Jurnal Riset Media Keperawatan ISSN: 2527-368X (Prin. 2621-4385 (Onlin. Chin Tuck Againts Resistance (Cta. Dan Shaker Exercise Pada Gangguan Menelan (Disfagi. Pasien Stroke Non Hemoragik Nengke Puspita Sari1,*. Maritta Sari2 1 ,2,Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti. Mahakam raya 16. Bengkulu. Indonesia * nengkerania@gmail. *corresponding author Abstrak Pendahuluan: Stroke non hemoragik terjadi karena pembuluh darah mengalami sumbatan sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah pada jaringan otak, thrombosis otak, aterosklerosis dan emboli serebral yang merupakan penyumbatan pembuluh darah yang timbul akibat pembetukan plak sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah. Berdampak pada kerusakan nervus-nervus pada otak yang mengatur kemampuan menelan sehingga menyebabkan terjadi Disfagia. Metode: Jenis penelitian ini adalah quasy eksperiment dengan pendekatan one group pre-post test. Sebanyak 30 responden terlibat dalam penelitian ini. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data informasi responden dikumpulkan melalui proses wawancara dan observasi. Sedangkan untuk mengetahui disfagia diakukan pengecekan. Data dianalisis dengan metode uji tdependent dengan =0,05. Hasil dan Pembahasan: Terdapat perbedaan yang signifikan disfagia sebelum dan setelah dilakukan tindakan . value 0,. Kesimpulan: teknik Chin Tuck Against Resistance (CTAR) and Shaker Exercise in Managing Swallowing Disorders (Dysphagi. Kata kunci: Stroke. Shaker Exercise. CTAR. Disfagia Chin Tuck Against Resistance (CTAR) and Shaker Exercise in Managing Swallowing Disorders (Dysphagi. in Patients with Non-Hemorrhagic Stroke Abstract Non-hemorrhagic stroke occurs due to obstruction of blood vessels, resulting in reduced blood flow to brain This condition may be caused by cerebral thrombosis, atherosclerosis, and cerebral embolism, which lead to vascular blockage as a result of plaque formation and subsequent narrowing of the vessels. These events can damage the cranial nerves responsible for regulating swallowing function, thereby causing dysphagia. Methods: This study employed a quasi-experimental design with a one-group preAepost test approach. A total of 10 respondents participated in the study. The sampling technique used was purposive sampling. Respondent information was collected through interviews and observation, while dysphagia assessment was performed through direct evaluation. Data were analyzed using the dependent t-test with a significance level of = 0. Results and Discussion: There was a significant difference in dysphagia status before and after the intervention . -value = 0. Conclusion: The Chin Tuck Against Resistance (CTAR) technique and Shaker Exercise are effective in managing swallowing disorders . Keywords:Stroke. Shaker Exercise. CTAR. Disfagia PENDAHULUAN Stroke merupakan suatu penyakit pada otak berupa gangguan saraf fokal atau global dengan gejala yang muncul secara mendadak, progresif, dan cepat. Gangguan saraf tersebut dapat mengakibatkan timbulnya kelumpuhan otot wajah atau anggota tubuh, bicara tidak lancar, gangguan menelan, stroke mempunyai risiko tinggi terjadinya komplikasi medis, adanya kerusakan jaringan saraf pusat yang terjadi secara tiba-tiba. Pada stroke, sering diperlihatkan adanya gangguan kognitif, fungsional, dan defisit sensorik (Abtari dkk. Stroke non hemoragik hampir 85 % disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan sebuah arteria beberapa arteri yang mengarah ke otak ,atau embolus ( kotoran ) yang terlepas dari jantung atau arteri ekstra kranial ( arteri yang diluar tengkorak ) (Chen, 2. dalam penelitian Nengke puspita sari Menurut data dari World Stroke Organization, stroke merupakan penyebab kematian ketiga di seluruh dunia, setelah kanker dan penyakit jantung koroner, dengan 13,7 juta korban stroke dan 5,5 juta kematian terkait stroke setiap tahunnya (Haning & Purwanti, 2. Sementara itu, sekitar 80 juta orang di seluruh dunia menderita stroke. Indonesia memiliki tingkat stroke tertinggi di Asia (Adita & Purwanti, t. Menurut data survei kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 prevelensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1. 000 penduduk atau 2,2 juta penduduk di Indonesia mengalami stroke, dan pada prevelensi stroke di provinsi DKI Jakarta adalah 10,7 per 1. 000 penduduk. penduduk di Jakarta mengalami stroke. Kesulitan menelan merupakan salah satu penurunan fungsi yang disebabkan oleh kerusakan saraf. Stroke yang terjadi di daerah vertebrobasilar yang mengakibatkan terjadinya mengalami disfagia seperti malnutrisi dan dehidrasi. Aspirasi, kelelahan dan kelemahan otot (Rahmanti & D, 2020 di dalam penelitan Ada penatalaksanaan yang dapat diterapkan pada pasien dengan disfagia baik farmakologi maupun non farmakologi antara lain Latihan Otot Menelan. Shaker Exercise. Effortful Swallow. Mendelsohn Maneuver. Supraglottic Swallow. Chin Tuck Against Resistance (CTAR). Kombinasi Latihan Chin Tuck Againts Resistance (CTAR) dan Shaker Exercise dapat dilakukan pada pasien stroke dengan disfagia, latihan ini membutuhkan lebih sedikit beban fisik dan tenaga, latihan ini di lakukan dengan cara menyelipkan bola karet di dagu , dan perlahan dagu melipat ke bawah ke arah dada , dan tahan selama 2- 5 detik , lalu perlahan angkat kembali dagu dan ulangi hingga 2-3 kali siklus hingga otot terasa Lelah dan dikombinasikan dengan meletakkan bantal dibawah kepala lalu melakukan fleksi kepala yaitu gerakan mengangkat kepala untuk melihat jari-jari kaki dengan tanpa mengangkat bahu selama 60 detik, kemudian dilanjutkan dengan istirahat . embali ke posisi berbarin. selama 60 detik. Dilanjutkan dengan latihan isotonik dengan cara pasien dianjurkan untuk berbaring di tempat tidur, ganjal kepala dengan bantal dan anjurkan pasien untuk mengangkat kepala sama seperti latihan yang pertama dan melihat ujung kaki sebanyak 15 kali berturut-turut. (NaKyoung Hwang , 2. Penerapan kombinasi Latihan Chin Tuck Againts Resistance (CTAR) dan Shaker Exercise pada pasien stroke dengan disfagia sebagai perawat dapat melaksanakan peran sebagai care giver atau pemberi asuhan keperawatan dapat melakukan tindakan intervensi keperawatan yaitu latihan menelan dengan teknik terapi kombinasi kombinasi chin tuck againts resistance (CTAR) dan Shaker Exercise untuk menghindari komplikasi. Pasien dengan disfagia sering merasa frustasi dan cemas karena kesulitan makan dan minum jadi sebagai perawat yang berperan sebagai konselor harus menjadi pendengar yang empatik dan mendukung dengan mengajak keluarga pasien memberi support secara kondisi fisik dan Vol. 8 No. 2 December 2025 | 167 emosional pada saat dilakukannya terapi pemulihan dan memperkuat otot menelan pada pasien dengan terapi kombinasi chin tuck againts resistance (CTAR) dan Shaker Exercise guna untuk memperkuat otot suprahyoid pada >70 tahun Laki-laki Perempuan Intervensi (CTAR Kelompok Shake. Kontrol Sumber: Data Diolah, 2025 Jenis Kelamin BAHAN DAN METODE Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan pre dan post test. Sampel penelitian ini sebanyak 30 orang yang diambil dengan purposive sampling. Penilaian Disfagia dengan menggunakan lembar observasi swallowing function communication measure. Latihan Chin Tuck Against Resistance (CTAR) and Shaker Exercise dilakukan selama 5-10 menit sebanyak 2-5 kali sehari selama satu bulan. Penilaian Disfagia dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum dan setelah tindakan selama 1 Penelitian dilakukan pada responden dengan diagnosa Stroke dengan Disfagia ringan sampai dengan sedang di Bengkulu pada bulan Juni. HASIL PENELITIAN Analisis Univariat Analisis data pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran karakteristik responden serta efek intervensi terhadap perbaikan disfagia pada pasien stroke non-hemoragik. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan distribusi responden berdasarkan usia, jenis kelamin, serta nilai skor disfagia pada masing-masing Analisis ini memberikan gambaran umum mengenai kondisi dasar kedua kelompok sebelum dilakukan Adapun hasil disajikan dalam tabel dibawah ini: Distribusi Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Karakteristik Karakteristik Kategori 50Ae60 Usia 61Ae70 168 | Pages 166-172 Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada dalam rentang usia 61Ae70 tahun . 3%), diikuti usia 50Ae60 tahun Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki . %). Distribusi kelompok antara intervensi dan kontrol seimbang, masingmasing 15 responden . %), sehingga kedua kelompok memiliki kesetaraan dasar yang baik untuk Skor Disfagia Kelompok Intervensi Sebelum dan Sesudah Intervensi Tabel 2. Skor Disfagia Kelompok Intervensi Sebelum dan Sesudah Intervensi . = . Variabel Mean A SD MinAeMax Pre-test 3 A 2. 9Ae16 Post-test 1 A 1. 4Ae9 Sumber: Data Diolah, 2025 Tabel 2 menunjukkan bahwa rerata skor disfagia pada kelompok intervensi sebelum perlakuan adalah 3, menandakan tingkat disfagia sedangAeberat. Setelah intervensi CTAR Shaker exercise, skor mencerminkan perbaikan fungsi Penurunan rata-rata sekitar 6 poin menunjukkan efektivitas latihan terhadap peningkatan kemampuan menelan pasien. Skor Disfagia Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Intervensi Tabel 3. Skor Disfagia Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Intervensi . = . Variabel Mean A SD MinAeMax Pre-test disfagia 12. 0 A 2. 8Ae15 Post-test 2 A 2. 8Ae15 Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk menilai pengaruh latihan Chin Tuck Against Resistance (CTAR) dan Shaker Exercise terhadap perubahan derajat Analisis dilakukan melalui uji statistik paired t-test untuk melihat perbedaan skor sebelum dan sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok, t-test membandingkan efektivitas intervensi antara kelompok intervensi dan kelompok Hasil analisis ini diharapkan mampu menunjukkan secara objektif sejauh mana intervensi memberikan kemampuan menelan pada pasien stroke non-hemoragik. Dapat dilihat dari tabel dibawah ini: Tabel 4. Perbedaan Skor Disfagia PreAePost dalam Kelompok Intervensi (Paired t-tes. Kelompok Mean Mean pSelisih Intervensi . Pre Post CTAR Shaker 12. Sumber: Data Diolah, 2025 Tabel 4 menunjukkan perbedaan skor disfagia yang sangat signifikan dalam Rerata menurun dari 12. 3 menjadi 6. 1 dengan 2 poin. Uji statistik menghasilkan p = 0. 000, yang menunjukkan adanya pengaruh kuat latihan CTAR Shaker terhadap perbaikan kemampuan menelan pada pasien stroke non-hemoragik. Tabel 5. Perbedaan Skor Disfagia PreAePost dalam Kelompok Kontrol (Paired t-tes. Kelompok Mean Mean Selisih p-value Kontrol . Pre Post Kontrol Sumber: Data Diolah, 2025 Pada tabel 5 Perubahan skor disfagia pada kelompok kontrol hanya sebesar 8 poin, dengan p-value 0. > . , yang berarti tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum dan Hal membuktikan bahwa tanpa intervensi khusus, kondisi disfagia cenderung tetap dan tidak mengalami perbaikan Tabel 6. Perbedaan Rerata Skor Disfagia antara Kelompok Intervensi dan Kontrol (Independent t-tes. Intervensi Kontrol pVariabel (Mean A SD) (Mean A SD) value Post-test 1 A 1. Sumber: Data Diolah, 2025 2 A 2. Pada table 6 Perbandingan skor disfagia antara kedua kelompok setelah intervensi menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Kelompok intervensi memiliki rerata 1 . ebih bai. , sedangkan kelompok kontrol 11. Hasil uji independent t-test menunjukkan p = 000, menegaskan bahwa latihan CTAR Shaker exercise lebih efektif secara signifikan dibanding memperbaiki disfagia pada pasien stroke non-hemoragik. PEMBAHASAN Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi Chin Tuck Against Resistance (CTAR) dan latihan Shaker memberikan peningkatan yang signifikan secara klinis terhadap fungsi menelan pada pasien stroke non-hemoragik yang mengalami disfagia. Hasil ini sejalan dengan bukti terbaru dalam bidang pentingnya penguatan otot suprahyoid pemulihan biomekanik menelan pada penyintas stroke. Interpretasi Karakteristik Responden Sebagian besar peserta penelitian berada pada rentang usia 61Ae70 tahun, sebuah kelompok usia yang secara Vol. 8 No. 2 December 2025 | 169 epidemiologis memiliki prevalensi lebih tinggi terhadap stroke iskemik dan masalah disfagia orofaring. Penuaan diketahui berkontribusi pada: penurunan kontrol neuromuskular, sarcopenia pada otot faring, penurunan umpan balik sensoris, dan melemahnya refleks menelan. Dominasi peserta berjenis kelamin laki-laki juga sesuai dengan data epidemiologi global, yang menunjukkan bahwa laki-laki memiliki risiko vaskular dan insiden stroke iskemik lebih tinggi. Dengan demikian, karakteristik responden pada penelitian ini merupakan populasi yang sangat relevan untuk menilai efektivitas intervensi rehabilitasi menelan. Efektivitas CTAR Shaker dalam Meningkatkan Fungsi Menelan Peningkatan signifikan terlihat pada kelompok intervensi, dengan penurunan skor disfagia dari rata-rata 12. 3 menjadi 6. Penurunan ini tidak hanya signifikan secara statistik, tetapi juga bermakna secara klinis. Besarnya perbaikan mendukung hipotesis bahwa penguatan langsung otot suprahyoid akan meningkatkan elevasi hio-laring, yang merupakan komponen utama dari proses menelan yang aman. CTAR bekerja dengan mengaktifkan otot suprahyoid melalui kontraksi isometrik dan isotonik terhadap suatu tahanan Mekanisme ini menghasilkan aktivasi otot yang lebih kuat dengan tingkat kelelahan lebih rendah. Studi dengan surface electromyography . EMG) menunjukkan bahwa CTAR menghasilkan aktivasi otot suprahyoid yang lebih tinggi dibandingkan latihan Shaker konvensional. Latihan Shaker sendiri berfungsi meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan leher anterior, sekaligus meningkatkan pembukaan Upper Esophageal Sphincter (UES). Kombinasi kedua metode ini meningkatkan: elevasi hyoid dan laring, relaksasi UES, pembersihan bolus di faring, koordinasi kontraksi faring. Perubahan biomekanis tersebut mendasari perbaikan 170 | Pages 166-172 signifikan yang ditemukan kelompok intervensi. Tidak Ada Peningkatan Kelompok Kontrol Berbeda menunjukkan perubahan skor disfagia yang sangat minimal . 0 menjadi . dan tidak signifikan. Temuan ini longitudinal yang menunjukkan bahwa pemulihan disfagia pasca-stroke tidak akan optimal tanpa adanya latihan terapi yang terarah dan repetitif. Pemulihan bergantung pada neuroplastisitas, dan neuroplastisitas memerlukan stimulasi motorik berulang. Tanpa intervensi, perubahan fungsional biasanya sangat Dengan demikian, hasil kelompok kontrol mempertegas bahwa intervensi terapeutik aktif merupakan komponen yang sangat penting dalam pemulihan disfagia pasca-stroke. Perbandingan Antarkelompok Perbandingan intervensi menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol . < Hal ini membuktikan bahwa latihan CTAR yang dikombinasikan dengan latihan Shaker lebih efektif Literatur terbaru menunjukkan bahwa CTAR lebih efisien dan lebih mudah diterima pasien dibandingkan Shaker tradisional karena memberikan: aktivasi otot yang lebih besar, tingkat kelelahan lebih rendah, posisi latihan yang lebih stabil, kepatuhan latihan yang lebih Penelitian ini memperkuat konsensus modern bahwa strategi penguatan suprahyoid multimodal memberikan hasil terbaik, dengan CTAR sebagai latihan penguatan dan Shaker sebagai latihan ketahanan serta peregangan fungsional. Peningkatan signifikan dalam fungsi menelan pada kelompok intervensi menunjukkan bahwa CTAR dan Shaker sangat potensial untuk diintegrasikan dalam protokol rehabilitasi standar bagi pasien disfagia pasca stroke. Intervensi ini: biaya rendah, mudah diterapkan di rumah maupun klinik, membutuhkan alat minimal, dapat meningkatkan kepatuhan pasien. Selain itu, perbaikan fungsi menelan menurunkan risiko aspirasi dan pneumonia, meningkatkan status nutrisi, mengurangi lama rawat inap, memperbaiki kualitas hidup pasien. Hasil penelitian ini mendukung rekomendasi bahwa latihan suprahyoid berbasis resistensi harus menjadi komponen utama dalam manajemen disfagia SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian sangat penting bagi pasien Kombinasi latihan CTAR dan Shaker secara signifikan meningkatkan fungsi menelan pada pasien dengan disfagia akibat stroke non-hemoragik. Temuan ini selaras dengan bukti ilmiah terbaru yang menekankan pentingnya penguatan otot suprahyoid sebagai strategi utama dalam pemulihan biomekanisme menelan. Intervensi ini efektif, relevan secara klinis, dan layak direkomendasikan dalam praktik rehabilitasi DAFTAR PUSTAKA