Al-Insyirah Midwifery Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science. https://jurnal. id/kebidanan Volume 13. Nomor 2. Tahun 2024 p-ISSN: 2338-2139 e-ISSN: 2622-3457 HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PERSEPSI PEMILIHAN KONTRASEPSI INTRA UTERI DEVISE (IUD) PADA AKSEPTOR KB IUD DI UPT. PUSKESMAS KARANGPANDAN Lilis Purwati. Wijayanti. , dan Tresia Umarianti. Kebidanan Program Sarjana/Ilmu Kesehatan,Universitas Kusuma Husada Surakarta. Indonesia *email: lilispurwatiagus@gmail. ABSTRAK Pendidikan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan, karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rasional dalam mengambil keputusan. Hal ini juga akan berlaku pada pengambilan keputisan dalam memilih kontrasepsi yang akan sesuai, tepat dan efektif. Sehingga diharapkan dengan pendidikan mampu meningkatkan persepsi dan perilaku seseorang untuk terhadap pola hidup, terutama dalam memotivasi menggunakan alat kontrasepsi yang membantu berperan dalam mewujudkan gerakan keluarga berencana. Dalam Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah akseptor KB IUD sebanyak 1. 657 akseptor. Dengan Teknik sampling yang akan digunakan adalah teknik Porpusive Sampling. Jumlah sampel adalah 10% dari 1. akseptor yaitu 170 akseptor. Instrumen yang digunakan yaitu Kuisioner tentang persepsi pemilihan jenis kontrasepsi IUD. Hasil uji statistic Chi Square mendapatkan nilai Ayymp. Sig. 0,000 < 0,05, artimya Ha diterima dan Ho ditolak, sehingga terdapat hubungan tingkat pendidikan dengan persepsi pemilihan kontrasepsi KB IUD di UPT Puskesmas Karangpandan. Kata Kunci : Pendidikan. Persepsi. IUD ABSTRACT Education will influence a person's attitude in making decisions because the higher the level of education, the more rational they will be in making decisions, this will also apply in decision making to choose an appropriate, precise and effective contraceptive method. So, with education, it is hoped that it will be able to improve a person's perception and behavior regarding lifestyle, especially in motivating them to use contraception to help participate in realizing the family planning movement. This research uses quantitative research methods with a cross-sectional The population in this study was 1,657 IUD acceptors. The sampling technique that will be used is the Purposive Sampling technique. The sample size was 10% of 1,657 acceptors, totaling 170 acceptors. The instrument used was a questionnaire of perceptions of choosing the type of IUD contraception. The Chi Square statistical test results the Asymp value. Sig. -side. 000 < 0. 05, meaning that Ha is accepted, and Ho is rejected, so there is a relationship between education level and the perception of IUD contraceptive choice among IUD contraceptive acceptors at Community Health Centers of Karangpandan Keyword: Educational. Perception. IUD 105 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 PENDAHULUAN Menurut BKKBN Pelaksanaan pelayanan KB merupakan salah satu strategi yang diharapkan penurunan Angka Kematian Ibu, dengan cara : mengatur waktu, jarak dan jumlah mencegah atau memperkecil kemungkinan seorang perempuan hamil persalinan dan nifas. mencegah atau memperkecil terjadinya kematian pada seorang perempuan yang mengalami komplikasi selama kehamilan, persalinan dan nifas. Berdasarkan data dari Seksi Kesga dan Gizi Provinsi Jawa tengah. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Jawa Tengah pada tahun 2022 sebanyak 024 pasang. Sebesar 68,6 % PUS merupakan Akseptor KB aktif dengan metode KB modern dengan rincian sebagai berikut: KB suntik 3 bulan sebanyak 61,88% akseptor. IUD sebanyak 8,41% akseptor, implant sebanyak 12,21% akseptor, kondom sebanyak 3,52% akseptor, pil sebanyak 9,33% akseptor. MOW sebanyak 4,30% akseptor dan MOP sebanyak 0,33% Berdasarkan data terseut, menunjukkan bahwa sebagian besar Akseptor KB Aktif menggunakan KB suntik sebesar 61,88 %, dimana peserta KB lebih memilih metode kontrasepsi jangka pendek, terjadi penurunan peserta KB IUD pada tahun 2022 hanya sebesar 8,41% dibanding pada tahun 2021 sebanyak 9,31%. Akseptor KB aktif merupakan peserta KB yang memakai kehamilan atau mengakhiri kesuburan. Cakupan peserta KB aktif Provinsi Jawa Tengah tahun 2022 menurun 1,8 persen dibandingkan pencapaian tahun 2021 yang sebesar 70,4 persen (Dinkes Jateng. Berdasarkan data dari Seksi Kesga dan Gizi Kabupaten Karanganyar. Pasangan Usia Subur (PUS) 4T pada KB aktif di Kabupaten Karanganyar Tahun 2022 sebesar 1. 643 atau 2,9 % dari 130 PUS 4T. Jumlah KB Aktif tahun 2022 sebanyak 115. 903 akseptor. Peserta KB aktif metode modern dengan rincian sebagai berikut: KB suntik 3 bulan 242 orang. IUD sebanyak 401 orang, implant sebanyak 9. orang, kondom sebanyak 7. 702 orang, pil 473 orang. MOW sebanyak 235 orang dan MOP sebanyak 640 Dari data tersebut didaparkan bahwa penggunaan alat kontrasepsi hormonal . il, suntik dan implan. 925 akseptor lebih tinggi dari pada alat kontrasepsi non hormonal (IUD dan MOW) sebesar 32. 972 akseptor (Dinkes Karanganyar, 2. Berdasarkan data pelayanan KB di Puskesmas Karangpandan pada Tahun 2023 jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) periode Januari - Desember 2023 927 orang, dengan rincian sebagai berikut: suntik 3 bulan sebanyak 887 akseptor. IUD sebanyak 1. akseptor, implant sebanyak 523 akseptor, kondom sebanyak 159 akseptor, pil sebanyak 259 akseptor. MOW sebanyak 431 akseptor dan MOP sebanyak 35 Dari data tersebut, diketahui bahwa akseptor KB IUD mempunyai beragam jenjang pendidikan yang berbeda-beda terdiri atas SD. SMP. SMA. Diploma dan Sarjana. Pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang handal. Rendahnya kualitas pendidikan menjadi salh satu penyebab dari krisisnya sumber daya manusia. Jenjang pendidikan merupakan tahapan dalam pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. 106 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Jenis-jenis jenjang pendidikan antara lain jenjang pendidikan usia dini, jenjang pendidikan dasar, jenjang pendidikan menengah, jenjang pendidikan tinggi menurut (Mukaffan, 2. Pendidikan dapat mempengaruhi sikap seseorang dalam pengambilan keputusan, karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rasional untuk pengambilan keputusan, hal ini juga akan berlaku dalam pengambilan keputusan untuk memilih metode kontrasepsi yang sesuai, tepat dan efektif. Sehingga dengan adanya pendidikan diharapkan mampu untuk meningkatkan persepsi serta perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi dalam menggunakan alat kontrasepsi untuk serta dalam mewujudkan gerakan keluarga berencana (Natalia, 2. Persepsi beasak dari bahasa Latin yaitu perception, percipio. Persepti adalah peristiwa menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna yang dapat memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan. Persepsi epistemologi, teori pengetahuan. Pada akar, semua pengetahuan empiris kita didasarkan pada bagaimana kita melihat, mendengar, menyentuh, bau dan rasa dunia di sekitar kita (Alizamar, 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di UPT Puskesmas Karangpandan Kabupaten Karanganyar wawancara terhadap 5 akseptor KB IUD diperoleh fakta bahwa 4 diantara akseptor KB IUD tersebut berpendapat bahwa selama pemakaian KB IUD merasa puas, karena tidak mengganggu siklus menstruari dan nyaman digunakan sedangkan 1 akseptor berpendapat bahwa pada saat awal pemasangan KB IUD mengalami keputihan yang banyak dan merasa sedikit tidak nyaman pada perut. Dari 5 akseptor KB IUD, 3 akseptor berpendidikan SMA/ sederajat dan 2 akseptor berpendidikan SMP/sederajat Dari uraian diatas, maka peneliti AuHubungan tingkat pendidikan dengan persepsi pemilihan jenis kontrasepsi Intra Uterin Device (IUD) pada Akseptor KB IUD di UPT Puskesmas KarangpandanAy. METODE Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah akseptor KB IUD sebanyak 1. 657 akseptor dengan menggunakan data KB Aktif yang berada di wilayah binaan UPT Puskesmas Karangpandan tahun 2023. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2023 Ae Maret 2024. Jumlah sampel adalah 10% 657 akseptor yaitu 170 akseptor dengan teknik Purposive Sampling. Dengan kriteria inklusi adalah akseptor KB IUD dan kriteria ekslusi adalah bukan akseptor KB IUD, memiliki riwayat Instrumen yang digunakan adalah Kuesioner tentang persepsi pemilihan alat kontrasepsi IUD. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan persentase dan analisis bivariat menggunakan uji Chi Square. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah akseptor aktif KB IUD yang berada di 11 desa binaan Puskesmas Karangpandan. Sesuai dengan hasil penelitian diperoleh data karakteristik sebagai berikut : 107 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel Usia <20 tahun 20-35 tahun >35 tahun Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Jumlah Anak Primipara Multipara Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Lama KB <2 tahun >2 tahun Penggunaan KB Pertama Kali Pakai Pernah Pakai Berhenti bersalin/keguguran Jumlah Tabel 2 Tingkat Pendidikan Responden Tingkat Pendidikan SMP SMA Jumlah Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa Pendidikan terakhir responden mayoritas adalah tamatan SMA yaitu sebanyak 67 responden . ,4%) dan paling sedikit lulusan SD yaitu sebanyak 22 responden . ,9%). Pada tabel 1 diketahui bahwa responden mayoritas berusia 20-35 tahun sebanyak 109 responden . ,1%) dan terdapat responden yang berusia dibawah 20 tahun yaitu 5 responden . ,9%). Kebanyakan responden adalah multipara atau sudah memiliki anak lebih dari satu yaitu sejumlah 118 responden . ,4%) dan yang baru memiliki satu anak atau primipara sebanyak 52 . ,6%). Mayoritas responden adalah pekerja yaitu sebanyak 110 responden . ,7%) dan yang tidak bekerja sebanyak 60 responden . ,3%). Berdasarkan tabel 1 paling banyak responden memakai KB IUD lebih dari 2 tahun yaitu sebanyak 89 responden . ,4%) dan yang kurang dari 2 tahun ada 81 responden . ,6%). Mayoritas responden baru pertama kali pemakaian KB yaitu sebanyak 70 responden . ,2%), sedangkan yang sudah pernah memakai KB ada 46 respondenn . ,1%) dan yang berhenti memakai KB setelah melahirkan/keguguran ada 54 responden . ,8%). Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi tentang KB Tabel 3 Persepsi Responden terhadap KB IUD Variabel Negatif Positi Jumlah Berdasarkan tabel 2 dapat responden memiliki persepsi yang positif terhadap KB IUD yaitu sebanyak 118 responden . ,4%), sedangkan yang memiliki persepsi negative terhadap KB IUD sejumlah 52 responden . ,6%). Hubungan Tingkat Pendidikan Persepsi Pemilihan Kontrasepsi Intra Uteri Devise (IUD) pada Akseptor KB IUD Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik Chi Square menggunakan SPSS versi 26. Karakteristik Responden Berdasarkann Tingkat Pendidikan 108 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Tabel 4 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Persepsi Pemilihan Kontrasepsi IUD pada Akseptor KB IUD Persepsi Pendidikan Negative Positif Total % P N % N 18 10,6 4 2,4 22 12,9 SMP 22 12,9 8 4,7 30 17,6 SMA 12 7,1 55 32,4 67 39,4 0,000 0 0 23 13,5 23 13,5 0 0 28 16,5 28 16,5 Total 52 30,6 118 69,4 170 100 Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat untuk yang berpendidikan SD dan SMP paling banyak memiliki persepsi yang negative yaitu 18 responden . ,6%) dan . ,9%) berpendidikan SMP. Paling banyak yang berpendidikan SMA memiliki persepsi yang positif yaitu 55 responden . ,4%). Responden Pendidikan D3 semua memiliki persepsi yang positif yaitu 23 responden . ,5%) dan yang berpendidikan S1 juga sama semua memiliki persepsi yang positif terhadap pemilihan kontrasepsi IUD yaitu 28 responden . ,5%). Berdasarkan tabel 3 diatas nilai Asymp Sig . -side. 0,000 < 0,05, yang artinya Ha diterima dan Ho ditolak, dan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan tingkat pendidikan dengan persepsi pemilihan kontrasepsi IUD pada akseptor KB IUD di UPT Puskesmas Karangpandan. Tingkat Pendidikan Arikunto . , dikategorikan menjadi pendidikan terakhirnya antara SD-SMP, sedangkan tingkat pendidikan tinggi apabila pendidikan terakhirnya adalah SMA-perguruan Menurut penelitian Yani Veronica et al. , . semakin tinggi tingkat pendidikan maka pengambilan keputusan dan tindakan mempengaruhi individu dalam hal pengetahuan serta keluarga berencana. Pendidikan menetapkan pengetahuan serta pendapat individu pada pentingnya suatu hal, diantaranya keikutsertaan dalam ber-KB, tetapi pendidikan rendah tidak menjadi jaminan atas tindakan seseorang termasuk penggunaan alat kontrasepsi IUD dan pendidikan yang tinggi tidak selalu menentukan seseorang dalam selalu penggunaan kontrasepsi IUD Rohaeni & Iis Iis . Selain dari Pendidikan formal. Wanita usia subur Pendidikan Pendidikan formal seperti adanya penyuluhan disekitar daerah tempat tinggal, dari puskesmas atau Lembagalembaga lainya serta pengaruh media massa dalam pembentukan opini dan kepercayaan sehingga merupakan bentuk mengarahkan opini seseorang. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktarina . dengan judul AuHubungan Pendidikan dan Pengetahuan Ibu terhadap Pemilihan Kontrasepsi IUD (Intra Uterin Devic. Ay menunjukan hasil bahwa dari 46 responden didapatkan 26 . ,5%) responden yang memilih alat kontrasepsi IUD dan 20 . ,5%) responden yng tidk memilih alat kontrasepsi IUD. Dari 32 responden didapatkan responden yang memilih alat kontrasepsi IUD pada pendidikan tinggi terdapat 24 responden . ,2%) dan 8 . ,4%) responden yang tidak memilih alat kontrasepsi IUD dan responden yang memilih alat kontrasepsi IUD pada pendidikan rendah terdapat 2 . ,3%) responden dan 12 . ,1%) responden yang tidak memilih alat kontrasepsi IUD. Berdasarkan hasil analisa bivariat dengan uji statistik mengunakan Chi-Square didapatkan hasil p value = 0,000 . < 0,. berarti hipotesis menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara 109 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Pendidikan Ibu dengan Pemilihan Kontrasepsi IUD terbukti. Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian dari Natalia . dengan judul AuHubungan Tingkat Pendidikan PUS dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi di Desa KarangbongAy menunjukan hasil bahwa dari 220 responden sebagian besar responden memilih menggunakan KB suntik sebanyak 156 orang . ,9%) dan sebagian responden tersebut mempunyai latar belakang tingkat pendidikan SLTP sebanyak 92 orang . ,0%). Hasil uji statistik diperoleh nilai P-value 0,001 sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan tingkat pendidikan Pasangan Usia Subur dengan pemilihan alat SIMPULAN Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan persepsi akseptor KB IUD di UPT Puskesmas Karangpandan. DAFTAR PUSTAKA