ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 HUBUNGAN ERGONOMI KERJA DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PEGAWAI PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO). TBK KANTOR CABANG SINGKAWANG Zulkarnain Edward1,Luis Yulia2. Nopri Esmiralda3. Ivanna Dwi Putri Riyanto4 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, zulkarnainedward@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, luisyulia@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, nopriesmiralda@univbatam. 4Fakultas Kedokteran Universitas Batam, 61120016@univbatam. ABSTRACT Background: Suboptimal ergonomic can trigger various health issues, including musculoskeletal disorder. Musculosceletal Disorder, characterized by pain in muscles, joints, tendons, and the skeletal system, can affect individuals in diverse work sectors, including office Bank employees, such as those at PT. Bank Negara Indonesia Singkawang Branch Office, are particularly susceptible to these pains due to poor work ergonomic. Prolonged sitting or standing with improper postures can lead to various problems such as pain, aches, and stiffness in various body parts. Methods: This study uses a quantitative analytical design with a cross-sectional approach conducted at PT. Bank Negara Indonesia Singkawang Branch. The sample used in this study was all employees working at the Singkawang City Branch and Diponegoro Sub-Branch offices. The research results were tested using the chi-square test. Results: The results of this study showed p-value of 0. <0. was obtained, indicating that there is a relationship between work ergonomics and musculoskeletal complaints. Conclusion: Based on the research results, it was found that there is a relationship between Work Ergonomics and Musculoskeletal Complaints in employees of PT. Bank Negara Indonesia (Perser. Tbk Singkawang Branch. Keywords: Work Ergonomic. Musculosceletal disorder. Pain ABSTRAK Latar Belakang: Ergonomi yang tidak optimal dapat memicu berbagai penyakit, salah satunya keluhan pada bagian muskuloskeletal. Keluhan muskuloskeletal, yaitu rasa sakit pada otot, sendi, tendon, dan rangka dapat dialami siapa saja di berbagai sektor pekerjaan, termasuk perkantoran seperti di PT. Bank Negara Indonesia Kantor cabang Singkawang. Pegawai bank rentan terhadap keluhan muskuloskeletal yang diakibatkan oleh ergonomi kerja yang kurang Kebiasaan duduk terlalu lama atau berdiri dengan postur yang buruk memicu berbagai masalah seperti rasa sakit, nyeri, dan pegal-pegal pada bagian tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ergonomi kerja dengan keluhan muskuloskeletal pada pegawai PT. Bank Negara Indonesia kantor cabang Singkawang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di PT. Bank Negara Indonesia Kantor Cabang Singkawang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai yang bekerja pada kantor Branch Kota Singkawang dan Sub Branch Diponegoro. Pengujian data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Pada penelitian ini, didapatkan nilai p 0. 012 ( p<0,. sehingga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara ergonomi kerja dengan keluhan muskuloskeletal. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan Hubungan Ergonomi Kerja dengan Keluhan Muskuloskeletal Pada Pegawai PT. Bank Negara Indonesia (Perser. Tbk Kantor Cabang Singkawang. Kata kunci: Ergonomi Kerja. Keluhan Muskuloskeletal. Nyeri Universitas Batam Page 1 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 PENDAHULUAN Masalah kesehatan kerja telah lama menjadi perhatian, terutama seiring dengan perkembangan industri, termasuk di sektor Pertumbuhan industri keuangan meningkatkan stres dan kelelahan pada pekerja yang harus memberikan layanan terbaik kepada nasabah. Ergonomi kerja berperan penting dalam mengurangi stres dan kelelahan ini. Banyak masalah kesehatan seperti keluhan muskuloskeletal muncul akibat ergonomi kerja yang tidak Kondisi ini bisa terjadi karena pengerahan tenaga berlebihan yang menurunkan konsentrasi dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja, terutama di sektor perkantoran seperti perbankan. Keluhan muskuloskeletal sering muncul akibat kelelahan otot yang disebabkan oleh beban statis dalam waktu lama dan aktivitas berat atau gerakan tiba-tiba yang tidak diduga (Mukhtar, 2021 . Widiastuti, 2. Pekerja kantoran, terutama pegawai muskuloskeletal akibat ergonomi kerja yang kurang baik. Teller bank dan staf yang menggunakan komputer berisiko tinggi mengalami masalah seperti nyeri punggung, sakit otot, dan pegal akibat posisi kerja yang buruk. Meskipun peralatan seperti kursi tersedia, posisi duduk yang salah dalam jangka panjang tetap dapat memicu masalah kesehatan. Pekerjaan yang melibatkan penggunaan komputer secara terus-menerus juga dapat menyebabkan nyeri otot di sekitar tulang belakang, terutama jika postur kerja tidak diperbaiki (Marganita, 2. Menurut Organisasi Ketenagakerjaan Internasional International Labour Organization (ILO) pada tahun 2018, sekitar 2,78 juta pekerja meninggal setiap tahun akibat kecelakaan kerja dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Dari jumlah tersebut, sekitar 86,3 persen atau sekitar 2,4 juta kematian disebabkan oleh penyakit yang terkait dengan pekerjaan, sedangkan lebih dari 13,7 persen atau lebih dari 380. kematian disebabkan oleh kecelakaan kerja. Universitas Batam Menurut Labour Force Survey (LFS) di Britania Raya, di laporkan sebanyak 000 pekerja pada tahun 2018 yang menderita keluhan muskuloskeletal (Tuang I, 2022 . Sarah N, 2. Keluhan penyumbang tertinggi untuk disablitas produktivitas kerja (James dkk. ,2018. Mekonnen dkk. , 2020 dalam lubis Z. ,2. Prevalensi dilaporkan terus meningkat pada usia muda yang produktif. Penanganan kondisi muskuloskeletal pada tahun 2011 di Amerika pun menelan biaya 213 miliar dollar Amerika hingga 1,4% dari produk Domestik Bruto (Andersson dkk. , 2016 dalam Lubis Z. ,2. hal itu dikarenakan keluhan muskuloskeletal dan kelelahan merupakan faktor yang dapat menyebabkan turunnya produktivitas kerja, hilangnya jam kerja, tingginya biaya pengobatan dan material, serta rendahnya kualitas kerja. Indonesia sendiri dalam studi yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam profil masalah kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 40,5% penyakit yang diderita pekerja berhubungan dengan pekerjaan. Gangguan Kesehatan yang dialami pekerja berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 482 pekerja di 12 kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan angka tertinggi diraih oleh gangguan muskuloskeletal . %). Menurut RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasa. Standar kesehatan kerja dalam upaya peningkatan kesehatan dalam peraturan pemerintah No 88 tahun 2019 meliputi : Peningkatan pengetahuan kesehatan, pembudayaan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dan peningkatan kesehatan fisik dan Gorontalo dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi provinsi yang memiliki persentase tertinggi pengupayaan kesehatan muskuloskeletal yaitu 100%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayu putri, dkk . pengamatan serta wawancara terhadap pegawai di biro kepegawaian Kemenkes RI Page 2 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 yang dilakukan pada tanggal 1 maret 2020 terdapat 18 pegawai dari 20 pegawai yang karena bekerja dengan sikap duduk yang tidak alamiah karena desain kursi yang tidak ergonomi dengan waktu duduk yang cukup lama di depan komputer. Sementara itu, berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018, prevalensi penyakit gangguan sendi di Kalimantan Barat yang didiagnosis mencapai 9,57%. Angka ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan data Riskesdas tahun 2013 yang mencatat prevalensi sebesar 13,3%. Lalu pada tahun 2020, menurut Riskesdas, dibandingkan Gorontalo dan Yogyakarta. Kalimantan barat hanya memiliki persentase 7,1% sebagai provinsi yang melaksanakan pengupayaan kesehatan kerja terutama pada (Kemenkes RI,2. METODE PENELITIAN Desain penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner Nordic Body Map (NBM). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai yang ada di PT. Bank Negara Indonesia (Perser. Sampel diambil menggunakan Total menggunakan sebanyak 54 responden sebagai sampel penelitian. Analisis data menggunakan uji Chi-square. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Usia Responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Responden Usia (Tahu. < 35 Ou 35 Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa dari 54 responden yang menjadi sampel penelitian Universitas Batam menunjukkan responden penelitian berusia Ou 35 tahun yaitu sebanyak 18 . ,3%) responden dan berusia < 35 tahun yaitu sebanyak 36 . ,7%) responden . Pada usia Ou 35 tahun yang memiliki keluhan muskuloskeletal dengan kategori memiliki keluhan sebanyak 10 responden sedangkan yang tidak memiliki keluhan sebanyak 8 responden, yang menunjukkan bahwa 10 muskuloskeletal yang memiliki keluhan sakit adalah responden yang berusia Ou 35 Responden dengan usia < 35 lebih banyak dibandingkan dengan usia Ou 35 dikarenakan adanya batasan usia dalam menerima pekerja, pengalaman kerja, dan tingkat pendidikan sehingga data usia yang diperoleh pada pegawai bank bervariasi. Chaffin dan Guo et al. Menyatakan muskuloskeletal mulai dirasakan pada usia Namun demikian, keluhan pertama biasanya dirasakan pada umur 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Hal ini terjadi karena pada umur setengah baya, kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga risiko terjadinya keluhan otot meningkat (Tarwaka,2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Septiani . Menunjukkan bahwa terdapat 22 pekerja . ,4%) mengalami keluhan MSDs sedang dan sebanyak 66 pekerja . ,3%) memiliki tingkat risiko pekerjaan sedang. Didapatkan distribusi usia responden usia Ou 35 tahun sebanyak 23 orang . %) dan usia < 35 tahun sebanyak 47 orang . ,1%). Dari hasil analisis juga diketahui rata-rata pekerja usia 31 tahun, dengan usia termuda 21 dan tertua 45 tahun. Diketahui bahwa dari 23 orang yang berusia Ou 35 tahun, sebanyak 15 pekerja . ,2%) memiliki keluhan muskuloskeletal sedang dan 8 ,8%) muskuloskeletal rendah. Sedangkan dari 47 pekerja yang berusia < 35 tahun, hanya 7 orang pekerja . ,9%) yang memiliki keluhan MSDs sedang, dan 40 orang . ,1%) memiliki keluhan MSDs rendah. Page 3 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasakan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa dari 54 responden yang menjadi sample penelitian didapatkan hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden penelitian berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 31. ,4%) responden dan berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 23 . ,6%) Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa dari 54 responden yang menjadi sample penelitian menunjukkan sebagian besar responden penelitian berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 31 . ,4%) responden dan berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 23 . ,6%) responden. hasil peneletian yang telah dilakukan responden yang memiliki keluhan sakit 12 diantara nya adalah perempuan dan 5 lakilaki. Walaupun masih ada perbedaan pendapat dari beberapa ahli tentang pengaruh jenis kelamin terhadap risiko keluhan sistem muskuloskeletal, namun beberapa hasil penelitian secara signifikan menunjukkan bahwa jenis kelamin sangat mempengaruhi tingkat risiko keluhan otot. Dalam berbagai jenis pekerjaan, tingkat kejadian masalah muskuloskeletal lebih tinggi pada wanita daripada pada pria. Wanita lebih rentan terhadap . seperti keluhan pinggul dan pergelangan tangan, yang dipengaruhi oleh faktor fisiologis, di mana kekuatan otot rata-rata wanita hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan otot pria (Rahayu p,2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dan Setiawati . Bahwa sebanyak 51 . ,5%) pekerja berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 52 . ,5%) pekerja berjenis kelamin perempuan. Sebanyak 26 pegawai Universitas Batam atau . ,0%) berjenis kelamin Perempuan mengalami keluhan muskuloskeletal tinggi, sedangkan keluhan muskuloskeletal rendah dirasakan oleh laki-laki sebanyak 28 pegawai atau . ,9%). Distribusi Frekuensi Masa Kerja Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Masa Kerja Masa Kerja < 10 Tahun Ou 10 tahun Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dilihat bahwa dari 54 responden menunjukkan sebagian besar responden bekerja < 10 tahun yaitu sebanyak 30 . ,6%) responden dan Ou 10 tahun sebanyak 24 . ,4%) responden. Dari hasil penelitian yang dilakukan responden yang memiliki masa kerja Ou 10 dan memiliki keluhan sakit berjumlah 11 responden, sedangkan yang memiliki masa kerja < 10 tahun dan memiliki keluhan sakit sebanyak 6 responden. Masa kerja dapat menjadi faktor risiko Musculoskeletal Disorders (MSD. , terutama pada jenis pekerjaan yang memerlukan penggunaan kekuatan fisik yang tinggi (Hutabarat Y,2. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dan Setiawati . , pada penelitian yang dilakukan dengan 49 responden dapat diketahui bahwa terdapat 41 pegawai atau . ,4%) dengan masa kerja > 10 tahun dan 8 . responden dengan masa kerjaO 10 tahun. Dan dapat disimpulkan bahwa ada hubungan keluhan muskuloskeletal dengan masa kerja pada pegawai di Biro Kepegawaian RI. Menurut Tarwaka . Rerata kekuatan otot kelompok masa kerja < 10 tahun ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok masa kerja Ou 10 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa masa kerja berpengaruh terhadap Tingkat keluhan Page 4 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 muskuloskeletal tenaga kerja, khususnya tenaga kerja yang mempunyai masa kerja Ou 10 tahun. (Tarwaka,2. Distribusi Frekuensi Ergonomi Kerja Tabel 4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Ergonomi Kerja Risiko Sangat Ringan Ringan Sedang Berat Sangat Berat Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, distribusi frekuensi ergonomi kerja pada Pegawai PT. Bank Negara Indonesia Persero. Tbk Kantor Cabang Singkawang yang telah dilakukan melalui lembar kuisioner REBA dapat dilihat bahwa dari 54 responden yang menjadi responden yang memiliki postur tubuh dengan kategori risiko rendah yaitu 8 . 8%) responden, kategori sedang yaitu sebanyak 29 . 7%) responden dan kategori tinggi yaitu sebanyak 17 . ,5%) Responden memiliki kategori risiko yang bervariasi dikarenakan para pegawai memiliki posisi pekerjaan yang beragam . da pegawai yang hanya duduk di depan komputer namun dengan posisi yang tidak alamiah seperti pada pegawai di unit-unit pengkreditan, ada pula pegawai yang berdiri untuk melayani nasabah seperti pegawai pada bagian telle. Ergonomi merujuk pada aturan atau kaidah yang diterapkan dalam lingkungan kerja, sehingga dapat diartikan sebagai ilmu Secara historis, ergonomi telah hadir dalam budaya manusia sejak zaman megalitik, terutama dalam perancangan alat-alat kerja dan barang buatan yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia pada masa itu. Ergonomi merancang suatu sistem dimana letak lokasi kerja metode kerja, peralatan, mesin-mesin, dan Universitas Batam keterbatasan fisik dan sifat-sifat pekerja. Semakin sesuai semakin tinggi tingkat keamanan dan efesiensi kerjanya (Hutabarat Y,2. Distribusi Frekuensi Muskuloskeletal Keluhan Tabel 5. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Keluhan Muskuloskeletal Keluhan Tidak Sakit Sedikit Sakit Sakit Sangat Sakit Total Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui lembar kuisioner NBM dapat dilihat bahwa dari 54 responden yang menjadi sample penelitian didapatkan hasil penelitian menunjukan sebagian besar responden penelitian yang memiliki keluhan muskuloskeletal dengan keluhan tidak sakit yaitu sebanyak 37 . ,5%) responden, dengan keluhan sakit yaitu sebanyak 29 . ,7%) responden, dengan keluhan sangat sakit yaitu sebanyak 17 ,5%) Gangguan muskuloskeletal pada pegawai bank memiliki tingkat risiko sedang dan tinggi dikarenakan berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, posisi kerja. Keluhan pada sistem muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot rangka yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan pada bagian-bagian dari otot rangka yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen atau tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang muskuloskeletal disorder (MSD. atau cedera pada sistem muskuloskeletal (Grandjean, 1993. Lemasters, 1996 dalam Hutabarat Y,2. Page 5 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Keluhan keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama,akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi ligament dan tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. atau cedera pada sistem Muskuloskeletal (Restuputri D,2017 . Ermayana, 2. Keluhan gangguan kronis pada otot, tendon, dan saraf yang disebabkan pengguna tenaga secara berulang atau yang biasa disebut dengan gerakan repetitive, gerakan secara cepat, beban yang tinggi, tekanan, postur tubuh yang aneh, dan rendahnya temperatur sehingga mengakibatkan nyeri serta rasa tidak nyaman pada otot (Tarwaka. Bakri, & Sudiajeng, 2004 dalam Fauziah N,2. Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu : Keluhan sementara . ,yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pemberian beban Keluhan tetap . , yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun pemberian beban kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot tersebut terus berlanjut. Penelitian ini sejalan dengan peneltian Denaneer,Tanzila dan Rachmadianty . yang menjelaskan bahwa hasil dari pengisian kuesioner Nordic Body Map (NBM) didapatkan bahwa bagian tubuh yang paling banyak disebutkan dalam keluhan pekerja adalah bahu kanan yaitu sebanyak 22 orang. Keluhan lainnya yaitu pada pergelengan tangan dan bahu kiri masing masing berjumlah 16 Orang serta pinggang dan punggung yang masingmasing berjumlah 16 orang. Analisis Bivariat Hubungan Ergonomi Kerja dan Keluhan Muskuloskeletal pada Pegawai PT. Bank Negara Indonesia Persero. Tbk Kantor Cabang Singkawang Tabel 6. Hubungan Ergonomi Kerja dengan Keluhan Muskuloskeletal Keluhan Muskuloskeletal Ergonomi Kerja Ringan Sedang Berat Total Ringan Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik dengan chisquare dimana peneliti ingin mengetahui hubungan ergonomi kerja dengan keluhan Berdasarkan hasil uji korelasi chi-square, diperoleh nilai p 0,012 . < 0,. Nilai p dari analisis data ini didapatkan nilai 0,012 . < ) sehingga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara ergonomi kerja dengan keluhan Universitas Batam Total P-value Sedang muskuloskeletal pada Pegawai PT. Bank Negara Indonesia Persero. Tbk Kantor Cabang Singkawang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Denaeer T, dkk . , yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara ergonomi kerja dengan keluhan muskuloskeletal dengan hasil peneltian didapatkan hasil uji chisquare memiliki nilai expected. Page 6 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Berdasarkan menjelaskan bahwa hasil dari pada posisi kerja dan posisi duduk yang tidak alamiah dan tidak ergonomis dapat membuat pekerja merasakan keluhan pada sistem muskuloskeletal terutama di bagian pantat, bahu leher, punggung. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aulia dkk . Berdasarkan pengumpulan data terhadap 50 responden di PT. X, diketahui bahwa hasil analisis dengan menggunakan uji chi square didapatkan p-value 0,001 < 0,05 yang berarti bahwa H0 ditolak yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara postur kerja dengan keluhan perkantoran di PT. Ergonomi merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata "ergos" yang berarti "kerja" dan "nomos" yang berarti "aturan atau kaidah. " Dalam perkembangannya, ergonomi merujuk pada aturan atau kaidah yang diterapkan dalam lingkungan kerja, sehingga dapat diartikan sebagai ilmu kerja. Secara historis, ergonomi telah hadir dalam budaya manusia sejak zaman megalitik, terutama dalam perancangan alat-alat kerja dan barang buatan yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia pada masa itu. Ergonomi merancang suatu sistem dimana letak lokasi kerja metode kerja, peralatan, mesin-mesin, dan lingkungan kerja sesuai dengan keterbatasan fisik dan sifat-sifat Semakin sesuai semakin tinggi tingkat keamanan dan efesiensi kerjanya (Hutabarat Y,2. Ergonomi adalah ilmu yang penerapannya berusaha untuk menserasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap pekerja dengan tujuan mencapai produktivitas dan efisiensi yang setinggitingginya melalui pemanfaatan faktor seoptimal-optimalnya (Seftianingsih D,2. Ergonomi kerja menjadi salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam menjaga Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. , yang merupakan prioritas penting dalam lingkungan kerja. Perusahaanperusahaan di Indonesia, baik yang berskala Universitas Batam besar maupun kecil, diwajibkan untuk memprioritaskan perlindungan pekerja dengan menerapkan standar K3. Peraturan terkini terkait K3 di lingkungan kerja dapat ditemukan dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenake. RI No. Tahun 2018 tentang K3 Lingkungan Kerja, yang diterbitkan pada 27 April 2018. Penyusunan peraturan tersebut bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan nyaman, serta untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK). (Permenaker RI No. 5 Tahun 2. Keluhan keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama,akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi ligament dan tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. atau cedera pada sistem Muskuloskeletal (Restuputri D,2. Keluhan gangguan kronis pada otot, tendon, dan saraf yang disebabkan pengguna tenaga secara berulang atau yang biasa disebut dengan gerakan repetitive, gerakan secara cepat, beban yang tinggi, tekanan, postur tubuh yang aneh, dan rendahnya temperatur sehingga mengakibatkan nyeri serta rasa tidak nyaman pada otot (Tarwaka. Bakri, & Sudiajeng, 2004 dalam Fauziah N,2. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam bidang ergonomi dan kesehatan kerja, menegaskan pentingnya intervensi ergonomi dalam mengurangi risiko muskuloskeletal pada pekerja kantor SIMPULAN Berdasarkan penelitian dengan 54 responden di PT. Bank Negara Indonesia (Perser. Tbk Kantor Cabang Singkawang, diketahui mayoritas responden berusia di bawah 35 tahun . ,7%), dengan 57,4% berjenis kelamin perempuan. Sebanyak 53,7% responden mengalami postur kerja Page 7 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 dengan risiko sedang, yang berkorelasi dengan keluhan muskuloskeletal, di mana 53,7% mengeluhkan rasa sakit dan 31,5% mengalami sakit yang sangat parah. Uji chisquare menunjukkan hubungan signifikan antara ergonomi kerja dan keluhan muskuloskeletal dengan nilai p 0,012 . < 0,. DAFTAR PUSTAKA