Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri1 e Universitas Negeri Malang sucikurniaputri2008@gmail. Article history: Submitted: 12 June 2021 Accepted: 13 July 2021 Published: 21 November 2021 Abstrak: Bukittinggi sebagai salah satu kota terbesar di Sumatera Barat terletak di tempat yang strategis yang menguntungkan mereka secara ekonomi dari dulu hingga sekarang. Berawal dari Nagari Kurai, yang terletak di Kawasan Luhak Agam. Yang terdiri dari lima jorong, yang mana nantinya dari Nagari kecil inilah lahir Kota Bukittinggi jauh sebelum datangnya Belanda, juga lahirlah sebuah Pakan . di Bukik Kubangan Kabau. Perkembangan Pasar Bukittinggi yang cepat, juga terlibatnya pemerintahan Hindia-Belanda dalam perkembangan dan pengelolaan Pasar Bukittinggi, pun dengan Penghulu Nagari Kurai, yang mana menghasilkan pasar, yang tertata secara administratif maupun dalam pengelolaan keuangannya. Keywords: Pasar. Bukittinggi. Hindia-Belanda P-ISSN x-x E-ISSN x-x A 2021 author. Published by SPI FAB UIN Raden Mas Said Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Pendahuluan Bukittinggi dalam kehidupan ketatanegaraan semenjak zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang serta zaman kemerdekaan dengan berbagai variasinya tetap merupakan pusat Pemerintahan Sumatera bahagian Tengah maupun Sumatera secara keseluruhan, bahkan Bukittinggi pernah berperan sebagai Pusat Pemerintahan Republik Indonesia setelah Yogyajarta diduduki Belanda dari bulan Desember 1948 sampai dengan bulan Juni 1949. Semasa pemerintahan Belanda dahulu. Bukittinggi oleh Belanda selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan, dari apa yang dinamakan Gemetelyk Resort berdasarkan tahun 1828. Sedangkan oleh pemerintahan Jepang. Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian Pemerintah militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand karena disini berkedudukan komandan Militer ke 25. Bukittinggi sebagai salah satu kota terbesar di Sumatera Barat terletak di tempat yang strategis yang menguntungkan mereka secara ekonomi dari dulu hingga sekarang. Kota Bukittinggi yang secara astronomis berada pada koordinat 0A22' Ae 00. 29' LS dan 99A. 52' - 100A. 33' BT. Secara geografis menunjukkan letak Bukittinggi berada di tengah-tengah dataran tinggi Sumatera Barat, yang merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan yang membujur sepanjang Pulau Sumatera. Berawal dari Nagari Kurai, yang terletak di Kawasan Luhak Agam. Yang terdiri dari lima jorong, yang mana nantinya dari Nagari kecil inilah lahir Kota Bukittinggi jauh sebelum datangnya Belanda, juga lahirlah sebuah Pakan . di Bukik Kubangan Kabau. Pasar ini dinamakan Pakan Kurai dan dilaksanakan setiap hari sabtu, yang kelak Pakan ini menjadi pusat perdagangan grosir terbesar di pulau Sumatera. Dari penjelasan diatas artikel ini ditulis untuk memperlihatkan bagaimana perkembangan pasar dan pengelolaan Pakan atau pasar sebagai pusat perekonomian masyarakat di kota Bukittinggi pada abad ke-19. Metode Penelitian Dalam menulis artikel dengan judul Pakan: Pasar Tradisional Pusat Perekonomian rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19. Penulis menggunakan metode kualitatif dan studi perpustakaan berdasarkan literarur yang relevan dengan topik pembahasan di atas. Penulis menggunakan sumber buku baik dalam bentuk hard book ataupun e-book, juga artikel dan jurnal yang sekiranya mampu memberi informasi konkrit mengenai artikel yang ditulis. http://w. id/profil/sejarah . Sejarah Kota Bukittinggi (Diakses pada 24 mei 2. http://w. id/profil/about . Tentang Kota Bukittinggi ( Diakses pada 24 mei 2. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Hasil Penelitian & Pembahasan Perkembangan Pasar Bukittinggi Pasar disebut oleh orang Minangkabau dengan pakan. Pada umumnya setiap nagari mempunyai pakan sendiri, karena pakan merupakan salah satu syarat bagi berdirinya suatu nagari. Biasanya pakan didirikan di lapangan dekat balairung nagari itu. Oleh karena itu, pengelolaan suatu pakan, sepenuhnya berada di pengawasan pemerintahan nagari setempat yang bersifat otonom. Adapun pelaksanaan pakan, suatu nagari dilakukan secara bergiliran di antara nagari-nagari yang Nama suatu pakan, dapat mengacu kepada nama hari atau nagari dan waktu atau tempat penyelenggaraan pakan itu. Misalnya. Pakan Kamih (Pasar Kami. Pakan Sinayan (Pasar Sene. , dan juga Pakan Kurai (Pasar Kura. Pakan Baso (Pasar Bas. Bahkan karena hari pelaksanaan pakan-nya lebih dikenal. Maka nama suatu nagari lebih melekat dengan nama hari pasar itu. Misalnya. Nagari Pakan Kamih dan Pakan Sinayan. Pada masa-masa selanjutnya, suatu pakan dapat berkembang baik atau lenyap sama sekali. Pakan yang berkembang dapat pula tumbuh menjadi pusat pasar bagi Kawasan sekitar nagari itu. Perkembangan suatu pakan nagari menjadi pusat pasar, biasanya didikung oleh letak geografisnya yang strategis, yaitu dapat dijangkau dengan mudah dari seluruh nagari yang berdekatan. Berdasarkan perkembangannya itu, pakan terbagi atas dua jenis, yaitu Pakan Ketek/Kaciak dan Pakan Gadang. Pakan Ketek adalah pasar yang ruang lingkup operasionalnya melibatkan penduduk nagari setempat atau yang paling jauh nagari tetangga yang terdekat. Pakan Gadang merupakan pusat pasar bagi pasar-pasar kecil yang terdapat di sekelilingnya. Selain geografis yang lebih luas, di Pakan Gadang juga terjadi interaksi sosial yang lebih kompleks. Salah satu di antara Pakan Gadang atau pusat pasar yang terkenal pada awal abad ke-19 adalah Pasar Bukittinggi. Cikal bakal Pasar Bukittinggi merupakan sebuah pasar nagari, yaitu Pakan Kurai. Pasar ini diadakan sekali seminggu yaitu setiap hari Sabtu. Kapan dimulainya Pakan Kurai ini tidak dapat diketahui secara pasti, karena tidak ada sumbernya. Letak pasar ini strategis, karena terletak di persimpangan jalan tradisional di daerah dataran tinggi. Maka, awal abad ke-19 Pakan Kurai berkembang menjadi Pakan Gadang di wilayah Luhak Agam. Selain itu daerah di sekeliling Bukittinggi juga merupakan daerah penghasil tanaman ekspor, seperti kopi dan kayu manis. Pada tahun 1820 Bukik Kubangan Kabau, yang dijadikan lokasi Pakan Kurai, diganti Namanya menjadi Bukittinggi (Bukittingg. Pengganttian nama ini sekaligus mengganti nama Pakan Kurai menjadi Pasar Bukittinggi. Bangunan pisik Pasar Bukittinggi pada masa itu masih sangat sederhana, yakni berupa warung-warung yang tonggaknya terbuat dari bambu atau kayu dan beratap daun rumbia atau daun Warung-warung ini diberi dinding separuh pada bagian bawahnya, sedangkan yang separuhnya lagi dibiarkan terbuka, sehingga terlihat kerangkanya ketika pasar telah usai. Warung ini ditinggalkan oleh pedagang selama seminggu, sampai datang hari sabtu, yaitu hari pasar Bagi pedagang yang tidak mempunyai warung mereka biasanya menggelar dagangannya di atas tanah dengan beralaskan katidiang . atau daun pisang. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Kondisi pisik Pasar Bukittinggi mulai mengalami perubahan sejak Belanda mendirikan Benteng Aude KockAy pada tahun 1826. Benteng ini didirikan di atas Bukik Jirek, bukit yang tertinggi . dan terletak sekitar 500 m di sebelah barat laut Pasar Bukittinggi. Benteng Aude KockAy merupakan salah satu benteng Belanda yang utama di daerah dataran tinggi. Keberadaan Benteng Aude KockAy berpengaruh terhadap meningkatnya aktivitas perdagangan di Pasar Bukittinggi. Berbagai jenis kebutuhan serdadu Belanda disediakan di sini, mulai dari kebutuhan sehari-hari sampai penunjang perlengkapan perang, seperti beras, daging, dan kuda. Seiring dengan perkembangan fungsinya itu Pasar Bukittinggi akhirnya berkembang pula menjadi Pasar Garnizun (Pasar Garnisu. Perkembangan Pasar Bukittinggi ini juga membawa pengaruh terhadap kehidupan penduduk nagari-nagari sekitarnya. Nagari-nagari itu bukan saja berfungsi sebaai pamasok bahan makanan . dan bahan bangunan . , tetapi juga para penjual jasa lainnya, seperti pengrajin, tukang kayu, tukang batu, dan tukang angkat. Pada tahun 1837 Pasar Bukittinggi telah dikunjungi sekitar dua ratus sampai tiga ratus orang pada hari biasa dan ribuan pada hari pasarnya, yaitu setiap hari sabtu. Para pedagang India dan China juga telah mulai mapan di Bukittinggi. Pada waktu berakhirnya Perang Paderi Bukittinggi telah menyerupai: AuAtelah menjadi kota kecilAy Seiring dengan perkembangan pemrintahan Hindia-Belanda setempat Bukittinggi dijadikan sebagai pusat administrasi pemerintahan dan pengumpulan kopi wilayah afdeeling Agam. Onderafdeeling Agam Tua. Pada tahun 1837 gudang-gudang kopi mulai di bangun di Pasar Bukittinggi. Sepuluh tahun kemudian Gudang-gudang kopi semakin ditingkatkan jumlahnya seiring dengan diberlakukannya Sistem Tanam Paksa Kopi di Sumatera Barat pada tahun 1847. Tabel 1. Gudang-gudang Kopi Utama di Daerah Residensi Padang Darat Tahun 1847 Gudang Kopi Besar Kecil Personil Tempat Eropa Bumi Putra Pemb Clerks Padang Panjang Batusangkar Bukittinggi Payakumbuh Solok Jml Keterangan: G : Kepala Gudang atau Pakhuis Meester Pemb : Pembantu Selain Gudang-gudang itu. Pemerintahan Hindia-Belanda juga mendirikan Gudang-gudang kecil yang tersebar di seluruh wilayah Sumatera Barat. Jika dibandingkan, jumlah Gudang yang terdapat di wilayah Residensi Dataran Tinggi lebih banyak daripada di wilayah Residensi Dataran Rendah. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Persebaran Gudang-gudang kopi di daerah Residensi Dataran Tinggi ini juga tidak merata. Pembangunan Gudang-gudang kopi ini sangat ditentukan oleh produksi kopi suatu daerah. Tabel 2. Jumlah Kopi yang terkumpul di Gudang Kopi Bukittinggi dan Gudang Kopi lainnya di Afdeeling Agam Tahun 1867-1869 Nama Tempat Harga Pikul Th 1867 Th 1868 Th 1869 Bukittinggi Baso Maninjau Matur Palembayan Pisang Jumlah Tabel 3. Perkembangan Harga Kopi/pikul di Bukittinggi Tahun 1867-1869 Tahun 1840/1841 Harga f 6,. f 9,A12. 5,A4 f 7 Pada tahun 1858 pemerintahan Hindia-Belanda mulai mengembangkan lokasi Pasar Bukittinggi. Kebijakan Belanda ini disetujui oleh Kepala Laras Kurai, para penghulu kepala, para penghulu suku, dan para Penghulu Nagari Kurai lainnya. Kerena sebelumnya pihak pemerintahan Hindia-Belanda telah diberi hak pakai atas tanah-tanah di sekitar Benteng Aude KockAy dan Pasar Bukittinggi. Daerah ini terdiri dari 7 . bukit, yang kemudian berkembang menjadi pusat kota Bukittinggi. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Tabel 4. Urutan Peringkat Laras Penghasil Kopi di Onderafdeeling Agam Tua Tahun 1869/1871-1888 Nama Laras 1863/71 1872/74 1874/77 1878/80 1881/83 Jumlah/ IV Koto Candung Tilatang Banuhampu Baso 2,031 Kamang Jumlah Upaya pertama yang dilakukan Belanda untuk mengembangkan Pasar Bukittinggi adalah mendatarkan puncak bukit Bukik nan Tatinggi. Berikutnya dibangun jalan-jalan dan selokan sekeliling Pasar Bukittinggi. Lokasi Pasar Bukittinggi menjadi lebih luas dan baik. Bangunan Gudang-gudang kopi ditambah untuk menampung produksi yang semakin meningkat. Pembangunan Pasar Bukittinggi terus dilanjutkan meskipun produksi kopi sudah mulai menurun sejak awal tahun 1880-an6. Akan tetapi, pihak Penghulu Nagari Kurai mulai tidak diikutsertakan lagi dalam menentukan perkembangan Pasar Bukittinggi. Hal ini dilakukan oleh pihak Hindia-Belanda setelah mengklaim wilayah kekuasaan atas Bukittinggi. Pemerintah HindiaBelanda menetapkan batas-batas Bukittinggi secara sepihak. Oleh karena itu, pemerintah HindiaBelanda merasa berhak sepenuhnya untuk mengembangkan Pasar Bukittinggi. Pada tahun 1890 dibangun sebuah loods (Lo. di Pasar Bukittinggi. Lokasi bangunan los ini terletak di tengah Pasar itu. Keberadaan los itu sebagai bangunan utama serta merta menjadi pusat Pasar Bukittinggi. Los itu dinamakan masyarakat dengan Loih Galuang (Los Galuan. Besi penyangga atapnya dibuat melengkung sehingga atapnya pun berbentuk melengkung, setengah Pembangunan Los Galuang ini menghabiskan biaya yang banyak, sehingga tidak dapat dipenuhi oleh Pasar Fonds. Oleh karena itu, dipinjam uang kepada Singgalang Fonds7. Sebanyak f Dana dipinjam ini khusus untuk membeli bahan bangunan yang sulit ada di Sumatera Barat saat itu, namun seperti kayu, batu dan pasir dibebankan kepada nagari-nagari dalam wilayah Onderafdeeling Agam Tua. Sebagai pekerjanya, dikerahkankan pula rakyat dari nagari-nagari itu. Akan tetapi, kapasitas los ini belum mencukupi, sementara jumlah pedagang dan pengunjung Pasar Bukittinggi semakin meningkat. Bahkan pada tahun 1879 saja pengunjung Pasar Ketika diterapkan sistem perkebunan swasta Sumatera Barat dari 33 perkebunan Sumatera swasta di Sumatera Barat, di daerah Agam hanya ada satu, yaitu Simarasap. Baso. Rusli Amran,op. hlm 353-354. Zulqayyim. Boekit Tinggi Tempo Doeloe. Padang. Andalas University Press. 2006, hlm 58. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Bukittinggi telah berjumlah 15. 000 orang pada hari biasa. Oleh karena itu, tahun 1896 dibangun sebauh los lagi. Los ini terletak di sebelah timur los yang lama. Proses pengerjaan los ini sama dengan los yang pertama. Kedua los ini diperuntukan bagi semua jenis dagangan, kecuali ikan, daging, dan sejenisnya. Pada tahun 1900 dibangun sebuah los yang khusus untuk menjual daging yang disebut Loih Dagiang (Los Dagin. Akan tetapi di dalam los ini juga ada penjualan ikan basah. Baik ikan air tawar maupun ikan air laut. Los Daging ini terlerak di lereng Bukik nan Tinggi sebelah timur, yang telah didatarkan terlebih dahulu. Penempatan lokasi Los Daging di sini supaya kotoran dan air limbahnya dapat mengalir langsung banda . andar/seloka. yang mengalir di kaki bukitnya. Dengan demikian kebersihan Los Daging ini dapat terjaga. Pembangunan Pasar Bukittinggi dilakukan secara besar-besaran pada masa pemerintahan Controleur Westenenk. Lokasi pasar diperluas dengan mendatarkan tanah di sekitar pasar, bahkan lereng bukit di sebelah timur pasar itu juga didatarkan. Selain itu warung-warung yang tidak teratur letaknya dirobohkan. 8 Setelah dibangun los-los yang baru di tanah-tanah yang telah didatarkan itu. Sehingga topografi Pasar Bukittinggi, menjadi bertingkat-tingkat sebelah timurnya. Untuk biaya perbaikan dan pembangunan Pasar Bukittinggi diperlukan banyak uang. Dana yang didapat dari sewa los dan pajak pasar tidak mencukupi. Oleh karena itu. Controleur Westenenk meminjam uang kepada N. Escompto Maatschappij sebanyak f 12. 000 dan memborohkan Pasar Bukittinggi sebagai jaminannya. Dana pinjaman itu teruatma digunakan untuk membeli bahan-bahan Adapun sebagai pekerjanya didatangkan penduduk dari nagari-nagari Agam Tua. Mereka dipekerjakan sebagai tenaga kerja paksa . di Pasar Bukittinggi. Jumlah los yang dibangun adalah sebanyak 6 buah dan letaknya berpencar. Tiga los dibangun bersebelahan dengan dua los sebelumnya, yang menjadi pasar utama Bukittinggi. Satu los di bangun di punggung Bukik nan Tatinggi sebelah timur, yang telah didatarkan terlebih dahulu. Tepatnya lokasi bangunan ini berada di sebelah timur laut dari Los Galuang. Akan tetapi, letaknya lebih rendah dari pada Los Galuang itu. Los ini dibangun kkhusus untuk menampung pedagang ikan kering, sehingga masyarakat menyebutnya dengan Loih Maco . os mac. Terakhir, dua los lagi dibangun di sebelah timur laut kaki Bukik Kubangan Kabau. Dua los ini yang letaknya lebih rendah daripada lainnya dinamakan Pasar Bawah. Kedua los dibangun berjajar dan sama-sama membujur dari utara ke selatan. Kedua los ini diperuntukan bagi pedagang kelapa, beras, buah-buahan dan sayu-sayuran. Beebrapa tahun kemudian Pasar Bawah dikembangkan pula dengan membangun dua lokasi pasar lagi, yaitu Pasar Aua Tajungkang dan Pasar Banto. Pasar Aua Tajungkang terletak di sebelah selatan Pasar Bawah, yang dibatasi oleh sebuah jalan menuju ke Jorong Gurun Panjang. Pasar Aua Tajungkang digunakan untuk menampung para pedagang bahan bangunan dan kebutuhan seharihari. Adapun Pasar Banto terletak di seberang jalan sebelah utara dari Pasar Bawah. Pasar Banto dijadikan sebagai pasar hewan ternak, seperti sapi, kerbau dan kambing. Sementara itu, sejak pemerintahan Hindia-Belanda mengklaim wilayah kekuasaannya atas Bukittinggi pada tahun 1888, para pedagang diberikanhak sewa atas tanah dan mereka diizinkan Zulqayyim. Boekit Tinggi Tempo Doeloe. Padang. Andalas University Press. 2006, hlm 59. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri untuk mendirikan kios sendiri. Sehingga, bermunculan kios-kios para pedagang di Pasar Bukittinggi. Akan tetapi, mereka tidak dapat menentukan sendiri lokasi kios. Tanah yang ditetapkan sebagai lokasi kios-kios para pedagang adalah di sisi barat dan timur pasar atas Bukittinggi. Proses pembangunan kios-kios oleh pada pedagang menarik dikemukakan di sini karena mempengaruhi spesialisasi para pedagang. Setelah pedagang mendapatkan hak sewa dari pemerintah ia belum boleh membangun kiosnya. Ia terlebih dahulu diharuskan untuk meminta izin kepada pedagang disebelahnya dan mengatakan jenis dagangannya. Setelah ada kecocokan dengan pegangan lama bolehlah pedagang baru itu mendirikan kiosnya. Kebijakan ini secara tidak langsung mengatur pengelompokan pedagang, baik dari segi jenis dagangannya maupun nagai Sehingga dikenal adanya Los Maninjau. Los Balingka. Los Ampek Angkek. Los Kumango. Los Sungai Pua dan los-los lainnya. Pada tahun 1923 kioskios pedagang yang terdapat di sisi bart dan timur Pasar Atas dibangun menjadi rumah toko . Bangunan ruko merupakan bangunan permanen. Disebelah barat terdapat ruko yang berjajar dua dan terdiri dari 6 . blok, dan lokasi ini dinamakan Muko Pasa . uka pasa. Tiga blok paling barat sebagian besar digunakan untuk menjual barang-barang Adapun tiga blok lainnya digurnkan untuk menjual barang-barang peralatan pertanian dan petukangan. Disebelah timur juga berjejer dua lokasi yang terdiri dari 5 . Lokasi ini dinamakan Balakang Pasa . elakang pasa. Ruko pada blok ini digunakan untuk penjualan barangbarang kodian, minyak tanah, minyak makan dan kapuk. Lokasi bangunan Pasar Atas dan Pasar Bawah dipisahkan oleh kondisi topografi Pasar Bukittinggi. Pasar Atas berada diatas bukit sedangkan Pasar Bawah berada di kaki bukit, di sebelah timur Pasar Atas. Untuk mencapai Pasar Bawah dari Pasar Atas dapat menempuh jalan dan tangga. Jalan terdiri fari dua jalur,yaitu jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara dimulai dari sisi timur bagian utara Pasar Atas menuju arah timur dan setelah sekitar 40 m berbelok kea rah selatan. Kemudian jalan ini menurun melewati sisi timur Los Maco, lalu terus melewati sisi barat Los Daging. Jalan ini lebih rendah daripada Los Maco, tetapi lebih tinggi dari Los Daging. Di ujung selatan Los Daging jalur utara ini bertemau dengan jalur selatan. Jalur selatan mulai dari sisi timur sebelah selatan Pasar Atas menurun dan berbbelok kea rah timur laut. Kemudian setelah bertemu dengan jalur utara di ujung selatan Los Daging, jalan ini terus melewati bagian timur Los Daging, jalam ini berada lebih rendah daripada Los Daging. Kemudian terus ke timur laut menuruni lereng bukit, hingga sampai di Pasar Bawah. Pada hari pasar yaitu hari sabtu, pinggir kiri, kanan dan bahu jalan sekitar Los Daging dipergunakan oleh penduduk untuk berjualan. Mereka menggelar dagangan berupa jajanan, sayursayuran, buah-buahan dan lain-lain. Lokasi ini dinamkan Pasa Teleng, karena terletak di kemiringan, yaitu pinggang bukit. Jadi dapat dikatakan bahwa Pasar Teleng merupakan penghubung antara Pasar Atas dan Pasar Bawah. Tangga yang menghubungkan Pasar Atas dan Pasar Bawah terdiri atas dua kelompok tangga. Pertama, kelompok tangga yang terdapat di sebelah utara Pasar Atas. Kelompok tangga ini terkenal dengan nama Janjang Empek Puluh, karena jumlah kelompok anak tangganya yang pertama terdiri dari 40 anak tangga. Setelah itu disambung oleh kelompok Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 anak tangga yang masing-masingnya terdiri dari 3 . anak tangga. Rangkaian anak tangga ini berbelok kea rah timur dan tutun di sisi barat pertigaan ajlan raya. Di seberang pertigaan ini terdapat Pasar Bawah. Kedua, kelompok-kelompok tangga yang terletak di sisi timur bagian selatan Pasar Atas. Kelompok tangga ini terdiri dari 5 kelompok anak tangga. Anatara anak tangga kedua dan ketiga dikelilingi oleh jalan dari jalur utara. Demikian juga anak tangga keempat dan kelima diselingi oleh jalan dari jalur selatan. Kelompok anak tangga pertama persis turun di pojok barat sebelah selatan Los Ikan Kering. Kelompok anak tangga di pojok timur sebelah selatan Los Ikan Kering, turun ke pinggir barat jalan yang membentang dari utara ke selatan . alur utar. Kelompok anak tangga ketiga dimulai dari pinggir barat jalan . alur utar. itu turun dari pojok utara Los Daging. Kemudian dilanjutkan dengan tangga keempat yang turun ke pinggie barat jalan yang membentang dari arah selatan ke timur laut . alur selata. Di pinggir timur jalan ini terdapat dua pilihan menuju Pasar Bawah. Pertama, dengan menuruni kelompok anak tangga, yang terdapat di pinggir barat jalan dan turun ke jalan raya yang membentang dari arah selatan ke utara. Kedua, melewati Jembatan Gantung, yang berada di sisi selatan tangga kelima itu. Ujung sebelah timur Jembatan Gantung terdiri dari kelompok anak tangga, yang turun persis di pojok barat bagian selatan Pasar Bawah. Di bawah Jembatan Gantung ini membentang jalan raya dari arah selatan ke utara. Selain itu persis di bawah anak tangga dari Jembatan Gantung terdapat pula selokan yang mengalir dari arah selatan ke arah utara. Jembatan Gantung ini dibangun oleh Contrilour W. J Cantor pada tahun 1932. Selain tangga-tangga yang telah disebutkan, terdapat beberapa tangga lainnya, masingmasing tangga ini diberi nama berdasarkan posisi letaknya, yaitu Janjang Balakang Pasa. Janjang Gudang. Janjang Minang, dan Janjang Kampuang Cino. Janjang Balakang Pasa adalah kelompok anak tangga yang terdapat di antara blok pertokoan belakang pasar sebelah timur. Tangga ini berjejer persis di pertigaan dari pertemauan jalan jalur selatan dan jalur utara sebelah Los Daging. Janjang Gadang dinamakan demikian karena terletak di dekat Gudang-gudang kopi. Tangga ini terletak di sebelah utara Pasar Atas menurun ke jalan raya yang menuju kea rah selatan. Janjang Minang terleatk di sebalah utara Pasar Atas yang menghubungkan Pasar Atas dengan Kampuang Cino. Janjang Kampuang Cino terdapat di sisi utara Kantor Gemeente turun ke pertigaan Kampuan Cino. Selain pedagang pribumi, pemerintaha Hindia-Belanda juga memberi izin kepada pedagang Cina dan Keling (Indi. untuk mendirikan kios-kios. Mereka juga diberikan hak sewa tanah maupun untuk membangun toko dan rumah mereka di atasnya. Akan tetapi, lokasi pembangunan kios mereka telah di tentukan secara tersendiri. Para pedagang cina di tempatkan di kaki Bukik Kubangan Kabau sebelah barat, yang menurun fari arah selatan ke utara. Daerah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Kampuang Cino (Kampung Cina/Pecinaa. Adapun pedagang India (Kaliang/Kelin. di tempatkan di kaki Bukik Kubangan Kabau sebelah utara, yang melingkar dari arah timur ke barat. Daerah ini kemudian di kenal dengan nama Kampuang Kaliang. Kedua kampung ini bertemu di pojok barat dan utara Bukik Kubangan Kabau. Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Mereka membangun kios-kios dalam bentuk ruko. Bagian bawah digunakan sebagai toko dan bagian atasnya sebagai rumah tempat tinggal. Pengelolaan Pasar Bukittinggi Suatu pasar perlu di Kelola supaya dapat berjalan lancar dan tertib. Pengelolaan suatu pasar mencakup peraturan penggunaan lokasi pasar, sewa, pajak pasar, dan keamanan pasar. Semua unsur ini saling menunjang antara satu dan lainnya. Ketertinggalan salah satu di antaranya dapat mengganggu kelancaran proses transaksi jual-beli. Pengelolaan Pasar Bukittinggi pada tahap pertama dilakukan sepenuhnya oleh Rapat (Dewa. Penghulu Nagari Kurai. Sewa warung dan pajak pasar merupakan sumber pemasukan utama untuk anggaran belanja nagari. 9 Selain itu, juga ada pajak AubantaiAy yang dikenakan kepada setiap orang yang menjual ternaknya, seperti kambing, sapi atau kerbau. Sebagian besar dari jumlah yang msuk ke dalam kas nagari itu digunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan anak Nagari Kurai. Sebagian lagi untuk biaya pemeliharaan dan keamanan pasar. Pengelolaan Pasar Bukittinggi mulai dicampuri oleh pihak Hindia-Belanda ketka diberlakukannya penarikan pajak pasar pada tanggal 1 April 1825. Penarikan pajak ini dikenakan terhadap semua jenis barang dagangan termasusk makanan yang dibawa ke Pasar Bukittinggi. Besar pajak yang ditarik adalah 5% dari harga setiap barang dagangan. Pajak pasar ini tidak dilakukan sendiri oleh Belanda , tetapi oleh orang Cina yang memenangkan tender kontrak penarikan pajak. Dewan penghulu yang sesungguhnya memiliki otoritas terhadap pasar nagari tidak lagi mempunyai wewenang penuh seperti sebelumnya. Kebijakan Belanda ini tidak lama berlangsung. Pada tahun 1829 pihak penghulu menolak penarikan pajak itu dan tidak mau menerima orang Cina. Bahkan ada orang Cina yang diusir dan dibunuh ketika memungut pajak besar. Penarikan pajak ini dirasakan oleh orang Cina sebagai pekerjaan yang memiliki resiko yang tinggi. Sehingga orang-orang Cina melepaskan diri dari tugas itu dan mengembalikan kepada Belanda. Pada tahun 1831 pengelolaan Pasar Bukittinggi diserahkan Kembali kepada Dewan Penghulu Nagari Kurai. Pada masa Perang Paderi kala itu, kegiatan perdagagangan di Pasar Bukittinggi semakin berkembang dan tumbuh pula menjadi Pasar Garnisun. Kebutuhan harian para serdadu Belanda harus pula dipenuhi. Sehingga Rapat (Dewa. Penghulu Nagari Kurai V Jorong sepakat untuk meningkatkan hari pelaksanaan Pasar Bukittinggi menjadi setiap hari. Pasar harian ini disebut Pakan Borong-borong, untuk membedakannya dekan Pakan Gadang yang dilaksanakan setiap Sungguhpun pengelolaan pasar diserahkan kembali kepada para penghulu, namun pemerintahan Hindia-Belanda tidak melepaskan campur tangannya, terutama dalam penggunaan hasil pajak pasar. Pemerintahan Hindia-Belanda meminta supaya Sebagian hasil pajak pasar diberikan kepadaa para Kepala Laras dan Penghulu Kepala dalam wilayah Onderafdeeling Agam Tua. Akan tetapi kebijakan Belanda ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 1833 pemerintahan Hindia-Belanda mencabutnya, menyusul terjadinya Perang Paderi ketiga . , yang Akira Oki. Ausocial Change in The West Sumatra VillageAy 1908-1945Ay. Ph. Dissertation (Canbera: The Australian National University, 1977, hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 menggoncangkan keberadaan kekuasaan Belanda di Sumatera Barat. Para penghulu yang selama ini berkolaborasi dengan Belanda, sekarang berpihak kepada Paderi. Setelah Perang Paderi berakhir tahun 1937 dan menguasi wilayah Sumatera Barat, pemerintahan Hindia-Belanda mulai memperhatikan Pasar Bukittinggi. Belanda meminta konsensi kepada Penghulu Nagari Kurai untuk membangun Gudang kopi di Pasar Bukittinggi, karena pada saat itu menjadi primadona. Kepentingan politik dan ekonomi Belanda di Bukittinggi semakin besar, setelah diberlakukannya Sistem Tanam Paksa Kopi di Sumatera Barat . Sementara itu, pemerintahan Hindia-Belanda juga mengami perkembangan Pasar Bukittinggi yang semakin pesat. Oleh karena itu. Controleur Agam Tua meminta kepada Penghulu Nagari Kurai untuk diberi kuasa mengembangkan Pasar Bukittinggi. Penghasilan pasar berupa sewa warung, pajak pasar, dan pajak AubantaiAy dipungut dan dimanfaatkan oleh para Penghulu Nagari Kurai. Pada tahun 1858 dimulailah penataan lokasi Pasar Bukittinggi. Puncak Bukik nan Tatinggi, mulai didatarkan, berdasarkan kerja sama Belanda dan Penghulu Nagari Kurai. Penduduk Nagari Kurai dibebaskan dari kerja rodi di Pasar Bukittinggi. Perekrutan tenaga kerja ini dilakukan secara hierarkis jabatan Inlandsche Bestuur dalam struktur birokrasi colonial. Mulai dari kepala ras, penghulu kepaladan terakhir penghulu suku bodi. Namun sementara itu, pihak pemerintahan Hindia-Belanda juga mulai mengendalikan pengelolaan Pasar Bukittinggi. Bahkan sejak pengklaiman kekuasaannya atas Bukittinggi pada Dan pemerintahan Hindia-Belanda mulai meninggalkan pihak Penghulu Nagari Kurai dalam penataan Pasar Bukittinggi. Pada tahun 1896 Controleur J. van Hangel membentuk Pasar Fonds. Anggotanya terdiri dari pejabat Kepala Laras Kurai-Banuhampu. IV Koto. Sungai Puar, dan IV Angkat. Lembaga ini dibentuk untuk menghimpun dana masyarakat, yang akan dijadikan modal pengembangan Pasar Buktittinggi. Sebagai modal dasar Pasar Fonds dipungut sumbangan wajib ke nagari-nagari dalam keempat kelarasan itu. Los-los dibangun dengan menggunakan dana dari Pasar Fonds. Selain itu Pasar Bukittinggi mulai ditata secara administratif. Pasar Fonds diberi wewenang oleh Controleur J. van Hangel sebagai pengelolanya. Dua orang opas pasar diangkat untuk memelihara keamanan, ketertiban, dan kebersihan pasar. Para pedagang ditentukan lokasi berjualannya, sesuai dengan jenis dagangannya. Tempat pemberhentian alat-alat transportasi seperti pedate, bendi, dan gerobak dorong, juga disediakan tempat yang khusus. Masing-masing opas diberi gaji sebesar f 15 /bulan. Selain itu, diangkat pula seorang juru tulis pasar. Ia bertugas mencatat segala hal yang berhubungan dengan kegiatan pasar. Juru tulis pasar diberi gaji f 20 /bulan. Pajak AubantaiAy sebesar f 4 /ekor yang semula diterima oleh Penghulu Nagari Kurai, sekarang dihapuskan. Kesimpulan Pasar disebut oleh orang Minangkabau dengan pakan. Pada umumnya setiap nagari mempunyai pakan sendiri, karena pakan merupakan salah satu syarat bagi berdirinya suatu nagari. Biasanya pakan didirikan di lapangan dekat balairung nagari itu. Oleh karena itu, pengelolaan suatu pakan, sepenuhnya berada di pengawasan pemerintahan nagari setempat yang bersifat Ada beberapa pakan, misalnya. Pakan Kamih (Pasar Kami. Pakan Sinayan (Pasar Pakan: Pasar Tradisional Rakyat Bukittinggi Pada Abad ke-19 Suci Kurnia Putri Sene. , dan juga Pakan Kurai (Pasar Kura. Pakan Baso (Pasar Bas. Kelak pakan ini menjadi cikal bakal dari Pasar Bukittinggi. Pada awal abad ke-19 kopi menjadi tumbuhan primadona dan pemerintahan Hindia-Belanda mendirikan Gudang-gudang kopi guna untuk memperjual belikannya ke Eropa. Selian itu Pembangunan Pasar Bukittinggi dilakukan secara besar-besaran pada masa pemerintahan Controleur Westenenk. Dimana dirikan Los dagang untuk masyarakat baik pribumi, pedagang Cina maupun pedagang india. Pasar Bukittinggi semakin ramai pengujung dan dilakukanlah penataan dan pengelolaan yang lebih baik. Suatu pasar perlu di kelola supaya dapat berjalan lancar dan tertib. Pengelolaan pasar mencakup peraturan penggunaan lokasi pasar, sewa, pajak pasar, dan keamanan pasar. Semua unsur ini saling menunjang antara satu dan lainnya. Dan sepenuhnya Pengelolaan Pasar Bukittinggi pada tahap pertama dilakukan sepenuhnya oleh Rapat (Dewa. Penghulu Nagari Kurai. Waluaupun pada akhirnya pengelolaan dan penataan Pasar Bukittinggi dikendalikan oleh pemerintahan Hindia-Belanda dan menggesar peran Penghulu Nagari Kurai yang pada awalnya merupakan pakan . pertama yang ada di Bukittinggi. Daftar Pustaka