AL-KAINAH JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Penerbit: P3M Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Huda Subang Jl. Raya Rancasari Dalam No. B33. Rancasari. Kec. Pamanukan. Kabupaten Subang. Jawa Barat 41254 E-ISSN: 2985-542X P-ISSN: 2985-5438 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/alkainah ANALISIS FASE-FASE PENDIDIKAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HADIST SUNAN ABU DAWUD NO. Faris Ahzamy1. Azkia Fikamalina2. Rusyaid3 Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Sorong. Indonesia E-mail: farisahzamy01@gmail. com1nC, azkiafikamalina@gmail. rusyaidkjuara890870@gmail. Received: Desember 2025 ARTICLE HISTORY Revised: Desember 2025 Accepted: Desember 2025 Abstrak Latar Belakang: Pendidikan anak dalam Islam memiliki landasan normatif yang kuat dalam hadis Nabi Muhammad saw. , salah satunya hadis Sunan Abu Dawud No. 418 yang memberikan panduan pendidikan shalat dan adab anak secara bertahap. Hadis ini relevan untuk dikaji secara mendalam dalam konteks perkembangan anak dan tantangan pendidikan modern. Tujuan Penelitian: Artikel ini bertujuan untuk menganalisis fase-fase pendidikan anak dalam perspektif hadis Nabi dengan fokus pada pembiasaan shalat pada usia tujuh tahun, pemberian disiplin pada usia sepuluh tahun, serta pemisahan tempat tidur sebagai bentuk pendidikan adab dan karakter. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka . ibrary researc. dengan pendekatan naratif-integratif, mengkaji sumber primer berupa hadis dan syarahnya, serta sumber sekunder yang meliputi literatur psikologi perkembangan anak dan kajian pendidikan Islam kontemporer. Hasil Penelitian: Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis tersebut memuat kerangka pendidikan bertahap . yang sejalan dengan teori perkembangan modern, seperti Piaget. Erikson, dan Vygotsky. Hadis ini merepresentasikan tiga fase pendidikan anak yang mencakup dimensi spiritual, moral, sosial, dan kognitif. Implementasi pendidikan shalat dalam konteks modern memerlukan adaptasi dengan tantangan era digital, perubahan pola asuh keluarga, serta prinsip perlindungan anak, sehingga pendekatan disiplin positif, keteladanan, dan dialog edukatif lebih relevan dibandingkan penerapan instruksi secara literal. Kesimpulan: Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi antara perspektif hadis Nabi, teori psikologi perkembangan, dan konteks pendidikan modern mampu melahirkan model pendidikan Islam yang komprehensif, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan karakter anak secara holistik Kata Kunci: Pendidikan Islam. Hadis. Fase Pendidikan Abstract Background: Child education in Islam is grounded in strong normative foundations derived from the hadiths of the Prophet Muhammad . eace be upon hi. , one of which is Sunan Abu Dawud No. 418, which provides gradual guidance on prayer education and the cultivation of childrenAos manners. This hadith is highly relevant for in-depth analysis in relation to child development and contemporary educational challenges. Research Objectives: This article aims to analyze the phases of child education from the perspective of the ProphetAos hadith, focusing on the habituation of prayer at the age of seven, the implementation of discipline at the age of ten, and the separation of sleeping arrangements as a form of moral and character education. Research Method: This study employs a library research method with a narrative-integrative approach, examining primary sources in the form of the hadith and its commentaries, as well as secondary sources including literature on child developmental psychology and contemporary Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 78 AL-KAINAH JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Penerbit: P3M Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Huda Subang Jl. Raya Rancasari Dalam No. B33. Rancasari. Kec. Pamanukan. Kabupaten Subang. Jawa Barat 41254 E-ISSN: 2985-542X P-ISSN: 2985-5438 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/alkainah Islamic education studies. Research Findings: The findings indicate that the hadith contains a framework of gradual education . that aligns with modern developmental theories such as those proposed by Piaget. Erikson, and Vygotsky. The hadith represents three phases of child education encompassing spiritual, moral, social, and cognitive The implementation of prayer education in the modern context requires adaptation to the challenges of the digital era, changes in family parenting patterns, and child protection principles. Therefore, approaches emphasizing positive discipline, role modeling, and educational dialogue are more relevant than a literal application of instructional Conclusion: This study affirms that integrating the ProphetAos hadith perspective with developmental psychology theories and modern educational contexts can produce a comprehensive, adaptive Islamic education model oriented toward holistic character development in children. Keywords: Islamic Education. Hadith. Educational Phases. Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 79 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid PENDAHULUAN Pendidikan Islam senantiasa menekankan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah dan bahwa proses pendidikan dimulai sejak tahap paling awal dalam kehidupan. Hadist-hadist Nabi Muhammad SAW menjadi rujukan utama dalam merancang fase-fase pendidikan, karena di dalamnya terkandung petunjuk mengenai tahapan usia, karakter, dan metode pembinaan yang sesuai dengan kondisi anak (Redhatul Hayati & Jamilus, 2. Dalam era modern ini, penelitian kontemporer berusaha mengkaji secara sistematik bagaimana teks-teks hadis memberikan gambaran fase pendidikan anak dari masa kanak-kanak hingga masa remaja, termasuk aspek emosional, moral, dan sosial. Secara lebih spesifik, literatur Islam dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa pendidikan Islam berbasis hadis mempertimbangkan waktu dan rentang waktu tertentu contohnya, usia 0-7 tahun, 7-10 tahun, bahkan hingga 10-14 tahun dengan karakteristik pendidikan yang berbeda-beda di tiap fase tersebut. Fase-fase ini tidak sekadar pembagian umur, melainkan juga berkaitan dengan jenis bimbingan, perilaku yang diajarkan, dan hubungan antara orang tua/guru dengan anak dalam menginternalisasi nilai-nilai Islam (Siregar & Chotimah. Misalnya, penelitian AuFase-Fase Pendidikan Anak dalam Konteks HaditsAy yang diterbitkan dalam jurnal pendidikan Islam menguraikan bahwa orang tua atau pendidik perlu memberi perhatian sejak masa prenatal dan bayi, lalu melanjutkan ke fase pertumbuhan awal, di mana cinta kasih, teladan, serta pendidikan ibadah dan akhlak sangat dominan (Amri, 2. Pada fase selanjutnya, mulai muncul tuntutan disiplin yang lebih nyata, pengajaran akhlak secara lebih tegas, serta persiapan tanggung jawab sosial dan ibadah yang lebih mandiri. Fase-fase ini dipandang sebagai tahapan transisi yang kritikal dalam membentuk generasi muslim yang bertakwa dan matang dalam iman dan akhlak (Khotimah, 2. Konteks kontemporer menunjukkan bahwa para pendidik dan orang tua menghadapi tantangan baru, seperti pengaruh digital, media sosial, dan perubahan budaya, yang turut mempengaruhi bagaimana fase pendidikan Islam dijalankan. Penelitian AuIslamic Education Methods for the Millennial Generation in Perspective of Quran and HadithAy menunjukkan bahwa metode pendidikan Nabi masih relevan, namun perlu diadaptasi agar sesuai dengan kebutuhan generasi sekarang, terutama dalam cara penyampaian, pemilihan media, serta pengaturan interaksi sosial (Jahroh, 2. Dalam konteks akademik, kajian tentang fase-fase pendidikan anak berbasis hadis menjadi semakin mendesak karena penelitian-penelitian sebelumnya cenderung hanya menyoroti aspek normatif hadis tanpa mengintegrasikannya dengan teori perkembangan modern serta tantangan pendidikan era digital. Sementara itu, para ahli perkembangan anak menegaskan bahwa setiap fase usia memiliki kebutuhan kognitif, emosional, dan spiritual yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan pendidikan yang berbasis perkembangan . evelopmentally appropriate practic. dan bukan semata aturan tekstual (Salsabila, 2. Selain itu, terdapat kesenjangan penelitian berupa minimnya sintesis yang menghubungkan Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 80 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid prinsip tadarruj dalam hadis Nabi dengan model pendidikan kontemporer yang responsif terhadap perubahan sosial, teknologi, dan pola asuh modern. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki urgensi akademik yang kuat, yaitu untuk mengisi celah tersebut dengan menghadirkan pemetaan sistematis fase pendidikan anak menurut hadis, sekaligus menunjukkan relevansinya bagi desain pendidikan Islam yang adaptif dan kontekstual pada masa kini. Kajian tentang fase-fase pendidikan anak dalam perspektif hadis telah banyak dilakukan, namun sebagian besar penelitian sebelumnya masih berfokus pada uraian mengintegrasikannya secara mendalam dengan teori perkembangan anak modern maupun konteks tantangan pendidikan kontemporer. Misalnya, penelitian Nurdin . hanya menekankan konsep tadarruj dalam pembinaan anak, namun belum membahas bagaimana prinsip tersebut dapat diselaraskan dengan pendekatan pedagogis berbasis perkembangan . evelopmentally appropriate practic. yang digunakan dalam pendidikan modern. (Nurdin, 2. Penelitian Jahroh . memang menyoroti metode pendidikan Islam untuk generasi milenial, tetapi kajiannya tidak secara khusus mengelaborasi tahapan usia dalam hadis dan bagaimana hadis tersebut dapat diterapkan secara praktis dalam kurikulum PAI atau pendidikan keluarga saat ini. (Jahroh, 2. Sementara itu, studi psikologi pendidikan Islam seperti oleh Salsabila . hanya menganalisis tahap perkembangan anak secara psikologis tanpa menghubungkannya secara langsung dengan struktur pedagogis hadis Sunan Abu Dawud No. (Salsabila, 2. Dengan demikian, terdapat kesenjangan penelitian berupa belum adanya kajian komprehensif yang menyatukan pemahaman hadis secara fiqh tarbawi, teori perkembangan anak modern, dan implementasi pendidikan Islam dalam konteks era digital. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan menghadirkan analisis integratif yang menggabungkan perspektif hadis, psikologi perkembangan, dan kebutuhan pendidikan kontemporer. Dalam praktik pendidikan Islam, terdapat kesenjangan signifikan antara tuntunan hadis terhadap fase perkembangan anak dan implementasinya di lapangan, terutama terkait rendahnya tingkat pembiasaan ibadah pada anak usia 7Ae12 tahun, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa survei pendidikan yang melaporkan bahwa lebih dari 40% anak sekolah dasar belum konsisten melaksanakan shalat wajib meskipun telah berada pada fase tamyiz (Zahra, 2. Selain itu, tantangan modern seperti paparan gawai sejak usia dini, perubahan pola asuh orang tua, serta lemahnya literasi keagamaan keluarga menyebabkan prinsip pendidikan bertahap yang diajarkan Nabi tidak berjalan optimal. Hal ini menunjukkan perlunya analisis ilmiah yang lebih terukur mengenai bagaimana hadis Sunan Abu Dawud No. 418 dipahami secara pedagogis, psikologis, dan kontekstual. Artikel ini berkontribusi secara akademik dengan menawarkan sintesis komprehensif antara hadis, teori perkembangan anak modern, dan realitas pendidikan kontemporer, sehingga menghasilkan kerangka konseptual baru tentang implementasi pendidikan bertahap . arAuil al-tarbiya. yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan kurikulum, model Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 81 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid pembinaan keluarga muslim, serta penguatan pedagogik PAI. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya khazanah kajian fiqh tarbawi, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi perancangan strategi pendidikan Islam yang relevan dan adaptif terhadap tantangan zaman. Dengan bermodal kajian hadis dan hasil-riset terkini, artikel ini bertujuan untuk memaparkan secara mendetail fase-fase pendidikan Islam terkait hadis: mulai dari fase sangat awal . renatal dan bay. , fase masa kecil . -7 tahu. , fase usia sekolah dasar, fase Selain mendeskripsikan karakteristik tiap fase, artikel akan membahas tantangan pelaksanaannya di zaman sekarang, dan bagaimana hadis memberikan solusi atau tuntunan dalam setiap Harapannya, pembaca akan memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana pendidikan Islam dalam perspektif hadis bisa menjadi kerangka pendidikan yang efektif, relevan, dan membawa kemaslahatan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan naratifintegratif, yaitu menghimpun, menganalisis, dan mensintesis berbagai sumber primer dan sekunder terkait fase-fase pendidikan anak dalam Islam. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif berupa teks hadis khususnya hadis Sunan Abu Dawud No. 418 kitab syarah hadis, artikel jurnal, buku pendidikan Islam, serta penelitian psikologi perkembangan anak. Sumber literatur diperoleh dari database akademik seperti Google Scholar. DOAJ. Garuda, dan repository jurnal pendidikan Islam. Seleksi literatur mengikuti empat kriteria: . ima tahun terakhir untuk penelitian kontempore. , . kesesuaian tema, . ketersediaan full-text, dan . kredibilitas sumber (Snyder, 2. Proses seleksi literatur mengadaptasi alur PRISMA 2020, yang terdiri dari tahap identification, screening, eligibility, dan inclusion (Page et al. , 2. Pada tahap identifikasi ditemukan 112 dokumen awal. tahap penyaringan . menghasilkan 54 dokumen. tahap kelayakan . menyisakan 28 dokumen. dan tahap inklusi menetapkan 17 dokumen yang paling relevan dengan fokus penelitian. Data dianalisis menggunakan analisis isi tematik . hematic content analysi. , yaitu memetakan tema-tema utama seperti fase perkembangan anak, prinsip tadarruj, konsep disiplin dalam Islam, dan relevansi hadis dalam konteks digital (Braun & Clarke, 2. Proses sintesis naratif kemudian dilakukan untuk menghubungkan temuan hadis dengan teori perkembangan modern dan kebutuhan pendidikan Islam kontemporer, sehingga menghasilkan pemahaman komprehensif yang tidak hanya bersifat normatif tetapi juga aplikatif (Lewis, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Teks dan Konteks Hadis Sunan Abu Dawud No. Hadis tentang perintah shalat pada anak merupakan salah satu hadis paling fundamental dalam kajian pendidikan Islam, karena memberikan pedoman langsung Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 82 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid mengenai fase pembiasaan ibadah berdasarkan tingkat perkembangan anak. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya. Kitab Shalat, yang menjelaskan bahwa anak diperintahkan untuk melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun dan diberi tindakan disiplin pada usia sepuluh tahun jika masih meninggalkannya (Abu Dawud, 2. Secara historis, hadis ini turun dalam konteks pembinaan keluarga muslim generasi awal, ketika Rasulullah SAW menanamkan pentingnya pembiasaan ibadah sejak dini sebagai fondasi pembentukan karakter spiritual dan moral. Para ulama seperti Ibn Qayyim dan al-Nawawi menekankan bahwa hadis ini bukan sekadar instruksi ritual, melainkan kerangka pedagogis yang menata proses pendidikan anak secara bertahap sesuai tingkat kematangan mereka (Al-Jauziyyah, 1. Selain itu, hadis ini menjadi dasar utama pembagian fase pendidikan anak dalam fiqh tarbawi dan diadopsi dalam banyak kurikulum pendidikan Islam masa kini, termasuk madrasah dan pendidikan keluarga (Rahman, 2. Ada banyak hadits terkait dengan Pendidikan Anak, pada makalah ini penulis hanya membahas satu hadits yang populer, yang akrab disampaikan oleh para muballigh dan guru guru agama di sekolah, madrasah, dan pondok pesantren, yaitu hadits tentang perintah shalat terhadap anak. Persoalan pendidikan anak di dalam keluarga merupakan topik yang banyak dibahas dan menjadi perhatian utama para pakar pendidikan maupun masyarakat umum. Sebagian orang beranggapan bahwa pendidikan anak yang paling penting bukan hanya diperoleh di bangku sekolah, melainkan justru dimulai dari lingkungan keluarga. Berikut merupakan Hadits tentang Perintah Shalat terhadap Anak: Hadits Sunan Abu Daud (No. Artinya: AuTelah menceritakan kepada kami Mu`ammal bin Hisyam Al-Yasykuri telah menceritakan kepada kami Isma'il dari Sawwar Abu Hamzah berkata Abu Dawud. Dia adalah Sawwar bin Dawud Abu Hamzah Al-Muzani Ash-Shairafi dari Amru bin Syu'aib dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 83 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid mereka dalam tempat tidurnya. " Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepadaku Dawud bin Sawwar Al-Muzani dengan isnadnya dan maknanya dan dia menambahkan. abda belia. : "Dan apabila salah seorang di antara kalian menikahkan sahaya perempuannya dengan sahaya laki-lakinya atau pembantunya, maka janganlah dia melihat apa yang berada di bawah pusar dan di atas paha. " Abu Dawud berkata. Waki' wahm dalam hal nama Sawwar bin Dawud. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi, dia berkata. Telah menceritakan kepada kami Abu Hamzah Sawwar AshShairafi. Ay(Siregar & Chotimah, 2. Analisis Sanad dan Matan Hadis Sunan Abu Dawud No. Hadis Sunan Abu Dawud No. 418 merupakan hadis yang dipandang otoritatif dalam kajian fiqh tarbawi karena memiliki sanad yang kuat dan matan yang relevan dengan prinsip pendidikan Islam. Dari sisi sanad, hadis ini diriwayatkan melalui jalur AoAmr bin SyuAoaib, dari ayahnya, dari kakeknya. Mayoritas ulama hadis seperti Ibn Hajar al-AoAsqalani dan al-Albani menilai jalur periwayatan ini sebagai hasan, sehingga hadis ini dapat dijadikan hujjah dalam persoalan hukum, termasuk pendidikan anak. Jalur periwayatan lainnya melalui perawi Sawwar bin Dawud juga dinilai cukup kuat, meskipun Abu Dawud sendiri menunjukkan adanya sedikit kekeliruan nama perawi dalam transmisi WakiAo, namun hal tersebut tidak mengurangi kualitas keseluruhan hadis karena penguat dari sanad lain tetap valid. Dari aspek matan, hadis ini menekankan tiga prinsip utama pendidikan anak: . perintah shalat pada usia tujuh tahun, . pemberian tindakan disiplin pada usia sepuluh tahun apabila anak masih meninggalkannya, dan . pemisahan tempat tidur sebagai bentuk pendidikan adab. Para ulama seperti al-Nawawi menegaskan bahwa hadis ini menunjukkan pendekatan tadarruj . endidikan bertaha. , yang sangat sesuai dengan perkembangan kognitif dan emosional anak di usia tamyiz. Istilah AupukullahAy dalam hadis dijelaskan sebagai darb ghairu mubarrih, yaitu pukulan yang tidak melukai, lebih bersifat simbolik sebagai penguat disiplin, bukan hukuman fisik yang keras. Makna ini didukung oleh pandangan Ibn Qayyim yang menjelaskan bahwa tujuan hadis bukan kekerasan, tetapi penguatan tanggung jawab moral anak. Dengan demikian, analisis sanad dan matan menunjukkan bahwa hadis ini tidak hanya sahih secara transmisi, tetapi juga kuat dari sisi pedagogis dan psikologis. Hal ini menegaskan bahwa hadis Sunan Abu Dawud No. 418 memiliki legitimasi akademik untuk digunakan sebagai dasar penyusunan fase pendidikan anak, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun kurikulum pendidikan Islam modern. Fase Pendidikan Anak Menurut Hadis Sunan Abu Dawud No. Hadis Sunan Abu Dawud No. 418 memberikan gambaran yang sangat terstruktur mengenai fase pendidikan anak berdasarkan pendekatan bertahap . Dalam hadis tersebut terdapat tiga fase utama yang menunjukkan pola pembinaan yang sejajar dengan tingkat kematangan kognitif, emosional, dan moral anak. Fase pertama adalah usia tujuh tahun, yang oleh para ulama dipahami sebagai fase tamyiz, yaitu kemampuan anak untuk Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 84 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid membedakan baik dan buruk serta memahami instruksi sederhana (Al-Nawawi, 2. Pada usia ini, perintah shalat diberikan dalam bentuk pembiasaan . , bukan sebagai kewajiban hukum fiqih. Pembiasaan ini menjadi langkah awal pembentukan karakter spiritual dan kedisiplinan, sejalan dengan pemahaman bahwa anak pada fase ini mulai mampu belajar melalui imitasi dan pembiasaan rutin (Al-Syaibani, 1. Fase kedua muncul pada usia sepuluh tahun, saat hadis memerintahkan orang tua memberikan tindakan disiplin apabila anak tidak melaksanakan shalat. Para ulama seperti al-Suyuthi dan al-Nawawi menjelaskan bahwa fase ini bukan sekadar penegasan ritual, tetapi juga penanaman tanggung jawab moral dan latihan konsistensi (Al-Suyuthi, 1. Pukulan yang dimaksud harus bersifat simbolik . arb ghairu mubarri. , sekadar penguat disiplin, tanpa menyakiti fisik maupun psikis anak. Pada usia ini, anak memasuki tahap perkembangan logis dan kemampuan mengambil keputusan sederhana, sehingga pemberian tanggung jawab lebih besar menjadi relevan secara pedagogis (Salsabila, 2. Fase ketiga muncul dalam bagian hadis yang menegaskan pemisahan tempat tidur, menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya menekankan ritual ibadah, tetapi juga adab sosial dan moralitas. Pemisahan tempat tidur pada usia ini bertujuan menumbuhkan kesadaran diri, menjaga batasan pergaulan, serta melatih kemandirian anak (Al-Jauziyyah. Dengan demikian, hadis Sunan Abu Dawud No. 418 tidak hanya memberikan instruksi keagamaan, tetapi juga struktur pendidikan komprehensif yang mengintegrasikan aspek spiritual, moral, sosial, dan psikologis. Model tiga fase ini kemudian menjadi dasar banyak kurikulum pendidikan Islam klasik hingga modern dan relevan diterapkan dalam pembinaan keluarga muslim pada era digital. Keterkaitan Hadis dengan Psikologi Perkembangan Anak Hadis Sunan Abu Dawud No. 418 tentang perintah shalat pada usia tujuh tahun dan pemberian disiplin pada usia sepuluh tahun menunjukkan keselarasan yang signifikan dengan teori-teori psikologi perkembangan modern. Pada usia tujuh tahun, anak menurut Piaget memasuki tahap Concrete Operational Stage, yaitu fase ketika anak mulai mampu berpikir logis, memahami aturan konkret, dan mengembangkan kemampuan mengikuti instruksi secara konsisten (Piaget, n. Hal ini sejalan dengan perintah Nabi untuk memulai pembiasaan shalat pada usia tersebut, karena anak telah memiliki kapasitas kognitif untuk memahami struktur ibadah, urutan gerakan, serta konsep dasar kewajiban Pada fase ini juga, anak mulai menunjukkan kemampuan regulasi diri awal-yang menjadi dasar penting bagi pembentukan disiplin ibadah. Pada usia sepuluh tahun, kondisi psikologis anak semakin matang dan memasuki fase perkembangan sosial-emosional yang lebih kompleks. Menurut Erik Erikson, rentang usia 6Ae12 tahun berada pada tahap Industry vs. Inferiority, di mana anak belajar tentang tanggung jawab, konsistensi, serta pencapaian sosial melalui aktivitas terstruktur. (Erikson, ) Hal ini sangat selaras dengan instruksi Nabi untuk memberikan tindakan disiplin ringan apabila anak tidak melaksanakan shalat. Pada fase ini, mekanisme reward-punishment yang terukur terbukti membantu perkembangan rasa tanggung jawab, selama dilakukan Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 85 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid dengan cara yang tidak merusak harga diri anak. Hadis ini secara tidak langsung mendukung praktik positive discipline, yaitu pendekatan disiplin yang bertujuan membentuk tanggung jawab tanpa kekerasan. Selain itu, perspektif Vygotsky mengenai Zone of Proximal Development (ZPD) juga sangat relevan. ZPD menekankan bahwa anak belajar paling efektif ketika dibimbing dalam rentang kemampuan yang hampir dapat ia capai, melalui dukungan orang dewasa yang lebih kompeten (Vygotsky, 1. Perintah Nabi untuk membiasakan shalat sejak usia tujuh tahun merupakan bentuk scaffolding, di mana orang tua memberikan dukungan bertahap hingga anak mampu beribadah secara mandiri. Pada usia sepuluh tahun, perintah pemberian disiplin menunjukkan bahwa dukungan eksternal mulai dikurangi, dan tanggung jawab internal diperkuat. Dengan demikian, hadis Nabi menunjukkan konsep pedagogis yang sangat kompatibel dengan prinsip pembelajaran bertahap dalam teori psikologi kontemporer. Keselarasan hadis dengan teori perkembangan ini membuktikan bahwa pendidikan Islam tidak bertentangan dengan ilmu modern, tetapi justru menyediakan landasan konseptual yang konsisten dengan temuan psikologi. Hal ini memperkuat pemahaman bahwa hadis Nabi bukan hanya instruksi religius, tetapi juga pedoman pedagogis yang sesuai dengan perkembangan fitrah dan potensi anak. Implementasi Pendidikan Shalat pada Anak dalam Konteks Modern Implementasi pendidikan shalat pada anak di era modern menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Selain perubahan pola asuh, perkembangan teknologi digital, media sosial, dan maraknya penggunaan gawai sejak usia dini menjadi faktor yang memengaruhi konsistensi pembiasaan ibadah. Studi terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 60% anak usia sekolah dasar di Indonesia menghabiskan lebih dari 3Ae5 jam per hari menggunakan gadget, sehingga rentang fokus terhadap aktivitas ibadah, termasuk shalat, mengalami penurunan signifikan (Setyaningsih, 2. Dalam konteks ini, prinsip pembiasaan shalat pada usia tujuh tahun sebagaimana tercantum dalam hadis Sunan Abu Dawud No. 418 memerlukan adaptasi strategis agar tetap efektif dan Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pendidikan berbasis keteladanan . , di mana orang tua dan guru memberikan contoh nyata pelaksanaan shalat tepat waktu. Teori sosial Bandura menegaskan bahwa anak belajar terutama melalui observasi, sehingga keteladanan jauh lebih efektif dibandingkan instruksi verbal semata (Bandura, 1. Dalam lingkungan keluarga, praktik berjamaah, penjadwalan shalat bersama, dan pembentukan rutinitas harian terbukti membantu anak membangun rasa tanggung jawab spiritual. Sementara di sekolah dan madrasah, program pembiasaan seperti kelas shalat dhuha, pojok ibadah, atau penguatan budaya religius terbukti meningkatkan kedisiplinan beribadah anak (Rahman, 2. Di era digital, pendekatan positive discipline menjadi sangat penting. Pemberian hukuman fisik tidak lagi relevan, sejalan dengan penjelasan ulama bahwa pukulan dalam Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 86 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid hadis bersifat simbolik dan tidak boleh menyakiti. Sebaliknya, bentuk disiplin yang lebih sesuai adalah penggunaan reward system, behavior charts, penguatan verbal, dan pembimbingan personal. Pendidikan digital . igital parentin. juga perlu diterapkan, seperti pembatasan waktu layar, penggunaan aplikasi pengingat shalat, serta penyediaan konten islami yang mendukung pembelajaran ibadah (Jahroh, 2. Selain itu, sekolah dapat memanfaatkan teknologi seperti video edukasi, aplikasi simulasi tata cara shalat, atau modul daring untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam pembelajaran ibadah. Dengan demikian, implementasi hadis Nabi dalam konteks modern memerlukan integrasi antara nilai tradisional dan pendekatan pedagogis kontemporer. Pembiasaan shalat tetap menjadi inti pendidikan spiritual anak, namun strategi pelaksanaannya harus adaptif, kreatif, dan sesuai dengan tantangan zaman. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Nabi bersifat fleksibel dan dapat diterapkan dalam berbagai konteks, selama prinsip dasarnya tetap dijaga. Kritik dan Batasan Implementasi Hadis dalam Pendidikan Kontemporer Meskipun hadis Sunan Abu Dawud No. 418 memiliki kekuatan pedagogis yang tinggi dan menjadi dasar dalam pembinaan ibadah anak, penerapannya dalam konteks pendidikan modern tidak dapat dilakukan secara literal tanpa mempertimbangkan perkembangan psikologis, sosial, dan hukum yang berlaku saat ini. Pertama, instruksi AumemukulAy anak pada usia sepuluh tahun apabila meninggalkan shalat harus dipahami sesuai dengan penjelasan ulama yang menegaskan bahwa yang dimaksud adalah darb ghairu mubarrih, yaitu pukulan ringan dan simbolik, bukan bentuk kekerasan fisik (AlNawawi, 2. Dalam konteks pendidikan modern, praktik tersebut perlu ditafsirkan ulang agar tidak bertentangan dengan prinsip perlindungan anak dan Undang-Undang Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014 yang melarang segala bentuk kekerasan fisik maupun psikis (Indonesia, 2. Kedua, batasan usia tujuh dan sepuluh tahun tidak selalu sejalan dengan variasi perkembangan anak yang berbeda-beda. Psikologi perkembangan modern menunjukkan bahwa tingkat kematangan kognitif, emosional, dan sosial anak sangat bergantung pada lingkungan keluarga, stimulasi pendidikan dini, dan kondisi neurologis (Santrock, 2. Oleh karena itu, implementasi hadis perlu melihat kesiapan individual anak dan tidak diterapkan secara kaku, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas masingmasing anak. Ketiga, hadis tersebut tidak menjelaskan secara lengkap metode pembelajaran shalat, teknik motivasi, atau pendekatan komunikasi efektif antara orang tua dan anak. Sehingga diperlukan integrasi antara prinsip hadis dan metode pendidikan modern seperti positive discipline, scaffolding, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Selain itu, tantangan era digital seperti distraksi gawai, perubahan pola interaksi sosial, serta menurunnya kualitas komunikasi keluarga memerlukan pendekatan baru yang tidak disebutkan dalam teks hadis, tetapi sejalan dengan nilai-nilai tarbawi (Jahroh, 2. Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 87 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid Keempat, penerapan hadis dalam lembaga pendidikan formal juga memiliki keterbatasan struktural. Tidak semua sekolah atau madrasah memiliki budaya religius yang kuat, dukungan guru yang kompeten, atau sistem pembiasaan ibadah yang konsisten. Tanpa dukungan lingkungan pendidikan yang memadai, implementasi fase pembiasaan shalat dapat berjalan tidak efektif. Oleh karena itu, hadis ini harus dipahami sebagai framework nilai, bukan sebagai prosedur teknis yang lengkap dan final. Dengan demikian, kritik dan batasan implementasi hadis menunjukkan bahwa meskipun hadis Sunan Abu Dawud No. 418 memiliki relevansi kuat sebagai dasar pendidikan ibadah, penerapannya memerlukan pendekatan kontekstual, humanis, dan berorientasi perkembangan anak. Penafsiran fleksibel inilah yang menjadikan pendidikan Islam tetap adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensi nilai-nilai syarAoi. KESIMPULAN Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hadis Sunan Abu Dawud No. 418 memberikan kerangka konseptual yang sangat komprehensif mengenai fase-fase pendidikan anak dalam Islam. Hadis ini menegaskan pentingnya pendekatan bertahap . dalam pembinaan ibadah dan moral anak, dimulai dari fase tamyiz pada usia tujuh tahun hingga fase peneguhan disiplin pada usia sepuluh tahun. Struktur pendidikan yang ditawarkan hadis selaras dengan teori psikologi perkembangan modern seperti Piaget. Erikson, dan Vygotsky yang sama-sama menekankan pentingnya kesiapan kognitif, emosional, dan dukungan bertahap dalam membentuk perilaku anak. Selain itu, pendidikan shalat dalam hadis tidak hanya berorientasi pada aspek ritual, tetapi juga mengandung dimensi disiplin, pembentukan karakter, adab sosial, dan kemandirian. Relevansi hadis ini semakin tampak ketika dihadapkan pada tantangan era digital, di mana penggunaan gawai, perubahan pola asuh, dan menurunnya interaksi religius keluarga menjadi faktor yang memengaruhi kualitas pembiasaan ibadah anak. Oleh karena itu, hadis ini dapat menjadi basis konseptual untuk merancang strategi pendidikan Islam yang adaptif, humanis, dan tetap berakar pada nilai-nilai syariat. Namun demikian, implementasi hadis ini memerlukan penafsiran kontekstual agar tidak bertentangan dengan prinsip perlindungan anak serta pendekatan pedagogis kontemporer. Penafsiran fleksibel-tanpa meninggalkan substansi syarAoi-membuktikan bahwa pendidikan Islam bersifat dinamis dan mampu diintegrasikan dengan temuan akademik modern. DAFTAR RUJUKAN Abu Dawud. ibn al-A. al-S. Sunan Abi Dawud. Kitab Shalat. Bab fi Amri al-Shibyan bi al-Shalat (Hadis No. Maktabah Al-MaAoarif Al-SaAoudiyyah. Al-Jauziyyah. Tuhfat al-Mawdud bi Ahkam al-Mawlud. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Al-Nawawi. Al-MajmuAo Syarh al-Muhadzdzab. Dar al-Fikr. Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 88 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid Al-Suyuthi. Sharh Sunan Abi Dawud. Maktabah al-MaAoarif. Al-Syaibani. Falsafah Pendidikan Islam. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Amri. Masa dan Rentang Waktu Pendidikan dalam Perspektif Hadis. Qonun Iqtishad EL Madani Journal, 2. , 27Ae31. https://doi. org/10. 55438/jqim. Bandura. Social Learning Theory. Prentice Hall. Braun. , & Clarke. Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3. , 77Ae101. https://doi. org/10. 1191/1478088706qp063oa Erikson. Identity: Youth and Crisis. Norton. Indonesia. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Jahroh. Islamic Education Methods For The Millennial Generation In The Perspective Of The Quran And Hadith. AL-WIJDyEN Journal of Islamic Education Studies, 9. , 234Ae250. https://doi. org/10. 58788/alwijdn. Khotimah. Tahap Pendidikan Anak dalam Islam : Metode Khusnul Khotimah pun berjanji akan meningkatkan derajat bagi orang-orang yang manusia sangat dipengaruhi saat berusia 0-5 tahun atau pada fase. Jurnal Agama Dan Hak Azazi Manusia, 11. https://ejournal. uin-suka. id/syariah/inright/article/view/2718/1848 Lewis. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. In Health Promotion Practice (Fourth edi. Vol. Issue . SAGE Publications. https://doi. org/10. 1177/1524839915580941 Nurdin. Konsep Tadarruj dalam Pendidikan Islam: Analisis terhadap Fase Pembinaan Anak. Jurnal Al-Tarbiyah, 8. , 211Ae225. Page. McKenzie. Bossuyt. Boutron. Hoffmann. Mulrow. Shamseer. Tetzlaff. Akl. Brennan. Chou. Glanville. Grimshaw, . Hrybjartsson. Lalu. Li. Loder. Mayo-Wilson. McDonald. A Moher. The PRISMA 2020 statement: an updated guideline for reporting systematic reviews. BMJ, n71. https://doi. org/10. 1136/bmj. Piaget. The Psychology of the Child. Basic Books. Rahman. Tahapan Pendidikan dalam Islam Berdasarkan Hadis Nabi. Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, 10. , 145Ae157. Redhatul Hayati, & Jamilus. Fase Perkembangan Manusia dalam Pendidikan Islam Ditinjau Dari Al-QurAoan dan Hadits. Cognoscere: Jurnal Komunikasi Dan Media Pendidikan, 1. , 30Ae37. https://doi. org/10. 61292/cognoscere. Salsabila. Konsep Psikologis tentang Tahap Perkembangan Anak dalam Pendidikan Islam. Jurnal RRAFI, 7. , 88Ae89. Santrock. Child Development. McGraw-Hill Education. Setyaningsih. Dampak Penggunaan Gadget terhadap Perilaku Religius Anak Usia Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 89 Faris Ahzamy. Azkia Fikamalina. Rusyaid Sekolah Dasar. Siregar. , & Chotimah. Fase-Fase Pendidikan Anak dalam Konteks Hadits. Jurnal Alwatzikhoebillah : Kajian Islam. Pendidikan. Ekonomi. Humaniora, 11. , 894Ae905. https://doi. org/10. 37567/alwatzikhoebillah. Snyder. Literature Review as a Research Method: An Overview and Guidelines. Journal of Business Research, 104, 333Ae339. https://doi. org/10. 1016/j. Vygotsky. Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University Press. Zahra. Internalisasi Nilai Ibadah Shalat pada Anak Usia Pra-Baligh di Lingkungan Keluarga Muslim. Jurnal Pendidikan Islam Anak, 9. , 22Ae23. Al-Kainah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 2 Tahun 2025 | 90