Masyarakat Berdaya dan Inovasi , 2025, 1-7 Available online: https://mayadani. org/index. php/MAYADANI Peran Parenting Komunikasi Efektif Keluarga Di Era Digital Bagi Ibu-Ibu PKK Di Desa Grinting. Kecamatan Tulangan. Kabupaten Sidoarjo Hartono. Muwakhidah*. Ayong Lianawati. Elia Firda Mufidah. Arya Pranasyah Daniswara Program Studi Bimbingan dan Konseling. Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. JATIM 60234. Indonesia E-mail: muwakhidah@unipasby. Abstrak Perkembangan teknologi digital telah memengaruhi pola komunikasi keluarga, terutama antara orang tua dan anak. Tantangan terbesar dalam pengasuhan modern adalah menjaga kedekatan emosional di tengah dominasi gawai dan media sosial. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat peran parenting komunikasi efektif keluarga di era digital bagi ibu-ibu PKK di Desa Grinting. Kecamatan Tulangan. Kabupaten Sidoarjo bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta keterampilan komunikasi digital pada ibu-ibu PKK di Desa Grinting. Kecamatan Tulangan. Kabupaten Sidoarjo. Metode yang digunakan dalam pengabdian pada masyarakat ini ialah strategi participatory action research. Startegi participatory action research menggunakan lima tahapan diantaranya. , . , . , . , . Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap pentingnya komunikasi terbuka, pengawasan digital yang bijak, serta penggunaan teknologi sebagai sarana komunikasi positif dengan Program ini memberikan dampak nyata dalam membangun kesadaran literasi digital keluarga serta memperkuat peran ibu dalam menciptakan komunikasi keluarga yang efektif di era digital. Kata Kunci: Pengasuhan Digital. Komunikasi Keluarga. Literasi Digital. Ibu Pkk. Pengasuhan Anak. Abstract The development of digital technology has influenced family communication patterns, especially between parents and children. The biggest challenge in modern parenting is maintaining emotional closeness amidst the dominance of gadgets and social media. The community service activity of parenting role of effective family communication in the digital era for PKK mothers in Grinting Village. Tulangan District. Sidoarjo Regency aims to improve the understanding and digital communication skills of PKK mothers in Grinting Village. Tulangan District. Sidoarjo Regency. The method used in this community service is participatory action research strategy. The participatory action research strategy uses five stages including. , . , . , . , . The results of the activity showed an increase in participants' understanding of the importance of open communication, wise digital supervision, and the use of technology as a means of positive communication with children. This program has a real impact in building awareness of family digital literacy and strengthening the role of mothers in creating effective family communication in the digital era. Kata Kunci Digital Parenting. Family Communication. Digital Literacy. Pkk Mothers. Childcare. This is an open access article under the CCAeBY-SA license. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital membawa dampak signifikan terhadap kehidupan keluarga. Anak-anak kini tumbuh di tengah arus informasi tanpa batas dan terpapar teknologi sejak dini. Fenomena ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi orang tua dalam menjalankan peran pengasuhan. Banyak anak menghabiskan waktu lebih banyak dengan gawai daripada berinteraksi langsung dengan keluarga, yang berpotensi menurunkan kualitas komunikasi antara orang tua dan anak (Livingstone & Blum-Ross, 2. Sehingga, dalam kondisi saat ini dalam hal parenting dibutuhkan pendekatan yang lebih proaktif dan dialogis, yang menekankan literasi digital, komunikasi https://doi. org/10. 30874/MAYADANI. info@mayadani. Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 terbuka, dan pemecahan masalah kolaboratif, alih-alih hanya menerapkan batasan (BaniN & Orehovaski. Benedetto & Ingrassia, 2021. Choy et al. , 2. Ibu sebagai pendamping utama anak dalam keluarga memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi yang sehat. Namun, sebagian besar ibu masih kesulitan menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan pola komunikasi tradisional yang berorientasi nilai dan kedekatan emosional. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemberdayaan ibu-ibu PKK agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam berkomunikasi secara efektif di era digital. Selain berdampak pada komunikasi keluarga, penetrasi teknologi juga berpengaruh pada nilai dan norma sosial di masyarakat. Akses informasi yang luas dapat mempercepat proses belajar anak, namun juga membuka peluang munculnya perilaku menyimpang, seperti kecanduan gawai, cyberbullying, atau paparan konten negatif (Putrayasa et al. , 2. Dalam konteks ini, kemampuan orang tua untuk mendampingi anak dalam aktivitas digital menjadi sangat penting agar teknologi dimanfaatkan secara Pengasuhan digital yang efektif dapat meningkatkan literasi digital, mendukung perilaku positif daring, dan melindungi anak dari risiko seperti perundungan siber dan paparan konten yang tidak pantas (Burhan Nudin et al. , 2024. Tan et al. , 2. Namun, penggunaan perangkat elektronik oleh orang tua dapat berdampak negatif terhadap interaksi keluarga dan kesejahteraan anak jika tidak dikelola secara sadar . mek, 2. Fakta lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar ibu di pedesaan, termasuk di Desa Grinting, belum memiliki pemahaman memadai tentang pengasuhan digital. Hasil wawancara awal menunjukkan bahwa 70% ibu peserta PKK membiarkan anak menggunakan gawai tanpa pendampingan karena keterbatasan waktu dan pengetahuan. Kondisi ini mengindikasikan adanya kebutuhan mendesak untuk memperkuat kapasitas ibu dalam hal literasi digital dan komunikasi keluarga. Pola komunikasi yang efektif di era digital harus menekankan tiga aspek utama: keterbukaan, kepercayaan, dan empati. Orang tua perlu mengembangkan kemampuan mendengarkan aktif serta memahami dinamika kehidupan anak di dunia maya. Komunikasi yang berorientasi pada dialog terbuka antara orang tua dan anak dapat mencegah perilaku berisiko dan meningkatkan kesejahteraan emosional anak (Valkenburg & Piotrowski, 2. Kegiatan pengabdian ini disusun untuk menjawab tantangan tersebut dengan memberikan pelatihan kepada ibu-ibu PKK di Desa Grinting. Kecamatan Tulangan. Kabupaten Sidoarjo. Tujuan utama kegiatan ini adalah membantu para ibu membangun kesadaran digital, meningkatkan keterampilan komunikasi dengan anak, dan menumbuhkan budaya literasi digital di lingkungan Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan keluarga berbasis komunitas yang mampu memperkuat ketahanan sosial di era digital. METODE Kegiatan pelatihan Parenting Komunikasi Efektif Keluarga di Era Digital bagi Ibu-Ibu PKK yang dilaksanakan di Balai Desa Grinting. Kecamatan Tulangan. Kabupaten Sidoarjo, dengan peserta sebanyak 35 orang ibu-ibu PKK. Metode yang digunakan dalam pengabdian pada masyarakat ini ialah strategi participatory action Startegi participatory action research menggunakan lima tahapan diantaranya. , . , . , . , . (Vaughn & Jacquez, 2. Pada tahap inform . dilakukan pemberian informasi mengenai parenting di era digital pada ibu-ibu PKK, selanjutnya juga dilakukan analaisis atau deteksi terhapa kondisi masing-masing ibu-ibu PKK. Tahap kedua consult . , dilakukan pendampingan dari para dosen dalam menentukan tujuan pelatihan peningkatan parenting di era digital. Dalam. Tahap ketiga involve . , dilakukan melalui tiga tahapan yakni unfreeze atau penciptaan persepsi, movement atau perubahan perilaku baru, dan refreezing atau pemantapan terhadap perilaku baru sebelum implementasi perubahan tersebut (Lewin, 1. Tahap keempat dan ke lima yakni collaborate . dan empower . melakukan simpulan serta tindak lanjut dari kegiatan pelatihan. Adapun alur pelaksanaan metode pengabdian pada masyarakat sebagai berikut: Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Gambar 1. Alur pelaksanaan metode pengabdian kepada masyarakat HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta dan dukungan penuh dari perangkat desa. Berdasarkan hasil pre-test, sebanyak 78% peserta mengaku belum memahami konsep komunikasi digital yang efektif. Setelah pelatihan, hasil post-test menunjukkan peningkatan rata-rata pemahaman sebesar 35%. Peserta mampu menjelaskan kembali konsep Auparenting digitalAy. Aukomunikasi empatikAy, dan Auliterasi media keluargaAy. Adapun uraian hasi dari tahapan PPM yang dilakukan yakni: Inform . Materi inti mengenai parenting digital, komunikasi empatik, dan literasi media disampaikan dengan asesmen awal. Dampak langsungnya terlihat pada kenaikan pemahaman rata-rata 35% . reAepost tes. peserta mulai memahami istilah kunci (Auparenting digitalAy. Aukomunikasi empatikAy. Auliterasi media keluargaA. Ini menunjukkan transfer pengetahuan awal berjalan baik dan materi relevan dengan kebutuhan peserta. Consult . Fasilitator mendampingi peserta merumuskan tujuan pelatihan yang kontekstual . aturan gawai realistis, kesepakatan keluarg. , sekaligus memetakan masalah harian . nak bermain tanpa pendampingan, orang tua memberi teguran namun tetap phubbin. Tahap ini memperkaya problem ownership dan menyamakan ekspektasi intervensi. Involve . Melalui skema unfreezeAemovementAerefreeze, peserta mulai mengubah perilaku: menerapkan waktu tanpa gawai . akan malam/ibadah bersam. , menjadi role model . engurangi penggunaan ponsel di depan ana. , serta mengalihkan penggunaan dari hiburan pasif ke aktivitas kolaboratif . embuat konten edukatif sederhana bersama ana. Bukti perubahan ditopang oleh narasi reflektif kelompok dan konsistensi antara niatAepraktik. Collaborate . erja sam. Terbentuk jejaring dukungan antar-peserta dan solidaritas PKK. komunikasi dua arah anakAeorang tua meningkat . nak lebih terbuka soal pengalaman darin. Kelompok kecil AuKeluarga Sadar DigitalAy disepakati sebagai forum berbagi praktik baik dan pemecahan masalah, memperluas dampak dari level individu ke komunitas. Ini menandai pergeseran dari intervensi pelatihan ke kolaborasi berkelanjutan. Empower . Agenda tindak lanjut disusun: kelas pendampingan rutin, pelatihan pembuatan konten keluarga positif untuk kanal desa, dan rencana Desa Sadar Digital . elibatkan sekolah, karang taruna, perangkat Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Tahap pemberdayaan mengokohkan ownership komunitas dan memperjelas rute skalabilitas program dari keluarga ke RT/RW ke desa, berikut dokumentasi kegiatan: Gambar 2. Dokumentasi Bersama Gambar 3. Dokumentasi pelaksanaan Peserta juga mengaku lebih memahami pentingnya menjadi contoh positif bagi anak. Sebelumnya, banyak ibu menegur anak karena bermain smartphone berlebihan, tetapi tetap menggunakan ponsel di depan anak. Setelah pelatihan, mereka mulai mengubah perilaku dengan menciptakan waktu khusus tanpa gawai, seperti makan malam atau ibadah bersama. Hal ini memperkuat komunikasi emosional Penggunaan smartphone berlebihan bisa mmeunculkan dampak positif dan negative. Penggunaan smartphone pada anak memiliki dampak positif seperti membantu proses belajar melalui akses informasi dan aplikasi edukatif, meningkatkan kreativitas lewat permainan interaktif, serta mempermudah komunikasi dengan keluarga (Sany, 2. Peningkatan risiko depresi, kecemasan, hiperaktif, defisit perhatian, agresi, dan penarikan diri social (Girela-Serrano et al. , 2024. Hosokawa & Katsura, 2018. Sohn et al. , 2. Selain itu, penggunaan smartphone berlebihan juga menyebabkan gangguan tidur, masalah penglihatan . ermasuk miopia dan ketegangan mat. , obesitas, dan berkurangnya aktivitas fisik (Sohn et al. , 2019. Wang et al. , 2. Dari hasil observasi dan refleksi kelompok, ditemukan bahwa sebagian besar ibu mulai memahami peran mereka bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran digital anak. Mereka memahami bahwa teknologi tidak harus dihindari, melainkan diarahkan untuk mendukung kreativitas dan literasi. Misalnya, beberapa peserta mengajarkan anak membuat konten edukatif sederhana menggunakan ponsel. Paparan tambahan dari peserta menunjukkan bahwa perubahan pola komunikasi berdampak positif terhadap keharmonisan keluarga. Beberapa ibu menyatakan anak lebih terbuka menceritakan pengalaman daringnya, seperti pertemanan di media sosial atau tugas sekolah daring. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan mampu membuka ruang komunikasi yang lebih sehat dan setara antara ibu dan anak (Domoff et al. , 2. Kegiatan ini juga menumbuhkan solidaritas sosial antaranggota PKK. Peserta membentuk kelompok kecil AuKeluarga Sadar DigitalAy yang berfungsi sebagai forum Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 berbagi pengalaman dalam mengasuh anak di era teknologi. Program lanjutan direncanakan berupa kelas pendampingan rutin dan pelatihan pembuatan konten keluarga positif untuk media sosial desa. Pengasuhan anak di era digital membutuhkan pendekatan bernuansa yang menyeimbangkan perlindungan dengan pemberdayaan. Mediasi aktif, literasi digital, dan bimbingan berbasis nilai sangat penting untuk mendukung perkembangan anak yang sehat dan penggunaan teknologi yang aman (Choy et al. , 2. Beberapa penelitian yang sedang berlangsung menekankan perlunya strategi yang adaptif, pendidikan orang tua, dan kerangka kerja yang peka budaya untuk menghadapi lanskap digital yang terus berkembang (BaniN & Orehovaski, 2024. Benedetto & Ingrassia, 2021. Burhan Nudin et al. , 2. Pola pengasuhan pada era digital terbentuk dari pesatnya perkembangan teknologi, perkembangan generasi (Wirastania et al. , 2. , perubahan struktur dan interaksi keluarga, serta ketersediaan perangkat digital yang semakin meluas. Orang tua saat ini dituntut untuk mampu memahami peluang sekaligus potensi dampak negatif dari media digital, sehingga dapat menjaga perkembangan, keamanan, dan kesejahteraan anak dalam konteks yang belum banyak memiliki acuan dari generasi sebelumnya (Khaeriyah Khaeriyah & Nurasia Natsir, 2025. Tadpatrikar et al. , 2021. Pengasuhan digital sendiri mencakup upaya orang tua dalam mengoptimalkan manfaat dan membatasi risiko penggunaan gawai pada anak, melalui pendampingan aktif, pemberian contoh penggunaan teknologi yang bijak, serta pendidikan literasi digital dalam kehidupan sehari-hari (Choy et al. , 2024. Tan et al. , 2. Secara teoritis, hasil kegiatan ini memperkuat konsep digital parenting sebagai bagian dari ketahanan keluarga modern. Orang tua yang memahami dinamika digital cenderung mampu mengarahkan anak secara konstruktif dibanding hanya menerapkan pembatasan (Hiniker et al. , 2. Dengan demikian, komunikasi menjadi strategi utama dalam menjaga keseimbangan antara manfaat dan risiko digitalisasi. Komunikasi di era digital menuntut pemahamn lebih bagaimana orang tua dalam memaksimalkan kondisi ini. Komunikasi digital sering dipahami sebagai bentuk interaksi orang tua dan remaja melalui media seperti WhatsApp. SMS, panggilan suara atau video, dan berbagi konten visual, yang tidak hanya berfungsi untuk menjaga keterhubungan saat berjauhan, tetapi juga membawa implikasi emosional yang berbeda tergantung pada jenis konten yang disampaikan. Di era digital sebagian besar komunikasi keluarga berlangsung melalui teknologi . onsel, media sosial, gim. TV), yang di satu sisi membantu menjaga keterhubungan dan koordinasi keseharian, tetapi di sisi lain mengurangi komunikasi tatap muka, kualitas kebersamaan, dan kohesi keluarga bila tanpa batasan jelas. Pola komunikasi berbeda menurut tipe keluarga: keluarga yang menekankan percakapan cenderung lebih banyak menggunakan kanal digital untuk berbagi emosi namun longgar soal aturan, sedangkan keluarga yang menekankan kepatuhan lebih kuat pada kontrol dan pemantauan penggunaan Kebiasaan seperti menggunakan ponsel saat waktu makan dan belajar anak berkorelasi dengan berkurangnya interaksi hangat dan meningkatnya konflik. sebaliknya co-viewing/co-playing yang terarah dapat memperkuat rasa terhubung (Tadpatrikar et al. , 2021. Kemudahan akses digital dapat mengurangi intensitas komunikasi langsung jika tidak diatur, misalnya orang tua dan anak lebih sibuk dengan gawai masing-masing sehingga kedalaman komunikasi Karena itu, keluarga perlu mengelola penggunaan gawai dengan bijak, menetapkan batas waktu, dan tetap memprioritaskan interaksi tatap muka agar kualitas hubungan tetap terjaga (Anisti et , 2. Kualitas dari komunikasi di era digital bukan frekuensinya, melainkan kualitas dan makna komunikasi yang menjadi penentu kesehatan mental remaja: berbagi pengalaman personal antara ibu dan remaja terbukti melindungi dari gejala depresi dan kecemasan, sementara komunikasi yang bersifat informasi praktis atau koordinatif dapat terasa seperti kontrol berlebih, khususnya bagi anak perempuan, dan berhubungan dengan meningkatnya kecemasan ketika dilakukan dengan ayah (Trager et al. , 2. Selain itu, penggunaan humor dalam komunikasi digital, yang sering dianggap ringan dan menyenangkan, justru berkaitan dengan kenaikan gejala depresi, mungkin karena humor digunakan sebagai mekanisme penyangkalan atau penghindaran emosi. Dengan demikian, komunikasi digital berperan penting dalam dinamika relasi keluarga modern, namun dampaknya bergantung pada kedalaman, kehangatan, dan tujuan emosional pesan yang dipertukarkan. Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 SIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Grinting. Kecamatan Tulangan. Kabupaten Sidoarjo berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan ibu-ibu PKK dalam berkomunikasi dengan anak di era digital. Peserta menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesadaran digital, kemampuan komunikasi empatik, dan penggunaan teknologi secara bijak. Selain itu, kegiatan ini memperkuat solidaritas sosial antaranggota PKK dan menciptakan model pembinaan keluarga berbasis Ke depan, diharapkan program ini dapat dilanjutkan dalam bentuk kegiatan literasi digital berkelanjutan, melibatkan sekolah, karang taruna, dan perangkat desa. Dengan demikian. Desa Grinting dapat menjadi percontohan Desa Sadar Digital yang mendukung pengasuhan berbasis nilai, empati, dan komunikasi terbuka. DAFTAR PUSTAKA