Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 PERBEDAAN DISTRAKSI MENGGUNAKAN FILM KARTUN DAN MUSIK TERHADAP KECEMASAN PASIEN PENCABUTAN INFILTRASI THE DIFFERENCE OF DISTRACTION USING CARTOON FILM AND MUSIC ON THE ANXIETY OF INFILTRATION REMOVAL PATIENTS Anisa Dwi Lestari1. Denden Ridwan Chaerudin2. Nining Ningrum3. Sri Mulyanti4 1,2,3,4 Jurusan Kesehatan Gigi. Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung. Indonesia Email korespondensi: ansadwi1001@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Pencabutan gigi adalah tindakan mengeluarkan gigi dari soketnya yang dapat meningkatkan kecemasan, dikarenakan penggunaan alat tajam seperti jarum suntik. Kecemasan terhadap perawatan gigi dapat menghambat proses perawatan gigi. Penanganan kecemasan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan metode distraksi film kartun dan musik. Diketahuinya perbedaan distraksi menggunakan film kartun dan musik terhadap kecemasan anak usia 7 hingga 10 tahun pada pasien pencabutan dengan infiltrasi di RSKGM Bandung merupakan tujuan dari penelitian ini. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan metode quasi eksperimental. Metode purposive sampling digunakan untuk memilih sampel dengan kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 34 Pengumpulan data diperoleh dari pengukuran denyut nadi sebelum dan setelah diberikan tindakan pencabutan dengan infiltrasi antara kelompok yang diberi distraksi film kartun dan musik. Hasil: Pasien yang diberi distraksi film kartun sebagian besar berada pada kategori menurun . ,2%), dengan rata-rata denyut nadi 110,35 menurun hingga 96,65. Sedangkan pasien yang diberi distraksi musik sebagian besar pada kategori normal . ,6%), dengan rata rata denyut nadi 109,59 . dan 107,18 . Hasil uji T Test Independent memperlihatkan nilai p-value sebesar 0,002. Kesimpulan: Adanya perbedaan yang bermakna antara distraksi menggunakan film kartun dan musik terhadap kecemasan anak usia 7 hingga 10 tahun pada pasien pencabutan dengan infiltrasi di RSKGM Bandung . < 0,. Kata kunci : Kecemasan, distraksi, film kartun, musik ABSTRACT Background : Tooth extraction is the act of removing a tooth from its socket which can increase anxiety, due to the use of sharp instruments such as needles. Anxiety towards dental treatment can hinder the dental treatment process. Handling anxiety can be overcome by using cartoon and music distraction Knowing the difference in distraction using cartoon movies and music on children's anxiety aged 7 to 10 years in extraction patients with infiltration at RSKGM Bandung is the purpose of this Methods : This type of research is experimental with quasi-experimental method. The purposive sampling method was used to select samples with inclusion and exclusion criteria, totaling 34 children. Data collection was obtained from measuring the pulse rate before and after being given the action of retraction with infiltration between groups given cartoon movie distraction and music. Results : Patients who were given cartoon movie distraction were mostly in the decreased category . 2%), with an average pulse rate of 110. 35 decreasing to 96. While patients who were given music distraction were mostly in the normal category . 6%), with an average pulse rate of 109. The Independent T Test results showed a p-value of 0. Conclusion : There is a significant difference between distraction using cartoon movies and music on children's anxiety aged 7 to 10 years in patients with infiltration extraction at Bandung Dental Hospital . < 0. Keywords : Anxiety, distraction, cartoons, music Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 PENDAHULUAN Kecemasan seseorang terhadap suatu keadaan yang dianggap sebagai sumber bahaya atau ancaman dan sifatnya tidak pasti. 1 Kecemasan yang berkaitan dengan perawatan gigi disebut dengan dental anxiety. 2 Dental anxiety menjadi salah satu alasan seseorang tidak pergi ke dokter gigi untuk berobat. Hal ini terlihat dari data Riskesdas tahun 2018 yang menunjukkan prevalensi masalah gigi dan mulut sebesar 67,3% pada rentan usia 5-9 tahun dan 55,6% pada rentan usia 10-14 tahun. Sedangkan persentase yang mendapat tindakan perawatan gigi adalah 14,6% pada rentan usia 5-9 tahun dan 9,4% pada rentan usia 10-14 tahun. Tindakan perawatan gigi adalah berbagai prosedur dan praktik yang dilakukan demi memelihara dan menjaga kesehatan gigi. Salah satu prosedur tindakan perawatan gigi mengeluarkan gigi dari soketnya di bawah anestesi oleh karena suatu indikasi medis yang merupakan definisi dari tindakan pencabutan 4 Tindakan pencabutan gigi merupakan tindakan yang dapat menyebabkan tingkat dikarenakan penggunaan alat tajam seperti jarum suntik, tang dan bein. Hasil Riskesdas . dalam Anisyah . memperlihatkan bahwa anak yang menerima perawatan pencabutan gigi pada kelompok usia 7-10 tahun merasa cemas atau takut terhadap perawatan pencabutan gigi dengan anestesi lokal. 1 Salah satu dari teknik anestesi lokal yang pemberiannya dengan cara disuntik adalah anestesi infiltrasi. Hasil peneliatan Rafdi . menyimpulkan bahwa yang paling berpengaruh besar terhadap kecemasan anak adalah infiltrasi . nestesi dengan penyuntika. , ditemukan bahwa anak usia 7-13 tahun memiliki persentase kecemasan tertinggi yaitu sebesar 55,8% apabila gusinya Kecemasan terhadap perawatan gigi pada anak dapat menyebabkan sikap tidak kooperatif sehingga membuat proses perawatan Penanganan kecemasan tersebut dapat diatasi dengan cara terapi non-farmakologis, yaitu menggunakan metode distraksi audiovisual . ilm kartu. dan distraksi audio . 8, 1, 9. Penelitian Retnani dkk. menyatakan adanya perbedaan tingkat kecemasan anak sebelum dan sesudah diberi intervensi video kartun . value = 0,. , dan nilai rata-rata tingkat kecemasan anak sebelum operasi mengalami penurunan sebesar 4,20. Kemudian terdapat hasil penelitian Rahmawati . yang mengemukakan bahwa tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah dapat menurun setelah diberi terapi musik yang berjudul baby shark. Musik baby shark adalah lagu anak-anak yang menceritakan mengenai keluarga hiu. Lagu tersebut memiliki lirik sederhana sehingga dapat mudah diingat bagi Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian Retnani dkk. yaitu pemilihan judul film kartun, pengukuran kecemasan, sampel yang berbeda, serta tempat yang berbeda. Dalam penelitian Retnani dkk. menggunakan beberapa pilihan film kartun diantaranya Marsha and The Bear. Tayo The Little Bus dan Bobo Boy dengan pengukuran kecemasan menggunakan kuesioner HARS. Sementara itu, penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan berbagai pilihan film kartun diantaranya Upin Ipin. Frozen, dan Doraemon dengan menggunakan pengukuran denyut nadi sebagai pengkuran Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian Rahmawati E. yaitu pemilihan musik, pengukuran kecemasan, sampel yang berbeda, tempat yang Pada penelitian Rahmawati E. menggunakan musik baby shark. Sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan beberapa pilihan judul musik diantaranya yaitu pemandangan, cemara, dan kereta apiku. Pengukuran kecemasan pada penelitian Rahmawati E. menggunakan kuesioner Spance Children Anxiety Scale (SCAC), sementara pada penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan denyut nadi. Dari hasil peninjauan awal, sebagian besar pasien pencabutan gigi sulung dengan infiltrasi di RSKGM Bandung mengalami masalah kecemasan, dimana 8 dari 10 anak mengalami peningkatan kecepatan denyut nadi, marah dan menangis. Untuk mengatasi kecemasan, tenaga medis di RSKGM Bandung baru menggunakan teknik komunikasi terapeutik saja. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen dengan metode kuasi eksperimen dan desain kelompok kontrol non randomized pre-and post-test. Penelitian dilakukan di RSKGM Bandung. Populasi penelitian ini yaitu pasien pencabutan gigi anak dengan infiltrasi yang berkunjung di RSKGM Bandung . ata-rata A50 pasien perbulanny. Sampel penelitian ini sebanyak 34 anak. Partisipan penelitian dipilah secara purposive berdasarkan kriteria inklusi, yaitu anak usia 7 hingga 10 tahun yang menjalani pencabutan gigi dengan menggunakan anestesi infiltrasi, anak yang tidak mengalami gangguan penglihatan maupun pendengaran, pasien anak yang mengalami kecemasan yang ditandai dengan peningkatan denyut nadi pada saat skrining . ebelum masuk pol. dan setelah duduk dikursi dental . ebelum tindakan Proses perolehan data melalui pengukuran denyut nadi. Denyut nadi menjadi suatu indikator untuk melihat adanya kecemasan pada anak yang mendapatkan tindakan pencabutan dengan infiltrasi di penelitian ini. Pengukuran denyut nadi dilakukan sebelum anak diberikan tindakan pencabutan dengan infiltrasi, kemudian memberikan intervensi distraksi film kartun . elompok perlakua. dan distraksi musik . elompok pencabutan dengan infiltrasi berlangsung, setelah tindakan pencabutan dengan infiltrasi selesai kemudian dilakukan pemeriksaan denyut nadi kembali. Hasil pengukuran denyut nadi dikategorikan ke beberapa kriteria yaitu menurun . erjadi penurunan >7x/meni. , normal . erubahan <7x/meni. , dan meningkat . erjadi peningkatan 7x/meni. 11 Instrumen penelitian ini yaitu, lembar pemeriksaan denyut nadi, alat tulis, masker, oxiemeter, handphone untuk memutar film kartun dan musik. Dalam meminta persetujuan kepada orang tua dari anak yang dijadikan sebagai sampel untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, peneliti akan memberikan beberapa informasi atau penjelasan yang bahasanya mudah dipahami. Setelah orang tua responden memahami dan bersedia maka dilanjutkan dengan pengisian informed consent. Penelitian ini telah dinyatakan layak secara etis dan telah memperoleh surat persetujuan No. 76/KEPK/EC/I/2024 dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Bandung. Tahapan pengolahan data yang dilalui yaitu penyuntingan . , pengkodean . , lalu memasukkan data . , pengecekan kembali data yang sudah di entry . , selanjutnya data dianalisis. 12 Pada tahap analisis data, sebelumnya perlu memeriksa normalitas sebaran data dengan melakukan uji normalitas terlebih dahulu. Pada penelitian ini memiliki besar sampel kurang dari 50 responden, maka akan menggunakan uji normalitas data Shapiro-Wilk. Jika sebaran data berdistribusi normal maka dapat dilanjutkan dengan menggunakan uji T Test Independen, akan tetapi apabila sebaran data tidak didapati berdistribusi normal selanjutnya pengujian menggunakan uji Mann-Whitney U. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Perubahan Denyut Nadi Anak Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Tindakan Pencabutan Gigi Dengan Infiltrasi Pada Kelompok Yang Diberi Distraksi No. Frekuensi Denyut Nadi Menurun Normal Meningkat Total Kelompok Yang Diberi Distraksi Film Kartun Frekuensi . Persentase (%) Tabel 1 memperlihatkan bahwa mayoritas pasien anak yang diberi distraksi menggunakan film kartun selama tindakan perawatan pencabutan dengan infiltrasi Kelompok Yang Diberi Distraksi Musik Frekuensi . Persentase (%) berlangsung mengalami penurunan denyut nadi, yaitu sebanyak 15 responden . ,2%). Selain itu, tabel 1 juga memperlihatkan bahwa mayoritas pasien anak yang diberi distraksi Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 perawatan pencabutan berlangsung mengalami perubahan denyut nadi normal, yaitu sebanyak 12 responden . ,6%). Tabel 2. Rata-rata denyut nadi anak sebelum dan sesudah diberikan intervensi pada kelompok yang diberi distraksi film kartun dan musik No. Distraksi Film Kartun Musik Rata-Rata Denyut Nadi Anak Sebelum Dilakukan Tindakan Sesudah Dilakukan Tindakan Pencabutan Dengan Infiltrasi Pencabutan Dengan Infiltrasi 110,35 96,65 109,59 107,18 Tabel 2 menunjukkan bahwa rata rata denyut nadi anak yang mengalami penurunan ialah pada anak-anak yang diberi intervensi distraksi menggunakan film kartun, saat sebelum diberikan intervensi rata rata denyut nadi 110,35 dan setelah diberikan intervensi 96,65. Tabel 3. Uji. T Test Independent Selisih denyut nadi pada saat sebelum dan pada saat setelah diberi distraksi menggunakan film kartun pada anak yang mendapatkan tindakan pencabutan dengan Selisih denyut nadi pada saat sebelum dan pada saat setelah diberi distraksi menggunakan musik pada anak yang mendapatkan tindakan pencabutan dengan Mean A Std. Deviation 13,71 A 9,70 Data pada penelitian ini berdistribusi normal sehingga dapat dilakukan pengujian T Test Independent. Tabel 3 menampilkan hasil uji T Test Independent sebesar 0,002 . ilai p < 0,. Artinya, adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara distraksi menggunakan film kartun dan musik dalam kaitannya dengan kecemasan pada anak usia 7 hingga 10 tahun pada pasien pencabutan dengan infiltrasi di RSKGM Bandung. Tabel 3 juga memperlihatkan bahwa nilai rata-rata pada selisih denyut nadi pada saat sebelum dan pada saat setelah diberi distraksi menggunakan film kartun pada anak yang mendapatkan tindakan pencabutan dengan infiltrasi sebesar 13,71 lebih besar daripada nilai rata-rata pada selisih denyut nadi sebelum dan setelah diberi distraksi musik yang hanya sebesar 2,41. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa distraksi menggunakan film kartun lebih Mean Difference (IK95%) 11,29 . ,49 Ae 18,. 0,002 2,41 A 9,75 pencabutan anak dibandingkan distraksi menggunakan musik. PEMBAHASAN Denyut nadi mengalami penurunan ketika dirangsang oleh saraf parasimpatis, terjadinya peningkatan denyut nadi. 13 Saraf parasimpatis dan saraf simpatis bekerja berlawanan arah. Saraf parasimpatis bertugas untuk mengontrol aktivitas yang terjadi pada saat tubuh tenang, dalam situasi ini denyut jantung mengalami penurunan setelah fase Sebaliknya, saraf simpatis lebih banyak bekerja saat tubuh memerlukan energi. Contohnya ketika kaget, khawatir, cemas atau berada dalam situasi gugup. Denyut jantung meningkat dalam situasi ini. Berdasarkan memperlihatkan bahwa sebagian besar pasien pencabutan dengan infiltrasi pada anak yang Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 diberi distraksi menggunakan film kartun selama tindakan pencabutan di RSKGM Bandung terdapat penurunan denyut nadi sebesar . ,2%). Sebelum intervensi, rata-rata denyut nadi anak sebesar 110,35 dan menjadi 96,65 setelah diberi intervensi . ada tabel . Hal tersebut dikarenakan anak sudah tidak fokus kepada tindakan perawatan gigi yang akan diterima tetapi sudah terfokuskan pada film kartun yang diputar selama tindakan Oleh karena itu, penurunan denyut nadi tersebut menandakan adanya penurunan kecemasan pada pasien anak pencabutan dengan infiltrasi. Mekanisme pengalihan perhatian . dapat menurunkan kecemasan dijelaskan oleh Melzack dan Wall . pada Teori Gate Control yang dikutip dalam Hapsari . Ketika stimulus somatosensori diterima, sinyal stimulus tersebut melalui serabut saraf besar dan dihalangi oleh penghalang sel untuk melalui pintu proyeksi sel, akibatnya pemikiran tentang kecemasan tidak terjadi. Sementara, ketika menerima stimulus yang membuat cemas . , sinyal stimulus melintas melalui serabut saraf kecil dan besar, membuat penghalang sel menjadi pasif sehingga pintu proyeksi sel di otak terbuka. Ada banyak hal yang membuka gerbang permukaan sel, termasuk rasa sakit, stres, cedera, dan depresi, dan hal-hal yang menutup gerbang tersebut termasuk pemberian obat dan gangguan. Mekanisme yang menjadi perhatian dalam teori ini adalah ketika suatu rangsangan yang dapat menyebakan kecemasan . diterima, maka sinyal rangsangan tersebut melintasi serabut saraf kecil dan besar sehingga mengakibatkan penghalang sel menjadi pasif dan pintu proyeksi sel terbuka. Distraksi atau pengalihan perhatian yang diberi akan membuat tertutupnya pintu yang terbuka, akibatnya rangsangan cemas menurun atau berkurang bahkan tidak mencapai otak. Sejalan dengan teori yang disampaikan oleh Melzack dan Wall tentang Gate Control yang didukung dengan penjelasan penelitian Rahayu dkk. , teknik distraksi audiovisual dapat mengatasi kecemasan dengan cara menekan rangsangan nyeri dan menghalangi impuls cemas ke otak dengan adanya masukan sensorik yang cukup atau Stimulasi menyenangkan merangsang pelepasan hormon endorfin . elepasan hormon bahagi. dan mengurangi kecemasan pada pasien. Ketika pengalihan perhatian tersebut dikirim ke otak yang secara perlahan dapat berpengaruh terhadap respon tubuh seperti menurunnya denyut nadi atau denyut nadi kembali kedalam batas normal dan tekanan darah menurun atau kembali normal. Mengalihkan fokus atau perhatian anak agar menjauhi rasa sakit ataupun nyeri dalam penjelasan pada penelitian Hardiyanti dkk. , dengan memperlihatkan film kartun dapat menyebabkan pasien fokus pada tontonan yang diberi, sehingga pasien tidak terpaku pada kecemasan yang sedang dihadapinya. Film upin ipin, doraemon dan frozen adalah contoh film kartun yang terkenal dan disukai berbagai kalangan usia dikarenakan dalam film tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi penontonnya. Karakter upin-ipin dengan Bahasa Melayu menjadi daya tarik dalam film tersebut. 18 Sedangkan pada film doraemon, terdapat alat-alat ajaib yang muncul dari kantong ajaib Doraemon yang menjadi sorotan utama pada film ini, dan kisah Doraemon benar-benar memikat serta nyaris tanpa cacat membuat penonton tampak menikmatinya dan tidak merasa bosan. Pada film Frozen didalamnya menjunjung tinggi prinsip-prinsip moral yang dapat ditanamkan pada anak-anak, sehingga film Frozen memiliki potensi untuk menjadi tontonan yang mendidik. Prinsip-prinsip moral yang digambarkan dalam film ini antara lain kemandirian, usaha keras, kreativitas, tanggung jawab, dan rasa ingin Penelitian Retnani dkk. bepengaruh terhadap turunnya tingkat kecemasan bagi anak. 10 Kemudian pada penelitian Fatmawati dkk. juga mengemukakan bahwa pemberian audiovisual dengan menonton film kartun berpengaruh saat prosedur injeksi kepada anak yang dapat dilihat dari penurunan tingkat kecemasan. 20 Selain itu, penelitian Anisyah dkk. , sejalan dengan penelitian ini yang memperlihatkan bahwa penggunaan distraksi film kartun membawa hasil baik untuk mengatasi kecemasan pada anak yang memiliki usia 7 hingga 10 tahun saat dilakukan anestesi infiltrasi. Hasil penelitian Hapsari . pun sejalan dengan penelitian ini, yaitu adanya perbedaan yang signifikan saat diberikan distraksi atau tidak. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari rata-rata selisih Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 denyut nadi anak pada saat sebelum dan setelah dilakukan perawatan gigi, dimana anak yang diberi pengalihan perhatian mendapati penurunan kecemasan sebanyak 10,00. Berdasarkan hasil tabel 1 juga memperlihatkan bahwa mayoritas pasien anak pencabutan dengan infiltrasi yang diberi pengalihan perhatian menggunakan musik selama tindakan pencabutan di RSKGM Bandung mengalami perubahan denyut nadi normal . ,6%), dengan rata-rata 109,59 saat sebelum diberikan distraksi musik dan 107,18 setelah diberikan distraksi musik . ada tabel . Hal ini dikarenakan kegemaran genre musik responden berbeda dengan pilihan lagu yang diberikan oleh peneliti, adanya distorsi . dari dilingkungan ruangan poli pedodontic yang berisikan banyak orang, sehingga musik tidak dapat terdengar dengan jelas oleh responden. Musik memiliki beragam genre. Genre musik adalah aliran-aliran musik. Secara sederhana genre musik dibagi menjadi dua jenis yaitu, modern . ontoh: klasik, pop, jaz. dan musik tradisional . ontoh: lagu daera. Musik dengan genre tertentu dan pada tiap individu akan menimbulkan akibat yang Pemilihan genre musik yang sesuai keinginan dan kesukaan pendengarnya dapat meningkatkan suasana hati. 21 Dalam penjelasan pada penelitian Yudha dkk. , . , gelombang suara yang dihasilkan oleh musik dapat meningkatkan respon, contohnya seperti meningkatkan endorfin . ormon penyebab rasa senan. dapat mempengaruhi suasana hati sehingga dapat menurunkan kecemasan. Faktor mempengaruhi keberhasilan teknik distraksi. Dalam diupayakan pada lingkungan atau suasana yang tenang bagi pasien agar suara musik dapat didengar dengan jelas. Hal tersebut dimaksudkan supaya pasien dapat meresapi irama ataupun lirik yang diputar untuk membantu pengalihan perhatian dari rasa cemas yang dialaminya. Pemutaran musik kepada pasien dapat menimbulkan efek pengalihan perhatian yang bisa menurunkan kepekaan individu terhadap keadaan sekitar, akibatnya perhatian individu tersebut beralih dari penglihatan ke Awal sumber stres yang dilihat pasien serta menimbulkan rasa cemas menjadi teralihkan, karena berkat mendengarkan musik sistem saraf yang berada ditelinga berkerja, sehingga menyebakan perubahan respon di dalam otak. Musik yang umum digunakan adalah musik klasik. Irama musik klasik yang lambat dan menenangkan dapat mengubah gelombang beta menjadi gelombang alfa, dimana keadaan yang tadinya tegang mejadi lebih tenang. Sebenarnya semua jenis musik dapat digunakan untuk media terapi, jenis musik yang dapat dipilih untuk anak-anak adalah musik lagu anak yang digemari karena musik yang digemari Lagu gembira serta mencerminkan moral yang luhur merupakan pengertian dari lagu anak-anak. Selain itu, biasanya anak-anak yang menyanyikan lagu tersebut dan liriknya memuat hal-hal sederhana seperti kebiasaan yang dilakukan anak sehari-hari. Beberapa kriteria lagu anak yang baik adalah sebagai berikut: dapat membimbing aspek emosional . erasaan senang, sedih, terkejut, dan lain-lai. serta aspek sosial budayanya . ahasa yang baik dan bena. , dapat mengembangkan imajinasi dan kemampuan berpikir anak. Lagu anak-anak yang disukai dan mudah diingat adalah AuLagu Cemara. Pemandangan dan Kereta ApikuAy karya A. Mahmud. Lagu cemara ini diciptakan untuk mengajarkan anak-anak tentang keindahan alam dan pohon cemara adalah salah satunya. Lagu membantu anak-anak agar mengetahui keindahan alam sekitar. Lagu kereta apiku diciptakan untuk memberikan wawasan kepada anak-anak tentang kereta api yang merupakan salah satu transportasi umum. Tabel 3 menunjukkan hasil analisis uji T Test Independen . = 0,002 < 0,. , artinya adanya perbedaan yang signifikan antara distraksi menggunakan film kartun dan musik terhadap kecemasan anak usia 7 hingga 10 tahun pada pasien pencabutan dengan infiltrasi di RSKGM Bandung. Nilai rata-rata pada selisih denyut nadi pada saat sebelum dan setelah diberi distraksi menggunakan film kartun pada anak yang mendapatkan tindakan pencabutan dengan infiltrasi sebesar 13,71 lebih besar daripada nilai rata-rata selisih denyut nadi sebelum dan setelah diberi distraksi musik yang hanya sebesar 2,41. Dapat menunjukkan bahwa distraksi menggunakan film kartun lebih dapat menurunkan kecemasan pasien pencabutan anak dibandingkan dengan distraksi menggunakan musik. Hal tersebut Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 karena ada perbedaan antara distraksi menggunakan film kartun dan musik dimana, pada distraksi menggunakan film kartun mengalihkan perhatian pendengaran dan penglihatan sedangkan distraksi menggunakan musik mengalihkan perhatian pendengaran Pengalihan perhatian menggunakan film kartun merupakan distraksi audiovisual yaitu kombinasi antara pengalihan perhatian pendengaran . dan pengalihan perhatian penglihatan . , yang digunakan untuk Distraksi menggunakan musik merupakan tindakan Anak-anak menyukai cerita, emosi . enang, sedih, seru, gembir. , warna, gambar, dan unsur-unsur lain dalam kartun. Unsur yang terkandung dalam film kartun adalah unsur pada otak kanan, sedangkan bunyi yang dihasilkan dalam film adalah unsur pada otak Maka dengan menyaksikan film kartun seperti doraemon, frozen ataupun upin ipin otak kiri dan kanan anak digunakan secara seimbang dalam waktu yang berbarengan, sehingga memungkinkan bagi anak untuk fokus pada film kartun tersebut. KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan hasil penelitian adalah ada perbedaan distraksi menggunakan film kartun dan musik terhadap kecemasan anak usia 7 hingga 10 tahun pada pasien pencabutan dengan infiltrasi di RSKGM Bandung. Saran disampaikan kepada poli Pedodontik RSKGM Bandung menerapkan treatment menonton film animasi sebagai salah satu strategi dalam mengatasi rasa tidak nyaman pada anak saat pencabutan gigi. Orang tua hendaknya membantu anak memahami bahwa menonton film animasi dan mendengarkan musik adalah hal yang menarik dan menyenangkan, serta dapat mengurangi rasa cemas saat perawatan gigi, sehingga diharapkan anak tidak lagi merasa cemas saat berkunjung ke dokter gigi. DAFTAR PUSTAKA