Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 4 Nomor 1 Juni 2021 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 esember-ISSN 2622 Ae 0105 | e-ISSN 2716-1196 AIRMAN Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Alarm pada Clearance Executive Monitor Instrument Landing System (ILS) Glide Path 36 PERUM LPPNPI Kantor Cabang Manado Alarm on Clearance Executive Monitor Instrument Landing System (ILS) Glide Path 36 PERUM LPPNPI Manado Branch Office Adhitya Octavianie1. Muh. Ichsan2 adhityaoctavianie@gmail. com, ichsan1809@gmail. Politeknik Penerbangan Makassar ABSTRAK Peralatan ILS merupakan salah satu alat bantu navigasi pendaratan menggunakan gelombang radio secara instrument . on visua. yang digunakan penerbang dalam melakukan prosedur pendekatan dan pendaratan pesawat di suatu bandara. permasalahan yaitu pada Instrument Landing System (ILS) di peralatan Glide Path (GP) di Runway 36. Glide Path terdapat monitor yang berfungsi untuk memonitor sinyal yang akan dipancarkan oleh antena, sinyal yang akan dimonitor diproses oleh modul detector, terdapat 3 buah detector diantaranya COURSE CSB detector. COURSE SBO detector dan CLEARANCE Sinyal yang berasal dari antena akan di deteksi . oleh masing-masing detector kemudian diteruskan ke modul monitor untuk diproses dan hasilnya ditampilkan pada monitor PMDT (Portable Maintenance Data Termina. Ketika nilai pembacaan monitor melewati batas dari nilai toleransi yang telah ditetapkan maka akan terjadi pre alarm /alarm. Hasil penelitian diperoleh modul Clearance detector pada panel box monitoring combining network yang terhubung ke pembacaan monitor sudah rusak sehingga melakukan pengantian modul detector dan mengatur ulang selector-selector pada panel box sekaligus melakukan kalibrasi dan normalisasi. Langkah tersebut sebagai langkah penyelesaian Kata kunci: instrument landing system GP 36. clearance detector ABSTRACT ILS equipment is one of the landing navigational aids using radio waves as an instrument . which is used by pilots in carrying out aircraft approach and landing procedures at an airport. The problem is the Instrument Landing System (ILS) on the Glide Path (GP) equipment on Runway 36. Glide Path has a monitor that functions to monitor the signal to be emitted by the antenna, the signal to be monitored is processed by the detector module, there are 3 detectors including COURSE CSB detector. COURSE SBO detector and CLEARANCE detector. The signal coming from the antenna will be detected . by each detector and then forwarded to the monitor module for processing and the results are displayed on the PMDT (Portable Maintenance Data Termina. When the value of the monitor reading exceeds the limit of the tolerance value that has been set, a pre-alarm / alarm will occur. The results obtained that the Clearance detector module on the panel box monitoring combining network connected to the monitor reading was damaged, so replacing the detector module and resetting the selectors on the panel box as well as calibrating and normalizing are the problem solving steps. Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 4 Nomor 1 Juni 2021 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 esember-ISSN 2622 Ae 0105 | e-ISSN 2716-1196 Keywords: instrument landing system GP 36. clearance detector PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan zaman yang sangat pesat maka transportasi dan teknologi dituntut agar lebih efisien, canggih, nyaman dan Indonesia termasuk salah satu Negara yang memiliki berbagai macam bentuk alat transportasi yakni di sektor darat, laut, maupun udara. Perbaikan di berbagai sektor perlu diupayakan terutama di sektor udara karena sektor udara memberikan manfaat dan keuntungan bagi masyarakat dalam hal efisiensi waktu, sehingga perjalanan dengan jarak yang jauh dapat ditempuh dengan waktu yang relatif singkat dan dengan tingkat keamanan yang lebih terjamin, karena perawatan terhadap kondisi kelayakan peralatan navigasi dan telekomunikasi udara menjadikan keselamatan dan kenyamanan bagi penumpang sebagai prioritas utama. Perum Lembaga Penyelengara Pelayanan Navigasi penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau Airnav Indonesia merupakan badan usaha yang penerbangan di Indonesia yang mempunyai visi dan misi menjadi Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Internasional yang mengedepankan keselamatan, keteraturan dan kenyamanan. Perum LPPNPI memiliki cabang yang tersebar di seluruh Indonesia termasuk salah satunya Cabang Manado. Perum LPPNPI Cabang Manado memiliki beberapa peralatan Navigasi dan Telekomunikasi Penerbangan diantaranya. DVOR (Doppler Very High Frequency Omnidirectional Rang. ILS (Instrument Landing Syste. NDB (Non Directional Beaco. DME (Distance Measurment Equipmen. MSSR (Monopulse Secondary Surveillance Rada. ADS-B (Automatic Dependent Surveillance Ae Broadcas. AMSC (Automatic Massege Switching Cente. Radio Komunikasi VHF. ATIS (Aerodrome Terminal Information Servic. Recorder. VSAT (Very Small Aperture Termina. Peralatan ILS merupakan salah satu alat bantu navigasi pendaratan menggunakan gelombang radio secara instrument . on-visua. yang digunakan penerbang dalam melakukan prosedur pendekatan dan pendaratan pesawat di suatu bandara (Atmia & Aswar, 2. permasalahan yaitu pada Instrument Landing System (ILS) di peralatan Glide Path (GP) di Runway 36. Glide Path terdapat monitor yang berfungsi untuk memonitor sinyal yang akan dipancarkan oleh antena , sinyal yang akan dimonitor diproses oleh modul detector, terdapat 3 buah detector diantaranya COURSE CSB detector. COURSE SBO detector dan CLEARANCE detector. Sinyal yang berasal dari antena akan di deteksi . oleh masingmasing detector kemudian diteruskan ke modul monitor untuk diproses dan hasilnya ditampilkan pada monitor PMDT (Portable Maintenance Data Termina. Ketika nilai pembacaan monitor melewati batas dari nilai toleransi yang telah ditetapkan maka akan terjadi pre alarm /alarm. Permasalahan yang terjadi pada Glide Path 36 di AIRNAV Cabang Manado yaitu rendahnya nilai CLEARANCE Detector yang ditunjukkan oleh pembacaan monitor satu . senilai 72,4% dan monitor dua . senilai 72,4%. Nilai ini diluar toleransi sebesar 80 % -4 . %-84%) yang mengakibatkan lampu indikator monitor menjadi Berdasarkan latar belakang di atas dibutuhkan analisa bagaimana solusi dalam mengatasi rendahnya nilai Clearance Detector pada monitor Instrument Landing System (ILS) yang mengakibatkan terjadinya Alarm di Perum LPPNPI Kantor Cabang Manado. Instrument Landing System (ILS) Peralatan ILS merupakan alat bantu navigasi pendaratan menggunakan gelombang radio secara instrumen . on visua. yang digunakan penerbang dalam melakukan prosedur pendekatan dan pendaratan pesawat di suatu bandara (Driyono & Jaya, 2. ILS dimaksudkan untuk memudahkan pilot untuk pendekatan ke landasan terutama pada waktu cuaca kurang baik dan visibility yang ILS dioperasikan beserta alat bantu navigasi yang lainnya seperti DME. VOR dan NDB,alat bantu navigasi ini digunakan berdasarkan standar dari ICAO Annex 10. Vol 1 Chapter 3. ILS terdiri dari 3 komponen antara lain: Localizer Localizer adalah pemancar yang memberikan panduan center line, yaitu kelurusan pesawat terhadap garis tengah runway untuk membimbing pesawat agar berada pada center line of runway dalam proses pendaratannya. Localizer menggunakan frekuensi Very High Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 4 Nomor 1 Juni 2021 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 esember-ISSN 2622 Ae 0105 | e-ISSN 2716-1196 Frequency (VHF) 108 MHz hingga 111,975 MHz . Marker Beacon Merupakan bagian dari peralatan ILS yang memancarkan sinyal radio frekuensi 75 MHz, dilengkapi dengan coding yang berfungsi untuk memberikan panduan peringatan tentang jarak sesuai dengan penempatanya terhadap titik touch down di tengah perpanjangan landasan / centre runway kepada pilot agar pesawat yang akan mendarat dapat mengikuti secara tepat. Glide Path Pemancar yang memberikan sinyal pemandu sudut luncur pendaratan normalnya 3A atau membantu pesawat terbang agar mendarat tepat pada touchdown. Alat ini bekerja pada frekuensi Ultra High Frequency (UHF) antara 328,6 MHz hingga 335,4 MHz. Berdasarkan buku pedoman ILS Airnav Cabang Manado type wilcox MARK 20 A Technical Manual Book. Pada peralatan Glide Path terdapat monitor untuk pembacaan di PMDT (Portable Monitor Data Termina. tiap-tiap monitor 1 dan 2 yang berfungsi untuk memonitor sinyal yang akan dipancarkan oleh antena. Dan ketika pembacaan monitor pada peralatan diluar toleransi yang telah ditetapkan akan terjadi pre alarm/ alarm yang menyebabkan TX changeover atau off. Hz, sedangkan pada daerah di bawah, 150 Hz dominan dibandingkan 90 Hz. Tidak ada kode stasiun dan sinyal audio yang dihasilkan oleh Glide Path. Melainkan informasi sudut pendaratan 3 derajat. Glide Path memberikan informasi sudut pendaratan 3o dengan mengkombinasikan frekuensi loop 150 Hz dan 90 Hz menggunakan antena vertikal dalam satu buah tiang. Sudut 3o dihasilkan jika loop 150 Hz sebanding dengan 90 Hz. Kedua frekuensi ini akan dibandingkan setelah diterima oleh pesawat udara untuk melihat apakah pesawat sudah membentuk sudut 30 atau belum. Indikator yang terlihat di cockpit pesawat berupa jarum sebagai tanda sudut 3o Ada dua macam system pemancaran yang dipakai oleh Glide Path ada yang Single frequency dan Dual frequency. Pemancar dengan Single frequency hanya sinyal Course. Sedangkan pemancar dengan Dual frequency memakai sinyal Course dan sinyal Clearance. Gambar 2. Pola Pancaran Sinyal pada Glide Path Gambar 1. Tampilan Normal pembacaan PMDT Glide Path Peralatan navigasi Glide Path tidak jauh berbeda dengan localizer pada bentuk modulasi. Glide Path dibentuk oleh radiasi di lapangan dimana pada centerline GP terdapat modulasi depth . edalaman modulas. 90/150 Hz adalah sama . asing-masing bernilai 40%). Pada daerah di atas , 90 Hz lebih dominan dibandingkan 150 Antena Glide Path biasanya dilokasikan pada jarak 75-200 m dari runway center line. Jarak dari batas runway difungsikan pada beberapa faktor yang telah ada pada kondisi maksimal yang Tanah di depan antena Glide Path berfungsi sebagai reflektor dan sudut pendaratan . udut Glide Pat. ditentukan oleh tinggi antena terhadap tanah. Karena tanah berfungsi sebagai reflektor adalah penting supaya daerah/tanah di depan antena Glide Path dijaga tetap rata sesuai persyaratannya dan bebas halangan (Obstacl. METODE Penelitian ini merupakan jenis penelitian rekayasa, dimana permasalahan akan dianalisa terlebih dahulu kemudian dilakukan tindakan dalam perbaikan perangkat dengan mengambil Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 4 Nomor 1 Juni 2021 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 esember-ISSN 2622 Ae 0105 | e-ISSN 2716-1196 referensi dari beberapa teori dan hasil penelitian, serta artikel ilmiah yang berkaitan. Tahapan Perbaikan yang dilakukan dapat sebagai berikut: Pengecekan ketinggian rumput sekitar . antena Glide Path yang dapat menganggu pola pancaran. Pengecekan berkala terhadap sambungan konektor pada tiap tiap modul detector pada COMBINING MONITOR NETWORK, guna memastikan konektor tersebut dalam kondisi baik dan menjaga agar alat tetap normal operasi. Melakukan pembersihan secara berkala pada COMBINING MONITOR NETWORK dan tiap tiap modul yang berbeda. Melakukan pembersihan secara berkala pada panel box Combining Monitor Network dan tiap-tiap modul yang berada di dalamnya. Melakukan reset diruang RCMS pada peralatan GP 36, dan hasilnya masih tetap Alarm. PEMBAHASAN Analisa Permasalahan Antena Glide Path biasanya dilokasikan pada jarak 75-200 m dari runway center line. Jarak dari batas runway difungsikan pada beberapa faktor yang telah ada pada kondisi maksimal yang Tanah di depan antena Glide Path berfungsi sebagai reflektor dan sudut pendaratan . udut Glide Pat. ditentukan oleh tinggi antena terhadap tanah. Karena tanah berfungsi sebagai reflektor adalah penting supaya daerah/tanah di depan antena Glide Path dijaga tetap rata sesuai persyaratannya dan bebas halangan (Obstacl. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan . Sudut Glide Path . Batas ketinggian yang diperlukan . Pemeriksaan penghalang . yang berada pada sekitaran antena . Kemiringan dari tanah lapang didepan system antenna . Luas dari lapangan pada batas area Penyelesaian Permasalahan: Perlunya pengecekan ketinggian rumput sekitar . antena Glide Path yang dapat menganggu pola pancaran. Perlu adanya pengecekan berkala terhadap sambungan konektor pada tiap tiap modul detector pada panel box COMBINING MONITOR NETWORK, guna memastikan konektor tersebut dalam kondisi baik dan menjaga agar alat tetap normal operasi. Gambar 3. Indikator Monitor RCMS GP 36 . Melakukan pengecekan langsung di shelter peralatan GP 36 . Mengecek Apakah ada Obstacle (Traktor rumpu. yang ada disekitar antenna GP dan tidak ditemukan adanya Traktor . Melakukan mengaktifkan kembali TX1 maupun TX2 GP 36 dengan menekan switch AuresetAy. Gambar 4. Monitor di Bypass Selanjutnya monitor di PMDT, pembacaan Parameter Transmitter, memastikan pembacaan nilai Transmitter CLEARANCE dan COURSE kondisi normal, dalam arti pancaran yang Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 4 Nomor 1 Juni 2021 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 esember-ISSN 2622 Ae 0105 | e-ISSN 2716-1196 akan dipancarkan oleh antenna dalam keadaan normal. Melakukan Kalibrasi dan Normalisasi monitor namun tidak ada perubahan. Setting tuning pada Panel Box Monitor Combining Unit di selector Clearance Power Devider hingga pembacaan Course DDM di PMDT pada executive monitor menjadi -0. 000 DDM dan selector Path/Width Power Devider hingga pembacaan Width DDM pada executive monitor menjadi -0. 175 DDM. Gambar 5. Parameter Clearance Transmitter Gambar 6. Parameter on-Course/Path Transmitter . Pembacaan parameter normal maka kemungkinan permasalahan berada pada pembacaan monitor executive ataupun monitor standby yang tidak valid. Mengecek pembacaan PMDT, nilai CLERANCE SDM sebesar 72. dimonitor satu . maupun monitor dua . pada Executive monitor,nilai ini diluar batas toleransi yang seharusnya 80%. Gambar 8. Panel box Monitor Combining Network . Melakukan Kalibrasi dan Normalisasi monitor namun hasilnya masih tetap . Pengecekan fisik koneksi modul yang ada pada Panel Box Monitor Combining Network khususnya pada modul detector. Karena hanya nilai CLEARANCE SDM yang diluar toleransi maka teknisi memeriksa modul Clearance Detector. Membuka dan membersihkan port dari modul detector dengan cairan pembersih . ontact cleane. dan memasangnya Gambar 7. Monitor PMDT masih Alarm Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 4 Nomor 1 Juni 2021 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 esember-ISSN 2622 Ae 0105 | e-ISSN 2716-1196 Gambar 11. Spare Clearance Detector telah diganti Gambar 9. Modul-Modul Detector . Mengatur ulang selector Clearance power devider pada Monitor Combining Unit, hingga pembacaan course DDM di PMDT pada executive monitor senilai 0. 000 DDM. Membuka kembali pembacaan di executive monitor ditemukan nilai CLEARANCE SDM masih diluar toleransi sehingga pembacaan dalam keadaan alarm. Mengambil modul spare Clearance detector di ILS GP 18 lama . erk sam. dan masih dalam kondisi sangat baik . Gambar 12. selector Clearance power divider . Mengatur ulang selector Path/Width Power Devider pada Monitor Combining Unit hingga pembacaan Width DDM di PMDT executive monitor senilai 0,175 DDM. Gambar 10. Modul Spare Clearance Detector . Menganti modul Clearence detector yang rusak dengan modul spare yang telah diambil di GP 18. Gambar 13. Selector Path/Width Divider Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 4 Nomor 1 Juni 2021 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 esember-ISSN 2622 Ae 0105 | e-ISSN 2716-1196 . Setelah nilai Course/Path DDM dan Width DDM sudah sesuai, melakukan kalibrasi dan normalisasi pada executive monitor 1 dan executive monitor 2. Tahap tahap untuk melakukan kalibrasi. Klik pada tampilan monitor Test terus pilih Gambar 17. Tampilan tahap-tahap Kalibrasi monitor . Setelah melakukan kalibrasi pada monitor 1 dan pembacaan normal yang ditunjukkan pembacaan monitor tidak ada yang Alarm, maka selanjutnya melakukan Normalisasi pada monitor 1. Gambar 14. Tampilan tahap-tahap Kalibrasi monitor . Memilih detector. Gambar 18. Normalisasi monitor Gambar 15. Tampilan tahap-tahap Kalibrasi monitor Gambar 19. Tampilan pembacaan Normalisasi Gambar 16. Tampilan tahap- tahap Kalibrasi monitor Kalibrasi dilakukan pada detector executive . Apabila Normalisasi Monitor 1 berhasil yang ditunjukkan pembacaan monitor 1 idak ada nilai yang alar. , maka dilanjutkan Kalibrasi dan Normalisasi pada Monitor 2, dengan tahap tahap yang sama Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 4 Nomor 1 Juni 2021 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 esember-ISSN 2622 Ae 0105 | e-ISSN 2716-1196 . Apabila pembacaan monitor 1 dan monitor 2 sudah normal, selanjutnya Posisi Bypass di OFF kan kembali. selector-selector pada panel box sekaligus melakukan kalibrasi dan normalisasi. UCAPAN TERIMA KASIH