IMPLEMENTASI PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER (STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN MINHAJUT THULLAB MUNCAR BANYUWANGI) Firman Ashadi IKIP PGRI Jember Email: blueisfirman@gmail. Abstract The implementation of character education is arguably the current era is very worrying, many moral issues, and propaganda becomes a regular thing for now. All sorts of things lawful, all forms of crime was rampant, the nationAos moral crisis is very minimal, so anyone can suppress and distort a responsibility that should be a mandate. Background of the case, how do we as a successor nation to always keep the repertoire of moral and religious values so harmoniously to apply in our daily lives. Life in the family to be the first in shaping the character education of children, after the environment than the school or boarding school. Why should the boarding school? Boarding school including the oldest educational institutions, even in the history of struggle and development of the nation, schools have a lot to contribute to the leaders of character bore a strong, militant, full of integrity, persistent, visionary, unyielding and sincere in fighting. The contribution does not stop during the struggle of the nation, but until today, leaders of the countryAos highest institution led by many national leaders with backgrounds are boarding. The reason can be used as the view, that the boarding school can provide an experience that can make character education of children to be outstanding. By example, habituation, give examples, and others expected to produce santri that can be used as agents of change in Indonesia towards moral and Attitudes that shape the character education like, discipline, responsibility, tolerance, self-reliance, honesty, and so forth. Keywords: Character education, boarding school Abstrak Penerapan pendidikan karakter era saat ini bisa dibilang sangat mengkhawatirkan, banyak masalah moral dan propaganda yang menjadi suatu hal yang biasa untuk saat ini. Segala macam hal dihalalkan, segala bentuk kejahatan sudah merajalela, krisis moral bangsa sangat minim sehingga siapapun mampu menindas dan menyelewengkan tanggungjawab yang seharusnya menjadi amanah. Berlatar belakang hal tersebut, bagaimana kita sebagai penerus bangsa untuk selalu menjaga khasanah nilai moral dan agama supaya selaras dan serasi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Kehidupan dalam keluarga menjadi yang pertama dalam membentuk pendidikan karakter anak, setelah itu lingkungan kemudian sekolah atau pondok Kenapa harus pondok pesantren? Pondok pesantren termasuk lembaga pendidikan tertua, bahkan dalam sejarah perjuangan dan pembangunan bangsa, pesantren sudah banyak memberikan kontribusi nyata dalam melahirkan pemimpin yang berkarakter kuat, militan, penuh integritas, gigih, visioner, pantang menyerah dan ikhlas dalam berjuang. Kontribusi tersebut tidak berhenti pada masa perjuangan bangsa, melainkan hingga dewasa ini, pimpinan institusi tertinggi Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1 Januari 2017: 9-17 negara banyak yang dipimpin oleh tokoh nasional dengan latar belakang pesantren. Alasan tersebut mampu dijadikan pandangan, bahwa pondok pesantren mampu memberikan pengalaman yang bisa membuat pendidikan karakter anak menjadi luar biasa. Dengan keteladanan, pembiasaan, memberikan contoh, dan lain sebagainya diharapkan akan melahirkan santri-santri yang bisa dijadikan agen perubahan dalam menuju Indonesia yang bermoral dan beragama. Sikap yang membentuk pendidikan karakter itu seperti, kedisiplinan, tanggung jawab, toleransi, kemandirian, kejujuran dan lain sebagainya. Kata kunci: Pendidikan Karakter. Pondok Pesantren PENDAHULUAN Kita menyadari bahwa pendidikan karakA ter dan moral sangat penting, dalam segala sektor kehidupan, kita membutuhkan moral dan akhlak karimah dalam berbangsa dan ada etika bisnis, etika politik, etika kekuasaan dan etika pergaulan, dalam rangka membangun masyarakat madani yang adil dan makmur, adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan. Pesantren adalah model pendidikan tertua di Indonesia, yang hingga saat ini masih bertahan hingga. Sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia, pesantren memiliki keunikan tersendiri yang tidak ditemui dalam sejarah peradaban Islam di Timur Tengah, dan dunia Islam pada umumnya. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan khas Indonesia, pesantren sudah banyak melahirkan ulama yang memiliki penguasaan mendalam terhadap khasanah Keislaman klasik. Pesantren sebagai salah satu sub sistem PendiAdikan Nasional yang indigenous IndoA nesia, mempunyai keunggulan dan karakA teristik khusus dalam pengaplikasian pendiA dikan karakter santri. Hal itu dikarenakan: pertama, adanya jiwa dan falsafah. Kedua, terA wuAjudnya integralitas dalam jiwa, nilai, sistem danstandar operasional pelaksanaan. Ketiga, terciptanya tripusat pendidikan yang terpadu. Keempat, totalitas pendidikan. Karakter pesantren yang demikian itu menjadikan pesantren dapat dipandang sebagai institusi yang efektif dalam pembangunan Disinilah pesantren mengambil peran untuk menanggulangi persoalan-persoalan tersebut khususnya krisis moral yang sedang melanda, karena pendidikan pesantren merupakan pendidikann yang terkenal dengan pendidikan agama dan seharusnya mampu untuk mencetak generasi-generasi berkarakter yang sarat dengan nilai-nilai islam. Dengan demikian, pondok pesantren diharapkan mampu mencetak manusia muslim sebagai penyuluh atau pelopor pembangunan yang takwa, cakap, berbudi luhur untuk berA sama-sama bertanggung jawab atas pemA bangunan dan keselamatan bangsa serta mamA pu menempatkan dirinya dalam mata rantai keseluruhan sistem pendidikan nasional, baik pendidikan formal maupun non formal dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Pendidikan karakter pada intinya bertujuan memAbentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, berA gotong royong, berjiwa patriotik, berkemAbang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila (Balitbang KemenA diknas, 2011: . Pendidikan karakter mempunyai tempat lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berbicara mengenai baik dan buruk tentang sesuatu akan tetapi lebih menanamkan kebiasaan . tentang hal baik dalam kehidupannya. Ashadi. Implementasi Penerapan Pendidikan Karakter . sehingga peserta didik mempunyai kesadaran, dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian komitmen untuk menerpkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa, 2014: . Pendidikan karakter adalah suatu proses pembelajaran yang membedakan peserta didik dan orang dewasa di dalam komunitas sekolah untuk memahami, peduli dan berbuat dengan landasan nilai-nilai etik. Pendidikan karakter di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang sesuai dengan kompetensi kelulusan. Pendidikan karakter, pada tingkatam institusi, mengarahkan pada pembentukan karakter budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang malandasi perilaku, tradisi, kebiasaan, keseharian dan simbolsimbol yang dipraktekkan oleh semua orang. Pendidikan karakter tingkat dasar haruslah membentuk suatu fondasi yang kuat demi keutuhan rangkaian pendidikan tersebut. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin luas pula ragam ilmu yang didapat dari seseorang dan akibat yang akan didapatkannya semakin besar jika tanpa ada landasan pengertian pendidikan karakter yang diterapkan sejak usia dini. Dalam hal ini implementasi kaitannya dengan pendidikan karakter adalah penerapan suatu kegiatan atau metode secara terusmenerus yang dilakukan oleh para pengurus dan pengajar sebagai upaya terhadap pembentukan karakter siswa sejak usia dini. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang lebih menekankan aspek moralitas kepada santri dalam kehidupan ini karenanya untuk nilainilai tersebut diperlukan gemblengan yang matang kepadanya, dan untuk memudahkan itudiperlukan sebuah asrama sebagai tempat tinggal dan belajar di bawah bimbingan seorang Pada kebanyakan pesantren dahulu, seluruh komplek bukan merupakan milik kyai saja, melainkan milik masyarakat, hal ini disebabkan karena para kyai memperoleh sumber-sumber keuangan untuk membiayai pendanaan dan perkembangan pesantren dari masyarakat, sehingga masyarakat juga merasa Dalam historis pendidikan di Indonesia, pesanAtren termasuk lembaga pendidikan terA tua, bahkan dalam sejarah perjuangan dan pembangunan bangsa, pesantren sudah banyak memberikan kontribusi nyata dalam melaA hirkan pemimpin yang berkarakter kuat, miA litan, penuh integritas, gigih, visioner, panA tang menyerah dan ikhlas dalam berjuang. KonAtribusi tersebut tidak berhenti pada masa perAjuangan bangsa, melainkan hingga dewasa ini, pimpinan institusi tertinggi negara banyak yang dipimpin oleh tokoh nasional dengan latar belakang pesantren. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai agen implementasi pendidikan karakter secara efektif, terbukti di pondok pesantren tidak hanya diajarkan tentang nilai-nilai agama saja, melainkan juga diajarkan tentangnilai etika, nilai moral, nilai estetika dan nilai seni yang membawa santri menjadi manusia yang berkepribadian sempurna. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai proses penanaman nilai esensial pada diri anak melalui serangkaian kegiatan pemA belajaran dan pendampingan sehingga para siswa sebagai individu mampu memahami, meAngaAlami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi nilai inti . ore value. dalam penA diAdikan yang dijalaninya ke dalam kepriA Menurut praktik pendidikan di Indonesia cenderung lebih berorentasi pada pendiA dikan berbasis hard skill . eterampilan tekA Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1 Januari 2017: 9-17 ni. yang lebih bersifat mengembangkan inAt elAl igence quotient(IQ), namun kurang meAngemAAbangkan kemampuan softskill yang terAtuang dalam emotional intelligence (EQ), dan spiritual intelligence (SQ). Pembelajaran diberbagai sekolah bahkan perguruan tinggi lebih menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. Banyak guru yang memiliki persepsi bahwa peserta didik yang memiliki kompetensi yang baik adalah memiliki nilai hasil ulangan/ujian yang tinggi. Dari sini bisa disimpulkan bahwa pendiA dikan karakter juga bertujuan untuk menyiapkan dan mengembangkan potensi-potensi peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang berbudi luhur dalam segenap perannya sekarang dan masa yang akan datang. Di samping itu, pada dasarnya pendidikan karakter bermuara pada penAdidikan nilai yang erat hubungannya deA ngan pendidikan agama islam sehingga dalam pendidikan karakter haruslah memiliki muatanmuatan pendidikan agama Islam. Seiring perkembangan jaman, pendidikan yang hanya berbasiskan hard skill yaitu menghasilkan lulusan yang hanya memiliki prestasi dalam akademis, harus mulai dibenahi. Sekarang pembelajaran juga harus berbasis pada pengembangan soft skill . nteraksi sosia. sebab ini sangat penting dalam pembentukan karakter anak bangsa sehingga mampu berA saing,beretika, bermoral, sopan santun dan berinAteraksi dengan masyarakat. Pendidikan soft skill bertumpu pada pembinaan mentalitas agar peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Kesuksesan seseorang tidak ditenAtukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis . ard skil. saja, tetapi juga oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain . oft skil. Dari deskripsi diatas sangat tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Pesantren salah satu lembaga yang mempunyai peran signifikan dan kontribusi besar dalam pembentukan dan pembangunan karakter dan kapasitas bangsa . haracterand capasity buildin. Dalam penerapan pendidikannya pesantrean lebih mengedepankan kepada serangkaian sikap . , perilaku . , motivasi . , dan keterampilan . Oleh karena itu dalam momentum haripendidikan nasional . ini kita juga patut memberikan apresiasi yangtinggi terhadap keberhasilan pendidikan Pondok Pesantren. Wa AllyhuaAolam bi al-shawyb. METODE PENELITIAN Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengungkapkan data deskriptif dari para inA forman tentang apa yang peneliti rasakan, lakuAkan, dan peneliti alami terhadap fokus Penelitian ini hakikatnya mengungA kap fenomena yang ada di lapangan. SebaAgai peneliti kualitatif, penelitian ini tidak dimakA sudkan untuk menguji hipotesis akan tetapi untuk memaparkan data dan mengolahnya secara deskriptif. Oleh karena itu peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Rancangan penelitian berupa studi kasus, karena berusaha memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan mendetail tenA tang manajemen pondok pesantren berbasis karakAter. Hal ini didasarkan pada pendapat Arikunto . 2: . AyPenelitian kasus adalah suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci, dan mendalam terhadap suatu orgaA nisme, lembaga atau gejala tertentu dan meliA puti subyek yang sempit tetapi sifatnya lebih mendalamAy. Teknik pengumpulan data Terkait dengan pengumpulan data mengguA nakan observasi, objek peneliti adalah segala Ashadi. Implementasi Penerapan Pendidikan Karakter . kegiatan yang ada di dalam pondok pesantren Minhajut Thullab. Dengan mengikuti segala kegiatan yang ada diharapkan peneliti akan mengetahui segala kegiatan terkait manajemen pendidikan karakter santri baik dari sisi pelakA sanaan program pesantren, karakter santri, maupun yang lain. Teknik pengumpulan data selanjutnya adalah dokumentasi yaitu mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip termasuk juga buku tentang teori, pendapat, dalil atau hukum, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian (Zuhriah, 2006: . Peran dari dokumentasi dalam penelitian adalah sebagai menhguji, menafsirkan, dan meramalkan (Moleong, 2014: . Dalam teknik dokumentasi ini, peneliti menggunakan literatur pesantren yang terkait, seperti halnya arsip pondok pesantren, catatan-catatan denah lokasi dan lain-lain. Untuk kejelasannya peneliti menggambarkan sebagai berikut. Teknik Wawancara. Menurut Esterberg dalam Sugiyono . wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Adapun pihak-pihak yang akan di wawancarai dengan peneliti yaitu. Pimpinan Pondok Pesantren . Pengurus dan pengajar . Santri/Peserta didik. Teknik Dokumentasi. Menurut Sugiyono . dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karyakarya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan . ife historie. , ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Teknik analisis data Sebelum memahami bagaimana teknik analisis data kualitatif, terlebih dahuli mengeA tahui makna analisis data tersebut. Berikut beberapa pengertian analisis data, yang mana melalui peahaman definisi tersebut, kita dapat menarik sebuah konsepsi atau sebuah teknik analisis data. Pengeretian Analisis data kualitatif menuA rut (Bogdan & Biklen, 1. adalah uapaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahA nya menjadi satuan yang dapat dikelola, menA sinAtesiskanya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memetuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Analisis data kualitatif menurut (Seiddel, 1. , proses perjalanan sebagai berikut : Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri. Mengumpulkan, memilah-milah, mengA klasiAfikasikan, mensintesiskan, membuat ikstisar, dan membuat indeksnya. Berpikir, dengan jalan membuat agar kateA gori data itu mempunyai makna, mencari dan menentukan pola dan hubungan-huA bungan, dan membuat temuan-temuan Selanjutnya menurut Janice Mcdrury (ColA laAborative Group Analysis Of Data, 1. Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1 Januari 2017: 9-17 tahapan analisis data kualitatif adalah sebagai C Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema yang berasal dari Menuliskan AomodelAo yang ditemukan Koding yang telah dilakukan Kehadiran Peneliti Selain itu melalui studi pendahuluan ini peneliti mencoba menentukan informan kunci yang nantinya bisa menjawab fokus Studi pendahaluan dimaksudkan agar peneliti mudah dalam menentukan alur kerja pada saat mengadakan penelitian. Setelah rencana penelitian disusun, kemudian dilakukan penelitian partisipatif, yakni peneliti ikut berperan langsung pada subjek penelitian. Menurut Sugiyono . 9: . ,Audalam peneA litian kualitatif instrumen utamanya adalah peneliti sendiriAy. Oleh karena itu, pada waktu mengumpulkan data di lapangan, peneliti berperan serta pada semua kegiatan yang diseA lengAgarakan oleh sekolah. Pada saat kegiatan berperan serta inilah peneliti akan bertindak sebagai instrumen untuk menggali data yang berkaitan dengan fokus penelitian. Pada proses pengumpulan data ini peneliti akan menggunakan teknik-teknik pengumpulan data yang relevan. Sumber Data Menurut Lotflan . alam Moleong, 2010: Ausumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, seleA bihnya adalah data tambahan seperti dokumen atau lain-lainAy. Dalam penelitian ini data yang digunakan menekankan pada kata-kata dan tindakan, data lainnya adalah kata-kata tamA bahan, antara lain dokumen. Dengan demikian, jenis data yang ingin digali dalam peneliti adalah kata-kata yang diucapkan oleh informan kunci ataupun yang lain. Pendekatan Penelitian Studi etnografi . thnographic studie. mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, kelompok sosial atau sistem. Meskipun makna budaya itu sangat luas, tetapi studi etnoAgrafi biasanya dipusatkan pada pola-pola kegiAatan, bahasa, kepercayaan, ritual dan caracara hidup (Sukmadinata, 2006: . EtnoAgrafi adalah salah satu jenis penelitian kualitatif, dimana peneliti melakukan studi terhaAdap budaya kelompok dalam kondisi yang alamiah melalui observasi dan wawancara. (Creswell dalam Sugiyono, 2012: . SelanAjutnya pendekatan yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang artinya penelitian berlandaskan pada filsafat postA positivisme . , digunakan untuk meneAliti pada kondisi obyek yang alamiah, . atural settin. dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2014: . Dalam penelitian kualitatif dapat diistilahA kan seperti orang mau piknik, sehingga ia baru akan tahu tempat yang akan dituju, tetapi tentu belum tahu pasti apa yang ada ditempat itu. akan tahu setelah memasuki obyek, dengan cara membaca berbagai informasi tertulis, gambargambar, berfikir dan melihat obyek dan aktifitas orang yang ada disekililingnya, melakukan wawancara dan sebagainya. Bogdan dalam Sugiyono . 4: . HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini merupakan penelitian kualiA tatif yang bertujuan untuk mengetahui bagaiA mana penerapan pendidikan karakter dalam Ashadi. Implementasi Penerapan Pendidikan Karakter . lembaga islam, nota bene pondok pesantren Minhajut Thullab, peneliti melakukan peneA litian sesuai dengan tahap-tahap yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Adapun hasil observasi yang peneliti ambil di lapangan dapat diuraikan sebagai berikut: Mengembangkan budaya malu jika berbuat Pengajar maupun pengasuh Pondok Pesantren akan memberikan hukuA man yang edukatif bagi santri yang melaA kukan pelanggaran, apakah itu terlambat, tidak melaksanakan tugas, mencuri dan melanggar lain sebagainya. Religius. Setiap santri akan diwajibkan untuk mengikuti dan berperan dalam setiap kegiatan keagamaan, contohnya, sholat baik sunnah maupun wajib, tahlil, pengaA jian umum, istigotsah dan lain sebagainya. Hormat dan santun. Dalam lembaga islam ini, pastinya sama dengan lembaga islam lainnya juga menekankan hormat dan santun, apakah antara santri dengan pengaAjar/pengasuh pondok pesantren dan juga antar santri, saling menghormati dan Tanggung jawab. Santri di pondok Minhajut Thullab ini selain punya tanggung jawab pada Allah untuk selalu beribadah juga punya tanggung jawab pada diri sendiri, selain sebagai santri mereka juga sebagai pelajar, mereka harus pintar dalam hal membagi waktu antara pondok dan sekolah Kemandirian. Santri di pondok ini dibeAkali ilmu pengetahuan umum untuk memperA siapkan mereka terjun di masyarakat, seperti membuka bisnis atau apapun. Kejujuran. Para santri membuka warung kejujuran, dengan warung kejujuran ini diharapkan akan mampu membiasakan santri untuk jujur dalam segala hal. Toleransi. Toleransi adalah sikap yang sudah hilang di Indonesia pada umumnya, dalam pondok pesantren ini, sikap ini dikembangkan dan dipelihara terhadap sesama santri, masayarakat sekitar pondok dan sebagainya. Proses pembentukan karakter ini tentu tidak mudah dilakukan, oleh karena itu dibutuhkan suatu lembaga pendidikan atau lembaga sosial yang menangani secara khusus pembentukan karakter anak. Pendidikan yang mengawalai pembentukan karakter tersebut selain dilakukan di keluarga, juga dapat dilakukan dalam pondok Dalam pondok pesantren tentu dapat memadukan antara pendidikan umum dan nilainilai agama. Nilai agama memanga tidak selalu memiliki kualifikasi nilai moral yang mengikat semua orang, namun nilai-nilai agama dapat menjadi dasar kokoh bagi individu dalam kerangka perkembangan kehidupan moralnya. Sebab ada nilai-nilai agama yang selaras dan serasi dengan nilai-nilai moral. Dalam pelaksanaan pendidikan karakter, tentu harus berdasar pada kebiasaan setiaphari dan dilakukan terus menerus supaya menjadi suatu hal yang semestinya dilakukan. Oleh karena itu, pendidikan karakter seperti ini ditunjang oleh keteladanan dan kesabaran bagi pemimpin maupun pengajar pondok pesantren. Kegiatan rutin untuk membiasakan para siswa melakukan suatu aktivitas ibadah sehingga melekat dalam dirinya adalah bentuk proses pembelajaran disiplin. Menghadirkan simbol-simbol, acara-acara, tradisi-tradisi yang hidup dalam lingkungan sekolah berasrama/ pesantren atau membangun rasa bangga, persatuan dan kesatuan pesantren, visi dan misi, nilai dan norma-norma sekolah berasrama mampu mengantarkan para siswa dalam sikap disiplin yang kuat. Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1 Januari 2017: 9-17 Dalam wawancara dengan pimpinan ponA dok pesantren yaitu KH. Hakim Asafuq Lc, beliau menjelaskan Auuntuk menjadikan santri yang memiliki pendidikan karakter bagus diperA lukan contoh dan panutan, ya kami ini adalah penegak pembentukan karatkter bagi para santri ituAy. Dari pernyataan tersebut dijelaskan kalau pendidikan karakter suatu individu dipengaruhi oleh individu yang mengerti dan memahami bagaimana dalam memimpin santri, sehingga bisa dijadikan contoh dalam segala perbuatan. tetap tumbuh dan berkembang. Bahkan telah mendapat kepercayaan masyarakat dalam menAdidik umat. Krisis-krisis moral yang kian menAdera anak-anak bangsa yang ditunjukan oleh tawuran, kenakalan remaja, narkoba dan lain-lain memunculkan pemahaman bahwa keberadaan pesantren menjadi alternatif Namun, sejalan dengan keperA cayaan masyarakat, pesantrenpun telah meA laAk ukan perubahan-perubahan yang perlu sehingAga eksistensinya benar-benar dapat berA KESIMPULAN DAN SARAN Dengan posisi ini, dunia pesantren tampil dengan teladan indah, dengan kontribusi nilainilai keteladanan dan dalam memproduksi anak-anak bangsa yang berkarakter. Merujuk ke ajaran islam awal, jauh sebelum kewajiban shalat, puasa, haji, dan zakat diperintahkan oleh Allah, kesempurnaan akhlak yang pertama Dalam semangat ajaran dasar Islam ini maka pesantren tentu harus menjadi agen yang pertama dalam membangun karakter bangsa dalam arti sesungguhnya. Kesimpulan Implementasi pendidikan karakter pada pondok pesantren Minhajut Thullab ini mengeAdepankan Akhlaqul Karimah dengan dibekali Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang mumpuni. Yang kemudian dikembangkan kedalam program-program khusus yang mendukung terbentuknya karakter peserta Berbagai kegiatan-kegiatan dan proA gram yang ada di pondok pesantren ini akan membentuk santri-santri yang berakhlak baik. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningAkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendiAdikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan Bila pendidikan karakter telah mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi kalau masa depan bangsa Indonesia ini akan mengalami peruAbahan menuju kejayaan. Dan bila pendiA dikan karakter ini mengalami kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini, negara kita akan semakin ketinggalan dari negara-negara lain. Dihadapan perubahan sosio-kultur yang kian deras dan globalisasi masif, pesantren Saran Dalam meningkatkan kualitas pendidikan karakter pada anak, maka perlu dikembangkan saran-saran sebagai berikut: Pemerintah sehaA rusnya lebih memperhatikan lembaga lembaga pendidikan yang memprioritaskan pendiA dikan yang berbasis agama sehingga dapat menghasilkan generasi yang ahli fikir dan Dan bagi khalayak ramai untuk lebih sadar akan pentingnya pendidikan berbasis agama yang mampu menjadikan generasigenerasi bangsa, sebagai bangsa yang berA akhlakul karimah dan mampu bersaing di era globalisasi yang penuh tantangan saat ini. Lebih khusus lagi dalam pondok pesantren Minhajut Thullab harus: Ashadi. Implementasi Penerapan Pendidikan Karakter . Pengurus dan pengajar pondok pesantren hendaknya lebih kreatif dalam menginA tegrasikan pendidikan karakter ke materi umum lainnya, karena pada dasarnya banyak materi umum yang dapat disisipi dengan pendidikan akhlak. Hal-hal yang mampu mengembangakan penAdidikan karakter supaya lebih dimaA tangAkan lagi karena kegiatan-kegiatan seperAti itu lebih bisa mengena kepada peserAta didik atau santri itu sendiri REFERENSI