L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya Email: stefanprabani@ukdc. ABSTRACT: The abilities of the disabled develop in a good direction if training and coaching are carried out routinely. Training provides motor and logic skills, coaching provides the right The disabled find it difficult to take the initiative, tend to be withdrawn and unfocused. Collaboration between the disabled and non-disabled creates synergy and produces work that can be proud of. The pride of the disabled is seen when they are able to produce work. Selfconfidence, enthusiasm for life and optimism will increase. They feel useful to others. SLB Paedagogia Maospati Magetan is an inclusive school for the disabled. All disabled students can receive basic education, skills and therapy for recovery. This SLB has become a partner of Darma Cendika Catholic University - Surabaya as a place for Community Service (PkM). Empowerment is directed at training students in wood craft skills with bending techniques through the lamination process. In 2021, they were trained to make simple tables and chairs with plywood In 2022, the making of backrest chairs continued. In 2024, training was increased for greater difficulties. Through the method of Practice and direct supervision, following the SOP set in the production process and directed to understand the work of the industry. The use of materials using bamboo. Through collaboration, disabled and non-disabled work is able to produce work. This training shows: . disabled people will try to follow and adjust the applied SOP. The success of the work provides enthusiasm, hope and confidence. Keywords: SLB Paedagogia Maospati. Lamination Process. Bending Bamboo Pendahuluan Sebagai manusia, kemampuan individu akan terlihat dari kemampuan diri untuk dapat dikembangkan menuju pada tahapan yang lebih meningkat. Kemampuan memiliki batasan, namun semangat hidup menjadi cita-cita untuk terus digapai. Keberhasilan mengembangkan difabel dapat dicapai melalui tiga pendekatan yang secara simultan akan mendukung yaitu: Keluarga. Sosial Kemasyarakatan selanjutnya Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November Lembaga Pendidikan dan Pelatihan. 1 Mereka akan bermanfaat bagi orang lain dan dihargai hasil kerja dan karyanya. Meskipun terkadang sulit, namun dibutuhkan kolaborasi antara difabel dengan non difabel untuk memulai semua perjalanan hidup Kemampuan diri yang dapat ditingkatkan melalui pelatihan, tidak secara langsung muncul, namun butuh suatu proses. Proses inilah yang diharapkan difabel dalam menimba ilmu, pengetahuan, keterampilan serta karya yang dapat dilakukan. Melatih difabel bukanlah hal yang mudah. Kesabaran dibutuhkan untuk terus mengulangi aktifitas yang harus dilakukan difabel. Kesabaran menbutuhkan pengertian, perhatian dan empati untuk terus mengulagi dan membenarkan kesalahan yang dilakukan difabel. Meskipun terkadang emosi muncul, bagi non difabel akan meredam semuanya itu untuk tujuan memberdayakan difabel agar mampu melakukan sesuai harapan. Secara umum individu memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan yaitu: Bakat Verbal. Bakat. Numerikal. Bakat Skolastik. Bakat Abstrak. Bakat Relasi Ruang . Bakat Kecepatan Ketelitian (Klerika. Bakat Bahasa (Linguisti. Bakat Mekanik. Bakat Seni2. Kemampuan dasar atau bakat tersebut secara individu dapat berkembang secara natural dan dapat dikembangkan. Perbadaan mendasar yang perlu disadari adalah kemampuan yang berbeda dan bakat tersebut akan berbeda. Namun memang tidak semua difabel memiliki kemampuan yang sama, hal ini dipengaruhi oleh kekurangan yang ada pada diri Tuna rungu dan Tuna wicara memiliki kemampuan motoric dan logika yang Tuna Grahita memiliki kekurangan dalam daya serap/ingatan dan kemampuan mengingat pengetahuan yang telah diberikan3. Dapat dibedakan berdasarkan tunagrahita ringan dan berat mengikuti kemampuan individu menyerap pengetahuan yang diberikan. Autisme merupakan kekurangan yang dimiliki individu 1 Mulkan. Sayid Fatih. "Upaya Mengembangkan Potensi Anak Disabilitas. " Sosio Religi, 2023: 21- 2 Gardner. Howard. Multiple Intelligences: Memaksimalkan Potensi Dan Kecerdasan Individu Dari Masa Kanak-Kanak Hingga Dewasa. Jakarta: Daras Books, 2013. 3 Faisah. Septi Nur. "Kesulitan Anak Berkebutuhan Khusus Tunagrahita dalam Belajar Mengenal Angka di SLB Bhakti Pertiwi Samarinda. " Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika. Universitas Mulawarman, 2023: 34-41. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November pada perkembangan sosial dan komunikasi, kelainan pada intelegensi verbal atau bahasa serta sulit dalam mengaktualisasikan tingkah laku yang menetap, keinginan, kesenangan dan rutinitas. Tuna Daksa akan dipengarui oleh gerak motoric dan berlogika yang berbeda. Power sindrom memiliki kecenderungan untuk sulit berkomunikasi, berlogika dan menjaga emosi4. Dengan pengetahuan, pengalaman serta sering berinteraksi dengan difabel agar memahami karater masing-masing. Pemahaman tersebut dibutuhkan agar tidak terjadi kesalahan prosedur yang bisa berakibat kecelakaan kerja bagi diabel. Dengan kekurangan yang dimiliki difabel, memberikan kelebihan pada sisi lain dari dirinya namun akan muncul saat terjadi interaksi dan aktivitas. Kekurangan akan mengurangi respon pada saat terjadi kesalahan prosedur. Dengan demikian penggunaan alat bantu mesin maupun manual membutuhkan pengetahuan untuk keselamatan kerrja difabel. Boleh dan tidak boleh menggunakan mesin dan peralatan kerja harus sudah dipahami instruktur. Semua ini harus tegas mengikkuti SOP kerja bagi difabel. Dengan demikian kolaborasi yang dilakukan akan benar-benar bersinergi dan menghasilkan karya yang sesuai harapan5. SLB Paedagogia Maospati, merupakan sekolah luar biasa yang berda dibawah naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Paedagogia. Sekolah ini didirikan untuk mendidik, melatih dan memberikan terapi untuk anak yang memiliki kebutuhan Sekolah melayani semua siswa dari semua kebutuhan khusus, hal ini dilakukan sebagai upaya memberikan yang terbaik bagi anak bangsa yang difabel. Dengan tenaga guru yang telah professional, secara khusus memahami kebutuhan, arah pendidikan dan pengembangan siswa untuk dapat mendekati hidup normal, berguna bagi masyarakat dan bermanfaat bagi orang lain. Sudah banyak lulusan yang merasakan manfaat dari sekolah ini dan khusus bagi masyarakat golongan menengah 4 Nurfadhillah. Septy. "Analisis Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus (Autism. Di Sekolah Inklusi SDN Cipondoh 3 Kota. " BINTANG : Jurnal Pendidikan dan Sains, 2021: 459-465 5 Prabani. Stefanus. Kolaborasi Insan Non Difabel Dengan Insan Difabel Dalam Proses Produksi Furnitur Dengan Teknik Bending Triplek. Surabaya: HKI EC00202293208, 23 November , 2022. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November kebawah, sekolah ini menjadi rujukan untuk mencapai harapan hidup yang lebih baik. Keterbatasan biaya operasional menjadi hambatan bagi sekolah untuk terus mengikuti perkembangan IPTEK. Sebagai institusi pendidikan, kewajiban sekolah untuk terus mengikuti perkembangan dan kemajuan dalam segala bidang agar eksis dalam pengembangan pengetahuan. Siswa juga diharapkan mampu dibakali dengan berbagai keterampilan yang up to date dan bersaing dengan kehidupan yang terus Kemampuan keuangan menjadi kendala untuk pembelian alat dan mesin untuk peningkatan kemampuan keterampilan siswa. Permasalahan keuangan menjadi masalah bagi semua sekolah. Kemampuan yayasan dan unit usaha sekolah terkadang tidak mampu untuk mengikuti perkembangan IPTEK karena berkembangnya alat, mesin, hardware, software dan mendatangkan instruktur. Biaya operasional sekolah yang tinggi berdampak pada kualitas pendidikan dan fasilitas pendidikan yang dapat digunakan untuk proses pembelajaran6. Permasalahan tersebut menggugah Tim dosen untuk dapat memberikan IPTEK yang telah dikembangkan di Kampus untuk dilaksanakan Pengabdian kepada Masysrakat (PkM). Secara khusus Tim dosen mengembangkan IPTEK keterampilan Kriya Kayu dengan sistem laminasi pada media alat cetak lengkung untuk membending bahan triplek dan bambu. Dibawah naungan Universitas Katolik Darma Cendika-Surabaya, pengembangan IPTEK secara khusus membina SLB dan komunitas difabel agar mampu berkarya dalam aktivitas Kriya Kayu. Pemberdayaan kepada difabel telah dilakukan sejak tahun 2021 hingga saat ini dan telah melatih difabel untuk mengetahui teknik bending dengan proses laminasi. Hal penting dalam pemberdayaan ini adalah: . Memberikan pengetahuan IPTEK. Mendekatkan difabel ada SOP kerja. Mendekatkan difabel pada proses kerja . Memberikan pengetahuan tentang perhitungan harga pokok produksi. Perhitungan biaya upah pekerja. Kelima pendekatan pemberdayaan tersebut 6 Imad. Muhammad. "Peran Biaya Operasional Pendidikan Terhadap Output Pendidikan Volume 1. Nomor 2. Agustus. " Manazhim : Jurnal Manajemen dan Ilmu Pendidikan, 2019: 152-165. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November memberikan manfaat kepada difabel untuk memahami proses produksi pada Metode Efektifitas pelatihan sangat ditentukan oleh metode pelatihan yang diterapkan. Pemahaman difabel tentang suatu pengetahuan serta keterampilan akan berbeda tiap Pendekatan dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, dapat dilakukan dengan dua Pendekatan kelompok/classical. Pendekatan individual/personality. Pendekatan tersebut menjadi awal layanan pendidikan, namun tahap selanjutnya dapat dilakukan pendekatan . Pendekatan Remidial. Pendekatan Percepatan/Akselerasi. Pada umumnya pendekatan Remidial dan Pendekatan akseleratsi memiliki tujuan untuk membantu difabel dalam upaya mencapai kompetensi. Penekanan pada hambatan atau kekurangan yang ada pada Pelatihan ini menerapkan pendekatan individual sehingga tidak dilakukan pembatasan terhadap kekurangan yang dimiliki oleh siswa difabel. Pendekatan individual dilakukan agar tidak terjadi diskriminasi terhdap siswa lain. Pendekatan individu dilakukan mengikuti kemampuan siswa untuk tahapan yang mampu Dengan pendekatan individu, siswa merasa diperhatikan dan berusaha menunjukan kemampuan yang dapat dikerjakan. Kecenderungan siswa difabel memiliki kepercayaan diri yang rendah dan tidak fokus pada pekerjaan. Kecenderungan lain mudah terpengaruh dengan temannya. Sesungguhnya terpengaruh tersebut merupaan reaksi diri untuk bisa seperti temannya, namun kurang percaya diri dan control emosional yang rendah mengakibatkan mereka mudah terpengaruh. Difabel dimaknai dengan kemampuan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Difabel bukanlah orang yang tidak memiliki kemampuan 7 Una. LuxcyaMartir Wona. "Pendekatan Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Jurnal Pendidikan Inklusi Citra Bakti Volume 1. Nomor 1, 2023: 1-10 Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November . , sesungguhnya mereka menjalankan aktivitas hidup dengan kondisi fisik dan atau mental yang berbeda dengan orang kebanyakan. Karakter yang perlu dibangun bagi difabel adalah kemandirian, percaya diri, sosialisasi, dan self confident terutama di sekolah. 8 Melalui pendekatan individu, siswa diarahkan untuk fokus mengikuti arahan instruktur, menunbuhkan karakter dan tidak terpengaruh lingkungan lainnya. Dengan demikian pendekatan individu mengajarkan siswa untuk fokus dan konsentrasi sehingga mampu mengerjakan pekerjaan dengan baik. Metode pelatihan yang dilaksanakan dalam pelatihan teknik bending bambu dengan proses laminasi dilakanakan dengan melakukan Praktek dan Pengawasan. Secara rinci dijelaskan sebagai berikut: Metode Praktek Terdapat 9 metode yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan vokasional siswa difabel yaitu: . Metode demonstrasi. Metode direct instruction . embelajaran langsun. Metode drill. Metode praktek: . Metode practise rehearsal pair. Metode pembelajaran berbasis proyek. Metode self regulated learning. Mastery learning. Modeling. Kesamaan yang ada dalam metode tersebut adanya praktik langsung terhadap keterampilan yang akan diajarkan. Dengan demikian metode langsung mengerjakan pekerjaan yang diterapkan akan efektif bagi difabel untuk memahami instruksi dan pengetahuan yang akan disampaikan. Pada metode ini siswa hanya diberi alat dan bahan yang sama dengan instruktur, kemudian instruktur akan memperagakan pekerjaan yang selanjutkan diikuti siswa. Metode ini efektif untuk memberikan pemahaman langsung pada siswa. Melalui peragaan kerja, siswa melihat dan memperagakan. 8Istiqomah. "MEMBANGUN CHARACTER BUILDING BAGI ANAK DIFABEL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. " Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. Oktober, 2019: 98-108. 9 Andini. Indria. "Metode Ae Metode dalam Pembelajaran Keterampilan Vokasional pada Siswa Tunarungu. " Jurnal Basicedu Vol 8 No 1, 2024: 860-871. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November Metode Pendampingan Pendampingan bersifat melekat untuk melakukan koreksi dan memberikan pujian atas kerja yang dilakukan siswa. Peragaan yang dilaukan siswa secara langsung akan diawasi instruktur. Kesalahan akan segera diperbaiki dan yang sudah benar akan dibeerikan pujian untuk terus melakukan yang benar. Metode ini efektif memberikan kepercayaan diri siswa untuuk terus melakukan yang Pengawasan memberikan fokus pada siswa untuk berusaha mengikuti arahan dari instrukktur. Lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Stres kerja menjadi faktor paling kuat dalam mempengaruhi kinerja difabel, eksklusivitas lingkungan kerja menjadi aktor utama karena dapat mempengaruhi kinerja difabel secara langung atau tidak langsung. Hal ini menunjukan bahwa pendampingan difabel saat melakukan pekerjaan sangat penting untuk mengurangi stress akibat ketidakmampuan yang dimiliki. Kedua metode yang digunakan ini dilaksanakan pendekatan individu. Hal ini bertujuan untuk memberikan rasa percaya diri, diperhatikan dan diberdayakan agar siswa mampu melakukan sesuai dengan standart operational dan prosedur (SOP) yang benar. Meskipun hanya merupakan pelatihan, namun pendekatan SOP telah Hal ini bertujuan untuk mendekatkan siswa pada kerja industri. Pengetahuan diluar pendidikan perlu diberikan agar siswa paham mengenai penerapan SOP dan mendekatkan kerja industry. Selain itu memberikan pemahaman apabila suatu saat difabel bekerja pada aktifitas proses produksi. 10 Rahimah. Ratu Avia. "Membangun Kinerja Karyawan Penyandang Disabilitas Melalui Lingkungan Kerja Eksklusif. Stres Kerja dan Kepuasan Kerja. " MASTER: Jurnal Manajemen Strategik Kewirausahaan AuVol. , 2022: 215 - 228. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November Hasil dan Diskusi Pelatihan dilaksanakan dilingkungan SLB Paedagogia Maospati. Sekolah ini telah memiliki kelas untuk praktek keterampilan kriya kayu dan bengkel produksi. Sejak tahun 2023. Yayasan Lembaga Pendidikan Paedagogia dan penyelenggara sekolah telah sepakat mengembangkan IPTEK yang telah diberikan kepada siswa. Transfer pengetahhuan dari Tim dosen UKDC kepada guru SLB secara priodik Ruang kelas digunakan untuk pekerjaan yang bersih dan tidak menghasilkan limbah dan debu. Sedangkan bengkel produksi berada diruang yang berbeda untuk pekerjaan yang menggunakan mesin kerja dan menghasilkan debu serta limbah yang Persyaratan tentang laboratorium atau bengkel kerja, telah mulai dipersiapkan agar memenuhi persyaratan seperti ruang, sanitasi air bersih/air kotor, pencahayaan, penghawaan, jaringan listrik serta peralatan penunjang kegiatan11. Dalam pelatihan tersebut dibagi menjadi dua kelompok yaitu: . Kelompok Difabel. Kelompok Nondifabel, pembagian kelompok ini bukan pemisahan namun saling terkait sesuai proporsi kerja. Siswa difabel, pekerjaan yang dilakukan disesuikan kemampuan individu. Mereka fokus pada pekerjaan rutin yang tidak membutuhkan kemampuan lebih dan tidak beresiko kerja. Sedangkan nondifabel akan mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan logika, kemampuan fisik, kematangan emosional serta kemampuan teknis tentang alat dan mesin kerja. Melalui kolaborasi antara difabel dengan nondifabel akan tercapai sinergitas sehingga pekerjaan tidak saling overlapping. Siswa difabel dilatih untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dikerjakan, fokus dan sesuai SOP. Pada intinya perlakuan yang yang diberikan pada difabel menunjukan kemampuan yang dimiliki. Dari tujuh tahapan produksi yang dikerjakan, tiap siswa memiliki daya serap dan kemampuan yang berbeda. Siswa akan berusaha memilih pada tahapan produksi tertentu dan fokus mengerjakannya, sehingga tiap tahapan produksi ada siswa yang 11 Nasional. Menteri Pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 40 tahun 2008. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, 2008. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November fokus pada pekerjaan tersebut. Pendekatan ini menggunakan prinsip selfdeterminision yaitu kemampuan individu untuk menentukan sendiri sesuai kemampuan diri. 12 Ketujuh tahapan proses produksi tersebut sebagai berikut: Penyiapan Material Irat Bambu. Pekerjaan ini dikerjakan oleh siswa SLB dengan cara menyortir irat bambu untuk ukuran yang sama. Proses ini dilakukan siswa untuk melatih kepekaan terhadap ukuran dua atau lebih barang yang ada. Hal ini akan merangsang siswa untuk berpikir logis tetang beda dua benda dan memilih benda yang sama. Pemilihan benda yang ukuran sama akan diletakan pada tempat yang sama. Pengelompokan tersebut akan dilakukan berulang-ulang sehingga siswa menjadi peka dan tanggap terhadap pekerjaan tersebut. Gambar 1. Irat Disambung (Sumber: Tim PkM Maospati, 2. Gambar 1. menunjukkan setelah tahap sortir irat bambu tersebut maka akan dilanjutkan ke tahap penyambungan irat bambu agar tercapai panjang tertentu untuk digunakan sebagai bahan kompunen kursi. Proses penyambungan ini bertujuan agar siswa mampu melakukan proses penyambungan dua irat dengan Pekerjaan tersebut akan dilakukan berulang-ulang hingga jumlah yang 12 Erissa. Dhea. "Akses Penyandang Disabilitas Terhadap Pekerjaan: Kajian Literatur. " Jurnal Pembangunan Manusia Vol 3, nomor 1 Februari, 2022: 1-18. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November cukup untuk dapat dijadikan komponen. Pengulangan akan memberikan pengalaman dan pelajaran tentang ketelitian, kesabaran dan logika berpikir. Tahap Mengoles Lem dan Klem pada Cetakan Setelah sortir dan penyambungan, akan dilanjutkan dengan tahapan mengolesi lem epoxy dan meletakan pada cetakan selanjutnya di klem. Proses ini membutuhkan ketelitian, kecermatan, kerapian dan kemampuan siswa untuk mengelola penggunaan lem epoxy. Tahap ini membutuhkan kecepatan dan ketepatan jumlah, ukuran dan kekuatan dalam menggunakan klem AuFAy saat Hal lain yang perlu diperhatikan siswa adalah waktu pekerjaan yang harus cepat, karena lem epoxy memiliki waktu mengeras yang tidak lama. Gambar 2. Mengoles Lem dan Mem-bending Bambu Pada Cetakan (Sumber: Tim PkM Maospati, 2. Gambar 3. Komponen Kursi yang Sudah Siap di Proses (Sumber: Tim PkM Maospati, 2. Gambar 2. Dan Gambar 3. Menunjukkan bahwa Pekerjaan ini akan melatih siswa mengikuti SOP yang sudah diajarkan sehingga hasil cetakan akan memenuhi Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November standart untuk menjadi sebuah komonen kursi. Pekerjaan ini akan dilakukan berulang-ulang untuk menjapai jumlah komponen kursi yang dibutuhkan. Siswa sesungguhnya telah terbiasa melakukan kerja tersebut sejak dilatih menggunakan triplek, sehingga mereka telah terampil melakukannya. Tahap Penghalusan Tahap ini merupakan tahap yang proses ekerjaan menggunakan mesin amplas Mesin amplas ini akan berputar dan siswa hanya meletakan komponen kursi yang kasar untuk menjadi halus. Pada proses ini siswa dilatih untuk konsentarsi pada mesin yang berputar, konsentarsi pada posisi komponen yang tegak serta membutuhkan kepekaan pada posisi komponen lain yang masih kasar. Melalui alat ini siswa menjadi peka terhadap kehalusan komponen. Gambar 4. Proses Penghalusan Komponen (Sumber: Tim PkM Maospati, 2. Berdasarkan Gambar 4. Tahap penghalusan berikutnya adalah menggunakan mesin amplas tangan yang dipegang. Mesin ini akan bergetar dan menghaluskan bagian yang dilewatinya. Siswa harus menggerakan mesin amplas dengan lengan tangannya pada posisi yang berbeda hingga semuanya halus. Penggunaan mesin ini melatih otot lengan siswa agar kuat memegang mesin amplas, merasakan getaran dan mampu menggerakannya. Mesin ini dapat melatih otot motoric siswa dan merangsang kepekaan pada posisi yang berbeda hingga tercapai komponen kursi yang halus. Selain menggunakan mesin, siswa dapat juga menggunakan Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November amplas yang ditempelkan di sebuah kayu kecil. Tangan akan bergerak berulangulang untuk menghaluskan komponen kursi. Tahap Filler Setelah semua kompponen dihaluskan, selanjutnya menutup pori-pori dengan dempul kayu. Pekerjaan ini dilakukan menggunakan alat bantu kapi yaitu berupa plat besi yang lebar. Gambar 5. Komponen Kursi di Filter (Sumber: Tim PkM Maospati, 2. Gambar 5. Menunjukkan Dempul/filler akan diusapkan keseluruh permukaan komponen hingga merata. Siswa dilatih untuk teliti dan sabar dalam melakukan proses filler. Setelah filler kering, maka akan dilakukan amplas ulang untuk menghilangkan filler hingga terlihat serat bambu pada komponen tersebut. Pekerjaan ini dilakukan seperti tahap Penghalusan. Tahap Pewarnaan Komponen yang telah bersih dari filler, akan diwarni agar terlihat lebih menarik. Pewarnaan dilakukan menggunakan mesin sprayer elektrik. Hasil yang akan dicapai dengan mesin sprayer ini adalah warna yang rata pada seluruh komponen. Siswa dilatih intuk memegang benda yang cukup berat, menggerakan dan fokus ada objek yang akan diwarnai. Gerak motoric siswa akan dilatih untuk mampu stabil pada posisi tertentu sehingga perlu konsentrasi. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November Gambar 6. Mewarnai dengan Sprayer (Sumber: Tim PkM Maospati, 2. Tahap Pemotongan Kompnen sesuai Ukuran Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan mesin potong sircle dan menggunakan gergaji tangan. Penggunaan mesin potong tidak boleh dilakukan oleh siswa, hal ini merupakan porsi kerja non difabel. Tidak diperbolehkan siswa difabel menggunakan mesin potong untuk menghindari kecelakaan kerja. Gambar 6. Memotong Komponen dengan Mesin . ifabel tidak boleh mengerjaka. (Sumber: Tim PkM Maospati, 2. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November . Tahap Perakitan Tahap ini merupakan pekerjaan yang dikerjakan oleh non difabel. Siswa difabel sebagai asisten yang membantu pada pekerjaan sesuai instruksi. Siswa tetap dilatih untuk mengerjakan dan membantu proses perakitan. Tujuannya agar siswa menjadi paham tahapan perakitan, prinsip kerja alat serta berpikir logika terhadap sebuah konstruksi kursi. Gambar 7. Proses Perakitan (Sumber: Tim PkM Maospati, 2. Berdasarkan Gambar 7. terdapat tujuh tahapan proses produksi tersebut, siswa melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Melalui pendampingan serta pengawasan melekat terhadap individu, dapat secara langsung mengkoreksi kesalahan yang dilakukan. Perbaikan secara langsung akan memberikan manfaat kepada siswa untuk dapat mengerjakan sasuai SOP. Gambar 8. Kursi Telah Jadi dan Siap Digunakan (Sumber: Tim PkM Maospati, 2. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November Gambar 8. Menunjukkan hasil karya siswa yang sepanjang pelatihan, siswa telah mampu melakukan semua pekerjaan sesaui SOP, meskipun melalui perbaikan cara kerja maupun perbaikan hasil kerja. Melalui pelatihan ini terlihat siswa lebih percaya diri setelah mereka melihat hasil yang dicapai. Kolaborasi difabel dengan non difabel yang bersinergi menghasilkan sebuah kursi. Simpulan Pelatihan yang telah dilaksanakan menunjukan arah yang positif terhadap perkembangan siswa. Pekerjaan yang rutin dilakukan oleh difabel akan menjadi kebiasaan sehingga mereka dapat dengan mudah melakukannya. Dampak positif pada perkembangaan siswa difabel melalui pelatihan ini adalah: Siswa dilatih mengerjakan pekerjaan yang mengikuti Syarat. Operasional dan Prosedur (SOP) seperti yang dilakukan oleh industry. Hal ini memberikan pengetahuan dan pengalaman yang baik kepada difabel untuk memahami dan melakukan pekerjaan tersebut. Siswa difabel diajak untuk memasuki dunia kerja layaknya bekerja pada industri dan menghasilkan produk yang akan digunakan oleh masyarakat. Melalui pendekatan industri ini kelak mereka sudah mengetahui proses kerja dalam industri . Gerak motorik siswa difabel yang cenderung lemah, dapat dilatih pada saat melakukan aktivitas yang membutuhkan tenaga. Getaran, beban serta pergerakan tangan yang dilakukan pada tahapan produksi memberikan terapi bagi otot, sendi serta lengan mereka. Konsentrasi pada saat bekerja memberikan dampak yang baik. Pada umumnya siswa difabel tidak fokus saat bekerja, tangan mereka bergerak namun mata mereka tidak tertuju pada objek yang dikerjakan. Melalui pendampingan serta pengawasan, siswa difabel diarahkan untuk fokus dan konsentrasi pada pekerjaan serta fokus ada objek yang dikerjakan. Peningkatan Kemampuan Difabel Melalui Pelatihan Bending Bambu Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida WS Panjaitan. Silfira. Frumensia. Hawa L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume I. Nomor 1. Mei Volume VII Nomor 2 November . Keterampilan kriya kayu yang diberikan menjadi pengetahuan yang baik karena mengenalkan siswa dengan berbagai macam alat, mesin serta bahan. Selain itu proses produksi yang dilakukan membutuhkan kerjasama dalam Kecenderungan siswa difabel kurang bersosialisasi, dengan pekerjaan berkelompok, mereka menjadi terbiasa membantu dan berinisiatif terhadap pekerjaan yang harus diselesaikan. Saran . Perlu dilakukan secara kontinyu semua kegiatan yang telah dilatihkan, hal ini akan memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan siswa. Kerjasama antar siswa difabel harus terus dilakukan agar mereka merasa bermanfaat bagi orang lain dan dibutuhkan oleh oraang lain. Siswa difabel terus diarahkan untuk menghasilkan produk yang berkualitas, bernilai ekonomis sehingga akan tumbuh kemandirian. Sekolah perlu memikirkan alumni yang telah lulus untuk dapat memanfaatkan alat dan mesin yang dimiliki SLB sebagai sarana keterampilan lanjutan. Referensi