Jurnal Kesehatan Indonesia. Volume 16. Nomor 1. November 2025 Hubungan Adekuasi Hemodialisis. Risiko Malnutrisi, dan Tingkat Depresi dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis di RSUD dr. Andi Abdurrahman Noor Kabupaten Tanah Bumbu The Relationship between Hemodialysis Adequacy. Malnutrition Risk, and Depression Levels with the Quality of Life of Chronic Kidney Failure Patients Undergoing Hemodialysis at dr. Andi Abdurrahman Noor Regional Hospital. Tanah Bumbu Regency Erviani1*. Rijanti Abdurrachim1. Mahpolah1. Rosihan Anwar1 Jurusan Gizi. Politeknik Kesehatan Kemenkes Banjarmasin. Banjarbaru. Indonesia Korespondensi: ervinutri@gmail. Abstract Chronic Kidney Failure (CKD) continues to increase and requires long-term hemodialysis, impacting patients' physical, nutritional, and psychological status, as well as their quality of life. This study aims to determine the relationship between hemodialysis adequacy, malnutrition risk, and depression levels, and the quality of life of CKD patients at Dr. Andi Abdurrahman Noor Regional General Hospital in Tanah Bumbu Regency. This observational study used a cross-sectional design involving 34 hemodialysis patients at the time of the study. The variables studied included hemodialysis adequacy, malnutrition risk, depression levels, and quality of life. Data were analyzed using the Spearman Rank Correlation test at = 0. The majority of respondents were of productive age, female, retired, and had higher education. Furthermore, some respondents also had good hemodialysis adequacy, good nutritional status, mild depression, and a very good quality of life. There was a significant association between hemodialysis adequacy . =0. r=0. , malnutrition risk . =0. r=0. , and depression levels . =0. r=0. and quality of life. This study shows that adequate hemodialysis, optimal nutritional status, and low depression improve patients' quality of life. is recommended that nutritionists be placed in hemodialysis units as part of a multidisciplinary team to optimize nutrition, reduce the risk of PEW, and improve quality of life. Keywords: Chronic Kidney Disease. Depression Level. Hemodialysis Adequacy. Malnutrition Risk. Quality of Life Pendahuluan Penyakit (PGK) merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas . Penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan irreversibel menyebabkan pasien pada stadium lanjut memerlukan terapi pengganti ginjal, salah satunya hemodialisis, untuk mempertahankan keseimbangan metabolik dan kelangsungan hidup . Meskipun efektif secara klinis, hemodialisis jangka panjang sering disertai berbagai komplikasi yang berdampak pada kualitas hidup pasien . Kualitas hidup merupakan indikator penting dalam evaluasi keberhasilan terapi hemodialisis karena mencerminkan kondisi fisik, psikologis, dan sosial pasien secara menyeluruh . Salah satu faktor utama yang memengaruhi kualitas hidup adalah adekuasi hemodialisis, menggambarkan kecukupan dosis dialisis dan umumnya diukur menggunakan parameter Kt/V atau URR . Hemodialisis yang tidak adekuat dapat menyebabkan akumulasi toksin uremik, gangguan cairan dan elektrolit, serta keluhan menurunkan kualitas hidup pasien. Selain aspek teknis dialisis, pasien PGK yang menjalani hemodialisis juga berisiko tinggi mengalami malnutrisi energiprotein akibat peningkatan katabolisme, kehilangan zat gizi selama dialisis, serta penurunan asupan makanan. Kondisi malnutrisi diketahui berhubungan dengan penurunan fungsi fisik, meningkatnya Erviani, dkk. komplikasi, dan kualitas hidup yang lebih Di sisi lain, depresi merupakan masalah psikologis yang sering terjadi pada pasien hemodialisis dan berkontribusi terhadap penurunan kualitas hidup serta kepatuhan terhadap terapi. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji faktor-faktor tersebut secara terpisah, kajian yang menilai hubungan adekuasi hemodialisis, risiko malnutrisi, dan tingkat depresi secara simultan terhadap kualitas hidup pasien PGK masih terbatas, khususnya di tingkat pelayanan kesehatan Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan malnutrisi, dan tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD dr. Andi Abdurrahman Noor Kabupaten Tanah Bumbu. Risiko malnutrisi diukur menggunakan kuesioner Subjective Global Assessment (SGA), tingkat depresi dinilai menggunakan Depression Anxiety Stress Scale (DASS), dan kualitas hidup diukur menggunakan instrumen Kidney Disease Quality of Life Short Form-36 (KDQOL-SF . Hays,1994. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan distribusi masing-masing Analisis menggunakan uji Korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan kualitas hidup, dengan tingkat kemaknaan statistik ditetapkan pada = 0,05. Hasil Karakteristik Responden Penelitian ini melibatkan 34 pasien Mayoritas responden berada pada usia produktif, berjenis kelamin perempuan, serta sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan menengahAetinggi. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain crosectional, yang bertujuan menganalisis hubungan antara adekuasi hemodialisis, risiko malnutrisi, dan tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis. Penelitian dilaksanakan di RSUD dr. Andi Abdurrahman Noor Kabupaten Tanah Bumbu pada tahun 2025. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari komite penelitian Poltekkes Kemenkes Banjarmasin dengan No. 783/KEPK-PKB/2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis rutin di rumah sakit tersebut. Sampel penelitian berjumlah 34 responden, yang dipilih menggunakan teknik total sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Kriteria inklusi meliputi pasien PGK yang menjalani hemodialisis rutin, berusia Ou18 tahun, dan bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi meliputi pasien dengan kondisi akut, gangguan kognitif, atau data yang tidak lengkap. Variabel independen dalam penelitian ini adalah adekuasi hemodialisis, risiko malnutrisi, dan tingkat depresi, sedangkan variabel dependen adalah kualitas hidup. Adekuasi hemodialisis dinilai menggunakan parameter Kt/V berdasarkan data rekam Tabel 1. Karakteristik Responden Kategori Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Kelompok Usia Usia produktif Usia lanjut Pendidikan RendahAemenengah Tinggi (Sumber : data primer penelitian, 2. Erviani, dkk. Distribusi Variabel Penelitian Sebagian besar responden memiliki adekuasi hemodialisis baik, risiko malnutrisi ringan, tingkat depresi ringan, serta kualitas hidup pada kategori baik hingga sangat baik. aspek klinis, status gizi, maupun kondisi Hubungan positif antara adekuasi hemodialisis dan kualitas hidup pada penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh . Tentori dkk. 2012 yang melaporkan bahwa pasien dengan nilai Kt/V yang adekuat memiliki kualitas hidup yang lebih baik, terutama pada domain fungsi fisik dan kesehatan umum. Adekuasi hemodialisis yang optimal berperan dalam mengurangi akumulasi toksin uremik dan keluhan klinis seperti kelelahan, mual, serta gangguan aktivitas sehari-hari, sehingga meningkatkan persepsi pasien terhadap kualitas hidupnya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan hubungan yang signifikan antara risiko malnutrisi dan kualitas hidup, dengan kekuatan hubungan yang paling tinggi dibandingkan variabel lainnya. Temuan ini sejalan dengan penelitian . Kalantar-Zadeh 2010 yang menyatakan bahwa malnutrisi energi-protein pada pasien hemodialisis berhubungan erat dengan penurunan fungsi rendahnya kualitas hidup. Penelitian oleh . Ried 2013 juga melaporkan bahwa pasien hemodialisis dengan status gizi baik memiliki skor kualitas hidup yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan risiko malnutrisi sedang hingga berat. Selain faktor fisik dan gizi, penelitian ini berhubungan signifikan dengan kualitas hidup pasien hemodialisis. Hasil ini sejalan dengan penelitian . Collins 2021 yang melaporkan bahwa depresi merupakan salah satu determinan utama penurunan kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronis. Depresi dapat memengaruhi kepatuhan terhadap terapi, pola makan, serta interaksi sosial pasien, sehingga berdampak negatif pada domain fisik maupun mental kualitas Penelitian . Domingues 2024 juga menunjukkan bahwa pasien hemodialisis dengan depresi sedang hingga berat memiliki risiko kualitas hidup rendah yang lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa depresi. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini konsisten dengan berbagai penelitian sebelumnya dan menegaskan bahwa kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis dipengaruhi oleh kecukupan dialisis, status gizi, dan kondisi psikologis pasien . KDGIO 2013. Oleh Tabel 2. Distribusi Adekuasi Hemodialisis. Risiko Malnutrisi. Tingkat Depresi dan Kualitas Hidup Variabel Adekuasi Hemodialisis Kategori Baik Tidak Baik Risiko Malnutrisi Ringan Sedangberat Tingkat Depresi Normalringan Sedangberat Baik-sangat Kurang Kualitas Hidup (Sumber : data primer penelitian, 2. Hubungan Variabel Independen dengan Kualitas Hidup Hasil uji Korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa adekuasi hemodialisis, risiko malnutrisi, dan tingkat depresi memiliki hubungan yang bermakna dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis (Tabel . Tabel 3. Distribusi Adekuasi Hemodialisis. Risiko Malnutrisi. Tingkat Depresi dan Kualitas Hidup Variabel p-value Adekuasi Hemodialisis 0,019 0,401 Risiko Malnutrisi 0,001 0,530 Tingkat Depresi 0,014 0,416 Pembahasan Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara adekuasi hemodialisis, risiko malnutrisi, dan tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas hidup pasien hemodialisis dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, baik Erviani, dkk. karena itu, pengelolaan pasien hemodialisis perlu dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan multidisiplin yang melibatkan pemantauan dan intervensi gizi secara berkala, serta skrining dan penanganan depresi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien secara berkelanjutan. Daftar Pustaka Hays RD. Kallich JD. Mapes DL. Coons SJ. Carter WB. Development of the Kidney Disease Quality of Life (KDQOLTM) Instrument. Qual Life Res [Interne. :329Ae38. Available https://doi. org/10. 1007/BF00451725 Tentori F. Zhang J. Li Y. Karaboyas A. Kerr P. Saran R, et al. Longer dialysis session length is associated with better intermediate outcomes and survival among patients on in-center three times per week hemodialysis : results from the Dialysis Outcomes and Practice Patterns Study ( DOPPS ). 4180Ae8. Kalantar-zadeh K. Ikizler TA. Block G. Avram MM. Kopple JD. Malnutritioninflammation complex syndrome in Am J Kidney Dis [Interne. :864Ae81. Available http://dx. org/10. 1016/j. Ried T. Loo M. Chang C hsing. Gold D V. NIH Public Access. :49Ae58. Collins SP. Storrow A. Liu D. Jenkins CA. Miller KF. Kampe C, et al. No Title OE No Title No Title No Title. Domingues DL. Reis RSB. Ferreira PRD. Abreu SGCV. Perez CML. Neiva M. Physical exercise in health promotion among individuals with type 2 diabetes. Diabetes. Metab Disord Control. :22Ae5. Journal O. Society I. KDIGO 2012 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kesimpulan Sebagian besar karakteristik pasien hemodialisis didominasi oleh kelompok usia produktif, berjenis kelamin perempuan, dengan pekerjaan terbanyak sebagai pensiunan serta tingkat pendidikan sebagian besar sarjana. Sebagian besar responden telah mencapai adekuasi hemodialisis yang adekuat, memiliki status gizi yang baik, menunjukkan tingkat depresi ringan, serta kualitas hidup berada pada kategori sangat Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin baik adekuasi hemodialisis, semakin baik status gizi, dan semakin ringan tingkat depresi, maka kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis cenderung semakin Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan pelayanan hemodialisis yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis dialisis, tetapi juga memperhatikan status gizi dan kondisi psikologis pasien secara Ucapan Terima Kasih