ISSN 2654-5926 Buletin Profesi Insinyur 5. 072Ae075 http://dx. org/10. 20527/bpi. Kualitas Air Sungai di Kabupaten Banjar Dikaji dari Parameter Total Coli untuk Keperluan Higiene Sanitasi Tien Zubaidah1 Sulaiman Hamzani1 Arifin1 1 Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Banjarmasin. Banjarmasin. Indonesia AAtien. zubaidah@gmail. Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi lingkungan secara biologis adalah keberadaan bakter coliform. Penelitian ini difokuskan pada investigasi penanda biologis keberadaan bakteri coliform di Sungai Martapura di Kabupaten Banjar. Pengambilan sampel air dilakukan di delapan titik pengukuran di aliran hulu sungai yang berada di Kabupaten Banjar. Pengambilan sampel air dilakukan berdasarkan SNI 6989. 57 2008 pada bulan Mei 2022. Sampel diuji di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru menggunakan standar SNI ISO 9308-1:2010. Data hasil uji laboratorium yang didapat, kemudian, dibandingkan dengan kadar mutu yang ditetapkan pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 dimana disyaratkan kandungan coli maksimal adalah 50 CFU/100ml. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kandungan total colifom pada delapan titik pengamatan pada sungai di Kabupaten Banjar. Kalimantan Selatan berkisar antara 5050 hingga 52833. 335 CFU/100mL. Ini berarti keseluruhan nilai total coliform di lokasi penelitian tidak memenuhi baku mutu kelas I yang Kata kunci: Bakteri coliform. higiene sanitasi. standar baku mutu air. Sungai Kabupaten Banjar. Diajukan: 12 Juli 2022 Direvisi: 29 Agustus 2022 Diterima: 10 Oktober 2022 Dipublikasikan online: 11 Oktober 2022 Pendahuluan Dampak buangan penggunaan lahan disekitar aliran sungai sangat mempengaruhi perubahan kondisi kualitas air (Adrianto 2. Perubahan tersebut mengakibatkan parameterAeparameter kualitas air sungai terdampak baik secara alami ataupun akibat adanya aktifitas manusia (Asdak, 2. Selain itu, pertambahan jumlah penduduk yang tinggal disekitar bertambahnya aktivitas atau kegiatan masyarakat. Salah satunya adalah subAdaerah aliran sungai (DAS) Martapura yang mungkin mengalami permasalah akibat timbulnya kondisi di atas. Sungai ini mengalir dari hulunya yang berada di Kota Martapura. Kabupaten Banjar, sampai muara di Kota Banjarmasin dan dengan panjang total mencapai 80 km. Kondisi tersebut terjadi akibat masuknya limbah dari aktifitas masyarakat ke badan air. Limbah, yang masuk ke badan air yang dihasilkan dari kegiatan masyarakat khususnya yang langsung beraktivitas di bantaran sungai tersebut seperti kegiatan industri dan kegiatan rumah tangga berupa mandi cuci kakus (MCK), telah memberi sumbangan pada penurunan kualitas air di Sub-DAS Martapura (Ingerson-Mahar and Reid, 2. Data Direktorat Pengendalian Pencemaran Air pun menunjukkan bahwa kontribusi limbah terbesar yaitu berkisar 58,31 persen hingga 94,16 persen berasal dari limbah domestik (KLH dan Kehutanan, 2. Besarnya kontribusi limbah domestik ini akibat dari buruknya pola sanitasi, budaya, dan perilaku masyarakat khususnya masyarakat tepi sungai di Kota Banjarmasin (Madjid and Saputri 2. Pemulihan secara alami menjadi sulit terjadi akibat penambahan sampah/limbah domestik akibat aktivitas pemukiman dalam jangka waktu lama dan terus menerus. Salah satu pencemaran yang secara tidak langsung akibat adanya pemukiman adalah pencemaran bakteri bibit penyakit seperti Escherichia Coli (E. Col. Kotoran manusia adalah salah satu sumber dari bakteri ini. Selama ini, beberapa mikroba dapat menjadi indikator terjadinya pencemaran lingkungan khususnya diperairan salah satunya adalah keberadaan bakteri coliform yang tumbuh dan berkembang dalam jumlah Bakteri ini merupakan parameter mikrobiologi atau biasa disebut sebagai bioindikator awal terganggunay peraian sebagai akibat pembuangan limbah domestik. Keberadaan bakteri coliform di badan air sungai menarik untuk dilakukan penelitian karena aktivitas masyarakat di sepanjang bantaran hulu Sungai Martapura yang berada di Kabupaten Banjar ini memiliki keunikan tersendiri. Sebagian masyarakatnya khususnya yang tinggal disekitar sungai masih memiliki kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) terutama ke sungai. Di pinggir sungai masih ditemukan banyak jamban-jamban terapung di mana umumnya Cara mensitasi artikel ini: Zubaidah. Hamzani. Arifin . Kualitas Air Sungai di Kabupaten Banjar Dikaji dari Parameter Total Coli untuk Keperluan Higiene Sanitasi. Buletin Profesi Insinyur 5. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license BPI, 2022 | 72 ISSN 2654-5926 Buletin Profesi Insinyur 5. 072Ae075 http://dx. org/10. 20527/bpi. satu buah jamban dapat digunakan bersama oleh 1A10 kepala keluarga (Murphy et al. Disamping kotoran manusia, bakteri coliform juga dihasilkan dari kotoran hewan. Selain sebagai indikator polusi, coliform juga diketegorikan sebagai bakteri penanda salinitas yang tidak baik bagi perairan. Bakteri ini dapat menyebabkan sistem pencernaan manusia terganggu dan termasuk dari golongan coliform yang memiliki toksik sehingga bakteri ini juga digunakan sebagai penanda mutu bahan makanan (Zubaidah. Karnaningroem, and Slamet, 2. PenyakitApenyakit seperti diare, pneumonia, penyakit pernapasan, infeksi saluran kemih, dan penyakit lainnya dapat ditimbulkan oleh bakter E. sebagai akibat turunnya kualitas biologi pada perairan Menurut Ingerson dan Reid . dan (Normasari, 2. , infeksi terjadi menuju ke darah, hati, dan sistem saraf sehingga menyebar dalam tubuh Untuk itu perlu dilakukan investigasi jumlah kandungan bakteri E. coli di Sungai Martapura di Kabupaten Banjar secara berkesinambungan. Penelitian ini difokuskan pada analisis kualitas sungai di Kabupaten Banjar ditinjau dari salah satu parameter biologis yaitu total coliform untuk keperluan higiene sanitasi. Metode Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu survei lapangan dan investigasi laboratorium. Teknik pengambilan sampel. Sampel air diambil di delapan titik pengukuran di sepanjang aliran dari hulu sungai yang berada di Kabupaten Banjar seperti terlihat pada Gambar 1. Panjang aliran sungai Martapura yang diambil sampelnya adalah 29,53 kilometer. TitikAtitik pengambilan sampel ini ditentukan berdasarkan potensi asal mula kontaminasi mulai dari hulu sampai ke hilir sungai. Pengambilan sampel air dilakukan berdasarkan SNI 6989. Pengambilan dilakukan pada bulan Mei 2022. Pada penelitian ini ditetapkan bahwa kriteria daerah pengambilan sampel adalah daerah yang padat penduduknya dan adanya kegiatan perikanan. Pengambilan sampel dilaksanakan dari pagi sampai sore hari dari jam 08. 00A14. 00 WITA. Penentuan waktu ini berdasarkan pertimbangan pemakaian air bersih untuk kegiatan domestik yang menghasilkan air limbah. Pemeriksaan sampel air dilakukan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru. Analisis dilakukan berdasarkan SNI ISO 9308-1:2010. Setelah selesai analisis, hasil sampel yang diuji di laboratorium dibandingkan dengan nilai standar yang ditentukan pada Permenkes RI No. Tahun 2017 yang mengatur tentang ketentuan standar baku mutu kesehatan air dan lingkungan untuk kebutuhan higiene sanitasi termasuk untuk kolam renang dan pemandian umum. Hasil Kerja Kualitas Mikrobiologi Air Sungai Tabel 1 memperlihatkan hasil pengukuran bekteri dalam satuan colony forming units . Hasil pengukuran terkecil terlihat pada Lokasi 1 yaitu 5050 CFU/100ml, dan yang terbesar adalah 52833,335 CFU/100ml. Sedangkan, kualitas air sungai di Kabupaten Banjar berdasarkan parameter total coli dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil pada Tabel 1, semua nilai total coliform yang dikandung air dari delapan titik penelitian tidak memenuhi baku mutu kelas I yang disyaratkan yaitu total coliform maksimal sebesar 50 CFU/100 ml. Akibatnya, air sungai ini tidak layak sebagai sumber air baku air minum. Pemanfaatan air yang mengandung Gambar 1 TitikATitik Pengambilan Sampel Air Sungai di Kabupaten Banjar BPI, 2022 | 73 ISSN 2654-5926 Buletin Profesi Insinyur 5. 072Ae075 http://dx. org/10. 20527/bpi. bibit penyakit dalam hal ini bakteri yang tidak memenuhi ketentuan untuk kebutuhan higiene sanitasi dapat mengakibatkan timbulnya penyakit apalagi air yang dikonsumsi adalah air tercemar oleh buangan atau urin manusia dan hewan atau biasa disebut water borne disease (Osman and Higgins 2. Penularan bibit penyakit ini dapat terjadi ketika air yang tercemar digunakan untuk keperluan minum, persiapan bahan makanan, dan mencuci pakaian (Ouattara. Passerat, and Servais 2. Apalagi jika air yang digunakan tanpa melalui proses yang baik terlebih dahulu sehingga penyakit tersebut sangat rentanseharasdf. Karena kondisinya di alam, kedua air tanah dan air permukaan sangat mudah dan beresiko tercemar bakteri penyebab gastrointestinal illness (Patel 2. Tabel 1 Hasil Pengukuran Parameter Bakteri Total coli pada Air Sungai di Kabupaten Banjar Titik Hasil Nilai Potensi Lokasi Pengukuran Ambang Pencemar (CFU/100 Batas * Permukiman Permukiman. Permukiman. Permukiman, 7831,67 Permukiman, 19983,335 CFU/100 Permukiman, 17966,67 Permukiman, 14483,335 Permukiman, 52833,335 pasar, dan Perikanan *Permenkes No. 32 Tahun 2017 Bakteri coliform dapat digunakan sebagai penanda pencemaran karena dentitasnya berbanding lurus dengan tingkat pencemaran air. Sangat tingginya nilai total coliform di lokasi penelitian ini diperkirakan terjadi karena limbah langsung dibuang dari rumah tangga ke Selain itu, hasil observasi menunjukkan keberadaan jamban di atas sungai di Kabupaten Banjar dengan kondisi yang tidak memenuhi persyaratan jamban sehat juga menjadi faktor penyebab tingginya kandungan bakteri coliform. Permukiman padat penduduk dimana jarak pembuangan limbah rumah tangga dengan sumber air cenderung berdekatan menyebabkan terjadinya pencemaran bakteri coliform (UNICEF 2. Kegiatan lain yang terdapat di lokasi penelitian selain keberadaan permukiman, pasar tradisional dan . eramba mengakibatkan konsentrasi total coliform dalam air sungai meningkat (Rompas. Rotinsulu, and Polii 2019. Saputri and Efendy 2. Untuk keperluan higiene sanitasi yang kualitasnya berbeda dengan kualitas air minum, air ini digunakan untuk kebutuhan setiap dan untuk pemeliharaan kebersihan perorangan seperti kebersihan badan, serta untuk keperluan mencuci bahan makanan, peralatan masak dan pakaian (Machdar 2. Tabel 2 Analisis Uji Korelasi Total coliform dengan DO Air Sungai di Kabupaten Banjar Total Total Pearson coliform Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. ** Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Berdasarkan Tabel 2, korelasi total coliform dengan DO air sungai negatif, -. artinya dikatakan terdapat korelasi negatif apabila nilai parameter total coliform mengalami kenaikan maka nilai parameter DO air sungai mengalami penurunan. Keberadaan makhluk yang hidup air maupun manusia dan komunitas perairan seperti ikan, tanaman air, bakteri, zooplankton dan sebagainya sangat dipengaruhi oleh mutu airnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi mutu air tersebut seperti keberadaan materi terlarut, material yang tersuspensi dan makhluk hidup di dalam air. Pencemaran baik dari sifat fisik, kimia, dan biologi akibat dari kegiatan manusia dapat menunjukkan kualitas air di suatu badan air (Tafangenyasha and Dzinomwa 2. Spesifikasi limbah yang dilihat dari jumlah kandungan material pencemar di dalam limbah ditunjukkan dari banyak limbah yang dibuang ke badan air. Jika jumlah tolak ukur pencemar rendah dan memiliki kandungan yang kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan, sehingga parameter-parameter lingkungan dapat menggambarkan besarnya kejadian pencemaran disuatu lokasi (Yogafanny 2. Pada penelitian ini, tingginya jumlah bakteri coliform pada titikAtitik pengambilan sampel di sepanjang aliran sungai Martapura menunjukan buruknya kualitas perairan Kesimpulan Kandungan total colifom pada delapan titik pengamatan pada sungai di Kabupaten Banjar. Kalimantan Selatan berkisar antara 5050 hingga 335 CFU/100mL. Ini berarti keseluruhan nilai total coliform di lokasi penelitian tidak memenuhi baku mutu kelas I, yang mensyaratkan nilai total coliform sebesar 50 CFU/100 ml sehingga tidak layak digunakan untuk keperluan higiene sanitasi. Terdapat korelasi negatif apabila nilai parameter total coliform mengalami kenaikan maka nilai parameter DO air sungai mengalami penurunan. BPI, 2022 | 74 Buletin Profesi Insinyur 5. 072Ae075 http://dx. org/10. 20527/bpi. Ucapan Terimakasih Terimakasih kami ucapkan kepada Poltekkes Kemenkes Banjarmasin atas dukunganya hingga penelitian ini dapat dilaksanakan. Referensi