Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam. BHINNEKA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Volume. Number. July 2023 Hlm : 117-126 https://ejournal. id/index. php/bhinneka/index Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam Karya Ibn Athaillah Dan Implikasinya Dalam Pembentukan Akhlak Di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik Muhammad Arifudin1* 1. Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar Menganti Gresik. Indonesia e-mail: arifuddinblues@gmail. Abstract This research is basically to describe the tasawuf in the book al-Hikam, the style of tasawuf in the book, and its implications for the formation of morals at the Mambaus Sholihin Islamic Boarding School. With this research, it is hoped that it will increase broader knowledge and scientific insights about Sufism in the book al-Hikam by Ibn Athaillah as Sakandari and can help efforts to practice the style of Sufism contained in the book al-Hikam by Ibn Athaillah as Sakandari as well as a reference in the formation one's morals. In this book, there is the concept of Sufism which helps a servant to draw closer to Allah. Sufism which has various developments from time to time is divided into two kinds: a. Sunni Sufism b. Philosophical Sufism. Kitab al-Hika contains several teachings of Sufism: a. Sunni Sufism which is divided into two, 1. Sufism akhlaqi, tasawuf prioritizes the formation of good morals with several stages: Takhalli, the process of self-cleaning from reprehensible traits. Takhalli, the process of decorating oneself with good morals. Tajalli, a position that is obtained after going through two The above stage is the absence of a hijab that covers the relationship between a servant and his God. Tasawuf amali is the process of increasing charity with various processes . so that it leads to the intended states . Philosophical Sufism is Sufism whose teachings combine mystical visions and rational visions. The results of the study show that in the book of al-Hikam, there are several teachings of Sufism, but the most dominant is Sunni Sufism, namely Sufism Akhlaki. So that this book can be a reference for managing one's morals to have good morals Keywords: The style of Sufism, the Book of Al-Hikam and the Formation of Morals Abstrak Penelitian ini pada dasarnya untuk mendeskripsikan tasawuf yang ada dalam kitab al-Hikam, corak tasawuf dalam kitab tersebut dan implikasinya dalam pembentukan akhlak di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin. Dengan penelitian ini diharapkan Meningkatkan wawasan pengetahuan dan keilmuan yang lebih luas tentang tasawuf dalam kitab al-Hikamkarya Ibn Athaillah as Sakandari dan bisa membantu usaha dalam pengamalan terhadap corak tasawuf yang terkandung dalam kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah as Sakandari begitu juga sebagai rujukan dalam pembentukan akhlak seseorang. Dalam kitab ini terdapat konsep tasawuf yang membantu seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada allah. Tasawuf yang memiliki berbagai perkembangan dari zaman ke zaman dibagi menjadi dua macam: a. Tasawuf sunni b. Tasawuf falsafi. Kitab al-Hikamberisi mengenai beberapa ajaran tasawuf: a. Tasawuf sunni yang dibagi menjadi dua, 1. Tasawuf akhlaki, tasawuf yang memprioritaskan pada pembentukan akhlak karimah dengan beberapa tahapan: Takhalli, proses pembersihan diri dari sifat tercela. Takhalli, proses penghiasan diri dengan akhlak karimah. Tajalli>, sebuah kedudukan yang BHINNEKA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran. Vol. No. Juli, 2023 . Muhammad Arifuddin Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam. diperoleh setelah melalui dua tahap diatas yakni tidak adanya hijab yang menutupi antara seorang hamba dengan tuhannya. Tasawuf amali, proses peningkatan amal dengan berbagai pross . sehingga menuju keadaan-keadaan yang dituju . Tasawuf falsafi merupakan tasawuf yang ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kitab al-Hikammemiliki beberapa ajaran tasawufnya namun yang paling dominan adalah tasawuf sunni yakni tasawuf akhlaki. Sehingga kitab ini bisa menjadi rujukan untuk menata akhlak seseorang untuk memiliki akhlak karimah Kata kunci : Corak Tasawuf. Kitab Al-Hikamdan Pembentukan Akhlak Pendahuluan Manusia yang hidup di jaman modern ini harus ekstra waspada dalam menghadapi rintangan dan tantangan yang semakin bermacam-macam. Jika mengabaikan hal ini maka bukan tidak mungkin ia akan terjerumus dalam jurang kegelapan dan kesesatan karena tipuan duniawi yang menggiurkan akan membuat seorang terbuai dengan kemewahan dunia. Perkembangan teknologi informasi yang pesat mempunyai dampak positif dan negatif bagi manusia dalam menjalani proses kehidupan ini, dengan teknologi tersebut seseorang dapat mengakses hal-hal yang negatif dalam dunia internet. Dampak ini berpengaruh pada tingkah laku masyarakat yang semakin banyak mengarah pada hal keburukan dan mayoritasnya adalah kalangan muda yang masih labil. Padahal mereka merupakan sebagai penerus bangsa pada era Manusia Pandangan hidup manusia mengalami perubahan yang cukup signifikan, dari pandangan yang agamis berubah ke pandangan yang matrealistis. Tolok ukur yang ingin dicapai hanya dari segi duniawi dengan mengenyampingkan aspek ukhrawi. Kekayaan materi menjadi hal yang terpenting anggapan kebanyakan orang padahal banyak orang yang memiliki kekayaan materi namun tidak memiliki kebahagiaan yang sebenarnya, namun sebaliknya seseorang yang memiliki kekayaan hati merasakan kenyamanan dan kebahagiaan yang berarti. Tentu sangat bersyukur karena untuk menghadapi tantangan dan rintangan tersebut sudah dibahas dalam ilmu tasawuf, banyak cara dan upaya untuk membenahi akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah, melalui kecintaan kepada Allah dan rasulnya dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Tasawuf merupakan suatu proses membenahi akhlak dan melatih jiwa dengan berbagai aktifitas yang bisa menyelematkan manusia dari pengaruh buruk kehidupan duniawi dan mampu mendekatkan diri kepada Allah sehingga jiwa menjadi bersih dan berakhlak mulia seperti yang diharapkan Nabi Muhammad saw. (Sayyed, 2006 : . Intisari tasawuf adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Tuhan, melalui membersihkan diri dari segala sifat tercela agar bisa makrifat pada Allah. Aliran tasawuf memiliki ciri yang berbeda-beda dalam proses untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Secara sosiologis, suatu kelompok beragama akan bertingkah laku dan melakukan segala hal yang telah diyakini kebenarannya, sehingga pada aspek sosial sebuah ajaran akan berpengaruh signifikan dengan kelompok tersebut. (F. O Gea, 2002 : . Ilmu tasawuf tidak hanya berpacu pada ilmu yang digunakan untuk meraih hakikat keTuhanan semata namun tasawuf mempunyai tujuan yang sangat urgen pada BHINNEKA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran. Vol. No. Juli, 2023 . Muhammad Arifuddin Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam. aspek pendidikan dan sosial yakni menekankan pada aspek akhlak manusia agar memiliki akhlak yang baik pada sesama makhluk dan penciptanya sehingga menjadi manusia yang bisa hidup bersosial bersama sekelilingnya dengan baik berdasarkan Islam. Keadaan dunia yang semakin maju dengan pesat integritas Islam mengalami disintegrasi, semangat orang Islam mengalami penurunan. Gerakan tasawuf muncul sebagai antisipatif dan keseimbangan terhadap gejala-gejala di masyarakat yang Pada masa kejayaan Islam tasawuf sebagai keseimbangan terhadap gejala di masyarakat yang hedenostik dan matrealistik. Tasawuf dijadikan sebagai keseimbangan terhadap fenomena yang terjadi berupa arus rasionalisme dan positivisme yang tengah menggeliat. Karena dengan bertasawuf maka manusia akan kembali pada esensi utamanya yakni al-qurAoan dan hadits. Tasawuf dibagi menjadi dua yakni a. tasawuf sunni b. tasawuf falsafi. Tasawuf sunni dibagi menjadi dua tipe, yaitu: tasawuf akhlaqi dan tasawuf amali. (Huda, 2008 : Secara umum tasawuf bertujuan seorang hamba bisa dekat dengan Tuhannya. Namun dalam ketiga tasawuf ini mempunyai sasaran yang berbeda-beda. Pertama tasawuf akhlaqi, tasawuf yang memprioritaskan pada pembinaan akhlak, budi pekerti dan etika yang mulia pada Allah dan sesama makhluk Allah. Kedua tasawuf amali, tasawuf yang memprioritaskan pada peningkatan amal ibadah seseorang supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai cara. Dengan istilah ini tasawuf amali memiliki beberapa tarikat, sedangkan penjelasan mengenai tarikat seperti yang dikutip oleh Asmaran dari L Massignon menjelaskan bahwa tarikat dalam tasawuf mempunyai makna metode yang dilakukan oleh para sufi dari penjelasan ini bisa diambil sebuah pemahaman yang disebut mengenai Maqamat dan Ahwal. (Asmaran, 2008 : . Ketiga tasawuf falsafi, tasawuf yang membahas cara mendekatkan diri kepada Allah secara (Dahlan, 2010 : 26-. Ketiga tasawuf ini mempunyai tujuan yang sama yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui proses membersihkan diri dari segala perbuatan tercela dan membiasakan diri dengan perilaku terpuji. Tokoh ilmu tasawuf sangat banyak dengan berbagai pemikirannya yang mempunyai tujuan yang sama yakni ingin membentuk manusia yang memiliki akhlak yang baik pada sesama manusia serta bisa mendekatkan diri pada Allah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, sehingga menjadi insan kamil, diantara ulama atau tokoh tersebut adalah Ibn Athailah as Sakandari. Sedangkan nama lengkap Ibn Athailah as-Sakandariyah adalah Abi Fadhil Tajuddin Ahmad Ibn Muhammad Ibn Abdul Karim Ibn Athailah asSakandari al Judhami al Maliki as Syadzili, beliau adalah ulama ahli tasawuf, tafsir, aqidah, hadith, nahwu dan ushul fiqih. Salah satu kitab fenomenal karangannya yang dikaji di indonesia adalah al Hikam. Pondok Pesantren Mambaus Sholihin merupakan pondok yang memiliki sistem salafi modern demi membimbing santri-santri untuk tafaqquh fi ad-din sehingga membentuk santri yang berakhlak karimah. Isi kitab ini memiliki corak tasawuf yang relevan dengan kebutuhan umat muslim di zaman ini dalam pembentukan akhlak. Oleh karenanya menurut penulis perlu diadakannya penelitian lebih lanjut dengan menjadikannya tema penelitian tesis yang berjudul Ao Corak Tasawuf Kitab al-Hikam Karya Ibn Athailah asSakandariyah dan Implikasinya dalam Pembentukan Akhlak di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin. BHINNEKA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran. Vol. No. Juli, 2023 . Muhammad Arifuddin Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam. Metode Penelitian Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa metode yang relevan dalam proses pengumpulan dan penggalian data, serta analisis data. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif lapangan dan penelitian library research, dengan menggunakan pendekatan fenomologis. Penelitian ini bermaksud memahami fenomena hal-hal yang telah dialami oleh subyek penelitian secara holistik dan mendeskripsikan dengan bentuk kata-kata dan bahasa. Metode pengumpulan data menggunakan metode penelitian studi kepustakaan . ibrary researc. , dokumentasi, interpretasi, wawancara dan observasi. Metode observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan jalan mengamati, kemudian melakukan pencatatan terhadap obyek yang diselidiki yang berhubungan dengan pokok Peneliti mengklasifikasikan Sumber data menjadi dua macam, yaitu. primer dan sumber sekunder. Sumber primernya diantaranya kitab al-Hikam dan Wawancara dengan beberapa pihak seperti pengasuh pondok, ustadz yang berkecimpung di pondok dan santri. Sumber sekunder dalam penelitian ini dari observasi, dokumentasi serta buku pendukung, atau sumber tertulis lainnya seperti makalah, jurnal, artikel, dan lain-lain Metode Analisa Data yang digunakan diantaranya : Metode content analysis, dalam content analysis peneliti akan mengungkapkan bahwa content analysis adalah isi penelitian yang akan dibahas, kemudian isi diproses dengan aturan dan prosedur secara prosedural. (Muhajir, 1991 : . Dalam hal ini peneliti akan mengungkapkan tasawuf dalam kitab al-Hikamkarya Ibn Athaillah as Sakandari dan corak pemikiran tasawuf dalam kitab alHikamkarya Ibn Athaillah as Sakandari Mengkomparasikan buku utama dengan buku-buku lain tentang hal yang sama atau hal yang berbeda. Dalam pengomparasian ini ide-ide pokok , konsep-konsep dan keseluruhan pikiran harus diperhatikan (Antoni, 2005 : . Peneliti menggunakan analisa deskriptif kualitatif yakni Mendeskripsikan dengan cara menyusun dan mengelompokkan data yang ada sehingga memberikan gambaran nyata terhadap responden Hasil dan Pembahasan Konsep Tasawuf Kitab al-Hikam Membina akhlak Karakter yang diingankan oleh Ibn Athaillah as Sakandari dalam kitab al Hikam adalah karakter-karakter yang membangun manusia menjadi hamba Allah berakhlak karimah dan bertaqwa. Secara global Ibn Athaillah as Sakandari menyebutkan karakterkarakter hamba yang bertaqwa di antaranya : Husnudhan Berbaik sangka kepada Allah atas segala ketetapan qadla dan qadarnya baik hal itu berupa kenikmatan maupun musibah yang sedang diterimanya dan berikhtiar dengan keras demi menyelesaikan segala urusan dan kepentingannya seperti ucapan Ibn Athaillah as Sakandari (Ghozali, 2008 : . Apabila seorang hamba yakin dengan segala pemberian Allah maka ia akan menjadi hamba yang memiliki sifat husnudhan pada tuhannya. Bahkan ia akan selalu bersandar hanya kepada Allah dalam menyelesaikan segala kepentingan atau urusannya. BHINNEKA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran. Vol. No. Juli, 2023 . Muhammad Arifuddin Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam. Intropeksi Memikirkan dan menganalisa segala amal yang telah dilakukannya, nilai apa yang terkandung dalam amal tersebut kebaikan atau keburukan. Jika terdapat nilai keburukan maka hal yang harus di lakukan adalah melakukan pembenahan diri dengan cara mengganti dengan kebaikan seperti ucapan Ibn Athaillah as Sakandari (Fajar, 2005 : . Hakikat manusia sebagai makhluk yang lemah dan terbatas tidak mempunyai kewenangan atau kekuatan secara optimal untuk menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya serta banyak kelemahan dan kekurangan yang ada dalam diri manusia. Oleh karena itu manusia hendaknya selalu melakukan intropeksi diri dengan mengenali aib dirinya sendiri. Istiqamah Menjalankan suatu amal ibadah dengan terus menerus, istiqamah dalam beribadah merupakan suatu hal yang sulit di terapkan sebab diri manusia hakikatnya sebagai hamba yang lemah dan tidak lepas dari kelalaian dan kesalahan namun seorang hamba tidak di perkenankan untuk berputus asa karena terlanjur melakukan dosa, hendaknya tetaplah berusaha dan istiqamah dalam menjalankan ibadah dengan rajin dan penuh semangat penuh disiplin serta berharap mendapatkan ampunan dan pertolongan dari Allah seperti ungkapan Ibn Athaillah as Sakandari (Djamaludin, 2005 : Penyakit hati Perkara-perkara buruk dan akhlak-akhlak tercela yang menjauhkan diri kepada Allah ajaran islam memiliki macammacam amal yang harus di kerjakan dan dijauhi. Begitu juga dalam ajaran tasawuf seorang ahli tasawuf harus mengetahui halhal yang di anjurkan dan dilarang. Sebab kedua hal tersebut akan mempengaruhi esensi ahli sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah (Ghozali, 2008 : . Ibn Athaillah as Sakandari mengungkapkan dalm kitab al-Hikamterdapat beberapa perkara buruk yang harus dijauhi di antaranya: Menunda amal ibadah Ibadah wajib merupakan ibadah yang harus dilakukan oleh setiap muslim dengan konsekuensi akan mendapat murka Allah jika Tidak ada alasan bagi setiap muslim dengan banyaknya urusan yang sedang dialami karena ini merupakan kewajiban atas Allah sebagai tuhan. Menunda amal ibadah merupakan tanda tidak bersyukurnya seorang muslim kepada Allah dan termasuk kebodohan hati (Ghozali, 2008 : . SuAoudzan kepada Allah Berburuk sangka kepada Allah merupakan dosa besar dan tanda tipis iman seorang muslim. Seorang hamba menganggap segala pemberian Allah sebagai anugrah meskipun itu berupa hal baik maupun buruk karena di balik kesusahan pasti tersimpan kebahagiaan seperti ucapan Ibn Athaillah as Sakandari (Djamaludin, 2005 : . Seorang muslim hendaknya melihat pemberian Allah dengan mata rohaniyah sehingga dia bisa merasakan hakikat pemberian Allah dan memunculkan sifat khusnudhan pada Allah. Meremehkan amal Kualitas amal kebaikan tidak bisa dilihat seberapa besar pahala, keuntungan atau keutamaan yang akan di peroleh namun dilihat dari segi niat seseorang dalam melakukan suatu amal kebaikan. Niat yang tulus karena Allah dalam melaksanakan suatu amal kebaikan maka akan berpengaruh besar bagi dirinya dan di terima di sisinya seperti ungkapan Ibn Athaillah as Sakandari (Djamaludin, 2005 : . Sedih dan malas beribadah Penyesalan dalam meninggalkan aktifitas ibadah merupakan sifat yang baik namun jika tidak dibarengi intropeksi diri dan semangat BHINNEKA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran. Vol. No. Juli, 2023 . Muhammad Arifuddin Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam. untuk melakukannya merupakan hal kemunafikan seperti ungkapan Ibn Athaillah as Sakandari . Usaha hamba dalam menjalankan ibadah tidak akan berjalan dengan mudah banyak kendala yang akan menghadang seperti bisikan setan dan godaan iblis dan hawa nafsu. Seorang hamba yang memiliki iman yang lemah menjadi mudah di hinggapi rasa malas. Namun seorang hamba tidak di perkenankan untuk berputus asa atas rahmat Allah dengan terus bermujahadah. Kualitas takwa seorang bersifat dinamis hal ini tergantung dengan sebesar apa usaha yang di lakukannya. Lebih menekankan riyadah al-qulub Ibn Athaillah as Sakandari mementingkan latihan-latihan yang berkenaan dengan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah daripada latihan_latihan yang bersifat fisik hal ini beralasan bahwa hati merupakan sasaran utama dalam membentuk pribadi yang berakhlakul karimah, apabila dari aspek bathiniyah seorang muslim telah terarahkan ke hal_hal yang positif maka aspek jasmaniyah akan mengarah pada hal-hal kebaikan juga. Ibn Athaillah as Sakandari telah mengungkapkan dalam kitab al-Hikammengenai beberapa riyadah al-qulub, yang bisa diaplikasikan oleh setiap muslim seperti ikhlas, ridha, sabar, tawadhuAo, tawakal, rajaAo, khauf dan bersyukur. Corak tasawuf kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah as Sakandari Ajaran tasawuf Ibn Athaillah as Sakandari memiliki karakteristik yang berbeda dengan ahli tasawuf yang lain. Melihat penjelasan tasawuf Ibn Athaillah as Sakandari diatas dapat diambil sebuah pemahaman bahwa ajaran tasawuf Ibn Athaillah as Sakandari dalam kitab al-Hikammengarah ke tasawuf akhlaki. Dalam corak tasawuf ini memiliki tiga tahapan dalam membentuk jiwa yang bertasawuf, yaitu: Takhalli Fokus dalam tahapan ini yakni membersihkan dan menghilangkan segala penyakit-penyakit atau dosa-dosa yang berkenaan dengan hati diantaranya : Menjaga diri dari hawa nafsu. Hawa nafsu merupakan musuh yang paling besar yang harus dihadapi dalam diri manusia sebab hawa nafsu mengajak kepada halhal buruk yang bisa mengundang murka Allah(Ghozali, 2008 : . Oleh karena itu apabila terdapat manusia melakukan perbuatan buruk maka bukan hanya karena pengaruh tipu daya setan orang melakukan hal tersebut namun faktor utama adalah hawa nafsu itu sendiri dan tipu daya setan hanyalah lemah Serakah. Sifat ini membuat manusia merasa kurang dengan segala rizki yang diberikan oleh Allah, setiap harinya hanya disibukkan dengan hal duniawi berupaya untuk mencapai semua yang diinginkan dan mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya dengan melakukan segala cara baik itu benar atau salah menurut syariat Islam dan melupakan hal-hal yang bersifat ukhrawi(AlQalami, 2006 : . Hal ini akan menyebabkan manusia akan dikendalikan oleh kekayaan yang bisa menjerumuskan ke jurang kegelapan. Sifat tercela ini bisa diantisipasi dengan memiliki sifat waraAo. Muslim yang memiliki sifat waraAo akan berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia, ikhtiar pada urusan duniawi hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhannya dalam menjalankan kewajiban. Inilah sifat yang bisa memelihara hati dan memudahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti ucapan Abu Hasan al-Naisabury, bahwa barang siapa yang menetapkan kecintaan pada sesuatu yang berkenaan dengan duniawi maka dalam dirinya telah tertancap sifat tamaAo. Jika sifat tamaAo menjadi awal kecintaannya, maka dia telah memulai diri terjerumus dalam kehinaan. Hati yang berhiaskan BHINNEKA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran. Vol. No. Juli, 2023 . Muhammad Arifuddin Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam. keimanan tidak bisa dicampuri sifat tamak, karena hal ini bertentangan dengan esensi hidup di dunia agar menjadi makhluk sosial seperti yang diajarkan oleh Nabi saw wahm, sifat wahm dapat menimbulkan beberapa akhlak tercela seperti, tamaAo terkadang wahm membuat seseorang melamun dengan sesuatu yang mustahil sehingga wahm dapat merusak pikiran dan jiwa. Raghib, orang yang hatinya rakus dan berhasrat untuk memiliki dan menguasai perkara duniawi. Orang yang mempunyai sifat raghib cara pandangnya semua urusan ditakar dengan keuntungan duniawi, amal kebaikan yang ditujukan untuk urusan duniawi mengurangi nilai amal kebaikan bahkan hal ini bisa menjadikan amal tertolak, karena tidak adanya sifat ikhlas hanya karena Allah dalam dirinya, bahkan mereka cenderung melakukan kemunafikan dan bersembunyi dalam topeng kebaikan (Ghozali, 2008 : 136 Arif. , & bin Abd Aziz. Pikiran orang raghib terlintas hanya bagaimana orang menjadi tertarik dengan dirinya tanpa mengharapkan nur hidayah dari Allah sebab keuntungan dunia menjadi landasan utama dalam menjalankan segala aktifitas di dunia, begitu juga jika ada orang yang mempunyai atau melaksanakan aktifitas yang sama seorang yang mempunyai sifat raghib akan merasa takut tersaingi dengan kehadirannya dan hasil duniawinya akan menjadi berkurang. Rasa isi akan timbul sehingga dia akan melakukan segala cara baik itu dibenarkan atau dilarang oleh syariat, demi memperoleh keuntungan duniawi yang lebih. Sifat kekanak-kanakan merupakan dinamisnya hati sebab perbedaan kondisi, apabila memperoleh kenikmatan hidup hati merasa senang dengan Allah namun apabila kesengsaraan datang hati merasa benci dengan Allah (Ghozali, 2008 : . Bagi seorang hamba Allah yang beriman, hati mereka haruslah tetap senang dengan dalam segala kondisi, baik dalam kondisi susah maupun bahagia. Tahalli Tahap tahalli lebih mengarah kepada pengisian atau pembiasaan diri dengan berbagai amal-amal kebaikan diantaranya : Qanaah. Merasa puas dan bersyukur atas semua yang telah diberikan oleh Allah swt kepadanya dengan hidup dalam kesederhanaan. Sifat qanaah mengajarkan kepada manusia untuk menjalani hidup terhindar dari sifat tamaAo dan keinginankeinginan yang tidak terkendalikan. Ikhlas. Ikhlas yakni menjalankan segala amal kebaikan semata-mata hanya karena Allah, tidak ada sandaran lain selain Allah. Tingkat kualitas amal tergantung dari Hasil suatu amal ibadah ditentukan bagaimana ia bisa menempatkan niat dan hatinya saat melakukan ibadah WaraAo, tidak terikat dengan keperluan duniawi, ikhlas menerima dan mensyukuri apa yang dimilikinya meskipun tidak sesuai dengan harapan serta tidak mempunyai sifat iri dengan apa yang diperoleh oleh orang sekelilingnya Tawakkal. Tawakal merupakan memasrahkan diri segala urusan mengenai duniawi kepada Allah setelah melaksanakan ikhtiar. Dalam konsep tawakal ini manusia diharuskan untuk berusaha dalam mencapai kebutuhan dan keinginannya karena hal ini menjadikan syarak mutlak seorang sebagai pengusaha dan mengenai hasilnya dipasrahkan kepada Allah. Tajalli BHINNEKA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran. Vol. No. Juli, 2023 . Muhammad Arifuddin Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam. Setelah melalui dua tahap, seorang muslim akan mencapai maqam tajalli yakni pada maqam ini seorang hamba dengan tuhan telah menjadi dekat sehingga antara hamba dan tuhannya tidak ada hijab yang memisahkannya. hal ini merupakan sebuah anugrah yang besar bagi seorang hamba sebab dia sudah bisa makrifatullah yakni menghadap Allah dengan keadaan yang diridhai olehnya dan penuh rahmat Implementasi corak tasawuf kitab Hikam dalam pembentukan akhlak di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Upaya yang dilakukan oleh pondok pesantren dalam mencetak santri yang berakhlak al karimah sejalan dengan tahapan dalam tasawuf akhlaki diantaranya : Takhalli Langkah pertama dalam tahapan ini adalah menghilangkan atau mengkosongkan diri para santri dari segala sifat-sifat tercela yang bisa mengotori hati, begitu juga membersihkan jiwa dari semua prilaku buruk baik yang bersifat lahir maupun batin. Proses Takhalli yang dilakukan oleh pondok pesantren dalam membentuk akhlak karimah santri diantranya: Pembatasan Penggunaan Elektronik Perkembangan teknologi di zaman modern ini sangat pesat, efek positif maupun negatif tercampur menjadi satu, tergantung pengguna teknologi tersebut (Arif. Pondok Pesantren Mambaus Sholihin mewaspadai hal ini dengan melarang semua santri membawa barang-barang elektronik demi menghindari hal-hal negatif yang akan terjadi. Suatu tanda akan lulusnya seseorang pada akhir perjuangannya, jika selalu tawakkal, menyerahkan kepada Alloh sejak awal perjuangannya. ( Djamaludin, 2005 : . Penetapan Tata Tertib Sebuah lembaga yang memiliki tata tertib yang baik dan mampu dijalankan dengan baik maka akan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Penerapan tata tertib di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin merupakan program yang dianggap urgen demi mendisiplinkan para santri, karena semua hal yang berkenaan dengan santri merupakan tanggung jawab Pondok Pesantren. Seperti anjuran dalam kitab hikam: Tidak akan terhenti suatu permintaan yang semata-mata engkau sandarkan kepada karunia . Tuhanmu, dan tidak mudah tercapai permintaan yang engkau sandarkan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri (Ghozali, 2008 : 56 Zakariyah. Arif. , & Faidah. Mencegah Pertemuan Antara Santriwan Dan Santriwati Pondok Pesantren Mambaus Sholihin memisahkan semua kegiatan dengan bertemunya santriwan dan sntriwati. Hal ini dilakukan demi menghindari hal-hal negatif sebab adanya pertemuan tersebut. Karena mencegah lebih baik daripada Seperti keterangan dalam kitab Hikam: barangsiapa yang bersinar terang dengan taat dimasa permulaannya . , pasti akan bersinar terang pula di masa akhirnya dengan cahaya . ma'rifat. Takhalli Setelah mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela tahapan selanjutnya mengisi atau membiasakan diri melakukan akhlak-akhlak terpuji. Tahapan Takhalli yang dipraktekkan di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin diantaranya: Pembiasaan shalat 5 waktu dengan berjamaah Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin mengajari santrinya betapa pentingnya melaksanakan shalat BHINNEKA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran. Vol. No. Juli, 2023 . Muhammad Arifuddin Corak Tasawuf Kitab Al-Hikam. dengan berjamaah karena fadhilahnya lebih besar daripada shalat yang dilakukan Pembelajaran kitab kuning atau klasik Pembelajaran kitab kuning merupakan identitas dari pondok pesantren, kitab kuning memiliki banyak cakupan bahasan yang bermacam-macam seperti akhlak, tauhid, fikih, sejarah ataupun tasawuf. Pondok Pesantren Mambaus Sholihin kitab kuning dipelajari untuk meningkatkan pengetahuan tentang agama dan membentuk pribadi yang berakhlak karimah150. Diantara kitab yang dikaji adalah mengenai akhlak dan tasawuf seperti Ihya Ulum ad-Din dan al-Hikam. Kedua kitab ini akan membahas beberapa materi yang diharapkan membantu santri untuk menata diri dalam menjalin hubungan dengan allah dan sesama. Pembacaan wirid Wiridan merupakan amalan yang dibaca agar senantiasa mengingat allah. Amalan wirid Pondok Pesantren Mambaus Sholihin mempunyai ciri khusus dengan menambah wirid ratibul hadad dan atthas. Hal ini menjadi sebuah ritual yang dilakukan setelah shalat atau berbagai acara dan upacara, dengan harapan terbentuknya akhlak spiritual bagi santri sehingga santri menjadi lebih baik dan terhindar dari sifat-sifat tercela yang tidak diinginkan dan memiliki kepribadian yang baik Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian Mengacu kepada penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai isi kitab al-Hikamdalam segi tasawuf dan corak tasawuf Konsep tasawuf yang diajarkan oleh Ibn Athaillah memiliki beberapa tahapan, diantaranya: a. Proses pembinaan akhlaq, proses ini mengarahkan kepada seorang hamba agar menjadi hamba yang berakhlak karimah b. Menghindari segala hal-hal yang menjadikan diri jauh dari allah yang bersifat batin atau disebut dengan penyakit hati c. Melakukan riyadah al-qulub, sebab segala perbuatan bersumber dari hati 2. Corak tasawuf dalam kitab al-Hikam, dalam kitab ini terdapat beberapa ajaran tasawuf diantaranya: a. tasawuf sunni yakni akhlaki dan falsafi b. tasawuf falsafi. Namun dalam kitab ini memiliki corak akhlaki. Corak tasawuf kitab Hika>m memiliki impikasi dalam pembentukan akhlak santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, dengan konsepnya takhalli. Takhalli dan tajalli. Daftar Pustaka