadap suami jika ia telah menikah. Perilaku melawan dianggap tidak sesuai dengan sifat perempuan. Seorang suami bahkan memberi label kurang ajar kepada istrinya yang menunjukkan perlawanan. Ketidakpatuhan merupakan sikap yang harus dijauhi perempuan karena hal tersebut tidak berterima di dalam masyarakat. Hal ini pula yang tampak pada tokoh Mei Rose. Ia tidak pernah mengeluh dan selalu menuruti kata perintah dari A-ie, bibinya yang telah merawatnya sejak ia masih kecil. Perlakuan bibinya yang lebih tepat seperti majikan kepada babu, diterima Mei Rose dengan tanpa beban. Menurut Mei Rose, hal itu wajar karena berkat bibinya lah, ia bisa sekolah hingga tamat SMA. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Aku tak ingin mengeluh. Bagaimana pun A-ie telah berbaik hati menyekolahkanku hingga lulus SMA. Meski harus kubayar dengan kerja seperti babu. Takapa. Naluri matematisku mengatakan, apa pun pengorbanannya, sejauh ada yang bisa kuambil, maka biarkanlah. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang ingin kita capai. (Nadia. Hlm. Definisi cantik seperti yang beredar pada masyarakat secara umum adalah berdasarkan keindahan fitur wajah dan lekuk tubuh semata. Cantik adalah apapun yang secara seksual menarik untuk pria seperti fitur tubuh molek, bibir yang terlihat penuh, dagu yang lancip, dan mata yang besar. Kecantikan yang kasat mata seperti ini, kerap membuat mata terpana, dan secara tidak sadar orang pada umumnya punya ekspektasi yang lebih tinggi pada perempuan yang terlihat cantik. Tokoh Mei Rose pada Novel Surga yang Tak Dirindukan digambarkan sebagai perempuan yang kurang percaya diri karena merasa tidak punya daya tarik dari segi fisik. Dengan tampilan kacamata tebal, bertubuh agak bungkuk, rambut dikuncir satu, dan selalu tampak canggung, ia menyadari tidak akan ada sosok lelaki mana pun yang sudi dekat Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Lihatlah. Bahkan cermin tak punya kalimat yang lebih baik untuk diberikan pada gadis berkacamata tebal, bertubuh agak bungkuk, dengan rambut dikuncir satu, yang selalu tampak canggung. (Nadia. Hlm. Ada banyak pria yang menilai beberapa kriteria dalam diri wanita yang pada akhirnya membuat pria tersebut jatuh hati pada seorang wanita. Cinta yang semakin bersemi dan bunga-bunga asmara yang terus bermekaran, akhirnya menambatkan hati sang pria pada seorang wanita dan langsung meminang wanita tersebut untuk dipersunting menjadi seorang istri dalam seumur hidupnya. Betapa naifnya dia, merasa telah menjadi istri yang baik setelah merawat ketiga anak mereka, menjaga kerapian rumah, memasak, dan melayani suami dengan tangannya sendiri. Setelah semua bakti itu. Arini merasa telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri yang sholikhah. Dulu dikiranya itu cukup. (Nadia. Hlm. Pernikahan hakikatnya adalah sebuah impian bagi setiap pasangan. Dengan menikah maka setiap pasangan memiliki Impian untuk membina keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Selain bertujuan untuk menyempurnakan sebagian ajaran dari agama, menikah pun merupakan salah satu cara untuk memiliki generasi penerus yang lebih baik. Namun apa jadinya jika terjadi kehamilan di luar nikah dan tidak ada tanggung jawab dari si pelaku. Mei Rose yang terjebak oleh bujuk rayu Ray hingga meninggalkan janin di rahimnya menjadi kalut ketika lelaki itu tidak mau bertanggung jawab. Ia merasa malu dengan kehamilannya. Menurutnya, hamil sebelum menikah atau lebih tepatnya hamil tetapi tanpa ada yang mau menikahi adalah aib. Bercerai sekalipun itu membuktukan kemenangan karena artinya ada pernikahan. Tetapi hamil tanpa pernikahan sebelumnya adalah kekalahan, tercela, dan salah. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Aku orang yang birokratis untuk ini. Bercerai sekalipun itu membuktikan kemenangan, artinya kau sempat menikah. Pun hamil adalah kebahagiaan, tentu setelah menikah. Tapi hamil sebelumnya? Itu kalah, tercela, salah! (Nadia. Hlm. Berdasarkan pemaparan data di atas, dapat disimpulkan bahwa pandangan perempuan terhadap dirinya sendiri dalam novel Surga yang Tak Dirindukan masih banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarki, meskipun ada yang mulai melepaskan diri darinya. Tokoh Mei Rose menunjukkan kepasrahan terhadap perlakuan tidak adil yang diterimanya, sementara Arini merasa bahwa pengabdian total sebagai istri sudah cukup untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Selain itu, standar kecantikan yang ditentukan oleh masyarakat membuat Mei Rose merasa rendah diri, sementara pengalaman cinta dan kehamilan di luar nikah semakin menguatkan konstruksi sosial yang menekan perempuan. Melalui tokoh-tokohnya, novel ini menggambarkan bagaimana patriarki membatasi kebebasan perempuan dalam menentukan kebahagiaan dan kehidupannya sendiri. Simpulan Pandangan perempuan yang terdapat dalam novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia terhadap lembaga pernikahan adalah bahwa institusi perkawinan merupakan sesuatu yang sakral. Pandangan perempuan terhadap anak-anak hasil pernikahan adalah bahwa kehadiran seorang anak ternyata sangat penting karena anak adalah anugerah, amanah, dan titipan dari Tuhan yang harus dijaga, dirawat, dan dibesarkan dengan baik. Pandangan perempuan terhadap perselingkuhan adalah pada dasarnya sikap perempuan dalam novel Surga yang Tak Dirindukan sangat menolak adanya perselingkuhan. Pandangan perempuan terhadap dirinya sendiri adalah sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai patriakal, sekalipun sebagian yang lain telah keluar dari hal tersebut. Daftar Pustaka