TEMA Tera Ilmu Akuntansi Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 DETERMINAN OPINI AUDIT GOING CONCERN TEMA 24, 1 SUBMIT Maret 2023 REVISI April 2023 DITERIMA Mei 2023 Taruli Risa Kornelia Sihombing Mirna Amirya Accounting Department. Faculty of Economics and Business. Brawijaya University. Indonesia Abstract: This study aims to examine the effect of debt default, financial distress, leverage, and opinion shopping on the going concern audit opinion of mining companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) between 2018 and 2021, involving secondary data obtained from the Indonesia Stock Exchange official website. The samples include 48 companies selected through purposive sampling. The effects among variables in this study are analyzed by logistic regression. This study finds that financial distress negatively affects the acceptance of going concern audit opinion, and leverage positively affects the acceptance of going concern audit opinion. However, debt default and opinion shopping do not affect the acceptance of going concern audit opinion. It implies that an auditor doubts companiesAo ability to maintain its sustainability when experiencing financial distress and having a high leverage ratio. In other words, financial distress and leverage can be used as the consideration by an auditor to issue the going concern audit opinion. Keywords: Mining Companies. Going Concern Audit Opinions. Debt Default. Financial Distress. Leverage. Opinion Shopping. INDEKS Google Scholar KORESPONDING AUTHOR Taruli Risa Kornelia Sihombing Email: taruli_kornelia@student. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguji adanya pengaruh debt default, financial distress, leverage, dan opinion shopping terhadap opini audit going concern pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2018-2021. Jenis data penelitian adalah data sekunder yang diperoleh melalui website resmi Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel penelitian ini berjumlah 48 sampel yang ditentukan melalui purposive sampling. Analisis yang digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel-variabel dalam penelitian adalah analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa financial distress berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern dan leverage berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Di sisi lain, debt default dan opinion shopping tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut adalah auditor akan meragukan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan hidupnya ketika sedang mengalami financial distress dan memiliki nilai leverage yang tinggi. Dengan kata lain, financial distress dan leverage dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh auditor dalam memberikan opini audit going concern. Kata Kunci: Perusahaan Pertambangan. Opini Audit Going Concern. Debt Default. Financial Distress. Leverage. Opinion Shopping. Cite: Sihombing. & Amirya. Determinan Opini Audit Going Concern. Tema (Jurnal Tera Ilmu Akuntans. Volume 24 No. 1, 1 Ae15. Taruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya TEMA Tera Ilmu Akuntansi PENDAHULUAN Laporan keuangan memberikan informasi keuangan yang dapat menjadi acuan para pengguna laporan keuangan dalam proses pengambilan suatu keputusan. Auditor sangat penting untuk memeriksa laporan keuangan secara menyeluruh sesuai dengan standar dan prinsip yang berlaku. Selain memberikan opini atas hasil audit laporan keuangan, auditor juga harus menilai apakah bukti audit yang cukup telah diperoleh dan menyimpulkan ketepatan penggunaan basis akuntansi kelangsungan usaha . oing concer. dalam penyusunan laporan keuangan oleh manajemen (Institut Akuntan Publik Indonesia. Opini audit going concern masih menjadi masalah mendasar di dalam dunia bisnis, diperlukan faktor penentu yang digunakan sebagai acuan yang pasti untuk menentukan status going concern pada suatu entitas. Selain itu, kekonsistenan faktor-faktor tersebut harus diuji agar pada saat keadaan ekonomi yang fluktuatif, status going concern tetap dapat diprediksi (Widiastuti & Efrianti, 2. Bursa Efek Indonesia mencatat sebanyak 17 perusahaan delisting pada tahun 2018Ae 2021 yang empat . diantaranya merupakan perusahaan sektor pertambangan. Sektor pertambangan adalah salah satu sektor yang paling berpengaruh bagi perkembangan perekonomian negara disebabkan kontribusinya dalam penyediaan sumber daya energi yang dibutuhkan untuk kebutuhan negara (Akbar & Ridwan, 2. Sektor pertambangan merupakan industri yang padat modal dan padat teknologi sehingga memiliki ketidakpastian dan resiko yang besar. Fenomena banyaknya delisting menggambarkan masih banyak perusahaan yang tidak mampu mempertahankan keberlangsungan usahanya sehingga membuat pihak-pihak yang berkepentingan harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dengan tingginya tingkat risiko sektor pertambangan, perusahaan diharapkan mampu mempertanggungjawabkan informasi dalam laporan keuangan perusahaannya baik dalam setiap kesempatan/ prospek, bahaya, kerusakan, ancaman, dan paparan yang mungkin saja dapat terjadi di Taruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 perusahaan (Shagan, 2. Debt default didefinisikan sebagai kegagalan pihak debitur untuk membayarkan kembali atas utang yang jatuh tempo (Puspaningsih & Analia, 2. Status hutang perusahaan merupakan faktor pertama yang akan diperiksa oleh auditor untuk mengukur tingkat kesehatan keuangan perusahaan. Putri dan Helmayunita . menemukan bahwa Debt default berpengaruh signifikan positif terhadap opini audit going concern, sedangkan Lestari. Purnamasari dan Maemunah . menyatakan bahwa Debt default tidak berpengaruh akan penerimaan opini audit going concern. Financial distress tercermin dari rasio keuangan yang dapat memberikan indikasi apakah perusahaan dalam kondisi baik . atau dalam kondisi bangkrut. Sehingga kondisi demikian ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya opini audit going concern salah satunya adalah kesulitan keuangan suatu entitas (Maheswara & Dwirandra, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Tridevy dan Hariadi . dengan menggunakan model prediksi kebangkrutan Revisied Altman Z-Score untuk mengukur Financial distress memberi pengaruh dengan arah negatif terhadap opini audit going concern. Berbeda dengan hasil penelitian Taufan dan Wenny . yang menyatakan bahwa Financial distress tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern. Leverage merupakan rasio yang dapat menilai kemampuan suatu entitas dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Leverage mengacu pada perbandingan total utang dengan total aset yang perusahaan miliki. Semakin besar aset perusahaan yang ditutupi oleh pinjaman, maka semakin besar pula ketergantungan perusahaan terhadap pinjaman dalam menjalankan aktivitasnya. Kemampuan perusahaan dalam penggunaan hutang memperlihatkan perusahaan mengalami defisiensi modal yang menandakan bahwa perusahaan pertambangan lebih banyak menggunakan hutang di banding modal sendiri. Penurunanan pertumbuhan yang terjadi dapat dilihat dari penurunanan laba bersih dari TEMA Tera Ilmu Akuntansi setiap jumlah saham yang diedarkan perusahaan dan beberapa perusahaan pertambangan mengalami kerugian yang membuat perusahaan pertamabangan harus menurunkan penggunaan hutang. Penelitian yang dilakukan oleh Averio . menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap opini audit going concern. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hermanto dan Minarso . yang menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern. Securities and Exchange Commission (SEC) mendefinisikan opinion shopping sebagai proses mencari auditor untuk mendukung perlakuan akuntansi yang direkomendasikan manajemen untuk memenuhi tujuan pelaporan perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Lestari. Purnamasari & Maemunah . menyatakan bahwa opinion shopping berpengaruh positif signifikan atas penerimaan opini audit going concern. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rabbani dan Zulaikha . yang menyatakan opinion shopping tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan opini audit going Manfaat teoritis penelitian ini adalah untuk memberikan informasi yang berguna dalam upaya pengembangan ilmu akuntansi di bidang audit yang berkaitan dengan hasil yang mempengaruhi opini audit going concern. Penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi serta motivasi kepada perusahaan supaya lebih mencermati kelangsungan hidup usahanya terkait dengan opini auditor dan mampu memberikan edukasi bagi para pengguna laporan keuangan Manfaat praktis penelitian ini adalah dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan khususnya bagi manajer yang berkaitan dengan manfaat ekonomi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk peneliti selanjutnya yang mengangkat topik serupa di masa yang akan datang. TINJAUAN TEORITIS Teori Agensi (Agency Theor. Jensen dan Meckling . menyatakan bahwa teori agensi berhubungan dengan keTaruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 tidaksesuaian antara kepentingan prinsipal dan agen. Kemudian teori ini dikembangkan oleh Eisenhardt . yang menyatakan bahwa ada tiga asumsi yang melandasi teori agensi, yaitu asumsi bahwa sifat manusia yang cenderung mementingkan diri sendiri . , daya pikir yang terbatas mengenai presepsi akan masa depan . ounded rationalit. , dan selalu menghindari terjadinya risiko . isk avers. Hubungan antara prinsipal dan agen dapat menimbulkan asimetri informasi. Prinsipal menginginkan suatu keputusan yang menghasilkan keuntungan yang besar, sedangkan agen menginginkan suatu imbalan pendapatan yang memadai dari pekerjaan yang telah dilakukan. Agen diberikan wewenang oleh prinsipal untuk menjalankan operasional perusahaan dalam menghasilkan laporan keuangan yang akan menunjukkan kondisi keuangan perusahaan dan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Agen yang dimaksud pada penelitian ini adalah auditor (Senjaya & Budiartha, 2. Teori Sinyal (Signaling Theor. Teori sinyal . ignaling theor. diperkenalkan pertama kali oleh Michael Spence . Teori sinyal merupakan isyarat atau sinyal dari pihak pengirim . dalam memberikan informasi yang relevan sehingga dapat dimanfaatkan oleh pihak penerima . Teori sinyal . ignaling theor. yang dikemukakan kembali oleh Ross . menjelaskan bahwa jika manajemen memiliki informasi yang lebih baik mengenai prospek perusahaan, manajemen akan termotivasi untuk menyampaikan informasi tersebut dengan harapan dapat mengurangi asimetri informasi antara agen . dan prinsipal . Opini Audit Going Concern Laporan audit dengan opini audit going concern merupakan indikasi bahwa dari penilaian auditor terdapat risiko perusahaan mengalami kebangkrutan atau tidak dapat melanjutkan usahanya. Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP), pasal 341 menyatakan bahwa jika auditor tidak yakin dengan kemampuan suatu perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu TEMA Tera Ilmu Akuntansi yang panjang, perusahaan harus melakukan evaluasi terhadap rencana manajemen. Peran auditor, seperti yang dijelaskan dalam SA 570 . ang berkaitan dengan konsep kelangsungan usah. , adalah untuk mengumpulkan bukti yang cukup dan sesuai untuk menentukan apakah manajemen telah menggunakan asumsi kelangsungan usaha secara tepat saat menyusun dan menyajikan laporan keuangan. Debt default Debt default didefinisikan sebagai kegagalan perusahan dalam membayar utang pokok dan atau bunganya pada waktu jatuh tempo (Puspaningsih & Analia, 2. Dalam International Auditing and Assurance Standards Board (IASB), menyatakan bahwa posisi kewajiban bersih merupakan salah satu peristiwa atau kondisi yang dapat menimbulkan keraguan besar terhadap asumsi kelangsungan usaha. Menurut Izazi & Arfianti . , telah ditunjukkan oleh Chen dan Church bahwa ada bisnis substansial antara penerimaan opini audit kelangsungan usaha dan status default utang bisnis, yang menunjukkan bahwa status default utang merupakan gejala kekhawatiran tentang kelangsungan bisnis bisnis. Financial distress Financial distress atau kesulitan keuangan merupakan kondisi suatu perusahaan yang sedang dalam kondisi tidak bisa menunaikan kewajiban keuangannya sesuai yang ditetapkan sebelumnya (Sudaryanti & Dinar, 2. Financial distress tercermin dari rasio keuangan yang dapat memberikan indikasi apakah perusahaan dalam kondisi baik . atau dalam kondisi bangkrut. Sehingga kondisi demikian ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya opini audit going concern salah satunya adalah kesulitan keuangan suatu entitas (Maheswara & Dwirandra, 2. Salah satu cara untuk mengetahui apakah suatu perusahaan mengalami kesulitan keuangan adalah dengan menggunakan model prediksi kebangkrutan Revisied Altman, yang disebut sebagai Z-Score. Taruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 Leverage Leverage merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Ukuran leverage diperoleh dengan membandingkan total utang dan total aset. Penerbitan opini audit going concern sangat erat kaitannya dengan leverage, yang artinya semakin tinggi rasio leverage suatu perusahaan, semakin banyak hutang yang dimiliki dan semakin besar kemungkinan perusahaan tidak dapat membayar hutangnya di masa mendatang. Leverage juga dapat digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk melunasi hutangnya melalui penjualan asetnya setelah semua aset tersebut habis digunakan. Opinion Shopping Opinion shopping merupakan proses mengidentifikasi auditor yang bersedia bekerja sama dengan perusahaan untuk memastikan bahwa pernyataan opini audit sesuai dengan keinginan dan tujuan perusahaan. Faktor-faktor yang menjadi motivasi manajemen untuk melakukan opinion shopping yaitu keinginan untuk mencapai target yang ditetapkan, serta untuk mempertahankan kelangsungan hidup Manajemen menginginkan laporan audit yang positif karena laporan audit yang negatif akan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk bertahan di pasar modal dan nilai return saham yang dimiliki. Kerangka Teoritis Kerangka teoritis adalah konsep yang menjelaskan dan mengungkapkan hubungan antara variabel dependen dan independen dengan teori yang mendasarinya. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah opini audit going concern. Dalam penelitian ini opini audit going concern dijelaskan dengan 4 . variabel independen yaitu Debt default. Financial distress, leverage, dan opinion shopping. Pada penelitian ini, teori agensi . gency theor. dan teori sinyal . ignalling theor. menjadi teori yang mendasari penelitian yang berkaitan dengan pentingnya ketepatan dalam pemberian opini audit going TEMA Tera Ilmu Akuntansi Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 Debt Default (X. Financial Distress (X. Opini Audit Going Concern (Y) Leverage (X. Opinion Shopping (X. Sumber: Diolah oleh peneliti, 2022 Gambar 1. Kerangka Teoritis PENGEMBANGAN HIPOTESIS Pengaruh Debt default terhadap Opini Audit Going concern Berdasarkan teori agensi, prinsipal menggunakan auditor untuk menilai kinerja agen. Dalam hal ini, auditor melakukan audit atas laporan keuangan perusahaan, khususnya pada aktivitas utang. Jika sebuah perusahaan memiliki hutang yang sangat besar, banyak dari arus kas perusahaan pasti dialokasikan untuk menutupi hutangnya. Penelitian Izazi dan Arfianti . menyatakan bahwa Debt default berpengaruh signifikan positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Hasil tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Helmayunita . yang menyatakan bahwa Debt default berpengaruh signifikan positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya status Debt default, semakin besar kemungkinan perusahaan akan menerima opini audit going Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis pertama penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H1: Debt default berpengaruh positif terhadap Opini Audit Going concern Pengaruh Financial distress terhadap Opini Audit Going concern Financial distress tercermin dari rasio keuangan yang dapat memberikan indikasi apakah perusahaan dalam kondisi baik . atau dalam kondisi bangkrut. Sehingga kondisi demikian ada beberapa faktor yang meTaruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya nyebabkan terjadinya opini audit going concern salah satunya adalah kesulitan keuangan suatu entitas (Maheswara & Dwirandra. Penelitian yang dilakukan oleh Tridevy dan Hariadi . memberi pengaruh dengan arah negatif terhadap opini audit going Hasil tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ritonga & Putri . yang menunjukkan bahwa kesehatan keuangan perusahaan meningkat dengan meningkatnya nilai Z-Score, menurunkan kemungkinan auditor mengeluarkan opini audit going concern. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis kedua penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H2: Financial distress berpengaruh negatif terhadap Opini Audit Going concern Pengaruh Leverage terhadap Opini Audit Going concern Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi menunjukkan bahwa sumber pendanaan perusahaan utama berasal dari pinjaman, sehingga manajemen memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk mengelola pembayaran utang dan bunga pinjaman yang dapat berdampak pada arus kas dan laba rugi Oleh karena itu, perusahaan sangat mungkin menerima opini audit going concern (Simamora & Hendarjatno, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Rabbani & Zulaikha . menghasilkan bahwa leverage memiliki pengaruh terhadap pengungkapan opini audit going concern. Hasil tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh TEMA Tera Ilmu Akuntansi Averio . yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap opini audit going concern. Temuan ini menunjukkan bahwa posisi keuangan jangka panjang perusahaan berdampak pada kemampuan auditor untuk memberikan penilaian kelangsungan Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis ketiga penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H3: Leverage berpengaruh positif terhadap Opini Audit Going concern Pengaruh Opinion Shopping terhadap Opini Audit Going concern Menurut Security Exchange Commission (SEC) salah satu cara yang dapat dilakukan manajemen untuk mendapatkan hal tersebut adalah dengan melakukan kegiatan mencari auditor . pinion shoppin. yang bersedia mendukung perlakuan akuntansi yang diberikan oleh manajemen untuk mencapai tujuan pelaporan perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Lestari. Purnamasari & Maemunah . menyatakan bahwa opinion shopping berpengaruh positif signifikan atas penerimaan opini audit going concern. Hasil tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Simamora dan Hendarjatno . Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan yang beralih auditor setelah menerima opini audit kelangsungan pada tahun sebelumnya memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk melakukannya pada tahun berikutnya. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis keempat penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H4: Opinion Shopping berpengaruh positif terhadap Opini Audit Going concern METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Menurut Sekaran & Bougie . penelitian kuantitatif adalah metode ilmiah yang datanya berbentuk angka-angka yang pada umumnya dikumpulkan melalui pertanyaan terstruktur. Dalam pendekatan ini, variabel dependen dan independen dibuat dengan melihat korelasi antara variabel yang diselidiki dan item yang diamati. Taruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 Populasi Penelitian Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan sektor pertambangan yang di terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode pengamatan mulai tahun 2018-2021. Teknik Pengambilan Sampel Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria-kriteria yang harus dipenuhi yaitu, pertama perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia berturutturut selama tahun 2018-2021. Kedua, perusahaan sektor pertambangan yang telah menerbitkan laporan keuangan audited yang dapat diakses selama periode pengamatan yakni tahun 2018-2021. Ketiga, perusahaan sektor pertambangan yang menerbitkan laporan keuangan dengan menggunakan mata uang rupiah pada tahun 2018-2021. Keempat, perusahaan sektor pertambangan yang mengalami laba bersih setelah pajak . et income after ta. yang negatif sekurang-kurangnya dua periode laporan keuangan dalam periode pengamatan tahun 2018-2021. Berdasarkan teknik tersebut, diperoleh 48 sampel penelitian yang memenuhi kriteria. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dokumentasi dengan mencari, mengumpulkan, mencatat, dan juga menganalisis data melalui dokumen berupa laporan dari perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Data yang akan digunakan berupa dokumen yaitu laporan keuangan audited perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2018-2021. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi logistik. Analisis regresi logistik terdiri dari uji kelayakan model regresi, uji keseluruhan model, uji koefisien determinasi dan matriks klasifikasi. Pengujian hipotesis yang digunakan yaitu, uji pengaruh simultan dan uji pengaruh parsial. Serta melakukan uji statistik deskriptif. Data yang diperoleh dianalisis deng- TEMA Tera Ilmu Akuntansi an menggunakan program aplikasi Statistical Package for Social Science (SPSS). HASIL DAN ANALISIS Analisis Statistik Deskriptif Menurut Ghozali . , statistik deskriptif yaitu teknik yang menggambarkan ataupun mendeskripsikan suatu data dengan melihat dari nilai minimum, maksimum, rata-rata . , dan standar deviasi. Nilai minimum merupakan nilai paling rendah dari variabel-variabel dalam suatu penelitian. Tabel 1. Hasil Uji Statistik Deskriptif Min Max Mean Std. Dev. OAGC 0,437 0,501 0,167 0,377 -21,9 9,70 -4,57 7,253 Lev 0,12 2,98 1,094 0,753 0,125 0,334 Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS . Hasil analisis statistik deskriptif terhadap variabel dependen opini audit going concern (Y) menunjukkan nilai rata-rata 0,437 dimana nilai tersebut lebih kecil (<) dari 0,50. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang menerima opini audit going concern lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern. Dari keseluruhan sampel penelitian yang berjumlah 48, sebanyak 21 sampel penelitian menerima opini audit going concern dan 27 sampel penelitian lainnya tidak menerima opini audit going concern. Nilai standar deviasi 0,5013 dimana nilai tersebut lebih besar dibandingkan nilai ratarata yaitu 0,437. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebaran data dari variabel opini audit going concern cukup besar. Hasil analisis statistik deskriptif terhadap variabel independen Debt default (X. menunjukkan nilai rata-rata 0,167 dimana nilai tersebut lebih kecil (<) dari 0,50. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dengan keadaan utang dalam kondisi default lebih sedikit jumlahnya dibandingkan peru- Taruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 sahaan dengan keadaan utang dalam kondisi tidak default. Dari total 48 sampel yang diteliti, sebanyak 8 sampel memiliki keadaan utang dalam kondisi default dan 40 sampel lainnya keadaan utang dalam kondisi tidak default. Nilai standar deviasi yaitu 0,3766 dimana nilai tersebut lebih besar dibandingkan nilai rata-rata yaitu 0,167. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebaran data dari variabel Debt default cukup besar. Hasil analisis statistik deskriptif terhadap variabel independen Financial distress (X. menunjukkan nilai rata-rata -4,56713 dengan nilai minimum -21,98618 yang berasal dari perusahaan Capitalinc Investment Tbk (MTFN) dan nilai maksimum 9,70447 dari perusahaan Mitra Investindo Tbk (MITI). Nilai standar deviasi yaitu 7,25260 dimana nilai tersebut lebih besar dibandingkan nilai ratarata yaitu -4,56713. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebaran data dari variabel Financial distress cukup besar. Selain itu, rata-rata nilai variabel Financial distress dari perusahaan sampel menunjukkan angka yang lebih kecil dari batas skor prediksi kebangkrutan menggunakan model Revisied Altman Z-Score yakni <1,21 yang menunjukkan bahwa banyak perusahaan sampel yang berada dalam kondisi bangkrut berdasarkan nilai Z-Scorenya. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata perusahaan sampel mengalami permasalahan keuangan sehingga mendapatkan nilai Z-Score yang rendah, dimana hal tersebut dapat mengancam keberlangsungan hidup usahanya. Hasil analisis statistik deskriptif terhadap variabel independen leverage (X. menunjukkan nilai rata-rata 1,094 dengan nilai minimum 0,115 yang berasal dari perusahaan Mitra Investment Tbk (MITI) dan nilai maksimum 2,982 dari perusahaan Capitalinc Investment Tbk (MTFN). Nilai standar deviasi yaitu 0,753 dimana nilai tersebut lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata yaitu 1,094. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebaran data dari variabel leverage cenderung kecil. Hasil analisis statistik deskriptif terhadap variabel independen opinion shopping (X. menunjukkan nilai rata-rata 0,125 dimana angka tersebut lebih kecil (<) dari 0,50. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan pergantian auditor lebih se7 TEMA Tera Ilmu Akuntansi dikit muncul dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan pergantian auditor. Dari total 48 sampel yang diteliti, sebanyak 6 sampel melakukan opinion shopping dan 42 lainnya tidak melakukan opinion shopping. Nilai standar deviasi yaitu 0,3342, nilai tersebut lebih besar dibandingkan nilai ratarata yaitu 0,125. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebaran data dari variabel opinion shopping cukup besar. Uji Kelayakan Model Regresi Uji kelayakan Hosmer dan Lemeshow digunakan untuk menguji hipotesis nol bahwa data empiris cocok dengan model . idak ada perbedaan antara model dan data berarti model fi. Tabel 2. Uji Kelayakan Model Regresi Step Chi-square Sig. 11,969 0,153 Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS . Hasil uji kelayakan model regresi pada Tabel 2 menunjukkan nilai Chi-square sebesar 11,969 dan nilai signifikansi sebesar 0,153. Karena nilai signifikansi . menunjukkan nilai yang lebih besar dari 0,05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan dapat memprediksi nilai observasi sehingga layak untuk diteliti lebih Dapat disimpulkan bahwa model dapat diterima. Uji Keseluruhan Model Uji menilai keseluruhan model . verall model fit tes. adalah serangkaian prosedur yang dilakukan untuk menilai keseluruhan model regresi. Dengan adanya penambahan variabel independen, data akan diuji apakah model tersebut layak atau tidak untuk digunakan. Estimasi kecocokan model secara keseluruhan untuk model penelitian ini dilakukan berdasarkan fungsi likelihood L. Hasil uji keseluruhan model pada Tabel 3 menunjukkan nilai -2 LogL awal . lock number = . sebesar 65,790. Kemudian setelah dimasukkan keempat variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini, nilai -2 Taruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 LogL akhir . lock number = . mengalami penurunan menjadi 31,977. Jika dikurangkan dengan nilai -2 LogL awal akan menghasilkan nilai negatif sebesar -33,813. Adanya penurunan nilai -2 LogL awal dengan nilai -2 LogL akhir menunjukkan bahwa model yang dihipotesiskan fit dengan data. Tabel 3. Hasil Uji Keseluruhan Model -2 LogL Nilai Awal (Block Number . 65,790 Akhir (Block Number . 31,977 Penurunan -2LL 33,813 Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS . Uji Koefisien Determinasi Uji koefisien determinasi bertujuan untuk menilai seberapa besar variabilitas variabel independen dapat menjelaskan variabilitas variabel dependen. Apabila nilai Nagelkerke R Square semakin mendekati 1 . , hasil regresi akan semakin baik yang menunjukkan bahwa keseluruhan variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen. Tabel 4. Koefisien Determinasi Step -2 Log Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square 31,977 0,506 0,678 Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS . Hasil uji koefisien determinasi pada Tabel 4 menunjukkan nilai 0,678. Hasil tersebut menunjukkan sebesar 67,8% variabilitas variabel dependen penelitian yakni opini audit going concern dipengaruhi oleh keempat variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini, yakni Debt default. Financial distress, leverage, dan opinion shopping sedangkan 32,2% sisanya dipengaruhi oleh variabel-variabel lain diluar model penelitian ini. Analisis Matriks Klasifikasi Analisis Matriks klasifikasi menunjukkan kemampuan prediksi dari model regresi guna mengestimasikan peluang perusahaan TEMA Tera Ilmu Akuntansi meneri-ma opini audit going concern. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk memperkirakan kemungkinan bahwa sampel akan menerima opini audit going concern atau tidak akan menerima opini audit going concern. Hasil uji matriks klasifikasi pada Tabel 5 menunjukkan ketepatan prediksi model re- Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 gresi terhadap kemungkinan perusahaan menerima opini audit going concern adalah sebesar 81%. Hasil tersebut menunjukkan terdapat 17 sampel penelitian yang menerima opini audit going concern dari total 21 sampel penelitian yang seharusnya menerima opini audit going concern. Tabel 5. Matriks Klasifikasi Predicted Observed Step 1 Opini Audit Opini Audit Going concern NGCAO GCAO Precentage Correct NGCAO GCAO Overall Percentage Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS . Ketepatan model regresi terhadap kemungkinan perusahaan tidak menerima opini audit going concern adalah sebesar 88,9%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat 24 sampel penelitian yang tidak menerima opini audit going concern dari total 27 sampel penelitian yang seharusnya tidak menerima opini audit going concern. Dapat disimpulkan bahwa secara umum model regresi dalam penelitian ini memiliki persentase ketepatan dalam memprediksi sebesar 85,4%. Hasil Uji Pengaruh Simultan Pada regresi logistik, melakukan uji signifikansi simultan dapat dilakukan dengan membandingkan alpha () sebesar 0,05 dengan tingkat signifikansi pada tabel Omnibus Tests of Model Coefficient. Jika nilai signifikansi lebih kecil atau sama dengan (O) 0,05, maka dapat dikatakan bahwa semua variabel independen dalam model berpengaruh signifikan secara bersama-sama . terhadap variabel dependennya. Hasil pengaruh simultan pada Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai signifikansi chisquare sebesar 0,000 lebih kecil (O ) dari nilai alpha () 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel independen yang terdapat dalam model penelitian ini, yaitu Debt default, shopping secara bersama-sama . Taruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen penelitian opini audit going concern. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima karena nilai signifikansi yang muncul lebih kecil (O ) dari 0,05. Tabel 6. Hasil Uji Pengaruh Simultan Chi-square Sig. Step 33,814 0,000 Block 33,814 0,000 Model 33,814 0,000 Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS . Hasil Uji Pengaruh Parsial Uji pengaruh parsial dilakukan dengan cara membandingkan masing-masing nilai signifikansi variabel pengujian hipotesis secara parsial dengan alpha () yang terdapat pada variables in the equation. Jika nilai signifikansi uji pengaruh parsial dalam tabel variables in the equation lebih kecil (<) dari 0,05, maka variabel independen secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Untuk mengetahui arah dari pengaruh variabel independen terhadap dependennya dapat dilihat pada nilai koefisiensi regresinya (). TEMA Tera Ilmu Akuntansi Tabel 7. Hasil Uji Pengaruh Parsial Sig. 21,612 0,999 -0,128 0,049 Lev 1,851 0,023 -0,410 0,782 Constant -3,383 0,001 Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS . Debt default Tidak Berpengaruh terhadap Opini Audit Going concern Hasil uji T terhadap variabel independen Debt default (X. menunjukkan bahwa variabel yang diukur menggunakan skala nominal menghasilkan koefisien regresi positif sebesar 21,612 dengan nilai signifikansi sebesar 0,999. Hasil tersebut menunjukkan nilai signifikansi lebih besar (>) dari 0,05 maka hipotesis pertama (H. dalam penelitian ditolak. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa variabel Debt default tidak berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Penelitian ini tidak dapat membuktikan hipotesis pertamanya yang menjelaskan jika perusahaan dalam keadaan utang dalam kondisi default dapat mempengaruhi penerimaan opini audit going Financial distress Berpengaruh Negatif terhadap Opini Audit Going concern Hasil uji T terhadap variabel independen Financial distress (X. yang dihitung menggunakan rumus Revisied Altman Z-Score memiliki koefisien regresi negatif sebesar -0,128 dengan nilai signifikansi sebesar 0,049. Hasil tersebut menunjukkan nilai signifikansi lebih kecil (<) dari 0,05 maka hipotesis kedua (H. dalam penelitian diterima. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa variabel Financial distress berpengaruh negatif secara substansial terhadap pemberian Opini audit going concern. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan perusahaan menerima Opini audit going concern meningkat dengan menurunnya nilai Z-Score yang diperoleh dengan menggunakan rumus Revisied Altman Z-Score dan menurun dengan meningkatnya nilai Z-Score. Taruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 khawatiran akan lebih kecil. Leverage Berpengaruh Positif terhadap Opini Audit Going concern Hasil uji T terhadap variabel independen leverage (X. yang dihitung menggunakan rumus debt to asset ratio (DAR) memiliki koefisien regresi positif sebesar 1,851 dengan nilai signifikansi sebesar 0,023. Hasil tersebut menunjukkan nilai signifikansi lebih kecil (<) dari 0,05 maka hipotesis ketiga (H. dalam penelitian diterima. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa variabel leverage berpengaruh secara signifikan dengan arah positif terhadap pemberian Opini audit going concern. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil rasio leverage perusahaan yang dihitung menggunakan debt to asset ratio (DAR), maka kemungkinan perusahaan menerima Opini audit going concern akan semakin kecil dan begitu juga sebaliknya, jika perusahaan memiliki debt to ratio (DAR) yang besar, maka kemungkinan perusahaan menerima Opini audit going concern akan semakin besar. Opinion Shoppings Tidak Berpengaruh terhadap Opini Audit Going concern Hasil uji T terhadap variabel independen opinion shopping (X. yang diukur menggunakan skala nominal menghasilkan koefisien regresi negatif sebesar -0,410 dengan nilai signifikansi sebesar 0,782. Hasil tersebut menunjukkan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka hipotesis keempat (H. dalam penelitian ditolak. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa variabel opinion shopping tidak berpengaruh secara signifikan dengan arah positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Penelitian ini tidak dapat membuktikan hipotesis keempatnya yang menjelaskan jika perusahaan melakukan pergantian auditor dapat mempengaruhi penerimaan opini audit going concern. PEMBAHASAN Pengaruh Debt default terhadap Opini Audit Going concern Hasil pengujian hipotesis terhadap variabel Debt default dalam penelitian ini diukur menggunakan variabel dummy. Pengukuran tersebut menggunakan kode 1 untuk perusa- TEMA Tera Ilmu Akuntansi haan sampel yang keadaan utang dalam kondisi default dan kode 0 untuk keadaan utang dalam kondisi tidak default. Hasil pengujian hipotesis penelitian ini menunjukkan bahwa Debt default tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern yang berarti hipotesis pertama (H. Hasil uji T menunjukkan bahwa kegagalan perusahaan dalam membayar utang pokok atau bunganya pada jatuh tempo tidak cukup berpengaruh pada penerimaan opini audit going Penelitian ini tidak dapat membuktikan hipotesis pertamanya yang menjelaskan jika perusahaan dalam keadaan utang dalam kondisi default dapat mempengaruhi penerimaan opini audit going concern. Hasil penelitian ini tidak mendukung teori yang disampaikan oleh Chen dan Church . yang menyatakan bahwa Debt default berpengaruh signifikan positif terhadap penerimaan opini audit going concern, adanya status Debt default akan memperbesar kemungkinan perusahaan menerima opini audit going concern. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ritonga & Putri . dan Lestari. Purnamasari & Maemunah . melakukan penelitian mengenai pengaruh Debt default terhadap penerimaan opini audit going concern yang menghasilkan bahwa Debt default tidak berpengaruh akan penerimaan opini audit going concern. Berbeda dengan pendapat dari Putri & Helmayunita . , dan Izazi & Arfianti . yang menyatakan bahwa Debt default berpengaruh signifikan positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Pengaruh Financial distress terhadap Opini Audit Going concern Hasil pengujian hipotesis terhadap variabel Financial distress dalam penelitian ini dihitung menggunakan model prediksi kebangkrutan Revisied Altman Z-Score. Pada model Altman, jika nilai Z-Score O 1,21 maka perusahaan diklasifikasikan dalam kondisi bangkrut . atau diprediksi akan bangkrut. Hasil uji T menunjukkan bahwa arah pengaruh dari variabel Financial distress terhadap pemberian opini audit going concern adalah negatif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua (H. Hal ini Taruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 menunjukkan bahwa kemungkinan perusahaan menerima opini audit going concern semakin menurun seiring dengan meningkatnya nilai Z-Score yang dimiliki perusahaan yang menunjukkan bahwa kesehatan keuangan perusahaan semakin baik. Sebaliknya, jika Z-Score rendah, maka perusahaan berpeluang lebih besar memperoleh opini audit going concern. Hasil penelitian ini mendukung teori yang disampaikan oleh Mutchler. Hopwood, & McKeown . yang menegaskan bahwa auditor hampir tidak pernah mengungkapkan kesimpulan audit going concern pada bisnis yang tidak dalam kesulitan keuangan . idak dalam zona . Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Ritonga & Putri . yang menggunakan model prediksi kebangkrutan Revisied Altman Z-Score untuk mengukur Financial distress memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap opini audit going concern. Berbeda dengan pendapat Septiana & Diana . dan Taufan dan Wenny . yang menyatakan bahwa Financial distress tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern. Pengaruh Leverage terhadap Opini Audit Going concern Hasil pengujian hipotesis terhadap variabel leverage dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus debt to asset ratio dengan membandingkan total liabilitas dan total aset yang dimiliki perusahaan. Nilai rasio leverage yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki peluang yang lebih tinggi menerima opini audit going concern. Begitu juga sebaliknya jika nilai rasio leverage yang kecil menunjukkan bahwa perusahaan memiliki peluang yang lebih rendah menerima opini audit going concern. Jika perusahaan tidak mampu melunasi kewajiban yang dimiliki, akan menimbulkan keraguan terkait dengan going concern, hal ini dapat mengindikasi keberlangsungan hidup perusahaan. Hasil uji koefisien parsial . menunjukkan arah positif pengaruh variabel leverage terhadap penerbitan opini audit going concern. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis ketiga (H. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai rasio leverage yang dimiliki perusahaan akan mengindikasi bahwa TEMA Tera Ilmu Akuntansi perusahaan memiliki resiko yang tinggi menerima opini audit going concern karena semakin besar aset perusahaan yang didanai oleh utang dibandingkan dari modal pemilik. Selain itu dapat juga menandakan jika nantinya perusahaan mengalami kebangkrutan, akan banyak kewajiban yang tidak dapat dilunasi walaupun sudah melikuidasi seluruh aset yang dimiliki saat sumber modal lainnya sudah Begitu juga sebaliknya, semakin rendah nilai rasio leverage yang dimiliki perusahaan akan mengindikasi bahwa perusahaan memiliki resiko yang lebih rendah menerima opini audit going concern karena semakin sedikit aset perusahaan yang didanai dari berhutang. Hasil penelitian ini membuktikan teori yang disampaikan oleh Chen & Church . yakni jika perusahaan memiliki jumlah kewajiban yang lebih besar dari asetnya bisa mengalami bahaya kebangkrutan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rabbani & Zulaikha . dan Septiana & Diana . menghasilkan bahwa leverage memberikan pengaruh terhadap pemberian opini audit going concern. Sedangkan penelitian oleh Hermanto & Minarso . memberikan hasil yang sebaliknya yaitu leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern. Pengaruh Opinion Shopping terhadap Opini Audit Going concern Hasil pengujian hipotesis terhadap variabel opinion shopping dalam penelitian ini diukur menggunakan variabel dummy. Pengukuran tersebut menggunakan kode 1 untuk perusahaan sampel yang melakukan pergantian auditor dan kode 0 untuk perusahaan yang tidak melakukan pergantian auditor. Hasil pengujian hipotesis penelitian ini menunjukkan bahwa opinion shopping tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern yang berarti hipotesis keempat (H. Hasil uji statistik t menunjukkan bahwa meskipun perusahaan menerima opini audit going concern, perusahaan tidak akan melakukan pergantian auditor. Hasil pengujian hipotesis terhadap variabel opinion shopping dalam penelitian ini diukur menggunakan variabel dummy. PenguTaruli Risa Kornelia Sihombing. Mirna Amirya Volume 24 Nomor 1 Tahun 2023 kuran tersebut menggunakan kode 1 untuk perusahaan sampel yang melakukan pergantian auditor dan kode 0 untuk perusahaan yang tidak melakukan pergantian auditor. Hasil pengujian hipotesis penelitian ini menunjukkan bahwa opinion shopping tidak berpengaruh terhadap penerimaan Opini audit going concern yang berarti hipotesis keempat (H. Hasil uji T menunjukkan bahwa meskipun perusahaan menerima opini audit going concern, perusahaan tidak akan melakukan pergantian auditor. Hasil penelitian ini tidak mendukung teori yang disampaikan oleh Teoh . yang menyatakan bahwa manajemen dapat mengancam auditor independen untuk melakukan pergantian auditor apabila, auditor mengeluarkan opini audit going concern, sehingga auditor akhirnya mengeluarkan opini audit non going concern untuk mempertahankan Hasil tidak signifikan dalam penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Izazi & Arfianti . yang menyatakan opinion shopping tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan opini audit going concern. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Hasil uji pengaruh secara simultan menunjukkan Debt default. Financial distress, leverage, dan opinion shopping secara bersama-sama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen penelitian yang terdapat pada model penelitian ini, yaitu opini audit going concern. Hasil uji pengaruh secara parsial menunjukkan variabel Financial distress berpengaruh signifikan negatif terhadap opini audit going concern dan variabel leverage berpengaruh signifikan positif terhadap opini audit going concern. Sedangkan variabel Debt default dan opinion shopping tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern. Saran Penelitian selanjutnya diharapkan menambahkan periode pengamatan dengan mengamati jangka tahun yang lebih panjang sehingga kecenderungan pemberian opini audit going concern dalam jangka panjang dapat TEMA Tera Ilmu Akuntansi dianalisis dan menambahkan faktor-faktor lain diluar Debt default. Financial distress, leverage, dan opinion shopping yang diperkirakan dapat mempengaruhi pemberian opini audit going concern. IMPLIKASI Penelitian ini memberikan implikasi secara teoritis terhadap teori agensi dalam hal pengambilan keputusan oleh prinsipal terhadap kinerja agen sehingga dapat meminimalkan asimetri informasi. Selain itu, diharapkan juga dapat memberikan kontribusi terhadap teori sinyal dalam hal pemberian sinyal-sinyal oleh auditor kepada prinsipal yang berkaitan dengan kelangsungan hidup perusahaan. Selain itu, penelitian ini memberikan implikasi secara praktis terhadap perusahaan pertambangan yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia dalam hal penerimaan opini audit going concern. Perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan dapat lebih memperhatikan faktorAefaktor yang mempengaruhi pemberian opini audit going concern. KETERBATASAN PENELITIAN Keterbatasan penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia yang tersedia dan dapat diakses terbatas hanya dalam rentang waktu tertentu sehingga peneliti kesulitan mendapatkan data diluar dari rentang waktu tersebut. Selain itu, variabel yang digunakan dalam penelitian ini masih terbatas yaitu Debt Financial distress, leverage dan opinion shopping sehingga hasil belum mampu memprediksi kemungkinan pemberian opini audit going concern dalam lingkup yang lebih DAFTAR PUSTAKA