Volume 1 No 1 April 2022 Pages 13-24 Sapphire: Journal of Early Childhood Education ISSN: x-x (Prin. , x-x (Onlin. DOI: xx. METODE MONTESSORI UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI DALAM PERSPEKTIF ISLAM Nida AdilahA. Miftahul UlfahA. MaratusyolihatA STAI KH. Abdul Kabier Serang Abstrak Pada 1000 hari pertama kehidupan anak merupakan masa emas atau golden age. Pada periode ini, berkembang berbagai potensi pada diri anak. Diantaranya, kemampuan fisik, kognitif, afektif, bahasa, seni, sosial, emosional, moral, konsep diri, kemandirian, kedisiplinan dan agama. Kemandirian dan disiplin merupakan salah satu bagian penting yang menjadi perhatian dari metode Montessori. Pada metode Montessori, orang dewasa memberikan kebebasan dan dukungan yang penuh terhadap kemandirian anak, melalui beragam jenis kegiatan. Anak dibiarkan mengobservasi dan mengintervensi jenis kegiatan sehari-hari, sehingga anak akan lebih tertarik, bertanggung jawab serta berkonsetrasi terhadap tugas yang dilakukannya. Sehingga, pada akhirnya anak akan mencapai proses Pendidikan karakter lewat kegiatan sehari-hari yang sudah dilakukan. Pada studi ini, akan sedikit menguraikan perpaduan antara konsep islam dan metode montesori terutama untuk membangun Pendidikan karakter terutama kemandirian pada pada anak-anak. Sumber primer dalam studi ini, berupa tulisan Maria Montessori yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang berjudul The Absorbent Mint AuPikiran yang Mudah MenyerapAy. Al QurAoan dan Al Hadist. Hasil dari pembahasan dalam tulisan ini adalah, diharapkan orang tua dapat menerapkan beberapa hal yang membantu mengembangkan Pendidikan karakter anak, seperti: membiasakan mereka untuk melakukan aktifitas secara mandiri, mengajarkan tauhid, memberitahu mana yang haram dan halal, menanamkan keimanan kepada Allah SWT, mengajarkan ibadah, bersikap jujur, berani dan senantiasa bersyukur serta, disipli, namun yang paling penting orang tua diharapkan menjadi contoh utuh yang baik dalam setiap kegiatan anak, karena anak diibaratkan spons yang mudah menyerap segala dan meniru segala tingkah laku. Kata Kunci: anak usia dini, kemandirian, montessori, kajian islam Sapphire: Journal of Early Childhood Education | 13 Metode Montessori Untuk MengembanganA Abstract The first 1000 days of a child's life is a golden age. During this period, children develop various potentials. Among them, physical abilities, cognitive, affective, language, art, social, emotional, moral, self-concept, independence, discipline and religion. Independence and discipline are an important part of the attention of the Montessori In the Montessori method, adults provide complete freedom and support for children's independence, through various types of activities. Children are allowed to observe and intervene in types of daily activities, so that children will be more interested, responsible and concentrate on the tasks they do. So, in the end the child will achieve the process of character education through the daily activities that have been carried out. this study, we will briefly describe the combination of Islamic concepts and montesori methods, especially to build character education, especially independence in children. The primary sources in this study are Maria Montessori's writings which have been translated into Indonesian entitled The Absorbent Mint "A Mind that Easily Absorbs", the Qur'an and Al Hadith. The result of the discussion in this paper is that it is hoped that parents can apply several things that help develop children's character education, such as: getting them used to doing activities independently, teaching monotheism, telling what is haram and halal, instilling faith in Allah SWT, teaching worship. , being honest, brave and always grateful as well as, disciplined, but most importantly parents are expected to be a good whole example in every child's activity, because a child is like a sponge that easily absorbs everything and imitates all behavior. Keyword: early childhood, independence, montessori. Islamic studies Copyright . 2022 Nida Adilah1. Miftahul Ulfah2. Maratusyolihat3. A Corresponding author : Email Address : nidaadilah22@gmail. PENDAHULUAN Anak usia dini, berada pada masa golden age, yakni ini anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan otak anak usia dini mencapai 50 % saat umur 4 tahun dan 80 % saat berumur 8 tahun, bahkan di usia ini dapat dikatakan anak sedang mengalami lompatan perkembangan dikarenakan otak berkembang melebihi otak orang dewasa dan dimasa ini kecerdasan anak sangat luar biasa. Periode ini disebut juga masa yang paling krusial dalam kehidupan individu, karena masa ini adalah waktu untuk anak mulai mengenal sekolah, usia mulai berkelompok, usia mulai menjelajahi lingkungannya, usia untuk banyak bertanya, usia meniru dan kreatif, serta usia bermain. Pada masa ini anak sedang mengeksplorasi banyak hal baru yang ditemuinya. Otaknya terus berkembang ketika mendapat rangsangan positif dari lingkungan, inilah yang mempengaruhi kecerdasan anak. Anak yang jarang menerima rangsangan pendidikan, maka sambungan antarneuron akan menyusut bahkan musnah dan perkembangan otaknya 20%-30% lebih kecil dari ukuran normal anak seusianya Salah satu karakter yang harus dikembangkan pada anak usia dini adalah karakter mandiri. Mandiri merupakan sikap yang tidak mudah bergantung pada orang lain baik dalam menyelesaikan masalahnya sendiri maupun dalam menyelesaikan tugas. Sikap tidak mandiri atau manja pada anak biasanya disebabkan apabila sang anak selalu dilayani dan dilarang melakukan berbagai kegiatan oleh orangtuanya. Misalnya, anak dilarang makan sendiri, anak 14 | Sapphire: Journal of Early Childhood Education Nida Adilah1. Miftahul Ulfah2. Maratusyolihat3 dilarang mandi sendiri, anak dilarang memakai baju sendiri serta anak tidak dibiarkan untuk mengeksplore lingkungannya secara utuh. Padahal, anak harus mencoba melakukan berbagai macam hal tersebut dan orangtua tidak boleh Oleh karena itu, untuk mengembangkan kemandirian anak adalah dengan selalu memberi kesempatan pada anak untuk belajar dan mencoba suatu hal yang baru. Kita sebagai orangtua dan pendidik hanya perlu membimbing dan mengarahkan agar anak dapat melakukannya dengan baik, daripada anak akhirnya menjadi pemalas dan justru menyusahkan orang lain. Rasulullah bersabda: Aubermain-mainlah dengan anakmu selama seminggu, didiklah ia selama seminggu, temanilah ia selama seminggu pula, setelah itu suruhlah ia mandiriAy 1 Kemandirian anak sangat dipengaruhi oleh perlakuan orangtua dan Seperti dalam firman Allah. A a eOUA A aE eO aN ne eI Aa eEOaacCaO NA a AAU a eOA a UA acE aOeIa aE eO aa aE eO aI eI a eE aA aN eI a aOacA a AcEEa aO eEOaCa eOEa eO Ca eO UUEA a AaO eEOa eA AuDan hendaklah takut . epada Alla. orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap . Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. Ay 2 Peranan orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan dasar, seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. Pendidikan dilingkungan keluarga dalam perspektif Islam adalah pendidikan yang didasarkan kepada tuntunan syariAoat Islam yang diterapkan dalam keluarga yang dimaksudkan agar membentuk anak menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT sehingga, pada akhirnya anak akan memiliki akhlak mulia yang mencakup etika, moral, budi pekerti, spiritual atau pemahaman dan pengalaman nilai-nilai keagamaan dalsm kehidupan seharihari. Kegiatan yang dipelajari bergantung dari apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang disekitarnya. Perkembangan kemandirian ini juga menjadi prioritas dalam lembaga pendidikan untuk anak usia dini ini baik itu taman kana-kanak, tempat penitipan anak, dan bermain kelompok. Mendidik anak pada hakikatnya harus disesuaikan dengan fitrah anak, yakni sesuai dengan kondisi anak, menggunakan konsep dan metode yang tepat, serta memiliki kejelasan target yang berorientasi pada kualitas dengan tidak Iepas dari penanaman moral dan budi pekerti yang Iuhur sesuai dengan kaidah agama. Anak pada usia dini diibaratkan sebagai kertas putih polos yang akan menjadi permulaan dalam mengukir masa. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam mengembangkan Pendidikan karakter adalah dengan menggunakan metode Montessori. Metode Montessori menekankan pembelajaran yang mengutamakan Makna kebebasan dalam metode ini adalah kebebasan dalam memilih kegiatan dan kebebasan bermain supaya anak bisa tumbuh dan HR. Bukhari dalam Cahniyo, 2016: 22 dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 1 No. Departemen Agama. Al-qurAoan dan Terjemahan Sapphire: Journal of Early Childhood Education | 15 Metode Montessori Untuk MengembanganA berkembang sesuai tempo dan kecepatan anak. Selain itu, anak akan lebih kreatif dan mandiri. Metode Montessori mengajarkan keterampilan hidup kepada anak, tidak hanya keterampilan berpikir saja. Allah SWT, berfirman. A aE eO aN aIaEaEa aaE aa aEA U AE eI aOa eN aEOE eI IA a AA a AaO aOca aN caEaOIa aIIO CO a eIAA a Aa aOCONa EIca aO eE a aA aEE aI a aI aN eI aO aO eA aEOIa aI Oe aIOIA a ac aO eAOIA "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang Ay3 Berdasarkan ayat tersebut. Allah tidak mewajibkan orang tua membentuk anak-anak menjadi anak yang menguasai banyak hal tetapi mewajibkan orang tua mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan shalihah agar terbebas dari api neraka. Dalam hal ini, metode Montessori dapat dikatakan sejalan dengan Al-QurAoan. Dengan kata lain, sangat mungkin apabila pola asuh barat juga diterapkan dalam pola asuh orang tua muslim dengan tidak mengabaikan syariat-syariat islam. Ada lima konsep dalam metode pendidikan Montessori, yaitu konsep kebebasan yang AufitrahAy, konsep pembelajaran sesuai tahap perkembangan, konsep mencintai alam dan makhluk hidup, konsep mencintai keindahan dan kebersihan, dan konsep proses pembelajaran keterampilan hidup4 . Sejalan dengan QS. An Nahl Ayat 1255 a A a eO aE a aEa a eE a eE aI a aO eE aI eO aA A aIa acaI aacEa N aaO a e aE aIA a AaO a eA a A a eE aA a Aaea aEOA e aAIa a aO a eaE aN eI a acEA a AONA aA a eO aE nN aON aaO a e aE aI a eE aI eNa aOeIA a A acEA a Aa aI eIA a A eIA AuSerulah . kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu. Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjukAy. Sementara itu, dalam ayat Al-Baqarah 1646 disebutkan bahwa. Ae a aI aO eIAa aA a AC EacIOA a A aO e aaEA a A aO eUEa eA a AO aAO eE aA e AaeA a AOA a AA acE eO aE aOEIac aNA e A aO eEAa eE aE acE aA a AO a eEA e Aa acI a ca A a ea aI eO a aN aO aA en A aA eO aN aI eI aE aE a ac sA ca AcEEa aIIa EA A aO aI e a eIa aE NA a A aI a aI eI acI s Aa a e aO a aN eUEa eA a caAEIA s A aUEOA aA aECa eO sI Oac e aCEa eOIA ca A ac a aOeIa EA ca A aOEA a AA aOA e acOA a A aI a aO eUEa eA a A aA a A eE aIA a AeAA a AEOA Departemen Agama. Al-qurAoan dan Terjemahan Adisti. Perpaduan Konsep Islam dengan Metode Montessori dalam Membangun Karakter Anak. MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam, 8. , 61Ae88. https://doi. org/10. 18326/mdr. Departemen Agama. Al-qurAoan dan Terjemahan Departemen Agama. Al-qurAoan dan Terjemahan 16 | Sapphire: Journal of Early Childhood Education Nida Adilah1. Miftahul Ulfah2. Maratusyolihat3 AuSesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan . yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati . , dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, . emua it. sungguh, merupakan tanda-tanda . ebesaran Alla. bagi orangorang yang mengerti. Ay Pendidikan agama adalah salah satu sarana pengembangan karakter pada anak-anak. Maka dari itu, pengembangan Pendidikan karakter wajib disesuaikan dengan nilai-nilai yang tergantung dalam al-qurAoan. Di dalam alqurAoan ada sekali banyak nilai-nilai Pendidikan karakter yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kemandirian. A)(O aa eEIa AaO aN aIca aI eIA aOOa aENI e a e eE aI eOa a eOa eOIaNa aOa e a eIa aI eI aN aUc Aa aI eIN OaeOIA aA aI aEeN a eOaO aN eI aE aO eEOIA a AOI )( aE aOeO aI eI a aI a aN aO aIA a AI aaOE aOa eIa aOAa ecaIa AaO aN aIIa eEOA AuDan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air. Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?Ay Maksud dari ayat ini adalah bahwa Allah SWT telah menghidupkan bumi dengan berbagai macam tumbuh-tumbuhan agar manusia bisa hidup sejahtera darinya, asal manusia mau berusaha untuk mendapatkannya. Seperti pepatah Arab Ausiapa yang bersungguh- sungguh, maka ia akan mendapatAy. Jadi di dalam al-QurAoan, kita sebagai manusia . amba Alla. di tuntut untuk selalu berusaha dengan giat, tidak selalu bergantung kepada orang lain, memiliki kemauan dan hasrat untuk maju sehingga tercipta hidup yang sejahtera. Dalam al-QurAoan surah Al- JumuAoah ayat 10 juga dijelaskan tentang kemandirian: AaEEa aEaO Ue caE a caEE eIA e aA aO ea eO aI eI AA a aAOA ac A EA AaEEa aOeEOA A aEA a AA EO Aa eIaa eO AaO eEa eA a a aa CA aA eA aE eOIA AuApabila telah ditunaikan shalat. Maka bertebaranlah kamu di muka bumi. carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntungAy. Dari ayat di atas juga disebutkan bahwa ketika seseorang telah melakukan kewajibannya sebagai hamba Allah, maka bersegeralah melanjutkan aktivitasnya dan kembali bekerja. Manusia dituntut untuk mandiri, tidak pemalas, mau bekerja, guna untuk memenuhi kebutuhannya di dunia. Maria Montessori lahir pada tahun 1870 di Italia, sebuah negara yang pada masa itu secara khusus memperlakukan wanita secara konservatif. Meskipun banyak rintangan. Montessori adalah wanita Italia pertama yang menjadi dokter. Montessori mengajar di fakultas kedokteran Universitas Roma, dimana melalui klinik-klinik gratisnya, ia sering kali bertemu anak-anak dari kalangan kurang mampu. Dari pekerja annya itu. Montessori meyakini bahwa Sapphire: Journal of Early Childhood Education | 17 Metode Montessori Untuk MengembanganA semua anak dilahirkan dengan potensi luar biasa, yang hanya bisa berkembang jika orang dewasa memberikan stimulasi yang tepat pada tahun-tahun pertama kehidupan mereka. Untuk membuktikan itu, pada tahun 1907 Montessori mulai menjadi pengawas di tempat penitipan bagi anak kaum buruh yang belum bersekolah. Berlokasi di salah satu perkampungan miskin di Roma, tempat ini menjadi Casa dei Bambini atau Aurumah anakAy pertama Montessori. Kondisi Aurumah anakAy tersebut sungguh buruk, dan kebanyakan anak-anak itu bersifat agresif, tidak sabar, dan suka melanggar aturan. Montessori memulai pekerjaannya dengan mengajarkan cara membuat pekerjaan sehari-hari pada anak yang lebih besar. Di luar dugaan, anak-anak usia tiga dan empat tahun sangat senang mempelajari keterampilan hidup sehari-hari. Tidak lama kemudian anak-anak mulai merawat sekolah, membantu menyiapkan makanan, serta membantu memelihara kebersihan lingkungan. Perilaku mereka berubah dari anak jalanan yang liar menjadi teladan dari keramahan dan kesopanan. Montessori menyadari bahwa anak-anak kecil merasa frustasi di dalam dunia dengan ukuran untuk orang dewasa, sehingga Montessori menyiapkan wadah minum, mangkuk serta pisau yang sesuai ukuran tangan anak yang Setelah menghabiskan banyak waktu untuk mengamati dan berinteraksi dengan anak-anak. Montessori mengambil keputusan bahwa anakanak melewati beberapa tahapan perkembangan, dan setiap tahap ditandai dengan kehendak, minat dan cara berpikir tertentu. Montessori juga menemukan bahwa anak-anak memiliki logika sendiri dalam setiap tahap perkembangan, dengan aktivitas kesukaan dan kecenderungan alami tertentu dalam berperilaku. Montessori lalu menyediakan_lingkungan yang menyenangkan_bagi anak untuk mengkronstruksi sendiri pengetahuannya. Menurutnya, metode ini cukup efektif digunakan pada pembelajaran anak usia dini karena mampu mengembangkan keterampilan sosial anak7 Selanjutnya. Montessori mengobservasi cara anak-anak bereaksi terhadap lingkungan yang tenang dan teratur di mana semua benda memiliki tempat sendiri. Montessori mengamati bahwa anak-anak belajar mengendalikan gerakan mereka dan menangkap ketidaksukaan mereka saat ketenangan itu terganggu, jika ada yang tersandung atau menjatuhkan sesuatu. Montessori memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan kemandirian, dan menyadari adanya peningkatan harga diri serta percaya diri pada anak-anak saat diajari dan diberi semangat untuk melakukan sesuatu bagi diri mereka METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan atau literatur Literatur review merupakan ikhtisar komprehensif tentang penelitian yang sudah dilakukan mengenai topik yang spesifik untuk menunjukkan kepada pembaca apa yang sudah diketahui tentang topik tersebut dan apa yang Sumitra Agus. Keterampilan. Mengembangkan Anak. Sosial Dini. Usia. , 60Ae7 18 | Sapphire: Journal of Early Childhood Education Nida Adilah1. Miftahul Ulfah2. Maratusyolihat3 belum diketahui, untuk mencari rasional dari penelitian yang sudah dilakukan atau untuk ide penelitian selanjutnya8 Studi literatur bisa didapat dari berbagai sumber baik jurnal, buku, dokumentasi, internet dan pustaka. Metode studi literatur adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelolah bahan penulisan9. Jenis penulisan yang digunakan adalah studi literatur review yang berfokus pada hasil penulisan yang berkaitan dengan topik atau variabel penulisan. Desain studi literatur dalam artikel ini, terdiri dari tahap perencanaan, identifikasi masalah, menetapkan tujuan dan manfaat penelitian. Subjek yang digunakan dalam artikel ini adalah metode montessori untuk mengembangkan karakter kemandirian anak usia dini dalam perspektif islam. Tujuan penulisan anrtikel ini adalah, untuk menyamakan dan menyelaraskan metode Montessori dan kajian islam untuk mengembangkan karakter kemandirian sebagai salah satu referensi untuk menentukan pola asuh untuk anak-anak mereka terutama pada anak usia sekolah dasar. Adapun sumber data yang digunakan adalah, jurnal, buku-buku, prosiding, karya ilmiah lain, al-qurAoan dan hadis yang tentu saja relevan dengan artikel ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), karakter diartikan sebagai tabiat. sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan individu seseorang dengan yang lain. 21 Sementara dalam kamus sosiologi, karakter diartikan sebagai watak atau ciri khusus dari struktur kepribadian Karakter berhubungan erat dengan kebiasaan-kebiasaan yang mengarah pada perilaku seseorang. Karakter terbentuk dari lingkungan sekitar seseorang dari masa kana-kanak hingga dewasa. Jadi, karakter bukan sesuatu yang sudah melekat secara alami sejak lahir. Oleh sebab itu, pembentukan karakter yang positif sangat penting diterapkan dan dilakukan orang tua atau pendidik terhadap anak sedini mungkin11 Ciri khas individu tersebut akan mengakar pada kepribadiannya yang mendorong bagaimana seseorang akan bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu. 23 Sementara itu. Masnur Muslich menyatakan bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat12 Dari berbagai pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh individu Denney. , & Tewksbury. How to write a literature review. Journal of criminal justice education, 24. , 218-234. Zed. Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Soerjono Soekanto. Kamus Sosiologi, (Jakarta: Rajawali Pers, 1. , h. Mia Zakaria dan Dewi Arumsari. Jeli Membangun Karakter Anak, (Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2. , hal. Masnur Muslich. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, (Jakarta: Bumi Aksara. , h. Sapphire: Journal of Early Childhood Education | 19 Metode Montessori Untuk MengembanganA untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya baik secara spiritual, emosional dan intelektual yang berlangsung seumur hidup Pembentukan karakter dimulai sedini mungkin dari dalam lingkup keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter Pembentukan pendidikan karakter menekankan pentingnya tiga komponen karakter, yaitu pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan tentang moral . oral feelin. , dan perbuatan moral . oral actio. 13 Pada dasarnya pendidikan karakter memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu dan hasil belajar peserta didik, dan tujuan akhir dari pendidikan karakter adalah bagaimana manusia dapat berperilaku sesuai dengan kaidah-kaidah moral. Kemandirian dapat dikatakan sebagai kemampuan anak dalam memenuhi setiap kebutuhannya secara pribadi tanpa bergabung dengan orang lain14 Sedangkan menutut Sunaryo mengemukakan arti kemandirian adalah berani untuk mengambil keputusan yang pastinya dilandasi oleh pemahaman akan segala konseuensi yang didapat dari tindakan yang dilakukannya15 Dari paparan diatas dapat penulis simpulkan bahwa kemandirian adalah suatu kesiapan anak-anak untuk bertindak secara wajar yang bertujuan untuk mencapai sesuatu yang didasarkan pada diri sendiri dengan prinsip untuk tidak bergantung dengan orang lain. Brammer dan Shostrom menjelaskan, kata kemandirian berasal dari kata dasar diri yang mendapatkan awalan ke dan akhiran an yang kemudian membentuk kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari kata diri, pembahasan mengenai kemandirian tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai perkembangan diri itu sendiri, yang dalam konsep Carl Rogers disebut dengan istilah self16 Berdasarkan pengertian karakter kemandirian diatas, dapat disimpulkan bahwa karakter mandiri adalah sikap yang dimiliki seseorang yang memperlihatkan perilaku yang dewasa, mampu mengambil keputusan secara mandiri, mampu memenuhi kebutuhan pribadi individu sendiri serta mampu melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentinganya secara mandiri oleh individu. Karakter kemandirian merupakan perwujudan perilaku individu yang tidak bergantung pada orang lain. Karakter mandiri dapat terlihat pada setiap individu melalui perilakunya sehari-hari Kemandirian dibagi dalam tiga bentuk menurut Steiberg dalam Desmita, yakni kemandirian emosional . motional autonom. , kemandirian tingkah laku . ehavioral autonom. , dan kemandirian nilai . alue autonom. Kemandirian emosional, yakni aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu, seperti hubungan emosional siswa dengan guru atau dengan orang tuangnya. Kemandirian tingkah laku, yakni suatu kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan tanpa tergantung pada orang lain dan Bafirman. Pembentukan Karakter Siswa, (Jakarta: Kencan, 2. , hal. Nana Sudjana. AuDasar-Dasar Proses Belajar MengajarAy, (Bandung: Sinar Baru Al Grasindo, 1. Mohammad Ali dan Mohammad Asori. AuPsikologi RemajaAy, (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , h. Ibid Desmita . Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 20 | Sapphire: Journal of Early Childhood Education Nida Adilah1. Miftahul Ulfah2. Maratusyolihat3 melakukannya secara bertanggung jawab. Mandiri dalam tingkah laku berarti bebas untuk bertindak atau berbuat sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Kemandirian nilai, yakni kemampuan memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah, tentang apa yang penting dan apa yang tidak Kemandirian ini sesungguhnya mengarah kepada suatu pengertian mengenai kemampuan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan dan menetapkan sebuah pilihan dengan berpegang atas dasar prinsip-prinsip individual yang dimilikinya dari pada mengambil prinsip-prinsip orang lain. Pendidikan karakter mandiri dalam Montressori adalah adanya struktur dan keteraturan. Keteraturan dilaksanakan agar anak tahu alat edukasi yang mereka inginkan. Penempatan alat pembelajaran juga harus sesuai dengan jangkauan anak, ini dilakukan untuk mempermudah anak menyiapkan atau mengambilnya sendiri dari tempat penyimpanan. Hal ini dilakukan untuk melatih karakter mandiri dan bertanggung jawab pada anak dalam menyiapkan pembelajaran Dengan begitu pembelajaran Montessori ini tidak dapat diterapkan kepada peserta didiknya jika anak tersebut belum memiliki karakter mandiri ini. Maka dari itu, manifestasi pada pembelajaran aktif anak harus dipandu dengan baik melalui kegiatan Montessori, hal ini dilakakukan supaya anak dapat mencapai kemandiriannya. Karakter mandiri ini tentu saja perlu dibiasakan sejak usia dini. Aktifitas kemandirian ini masih bersifat sederhana. Misalnya anak dapat makan dengan tanganya sendiri tanpa disuapi oleh orang tuanya, mampu mandi sendiri, mampu menggunakan sandal, memakai baju dan bahkan mampu menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan dalam kegiatan belajarnya sendiri Alat-alat bermain yang digunakan dalam pembelajaran Montessori juga memiliki tujuan untuk mengajarkan keterampilan sesuai dengan kebutuhan internal anak. Alat dan benda-benda permainan digunakan sebagai sarana pembelajaran membantu anak agar dapat berkonsentransi pada hal tertentu, termasuk melatih dan mengasah kepekaannya terhadap kemandirian. Anak diharapkan dapat menemukan caraya sendiri dalam belajar. Di dalam Al-QurAoan juga sudah dijelaskan terdapat dalam surat An Nahl ayat 78 sebagai berikut: a aAcEEa a e a a aE eI aI e eI A a aA eO aI a acINa aE eI aUE a e aE aI eOIA aA aO eUEa eA aia o aEa acE aE eI a e aE a eOIA AaO NA a AO UieA o acO aa aE aE aE aI E eacI a aO eUEa eA a a AuDan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukurAy. Kandungan ayat diatas adalah menjelaskan tentang sebagaimana Allah mengeluarkan seorang manusia berdasar kuasa dan ilmu-Nya dari perut ibuibu kita. Setiap manusia yang baru dilahirkan semua dalam keadaan yang tidak mengetahui sesuau apapun yang ada disekelilingnya. Lalu. Allah menganugerahkan kita semua dengan pendengaran, penglihatan, dan aneka Sapphire: Journal of Early Childhood Education | 21 Metode Montessori Untuk MengembanganA hati sebagai bekal dan alat-alat untuk meraih pengetahuan agar manusia bersyukur dengan menggunakan alat-alat tersebut sesuai dengan tujuan Allah yang telah menganugerahkan kita sekalian18 Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa ketika anak lahir ke dunia dalam keadaan lemah dan dan tak berdaya. Oleh sebab itu perlunya kasih sayang dan bimbingan orang tua agar anak tumbuh dan berkembang dengan Dengan memanfaatkan dan memaksimalkan potensi pada panca indra yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik Aebaiknya. Pada kegiatan pembelajaran Montessori anak akan diarahkan secara menyenangkan baik secara berkelompok maupun individu dalam kegiatan pembentukan karakter mandiri ini. Misalkan, anak mampu menggunakan alat makan sendiri, seperti minum dari gelas, makan menggunakan sendok dan garpu mereka tanpa bantuan orang tua, memakai baju sendiri, meletakan Kembali mainan yang sudah digunakan, berani mencuci tangan sendiri ke kamar mandi tanpa dibantu guru maupun orang tuanya, dan mampu menyusun puzzle dengan membentuk gambar yang sempurna sendiri. Jika orang tua atau pendidik jika terbiasa melayani setiap hal-hal yang dibutuhkan anak tanpa memikirkan imbasnya pasti akan menyulitkan kehidupan anak dimasa yang akan daatang. Anak hanya akan jadi bergantung secara terus menerus kepada lingkungan sekitarnya, hal ini tentunya akan menyulitkan pribadi anak sendiri dimasa yang akan dating dan juga orangorang disekelilingnya. Sebagai orang tua tidak boleh menganggap anak sebagai bayi secara terus menerus, yang mau melakukan apapun atau disuruh melakukakn sesuatu. Tugas orang atau pendidika adalah membantu anak untuk melakukakn kegiatan-kegiatan sederhana sehari-hari agar anak dapat menguasai keterampilan-keterampilan secara alami. KESIMPULAN Montessori merupakan metode pendidikan yang membantu anak untuk mencapai potensinya dalam kehidupan. Metode ini menekankan pada kemandirian dan keaktifan anak dengan konsep pembelajaran langsung melalui praktik dan permainan kolaboratif. Begitupula dalam Al-QurAoan yang memberikan pola asuh sesuai dengan tahap perkembangan dan juga sesuai dengan zaman yang berkembang. Berdasarkan kajian diatas dapat disimpulkan, bahwa konsep Pendidikan Montessori telah Menggunakan konsep pendidikan Islam dengan metode Montesori merupakan hal yang dapat menjadi referensi untuk orang tua atau guru dalam mendidik anak, khususnya menanamkan karakter kemandirian pada anak usia Makna dari kolaborasi kedua metode ini, tentu saja untuk mendukung tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psikis, sosial, sisi religius, sehingga harapannya kelak anak-anak dapat mengarungi kehidupan dunia dan akherat secara seimbang, sesuai dengan ajaran agama Islam. Dalam Al-QurAoan Quraish Shihab. AuTafsir Al Misbah Volume 13Ay, (Jakarta: Lentera Hati, 2. , h. 22 | Sapphire: Journal of Early Childhood Education Nida Adilah1. Miftahul Ulfah2. Maratusyolihat3 e aCa eI aOe aNEa aE aEO aeI aIa eOAU a AA a aAO AA AEOeIa eECa aO o aIA a aAcEEa aEaEA AC NA A aa NA a AA a caA a EIA a A aE eO aN a aUE a e a eO aE aE a eEA e aAcEEa acEA aA aUE Oa e aE aI eO oIA a caOE aE acI a eEa a EIA AuMaka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Isla. fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut . Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itula. agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuiAy Berdasarkan kandungan ayat di atas, disebutkan bahwa pada dasarnya anak sudah membawa fitrah pada dirinya masing-masing, yang kemudian tergantung bagaimana lingkungan sekitar terutama guru dan orang tuanya membantu Agama adalah landasan utama dalam mendidik anak. Orang tua dan guru harus mampu mendampingi anak dalam proses tumbuh Menggunakan beragam jenis metode dalam mendidik anak, termasuk menggunakan metode Montessori tidak ada salahnya, apabila konsep yang diambil dapat diterapkan berlandaskan kepada ajaran Islam sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. DAFTAR PUSTAKA