Jurnal Primary. ISSN 2443-0455 Volume 2 No. April 2021 PENGARUH TIPE TALKING CHIPS PADA TEMA 7 SUBTEMA 2 TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR Ria Rorik Rumita1. Rosyidah Umami Octavia2. Galuh Kartika Dewi3 STKIP PGRI Sidoarjo rumita@gmail. ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai keterampilan berpikir siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Chips pada kelas IV Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh terhadap keterampilan berpikir siswa, keaktifan belajar siswa, dan respon siswa pada pembelajaran tematik dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Chips pada kelas IV Sekolah Dasar. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experimental Design dengan menggunakan desain control group pre-test and post-test. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar dengan tiga tahap yaitu pemberian tes pre-test, post-test, dan angket respon siswa dengan subjek berjumlah 8 siswa dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol dikarenakan keterbatasan peneliti dalam melakukan penelitian di era pandemi Covid-19. Teknik dan pengumpulan data menggunakan observasi, tes tertulis yang terdiri dari pre-test dan post-test, serta angket. Teknik analisis data berupa analisis data observasi siswa pada kelas eksperimen yang diperoleh nilai rata-rata secara keseluruhan yaitu 85,41% yang termasuk dalam kategori sangat aktif, sedangkan hasil rata-rata pada kelas kontrol secara keseluruhan yaitu 57,29 yang tergolong cukup aktif. Data hasil tes siswa dianalisis dengan menggunakan statistik uji-t pada taraf signifikan A = 0,05 sehingga hasil yang diperoleh nilai thitung sebesar 37,079 sehingga thitung . A ttabel . maka H1 ditolak dan H0 diterima. Selain itu didukung dari nilai Sig. sebesar 0,000 A 0,05 maka H1 ditolak dan H0 diterima. Sedangkan hasil rata-rata respon siswa yang diperoleh secara keseluruhan yaitu 3,57 yang termasuk dalam kategori sangat Kata Kunci : Talking Chips. Keterampilan Berpikir ABSTRACT This study discusses the thinking skills of students using the Talking Chips type cooperative learning model in grade IV of elementary school. This study aims to determine the influence of students' thinking skills, student learning activeness, and student responses to thematic learning using the Talking Chips type cooperative learning model in grade IV of elementary This type of research used in this study is a Quasi Experimental Design using a control group design pre-test and post-test. The subjects of this study were students in grade IV of elementary school with three stages, namely giving a pretest, posttest, and student response questionnaires with 8 students from the experimental class and the control class due to the limitations of researchers in conducting research in the Covid-19 pandemic era. Techniques and data collection using observation, a written test consisting of pre-test and post-test, and The data analysis technique was in the form of student observation data analysis in the experimental class which obtained an overall average value of 85. 41% which was included in the very active category, while the average result for the control class as a whole 29 which was classified as quite active. Student test results data were analyzed using the t-test statistic at a significant level of A = 0. 05 so that the results obtained were 37. 079 so that t count . A t table . then H1 was rejected and H0 was accepted. In addition, it is supported by the Sig. -taile. 000 A 0. 05 then H1 is rejected and H0 is accepted. While Jurnal Primary. ISSN 2443-0455 Volume 2 No. April 2021 the average result of student responses obtained as a whole is 3. 57 which is included in the very positive category. Keywords: Talking Chips. Thinking Skills PENDAHULUAN Pendidikan merupakan upaya yang dapat mempercepat pengembangan potensi manusia untuk mampu mengembangkan tugas yang dibebankan padanya. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosional, moral serta keimanan dan ketaqwaan manusia (SaAoud & Makmun, 2006: . Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru hendaknya berperan sebagai mediator dan fasilitator yang mampu berperan sebagai pengaruh dalam proses pembelajaran. Adapun siswa dituntut untuk aktif belajar dalam memiliki kemampuan untuk berpikir, mampu menjelajahi kebutuhan, dan minatnya sendiri (Sumantri & Yatimah, 2015: 4. Proses pembelajaran saat ini masih berpusat pada teacher centered sehingga dipandang kurang efektif karena kurang melibatkan siswa dalam mengembangkan kemampuan maupun keterampilan dalam berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas tidak hanya membutuhkan pemenuhan materi semata saja, akan tetapi juga pengembangan ranah ognitif, afektif, dan psikomotor yang sudah ditetapkan pada kurikulum 2013 yang menggunakan model pembelajaran tematik. Depdiknas 2006 . alam Akbar, dkk 2016: . bahwa pembelajaran tematik merupakan model dari kurikulum terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada Proses pembelajaran pada dasarnya untuk mengaktifkan siswa dalam memberntuk keterampilan berpikirnya sehingga siswa mampu menyampaikan apa yang diketahuinya. Menurut Piaget . alam Djaali, 2014: . bahwa tingkat perkembangan dibagi menjadi 4 tahap yaitu . tahap sensorik-motorik, . tahap berpikir pra-operasional, . tahap berpikir operasional konkret, dan . tahap berpikir operasional formal. Tahap berpikir operasional konkret merupakan tahap berpikir untuk anak usia dini yang sudah memasuki usia SD yaitu 7 Ae 12 tahun. Pada tahap ini keterampilan berpikir siswa berkembang menggunakan cara berpikir logis serta dapat memecahkan masalah yang konkret. Hal ini juga didukung menurut Arends . 8: . bahwa berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasarkan inferansi yang baik. Sehingga dalam proses pembelajaranyang melibatkan keterampilan berpikir, siswa dapat berperan secara aktif dan mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Jurnal Primary. ISSN 2443-0455 Volume 2 No. April 2021 Berdasarkan hasil observasi, bahwa proses pembelajaran saat ini masih banyak yang bersifat konvensional yaitu dimana guru sering menggunakan metode ceramah tanpa melibatkan siswa dalam proses pembelajaran yang akan mengakibatkan peran aktif siswa dalam keterampilan berpikirnya masih rendah dan kurangnya percaya diri siswa dalam menyampaikan ide atau pendapatnya. Sehingga guru harus menerapkan model pembelajaran yang mampu melibatkan siswa berperan aktif dalam berpendapat maupun pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Menurut Saefuddin dan Berdiati . alam Muhajidin, 2017: . bahwa pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dapat menciptakan proses dan suasana menggembirakan serta kondusif. Penerapan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa dan bersifat menyenangkan yaitu model pembelajaran kooperatif. Menurut Nurulhayati, 2002 . alam Rusman, 2012: . pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling Model pembelajaran kooperatif ini memiliki beberapa tipe, salah satunya yaitu tipe Talking Chips atau yang biasa disebut dengan Kancing Gemerincing. Model ini merupakan model yang inovatif dan aktif untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berpikir secara Model pembelajaran kooperatif tipe talking chips ini merupakan salah satu model kooperatif dengan varian diskusi kelompok dimana masing-masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan konstribusi mereka dan mendengarkan pandangan serta pemikiran anggota yang lain. Model ini dapat melibatkan semua siswa berperan aktif dan sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok untuk keterampilan berpikir setiap siswa (Lie, 2017: . Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Chips ini sangat tepat saat menyampaikan pembelajaran Dengan pemberian soal dalam setiap kelompok maupun individu, dengan menggunakan kartu sebagai media pertanyaan dan kancing sebagai media saat siswa telah selesai menjawab pertanyaan maupun saat mengemukakan pendapatnya sehingga mampu melatih keterampilan berpikir siswa. Dengan begitu siswa tidak perlu merasa takut atau kurang percaya diri saat menyampaikan jawaban atau pendapatnya sehingga dengan keterampilan berpikir yang dimilikinya, siswa dapat meningkatkan penguasaan materi dan mengoptimalkan hasil belajarnya pada pembelajaran tematik. Berdasarkan hasil latar belakang yang telah dipaparkan tersebut, maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian yang berjudul AuPengaruh Model Pembelajaran Jurnal Primary. ISSN 2443-0455 Volume 2 No. April 2021 Kooperatif Tipe Talking Chips pada Subtema Indahnya Keragaman Budaya Negeriku terhadap Keterampilan Berpikir Siswa Kelas IV Sekolah DasarAy. METODE Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu . uasi experimental desig. yaitu dengan control grup design pretes and posttest (Sugiyono, 2017: . Penelitian ini yang awalnya akan dilakukan di SDN Bluru Kidul 2 Sidoarjo mengalami kendala akibat Covid-19 sehingga peneliti melakukan penelitian ini di sekitar lingkungan rumah. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar dengan jumlah siswa sebanyak 8 siswa, terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan yang tersebar dalam 2 kelas yaitu kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips dan kelas kontrol yang menggunakan metode Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap pada tanggal 20 April sampai dengan 21 April 2020. Instrumen pengumpulan data yang berupa soal tes nantinya akan diberikan kepada siswa, dimana harus memenuhi kriteria kelayakan melalui validator ahli materi. Adapun selama proses pembelajaran yang akan diteliti adalah beberapa hal yang berkaitan dengan keterampilan berpikir siswa selama proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips maupun pembelajaran yang menggunakan metode konvensional yaitu meliputi aktivitas siswa, respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips, dan hasil belajar yang berupa tes awal . dan tes akhir . ost-tes. yang digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir siswa sebelum dan sesudah menerima pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips maupun pembelajaran yang menggunakan metode konvensional. Aktivitas siswa diukur menggunakan lembar observasi untuk mengetahui sikap siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips maupun pembelajaran yang menggunakan metode konvensional. Hasil belajar siswa yang diketahui yaitu melalui nilai yang didapatkan siswa setelah mengerjakan soal pada lembar tes yang sebelumnya telah melalui uji validitas yang menggunakan rumus korelasi product moment dengan bantuan SPSS dan melalui uji reliabilitas dengan metode Alpha Cronbach dengan bantuan SPSS. Setelah diuji validitas dan reliabilitasnya, maka tahap selanjutnya yaitu menganalisis data dari nilai pre-test dan post-test dengan tujuan untuk membandingkan dua nilai apakah ada perbedaan yang signifikan antara kedua nilai tersebut. Data yang diperoleh Jurnal Primary. ISSN 2443-0455 Volume 2 No. April 2021 diujikan menggunakan uji t dengan taraf signifikan A = 0,05 untuk menguji hipotesis. Sedangkan untuk analisis respon siswa diukur menggunakan angket skala likert yang diberikan kepada siswa di akhir pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe talking HASIL DAN PEMBAHASAN Proses validasi soal tes yang dilakukan oleh tim ahli materi mendapatkan nilai rata-rata 83,3 % dengan kategori valid. Setalah memperbaiki soal tes berdasarkan saran dan masukan dari tim ahli materi maka tahap selanjutnya yaitu melakukan uji coba soal tes. Hasil yang didapat dari uji coba validasi yaitu 5 soal dikatakan valid dan 5 soal tidak valid dari jumlah soal 10 butir. Dimana untuk 5 soal yang tidak valid akan dilakukan perbaikan dengan memberikan angket validasi kepada tim ahli materi tahap kedua. Sehingga nilai yang diterima dari hasil validasi tahap satu dan dua yaitu mendapatkan nilai rata-rata 88,89% dengan kategori sangat valid dan layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Hasil yang digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu menggunakan pre-test . es awa. Hasil pretest pada kedua kelas tersebut disajikan dalam tabel Tabel 1. Hasil Analisis Data Pre-test Kelas Eksperimen dan Kontrol Kelas N Total X RataNilai Min Max rata Eksperimen 42,00 Kontrol 37,75 Hasil analisis pre-test menunjukkan bahwa kelas ekperimen dan kelas kontrol memiliki nilai yang tidak jauh berbeda. Pada kelas ekperimen diperoleh nilai rata-rata sebesar 42,00 dengan nilai terendah 39 dan nilai tertinggi 44. Sedangkan pada kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata sebesar 37,75 dengan nilai terendah 30 dan nilai tertinggi 43. Setelah mengetahui nilai pre-test maka langkah selanjutnya yaitu melakukan uji tes akhir . ost-tes. yang bertujuan untuk mengukur keterampilan berpikir siswa setelah diberikan perlakuan. Hasil analisis posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan dalam tabel berikut. Jurnal Primary. ISSN 2443-0455 Volume 2 No. April 2021 Tabel 2. Hasil Analisis Data Post-test Kelas Eksperimen dan Kontrol Kelas Total X RataNilai Min Max rata Eksperimen 77,50 Kontrol 63,25 Hasil analisis post-test menunjukkan bahwa pada kelas ekperimen diperoleh nilai rata-rata sebesar 77,50 dengan nilai terendah 73 dan nilai tertinggi 82. Sedangkan pada kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata sebesar 63,25 dengan nilai terendah 59 dan nilai tertinggi 67. Sehingga dari kedua hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran tipe talking chips cukup membantu dalam meningkatkan keterampilan berpikir siswa kelas IV Sekolah Dasar daripada menggunakan metode konvensional. Hasil penilaian aktivitas belajar siswa pada kelas ekperimen yang menggunakan model pembelajaran tipe talking chips memperoleh nilai rata-rata sebesar 85,41% dan pada kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional memperoleh nilai rata-rata sebesar 57,29%. Sedangakan untuk hasil respon siswa dengan penggunaan model pembelajaran tipe talking chips memperoleh nilai rata-rata sebesar 3,57. Hal ini didukung dengan teori Sukmadinata yang mengatakan bahwa dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa pada kelas IV SD KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut . hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Chips memperoleh kategori penilaian sangat aktif dengan presentase rata-rata 85,41% dibanding dengan pembelajaran secara konvensional yang memperoleh kategori penilaian cukup aktif dengan presentase rata-rata 57,29%. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Talking Chips ini cocok digunakan untuk materi keragaman rumah adat pada pembelajaran tematik subtema Indahnya Keberagaman Budaya Negeriku dibanding menggunakan pembelajaran konvensional, . hasil belajar siswa dalam keterampilan berpikir dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Chips lebih tinggi dibanding dengan kelas yang menggunakan pembelajaran Jurnal Primary. ISSN 2443-0455 Volume 2 No. April 2021 Hal ini dapat dilihat dari hasil t hitung sebesar 37,079 sehingga t hitung . A t tabel . maka H1 ditolak dan H0 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Talking Chips berpengaruh terhadap keterampilan berpikir siswa pada pada pembelajaran tematik subtema Indahnya Keragaman Budaya Negeriku dibandingkan dengan proses pembelajaran yang menggunakan konvensional, . hasil analisis respons siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Talking Chips yang telah diisi oleh 8 siswa dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol memperoleh hasil presentase ratarata sebesar 3,57 yang termasuk kedalam kategori sangat positif. DAFTAR PUSTAKA