Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 KAJIAN ETHNICHEMISTRY DALAM PEMBELAJARAN KIMIA MELALUI INTEGRASI BUDAYA MENYIRIH PADA MATERI GUGUS FUNGSI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SAINTIFIK Ika Kartikasari 1. Bambang Hariyadi*2. Zurweni3. Haryanto4 1Prodi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Program Doktor Universitas Jambi. Indonesia 2Program Studi Biologi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Jambi. Indonesia 3Program Studi Teknologi Pendidikan. Universitas Jambi. Indonesia 2Program Studi Pendidikan Kimia. Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan. Universitas Jambi. Indonesia e-mail: 1Ika. kartikasari52@admin. id, 2bambang_h@unja. id 3Zurweni. noni@unja. 4Haryanto. fkip@unja. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan pendekatan ethnichemistry dalam pembelajaran kimia melalui integrasi budaya menyirih pada materi gugus fungsi dengan menggunakan pendekatan saintifik. Budaya menyirih yang melibatkan bahan seperti daun sirih (Piper betl. , buah pinang (Areca catech. , dan kapur sirih . alsium hidroksid. diketahui mengandung berbagai senyawa kimia aktif, termasuk alkaloid, fenol, ester, dan alkohol. Pendekatan saintifik memungkinkan siswa untuk mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan hasil analisis terhadap bahan-bahan tersebut, sehingga mereka dapat memahami konsep gugus fungsi dalam konteks budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dan observasi partisipatif terhadap praktik budaya menyirih di masyarakat Jambi. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran kimia dapat meningkatkan pemahaman konsep, minat belajar, serta kesadaran budaya siswa. Pendekatan ethnichemistry terbukti efektif dalam menciptakan pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Oleh karena itu, penerapan model pembelajaran berbasis budaya lokal melalui pendekatan saintifik direkomendasikan sebagai alternatif inovatif dalam pembelajaran kimia. Kata Kunci: Ethnichemistry. Budaya Menyirih. Pendekatan Saintifik. Gugus Fungsi. Pembelajaran Kimia Kontekstual ABSTRACT This study aims to examine the application of the ethnochemistry approach in chemistry learning through the integration of betel chewing culture in functional group material using a scientific approach. The betel chewing culture involving materials such as betel leaves (Piper betl. , areca nut (Areca catech. , and betel lime . alcium hydroxid. is known to contain various active chemical compounds, including alkaloids, phenols, esters, and The scientific approach allows students to observe, ask, try, reason, and communicate the results of the analysis of these materials, so that they can understand the concept of functional groups in the context of local This study uses a descriptive qualitative method with a literature study approach and participatory observation of the practice of betel chewing culture in the community. The results of the study show that the integration of local culture in chemistry learning can improve students' conceptual understanding, learning interest, and cultural awareness. The ethnochemistry approach has proven effective in creating contextual, meaningful, and relevant learning to students' daily lives. Therefore, the application of a local culture-based learning model through a scientific approach is recommended as an innovative alternative in chemistry learning. Keywords: Ethnichemistry, betel chewing culture, scientific approach, functional groups, contextual chemistry learning. Keywords: Ethnichemistry. Betel Chewing Culture. Scientific Approach. Functional Groups. Contextual Chemistry Learning Pendahuluan Ethnichemistry merupakan pendekatan pembelajaran kimia yang mengintegrasikan unsur budaya lokal dalam materi ajar, bertujuan kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan mengaitkan konsep kimia dengan praktik budaya, seperti tradisi menyirih, siswa dapat memahami materi kimia melalui pengalaman yang dekat dengan lingkungan mereka. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep kimia, tetapi juga memperkuat identitas budaya siswa. Sebagaimana dijelaskan oleh (Munandar et al. integrasi etnokimia dalam pembelajaran kimia dapat memberdayakan siswa untuk mengeksplorasi identitas budaya mereka dan mengembangkan kesadaran budaya dalam menghargai perbedaan. Dengan demikian, pendekatan ethnichemistry berperan penting dalam menciptakan pembelajaran kimia yang bermakna dan inklusif, serta mendorong siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan kimia dalam konteks budaya mereka sendiri. Budaya menyirih yang dikenal luas di masyarakat Indonesia mengandung berbagai aspek kimia, terutama dalam konteks senyawa dan gugus fungsi. Dalam praktik menyirih, https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 185 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 bahan-bahan seperti daun sirih (Piper betl. , buah pinang (Areca catech. , dan kapur sirih . alsium bersamaan, menciptakan interaksi kimia yang Penelitian metabolomik terhadap komposisi kimia bahan menyirih dari berbagai daerah di Indonesia mengungkapkan bahwa terdapat 92 senyawa fitokimia, termasuk alkaloid, benzenoid, terpen, asam, aldehida, alkohol, dan ester. Salah satu senyawa utama yang ditemukan adalah arekolin, sebuah alkaloid yang dominan dalam buah pinang dan memiliki gugus fungsi ester, yang diketahui dapat melintasi sawar darah-otak dan berpotensi toksik. Selain itu, senyawa benzenoid seperti safrol dan eugenol ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada infloresensi daun sirih dari Papua Barat, komposisi kimia bahan menyirih. Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan saintifik dalam memahami interaksi kimia dalam budaya menyirih, yang dapat memberikan wawasan baru dalam pembelajaran kimia berbasis budaya lokal. Gambar budaya menyirih masyarakat Jambi sebagai berikut: proses belajar. Seperti yang dikemukakan oleh (Net & Wahyudiati, 2. , "pembelajaran sains menjadi proses enkulturasi, bukan sekadar penemuan, di mana siswa diajak untuk memahami sains sebagai cara mengetahui yang dipengaruhi oleh budaya". Dengan menggabungkan konteks budaya lokal, seperti pengalaman belajar siswa dan membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep kimia. Materi gugus fungsi dalam kimia dapat komponen kimia yang terdapat dalam bahanbahan menyirih seperti daun sirih, pinang, dan Daun sirih (Piper betl. mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti eugenol, chavicol, dan hidroksichavikol yang memiliki gugus fungsi fenolik dan eter, yang berkontribusi terhadap sifat antiseptik dan Sementara itu, buah pinang (Areca catech. kaya akan alkaloid seperti arekolin dan arekadin, serta flavonoid seperti katekin dan quersetin, yang mengandung gugus fungsi amina dan hidroksil . Kapur sirih . alsium hidroksid. berperan sebagai basa kuat yang dapat memengaruhi reaksi kimia selama proses mengunyah sirih. Pendekatan memungkinkan siswa untuk mengidentifikasi dan memahami gugus fungsi kimia dalam koneks budaya lokal, sehingga meningkatkan relevansi dan pemahaman materi kimia (Johannes et al. , 2. Penggunaan pembelajaran kimia dapat meningkatkan minat belajar siswa serta memperkuat pemahaman konsep melalui pengalaman kontekstual. Integrasi budaya lokal dalam pembelajaran kimia tidak hanya memperkaya materi ajar, tetapi juga meningkatkan minat belajar siswa dengan mengaitkan konsep kimia pada kehidupan sehari-hari mereka. Pendekatan etnokimia, yang menggabungkan praktik memungkinkan siswa untuk memahami materi secara lebih mendalam dan relevan. Misalnya, dalam studi oleh Ananta Ardyansyah, integrasi praktik budaya Rote Ndao seperti pembuatan gula Rote dan sopi ke dalam kurikulum kimia berhasil meningkatkan keterlibatan siswa dan Dengan menghubungkan praktik budaya lokal dengan konsep kimia seperti fermentasi dan interaksi partikel, siswa dapat memahami materi kimia secara lebih kontekstual dan bermakna. Pendekatan pengembangan model pendidikan yang Gambar 1. Budaya Menyirih Masyarakat Jambi (Daun Sirih. Pinang. Kapur dan Lain-Lai. Pendekatan saintifik dalam pembelajaran memungkinkan siswa untuk mengamati, mengkomunikasikan hasil kajiannya terhadap Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep kimia secara teoritis, tetapi juga mengaitkannya dengan praktik budaya lokal yang kaya akan nilai-nilai kimiawi. Sebagai contoh, dalam budaya menyirih, terdapat berbagai bahan seperti daun sirih, pinang, dan kapur yang masing-masing mengandung senyawa kimia dengan gugus fungsi tertentu. Dengan mengamati dan menganalisis bahanbahan tersebut, siswa dapat mengidentifikasi gugus fungsi yang relevan, seperti fenol pada daun sirih atau alkaloid pada buah pinang, sehingga pembelajaran kimia menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Pendekatan ini pembelajaran sains harus mengintegrasikan pengalaman budaya siswa untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan mereka dalam https://ejournal. id/index. php/mp | 186 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 berkelanjutan dan dapat disesuaikan dengan komunitas lain yang menghadapi tantangan serupa dalam pendidikan. Kajian mengembangkan pembelajaran kimia berbasis budaya melalui pendekatan saintifik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan mengintegrasikan budaya lokal, seperti tradisi menyirih, ke dalam materi kimia, khususnya pada topik gugus fungsi, siswa dapat memahami konsep kimia secara lebih kontekstual dan bermakna. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep kimia, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap kearifan lokal dan budaya bangsa. Sebagaimana dikemukakan oleh (Trindade et , 2. pembelajaran kimia berbasis etnosains mampu memecahkan isolasi antara pengetahuan/konsep kimia yang dipelajari di kelas dengan fenomena yang ada di pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual. Dengan demikian, pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi kimia siswa serta memperkuat identitas budaya mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan pembelajaran kimia melalui integrasi budaya menyirih pada materi gugus fungsi dengan menggunakan pendekatan saintifik. mengomunikasikan, yang dihubungkan dengan unsur-unsur bahan-bahan menyirih seperti daun sirih, kapur, dan pinang. Melalui metode ini, diharapkan diperoleh gambaran mengenai bagaimana budaya lokal dapat menjadi sumber belajar kontekstual yang memperkuat pemahaman konsep kimia, khususnya pada materi gugus fungsi. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam kajian Ethnichemistry terhadap budaya menyirih melalui pendekatan saintifik pada materi gugus fungsi ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan integrasi nilai-nilai budaya lokal, khususnya praktik menyirih dalam masyarakat, ke dalam pembelajaran kimia pada materi gugus fungsi dengan memanfaatkan pendekatan saintifik. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik jenjang kelas XI SMA Negeri 13 Jambi yang sedang mempelajari materi kimia organic yang berjumlah 47 siswa, khususnya gugus fungsi, serta 2 orang guru kimia yang terlibat dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis budaya. Peran guru adalah 1 guru sebagain peneliti dan 1 guru lagi sebagai observer. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi kegiatan pembelajaran, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi terhadap sumber-sumber budaya lokal terkait praktik Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pendekatan saintifik yang digunakan dalam pembelajaran mencakup kegiatan mengamati. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan pendekatan ethnichemistry dalam pembelajaran kimia melalui integrasi budaya menyirih pada materi gugus fungsi dengan Ethnichemistry, sebagai cabang ilmu yang mengkaji keterkaitan antara kimia dan budaya lokal, memberikan wawasan yang unik dalam memadukan pengetahuan ilmiah dengan praktik budaya tradisional. Budaya menyirih, yang merupakan tradisi mengunyah daun sirih yang sering kali disertai dengan bahan lain seperti gambir, kapur, dan rempah-rempah, mengandung kandungan kimia yang menarik untuk ditelaah lebih dalam. Dalam penelitian ini, menganalisis komponen kimia dalam bahanbahan yang digunakan dalam menyirih serta hubungannya dengan konsep-konsep kimia, seperti gugus fungsi. Penggunaan pendekatan mengidentifikasi dan memahami reaksi kimia yang terjadi dalam budaya ini secara lebih terstruktur dan ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan konsep kimia dengan budaya lokal dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi gugus fungsi, serta menumbuhkan rasa bangga dan apresiasi terhadap budaya lokal. Selain itu, pendekatan ini juga dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, karena mereka dapat melihat hubungan langsung antara teori kimia dengan kehidupan seharihari mereka. Secara keseluruhan, kajian ini memperlihatkan potensi besar dari integrasi antara ilmu pengetahuan dan budaya dalam pendekatan yang lebih kontekstual dan relevan bagi siswa. Keterkaitan Konsep Gugus Fungsi dengan Budaya Menyirih Budaya Indonesia melibatkan bahan-bahan alami seperti daun sirih (Piper betl. , biji pinang (Areca catech. , dan kapur sirih . alsium Masing-masing komponen ini mengandung senyawa kimia yang kaya https://ejournal. id/index. php/mp | 187 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 akan gugus fungsi tertentu, menjadikannya relevan untuk dipelajari dalam konteks Analisis mengandung senyawa fenolik seperti eugenol dan chavicol yang memiliki gugus fungsi hidroksil (-OH) dan eter (C-O-C). Biji pinang mengandung alkaloid seperti arekolin yang memiliki gugus ester dan amina, sedangkan kapur sirih bersifat basa kuat yang dapat berinteraksi dengan senyawa asam atau fenolik. Keterkaitan antara budaya menyirih dan konsep gugus fungsi memberikan dasar kontekstual yang kuat untuk pembelajaran kimia, karena siswa dapat melihat langsung aplikasi dari teori dalam kehidupan nyata dan budaya Hal ini sejalan dengan konsep integrasi budaya dengan sains untuk membangun makna kimia yang relevan dan bermakna secara sosial. yang terkandung dalam bahan dengan jenis gugus fungsi . isalnya, eugenol dari daun sirih mengandung gugus feno. Menalar : Siswa menganalisis peran gugus fungsi dalam sifat kimia bahan menyirih, seperti sifat antiseptik fenol dalam daun sirih. Proses ini mendorong pemahaman konseptual melalui analogi budaya yang sudah . Mengomunikasikan Siswa mempresentasikan hasil analisis dalam bentuk poster atau slide Mereka keterkaitan budaya menyirih dengan konsep kimia, khususnya struktur dan sifat senyawa organik. R Ai C Ai O Ai R' Gambar 2. Gugus ester R2N CAiR NR2 Gambar 3. Gugus aminal Implementasi Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Berbasis Budaya Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dalam tiga pertemuan dengan tahapan pendekatan saintifik, yaitu: mengamati, data/informasi, mengomunikasikan, yang terintegrasi dengan konteks budaya lokal menyirih. Mengamati : Siswa diperlihatkan bahan-bahan menyirih . aun sirih, kapur, pinan. dan diajak mengamati ciri fisik serta mencium aroma bahanbahan tersebut. Guru mengaitkan pengamatan dengan kemungkinan adanya senyawa gugus fungsi. Menanya . Siswa secara aktif mengajukan pertanyaan seperti: AuZat apa yang membuat daun sirih beraroma khas?Ay atau AuApa fungsi kapur dalam proses menyirih?Ay Pertanyaan-pertanyaan mengarahkan pada identifikasi gugus fungsi seperti fenol, alkohol, dan . Mengumpulkan Data : Melalui diskusi kelompok dan kajian literatur, siswa menelusuri struktur kimia senyawa Respons Siswa terhadap Pembelajaran Berdasarkan angket dan observasi, respons siswa terhadap pembelajaran menunjukkan bahwa: 87% siswa merasa lebih mudah memahami materi gugus fungsi karena dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. 76% siswa menyatakan lebih aktif berdiskusi dan bertanya selama pembelajaran berlangsung. 81% siswa menunjukkan peningkatan skor pada tes formatif setelah pembelajaran berlangsung. Hasil Tes dan Aktivitas Belajar Peningkatan pemahaman konsep gugus fungsi teridentifikasi melalui hasil tes pretest dan posttest. Rata-rata nilai pretest adalah 62, sedangkan posttest meningkat menjadi 82. Peningkatan ini mendukung pemahaman konsep abstrak dalam kimia. Respons Siswa terhadap Pembelajaran Ethnichemistry Hasil angket dan wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memberikan respons positif terhadap pembelajaran berbasis ethnichemistry. Siswa merasa lebih mudah memahami konsep abstrak seperti gugus fungsi karena dikaitkan dengan fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan budaya lokal. Mereka juga merasa dihargai karena budaya daerah mereka dijadikan sebagai bahan ajar yang bermakna, bukan sekadar cerita tradisional. Selain itu, https://ejournal. id/index. php/mp | 188 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 pembelajaran ini mendorong rasa ingin tahu ilmiah. Siswa lebih aktif dalam berdiskusi dan eksplorasi bahan-bahan alami di sekitar mereka. Secara kuantitatif, terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan afektif. Analisis data pretest dan posttest menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep gugus fungsi. Beberapa siswa menyatakan bahwa pendekatan ini mengubah cara pandang mereka terhadap kimia, dari pelajaran hafalan menjadi ilmu yang hidup dan relevan. Disini dapat dilihat dari hasil penelitian pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai berikut: karena tidak terlepas dari identitas lokal mereka. Hal ini juga memunculkan sikap positif terhadap sains karena kimia tidak lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang kering dan sulit, melainkan sebagai ilmu yang dekat dan hidup dalam budaya . Kognitif: Meningkatnya Pemahaman Konsep Banyak siswa menunjukkan respons pembelajaran Ethnichemistry: Mengaitkan konsep kimia dengan kehidupan nyata, seperti proses menyirih, pewarnaan alami, atau . Membantu siswa memahami materi abstrak, seperti struktur senyawa atau reaksi kimia, karena dijelaskan melalui aktivitas atau benda yang familiar bagi mereka. Siswa lebih mudah membangun skema pengetahuan baru, karena pengalaman sehari-hari. Contoh: Ketika siswa mempelajari gugus fungsi dalam senyawa organik melalui kajian bahan penyirih . aun sirih, gambir, kapu. , mereka bisa mengaitkan kandungan zat kimia seperti tanin, flavonoid, atau alkaloid dengan manfaat kesehatan yang dikenal secara turuntemurun. Afektif: Meningkatnya Rasa Ingin Tahu dan Kebanggaan Budaya Dalam ranah afektif, siswa merespons dengan antusias terhadap pembelajaran Ethnichemistry karena: Mereka merasa bangga terhadap budaya sendiri yang dijadikan sumber pembelajaran. Timbul rasa ingin tahu untuk mengeksplorasi lebih jauh unsurunsur kimia dalam praktik budaya . Pembelajaran menyenangkan dan bermakna . Psikomotorik: Terlibat Aktif dalam Eksperimen Kontekstual Siswa juga menunjukkan respons aktif eksplorasi berbasis budaya, seperti: Mengamati atau membuat ekstrak zat warna dari tanaman lokal. Menganalisis reaksi kimia yang terjadi dalam proses fermentasi atau pembakaran tradisional. Melakukan berdasarkan sumber bahan alami yang mereka kenal. Kegiatan semacam ini meningkatkan keterampilan proses sains, seperti observasi, klasifikasi, dan interpretasi Selain itu, pendekatan kontekstual ini mendorong pembelajaran yang berbasis inkuiri dan kolaboratif. Respons Relevansi Pembelajaran Siswa juga menilai bahwa pembelajaran Ethnichemistry: Lebih relevan dengan kehidupan mereka, terutama yang tinggal di daerah dengan kekayaan budaya . Meningkatkan apresiasi terhadap sains dan budaya lokal, yang selama ini dianggap terpisah. Mendorong mereka untuk berpikir praktik-praktik mempertanyakan keamanan atau efektivitas bahan alami tertentu. Tantangan dalam Respons Siswa Meskipun banyak menunjukkan respons positif, ada juga tantangan yang muncul, . Beberapa siswa belum terbiasa dengan integrasi budaya dan sains, menyesuaikan diri. Jika tidak difasilitasi dengan baik, konsep kimia bisa disalah pahami karena terlalu fokus pada aspek budaya tanpa penjelasan ilmiah yang cukup. https://ejournal. id/index. php/mp | 189 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 . Perbedaan latar budaya siswa konteks yang diangkat. difasilitasi dengan baik, konsep kimia dapat disalahpahami karena terlalu fokus pada aspek budaya tanpa penjelasan ilmiah yang cukup. Studi oleh (Trindade et al. , 2. juga mencatat bahwa perbedaan latar budaya siswa dapat memengaruhi tingkat ketertarikan mereka terhadap konteks yang diangkat. Oleh karena mempertimbangkan keragaman budaya siswa dalam merancang pembelajaran. PEMBAHASAN Integrasi pembelajaran kimia melalui pendekatan ethnichemistry memberikan konteks yang bermakna bagi siswa. Dalam budaya menyirih, bahan-bahan seperti daun sirih, pinang, dan kapur mengandung senyawa kimia dengan gugus fungsi tertentu, seperti fenol, ester, dan Penggunaan konteks ini memfasilitasi pemahaman siswa terhadap konsep abstrak dalam kimia organik. (Sutrisno et al. , 2. menekankan bahwa integrasi kearifan lokal dalam kurikulum kimia dapat meningkatkan pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa. Studi penggunaan praktik budaya lokal sebagai sumber belajar kimia memperkuat relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan saintifik yang terdiri dari tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan data, menalar, dan mengomunikasikan, terbukti efektif dalam pembelajaran kimia berbasis budaya. Siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran karena mereka dapat mengaitkan konsep kimia dengan praktik budaya yang familiar. (Anggraeni et al. , 2. dalam tinjauan sistematisnya menemukan bahwa pembelajaran kimia berbasis konteks memiliki dampak positif pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Mereka meningkatkan hasil belajar dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran kimia. Respons siswa terhadap pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal sangat Mereka merasa lebih mudah memahami materi karena dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan budaya mereka sendiri. Selain itu, pembelajaran ini meningkatkan rasa bangga terhadap budaya lokal dan mendorong rasa ingin tahu ilmiah (Rahmawati et al. , 2. Dalam studi longitudinal mereka menunjukkan pengajaran kimia meningkatkan identitas budaya siswa dan keterlibatan mereka dalam Pendekatan memperkuat hubungan antara sains dan budaya dalam konteks Pendidikan (Munandar et al. , 2. Meskipun banyak manfaat, implementasi pembelajaran berbasis budaya menghadapi beberapa tantangan. Beberapa siswa mungkin belum terbiasa dengan integrasi budaya dan sains, sehingga memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri. Selain itu, jika tidak KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kimia berbasis budaya melalui kajian ethnichemistry khususnya dengan konteks budaya menyirih mampu memberikan dampak positif terhadap pemahaman konsep gugus fungsi, serta meningkatkan keterlibatan dan sikap siswa terhadap pembelajaran kimia. Beberapa poin kesimpulan utama sebagai berikut: Integrasi budaya menyirih dalam pembelajaran kimia memberikan konteks konkret bagi siswa dalam memahami gugus Senyawa aktif dalam bahan penyirih seperti eugenol, arekolin, dan tanin, terbukti relevan untuk dipelajari dalam konsep kimia organik, sehingga memperkaya pembelajaran dengan makna sosial dan budaya yang dekat dengan kehidupan siswa. Pendekatan saintifik yang terdiri dari tahap mengamati, menanya, mengomunikasikan berhasil diterapkan secara Setiap pembelajaran memfasilitasi pengem-bangan keterampilan berpikir ilmiah siswa dan mendorong pemahaman konsep kimia secara lebih aktif dan bermakna. Pembelajaran meningkatkan aspek kognitif siswa terbukti dari peningkatan nilai pretest ke posttest tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Siswa menunjukkan rasa ingin tahu, kebanggaan terhadap budaya lokal, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan ini menjadikan kimia sebagai ilmu yang tidak terlepas dari realitas sosial dan budaya siswa. Pendekatan ini dinilai relevan karena menghubungkan teori dengan praktik budaya yang nyata, namun memerlukan perencanaan yang cermat agar tidak terjadi bias budaya atau kesalah pahaman ilmiah. Diperlukan panduan dan penguatan konsep yang seimbang antara sains dan budaya agar pembelajaran tetap ilmiah dan inklusif bagi semua latar belakang DAFTAR PUSTAKA