LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || REGISTER GAYA BICARA SISWA SEKOLAH DASAR PADA KONTEKS PERCAKAPAN DI SEKOLAH : KAJIAN SOSIOPRAGMATIK Ameliyah 1,*. Sutardi 2. Mustofa 3 1 SD Negeri 1 Lopang Kembangbahu Lamongan. Indonesia 2-3Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 ameliyahpramesti91@gmail. 2sutardi@unisda. 3 tofa09@unisda. ARTICLE INFO Article history Received: 02-01-2025 Revised: 20-01-2025 Accepted: 02-02-2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk . mendeskripsikan register gaya bicara yang digunakan oleh siswa sekolah dasar dalam percakapan dengan guru, serta . mendeskripsikan register gaya bicara siswa dalam percakapan antar teman di Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan angket yang dilakukan di SDN 1 Lopang. Kecamatan Kembangbahu, tahun pelajaran 2024/2025. Analisis data dilakukan dengan pendekatan sosiopragmatik untuk memahami pengaruh faktor sosial terhadap penggunaan bahasa siswa dalam komunikasi sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam komunikasi dengan guru, siswa cenderung menggunakan register formal dengan pilihan kata baku, nada bicara tenang, serta struktur kalimat yang sesuai norma Sebaliknya, dalam interaksi dengan teman sebaya, siswa lebih sering menggunakan register informal yang lebih santai dan fleksibel. Penelitian ini menyimpulkan bahwa register gaya bicara siswa sekolah dasar bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, serta lingkungan. Lingkungan sekolah membentuk pola komunikasi yang lebih formal dalam interaksi dengan guru, sementara hubungan sosial dengan teman sebaya memungkinkan penggunaan register yang lebih santai dan ekspresif. Selain itu, faktor eksternal seperti latar belakang keluarga dan paparan teknologi turut berperan dalam membentuk variasi register siswa dalam percakapan sehari-hari. Kata kunci: register bahasa, gaya bicara, sosiopragmatik, komunikasi siswa. ABSTRACT However, students are often influenced by social factors such as environment, peers, and social media, leading to the use of informal language. This study aims to . describe the speech register used by elementary school students in conversations with teachers and . describe the speech register used in peer interactions at school. This research employs a qualitative descriptive approach with data collection techniques including observations, interviews, and questionnaires conducted at SDN 1 Lopang. Kembangbahu District, in the 2024/2025 academic year. Data analysis is carried out using a sociopragmatic approach to understand the influence of social factors on students' language use in school communication. The findings indicate that in communication with teachers, students tend to use a formal register with standard vocabulary, a calm tone, and sentence structures that adhere to linguistic norms. In contrast, peer interactions are characterized by a more relaxed and flexible informal register. This study concludes that elementary school students' speech registers are dynamic and influenced by social, cultural, and environmental factors. The school environment fosters a more formal communication pattern in interactions with teachers, whereas social relationships with peers allow for a more relaxed and expressive register. Additionally, external factors such as family background and exposure to technology also contribute to the variations in students' speech registers in daily conversations. Keyword: language register, speech style, sociopragmatics, student communication. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Pendahuluan Bahasa sebagai alat komunikasi memegang peranan yang sangat pentingdalam kehidupan manusia karena dengan bahasa manusia dapat berinteraksi dan berbicara mengenai apa saja. Bahasa sebagai alat menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, ataupun perasaan. Dalam ilmu dan teknologi bahasa berfungsi sebagai sarana untuk berkomunikasi (Markub. Bahasa memainkan peran penting dalam interaksi sosial, terutama dalam lingkungan sekolah dasar, di mana siswa belajar berkomunikasi sesuai dengan konteks dan norma sosial. Dalam dunia pendidikan, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai sarana untuk memahami norma sosial dan membangun hubungan (Romaine, 2. Variasi bahasa dalam interaksi siswa dipengaruhi oleh faktor sosial seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, dan media digital (Holmes, 2. Pemilihan bahasa dalam percakapan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial seperti usia, status sosial, dan hubungan Dalam perspektif sosiopragmatik, variasi gaya bicara siswa di sekolah mencerminkan dinamika sosial yang mereka hadapi sehari-hari. Siswa menyesuaikan gaya bicara mereka saat berinteraksi dengan guru, teman sebaya, atau orang dewasa lainnya, yang menunjukkan adanya perbedaan register bahasa dalam berbagai situasi. Kesantunan merupakan aspek penting dalam kehidupan untuk menciptakan komunikasi yang baik antara penutur dan mitra tutur. Jika seseorang tidak menggunakan bahasa sesuai dengan norma yang diterima dalam masyarakat, orang tersebut dapat dianggap tidak bersopan santun, atau bahkan mungkin akan dinilai secara negatif oleh orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mempelajari dan memahami tata cara berbahasa yang sesuai dengan norma yang berlaku. Dengan mengikuti norma-norma yang ada, seseorang dapat mencapai kesantunan dalam berbahasa (Manzil & Sutardi, 2. Namun, dalam praktiknya, sering kali terjadi kesenjangan antara norma bahasa yang diajarkan di sekolah dan gaya bicara yang digunakan siswa dalam interaksi sehari-hari. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di beberapa sekolah dasar di Jawa Timur, ditemukan bahwa banyak siswa cenderung menggunakan bahasa informal dalam percakapan dengan teman sebaya, meskipun dalam situasi formal. Penelitian sebelumnya telah banyak membahas aspek kesantunan berbahasa siswa dan faktor sosial yang memengaruhi interaksi verbal, seperti penelitian yang berfokus pada pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan dalam komunikasi siswa dengan guru, penelitian lain mengkaji pengaruh lingkungan sosial terhadap kesantunan berbahasa siswa. Selain itu, penelitian tentang pencampuran bahasa pada anak usia dini juga telah dilakukan, menyoroti bagaimana keterbatasan kosakata dan faktor sosial memengaruhi campur kode dalam tuturan mereka. Namun, penelitian ini memiliki kebaruan dalam fokusnya yang berbeda, yaitu menganalisis register gaya bicara siswa sekolah dasar dalam berbagai konteks percakapan di sekolah. Alih-alih hanya berfokus pada kesantunan atau campur kode, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana siswa menyesuaikan gaya bicara mereka berdasarkan situasi komunikasi, lawan bicara, dan faktor sosial yang memengaruhi penggunaan register bahasa mereka. Pendekatan yang digunakan juga lebih komprehensif, yaitu menggabungkan perspektif sosiolinguistik dan pragmatik untuk memahami variasi gaya bicara siswa sekolah dasar dalam interaksi sosial mereka. Dalam konteks pendidikan, pemahaman mengenai register bahasa siswa masih kurang mendapat perhatian, terutama dalam kaitannya dengan proses pembelajaran dan adaptasi sosial mereka di sekolah. Oleh karena itu, penelitian dengan judul AuRegister Gaya Bicara Siswa Sekolah Dasar Pada Konteks Percakapan Di sekolah : Kajian SosiopragmatikAy bertujuan untuk . Mendeskripsikan register gaya bicara yang digunakan oleh siswa sekolah dasar dalam konteks percakapan dengan guru di sekolah. Mendeskripsikan register gaya bicara yang digunakan oleh siswa sekolah dasar dalam konteks percakapan antar teman di sekolah. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan fenomena penggunaan register gaya bicara siswa sekolah dasar dalam Register Gaya Bicara Siswa Sekolah Dasar pada Konteks Percakapan di Sekolah : Kajian Sosiopragmatik Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. percakapan di sekolah. Fokus penelitian adalah memahami pola penggunaan bahasa serta faktor sosio-pragmatik yang memengaruhi pemilihan gaya bicara siswa. Lokasi penelitian dilakukan di SD Negeri 1 Lopang. Kabupaten Lamongan. Jawa Timur. Penelitian berlangsung dari November 2024 hingga Februari 2025, dengan tahapan persiapan, pengumpulan data melalui observasi dan wawancara, analisis data, serta penyusunan laporan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket, dan analisis dokumen untuk memahami register gaya bicara dalam berbagai situasi komunikasi. Sumber data utama adalah siswa SD kelas 1-6 yang diamati dalam interaksi formal dan informal, sedangkan sumber sekunder adalah guru yang diwawancarai untuk memberikan perspektif terhadap penggunaan bahasa siswa. Jenis data yang dikumpulkan mencakup data observasi berupa percakapan siswa dalam kelas dan di luar kelas, data wawancara berupa pendapat guru dan siswa mengenai penggunaan bahasa, serta data angket yang digunakan untuk mengidentifikasi pola register dalam berbagai konteks Teknik pengumpulan data melibatkan observasi partisipatif terhadap interaksi siswa, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, perekaman percakapan untuk transkripsi dan analisis, serta pengisian angket guna mengidentifikasi kecenderungan pola bahasa. Data dianalisis dengan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola penggunaan register dan faktor sosio-pragmatik yang memengaruhinya. Validitas data dijaga melalui triangulasi data, yaitu membandingkan hasil observasi, wawancara, dan perekaman percakapan dengan konfirmasi dari guru dan orang tua. Dalam pengumpulan data primer, observasi dilakukan dalam konteks formal seperti kelas dan kegiatan belajar, serta dalam konteks informal seperti waktu istirahat dan interaksi sehari-hari, menggunakan lembar observasi untuk mencatat jenis percakapan, penggunaan register, tingkat kesopanan, peran sosial, serta faktor eksternal yang memengaruhi gaya bicara. Perekaman audio juga digunakan untuk analisis lebih lanjut. Wawancara semi-terstruktur dilakukan dengan siswa, guru, dan orang tua guna menggali faktor sosio-pragmatik yang memengaruhi pilihan bahasa siswa, di mana wawancara direkam dengan izin informan untuk menjaga akurasi data. Angket diberikan kepada siswa untuk menganalisis pengaruh media sosial dan teknologi terhadap variasi register dalam percakapan sehari-hari. Data sekunder diperoleh dari dokumen sekolah, seperti kurikulum dan kebijakan pembelajaran, serta literatur akademik terkait sosiolinguistik, register, dan pragmatik untuk mendukung analisis data primer. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi lembar observasi untuk mencatat aspek penggunaan register dalam interaksi siswa, pedoman wawancara untuk mengarahkan wawancara dengan guru dan siswa, alat perekam untuk mendokumentasikan percakapan dan wawancara, angket untuk mengukur pengaruh media terhadap variasi bahasa siswa. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Lopang menggunakan variasi register bahasa yang berbeda berdasarkan situasi komunikasi dan lawan bicara. Tabel di bawah ini menyajikan perbandingan penggunaan register formal dan informal dalam komunikasi siswa di lingkungan sekolah, dengan mempertimbangkan aspek pilihan kata, penggunaan bahasa Jawa, struktur kalimat, nada dan intonasi, serta fungsi pragmatik. Dalam interaksi dengan guru, siswa cenderung menggunakan bahasa yang lebih baku, sopan, dan terstruktur, sedangkan dalam percakapan dengan teman sebaya, mereka lebih santai dan sering menggunakan bahasa daerah atau slang. Selain itu, faktor eksternal seperti media sosial dan tontonan digital turut memengaruhi gaya bicara siswa, terutama dalam penggunaan istilah Hasil angket menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menyadari perbedaan gaya bahasa di lingkungan formal dan informal, serta tetap menjaga kesopanan saat berbicara dengan guru. Register Gaya Bicara Siswa Sekolah Dasar pada Konteks Percakapan di Sekolah : Kajian Sosiopragmatik Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Tabel 1. (Hasil Pembahasa. Aspek Interaksi dengan Guru Interaksi (Register dengan Teman Gur. (Register Tema. Pilihan Kata Baku, sopan. Campuran Indonesia. Jawa ngoko, dan slang Penggunaan Menggunakan bahasa Menggunakan bahasa Bahasa Jawa Jawa krama halus Jawa ngoko dalam menghormati percakapan santai Struktur Kalimat lengkap dan Kalimat Kalimat norma spontan, tidak selalu mengikuti kaidah baku Nada dan Tenang, lebih Lebih Intonasi dan emosi spontan Situasi Kelas, upacara, diskusi Istirahat. Penggunaan meminta bercanda, izin, kegiatan resmi kelompok. Fungsi Meminta izin. Bertukar Pragmatik bertanya, menjawab bercanda, menegosiasi. Strategi Menggunakan sapaan Lebih Kesantunan AuPakAy. AuBuAy serta menggunakan bahasa bahasa Jawa halus Jawa bahasa gaul Contoh "Bu, tasek "Eh, kon ngerti nggak Kalimat bingung, tadi bu Ira sih soal iki? Bingung, apa sumpah!" maksudnya nggeh?" Pengaruh Minimal, lebih Sering menggunakan Media Sosial berorientasi akademik istilah dari media sosial dan game Hasil Angket 75% siswa selalu 55% siswa sering sopan menggunakan istilah dengan guru dari game dan media Keterangan Tambahan Pengaruh media tontonan digital Dipengaruhi oleh Berbeda sesuai Tergantung Konteks formal Strategi Kesantunan positif & negatif Ilustrasi nyata Terlihat dalam kosakata seharihari Pengaruh Pembahasan Perbandingan Register Formal dan Informal dalam Lingkungan Sekolah Setelah mengidentifikasi percakapan sehari Ae hari siswa dengan perekaman komunikasi sehari-hari di lingkungan sekolah, diketahui bahwa siswa di Sekolah Dasara Negeri 1 Lopang menggunakan variasi register bahasa yang berbeda tergantung pada lawan bicara dan situasi komunikasi. Saat berbicara dengan guru, mereka cenderung menggunakan register formal yang lebih baku, sopan, dan terstruktur. Sebaliknya, dalam Register Gaya Bicara Siswa Sekolah Dasar pada Konteks Percakapan di Sekolah : Kajian Sosiopragmatik Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. percakapan dengan teman sebaya, penggunaan bahasa lebih santai dan fleksibel, sering kali mencampurkan bahasa daerah dan slang. Tabel berikut menyajikan perbedaan utama dalam penggunaan register formal dan informal di sekolah. Tabel 2 (Perbandingan Registe. Aspek Register Formal . engan Guru Register Informal Sekola. Teman Sebay. Pilihan Kata Baku, sopan, dan terstruktur . engan Campuran bahasa Indonesia. Jawa ngoko, dan slang Penggunaan Bahasa Menggunakan bahasa Jawa Menggunakan bahasa Jawa ngoko Jawa krama halus untuk menghormati dalam percakapan santai Struktur Kalimat Kalimat lengkap dan mengikuti Kalimat pendek, spontan, dan norma kebahasaan tidak selalu mengikuti kaidah Nada dan Intonasi Tenang, lebih terkontrol Lebih mengandung humor dan emosi Variasi penggunaan bahasa dalam berbagai konteks antara siswa dengan guru dan siswa dengan sesama teman: Setelah mengidentifikasi percakapan sehari Ae hari siswa dengan perekaman komunikasi sehari-hari di lingkungan sekolah, diketahui bahwa penggunaan bahasa oleh siswa di sekolah sangat bergantung pada konteks sosial dan lawan bicara. Saat berinteraksi dengan guru, siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Lopang cenderung menggunakan bahasa formal dengan pilihan kata yang lebih baku dan struktur kalimat yang teratur. Sebaliknya, dalam komunikasi antar teman, bahasa yang digunakan lebih bersifat informal, santai, dan banyak dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari, termasuk bahasa daerah dan slang. Berikut adalah perbandingan variasi penggunaan bahasa dalam dua konteks interaksi yang Tabel 3 (Variasi penggunaan Bahas. Aspek Interaksi dengan Guru Situasi Kelas, upacara, diskusi akademik. Istirahat, meminta izin, kegiatan resmi sekolah belajar kelompok, obrolan santai Formal, sopan, terstruktur Informal, santai, fleksibel Register Bahasa Pilihan Kata Contoh Kalimat Struktur Kalimat Intonasi Menggunakan bahasa baku, kata-kata sopan, dan bahasa Jawa halus. "Bu, mbenjeng kula izin mboten sekolah karena diajak ibu ziarah. (Menggunakan bahasa Jawa halu. "Izin bertanya. Bu, bagaimana cara menghitung luas bangun ini?" (Menggunakan bahasa bak. Tersusun rapi, mengikuti kaidah bahasa standar, dan lebih panjang Interaksi Antar Siswa Menggunakan bahasa sehari-hari, bahasa Jawa ngoko, dan bahasa gaul " Gaskeun dolan nang lapangan!" (Campuran bahasa gaul dan bahasa "Apik (Menggunakan bahasa Jawa ngok. Lebih mengikuti struktur formal, sering terpotong-potong Lebih terkontrol. Cenderung lebih ekspresif, cepat, menyesuaikan norma kesopanan dan terkadang lebih keras Register Gaya Bicara Siswa Sekolah Dasar pada Konteks Percakapan di Sekolah : Kajian Sosiopragmatik Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Tujuan Komunikasi Pengaruh Budaya Penggunaan Campuran Bahasa Menyampaikan informasi akademik. Penggunaan bahasa Jawa halus terhadap hierarki sosial Dominan bahasa Indonesia baku, tetapi sering diselingi bahasa Jawa halus untuk menunjukkan rasa Bertukar bercanda, menunjukkan kedekatan Penggunaan bahasa Jawa ngoko dan bahasa gaul mencerminkan kedekatan dan keakraban Banyak campuran antara bahasa Indonesia daerah, dan bahasa gaul Analisis sosiopragmatik dalam percakapan antara siswa dengan guru dan siswa dengan sesama teman: Analisis sosiopragmatik membantu memahami bagaimana siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Lopang menyesuaikan gaya bicara mereka berdasarkan hubungan sosial dan konteks Setelah mengidentifikasi percakapan sehari Ae hari siswa dengan perekaman komunikasi dan wawancara dengan guru di lingkungan sekolah, diketahui bahwa dalam interaksi dengan guru, siswa lebih banyak menggunakan strategi kesantunan untuk menunjukkan rasa hormat, sementara dalam percakapan dengan teman sebaya, mereka lebih santai dan cenderung menggunakan strategi yang memperkuat kedekatan sosial. Tabel berikut menyajikan analisis perbedaan penggunaan bahasa dalam interaksi dengan guru dan sesama siswa. Tabel 4 (Analisis sosiopragmati. Aspek Kesantunan Berbahasa Fungsi Pragmatik Strategi Kesantunan Contoh Kalimat Penggunaan Bahasa Campuran Interaksi dengan Guru Sangat tinggi, menggunakan sapaan sopan seperti "Pak", "Bu", serta bahasa Jawa halus . rama Meminta Menggunakan kesantunan positif dan negatif . ontoh: menggunakan bentuk permohonan, kata maaf, dan bahasa yang lebih halu. " Bu, mbenjeng kula izin mboten sekolah karena di ajak ibu acara " (Bu, besok saya izin tidak masuk sekolah karena di ajak ibu " Bu, kulo tasek bingung, tadi bu ira menjelaskan apa maksudnya nggeh?" (Bu, saya masih bingung, maksudnya bagaimana ?) Dominan bahasa Indonesia baku, tetapi sering diselingi bahasa Interaksi Antar Siswa Rendah hingga sedang, lebih santai, menggunakan bahasa Jawa ngoko atau bahasa gaul Bertukar emosi, membangun solidaritas sosial Lebih banyak strategi kesantunan positif, menunjukkan keakraban dan kedekatan, sering menggunakan humor dan ekspresi tidak formal AuEh, kon ngerti nggak sih soal iki? Bingung, sumpah! (Kamu mengerti soal ini gak, bingung aku!) Yo, aku juga mumet iki! (Ya, aku juga pusing ini!) Campuran bahasa Indonesia seharihari, bahasa Jawa ngoko, dan bahasa Register Gaya Bicara Siswa Sekolah Dasar pada Konteks Percakapan di Sekolah : Kajian Sosiopragmatik Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Struktur Kalimat Intonasi Konteks Penggunaan Tujuan Komunikasi Jawa halus sebagai bentuk Terstruktur, lebih panjang, dan Tidak selalu mengikuti tata bahasa menggunakan tata bahasa baku baku, cenderung lebih singkat dan Tenang, menyesuaikan norma Lebih ekspresif, terkadang lebih kesopanan, nada lebih rendah keras atau cepat, tergantung konteks Kegiatan akademik di kelas. Saat bermain, beristirahat, berdiskusi upacara sekolah, diskusi resmi santai, atau bercanda dengan teman Menunjukkan penghormatan. Membangun informasi menunjukkan akademik, meminta izin menyampaikan informasi santai Rekap hasil observasi : Hasil observasi yang dilakukan peneliti dengan mengamati siswa, menunjukkan bahwa siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Lopang menggunakan variasi gaya bicara yang berbeda tergantung pada situasi, lawan bicara, dan lingkungan sosial mereka. Faktor-faktor seperti tingkat kesopanan, penggunaan register, serta pengaruh budaya dan media sosial turut membentuk pola komunikasi siswa di sekolah. Tabel berikut merangkum temuan utama dari hasil observasi terkait gaya bicara siswa dalam berbagai situasi di sekolah. Tabel 5 (Rekap Hasil Observas. No. Kategori Deskripsi Jenis Hasil Observasi Percakapan Jenis Kategorikan percakapan Formal/ Percakapan formal terjadi Percakapan atau Informal saat berbicara dengan situasi dan interaksi percakapan informal lebih sosial yang terjadi. teman sebaya. Penggunaan Identifikasi jenis register Baku/Tidak Siswa Register yang digunakan siswa Baku bahasa baku dan jawa . aku atau tidak bak. , dengan guru, tetapi lebih resmi, sehari-hari, atau bahasa tidak baku dalam bahasa gaul. sehari-hari dengan teman (Bahasa jawa kasar, slang. Bahasa Tingkat Amati tingkat kesopanan Sopan/Tidak Siswa Kesopanan yang digunakan dalam Sopan kesopanan saat berbicara menggunakan sapaan dan penghormatan . isalnya ungkapan hormat. Dengan kata-kata sopa. atau tidak. yang lebih lugas. Peran Sosial Catat peran sosial yang Peran Percakapan melibatkan Siswa dalam partisipan guru, teman sebaya, dan Register Gaya Bicara Siswa Sekolah Dasar pada Konteks Percakapan di Sekolah : Kajian Sosiopragmatik Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. melibatkan guru, teman sebaya, atau siswa lebih muda/tua. Perhatikan apakah ada Faktor faktor eksternal yang pengaruh mempengaruhi pilihan gaya bicara, misalnya budaya, atau kebiasaan di luar sekolah. Faktor Pengaruh Eksternal Tujuan Komunikasi Tanggapan Partisipan Pengaruh Usia Perhatikan apakah usia Jenis dan Kelamin bahasa yang lebih formal untuk guru dan lebih Situasi Sosial Catat apakah situasi dan Lingkungan sosial dan lingkungan . isalnya ruang kelas, mempengaruhi pemilihan gaya bicara. Regulasi Otoritas Tentukan tujuan dari Tujuan tersebut utama . ntuk meminta sesuatu, memberikan informasi, bertanya, atau sekadar Amati bagaimana siswa Respons merespons percakapan. Apakah yang serupa atau berbeda dalam menanggapi. oleh Perhatikan apakah ada pengaruh dari guru atau pihak sekolah dalam siswa, seperti aturan untuk berbicara sopan di Pengaruh terlihat/tidak Siswa bicaranya sesuai dengan siapa yang diajak bicara. Gaya daerah di rumah, serta berkembang di media Siswa untuk bertanya kepada guru, meminta sesuatu kepada teman, memberi informasi, atau sekadar Siswa menyesuaikan gaya bicara dengan lawan bahasa yang lebih formal dengan guru dan lebih santai dengan teman Laki-laki lebih lugas dan langsung, menjaga kesopanan dalam Lokasi dan Di kelas, siswa berbicara lebih terstruktur meski kadang ada Bahasa jawa percakapan namun tetap menunjukan rasa hormat sedangkan di kantin dan lapangan gaya bicara lebih santai dan menggunakan bahasa sehari-hari. Ada/ Guru mengingatkan siswa Tidak Ada untuk berbicara sopan dan yang baik di lingkungan sekolah, terutama saat di dalam kelas. Register Gaya Bicara Siswa Sekolah Dasar pada Konteks Percakapan di Sekolah : Kajian Sosiopragmatik Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Rekap Hasil Angket Gaya Bicara Siswa Angket ini dilakukan untuk memahami bagaimana siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Lopang menggunakan bahasa dalam kesehariannya, terutama terkait dengan pengaruh media sosial, tontonan digital, dan kesadaran mereka terhadap variasi register. Hasil angket menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki akun media sosial dan cukup sering mengaksesnya, yang berpengaruh terhadap penggunaan kata atau frasa tertentu dalam percakapan sehari-hari. Selain itu, siswa juga menyadari adanya perbedaan gaya bicara ketika berkomunikasi dengan guru dan teman sebaya. Tabel berikut menyajikan rekapitulasi hasil angket yang telah dikumpulkan dari responden. a Jumlah Responden: 41 siswa a Jenis Kelamin: Laki-laki : 25 siswa Perempuan : 16 siswa Tabel 6 (Rekap hasil angket gaya bicara sisw. Bagian Paparan terhadap Media Sosial dan Teknologi Pengaruh Tontonan Permainan Digital Kesadaran terhadap Variasi Register Gaya Bicara Pertanyaan Jawaban Terbanyak Memiliki akun media sosial? Frekuensi mengakses media Sering . -5 kali Penggunaan kata/frasa dari Kadang-kadang Meniru bicara Kadang-kadang influencer/tokoh media sosial Frekuensi menonton Hampir setiap film/serial/video online Penggunaan dari Kadang-kadang film/game/YouTube dalam Penggunaan istilah dari game Sering dalam percakapan dengan Penggunaan kata/frasa dari Kadang-kadang media sosial/tontonan/game saat berbicara dengan guru atau orang dewasa Kesadaran perbedaan gaya Ya, bicara di kelas dan dengan menyadari Penggunaan bahasa lebih Ya, saya selalu sopan saat berbicara dengan berbicara lebih Pengaruh bahasa dari media Cukup sosial/game terhadap cara berpengaruh berbicara di sekolah Persentase (%) Kesimpulan Rekapitulasi Sebagian besar siswa memiliki akun media sosial dan mengaksesnya secara rutin, dengan mayoritas mengaksesnya 3-5 kali sehari. Kata atau frasa dari media sosial cukup sering digunakan dalam percakapan seharihari, terutama dalam interaksi dengan teman sebaya. Register Gaya Bicara Siswa Sekolah Dasar pada Konteks Percakapan di Sekolah : Kajian Sosiopragmatik Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Pengaruh tontonan dan permainan digital terlihat dalam penggunaan istilah tertentu dalam percakapan, baik dengan teman maupun kadang-kadang dengan guru atau orang dewasa. Sebagian besar siswa sadar akan perbedaan gaya bicara yang mereka gunakan di lingkungan formal . eperti kela. dan informal . engan tema. Sebagian besar siswa cenderung berbicara lebih sopan kepada guru dan staf sekolah dibandingkan dengan teman sebaya. Pengaruh media sosial dan game terhadap gaya bicara siswa cukup signifikan, dengan sebagian besar siswa merasa bahwa hal ini memengaruhi cara mereka berbicara di Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa register gaya bicara siswa sekolah dasar dalam konteks percakapan di sekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, dan lingkungan. Berikut simpulan dari penelitian ini : Register yang digunakan siswa dalam percakapan dengan guru cenderung bersifat formal, sopan, dan terstruktur. Siswa menggunakan pilihan kata baku, nada bicara lebih tenang, serta kalimat yang mengikuti norma kebahasaan. Penggunaan bahasa ini dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya sekolah, di mana norma dan aturan mendorong siswa untuk menunjukkan sikap hormat kepada tenaga pendidik. Selain itu, faktor latar belakang keluarga juga berperan, karena siswa yang terbiasa dengan bahasa formal di rumah lebih mudah menyesuaikan diri dalam komunikasi akademik. Dalam beberapa kasus, siswa juga menggunakan bahasa Jawa halus sebagai bentuk penghormatan kepada guru, terutama di sekolah yang memiliki budaya penggunaan bahasa daerah yang kuat Berbeda dengan interaksi bersama guru, gaya bicara siswa dalam percakapan antar teman lebih santai, informal, dan fleksibel. Siswa sering menggunakan bahasa sehari-hari, campuran bahasa daerah . eperti bahasa Jawa ngok. dan bahasa gaul, serta struktur kalimat yang lebih pendek dan spontan. Nada bicara mereka juga lebih ekspresif, sering kali disertai humor dan emosi spontan. Faktor yang memengaruhi register ini antara lain kedekatan hubungan sosial antar teman, situasi komunikasi, serta paparan media dan teknologi, di mana istilah dari media sosial, game, dan tontonan digital sering muncul dalam percakapan mereka. Daftar Pustaka