Jurnal TarbiyahMu ISSN 2798-429X Volume 4 Nomor 2 Juli 2024 INOVASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: OPTIMALISASI MINAT DAN PRESTASI SISWA MELALUI MODEL STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) (Studi Tindakan Kelas pada Siswa Kelas XI-IPA 1 SMA Muhammadiyah Pangandara. Sandra Taufik Hidayat STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut sandataufik@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan minat dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini menggunakan model Kurt Lewin, dengan subjek siswa kelas XI-IPA 1 SMA Muhammadiyah Pangandaran yang berjumlah 32 orang. Fokus penelitian mencakup minat belajar, prestasi belajar, dan implementasi model STAD, dengan tahapan penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, lembar kerja siswa, kuesioner, dan tes, dengan analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model STAD dapat meningkatkan minat belajar siswa, yang ditandai dengan skor rata-rata minat belajar awal sebesar 65,74 meningkat menjadi 75 pada siklus II . eningkatan 9,26%). Prestasi belajar siswa juga mengalami peningkatan, dengan rata-rata nilai awal sebesar 80,13 meningkat menjadi 82,44 pada siklus I . eningkatan 2,31%) dan menjadi 86,63 pada siklus II . eningkatan 4,19%). Selain itu, persentase siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) juga meningkat dari 90,62% pada kondisi awal menjadi 93,75% pada siklus I, dan mencapai 100% pada siklus II, yang menunjukkan efektivitas model STAD dalam meningkatkan minat dan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa. Kata kunci: Minat Belajar. Prestasi Belajar dan Student Team Achievement Division (STAD). Abstract This study aims to analyze the improvement in students' interest and achievement in history through the implementation of the Student Team Achievement Division (STAD) learning model. This Classroom Action Research (CAR) employed Kurt Lewin's model and involved 32 students of class XI-IPA 1 at SMA Muhammadiyah Pangandaran as subjects. The study focused on students' learning interest, academic achievement, and the application of the STAD model, following four stages: planning, action implementation, observation, and reflection. The instruments used included observation sheets, student worksheets, questionnaires, and tests, with data analyzed descriptively and comparatively in percentages. The results indicated that the STAD model effectively enhanced students' learning interest, as evidenced by an increase in the average score of learning interest from 65. 74 at the baseline to 75 in the second cycle, reflecting a 9. 26% improvement. Similarly, students' academic achievement improved, with the average score rising from 80. 13 at the baseline to 82. 44 in the first cycle . n increase of 2. 31%) and further to 86. in the second cycle . n increase of 4. 19%). Additionally, the percentage of students meeting the Minimum Mastery Criteria (MMC) increased from 90. 62% at the baseline to 93. 75% in the first cycle and reached 100% in the second cycle, demonstrating the effectiveness of the STAD model in enhancing students' interest and achievement in history. Keywords: Learning Interests. Learning achievements, and Student Team Achievement Division (STAD). menjadi dirinya sendiri yang mempunyai kemampuan dan PENDAHULUAN Pendidikan adalah proses yang bertujuan untuk kepribadian unggul (Hermen Malik, 2013:. Dalam proses pembelajaran peran guru sebagai meningkatkan kualitas hidup manusia. Melalui proses ini, sangat menentukan ketertarikan dan keberhasilan diharapkan individu dapat memahami makna dan hakikat dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam, kehidupan, serta mengetahui tujuan dan cara menjalani interaksi yang baik dengan peserta kehidupan dengan benar. Oleh karena itu, pendidikan tujuannya agar apa yang difokuskan pada pembentukan kepribadian yang unggul, oleh siswa. Selain itu dengan menekankan pada pengembangan logika, hati, yang inovatif, keterampilan, akhlak, dan keimanan secara matang. Dalam pengertian dasar, pendidikan adalah proses menjadikan kreatif dan menyenangkan, salah satunya dengan seseorang menjadi dirinya sendiri yang tumbuh sejalan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi tetapi dengan bakat, watak, kemampuan dan hati nurani secara utuh, kenyataannya di sekolah menunjukkan bahwa dalam proses pendidikan tidak dimaksudkan untuk mencetak karakter dan pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah kemampuan peserta didik sama seperti gurunya. Proses sehingga siswa cenderung kurang antusias dalam mengikuti pendidikan diarahkan pada proses berfungsinya semua proses pembelajaran. akibatnya pembelajaran menjadi kurang potensi peserta didik secara manusiawi agar mereka menarik, siswa terlihat kurang antusias, malas mengikuti Jurnal TarbiyahMu ISSN 2798-429X Volume 4 Nomor 2 pembelajaran, minat belajar rendah, aktivitas rendah yang secara optimal (Nanang Hanafiah dkk, 2009 : . akhirnya dapat berpengaruh pada hasil belajarnya. Konstruktivisme Dalam hal ini keberhasilan pembelajaran sangat pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru dalam disusun dalam diri manusia dalam arti peserta didik harus memilih dan menggunakan model pembelajaran. Model menemukan sendiri pengetahuan baru yang lahir dari pembelajaran merupakan strategi yang digunakan guru untuk pandangan, dan gambaran serta inisiatif peserta didik. Bagi meningkatkan minat belajar, sikap belajar dikalangan kaum Konstruktivis, mengajar bukanlah memindahkan siswa, mampu berpikir kritis, dan pencapaian hasil pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan pembelajaran yang lebih optimal (Moh Arif dkk, 2008 : . Hasil wawancara dengan guru Pendidikan Agama pengetahuannya (Suparno, 1997: . Menurut James O. Whittaker, belajar dapat didefinisikan Islam di SMA Muhammadiyah Pangandaran, pada tanggal 30 Maret 2019, kendala yang dialami yaitu ketidaksiapan sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah siswa dalam mengikuti pelajaran. Setiap siswa mendapat melalui latihan atau pengalaman. Sedangkan buku paket Pendidikan Agama Islam wajib yang Cronbach dalam bukunya yang berjudul Education dipinjamkan dari pihak sekolah, tetapi tidak semua Psychologi mengatakan belajar yang efektif adalah melalui siswa membawa buku tersebut. Inilah kendala yang pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi dialami oleh guru Pendidikan Agama Islam sehingga proses langsung dengan obyek belajar dengan menggunakan semua pembelajaran tidak berjalan dengan baik. Dampak dari alat inderanya dan Howard L. Kingsley yang dikutip oleh siswa tidak membawa buku paket yaitu kegiatan belajar Abu Ahmadi dan Supriyono, berpendapat belajar adalah jadi terhambat. Ketika guru Pendidikan Agama Islam proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui menyuruh peserta didik untuk mengerjakan tugas, mereka praktek dan latihan (Abu Ahmadi dkk, 1991: 119-. beralasan tidak membawa buku paket dan meminta tugas Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan tersebut untuk dijadikan tugas rumah. Dengan demikian suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku proses belajar tidak berjalan dengan baik dikarenakan sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam rendahnya minat peserta didik dan akan mempengaruhi memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut prestasi peserta didik. akan dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku. Menurut Ketika penulis melakukan observasi secara langsung Slameto, belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan di kelas XI-IPA 1 SMA Muhammadiyah Pangandaran. individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku Peneliti melihat siswa kurang tertarik mempelajari yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman Pendidikan Agama Islam. Hal ini terlihat dari keaktifan individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya siswa yang kurang saat berlangsungnya proses (Slameto, 1998 : . Beberapa siswa membuka LKS dan membaca Pembelajaran Kooperatif berasal dari kata AuCooperativeAy sesuai dengan materi yang dibahas, selebihnya mereka yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan bermain handphone, ada yang tidur di dalam kelas, berbicara saling membantu satu sama lainnya sebagai suatu kelompok dengan teman sebangkunya dan asyik sendiri tanpa atau satu tim. (Isjoni , 2009 : . Pembelajaran ini mampu memperhatikan penjelasan guru di depan kelas. Ketika guru membangun keberagaman dan mendorong koneksi antar siswa. bertanya sejauh mana peserta didik memahami materi yang Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan cara belajar diberikan dan meminta pendapat kepada siswa, semuanya siswa menjadi lebih baik, sikap tolong-menolong dalam diam dan mau berbicara ketika ditunjuk oleh guru. Peneliti beberapa perilaku sosial. Dengan demikian mereka akan melihat peserta didik akan aktif jika siswa dituntut membutuhkan teman untuk bertukar pemikiran guna untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi membangun pemikirannya dan juga sebagai upaya untuk aktivitas siswa di dalam kelas. Salah satunya dengan cara mempertegas pemikirannya. berdiskusi dengan teman sebangku maupun kelompok untuk Menurut Slavin pembelajaran koperatif adalah membahas materi yang diberikan oleh guru. Dengan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam demikian keinginan untuk mempelajari Pendidikan Agama satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari Islam akan tumbuh bukan karena sebuah tuntutan dari guru 4-5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru maupun orang lain melainkan suatu kebutuhan. (Tukiran Taniredja, 2013:. Untuk itu, peneliti mengusulkan untuk menerapkan Pelaksanaan Kooperatif model pembelajaran Student Teams Achievement Division membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan dalam pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan Pendidikan Agama Islam. Model cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) menolong dalam beberapa perilaku sosial. Tujuan utama dalam merupakan model pembelajaran tipe kooperatif yang penerapan pembelajaran kooperatif adalah agar peserta didik menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi di antara dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara Konstruktivisme merupakan salah satu pendekatan berkelompok (Tukiran Taniredja, 2013:. yang lebih berfokus kepada peserta didik sebagai pusat dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan proses proses pembelajaran. Pendekatan ini disajikan supaya lebih interaksi peserta didik dengan pendidik yang tidak bisa merangsang dan memberi peluang kepada peserta didik untuk dipisahkan dalam mengedepankan nilai-nilai kehidupan dan berpikir inovatif dan mengembangkan potensinya kemajuan suatu bangsa. Dalam pembelajaran Pendidikan Jurnal TarbiyahMu ISSN 2798-429X Volume 4 Nomor 2 Agama Islam, peran penting pembelajaran terlihat jelas belajar pada hakikatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan bukan hanya sebagai proses transfer ide, akan tetapi juga seseorang untuk memenuhi kebutuhannya (Mulyasa, 2013: proses pendewasaan peserta didik untuk memahami . identitas, jati diri dan kepribadian bangsa melalui Selain itu prestasi juga merupakan hasil belajar yang pemahaman terhadap peristiwa Pendidikan Agama Islam diperoleh siswa setelah melalui proses belajar yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. (Heri Susanto, 2014:. Model pembelajaran Student Team Achievement Division Pelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran wajib dipelajari di Sekolah, khususnya (STAD) ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran di tingkat Sekolah Menengah Atas yang dibagi menjadi kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil Pendidikan Agama Islam wajib dan peminatan. Pelajaran dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk menciptakan secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan wawasan historis atau perspektif Pendidikan Agama Islam. pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis. Wawasan historis lebih menonjolkan kontinuitas segala dan penghargaan kelompok (Trianto, 2009 : . Model pembelajaran Student Team Achivement Division Pelajaran Pendidikan Agama Islam juga mempunyai (STAD) termasuk salah satu model pembelajaran kooperatif. fungsi sosio- kultural, membangkitkan kesadaran historis, berdasarkan kesadaran historis dibentuk kesadaran nasional. Pembelajaran kooperatif memiliki karakteristik atau indikator Dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam dapat yaitu bekerja sama dalam kelompok, mendengarkan teman saat membangkitkan inspirasi dan aspirasi kepada generasi diskusi kelompok, mengkomunikasikan jawaban kepada muda bagi pengabdian kepada Negara dengan penuh anggota kelompok, dan menghargai pendapat tema. dedikasi dan kesediaan berkorban (Aman, 2011 : . Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah METODE proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati . ntuk adalah tindakan . ction researc. yang dilaksanakan guru di mengidentifikasi atau menemukan masala. , merumuskan dalam kelas dengan tujuan memperbaiki praktek masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, pembelajaran di kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. (Wijaya memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah. Kusuma dkk, 2010 : . bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak Ciri dan karakteristik utama dalam penelitian tindakan tergantung pada informasi searah dari guru (Daryanto, 2014: adalah partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dan anggota Penerapan kelompok sasaran. Penelitian tindakan kelas adalah salah satu melibatkan keterampilan proses seperti strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif dalam menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, proses-proses tersebut, bantuan dari guru diperlukan. Akan pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat tetapi bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan saling mendukung satu sama lain (Suharsimi, 2010 :. semakin bertambahnya wawasan siswa atau semakin Dalam penelitian Tindakan Kelas, guru harus tingginya tingkatan kelas siswa (Daryanto, 2014: . bertindak sebagai pengajar sekaligus peneliti. Guru merupakan Secara umum pengertian minat adalah suatu keadaan orang yang paling akrab dengan kelasnya dan biasanya interaksi mental yang menghasilkan respon terarah kepada suatu yang terjadi antara guru dan siswa berlangsung secara unik. situasi atau objek tertentu yang menyenangkan. Minat dapat Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan kreatif dan menimbulkan sikap yang merupakan suatu kesiapan berbuat inovatif yang bersifat pengembangan mengharuskan guru bila ada stimulasi khusus sesuai dengan keadaan tersebut ( mampu melakukan PTK di kelasnya. Metode paling utama Ketut Sukardi, 1988 : . Suatu minat dapat diekspresikan adalah merefleksikan diri dengan tetap mengikuti kaidahmelalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa kaidah yang sudah baku dan bukan tradisional. lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, siswa HASIL DAN PEMBAHASAN yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan di SMA untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap Muhammadiyah Pangandaran pada mata pelajaran Pendidikan subjek tersebut. Agama Islam wajib yang dilaksanakan sebanyak dua siklus. Minat merupakan kecenderungan seseorang terhadap pada setiap siklus terdapat tiga kali pertemuan. Pertemuan suatu objek yang disertai dengan perasaan senang yang pertama dan kedua digunakan untuk kegiatan pembelajaran timbul akibat dari adanya partisipasi, pengalaman, dan dan pertemuan ketiga atau terakhir digunakan untuk uji kebiasaan pada waktu belajar. Sehingga untuk memenuhi kompetensi atau tes. Sebelum kegiatan penelitian dilakukan, kebutuhan dan keinginannya setiap orang harus peneliti melakukan observasi terlebih dahulu untuk mengetahui mempunyai ketertarikan dan minat pada objek tersebut kondisi awal aktivitas siswa di kelas. Dalam penelitian ini, (Ahmad Susanto, 2013 : . pengambilan data dilakukan selama 5 minggu yaitu tanggal Prestasi merupakan hasil belajar yang diperoleh 1 April 2019 sampai dengan 30 April 2019. seseorang setelah menempuh kegiatan belajar, sedangkan Jurnal TarbiyahMu ISSN 2798-429X Volume 4 Nomor 2 Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar siswa serta mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa di kelas. Berikut ini merupakan pembahasan mengenai minat belajar serta prestasi belajar siswa. Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa. Pada penelitian ini, tujuan dari minat belajar Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Peningkatan minat belajar Pendidikan Agama Islam diamati pada saat proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas serta dengan kuesioner yang diberikan kepada siswa pada pra siklus dan siklus II. Peningkatan minat belajar siswa dapat dilihat pada saat proses pembelajaran di kelas. Pada siklus kedua minat belajar siswa meningkat, hal ini sesuai dengan pengertian minat yaitu kecenderungan seseorang terhadap suatu objek yang disertai dengan perasaan senang yang timbul akibat dari adanya partisipasi, pengalaman, dan kebiasaan pada waktu belajar (Ketut Sukardi, 1988 : . Ketika peserta didik masuk dalam kelompok diskusi untuk menjawab pertanyaan terlihat peserta didik telah mampu bertukar pendapat, dan memberikan kesempatan kepada masing-masing anggota kelompok untuk mengutarakan pendapat dan membagi tugas dalam kelompok agar semua anggota kelompok aktif. Hal ini serupa dengan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) yang dikemukakan oleh Jumanta Hamdayana yaitu untuk memotivasi peserta didik untuk mendorong dan membantu satu sama lainnya untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang diajarkan oleh guru, diwajibkan untuk membantu teman kelompoknya mempelajari materi yang diberikan, harus mendorong teman kelompok untuk melakukan yang terbaik dan menyatakan suatu norma belajar itu merupakan suatu hal yang penting, berharga dan menyenangkan ( Jumanta Hamdayana, 2014 : . Pada saat melakukan observasi peneliti membagikan kuesioner kepada siswa, guna mengetahui minat peserta didik sebelum diterapkan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD). Minat siswa terhadap materi Pendidikan Agama Islam pada pra siklus tergolong rendah diketahui pada saat pembelajaran terlihat siswa masih pasif, tidak adanya perhatian terhadap penjelasan guru, tidak adanya ketertarikan terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Hal ini didukung dengan perolehan skor ratarata dari data kuesioner pada pra siklus, yaitu 65,74 yang didominasi kriteria rendah frekuensi 16 atau 50%. Setelah diterapkan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD), pada siklus II mengalami peningkatan rata-rata skor minat belajar siswa menjadi 75 dengan dominasi kriteria cukup dengan frekuensi 17 atau 53,12%. Jadi dapat disimpulkan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan minat belajar siswa dikarenakan model pembelajaran tersebut menekankan pada keaktifan siswa dan saling membantu dalam mengerjakan kuis yang diberikan oleh Apabila dalam kelompok ada anggota kelompok yang tidak menguasai materi maka kelompok tersebut akan dinyatakan gagal. Sehingga siswa akan berusaha untuk menguasai materi dan akan mengemukakan pendapatnya serta menjawab pertanyaan yang diberikan. Secara umum pengertian minat adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan. Minat dapat menimbulkan sikap yang merupakan suatu kesiapan berbuat bila ada stimulasi khusus sesuai dengan keadaan tersebut ( Ketut Sukardi, 1988 : . Suatu minat dapat menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut. Hal ini terlihat ketika siswa memperhatikan penjelasan teman kelompoknya serta mengemukakan pendapat mereka dan mencatat hal penting yang didapat dari pembelajaran di dalam kelas. Prestasi Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Prestasi peningkatan yang signifikan. Pada pra siklus skor rata-rata nilai yang diperoleh siswa adalah 80,13 dengan 29 siswa mencapai KKM dan 3 siswa yang belum mencapai KKM. Kemudian, setelah diterapkan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) pada siklus I ratarata nilai yang diperoleh siswa meningkat menjadi 82,44 dengan 30 siswa yang mencapai KKM dan 2 siswa yang tidak mencapai KKM. Pada siklus II juga mengalami peningkatan menjadi 86,63 dengan 32 siswa yang mencapai KKM. Peningkatan prestasi belajar disebabkan adanya perbaikan pada model belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan aktivitas kegiatan pembelajaran di kelas dan minat belajar siswa yang tinggi. Peningkatan prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam dan dari luar diri siswa. Faktor dari dalam artinya timbulnya minat dari dalam siswa untuk semakin memiliki ketertarikan terhadap Pendidikan Agama Islam, memperhatikan penjelasan guru, menghargai pendapat teman, hal ini dibuktikan dengan keinginan untuk mendapatkan prestasi yang baik. Sedangkan faktor dari luar yaitu model Student Team Achievement Division (STAD) (Mulyasa, 2013: . Model pembelajaran ini menitikberatkan pada adanya kerja sama dalam kelompok, setiap siswa harus menguasai materi dan bisa menjawab pertanyaan yang diberikan, model pembelajaran ini mengajarkan agar siswa saling membantu satu sama lain ketika berada dalam kelompok, bertukar pendapat tetapi pada saat ujian atau tes tidak boleh saling membantu ( Jumanta Hamdayana, 2014: Pada awal menerapkan pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) siswa kurang antusias dikarenakan mereka selalu masuk dalam kelompok, namun setelah peneliti merancang pembelajaran tersebut dengan Jurnal TarbiyahMu ISSN 2798-429X Volume 4 Nomor 2 menambahkan games pada saat presentasi Melalui penerapan model pembelajaran Student Team maupun anggota kelompok diacak mereka mulai Achievement Division (STAD) siswa menjadi lebih aktif terbiasa dan antusias mengikuti pembelajaran ini. dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kualitas pembelajaran. disimpulkan bahwa penggunaan atau penerapan 2. Bagi Guru. Student Team Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dapat dijadikan sebagai masukan dalam Achievement Division (STAD) secara baik dan menentukan model pembelajaran yang menarik dan benar dengan langkah-langkah yang ada dapat inovatif agar menjadikan siswa lebih aktif dalam dalam meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kelas XI-IPA 1 SMA Muhammadiyah kualitas pembelajaran. Pangandaran. Bagi Peneliti Selanjutnya. PENUTUP Hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan Simpulan sebagai masukan untuk mengembangkan penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang lanjutan dengan model pembelajaran yang sama untuk dilakukan di SMA Muhammadiyah Pangandaran meningkatkan minat dan prestasi belajar Pendidikan pada kelas XI-IPA 1 secara umum dapat dikatakan Agama Islam siswa. mencapai keberhasilan. Hal ini dikarenakan dalam penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) berjalan dengan baik DAFTAR PUSTAKA meskipun masih ada beberapa kekurangan selama Ahmad Susanto. Teori Belajar dan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: dilakukan pada siswa kelas XI-IPA 1 SMA Kencana Prenada Media Group. Muhammadiyah Pangandaran dengan diterapkannya Aman. Model Evaluasi Pembelajaran Pendidikan model pembelajaran Student Team Achievement Agama Islam. Yogyakarta: Ombak. Division (STAD) maka dapat ditarik kesimpulan sebagai Daryanto. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kuriklulum 2013. Yogyakarta: Gaya Penerapan model pembelajaran Student Team Media. Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan Dewa Ketut Sukardi. Bimbingan dan Konseling. minat belajar Pendidikan Agama Islam siswa. Jakarta: Bina Aksara Peningkatan minat belajar tersebut ditunjukkan dari Heri Susanto. Seputar Pembelajaran Pendidikan keadaan pra siklus dimana skor rata-rata minat Agama Islam. Isu. Gagagasan, dan Strategi belajar Pendidikan Agama Islam siswa adalah Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo. 65,74. Selanjutnya pada siklus II mengalami Hermen Malik. Fajar Kebangkitan Pendidikan peningkatan skor rata-rata menjadi 75 dengan Daerah Tertinggal. Jakarta: LP3ES. prosentase peningkatan sebesar 9,26 %. Isjoni. Pembelajaran Kooperatif. Meningkatkan Penerapan model pembelajaran Student Team Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan Yogyakarta: Pustaka Pelajar prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas Jumanta Hamdayana. Model dan Metode: XI-IPA 1 SMA Muhammadiyah Pangandaran. Pembelajaran Kreatif Berkarakter. Jakarta: Peningkatan prestasi ini dapat dilihat dari nilai rataGhalia Indonesia. rata prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa Mulyasa. Pengembangan dan Implementasi dan jumlah siswa yang mencapai Kriteria Kurukulum 2013. Bandung. Ketuntasan Minimal (KKM). Prestasi belajar Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana. Konsep Pendidikan Agama Islam pada keadaan awal Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika diperoleh dari nilai rata-rata siswa yaitu 80,13 Aditama. kemudian meningkat pada siklus I menjadi 82,44 Nana Sudjana. Metode Statiskika. Bandung: Tarsito. atau 2,31% dan mengalami peningkatan pada siklus Paul. Suparno. Filsafat Konstruktivisme dalam II yaitu, 86,63 atau 4,19%. Siswa yang mencapai Pendidikan. Yogyakarta: PT Kanisius. KKM juga mengalami peningkatan pada setiap Ridwan Abdilah Sani. Pembelajaran Pada pra siklus siswa yang mencapai Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. KKM berjumlah 29 siswa dengan prosentase Jakarta: Bumi Aksara 90,62%. Pada siklus I mengalami peningkatan Ronny Kountour. Metode Penelitian untuk menjadi 30 siswa atau 93,75% dan pada siklus II Penulisan Skripsi dan Tesis. Jakarta: Penerbit menjadi 32 siswa. PPM. SARAN