Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index PEMBERDAYAAN KELOMPOK PENGOLAH SAMPAH KOTA BANDUNG MELALUI PENYULUHAN PEMANFAATAN MAGGOT SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN Yuli Andriani1*. Muhamad Fatah Wiyatna2. Iskandar1. Irfan Zidni1 1Program Studi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran 2Program Studi Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas Padjadjaran Jalan Raya Bandung-Sumedang KM. Jatinangor Sumedang. Jawa Barat Korespondensi: yuli. andriani@unpad. Artikel history : Received Revised Published : 19 Juni 2025 : 26 Juni 2025 : 30 Juni 2025 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRAK Pengelolaan sampah organik secara mandiri merupakan salah satu pendekatan strategis dalam upaya mengurangi beban sampah kota sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah. Salah satu solusi yang berkembang adalah pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengubah sampah organik menjadi biomassa bernilai tinggi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan bersama kelompok pengolah sampah di Kota Bandung yang telah aktif membudidayakan maggot sejak tahun 2024. Meskipun produksi maggot telah berjalan secara rutin, kelompok pengolah sampah Kota Bandung belum memiliki kapasitas teknis untuk menguji kualitas produk maupun mengembangkan pakan berbasis maggot secara terstandar. Oleh karena itu, kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengujian kualitas maggot serta mengkaji potensi pengembangan produk pakan. Metode pelaksanaan meliputi observasi, wawancara, pengambilan sampel untuk analisis laboratorium, dan penyuluhan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan nutrisi maggot memiliki potensi yang baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Diharapkan kegiatan ini dapat memperkuat kapasitas kelompok mitra dalam produksi pakan secara mandiri, memperluas pemanfaatan maggot, serta mendukung pengelolaan sampah yang bernilai guna dan bermanfaat bagi masyarakat. Kata kunci: maggot, pakan alternatif, pengabdian masyarakat, sampah organik. BSF PENDAHULUAN Pengelolaan sampah organik di wilayah perkotaan masih menjadi tantangan serius yang mempengaruhi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung mencatat bahwa volume sampah harian mencapai sekitar 1. 594 ton, dengan jenis sampah terbanyak berupa sisa makanan sebesar 44,52 (Puspita, 2. Jika tidak ditangani secara tepat, sampah organik ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, dan peningkatan emisi gas rumah kaca. Salah satu pendekatan inovatif dalam mengatasi masalah ini adalah pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF), atau yang dikenal sebagai maggot, yang mampu mendegradasi sampah organik secara efisien. Maggot BSF diketahui memiliki kapasitas konversi sampah organik menjadi biomassa larva Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index yang tinggi. Biomassa ini mengandung protein kasar hingga 60%, lipid hingga 40%, asam amino esensial, mineral dan asam laurat yang memiliki antimokroba (Gadzama, 2. Dengan kandungan nutrisi tersebut, maggot berpotensi besar dijadikan sebagai bahan baku alternatif dalam formulasi pakan ternak dan ikan, menggantikan sumber pakan konvensional yang harganya kian meningkat, seperti tepung ikan. Di Kota Bandung, telah berkembang kelompok-kelompok masyarakat yang berfokus pada pengolahan sampah menggunakan teknologi maggot. Salah satunya adalah kelompok pengolah sampah Kota Bandung yang menjadi mitra dalam program pengabdian yang berlokasi di Kecamatan Cicendo. Kota Bandung. Kelompok ini terbentuk sejak Februari 2024 sebagai bentuk inisiatif masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri. Hingga saat ini, kelompok pengolah sampah Kota Bandung ini mampu mengolah sampah organik hingga 150 kg per hari dan menghasilkan hingga 120 kg fresh maggot. Meskipun produksi maggot telah berjalan, pemanfaatannya sebagai bahan baku pakan masih memerlukan pengujian kualitas dan analisis pengembangan lebih lanjut. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pakan berbahan dasar maggot memenuhi standar gizi dan keamanan untuk ternak atau ikan budidaya. Penggunaan maggot sebagai bahan pakan dapat meningkatkan efisiensi pertumbuhan ikan dan ternak, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, serta memperkuat ketahanan pangan lokal, memberdayakan masyarakat, serta mendukung ekonomi sirkular di tingkat komunitas (Azis et al. Bawa et al 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melakukan pengujian kualitas dan analisis pengembangan produk pakan berbahan baku maggot dari kelompok pengolah sampah di Kota Bandung. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi mitra, baik dalam hal peningkatan engetahuan teknis, diversifikas produk, maupun kontribusi nyata dalam pengurangan sampah organik. METODE KEGIATAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan bersama kelompok mitra yaitu kelompok pengolah sampah di Kota Bandung yang aktif membudidayakan maggot sejak tahun Pelaksanaan kegiatan penyuluhan berlangsung pada tanggal 18 Juni 2025 bertempat di Biomethagreen Rumah Edukasi. Metode kegiatan diawali dengan observasi lapangan dan wawancara informal bersama pengelola kelompok untuk menggali permasalahan dan kebutuhan terkait pengolahan sampah dan pengelolaan maggot sebagai bahan baku pakan. Selanjutnya, mitra menyerahkan sampel maggot segar dan produk turunannya untuk dilakukan proses pengambilan sampel dan analisis laboratorium, dengan parameter uji meliputi kadar air, protein, lemak, serat kasar dan kadar abu. Hasil analisis ini digunakan sebagai dasar penyusunan materi Kegiatan penyuluhan dilakukan dalam beberapa tahapan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai potensi maggot sebagai bahan pakan alterntaif sekaligus meningkatkan kapasitas teknis kelompok pengolah sampah dalam pengolahan limbah Penyampaian Materi Kegiatan diawali dengan sesi pemaparan materi yang disampaikan oleh beberapa narasumber yakni Bapak dan Ibu Dosen Universitas Padjadjaran serta didukung oleh tim praktisi dari Biomethagreen Rumah Edukasi. Materi meliputi potensi maggot sebagai pakan, teknik pengolahan serta interpretasi hasil uji laboratorium. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Sesi kedua, dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke fasilitas budidaya maggot milik Biomeathagreen Rumah Edukasi, yang menjadi momen interaktif antara peserta dan fasilitator. Dalam sesi ini, peserta melakukan pengamatan dan berdiskusi langsung mengenai praktik harian budidaya maggot, dari mulai proses penanganan sampah organik, hingga panen larva. Evaluasi dan Interaksi Untuk mengevaluasi pemahaman kelompok mitra terhadap materi yang telah disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab. Evaluasi keberhasilan kegiatan juga dilakukan melalui observasi kehadiran peserta, keaktifan dalam diskusi, serta umpan balik langsung terkait pemahaman materi yang telah diberikan. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk merumuskan tindak lanjut pendampingan teknis dan rencana pengembangan produk maggot oleh mitra. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan sebagai upaya mendukung pengelolaan limbah organik melalui budidaya maggot oleh kelompok pengolah sampah di Kota Bandung. Pembahasan ini akan menguraikan secara rinci mengeai pelaksanaan kegiatan, hasil analisis laboratorium terhadap produk maggot dan produk turunannya, serta interpretasi hasil yang menjadi dasar pengembangan pakan alternatif berbasis maggot. Hasil Analisis Produk Maggot dan Produk Turunannya Analisis laboratorium terhadap produk maggot dan produk turunannya dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kandungan nutrisi serta karakteristik dasar yang dapat mendukung pemanfaatannya sebagai bahan pakan. Sampel (Gambar . yang dianalisis meliputi maggot segar dan produk olahan seperti maggot kering atau tepung, dengan parameter pengujian mencakup kadar air, protein kasar, lemak, dan komponen lain yang relevan. Hasil analisis disajikan dalam beberapa tabel sebagai dasar evaluasi kualitas produk maggot yang dihasilkan oleh kelompok pengolah sampah Kota Bandung. Gambar 1. Sampel Produk Maggot untuk Uji Proksimat Hasil pengujian laboratorium menunjukan bahwa maggot segar yang dihasilkan kelompok pengolah sampah Kota Bandung memiliki kualitas kandungan nutrisi yang cukup potensial untuk digunakan sebagai bahan baku pakan. Berdasarkan hasil pengujian (Tabel . , kandungan protein produk maggot terukur berada pada kisaran yang mendukung penggunaannya sebagai sumber protein alternatif bagi pakan ikan atau ternak. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Tabel 1. Hasil Analisis Proksimat Berbagai Produk Maggot Sampel Air % Abu % Protein % Serat % Lemak % BETN % Energi kkal/kg Maggot Kering 8,07 5,19 32,13 7,36 25,57 29,75 Sangrai Manual Maggot Citarum 53,69 4,56 34,12 2,71 18,73 39,89 15 hari Maggot Cicendo 47,26 6,15 33,61 4,50 22,82 32,92 22 hari Baby Maggot 10 46,98 4,22 28,15 3,06 22,60 41,97 Maggot Fresh 11,64 15,46 15,50 2,76 15,69 50,60 Maggot Kering 23,01 12,30 11,26 15,81 11,79 48,84 Sumber: Data Primer (Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak, 2. Pada Tabel 1 menunjukan bahwa sampel maggot Citarum dengan umur 15 hari tercatat memiliki kandungan protein tertinggi sebesar 34,12% dan serat kasar terendah yaitu 2,71% dibandingkan sampel produk lainnya. Nilai ini menunjukan bahwa maggot pada umur tertentu memiliki potensi optimum untuk dijadikan sumber protein alternatif bagi pakan, dan dapat meningkatkan daya cerna pakan oleh ikan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Makkar et al. bahwa bahan pakan dengan kandungan protein tinggi dan serat kasar rendah sangat disarankan untuk formulasi pakan, karena dapat mendukung pertumbuhan yang optimal dan efisiensi pakan. Selain itu, untuk mendukung informasi kandungan nutrisi secara lebih detail, dilakukan pula analsis kandungan asam amino dan asam lemak pada sampel produk maggot Menurut Wardhana . , kadar protein maggot pada usia muda lebih tinggi dibandingkan maggot dengan usia yang lebih tua, dikarenakan magot yang masih muda mengalami pertumbuhan sel struktural yang lebih cepat. Tabel 2. Hasil Analisis Asam Amino dan Profil Asam Lemak Tepung Maggot Parameter Asam Lemak Asam Lemak Omega 3 Asam Linoleat Asam Linolenat Asam Oleat Asam Laurat Asam Amino Histidin Arginin Valine Isoleusin Leusin Threonin Lysin Phenylalanin Kadar (%) 2,95 0,32 6,37 12,26 0,84 2,63 7,93 5,28 7,53 2,68 1,63 3,06 Sumber: (SIG AuSaraswanti Indo GenetechAy Laboratory, 2. Pada Tabel 2, hasil uji asam lemak menunjukan bahwa maggot memiliki kandungan asam lemak tak jenuh seperti omega 3, asam oleat dan asam linoleat yang bermanfaat untuk Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index mendukung pertumbuhan kesehatan ikan. Kandungan asam lemak yang seimbang dapat membantu memperbaiki kualitas pakan, meningkatkan nilai energi dan mendukung daya cerna pakan (Makkar et al. Kandungan asam laurat yang tinggi dapat memodulasi sistem imun tubuh ikan (Widianingum et al. Sedangkan untuk hasil uji asam amino memperlihatkan bahwa maggot mengandung asam amino esensial seperti leusin, valine dan isoleusin dengan kadar yang cukup tinggi. Kandungan asam amino yang sesuai, akan menyebabkan ikan dapat mencerna dan menyerap pakan lebih baik, sehingga efisiensi penggunaan pakan pun akan meningkat (Haryati 2. Gambar 2. Sampel Pakan Ikan Hasil Formulasi Selain analisis maggot segar dan produk turunannya, dilakukan pula uji kandungan nutrisi pada sampel pakan ikan yang telah diformulasikan dengan beberapa kombinasi bahan baku (Gambar . Hasil analisis disajikan pada Tabel 3, yang memperlihatkan bahwa pelet 1 mengandung kandungan C organik sebesar 41,47% dengan C/N rasio 6,88. Kadar nitrogen (N) tercatat 6,06%, sedangkan kadar P2O5 dan K2O masing-masing sebesar 5,78% dan 0,82%. pelet 2 menunjukkan kandungan C organik lebih tinggi . ,0%) dengan rasio C/N 6,22. Nilai kelembaban kedua sampel relatif serupa yaitu berada di kisaran 12,56-12,62% yang menunjukan pakan cukup stabil dan tidak mudah rusak dalam penyimpanan. Tabel 3. Hasil Analisis Sampel Pakan Ikan Sampel Organik 41,74 Racio C/N Moisture P2O5 K2O Pelet 1 (Tulang. Kitin dan 6,88 12,62 6,06 5,78 Maggot Kerin. Pelet 2 (Kitin Bahan 45,00 6,22 12,56 7,23 1,92 Herba. Sumber: (Laboratorium Kimia Tanah Dan Nutrisi Tanaman. Fakultas Pertanian, 2. 0,82 0,90 Pemaparan Materi Penyuluhan Kegiatan penyuluhan dimulai dengan penyampaian materi oleh narasumber dari dosen Universitas Padjadjaran selaku inisiator kegiatan pengabdian, serta didukung oleh praktisi budidaya maggot dari tim Biomethagreen Rumah Edukasi. Materi yang disampaikan dibagi ke dalam tiga pokok bahasan, yaitu: Pengujian pakan berbahan baku maggot dari kelompok pengolah sampah di Kota Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Bandung Evaluasi produksi pupuk cair dan kasgot sebagai produk pupuk Cara membudidayakan maggot secara integratif dan ramah lingkungan Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan diskusi, studi kasus sederhana dan kunjungan observasi lapangan. Kegiatan penyuluhan ini mendapatkan respon yang sangat positif dari peserta. Selama sesi pemaparan materi, peserta tampak antusias mengikuti paparan yang disampaikan oleh para narasumber (Gambar . Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajjukan terkait pengelolaan maggot, formulasi pakan, serta pemanfaatan kasgot sebagai pupuk. Gambar 3. Sesi Pemaparan Materi dan Diskusi Pada sesi kunjungan observasi lapangan ke fasilitas budidaya maggot di Biomethagreen Rumah Edukasi, peserta menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap aspek teknis budidaya maggot secara ramah lingkungan (Gambar . Dalam sesi ini, peserta melakukan pengamatan dan berdiskusi langsung mengenai praktik harian budidaya maggot, dari mulai proses penanganan sampah organik, hingga panen larva. Secara keseluruhan, penyuluhan ini berhasil membangun semangat partisipatif peserta dan meningkatkan kesadaran mereka terhadap nilai ekonomi dan lingkungan dari pengelolaan maggot. Gambar 4. Kunjungan Lapangan ke Fasilitas Budidaya Maggot di Biomethagreen Rumah Edukasi Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Evaluasi dan Tindak Lanjut Secara umum, berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan program pengabdian ini berjalan sesuai rencana dan mencapai sebagian besar target yang telah ditetapkan. Evaluasi dilakukan dengan meninjau ketercapaian output seperti kehadiran peserta, kelengkapan penyampaian materi, antusiasme peserta saat diskusi dan hasil pengamatan langsung ke lapangan. Respons positif dari peserta menunjukan bahwa materi penyuluhan yang disusun relevan dengan kebutuhan kelompok sasaran, dan hasil analisis laboratorium dari produk maggot juga menambah wawasan teknis yang sebelumnya belum dimiliki oleh kelompok pengolah sampah Kota Bandung. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa catatan untuk perbaikan, seperti perlunya waktu diskusi yang lebih panjang dan perlengkapan pendukung presentasi yang lebih optimal. Gambar 5. Foto bersama setelah kegiatan selesai dilaksanakan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan bersama kelompok pengolah sampah di Kota Bandung, telah berjalan dengan baik dan memperoleh respons positif dari peserta. Melalui serangkaian tahapan seperti analisis laboratorium terhadap produk maggot dan produk turunannya, penyusunan materi edukatif, serta pelaksanaan penyuluhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kelompok pengolah sampah Kota Bandung terhadap potensi limbah organik sebagai sumber daya bernilai ekonomi. Hasil analisis laboratorium memberikan data awal yang bermanfaat bagi pengembangan produk pakan dan pupuk, sementara penyuluhan mendorong keterlibatan aktif mitra dalam proses belajar dan praktik pengolahan maggot yang lebih terarah. Saran Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) ini akan memberikan dampak jangka panjang, apabila dilakukan tindak lanjut berupa pendampingan dalam formulasi pakan berbasis maggot, pelatihan pengemasan dan pemasaran produk, serta penguatan kelembagaan mitra melalui kerja sama dengan pihak lain seperti pemerintah atau pelaku usaha. Selain itu, perlu dilakukan evaluasi secara berkala terhadap kualitas produk maggot yang dihasilkan, agar kelompok pengolah sampah Kota Bandung dapat mempertahankan dan meningkatkan standar Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index mutu produk mereka. Kegiatan serupa juga sangat direkomendasikan untuk direplikasi di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa dalam pengelolaan limbah organik. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Rektor Universitas Padjadjaran atas dana yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan ini melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Internal Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2025. DAFTAR PUSTAKA