http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Artikel Penelitian Determinants of Factors Affecting Timeliness of Measles Rubella Immunization During the Covid-19 Pandemic Dianti Oktadevi1. Ayun Sriatmi2. Wulan Kusumastuti3 Abstrak Cakupan imunisasi measles rubella (MR) di Kabupaten Magelang. Jawa Tengah tahun 2017 sampai 2019 mengalami peningkatan dengan puskesmas yang memiliki cakupan tiga terendah berturut Ae turut di Puskesmas Tempuran. Tahun 2020 terjadi penurunan yang signifikan cakupan imunisasi MR di Puskesmas Tempuran dengan sebanyak 22% ibu tidak tepat waktu dalam imunisasi. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan ketepatan waktu imunisasi MR selama pandemi Covid-19 di Puskesmas Tempuran Kabupaten Magelang. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini ibu yang memiliki bayi usia 9 Ae 12 bulan, dengan teknik sampling cluster sampling pada 100 responden di seluruh kelurahan. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner, data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan bahwa ketepatan waktu dalam imunisasi MR selama pandemi Covid-19 masih rendah . %) hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa variabel sikap ibu terhadap imunisasi berhubungan dengan ketepatan waktu imunisasi MR, sedangkan pengetahuan ibu, persepsi beban kerja, akses ke layanan imunisasi, persepsi sistem layanan imunisasi, dukungan kader, keanggotaan dalam grup whatsapp imunisasi, dan persepsi kebutuhan imunisasi tidak berhubungan dengan ketepatan waktu imunisasi MR. Pandemi Covid-19 membuat sikap ibu tidak dapat optimal dikarenakan ketakutan orang tua akan tertular virus Covid-19 di tempat pelayanan, keterbatasan stok vaksin dan pelaksanaan imunisasi tidak sesuai jadwal sehingga pihak puskeskmas perlu melakukan berbagai upaya dengan memberikan promosi terkait imunisasi yang aman dimasa pandemi serta pentingnya melakukan imunisasi secara tepat waktu dengan memanfaatkan media whatsapp dan sosial lain dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan terkait pengadaan stok vaksin Kata kunci: Imunisasi, ketepatan waktu, measles rubella, pandemi Covid-19, sikap ibu Abstract The coverage of measles rubella (MR) immunization in Magelang Regency. Central Java from 2017 to 2019 was increased with three lowest coverage at Tempuran Health Center. In 2020, there was significant decrease in the coverage of MR immunization at Tempuran Health Center with as many as 22% of mothers not being on time for This tudy aims was to analyze factors that related to timeliness of MR immunization during pandemic Covid-19 at Tempuran Health Center. Magelang Regency. Quantitaive research with cross sectional approach. Popualtion of this research were mothers who have babies aged 9 Ae 12 months, with cluster sampling technique on 100 respondents in all villages. Instruments that used was a questionnaire, data were analyzed by univariate and bivariate with Chi-Square test. The result showed that timeliness of MR immunization during pandemic Covid-19 was still low . %). Chi-Square test results showed that motherAos attitude variable towards immunization was related to timeliness of MR immunization, while motherAos knowledge, perception of workness, access to immunization services, perceptions of immunization service system, cadre support, membership in immunization whatsapp group, and perceptions of immunization need were not related to timeliness of MR immunization. Pandemic Covid-19 has made motherAos attitude unable to be optimal due to the fear parents being infected with Covid-19 virus at service place, limited vaccine stocks, and implementation of immunization not according to schedule so that health centers need to make various efforts by providing promotions that related to safe immunization in pandemic and importance of timely immunization by utilizing whatsapp or other social media, and coordinating with health office regarding procurement of vaccine stocks. Keywords: Immunization, timeliness, measles rubella, pandemic Covid-19, motherAos attitude Submited : 22 Mei 2022 Revised : 26 Juni 2022 Affiliasi penulis : 1,2,3 Bagian Administrasi Kebijakan Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro Korespondensi : Ayun Sriatmi, e-mail : sriatmi. ayun@gmail. Telp: 628156550487 PENDAHULUAN Undang Ae Undang nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan disebutkan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi. Imunisasi dasar merupakan pemberian imunisasi awal Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Accepted: 28 Juni 2022 untuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan, fungsi imunisasi dasar untuk memberikan perlindungan serta menurunkan risiko terjadinya morbiditas dan mortalitas akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Campak adalah penyakit menular yang ditimbulkan oleh virus myxovirus viridae measles. Melalui perantara batuk dan Gejala campak yang biasanya ditimbulkan yaitu demam, muncul bercak merah dengan disertai batuk atau pilek. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 pada kasus yang parah campak dapat menyebabkan radang paru, radang selaput otak, bahkan kematian. Pada negera menyerang anak Ae anak yang berusia dibawah 2 tahun sedangkan pada Negara maju cenderung menyerang anak Ae anak Virus campak dapat bertahan hidup selama dua jam di udara sehingga memiliki peluang besar untuk menginfeksi, ketika terkena penyakit campak maka 90% orang yang melakukan kontak dengan penderita akan tertular jika belum memiliki kekebalan terhadap penyakit campak yang diperoleh melalui imunisasi campak atau pernah terinfeksi virus campak. Rubella merupakan penyakit yang disebabkan togavirus dan memiliki gejala mirip campak, penyakit ini ringan bahkan akut yang menginfeksi anak dan juga dewasa muda yang rentan. Data surveilans dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa 70% kasus rubella terjadi di kelompok usia <15 . Kasus suspek campak di Indonesia pada tahun 2019 ditemukan hampir pada seluruh wilayah, dengan kasus tertinggi pada wilayah Jawa Tengah, yaitu sebesar 1597 kasus. Kabupaten Magelang merupakan salah satu kabupaten dengan cakupan imunisasi dasar lengkap tertinggi di Jawa Tengah pada tahun 2019 dan memiliki temuan kasus PD3I terbanyak keempat di Jawa Tengah, yaitu sebesar 193 kasus PD3I. Cakupan imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Magelang selalu meningkat tiap tahunnya, mulai dari tahun 2017 dengan cakupan sebesar 98,24% kemudian tahun 2018 sebesar 103,31% dan tahun 2019 sebesar 105,7%. Penilaian kelengkapan imunisasi dasar dilihat dari imunisasi MR yang diberikan terakhir dengan asumsi . Cakupan imunisasi MR di Kabupaten Magelang terus mengalami peningkatan mulai dari 2017 sampai 2019, dengan Puskesmas Tempuran sebagai puskesmas yang memiliki cakupan imunisasi MR tiga terendah selama 3 tahun berturut turut. Global Vaccine Action Plan (GVAP) memiliki target untuk mengeliminasi campak dan rubella diwilayah regionalnya pada tahun 2020 dengan memberikan dua dosis vaksin dengan target cakupan yang tinggi, yaitu sebesar 95%, termasuk Indonesia yang juga berkomitmen akan mencapai Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman eliminasi campak dan pengendalian rubella pada tahun 2020 dengan kampanye imunisasi MR dan memasukkan imunisasi MR kedalam imunisasi rutin, sehingga ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan No. HK. 07/MENKES/45/2017 tentang pelaksanaan kampanye dan introduksi imunisasi MR di Indonesia yang menyatakan bahwa pelaksanaan imunisasi MR kedalam imunisasi dasar rutin pada usia 9 bulan dan pada imunisasi lanjutan saat berusia 18 bulan dan saat kelas 1 sekolah dasar pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah. Penelitian Ayun Sriatmi dan Wulan Kusumastuti di Kota Semarang pada tahun 2019 didapatkan hasil bahwa ketepatan waktu imunisasi MR terendah dibandingkan imunisasi lain, yaitu sebesar 41,04%. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian Irawati tahun 2011 di Pasuruan yang menyatakan bahwa 62,5% bayi tidak tepat waktu dalam mendapatkan imunisasi DPT Combo dan Campak. Cakupan imunisasi MR di Puskesmas Tempuran penurunan sebesar 11,57% dibandingkan tahun 2019 menjadi sebesar 86,96% dengan sebanyak 22% bayi tidak tepat waktu dalam mendapatkan imunisasi MR. Imunisasi harus dilakukan sesuai aturan agar kekebalan yang terbentuk optimal dan vaksin dapat berfungsi dengan baik dalam mencegah terjadinya penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Berbagai termasuk pelayanan imunisasi sempat terhenti akibat wabah Covid-19, tidak Puskesmas Tempuran. Pelayanan Puskesmas Tempuran dihentikan pada bulan April 2020 dan berfokus menangani wabah Covid-19, kemudian pada Mei 2020 kembali dibuka pelayanan imunisasi dengan sistem yang berbeda, pelayanan tidak dilakukan dengan cara ibu yang memiliki bayi atau balita datang ke puskesmas akan tetapi imunisasi dilakukan di setiap kelurahan dengan menerjunkan tim yang tediri dari dua bidan dan dua kader dan dilaksanakan pada satu waktu tertentu yang telah ditetapkan. Berdasarkan koordinator imunisasi di wilayah kerja Tempuran keterangan bahwa terdaat beberapa hal yang menyebabkan imunisasi mengalami keterlambatan yaitu faktor dari ibu dan faktor luar ibu, faktor ibu biasanya disebabkan karena ketidaktahuan jadwal imunisasi serta Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 kesibukan ibu sehingga ibu lupa untuk mengimunisasikan anaknya, sedangkan faktor dari luar ibu dikarenakan ketersediaan stok vaksin yang mengalami kekosongam, kondisi anak yang sakit dan pada saat pandemi Covid-19 keterlambatan juga dikarenakan keluarga kontak fisik dengan pasien Covid-19. Dari hasil survey peneliti pada 6 orang ibu yang memiliki bayi usia 9 bulan Ae 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tempuran yang semuanya tidak tepat waktu dalam mengimunisasikan anaknya, didapatkan hasil bahwa 4 dari 6 ibu memiliki pengetahuan yang rendah mengenai imunisasi MR. Dengan imunisasi tepat waktu, individu dan komunitas tetap terjaga dan mengurangi kemungkinan terjadinya penularan PD3I. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin mengetahui faktor yang mempengaruhi ketepatan waktu dalam imunisasi measles rubella selama pandemi Covid-19 di Puskesmas Tempuran. Kabupaten Magelang METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan crosectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu yang memiliki bayi berusia 9 Ae 12 bulan, dengan besar sampel yang diambil yaitu 100 Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cluster sampling. Proses pengumpulan data dilakukan dengan wawancara secara langsung dengan menggunakan kuesioner. Variabel bebas pada penelitian ini yaitu pengetahuan, persepsi beban kerja, sikap ibu terhadap imunisasi, akses ke layanan imunisasi, dukungan kader, keanggotaan dalam grup whatsapp imunisasi dan persepsi kebutuhan Sedangkan variabel terikat pada penelitian ini yaitu ketepatan waktu imunisasi MR. Penelitian ini telah lulus kaji etik yang dilakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro dengan 205/EA/KEPK-FK/2021. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square. HASIL Berdasarkan hasil di lapangan diperoleh data bahwa ketepatan waktu imunisasi measles rubella cenderung rendah, hanya 8% ibu yang tepat waktu Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman dalam mengimunisasikan measles rubella pada anaknya. (Tabel . Tabel 1. Distribusi Frekuensi Variabel Ketepatan Waktu Imunisasi Measles Rubella Ketepatan Waktu Frekuensi Tidak tepat waktu Tepat waktu Jumlah Sumber : Data Primer, 2021 Berdasarkan data di lapangan yang tercantum dalam tabel 2. ditemukan bahwa mayoritas ibu yang tidak tepat waktu mengalami keterlambatan imunisasi lebih dari 1 bulan . 5%). Mayoritas ibu dalam penelitian ini berusia dewasa muda dengan rentang usia 18 sampai 30 tahun . %), sebagian besar berpendidikan menengah . %) dan mayoritas ibu tidak bekerja . %). (Tabel . Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Kategori n=(Total Sampe. Umur Ibu (Tahu. Dewasa Muda . Ae . Dewasa Lanjut . Ae . Pendidikan Rendah (Tidak Sekolah Ae SD) Menengah (SMP Ae SMA) Tinggi (Perguruan Tingg. Pekerjaan Ibu Tidak bekerja Petani/ buruh Karyawan swasta PNS/ TNI/ POLRI Pedagang/ wiraswasta Pekerjaan professional Lainnya Sumber : Data Primer, 2021 Mayoritas ibu yang memiliki tingkat pengetahuan mengenai imunisasi yang tinggi . %) dengan persepsi beban kerja yang tergolong berat sebesar 56%. Pada kategori sikap ibu terhadap imunisasi didapatkan hasil bahwa mayoritas ibu memiliki sikap yang baik . %), sebanyak 68% ibu memiliki akses yang mudah untuk berpersepsi bahwa sistem layanan imunisasi tergolong baik . %). Ibu yang memiliki bayi berusia 9 sampai 12 bulan di wilayah kerja puskesmas Tempuran cenderung seimbang antara yang tergabung dalam grup whatsapp imunisasi dan yang tidak tergabung . %). Berdasarkan hasil temuan dilapangan mayoritas ibu berpendapat bahwa kader memberikan dukungan yang cenderung baik kepada ibu . %), dalam hal kebutuhan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 terhadap imunisasi, sebagian besar ibu memiliki kebutuhan yang tinggi akan imunisasi . %). (Tabel . Tabel 3. Distribusi Frekuensi Variabel Bebas Kategori n= (Total Sampe. Pengetahuan Rendah Tinggi Persepsi Beban Kerja Ringan Berat Sikap Ibu Terhadap Imunisasi Kurang Baik Baik Akses ke Layanan Imunisasi Sulit Mudah Persepsi Sistem Layanan Imunisasi Kurang Baik Baik Dukungan Kader Kurang Baik Baik Keanggotaan dalam Grup Whatsapp Imunisasi Tidak Anggota Anggota Persepsi Kebutuhan Imunisasi Rendah Tinggi Sumber : Data Primer, 2021 Berdasarkan hasil uji bivariat dengan menggunakan Chi-Square diketahui bahwa ketepatan waktu imunisasi measles rubella selama pandemi covid-19 di Puskesmas Tempuran hanya sikap ibu terhadap imunisasi dengan nilai p value 0. sedangkan variabel pengetahuan dengan nilai p value 1. 000, persepsi beban kerja denga nilai p value 0. 295, akses ke layanan imunisasi dengan nilai p value 0. persepsi sistem layanan imunisasi dengan nilai p value 0. 272, dukungan kader dengan nilai p value 0. 728, keanggotaan dalam grup whatsapp imunisasi dengan nilai p value 000 dan persepsi kebutuhan imunisasi dengan nilai p value 0. 477 tidak berhubungan dengan ketepatan waktu imunisasi measles rubella selama pandemi covid-19 di Puskesmas Tempuran. (Tabel . Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Tabel 4. Hubungan Variabel Bebas dengan Ketepatan Waktu Imunisasi Measles Rubella Variabe Ketepatan Waktu Jumlah P value Tidak Tepat Pengetahuan Rendah Tinggi Persepsi Beban Kerja Berat 2 11 26. 7 56 100. Ringan 0 15 25. 0 44 100. Sikap Ibu Terhadap Imunisasi Kurang Baik 3 65 100. Akses ke Layanan Imunisasi Sulit 4 30 100. Mudah 0 70 100. Persepsi Sistem Layanan Imunisasi Kurang 0 48 100. Baik 8 52 100. Dukungan Kaer Kurang 5 44 100. Baik 2 56 100. Keanggotaan dalam Grup WhatsApp Tidak 0 50 100. Anggota 0 50 100. Persepsi Kebutuhan Imunisasi Rendah 5 39 100. Tinggi 5 61 100. Sumber : Data Primer, 2021 PEMBAHASAN Ketepatan kesehatan adalah layanan tersebut harus dilaksanakan pada waktu dan cara yang . Dalam dipengaruhi serta mempengaruhi perilaku memanfaatkan pelayanan yang menurut Anderson terdiri dari berbagai faktor baik itu predisposisi yang terdiri dari karakteristik kepercayaan terhadap kesehatan yang meliputi sikap, nilai, serta pengetahuan tentang kesehatan, faktor pemungkin kemampuan ekonomi, ketersediaan sarana prasarana dan tenaga kesehatan, serta faktor kebutuhan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketepatan waktu imunisasi MR selama pandemi covid-19 berhubungan dengan ketepatan waktu yaitu sikap ibu terhadap imunisasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Dwi Ghunayati Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Novanda Mochammad Bagus Qomaruddin kepatuhan dalam pemberian imunisasi dasar anak menyatakan bahwa sikap ibu berpengaruh, ibu dengan sikap yang baik terhadap imunisasi cenderung memiliki perilaku baik dalam pemenuhan kebutuhan imunisasi anak. Sikap menentukan sifat, hakikat, serta perbuatan baik sekarang ataupun yang akan datang pada seseorang. Mann . menyatakan bahwa sikap seseorang dipengaruhi oleh tiga komponen pembentuk sikap yang terdiri dari komponen kognitif yang berkaitan dengan pengetahuan, persepsi, serta kepercayaan seseorang, komponen afektif yang berkaitan dengan perasaan serta konatif yang berkaitan denga . Pada penelitian ini sikap ibu terhadap imunisasi belum optimal, hal tersebut dikarenakan masih terdapat ibu yang cenderung mempertimbangkan untuk memberikan imunisasi MR apabila terdapat mengandung babi. Hal yang sama juga pernah terjadi dimasa kampanye MR tahun 2017 dan 2018 banyak orang tua yang menolak memberikan imunisasi dikarenakan perkembangbiakan virus pada babi oleh karena itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa No. 33 tahun 2018 yang memperbolehkan penggunaan vaksin dikarenakan belum adanya vaksin MR yang . Berbagai pemberitaan negatif terkait imunisasi MR akan mempengaruhi persepsi ibu tentang imunisasi MR. Berdasarkan ibu tidak percaya apabila dengan baik program imunisasi MR terlebih dalam masa pandemi covid-19, dalam penilaian cepat yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan UNICEF pada April 2020 didapatkan bahwa para orang tua khawatir dan takut tertular covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang ditimbulkan menerapkan pedoman imunisasi yang aman dan berpendapat bahwa lebih aman dan nyaman untuk melakukan imunisasi di posyandu atau kunjungan rumah. Berdasarkan Anderson dalam teori Health Belief . epercayaan kesehata. yang mempengaruhi dalam sikap seseorang untuk melakukan ataupun tidak melakukan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman karakteristik psikologis berupa ketakutan individu akibat rendahnya faktor kognitif berupa keyakinan berkaitan dalam proses pengambilan keputusan dalam menentukan cara sehat individu. Penelitian yang dilakukan oleh Eka Fitriani tahun 2017 didapatkan bahwa pengetahuan seseorang mempengaruhi sikap, apabila pengetahuan terkait imunisasi rendah maka akan terbentuk sikap yang kurang baik terhadap imunisasi. Begitu juga dalam penelitian ini, walaupun pengetahuan ibu tidak berhubungan dengan ketepatan waktu imunisasi MR tetapi berdasarkan peneliti pengetahuan ibu dapat mempengaruhi pembentukan sikap ibu. Penelitian yang dilakukan oleh Kurnia Agustin dan Anggraini Yeni menyatakan bahwa apabila seseorang telah mengetahui kebenaran suatu hal maka orang tersebut akan bersikap positif, pembentukan sikap pun tidak terlepas dari peran orang lain yang dianggap penting. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat IDI tahun 2020 yang menyatakan bahwa untuk mengurangi kekhawatiran orang tua dan meningkatkan peran ibu dalam imunisasi saat masa pandemi covid-19 diperlukan peran kader dalam memberikan informasi. WHO menganjurkan untuk dokter dan petugas kesehatan aktif membantu menyebarluaskan hal Ae hal yang berhubungan dengan hubungannya dengan program imunisasi melalui media sosial dan media lainnya. Penelitian di Kota Samarinda tahun 2021, menyatakan bahwa untuk meningkatkan cakupan program imunisasi di masyarakat petugas puskesmas diharapkan lebih meningkatkan kegiatan penyuluhan dan dimengerti tentang program imunisasi campak serta meningkatkan peran serta kader posyandu dalam pelaksanaannya, hal tersebut dikarenakan pengetahuan ibu berperan penting dalam cakupan imunisasi anaknya . Kader dan petugas kesehatan dapat memberikan edukasi ataupun reminder jadwal terkait imunisasi dan program kesehatan lainnya, khususnya selama merupakan media paling umum digunakan dibandingkan media sosial lainnya. Dalam penelitian yang dilakukan Zakiyah Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Nurhasanah Siregar didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh pada kelompok yang tergabung dalam grup whatsapp dan mendapatkan edukasi dengan kelompok yang tidak tergabung dan tidak mendapat edukasi dengan sikap deteksi dini kanker rahim wanita usia subur di Puskesmas Padang Bulan Medan. Berdasarkan penelitian Hariska Pratiwi tahun 2016 terkait kesehatan dengan metode konseling peningkatan sikap pada pencegahan gizi buruk, peningkatan sikap disebabkan karena pengetahuan yang diperoleh sehingga memunculkan pemahaman dan keyakinan untuk melakukan upaya pencegahan gizi . Begitu juga dalam penelitian Rini Wuri Astuti dan Istri Suryani tahun 2020, dimana intervensi edukasi kelompok sebaya mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap secara signifikan, hal tersebut dikarenakan terjadinya interaksi yang dinamis antar anggota serta saling memberikan dukungan, informasi dan membimbing satu sama lain sehingga akan menimbulkan kesadaran serta niat untuk berperilaku sesuai kelompok. Hal yang sama juga terjadi dalam penelitian ini, meskipun dukungan kader dan keanggotaan dalam grup whatsapp tidak berpengaruh langsung dengan ketepatan waktu imunisasi akan tetapi dengan dukungan kader yang baik akan membentuk pengetahuan dan sikap yang baik pula, kader yang rutin mengingatkan terkait jadwal imunisasi akan mengimunisasikan MR kepada anaknya begitu juga ibu yang tergabung dalam grup whatsapp dan memperoleh edukasi serta informasi dari kader ataupun anggota yang lain akan dapat memperoleh pengetahuan lebih banyak daripada yang tidak tergabung, sehingga dapat meningkatkan sikap menjadi lebih baik. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Dwi Ghunayati Novianda dan Muhammad Bagus Qomaruddin tahun 2020, informasi imunisasi yang diperoleh ibu dari berbagai sumber termasuk kader akan menambah pengetahuan ibu. Selain itu beban kerja juga dapat mempengaruhi pembentukan sikap ibu, menurut Yuliana Makamban tahun 2014, kecenderungan beban kerja yang berat akan membuat ibu tidak memiliki banyak waktu untuk mencari informasi imunisasi ataupun mengimunisasikan anaknya. Sehingga Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman walaupun persepsi beban kerja tidak berhubungan secara signifikan dengan ketepatan waktu, tetapi mampu berkontribusi dalam pembentukan sikap ibu terhadap Dalam penelitian ini mayoritas responden tidak bekerja tetapi memiliki beban kerja yang berat dikarenakan harus menyelesaikan pekerjaan rumah sendiri sehingga kurang memiliki waktu untuk mencari informasi terkait imunisasi karena mengalami kelelahan. Sikap terwujud menjadi tindakan yang nyata apabila tidak terdapat faktor pendukung seperti ketersediaan dan kemudahan pencapaian fasilitas. Dalam penelitian yang dilakukan Dwi Ghunayati Novianda dan Muhammad Bagus Qomaruddin tahun 2020 didapatkan hasil bahwa walaupun sikap ibu baik akan tetapi jika stok vaksin tidak tersedia, maka pelaksanaan imunisasi akan tetap terhambat, selain itu perlu juga akses yang mudah dan biaya yang tergolong murah untuk membuat masyarakat dapat menjangkau layanan kesehatan. Akan tetapi hal tersebut tidak sejalan dengan penelitian Astrianzah dalam Adzaniyah Isyani Rahmawati, ibu dengan kebutuhan yang tinggi terhadap imunisasi akan tetap terkendala akses, layanan, serta sosial . Pada penelitian ini meskipun pengetahuan ibu cenderung baik, dengan dukungan kader yang baik, akses ke persepsi sistem layanan imunisasi juga tergolong baik dengan tingkat kebutuhan imunisasi yang tinggi akan tetapi ketepatan waktu imunisasi masih rendah, hal tersebut dikarenakan stok vaksin yang sering imunisasi yang berubah Ae ubah akibat pandemi covid-19. Dalam memberikan imunisasi dasar pada masa pandemi covid19. WHO menganjurkan untuk mengatur jadwal kedatangan agar tidak terlalu banyak dan tidak terlalu lama dalam berkumpul. Kementerian Kesehatan sendiri telah menganjurkan bagi dinas kesehatan, puskesmas, serta rumah sakit untuk memastikan bahwa layanan imunisasi yang pencatatan dan pelaporan yang terintegrasi dan stok vaksin selalu tersedia. , . Sehingga walaupun pada penelitian ini akses ke layanan imunisasi, persepsi terhadap sistem Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 5 No 1. Juni 2022 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 layanan imunisasi dan kebutuhan imunisasi tidak berhubungan langsung dengan ketepatan waktu akan tetapi dapat membantu terwujudnya sikap seseorang. Imunisasi yang tepat waktu akan membuat individu dan komunitas tetap terjaga dari penularan PD3I secara optimal, pada masa pandemi covid-19 tindakan pencegahan PD3I menyelamatkan nyawa karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi saja tetapi juga membantu mengurangi beban sistem kesehatan yang telah terbebani oleh . SIMPULAN Ketepatan waktu imunisasi MR selama pandemi covid-19 di Puskesmas Tempuran masih rendah, terdapat hubungan antara sikap ibu terhadap imunisasi dengan ketepatan waktu imunisasi MR, sedangkan pengetahuan, persepsi beban kerja, akses ke layanan imunisasi, dukungan kader, keanggotaan dalam grup whatsapp, dan berhubungan dengan ketepatan waktu imunisasi MR selama pandemi covid-19. Puskesmas berbagai upaya untuk optimalisasi sikap ibu dengan melakukan edukasi terkait imunisasi yang aman dalam masa pandemi covid-19 dan pentingnya melakukan imunisasi tepat waktu dengan memanfaatkan media sosial khususnya whatsapp ataupun media lain dengan menggerakkan kader, memperbaiki sistem layanan sesuai dengan pedoman layanan imunisasi dimasa pandemi covid-19 mengimunisasikan anaknya, dengan Dinas Kesehatan untuk pengadaan stok vaksin serta bersama dengan bidan desa dan juga kader melakukan kunjungan imunisasi kerumah - rumah warga yang tidak datang imunisasi di tempat pelayanan karena takut tertular covid-19. Selain hal Ae hal tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait faktor yang mempengaruhi pelaksanaan imunisasi secara tepat waktu melihat dari sisi pemberi pelayanan kesehatan dan meneliti terkait faktor yang mempengaruhi sikap serta perilaku ibu dalam memberikan imunisasi kepada anaknya secara tepat waktu. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman DAFTAR PUSTAKA